A. Pendahuluan
Secara historis dan teologis, akhlak dapat memadu perjalan hidup manusia agar selamat di dunia dan akhirat. Tidakkah berlebihan bila misi utama kerasulan Muhammad SAW. adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Sejarah pun mencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan
ak
hlaknya yang prima, hingga hal ini dinyatakan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Kepada umat manusia, khususnya yang beriman kepada Allah diminta agar akhlak dan keluhuran budi Nabi Muhamad SAW. itu dijadikan contoh dalam kehidupan di berbagai bidang. Mereka yang mematuhi permintaan ini dijamin keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat.
B. Pengertian Akhlak
Secara etimologi akhlak berasal dari bahasa arab akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan, jama’nya khuluqun yang berarti perangai (al-sajiyah), adat kebiasaan (al’adat), budi pekerti, tingkah laku atau tabiat (ath-thabi’ah), perbedaan yang baik (al-maru’ah), dan agama (ad-din).[1] Akhlak adalah suatu istilah agama yang dipakai menilai perbuatan manusia apakah itu baik, atau buruk. Sedangkan ilmu akhlak adalah suatu ilmu pengetahuan agama islam yang berguna untuk memberikan petunjuk-petunjuk kepada manusia, bagaimana cara berbuat kebaikan dan menghindarkan keburukan. Dalam hal ini dapat dikemukakan contohnya:
1. Perbuatan baik termasuk akhlak, karena membicarakan nilai atau kriteria suatu perbuatan.
2. Perbuatan itu sesuai dengan petunjuk Ilmu Akhlak; ini termasuk ilmunya, karena membicarakan ilmu yang telah dipelajari oleh manusia untuk melakukan suatu perbuatan.[2] Adapun ayat yang menjelaskan tentang akhlak yaitu terdapat dalam (Q.S. al-ahzab,33:21)
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan(kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.[3] Sedangkanpengertian akhlak secara terminologi dapat dilihat dari beberapa pendapat para ahli :
1. Ibnu Maskawaih
Menyebutkan bahwa akhlak yaitu keadaan jiwa yang mendorong atau mengajak melakukan sesuatu perbuatan tanpa melalui proses berpikir, dan pertimbangan terlebih dahulu.
2. Prof. Dr. Ahmad Amin
Akhlak menurut Prof. Dr. Ahmad Amin yaitu suatu ilmu yang menjelaskan baik dan buruk, menerangkan yang harus dilakukan, menyatakan tujuan yang harus dituju dan menunjukkan apa yang harus di perbuat.1
3. Didalam buku akhlak dalam berbagai dimensi, akhlak yaitu sifat-sifat
yang berurat berakar dalam diri manusia, serta berdasarkan dorongan dan pertimbangan sifat tersebut, dapat dikatakan bahwa perbuatan tersebut baik atau buruknya dalam pandangan manusia.[4] Dari definisi berbagai pendapat di atas, dapat kita simpulkan bahwa akhlak adalah keadaan jiwa yang mendorong melakukan suatu perbuatan secara spontan tanpa pertimbangan dan proses berfikir terlebih dahulu dan tanpa ada unsur paksaan.
Dorongan jiwa yang melahirkan perbuatan manusia pada dasarnya bersumber dari kekuatan batin yang dimiliki oleh setiap manusia, yaitu :
1. Tabiat(pembawaan); yaitu suatu dorongan jiwa yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan manusia, tetapi disebabkan oleh naluri(gharizah) dan factor warisan sifat-sifat dari orang tuanya atau nenek moyangnya.
2. Akal pikiran; yaitu dorongan jiwa yang dipengaruhi oleh lingkungan manusia setelah melihat sesuatu, mendengarkanya, merasakan serta merabanya. Alat kejiwan ini hanya dapat menilai sesuatu yang lahir (yang nyata)
3. Hati nurani; yaitu dorongan jiwa yang hanya berpengaruh oleh alat kejiwaan yang dapat menilai hal-hal yang sifatnya absrak (yang batin) karena dorongan ini mendapatkan keterangan (ilham) dari Allah SWT.
Beberapa ciri-ciri khusus dari akhlak yaitu:
1. Akhlak mempunyai suatu sifat yang teranam kuat di dalam jiwa atau lubuk hati seseorang yang menjadi kepribadiannya dan itu akan membuat berbeda dengan orang lain.
2. Akhlak mengandung perbuatan yang dilakukan secara terus menerus, dalam keadaan bagaimana pun juga. Dengan kata lain akhlak merupakan adat kebiasaan yang selalu dilakukan oleh seseorang.
3. Akhlak mengandung perbuatan yang dilakukan karena kesadaran sendiri, bukan karena di paksa, atau mendapatkan tekanan dan intimidasi dari orang lain.
4. Akhlak merupakan manifestasi dari perbuatan yang tulus ikhlas, tidak di buat-buat.[5] Istilah Etika dan ilmu Aklak adalah sama pengertianya sebagai suatu ilmu yang dapat dijadikan pedoman bagi manusia untuk melakukan perbuatan yang baik. Sedangkan istilah moral, kesusilaan, kesopanan, dan akhlaq sama pengertianya sebagai suatu norma untuk menyatakan perbuatan manusia. Jadi istilah ini bukan suatu ilmu tetapi merupakan suatu perbuatan manusia.
Istilah etika dan ilmu akhlaq dinyatakan sama bila ditinjau dari fungsinya. Tetapi bila ditinjau dari segi sumber pokoknya maka tentu keduanya berbeda. Dimana etika bersumber dari filsafat yunani, tetapi ilmu akhlak sumber pokoknya adalah al-qur’an dan hadits dan sumber pengembangannya adalah filsafat.
Istilah akhlaq dengan moral, kesusilaan dan kesopanan,dapat dilihat perbedaanya bila dipandang dari objeknya di mana akhlaq menitikberatkan perbuatan terhadap tuhan dan sesama manusia, sedangkan moral, kesusilan dan kesopanan hanya menitikberatkan perbuatan terhadap sesama manusia saja. Maka istilah akhlaq sifatnya teosentris meskipun akhlaq itu ada yang tertuju kepada manusia dan makluk-makluk lain,namun tujua utamanya hanya karena Allah swt semata. Tetapi kesusilaan dan kesopanan semata-mata sasaran dan tujuanya untuk manusia saja karena itu istilah tersebut bersifat antroposentris (kemanusian saja).
C. Akhlak Sesama Manusia
1. Pengertian Aklah Sesama Manusia
Pengertian Akhlak kepada sesama manusia berarti kita harus berbuat baik kepada sesama manusia tanpa memandang kepada siapa orang tersebut, sehingga kita mampu hidup dalam masyarakat yang aman dan tenteram.
Dalam realitas keseharian kita, kadangkala kita pernah menjumpai seorang Muslim yang mungkin dari sisi ritualitas ibadahnya bagus, namun hal demikian sering tidak tercermin dalam perilaku atau akhlaknya. Shalatnya rajin, tetapi sering tak peduli dengan tetangganya yang miskin. Shaum sunnahnya rajin, namun wajahnya jarang menampakkan sikap ramah kepada sesama. Zikirnya rajin, tetapi tak mau bergaul dengan masyarakat umum. Demikian seterusnya. Tentu saja, Muslim demikian bukanlah Muslim yang ideal dan ber-akhlaq al-karimah apalagi menjaga muru’ah (kehormatan).
2. Akhlak Terpuji Kepada Sesama
a. Husnudzan
1) Pengertian dan Pentingnya Husnudzan
Secara bahasa husnudzan berasal dari lafadz “husnun” yang artinya baik dan lafadz “adzonu” prasangka, sehingga husnudzan berarti prasangka, perkiraan, atau dugaan baik. Menurut istilah husnuzan adalah cara pandang sesesorang yang membuatnya melihat sesuatu secara positif.
Seorang yang memiliki sikap husnuzan memandang semua orang itu baik dan akan mepertimbangkan sesuatu dengan pikiran jernih, pikiran dan hatinya bersih dari prasangka yang belum tentu kebenaranya, sehingga tidak menimbulkan kekacauan dalam pergaulan. Sikap ini ditunjukkan dengan rasa senang, berpikir positif, dan sikap hormat kepada orang lain tanpa ada rasa curiga, dengki, dan perasaan tidak senang tanpa alasan yang jelas.
Pentingnya husnudzan terhadap sesama manusia, maka dalam hidupnya akan memiliki banyak teman, disukai kawan, dan di segani lawan. Husnuzan terhadap sesama manusia juga merupakan kunci sukses dalam pergaulan, baik pergaulan di sekolah, keluarga, maupun di lingkungan masyarakat. Sebab tidak ada pergaulan yang harmonis tanpa adanya prasangka baik antara satu individu dengan individu lainnya. Dengan begitu hubungan persahabatan dan persaudaraan menjadi lebih baik, terhindar dari penyesalan dalam hubungan dengan sesama, dan selalu senang dan bahagia atas kebahagiaan orang lain. 2) Bentuk dan Contoh Husnudzan
Orang yang mengaku beragama Islam wajib melaksanakan ajaran Islam dalam perilaku kehidupannya sehari-hari. Adapun perilaku yang mencerminkan sikap husnudzan :
a) Menyakini dengan sepenuh hati bahwa semua larangan dan perintah agama demi kebaikan manusia sendiri.
b) Menjauhi prasangka buruk kepada siapapun apabila tidak ada bukti.
c) Mengembangkan sikap baik dalam kehidupan bermasyarakat.
d) Memberi kepercayaan kepada sesama mnusia tentang suatu urusan dengan kepercayaan bahwa ia dapat melaksanakan tugasnya.
3) Nilai-nilai Positif dari Husnudzan
Setiap akhlak terpuji pasti mempunyai nilai-nilai positif (terutama bagi pelakunya sendiri) dan terkadang bagi orang lain, sesuai firman Allah SWT, sebagai berikut:
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri”.
Adapun dampak positif perilaku husnudzan antara lain:
a) Semakin dekat hubungan batin antara pelaku dan pihak lain yang diduga berbuat kebaikan.
b) Memperoleh kepercayaan dari orang yang menduga dirinya telah berbuat baik, dan
c) Memperkuat hubungan persaudaraan.
4) Membiasakan Berperilaku Khusnudzon
Kenyaman dalam menjalankan kehidupan ada pada habluminallah, habluminannas. Oleh karenanya kita harus bisa membiasakan sikap husnudzan dalam kehidupan, antara lain:
a) Tidak mudah menerima suatu berita yang tidak jelas sumber serta kebenarannya.
b) Berusaha tidak sering ketemu dengan sesama teman atau anggota masyarakat, dan
c) Dengan sering bertemu dapat mengantisipasi munculnya gosip yang sering merusak hubungan persaudaraan.
b. Tawadhu’
1) Pengertian dan Pentingnya Tawadhu’
Tawadhu’ secara bahasa adalah "التَّذْ لُلْ" ketundukan dan "التَّخَا شُعْ" rendah hati. Secara terminologis Tawadhu’ adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun datangnya baik ketika suka atau dalam keadaan marah. Orang yang tawadhu’ adalah orang yang merendahkan diri dalam pergaulan dan tidak menampakkan kemampuan yang dimiliki. Sesungguhnya orang yang tawadhu’ dan lemah lembut, keduanya itulah yang mendapatkan ketenangan serta kasih sayangnya diatas bumi, yang mana kepada saudara-saudara mereka sesama mukmin mereka berlaku lemah lembut dan penuh kasih sayang. Sementara kepada orang kafir musuh-musuh Islam mereka bersikap keras dalam artian tegas. Tawadhu’ dapat dikatakan jalan ynag mengantarkan manusia bersatu dan damai dalam pergaulan, dan sebagai sikap untuk membina persaudaraan.
2) Bentuk dan Contoh Tawadhu’
Sikap tawadhu’ yang dimiliki seseorang dapat dilihat dari perilakunya sehari-hari. Adapun bentuk-bentuk perilaku tawadhu’:
a) Menghormati orang yang lebih tua atau lebih pandai dari pada dirinya.
b) Sayang kepada yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya.
c) Menghargai pendapat dan pembicaraan orang lain.
d) Bersedia mengalah demi kepentingan umum.
e) Santun dalam berbicara kepada siapapun, dan
f) Tidak suka disanjung orang lain atas kebaikan atau keberhasilan yang dicapai.
3) Nilai-nilai Positif Tawadhu’
Dampak positif tawadhu’ berarti akibat baik sikap tawadhu’. Adapun dampak positif sikap tawadhu’, antara lain:
a) Menimbulkan simpatik pihak lain sehingga suka bergaul dengannya.
b) Akan dihormati secara tulus oleh pihak lain sesuai naluri setiap mnusia ingin dihormati dan menghormati.
c) Memperkuat hubungan persaudaraan antara dirinya dan orang lain, dan
d) Mengangkat derajat dirinya sendiri dalam pandangan allah maupun sesama manusia.
4) Membiasakan Berperilaku Tawadhu’
Untuk dapat memiliki sikap tawadhu’ dalam pergaulan, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Biasakan bersikap sabar.
b) Usahakan untuk tidak bersikap sombong.
c) Jangan menjadi pendendam.
d) Jangan bersikap tamak dan rakus terutama harta benda.
e) Melatih diri untuk menghargai kemampuan orang lain, tidak meremehkannya.
f) Menyadari sepenuhnya bahwa setiap manusia mempunyai kekurangan dan kelebihan yang berbeda. c. Tasamuh
1) Pengertian dan Pentingnya Tasamuh
Tasamuh berasal dari kata تَسَامَحَ – يَتَسَامَحَ yang artinya toleransi. Tasamuh berarti sikap tenggang rasa saling menghormati saling menghargai sesama manusia untuk melaksanakan hak-haknya. Kita wajib menghormati karena manusia dapat merasakan bahagia apabila hidup bersama manusia lainnmya. Pada hakikatnya, sikap seperti ini telah dimiliki oleh manusia sejak masih usia anak-anak, namun perlu dibimbing dan diarahkan. Tasamuh dapat menjadi pengikat persatuan dan kerukunan, mewujudkan suasana yang harmonis, dapat menjalin dan memperkuat tali silaturrahmi kepada sesama, mempererat tali persaudaraan dengan semua kalangan, menjalin kasih sayang antar umat beragama, dan memperoleh banyak kemudahan.
2) Bentuk dan Contoh Tasamuh
Bentuk-bentuk tasamuh dalam kehidupan sehari-hari:
a) Selalu memberi kemudahan dan tidak mempersulit orang lain dalam hal apapun.
b) Selalu memiliki niat atau dorongan untuk membantu orang lain.
c) Menghargai pendapat pikiran bahkan keyakinan orang lain.
d) Tidak suka memaksakan kehendak.
e) Tidak mengganggu ketenangan tetangga.
f) Tidak melarang tetangga apabila ingin menanam pohon dibatas kebunnya, dan
g) Menyukai sesuatu untuk tetangganya sebagaimana ia suka untuk dirinya sendiri. Contoh perilaku tasamuh, seseorang meminjam uang dari kita, tetapi orang tersebut belum dapat mengembalikan hutangnya, dengan besar hati kitapun tidak segan-segan memberikan keluasan berupa tenggang waktu atau bahkan diikhlaskan.
3) Nilai-nilai Positif Tasamuh
Sebagai sifat terpuji, dampak positif tasamuh cukup banyak macamnya:
a) Memuaskan batin orang lain karena dapat mengambil hak sebagaimana mestinya.
b) Kepuasan batin yang tercermin dalam raut wajahnya menjadikan semakin eratnya hubungan persaudaraan orang lain dengan drinya.
c) Eratnya hubungan baik dengan orang lain dapat memperlancar terwujudnya kerjasama yang baik dalam kehidupan bermasyarakat.
a. Dapat memperluas kesempatan untuk memperoleh rizki karena bnyak relasi.
4) Membiasakan Berperilaku Tasamuh
Agar sikap tasamuh menjadi sikap yang dapat selalu kita jaga ada beberapa hal yang harus biasa kita lakukan diantaranya:
a) Senantiasa menghargai perbedaan.
b) Senantiasa menjalin persaudaraan dan persahabatan.
c) Senantiasa bersikap lemah lembut, sopan, ramah, dan santun.
d) Menjadikan perbedaan sebagai sarana untuk berlomba dalam berbuat kebaikan dan bukan untuk menambah perpecahan.
d. Ta’awun
1) Pengertian dan Pentingnya Ta’awun
Ta’awun berasal dari bahasa arab تَعَاوَنَ- يَتَعَاوَنُ- تَعَاوُنًا yang berarti tolong menolong, gotong royong, atau bantu membantu dengan sesama. Ta’awun adalah kebutuhan hidup manusia yang tidak dapat dipungkiri, kenyataan membuktikan bahwa suatu pekerjaan atau apa saja yang membutuhkan pihak lain pasti tidak akan dapat dilakukan sendiri oleh seseorang meski dia memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang hal itu. Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri dalam masyarakat tanpa bantuan dan kerjasama dengan manusia lain dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari baik yang sifatnya material maupun non material. Orang kaya membantu yang miskin dalam hal materi dan harta, sementara orang miskin membantu yang kaya dalam hal tenaga dan jasa. Saling menolong tidak hanya dalam hal materi tetapi dalam berbagai hal diantaranya tenaga, ilmu, dan nasihat. Suatu masyarakat akan nyaman dan sejahtera jika dalam kehidupan masyarakat tertanam sikap ta’awun dan saling membantu satu sama lain. Seperti penjelasan dalam Al-Qur’an:
وَتَعَاوَنُوْاعَلَى الْبِرِّوَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْاعَلَى اْلِاثْمِ وَالْعُدْوَانُ
“Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan jangan tolong menolong kamu dalam berbuat dosa dan kesalahan”.
2) Bentuk dan Contoh Ta’awun
Ta’awun dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk antara lain:
a) Terpenuhinya kebutuhan hidup berkat kebersamaan.
b) Memperingan tugas berat karena dilakukan secara bersama sama.
c) Terwujudnya persatuan dan kesatuan sesama anggota masyarakat.
d) Mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan dirinya sendiri dan keluarga.
3) Nilai-nilai Positif Ta’awun
Nilai-nilai positif tolong menolong dalam kehidupan. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa manusia adalah makhluk sosial. Setiap orang membutuhkan bantuan orang lain dalam menjalani kehidupannya. Oleh karena itu antara satu orang dengan yang lain harus menjalin pergaulan yang baik. Karena jika tidak kehidupan mereka akan berjalan sendiri. Pergaulaun yang baik itu salah satunya bisa diciptakan dengan mengembangkan sikap saling menolong antar sesame.Banyak manfaat yang dapat diambil dari terciptanya hubungan saling menolong antara lain : 1) Memperkuat tali atau hubungan silaturrahmi antar seesama.
2) Diantara masyarakat akan tercipta simbiosis mutualisme (hubungan yang saling menguntungkan).
3) Kebutuhan atau keperluan hdup akan dapat terpenuhi.
4) Kesulitan hidup menjadi ringan.
5) Kehidupan menjadi lebih tentram dan sejahtera.
4) Membiasakan Berperilaku Ta’awun
Pembiasaan tolong menolong dalam kehidupan menjadikan tolong menolong sebagi kebiasaan memang tidak mudah, apalagi disaat serba sulit. Setiap orang seakan-akan tertuntut untuk memenuhi kebutuhan pribadinya masing masing sehingga menolong orang lain menjadi terlupakan. Namun hal itu bukan tidak bisa dilakukan, untuk membiasakan tolong menolong kita dapat memulai setidaknya dengan: 1) Memulainya dari hal-hal kecil.
2) Memupuk rasa peduli terhadap orang lain.
3) Belajar ikhlas dalam setiap perbuatan yang dilakukan.
4) Mengingat semua karunia allah (sebagai bentuk pertolongan allah kepada manusia).
5) Berdo’a kepada allah untuk membimbing diri kita menjadi seorang yang gemar menolong.
D. AkhlakTerhadap Diri Sendiri
1. Pengertian Akhlak Pada Diri Sendiri
Menurut etimologi kata akhlak berasal dari bahasa Arab اخلاق bentuk jamak dari mufradnya khuluq خلق yang berarti “budi pekerti”. Sedangkan menurut terminologi : kata “budi pekerti”, budi adalah yang ada pada manusia, berhubungan dengan kesadaran yang didorong oleh pemikiran, ratio. Budi disebut juga karakter. Pekerti adalah apa yang terlihat pada manusia karena didorong oleh perasaan hati yang disebut behaviour.Jadi, budi pekerti adalah perpaduan dari hasil rasio dan rasa yang bermanifestasi pada karsa dan tingkah laku manusia.[15] Manusia sebagai makhluk Allah mempunyai kewajiban terhadap dirinya sendiri. Namun bukan berarti kewajiban ini lebih penting daripada kewajiban kepada Allah. Dikarenakan kewajiban yang pertama dan utama bagi manusia adalah mempercayai dengan keyakinan yang sesungguhnya bahwa “Tiada Tuhan melainkan Allah”. Keyakinan pokok ini merupakan kewajiban terhadap Allah sekaligus merupakan kewajiban manusia bagi dirinya untuk keselamatannya.
Manusia mempunyai kewajiban kepada dirinya sendiri yang harus ditunaikan untuk memenuhi haknya. Kewajiban ini bukan semata-mata untuk mementingkan dirinya sendiri atau menzalimi dirinya sendiri. Dalam diri manusia mempunyai dua unsur, yakni jasmani (jasad) dan rohani (jiwa). Selain itu manusia juga dikaruniai akal pikiran yang membedakan manusia dengan makhluk Allah yang lainnya. Tiap-tiap unsur memiliki hak di mana antara satu dan yang lainnya mempunyai kewajiban yang harus ditunaikan untuk memenuhi haknya masing-masing.
2. Macam-Macam Akhlak Pada Diri Sendiri
a. Berakhlak terhadap jasmani
1) Senantiasa Menjaga Kebersihan[16] Islam menjadikan kebersihan sebagian dari Iman. Seorang muslim harus bersih/ suci badan, pakaian, dan tempat, terutama saat akan melaksanakan sholat dan beribadah kepada Allah, di samping suci dari kotoran, juga suci dari hadas.
2) Menjaga Makan dan Minumnya[17] Makan dan minum merupakan kebutuhan vital bagi tubuh manusia, jika tidak makan dan minum dalam keadaan tertentu yang normal maka manusia akan mati. Allah SWT memerintahkan kepada manusia agar makan dan minum dari yang halal dan tidak berlebihan. Sebaiknya sepertiga dari perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.
Menjaga kesehatan bagi seorang muslim adalah wajib dan merupakan bagian dari ibadah kepada Allah SWT dan sekaligus melaksanakan anmanah dari-Nya. Riyadhah atau latihan jasmani sangat penting dalam penjagaan kesehatan, walau bagaimnapun riyadhah harus tetap dilakukan menurut etika yang ditetapkan oleh Islam. Orang mukmin yang kuat, lebih baik dan lebih dicintai Allah SWT daripada mukmin yang lemah.
4) Berbusanayang Islami[19] Manusia mempunya budi, akal dan kehormatan, sehingga bagian-bagian badannya ada yang harus ditutupi (aurat) karena tidak pantas untuk dilihat orang lain. Dari segi kebutuhan alaminya, badan manusia perlu ditutup dan dilindungi dari gangguan bahaya alam sekitarnya, seperti dingin, panas, dll. Karena itu Allah SWT memerintahkan manusia menutup auratnya dan Allah SWT menciptakan bahan-bahan di alam ini untuk dibuatb pakaian sebagai penutup badan.
b. Berakhlak terhadap Akal[20] 1) Menuntut Ilmu
Menuntut ilmu merupakan salah satu kewajiban bagi setiap muslim, sekaligus sebagai bentuk akhlak seorang muslim. Muslim yang baik, akan memberikan porsi terhadap akalnya yakni berupa penambahan pengetahuan dalam sepanjang hayatnya
2) Memiliki Spesialisasi Ilmu yang dikuasai
Setiap muslim perlu mempelajari hal-hal yang memang sangat urgen dalam kehidupannya. Menurut Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi hal-hal yang harus dikuasai setiap muslim adalah : Al-Qur'an, baik dari segi bacaan, tajwid dan tafsirnya; kemudian ilmu hadits; sirah dan sejarah para sahabat; fikih terutama yang terkait dengan permasalahan kehidupan, dan lain sebagainya. Setiap muslim juga harus memiliki bidang spesialisasi yang harus ditekuninya. Spesialisasi ini tidak harus bersifat ilmu syariah, namun bisa juga dalam bidang-bidang lain, seperti ekonomi, tehnik, politik dan lain sebagainya. Dalam sejarahnya, banyak diantara generasi awal kaum muslimin yang memiliki spesialisasi dalam bidang tertentu.
3) Mengajarkan Ilmu pada Orang Lain
Termasuk akhlak muslim terhadap akalnya adalah menyampaikan atau mengajarkan apa yang dimilikinya kepada orang yang membutuhkan ilmunya.
4) Mengamalkan Ilmu dalam Kehidupan
Diantara tuntutan dan sekaligus akhlak terhadap akalnya adalah merealisasikan ilmunya dalam “alam nyata.” Karena akan berdosa seorang yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya.
c. Berakhlak terhadap jiwa
1) Bertaubat dan Menjauhkan Diri dari Dosa Besar
Taubat adalah meninggalkan seluruh dosa dan kemaksiatan, menyesali perbuatan dosa yang telah lalu dan berkeinginan teguh untuk tidak mengulangi lagi perbuatan dosa tersebut pada waktu yang akan datang.[21] 2) Bermuraqabah
Muraqabah adalah rasa kesadaran seorang muslim bahwa dia selalu diawasi oleh Allah SWT. Dengan demikian dia tenggelam dengan pengawasan Allah dan kesempurnaan-Nya sehingga ia merasa akrab, merasa senang, merasa berdampingan, dan menerima-Nya serta menolak selain Dia.[22] 3) Bermuhasabah
Yang dimaksud dengan muhasabah adalah menyempatkan diri pada suatu waktu untuk menghitung-hitung amal hariannya. Apabila terdapat kekurangan pada yang diwajibkan kepadanya maka menghukum diri sendiri dan berusaha memperbaikinya. Kalau termasuk yang harus diqadha maka mengqadhanya. Dan bila ternyata terdapat sesuatu yang terlarang maka memohon ampun, menyesali dan berusaha tidak mengulangi kembali. Muhasabah merupakan salah satu cara untuk memperbaiki diri, membina, menyucikan, dan membersihkannya.
4) Mujahadah
Mujahadah adalah berjuang, bersungguh-sungguh, berperang melawan hawa nafsu. Hawa nafsu senantiasa mencintai ajakan untuk terlena, menganggur, tenggelam dalam nafsu yang mengembuskan syahwat, kendatipun padanya terdapat kesengsaraan dan penderitaan. Jika seorang Muslim menyadari bahwa itu akan menyengsarakan dirinya, maka dia akan berjuang dengan menyatakan perang kepadanya untuk menentang ajakannya, menumpas hawa nafsunya.
E. Akhlak Kepada Allah SWT
Sumber untuk menentukan Akhlak dalam Islam, apakah termasuk akhlak yang baik (mulia) atau akhlak yang tercela, adalah al-Quran dan as Sunnah Nabi Muhammad SAW.
Terlebih lagi akhlak terhadap Allah SWT, tentunya standar baik dan buruknya adalah berasal dari aturan-Nya bukan akal atau adat manusia, sebab akan berbeda-beda ukuran/standarnya.Jika kita perhatikan, akhlak terhadap Allah ini merupakan pondasi atau dasar dalam berakhlak terhadap siapapun yang ada dimuka bumi ini. Jika seseorang tidak memiliki akhlak positif terhadap Allah, maka ia tidak akan mungkin memiliki akhlak positif terhadap siapapun. Demikian pula sebaliknya, jika ia memiliki Akhlak al Karimah terhadap Allah, maka ini merupakan gerbang untuk menuju kesempurnaan akhlak terhadap orang lain. Titik tolak Akhlak kepada Allah SWT adalah pengakuan dan kesadaran bahwa Tiada Tuhan Melainkan Allah SWT dalam beribadah kepadaNya. 1. Pengertian Akhlak Terhadap Allah
Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai Al Khalik (Pencipta).Sehingga Akhlak kepada Allah dapat diartikan, “Segala sikap atau perbuatan manusia yang dilakukan tanpa dengan berfikir lagi (spontan) yang memang seharusnya ada pada diri manusia (sebagai hamba) kepada Allah SWT (sebagai Al Khalik).
Umat Islam diwajibkan berakhlak baik kepada Allah SWT dengan bertaqwa kepadaNya, Allah SWT yang telah menjadikan umat Islam dengan sebutan sebagai Umat Terbaik (Khoiru Ummah).
Akhlak kepada Allah SWT adalah contohnya dengan:
a. Bertauhid kepadaNya (QS. al-Ikhlash [112] :1–4; QS. alDzariyat [51]: 56),
b. Menaati perintahNya (QS. Ali ‘Imran [3]: 132),
c. Ikhlas dalam semua amal (QS. al-Bayyinah [98]: 5),
d. Tadlarru’ dan khusyu’ dalam beribadah (QS. al-Fatihah [1]: 6),
e. Berdoa dan penuh harapan pada Allah SWT. (QS. al-Zumar [39]: 53)
f. Berbaik sangka pada setiap ketentuan Allah (QS. Ali ‘Imran [3]: 154),
g. Bertawakal setelah memiliki kemauan dan ketetapan hati (QS. Ali ‘Imran [3]: 159),
h. Bersyukur (QS. Ibrahim [14]: 7), dan
i. Bertaubat serta istighfar bila berbuat kesalahan (QS. al-Tahrim [66]: 8). 2. Alasan Seorang Muslim Harus Berakhlak Kepada Allah SWT
Menurut Kahar Mashyur, ada 4 (empat) alasan manusia perlu berakhlak kepada Allah SWT, yakni: 1. Allah yang menciptakan manusia.
Dia yang menciptakan manusia dari air yang ditumpahkan keluar dari tulang punggung dan tulang rusuk. “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?. Dia tercipta dari air yang terpancar. Yang terpancar dari tulang sulbi dan tulang dada. [at-Thariq: 5-7]
2. Allah-lah yang telah memberikan perlengkapan panca indera.
Berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran dan hati sanubari, disamping anggota badan yang kokoh dan sempurna kepada manusia. “Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.” [Q.S an-Nahl : 78]
3. Allah-lah yang telah menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia. Seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang ternak dan lainnya. [Q.S al-Jatsiyah :12-13]
4. Allah-lah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan didaratan dan dilautan.
”Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak cucu Adam, Kami angkut mereka dari daratan dan lautan, Kami beri mereka dari rizki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” [Q.S al-Isra’ : 70]
Setiap muslim meyakini, bahwa Allah SWT adalah sumber segala sumber dalam kehidupannya. Allah adalah Pencipta dirinya, pencipta jagad raya dengan segala isinya, Allah SWT adalah pengatur alam semesta yang demikian luasnya. Allah adalah pemberi hidayah dan pedoman hidup dalam kehidupan manusia, dan lain sebagainya. Sehingga jika hal ini mengakar dalam diri setiap muslim, maka akan terealisasi dalam realita bahwa Allah lah yang pertama kali harus dijadikan prioritas dalam berakhlak.
F. Hubungan Akhlak dengan Kesehatan
Akhlak sangat berpengaruh pada diri kita terutama pada kesehatan, karena setiap perbuatan memiliki dampak positif dan negatif. Jadi ketika kita berperilaku baik maka dampak pada kesehatan kita pun baik. Begitupun sebaliknya jika perilaku kita buruk maka dampak pada kesehatan kita pun buruk. Contoh korelasi akhlak dengan bidang kesehatan :
1. Etika makan dan minum.
Dalam kegiatan makan dan minum ada beberapa etika yang harus dipatuhi seperti berikut ini :
a. Mencuci tangan sebelum dan setelah makan. Bahkan dinyatakan dalam hadist Nabi SAW menganjurkan untuk berwudhu setelah dan sebelum makan. (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi).
b. Membaca basmalah sebelum makan dan mengucapkan hamdalah sesudah makan.
c. Makan dan minum harus sambil duduk.
d. Jangan makan dan minum terlalu kenyang (berlebihan). Nabi Muhammad SAW bersabda menyuruh kita untuk mengisi perut sepertiganya untuk makan, minum, udara. (HR. Ahmad dan tirmidzi).
2. Pengaruh sholat malam terhadap kesehatan. Sebuah penelitian ilmiah membuktikan, shalat tahajjud membebaskan seseorang dari berbagai penyakit. Di satu sisi pahala Anda akan bertambah, di sisi lain juga bisa memetik keuntungan jasmaniah. Insya Allah, akan terhindar dari berbagai penyakit. Itu bukan ungkapan teoritis semata, melainkan sudah diuji dan dibuktikan melalui penelitian ilmiah.
3. Kolerasi puasa dengan kesehatan mental, dalam Islam pengembangan kesehatan mental terintegrasi dalam pengembangan pribadi pada umumnya, dalam artian kondisi kejiwaan yang sehat merupakan hasil sampingan dari kondisi yang matang secara emosional, intelektual, dan sosial, serta matang keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Ditinjau secara ilmiyah, puasa dapat memberikan kesehatan jasmani maupun ruhani. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan para pakar. Penelitian Nicolayev, seorang guru besar yang bekerja pada lembaga psikiatri Mosow (the Moskow Psychiatric Institute), mencoba menyembuhkan gangguan kejiwaan dengan berpuasa. Dalam usahanya itu, ia menterapi pasien sakit jiwa dengan menggunakan puasa selama 30 hari. Adapun puasa yang dikerjakan sesuai ajaran Islam, akan mendatangkan keuntungan ganda, antara lain: ketenangan jiea, menghilangkan kekusutan pikiran, menghilangkan ketergantungan jasmani dan rohani terhadap kebutuhan-kebutuhan lahiriyah saja. Menurut Hawari, puasa sebagai pengendalian diri (self control). Pengendalian diri adalah salah satu ciri utama bagi jiwa yang sehat. Dan manakala pengendalian diri seseorang terganggu, maka akan timbul berbagai reaksi patologik (kelainan) baik dalam alam pikiran, perasaan, dan perilaku yang bersangkutan. Reaksi patologik yang muncul tidak saja menimbulkan keluhan subyektif pada diri sendiri, tetapi juga dapat mengganggu lingkungan dan juga oranglain. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai hubungan suami dengan isteri dan anak, isteri dengan suami dan anak, anak dengan orangtua. Dimana sering terjadi kesalahpahaman yang menyebabkan emosi masing-masing pihak muncul kepermukaan.
Misal suami pulang terlambat kerumah karena sedang banyak perkerjaan, isteri bukannya bertanya dengan baik kenapa suaminya pulang terlambat malah berpikir dan menuduh suaminya macam-macam.
Demikian juga bila suami merasa kurang dilayani dengan baik oleh isteri bukannya memberitahu dan membimbing dengan baik malah langsung marah-marah dan berkata kasar.
Anak juga demikian bila mempunyai keinginan minta dibelikan sesuatu akan memaksa tanpa melihat kondisi orang tua sehingga orangtua akan kelabakan mencarikan dana untuk menuruti keinginan anak.
Itu hanya masalah rumah tangga saja, belum lagi nanti masalah dilingkungan tempat tinggal kita, lingkungan pekerjaan, dimana akan banyak masalah yang menyebabkan emosi kita mudah terpancing dan muncul kepermukaan. Dan hal itu sudah jamak kita dengar dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang dipandang wajar, padahal mengumbar emosi sebenarnya adalah suatu hal yang dilarang oleh Allah Ta’ala. Tapi tanpa kita sadari hal yang dilarang oleh Allah Ta’ala itulah yang sering menghiasi keseharian kita.
Disatu sisi kita berusaha agar rajin sholat, rajin mengaji,
menjalankan puasa wajib maupun sunnah, berqurban, berzakat atau mungkin berhaji dengan hanya berharap pahala dari Sang Khaliq tapi tanpa kita sadari pula disisi lain dengan kita mengumbar hawa nafsu (baca: emosi) hanya akan menyebabkan kita akan semakin jauh dari jalan Allah Ta’ala.
Sebenarnya itulah yang menyebabkan Allah SWT memberikan peringatan kepada kita (misal penyakit) agar kita mau kembali ke jalan yang benar, jalan yang dirahmati dan diridhoi Alah SWT. Dan ini sesuai dengan firman Allah QS. Yunus, 10:57 yang berbunyi:
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”.
Beriman disini maksudnya agar kita mau mengimani ayat-ayat Allah SWT yaitu Al-Qur’an. Mengimani berarti percaya, percaya berarti mau mengerti dan memahami lalu melaksanakan apa-apa yang tertulis di Al-Qur’an, sehingga dengan demikian insyaallah Allah SWT akan berkenan melimpahkan rahmatNya, memberi kesembuhan atas penyakit yang diderita dan menjauhkan kita dari segala marabahaya,
Selama ini jika kita sakit banyak hal yang kita usahakan agar bisa sembuh seperti pergi ke dokter, minum obat, minum jamu, pijat, pergi ke tabib atau bahkan kerokan. Itu semua adalah hal yang wajar, itu adalah bentuk ikhtiar kita dalam rangka mencari kesembuhan. Bahkan pengobatan yang telah lama ada di dunia seperti meminum madu pun adalah termasuk ikhtiar dan madu adalah merupakan salah satu obat yang memang disebut Allah Ta’ala bisa menyembuhkan penyakit seperti yang tersebut dalam QS. An-Nahl, 16:69 yang berbunyi:
” … Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan”.
Semua yang kita lakukan seperti yang tersebut diatas adalah bentuk ikhtiar kita dalam mencari kesembuhan tapi ada satu bentuk ikhtar yang sering kita lupakan. Kita sering lupa berikhtiar untuk segera kembali pada jalanNya, bersegera memohon ampunan atas dosa-dosa kita dan memohon agar diberi kesembuhan.
Sebenarnya penekanan Allah SWT adalah kepada perbaikan akhlak kita sebagai umat manusia, hamba Allah yang diharapkan ketakwaannya setiap hari, setiap waktu terus bertambah dan bertambah sehingga bisa dimasukkan ke dalam golongan hamba hamba Allah yang muttaqien.
Akhlak disini adalah perilaku kita sehari-hari, perilaku seorang muslim yang seharusnya mencerminkan semangat rahmatan lil ‘alamin. Selalu membawa kedamaian, kebahagiaan dan ketentraman dimana saja dan buat siapa saja. Perilaku yang tidak menyimpang dan sesuai dengan ayat-ayat Allah Ta’ala. G. Penutup
Kajian tentang akhlak merupakan kajian yang sangat penting, karena jatuh bangunnya suatu bangsa ataupun masyarakat tergantung pada bagaimana akhlak manusia. Seseorang yang berakhlak mulia akan memenuhi kewajiban terhadap dirinya, memberikan hak kepada yang berhak, dia akan melakukan kewajibannya terhadap Tuhannya, terhadap sesama manusia, dan terhadap alam lingkungannya. Oleh karena itu, secara tidak langsung akhlak yang mulia dapat mewujudkan kehidupan yang sejahtera dan harmonis di dunia ini, dan menjadi kunci kebahagiaan abadi di akhirat kelak.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Bakar Jabir El Jazairi, Pola Hidup Muslim (Minhajul Muslim): Etika (Bandung : PT Remaja Rosdakarya,1993.
Ali Abdul Halim Mahmud, Akhlak Mulia, (Jakarta: Gema Insani, 2004.
Departemen Agama, Alquran dan Terjemahannya, (Jakarta:Serajaya Santra, 1987.
Mahjuddin, Akhlak Tasawuf, (Jakarta:Kalam Mulia, 2009). hlm. 7
Marzuki, Konsep Akhlak Islam. (Jakarta: Bina Ilmu Pustaka, 2003.
Masan al Fat, Aqidah Akhlak, (Semarang: Adi Cita, 1994.
Miftah Faridl, Etika Islam: Nasehat Islam untuk Anda.(Bandung: Pustaka.1997.
Rahmat Djatnika, Sistem Etika Islami : Akhlak Mulia, (Jakarta:Pustaka Panjimas, 1996.
Rahmat Djatnika, Sistem Etika Islami: Akhlak Mulia, (Jakarta:Pustaka Panjimas, 1996.
Tiswarni, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Bina Pratama, 2007), hlm. 1
Tiswarni, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Bina Pratama, 2007), hlm. 1 Mahjuddin, Akhlak Tasawuf, (Jakarta:Kalam Mulia, 2009). hlm. 7 Departemen Agama, Alquran dan Terjemahannya, (Jakarta:Serajaya Santra, 1987), Cet. Ke-1, hlm .670
Ali Abdul Halim Mahmud, Akhlak Mulia, (Jakarta: Gema Insani, 2004), hlm. 177. Masan al Fat, Aqidah Akhlak, (Semarang: Adi Cita, 1994), hlm. 126.
Rahmat Djatnika, Sistem Etika Islami : Akhlak Mulia, (Jakarta:Pustaka Panjimas, 1996), hlm. 26 Miftah Faridl, Etika Islam: Nasehat Islam untuk Anda.(Bandung: Pustaka.1997), hlm.184-187 Rahmat Djatnika, Sistem Etika Islami: Akhlak Mulia, (Jakarta:Pustaka Panjimas, 1996), hlm.129 Abu Bakar Jabir El Jazairi, Pola Hidup Muslim (Minhajul Muslim): Etika (Bandung : PT Remaja Rosdakarya,1993).hlm.33
Kahar Masyhur, Membina Moral dan Akhlak (Jakarta: Kalam Mulia, 1985) diakses di :www.blog.umy.ac.id/rizalmantovani/tentang-saya-3/akhlak-kepada-allah
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️