 |
| http://www.belajarkreatif.net |
BAB I
PENDAHULUAN
Peningkatan mutu pendidikan dirasakan sebagai suatu kebutuhan bangsa yang ingin maju. Dengan keyakinan bahwa pendidikan yang bermutu dapat menunjang pembangunan disegala bidang. Oleh sebab itu perlu adanya pemahaman tentang dasar dan tujuan pendidikan secara mendalam. Apabila kita telah memamahami dasar dan tujuan penulis yakin bahwa kita bisa memajukan pendidikan.
Dasar dan tujuan pendidikan merupakan masalah yang fundamental dalam pelaksanaan pendidikan, karena dasar pendidikan itu akan menentukan corak dan isi pendidikan. Tujuan pendidikan itupun akan menentukan kearah mana anak didik akan dibawa.[1]Bahkan, biasanya dasar dan tujuan inilah juga yang merupakan karakteristik pendidikan suatu bangsa, yang membedakannya dengan bangsa-bangsa yang lain. Tanpa perumusan tujuan pendidikan yang jelas kita seakan-akan belajar tanpa pedoman, sehingga banyak kemungkinan belajar kea rah yang sesat. Perumusan tujuan pendidikan sebenarnya merupakan “pati-sari” daripada seluruh renungan pendidikan.[2] Oleh karena itu, penulis memberi gambaran tentang dasar dan tujuan pendidikan secara umum agar para calon pendidik tahu kemana pendidikan diarahkan nantinya serta dapat ikut berperan aktif dalam membangun pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Landasan atau Dasar Pendidikan
Dasar artinya landasan atau fondasi untuk berdirinya sesuatu. Dasar merupakan landasan tempat berpijak atau tegaknya sesuatu agar berdiri kokoh. Fungsi dasar adalah memberikan arah untuk tujuan yang akan dicapai. Secara leksikal, landasan berarti tumpuan, dasar atau alas. Oleh karena itu, landasan merupakan tempat bertumpu, titik tolak, dan pijakan dasar. Titik tolak atau dasar pijakan ini dapat bersifat materiil dan konseptual. Landasan yang bersifat konseptual identik dengan asumsi. Dengan demikian, landasan pendidikan adalah asumsi-asumsi yang menjadi dasar pijakan atau titik tolak praktik pendidikan dan studi pendidikan.[4] Dasar yang menjadi acuan pendidikan harus merupakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang dapat mengantarkan pada aktivitas yang di cita-citakan. Nilai yang terkandung harus mencerminkan nilai yang universal, tentang keseluruhan aspek kehidupan manusia, serta menjadi standar nilai yang dapat mengevaluasi kegiatan pendidikan yang sedang berjalan.
Berikut landasan pendidikan dari berbagai segi:
1. Landasan Agama
Landasan ini, landasan yang paling mendasar dari landasan-landasan pendidikan, sebab landasan agama merupakan landasan yang diciptakan oleh Allah SWT.[5]Semua aspek yang berhubungan dengan pendidikan ditujukan pada upaya melaksanakan perintah yang terdapat di dalam ajaran agama.[6] 2. Landasan Filosofi
Filsafat menelaah sesuatu secara radikal sampai akar-akarnya, menyeluruh dan konspetual, yang menghasilkan konsep mengenai kehidupan dan dunia (temasuk pendidikan). Landasan filosofis terhadap pendidikan dikaji melalui filsafat pendidikan, yang mengkaji pendidikan dari sudut filsafat.[7]Filsafat pendidikan ialah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam sampai akar-akarnya mengenai pendidikan.[8] Landasan filosofis dari pendidikan adalah landasan yang berdasarkan atau bersifat filsafat. Landasan filosofis dari pendidikan adalah landasan yang berkaitan dengan makna dan hakikat pendidikan, yang berusaha mengkaji dan menelaaah masalah –masalah dari pokok pendidikan. Terdapat keterkaitan yang erat antara pendidikan dan filsafat, sebab filsafat mencoba merumuskan citra manusia dan masyarakat, sedangkan pendidikan berusaha mewujudkan citra manusia dan masyarakat tersebut melalui proses bimbingan, arahan, tuntunan, bantuan yang lazim disebut dengan proses pendidikan. Hasil kajian filsafat tentang manusia ternyata sangat bermanfaat dan menentukan bagi dunia pendidikan yang diwujudkan dalam bahasan filsafat pendidikan, walaupun sebenarnanya banyak perbedaan pendapat manusia itu terutama hal yang berhubungan dengan pembawaan dan lingkungan. Di Negara Indonesia landasa pendidikan itu sesuai dengan falsafah bangsa yaitu falsafah Pancasila yang digali dari bumi indoensia sendir sebagai perjanjian luhur bangsa Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan, yang diyakini akan kebenarannya dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang dicita-citakan sesuai dengan makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila itu sendiri. 3. Landasan Hukum (Yuridis)
Asumsi yang bersumber dari peraturan perundang-undangan yang berlaku yang menjadi titik tolak praktik pendidikan dan studi pendidikan.[11] Adapun dasar pendidikan di negara Indonesia secara yuridis formal telah dirumuskan antara lain sebagai berikut: a. Undang-Undang tentang Pendidikan dan Pengajaran No. 4 tahun 1950, Nomor 2 tahun 1945, Yang Berbunyi: Pendidikan dan pengajaran berdasarkan atas asas-asas yang termaktub dalam Pancasila, Undang-Undang Dasar RI dan kebudayaan bangsa Indonesia.
b. Ketetapan MPRS No. XXVII/ MPRS/ 1966 Bab II Pasal 2 yang berbunyi: Dasar pendidikan adalah falsafah negara Pancasila
c. Dalam GBHN tahun 1973, GBHN 1978, GBHN 1983 dan GBHN 1988 Bab IV bagian pendidikan berbunyi: Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila.
d. Tap MPR Nomor II/MPR/1993 tentang GBHN dalam Bab IV bagian Pendidikan yang berbunyi: Pendidikan Nasional (yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
e. Undang-undang RI No 2 Tahun 1989, tentang Sistem Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
f. Undang-undang RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 194
4. Landasan Psikologis
Psikologi telah menyediakan sejumpah informasi tentang priadi manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi. Setiap individu memiliki berat, kemampuan, minat, kekuatan, demikian pula tempo dan irama perkembangan yang berbeda dengan yang lainnya. Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama kepada setiap manusia walaupun mereka mungkin memiliki beberapa kesamaan. Manusia dilahirkan dengan memiliki sejumlah potentensi dan kemampuan yang harus dikembangkan, kebutuhan yang harus dipenuhi sesuai dengan kemampuan mereka menerimanya. Pendidik harus memikirkan agar peserta didik berinteraksi dengan lingkungannya yang membawa nilai-nilai positif untuk mengembangkan dirinya masing-masing dengan bimbingan dan arahan pada pendidik. Landasan psikologispendidikan harus mempertimbangkan aspek psikologis peserta didik, peserta didik dipandang sebagai subjek pendidikan yang akan berkembang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan mereka.[15]Landasan ini penting dalam pelaksanaan pendidikan karena keberhasilan pendidikan dalam menjalankan tugas sangat dipengaruhi oleh pemahaman tentang peserta didik.[16] 5. Landasan Sejarah
Landasan ini mengacu pada cita-cita dan praktik pendidikan masa lampau, sebab mempunyaiimplikasi terhadap tujuan pendidikan, kurikulum, isi penyelenggaraan pendidikan, metode pendidikan, pengelolaan pendidikan dan kesempatan.[17] 6. Landasan Sosial-Budaya
Pendidikan tidak mungkin terpisah dari manusia, ia seslau terkait dengan manusia, dan setiap manusia menjadi anggota masyarakat dan pendukung kebudayaan tertentu. Kebudayaan sebagai gagasan dan karya manusia beserta hasil budi dan karya itu terkait dengan pendidikan utamnya belajar.
Kebudayaan dapat dibentuk, dilestarikan dan dikembangkan melalui pendidikan baik kebudayaan yang bersifat ideal atau kelakuan maupun teknologi. Pada umumnya ada tiga sifatnya umum yang dapat diidentifikasikan dalam menurunan kepada generasi mendatang, yaitu melalui pendidikan formal, nonformal dan informal. Transmisi kebudayaan oleh masyarakat tidak akan memperoleh kemajuan, sehingga perlu dirancangg usaha yang sistematis dalam mengembangkan kebudayaan, hal ini yang paling efektif adlah lembaga sekolah. Dalam sosial, tugas pendidikan mengembangkan aspek sosial, aspek itu sendiri sangat berperan dalam membantu anak dalam upaya mengembangkan dirinya. Dalam aspek budaya, dapat dikatakan tidak ada pendidikan yang tidak dimasuki unsur budaya.[20] 7. Landasan Sosiologi
Kegiatan pendidikan adalah suatu proses interaksi antar dua individu, beberapa orang, bahkan dua generasi yang memungkinkan generasi muda mengembangkan dirinya. Pendidikan yang sistematis terjadi di lembaga sekolah yang dengan sengaja dibentuk masyarakat. Perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan semakin intensif. Dengan meningkatkan perhatian sosiolog pada kegiatan pendidikan tersebut, maka lahirlah cabang sosiologi pendidikan. Sosiologi memberi bantuan kepada pendidikan dalam wujud sosiologi pendidikan. Perwujudancita-cita pendidikan sangat membutuhkan bantuan sosiologi. Konsep atau teori sosiologi memberi petunjuk kepada guru tentang bagaimana seharusnya membina para siswa agar mereka memiliki hidup yang harmonis.[22] 8. Landasan Ekonomi
Landasan ini saling berkaitan dengan pendidikan. Masalah pendidikan akan mendukung terhadap kelanjutan eknomi. Dan masalah ekonomi akan mendukung terhadap kelanjutan pendidikan.[23] 9. Landasan IPTEK
Pendidikan dan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki kaitan yang sangat erat. Iptek menjadi bagian utama dalam isi pembelajaran. Dengan kata lain, pendidikan berperan sangat dalam pewarisan dan pengembangan iptek. Iptek merupakan salah satu hasil dari usaha manusia mencapai kehidupan yang lebih baik.[24] B. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah masalah yang penting dibicarakan karena dengan ditentukan tujuan yang positif maka pendidikan dapat diarahkan kepada tercapainya tujuan tersebut. Masalah tujuan pendidikan adalah masalah inti dalam pelaksanaan pendidikan, karena menentukan segala usaha yang akan dijaankan terhadap diri anak; tanpa perumusan tujuan pendidikan yang jelas seakan-akan belajar tanpa maksud dan pedoman. Dalam buku diktat Muslim hasibuan terdapat beberapa tujuan pendidikan yang dilihat dari berbagai aspek yaitu: 1. Tujuan Umum Pendidikan
Tujuan umum pendidikan menjadi pedoman yang umum bagi pendidik untuk menentukan tujuan-tujuan yang sifatnya penunjang dan sementara. Misalnya pendidikan jasmani, intelektual dan sebagainya. Dari segi lain dapat dirumuskan bahwa apabila tujuan khusus sudah tercapai maka akan tercapai juga tujuan lainnya, yakni keseluruhan tujuan penunjang dan sementara dalam rangka pencapaian tujuan umum.
Tujuan umum sifatnya teoritis dan filosofis, yaitu setiap filsafat akan mencoba untuk mencakup seagala pandangan hidup dan usaha manusia kedalam suatu pandangan yang umum sifatnya, sehingga ia merupakan suatu kebulatan pandangan yang dapat mempersatukan dan menjiwai seluruh pengetahuan manusia.
2. Tujuan pendidikan menurut beberapa ahli
a. Plato, mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mendapa keadilan dalam negara dengan pempinan seorang raja yang adil dan bijaksana. Plato menganjurkan agar setiap manusia memupuk bakatnya karirnya masing-masing tanpa mencampuri urusan orang lain.
b. Langeveld, tujuan pendidikan adalah dengan bertanggungjawab membawa anak ke arah kedewasaan yaitu dewasa rohani dan jasmani.
c. Crow dan Qrow mengatakan bahwa pendidikan yang baik dan sehat aalah mendorong anak didik untuk berfikir efektif, jenis dan objektif, dalam suasana yang bagaimana pun. Yakni, peserta didik diusahakan agar berani mewujudkan cita-cita hidunya dengan bebas tanpa paksaan kedalam tindakan nyata, dan merasa bertanggung jawab atas segala sikap kelakuannya.
3. Tujuan pendidikan nasional, yaitu mencerdaskan bangsa dan mengembangkan manusia indonesia yang seutuhnya.
Dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan adalah mempersiapkan anak didik agar ia menjadi manusia yang berguna, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat dengan norma-norma yang berlaku.
Membicarakan tujuan pendidikan tidak bisa lepas dari membicarakan tujuan dari setiap segi atau aspek dari pendidikan itu sendiri, karena dengan terwujudnya tujuan keseluruhan dimaksud akan bisa mencapai tujuan umum dari pendidikan. Adapun aspek-aspek yang dimaksud antara lain:
1. Pendidikan agama, yang bertujuan membimbing dan membawa serta memimpin anak agar ia menjadi manusia yang bermoral, berbudi luhur serta bertaqwa kepada Yang Maha Esa, bermoral, berbudi luhur, sekaligus melaksanakan ajaran-ajaran dan perintah-perintah serta menjauhi segala laranganNya.
2. Pendidikan akhlak, yang bertujuan untuk mendidik anak supaya ia memiliki segala sifat yang terpuji, dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang terpuji dan tercela, mana yang sopan dan tidak sopan yang diharapkan sifat-sifat ini menjadi kepribadiannya.
3. Pendidikan kecerdasan, ialah mendidik anak agar ia dapat berpikir secara logis, denan cepat mengkorelasikan antara yang satu dengan lainnya, dapat membandingkan dan menghubungkan sebab akibat, dan dapat mengambil kesimpulan, sera dapat berpikir kritis, reflektif, induktif dan deduktif.
4. Pendidikan sosial, bertujuan untuk mendidik anak agar ia dapat mengidentifikasi diri dengan orang lain, dan dapat menyesuaikan diri dengan orang lain, dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan bersama dan dapat berpartisipasi secara aktif didalam kehidupan bermasyarakat.
5. Pendidikan kewarganegaraan, mendidik anak agar ia kelak dapat menjadi warga negara yang baik dan berguna bagi negara dan tahnah air, agar dapat mengejar kewajibannya dan menuntut haknya.
6. Pendidikan estetika, bertujuan agar anak mengetahui nilai-nilai keindahan, ada rasa keharuan terhadap keindahan serta menghargai keindahan itu.
7. Pendidikan jasmani, merupakan usaha agar terbentuk keselarasan antara tumbunya badan dan perkembangan jiwa dan juga meruakan suatu usaha untuk membuat bangsa indonesia yang sehat lahir dan batin.
8. Pendidikan kesejahteraan keluarga, betujuan untuk:
a. Untuk meningkatkan taraf kehidupan dan penghidupan keluarga, agar dapat terwujud suatu keluarga yang sejahtera, harmonis’, aman, dan sentosa.
b. Disekolah berguna untuk menanamkan kepada anak bahwa di dalam keluarga perlu ada suatu kehidupan yang damai, aman, sejahtera, hemat, cermat, bergairah, dan menanmkan suatu pengertian agar anak berhasrat dan berpartisifasi dalam kehidupan keluarga.
Di dalam bukunya Beknopte Theoritische Paedagodiek, Langeveld mengutarakan macam-macam tujuan pendidikan sebagai berikut:
1. Tujuan Umum
Tujuan umum ialah tujuan yang telah ditetapkan oleh pendidik dan selalu dihubungkan dengan kenyataan pada anak didik dan dihubungkan dengan syarat-syarat dan alat-alat untuk mencapai tujuan. Tujuan umum selalu dilaksanakan dalam benuk khusus mengingat keadaan dan faktor yang terdapat pada anak didik dan lingkungannya, seperti sifat pembawaan, peran keluarga, masyarakat dan lingkungan pergaulannya.[28] 2. Tujuan Khusus
Tujuan ini sebenarnya penjelasan dari tujuan umum, sebab untuk menuju ke tujuan umum diatas tiap-taip anak tentu mempunyai jalan sendiri atau semua anak tidaklah sama.[29] 3. Tujuan Tak Sempurna
Tujuan ini mengenai segi-segi kepribadian manusia yang tertentu yang hendak dicapai dengan pendidikan seperti nilai-nilai keindahan, kesusilaan, keagamaan, dan seksual. Tujuan ini bergantung kepada tujuan umum dan tidak dapat terlepas dari tujuan umum, sebab bila memisahkan dari tujuan umum akan berat sebelah dan berarti tidak megakui kepribadian manusia.[30] 4. Tujuan Sementara
Tujuan sementara ini merupakan tempat-tempat perhentian sementara pada jalan menuju ke tujuan umum, seperti anak dilatih berbicara.[31]Dan juga tujuan ini tingkatan-tingkatan untuk menuju kepada tujuan umum dan untuk mencapainya harus menginngat dan memperhatikan jalannya perkembangan anak didik.[32] 5. Tujuan Perantara
Tujuan ini sama dengan tujuan sementara, tetapi khusus mengenai pelaksanaan teknis dari pada tugas belajar.[33]Misalnya, belajar membaca, setelah itu untuk apa belajar membaca itu, sehingga dapat berbagai kemungkinan untuk mencapainya, dari pandang itu sebagai tujuan perantara seperti metode membaca. 6. Tujuan Isidental
Tujuan ini hanya sebagai kejadian-kejadian yang merupakan alat-alat yang terlepas pada jalan yang menuju tujuan umum. Misalnya, seorang ayah memanggil anaknya sepaya masuk ke dalam rumah, agar mereka tidak terlalu lelah atau untuk makan bersama , ayah itu menuntut supaya perintahnya itu ditaati.[34]Dengan kata lain, tujuan isidental tujuan tersendiri yang bersifat seketika.[35] Tujuan pendidikan dikaji dari berbagai dimensi-dimensi kehidupan, sebagai berikut:
1. Dimensi Agama
Untuk membangun kesadaran beragama, membina, dan meningkatkan pengalaman agama pada diri peserta didik sehingga menjadi manusia yang betul-betul beriman dan bertakwa kepada Tuhannya.
2. Dimensi Diri-Manusia
Untuk menumbuh-kembangkan kesadaran dan pemahaman peserta didik tentang potensi dirinya dan membangun semangat untuk mengembangkan potensi diri yang memungkinkannya untuk menjadi manusia yang percaya diri dan mandiri.
3. Dimensi Sosial
Untuk menumbuh-kembangkan kesadaran dan kemampuan peserta didik untuk berinteraksi dengan sesama peserta didik, guru, dan lingkungannya.
4. Dimensi Ekonomi
Untuk menumbuh-kembangkan kesadaran peserta didik tentang pentingnya pengetahuan baru, keterampilan baru, dan sikap baru serta kemauan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga terjadi peningkatan pendapatan, tabungan, dan modal investasi untuk kepentingan dan kemajuan kehidupannya di masa depan.
5. Dimensi Budaya
Untuk menanamkan nilai-nilai budaya pada peserta didik agar mereka memiliki kesadaran dan kemauan untuk memahami dan memelihara nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh generasi terdahulu untuk kemajuan diri, bangsa dan negaranya.
6. Dimensi Politik
Untuk menumbuh-kembangkan kesadaran peserta didik tentang pentingnya keikutsertaan dalam proses dan pelaksanaan keputusan yang berkenaan dengan kepentingan hidupnya.
7. Dimensi Keamanan
Untuk menanamkan pada diri peserta didik tentang pentingnya keamanan dan membangung kesadaran diri dan kewajiban untuk ikut menciptakan keamanan dalam kehidupan masyarakat.
8. Dimensi IPTEK
Untuk menumbuh-kembangkan kesadaran peserta didik tentang pentingnya IPTEK dan kemauan serta kemampuan mendayagunakan IPTEK dalam kehidupan sehari-hari.[36]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Landasan-landasan pendidikan sangat penting untuk mengembangkan pendidikan yang bermartabat. Manusia akan memiliki harkat dan martabat sangat mulia dibandingkan dengan hewan, sebab manusia dianugerahi hati nurani dan akal pikiran. Untuk memperoleh semua itu, diperlukan landasan-landasan pendidikan yang kuat dan senantiasa dikembangkan dari berbagai macam meliputi landasan agama, filosofi, hukum, psikologi, sejarah, sosial budaya, sosiologi ekonomi dan IPTEK.
Menurut Langeveld tujuan pendidikan pada umumnya dibedakan menjadi enam bagian, yaitu tujuan umum, khusus, tak sempurna, sementara, perantara dan isedential. Secara umum tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi bawaan manusia agar dapat dikembangkan secara optimal dan mampu melakukan tugas dan kewajiban sebagai khalifah di bumi dan secara spesifik sebagai subjek pembangunan guna mencapai kebahagiaan hidup sekarang dan mendatang.
Dengan kata lain, tujuan pendidikan dikaji dari berbagai dimensi kehidupan, diantaranya, dimensi agama, diri-manusia, sosial, ekonomi, budaya, politik, keamanan dan IPTEK.
B. Saran
Sebagai calon pendidik, seharusnya mengetahui dan memahami dasar, fungi serta tujuan pendidikan. Karna bila tidak memahaminya lantas bagaimana bisa mengajar dan mendidik anak didiknya dan mau diarahkan kemana pendidikan. Bahkan orang tua harus juga mengetahui dasar dan tujuan pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Rulam. Pengantar Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. 2014.
Barnadib, Sutari Imam. Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis. Yogyakarta: Andi Offset, 1976.
Hamdani, Dasar-dasar Kependidikan, Bandung: Pustaka Setia, 2011
Hasbullah. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Banjarmasin: PT. Rajagrafindo Persada, 2005.
Kadir, Abdul., dkk. Dasar-Dasar Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group , 2012.
Muslim Hasibuan, Diktat Dasar-dasar Kependidikan, Padangsidimpuan: STAIN Psp, 2010.
Purwanto, M. Ngalim. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994.
S, Tatang. Ilmu Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia, 2012.
Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (Banjarmasin: PT. Rajagrafindo Persada, 2005), hlm. 137 Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, (Yogyakarta: Andi Offset, 1976), hlm. 52
Tatang S., Ilmu Pendidikan, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2012), hlm. 23 Abdul Kadir dkk, Dasar-Dasar Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 94 Tatang S., Op.cit., hlm. 23 Abdul Kadir dkk, Op.cit., hlm. 95
Tatang S., Op. CIt., hlm. 37
Abdul Kadir dkk, Op, Cit., hlm. 97 Tatang S.,Op,cit, hlm. 38
Abdul Kadir dkk, Op.cit., hlm. 99
Abdul Kadir dkk, Op.cit, hlm. 100
M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), hlm. 20 Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, (Yogyakarta: Andi Offset, 1976), hlm. 49 M. Ngalim Purwantio, Op,cit, hlm. 21 Sutari Imam Barnadib, Op.cit,, hlm. 51 M. Ngalin Purwanto, Op.cit, hlm. 22 Sutari Imam Barnadib, Op.cit,, hlm. 50 Rulam Ahmadi, Pengantar Pendidikan¸(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), hlm. 26.
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️