Pernahkah kita sebagai seorang anak menghitung seberapa besar pengorbanan orang tua?
Jika mendapat pertanyaan seperti itu rasanya kita tidak
akan mampu untuk menghitungnya karena memang begitu besar pengorbanan orang tua kepada anak.
Namun berbicara tentang pengorbanan, ternyata cinta orang tua kepada sang anak itu bukanlah sebuah pengorbanan, karena jika sebuah pengorbanan maka pastinya orang tua akan menuntut balasan atas setiap pengorbanan yang telah ia berikan kepada anaknya.
Dan nyatanya apakah orang tua kita meminta balasan atas apa yang telah ia berikan kepada kita sebagai anak, jika memang demikian rasanya kita tidak akan mampu membalas setiap apa yang telah diberikan orang tua kepada kita.
Namun sangat disayangkan akhir-akhir ini dengan alasan serta dorongan untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka, orang tua justru rela melakukan apapun, dengan memilih menjadi orang tua karier, dimana suami istri bekerja pagi sampai malam, dan menitipkan anak-anak mereka kepada pengasuh.
Padahal keputusan semacam itu tak selamanya benar, alih-alih ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka, bisa-bisa sang anak justru terjerumus kepada hal-hal yang tak diinginkan karena kurangnya kasih sayang, dan perhatian dari kedua orang tua.
Maka bagi orang tua juga perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan, karena bagaimanapun orang tua memiliki kewajiban bagi anak-anaknya untuk memberikan pendidikan, serta mengasuh sang anak dengan sebaik-baiknya agar sang anak mengenal agama.
Hal tersebut harus dilakukan orang tua, agar sang anak menjadi seorang anak yang sholeh atau sholehah yang mampu memberikan kebaikan bagi dirinya, agama, dan negara.
Namun nyatanya apakah semua orang tua bisa melakukan hal itu, nyata tidak. Mungkin banyak yang dapat mencukupi segala kebutuhan materi sang anak, namun hanya sedikit orang tua yang mampu mengarahkan anak-anak mengenal tentang agama.
Jika kita perhatikan, tak jarang orang tua yang sebenarnya taat beragama namun justru memiliki anak yang jauh dari agama.
Namun apakah orang tua kemudian disalahkan dalam hal itu, bisa saja ia, bisa juga tidak, karena memang ada banyak faktor yang dapat membentuk perilaku seorang anak. Selain faktor dari orang tuanya, lingkungan pun juga tak kalah penting, dimana dapat membentuk perilaku anak jauh dari apa yang orang tua harapkan.
Dan yang dikhawatirkan jika seorang anak terus menerus terjerumus jauh dari agama, kelak diakhirat hanya akan menyeretnya, dan menyeret orang tua mereka ke dalam jurang neraka jika tidak segera bertaubat memohon ampun kepada Allah SWT.
Sebagai orang tua seharusnya mampu bersikap tegas kepada anak-anak mereka, jangan sampai karena luputnya orang tua dalam mengasuh anak-anaknya yang justru membuat orang tua termasuk ke dalam golongan orang tua yang batal masuk ke dalam surga, dan justru masuk ke dalam neraka karena perbuatan dari sang anak. Wallahu A'lam.
Seperti apakah golongan orang tua yang dimaksud. Ternyata yang termasuk dalam golongan ini adalah orang tua yang melihat anak-anak mereka terus menerus melakukan maksiat, namun orang tua tak melarangnya, bahkan terkesan acuh dengan apa yang dilakukan sang anak.
Bahkan ada sebuah kabar bahwa kelak dihari kiamat ada seorang anak yang tergantung dileher ayahnya, lalu ia berkata: Wahai Rabbku ambillah hakku dari orang yang menzhalimiku ini!’ Sang ayah berkata: ‘Bagaimana aku menzhalimimu, sedangkan aku telah memberimu makan dan pakaian?’ Sang anak berkata: ‘Benar, engkau telah memberiku makan dan pakaian, tetapi engkau melihatku melakukan maksiat dan engkau tidak melarangku.'” (Dikutip dari Majalah Az-Zahur, Sya’ban 1420 H).
Jika demikian maka wajiblah bagi orang tua untuk selalu berhati-hati dalam mendidik anak-anaknya, yang tak kalah penting juga harus bersikap tegas demi kebaikan sang anak sebagai bekal di dunia hingga akhirat.
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️