Pendahuluan Puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmatnya kepada kita. Sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah ini .Shalawat dan salam kepada Junjungan Besar Muhammad SAW, sebagai uswah al hasanah bagi seluruh manusia. Penulis juga berterimakasih kepada ............selaku dosen pembimbing pada mata kuliah Perkembangan Peserta Didik di Jurusan PAI dalam rangka menyelesaikan tugas makalah individu dengan judul”Masalah Perkembangan”.
Perkembangan merupakan hal yang paling penting dalam manusia dan merupakan hal yang paling untuk dibahas untuk mengetahu hal- hal yang terjadi dalam perkembangan manusia serta proses- proses terjadinya perkembangan tersebut sangan penting untuk kita ketahui.
Pembahasan mengenai masalah perkembangan ini sangat luas. Adapu garis- garis besar yang akan dibahas dalam masalah ini terdiri dari:
1. Pengertian perkembangan
2. Hakikat perkembangan
3. Jenis-jenis perkembangan
4. Ciri-ciri perkembangan
5. Prinsip-prinsip perkembangan
6. Fase-fase perkembangan
7. Beberapa teori proses perkembangan
8. Pendekatan perkembangan rentang kehidupan dari Baltes
9. Pengaruh normatif dan nonnormatif terhadap perkembangan
Penulisan dalam makalah ini menggunakan metode kepstakaan, yaitu metode penelusuran pstaka dan merujuk kepada buku-buku kemudia dituangkan dalam bentuk makalah ini.Adapun analisis yang digunakan adalah analisis data yaitu dengan menyimpulkan pendapat para ahli.
Adapun tujuan dari penulisa makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik yang diharapkan dapat memenuhi wawasan ilmu penegetahuan kita tentang perkembangan.
Karena sumber yang dikumpulkan penulis sangat terbatas tentunya makalah ini jauh dari keswmpurnaan.Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk tercapainya kesempurnaan makalah selanjutnya.
B. Pengertian Perkembangan
Perkembangan menunjuk pada suatu proses tertentu, yaitu suatu proses yang menuju ke depan dan tidak dapat diulang kembali. Dalam perkembangan manusia terjadi perubahan- perubahan yang sedikit banyak bersifat tetap dan tidak dapat diulangi. Perkembangan menunjuk pada perubahan- perubahan dalam suatu arah yang bersifat tetap dan maju.Perkembangan juga berhubungan dengan proses belajar terutama mengenai isinya, yaitu mengenai apa yang akan bekembang berkaitan dengan tingkah laku belajar. Di samping juga bagaimana sesuatu itu dipelajari, apakah misalnya melalui memorisasi atau melalui peniruan dengan menangkap hubungan- hubungan, hal ini semua ikut mempengaruhi proses perkembangan. Sehubungan dengan hal- hal tersebut, maka perkembangan dapat pula dilukiskan sebagai suatu proses yang kekal dan tetap yang menuju kearah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi berdasarkan proses pertumbuhan, kematangn, dan belajar. Menurut Nagel perkembangan merupakan pengertian dimana terdapat struktur yangterorganisasika dan mempunyai fungsi- fiungsi tertentu. Oleh karena itu bilamana terjadi perubahan struktur, baik dalam organisasi maupun dalam bentuk, akan mengakibatkan perubahan fungsi. Dengan demikian perkembangan dalam arti sempit biasa disebut sebagai proses pematangan fungsi- fungsi fisik dan non fisik. Perkembangan anak sering diibaratkan dengan mekar berkembangnya kecup bunga yang belum ada mamfaatnya kemudian makin membesar jadi sekuntum bunga, harum baunya dan berwarna indah. Dalam kaitannya dengan psikologi perkembangan, maka perkembangan itu dapat didefenisikan sebagai perubahan- perubahan psikho-fisis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi- fungsi psikis dan fisis dari anak, yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam kurun waktu tertentu menuju kedewasaan. Defenisi lain dari perkembangan adalah proses transmisi daripada konstitusi psyco-fisis yang herediter, distimulir oleh faktor lingkungan yang menguntungkan, dalam perwujudan proses aktif menjadi secara kontiniu. C. Hakikat Perkembangan
Kalau kita memperhatikan segala sesuatu yang ada di sekitar kita, baik kehidupan manusia, binatang, flora, fauna maupun benda- benda anorganik, kita akan melihat suatu hal yang abadi, yaitu selslu adanya perubahan. Segalanya selalu berubah, lambat atau cepat, berwujud penyusutan, pertumbuhan maupun perkembangan, menurut sifat kodratnya masing- masing.Pantarei, demikian kata Demokritos, seorang filosof Yunani kuno, beberapa ratus tahun sebelum Masehi.Semuanya berubah tidak ada satupun yang abadi kecuali ketikabadian itu sendiri. Demikian halnya dengan kehidupan manusia, yang bermula dari telur, kemudian melalui garis pertumbuhan: janin, bayi, kanak- kanak, anak, pemuda, adolesen, orang tua, dan akhirnay meninggal. Semuanya menurut perkembangan menurut variasinyasendiri, menurut irama perkembangannya sendiri- sendiri, tiada dua orang yang sama. Tiada seorang ahli pun yang menemukan sesuatu hokum tertentu, melainkan baru sampai ke tingkat atau kategori teori- teori didalam kehidupan organisme di dunia ini. Bahwa setiap anak secara kodrat membawa variasi dan irama perkembangannya sendiri, perlu diketahui setiap orang tua, agar ia tidak bertanya-tanya bahkan bingung atau bereaksi negative yang lain dalam menghadapi perkembangan anaknya. Bahkan iaharus bersikap tenang sambil mengikuti terus menerus pertumbuhan itu, agar pertumbuhan itu sendiri terhindar dari gangguan apapun, yang tentu saja merugikan. Hal ini berlaku juga dalam pertumbuhan pemuda, secara psikofisis. Aspek- aspek manakah yang berkembang dari kehidupan manusia?. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu lebih dahulu mengetahui hakikat manusia, yaitu pada hakikatnya manusia adalah mahlik hidup yang hidup dalam keadaan: 1. Psikofisis
2. Sosioindividuil, yang
3. Culturilreligius
4. Psikopfisis, yang berarti manusia adalah mahluk yang hidup dalam kesatuan dua, social dan individual.
5. Culturilreligius, yang berarti manusia adalah mahluk yang hidup dalam kesatuan dua, dicipta(oleh Maha Pencipta) dan mencipta (kebudayaan)
Bila kita perhatikan sifat- sifat tersebut tampak bahwa masing- masing selalu sepasang- sepasang yang kelihatannya bertentangan satu sama lain, tapi saling lengkap melengkapi. Seperti halnya pria dan wanita. Sifat- sifat semacam itulah yang diistilahkan dengan kata monodualis. Dan manusia adalah mahluk monodualis, bahkan monodualis berganda. Semua sifat itu dan semua aspek tersebut berkembang seluruhnya secara simultan selama mendapat kesempatan dan sejauh masih memungkinkan, menrut irama variasi dan isinya sendiri- sendiri D. Jenis- Jenis Perkembangan
Dalyono mengemukakan bahwa jenis-jenis perkembangan adalah sebagai berikut: 1. Perkembangan fisik
Perkembangan fisik adalah perubahan dalam ukuran tubuh proporsi anggota badan tampang dan perubahan dalam fungsi- fungsi dari sistem tubuh seperti perkembangan otak persepsi dan gerak (motorik)serta kesehatan.
2. Perkembangan intelektual
Adalah perubahan yang bervariasi dalam proses berfikir dalam kecerdasan termasuk didalamnya rentang perhatian dan daya ingatan kemampuan belajar pemecahan masalah imajinasi kreativitas dan keunikan dalam menyatakan sesuatu dengan menggunakan bahasa.
3. Perkembangan sosial
Adalah perkembangan berkomunikasi secara sosial, kemampuan untuk mengalami perasaan orang lain, keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain, menjalin persahabatan, dan pengertian tentang moral harus dipahami sungguh- sungguh bahwa aspek- aspek perkembangan itu merupakan satu kesatuan yang utuh (terpadu) tidak terpisahkan satu sama lain seiap aspek perkembangan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aspek lainnya.
4. Perkembangan perasaan atau emosional
Anak – anak memiliki perasaan yang lebih kuat pengaruhnya dibandingkn dengan perasaan orang dewasa.Tetapi pengaruh perasaan itu lebih rendah jika dibandingkan dengan pengaruh perasaan anak kecil.Anak sekolah lekas merasa puas tampaknya mereka selalu merasa gembira bahkan jarang menyesali perbuatannya. Mereka belum mampu turut merasakan kesusahan yang dirasakan oleh orang lain.
a. Perasaan intelek, perasaan yang menyertai perasaan berfikir. Perasaan intelek erat hubungannya dengan dapat tidaknya menyelesaikan soal- soal matematikadan ilmu pengetahuan lainnya.
b. Perasaan seksual, anak- anak menginginkan suasana yang akrab dengan orangtuanya dalam membicarakan masalah- masalah seksual yang ingin mereka ketahui
c. Perasaan keindahan, perasaan keindahan sebenarnya belum banyak nampak untuk menentukan mana yang baik dan yang indah
d. Persaan keagamaan, perasaan individu ketika menghayati hubungannya dengan Tuhannya disebut perasaan keagamaanm perasaan keagamaan menggerakkan hati manusia agar ia lebih banyak melakukan perbuatan baik
5. Perkembangan moral
Sebagi mahluk sosial setiap individu merupakan anggota dari kelompoknya dalam setiap kewajiban dan hak, sanksi dan larangan, struktur dan hierarki kelompok serta komunikasi setiap individu dalam kelompok diharapkan menaati aturan dan norma yang telah ditetapkan oleh masyarakat serta menjauhi larangan yang ditetapkan
6. Perkembangan budaya
Secara prinsip yang membedakan manusia dengan hewan adalah manusia memiliki budaya secara umum, budaya adalah segala hasil cipta, rasa, karsa, dan karya manusia baik yang bersifat material maupun non material, dan salah satu aspek perkembangan manusia adalah bahasa, perkembangan bahasa yang dimaksud adalah perubahan perilaku dan pribadiindividu dalam berbahasa.
E. Ciri-ciri Perkembangan
Perkembangan adalah perubahan yang progresif dan berkesinambungan dalam diri individu mulai lahir sampai mati.Pengertian lainnya yaitu, perubahan- perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannyayang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan baik menyangkut fisik maupun psikis. 1. Sistematis adalah perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling ketergantungan atau saling mempengaruhi antara bagian- bagian organisme (fisik dan psikis) merupakan satu kesatuan yang harmonis.
2. Progresif adalah perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan mendalam baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis).
3. Berkesinambungan adalah perubahan pada bagian atau fungsi organisme berlangsung secara beraturan.
Untuk lebih memahami pengertian perkembangan tersebut, berikut ciri- ciri perkembangan yaitu: 1. Terjadinya perubahan ukuran
a. Aspek fisik, perubahan tinggi dan berat badan serta organ- oragan tubuh lainnya
b. Aspek psikis, semakin bertambahnya perbendaharaan kata dan matangnya kemampuan berfikir, mengingat, serta menngunakan imajinasi kreatif.
2. Terjadinya perubahan proporsi
a. Aspek fisik: proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya, dan pada usia remaja proporsi tubuh anak mendekati proporsi tubuh usia dewasa.
b. Aspek psikis: perubahan imajinasi dari yang fantasi ke realitas, dan perubahan perhatiannya dari yang tertuju kepada dirinya sendiri perlahan- lahan beralih kepada orang lain (khususnya teman sebaya)
3. Lenyapnya tanda- tanda lama
a. Aspek fisik: lenyapnya kelenjar tymus (kelenjar kanak- kanak) yang terletak pada bagian dada, rambut halus, dan gigi susu
b. Aspek psikis: lenyapnya masa mengoceh(meraban) bentuk gerak- gerik kanak- kanak (seperti merangkak) dan perilaku implusif (melakukan sesuatu sebelum berfikir).
4. Munculnya tanda- tanda baru
a. Aspek fisik: tumbuh dan pergantian gigi dan matangnya organ- organ seksual pada usia remaja, baik primer (menstruasi pada wanita dan mimpi basah pada pria) maupun sekunder (membesarnya pinggul dan buah dada pada wanita, dan tumbuhnya kumis serta perubahan suara pada pria)
b. Aspek psikis: berkembangnya rasa ingin tahu, terutama yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, lingkungan alam, nilai- nilai maoral, dan agama.
F. Prinsip- Prinsip Perkembangan
Perkembangan manusia tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhannya.Pertumbuhan adalah sesuatu yang menyangkut materi jasmaniah yang dapat menumbuhkan fungsi dan bahkan perubahan fungsi pada materi jasmaniah.Perubahan jasmaniah sangat mempengaruhi perubahan pada fungsi psikologis.Oleh karena itu, perkembangan manusia tidak dapat dipisahkan dengan pertumbuhannya. Ciri perkembangan menunjukkan gejala yang secara relatif teratur, sehingga terjadinya pola perkembangan sistemati. Atas dasar hal tersebut ,berikut ini prinsip- prinsip perkembangan: 1. Perkembangan Merupakan Proses Yang Tidak Pernah Berhenti (never ending proses)
Individu secara terus menerus berkembang atau berubah yang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar sepanjang hidupnya.Perkembangan baik fisik maupun psikis berlangsung secara terus menerus sejak masa konsepsi sampai mencapai kematangan atau masa tua.
2. Semua Aspek Perkembangan Saling Mempengaruhi
Setiap aspek perkembangan individu, baik fisik, intelektual, emosi, social, maupun moral spiritual, satu sama lainnya saling mempengaruhi. Pada umunya terdapat hubungan atau korelasi yang positif antara aspek- aspek tersebut.apabila seorang anak dalam pertumbuhan fisiknya mengalami gangguan (sering sakit- sakitan), maka dia akan mengalami kemandegan dalam perkembangan aspek lainnya, seperti kecerdasan dan emosinya.begitu pula apabila perkembangan spritualitas keagamaan anak kurang baik, maka anak akan berkembang menjadi seorang yang berkarakter atau berkepribadian yang tidak baik.
3. Perkembangan Mengikuti Pola atau Arah Tertentu
Perkembangan terjadi secara teratur mengikuti pola atau arah tertentu.Setiap tahap perkembangan merupakan hasil perkembangan tahap sebelumnya, dan merupakan prasyarat bagi perkembangan selanjutnya.Menurut Yelon dan Weinstein (1977) pola perkembangan itu sebagai berikut:
a. Cephalcaodal ( perkembangan itu dimulai dari kepala ke kaki, artinya yang matang duluan itu adalah bagian atas kmudian ke bagian bawah dan tidak mungkin terbalik, dan proximodistal ( perkembangan itu bergerak dari tengah seperti paru- paru dan jantung ke pinggir tangan.
b. Struktur mendahului fungsi, yang berarti bahwa anggota tubuh individu akan berfungsi setelah matang strukturnya. Seperti mata dapat melihat setelah otot- ototnya matang.
c. Perkembangan itu berdiferensiasi, yang berarti bahwa perkembangan fisik maupun psikis berlangsung dari yang umum ke yang khusus ( spesipik) contoh bayi menendang- nendangkan kakinya secara sembarangan sebelun dia dapat mengoordinasikannya untuk merangkak atau berjalan, bayi melihat benda- benda yang lebih besar sebelum dia dapat melihat benda- benda kecil.
d. Perkembangan berlangsung dari konkret ke abstrak, yang berarti bahwa perkembangan itu berproses dari kemampuan berfikir konkret ( objeknya nampak) menuju ke abstrak ( objeknya tidak nampak).
e. Perkembangan berlagsung dari egosentrisme ke perspektivisme, yang berarti bahwa pada mulanya seorang anak hanya memerhatikan dirinya sebagai pusat, atau hanya mementingkan keinginan, kebutuhan dirinya sendiri. Melalui pengalamannya bergaul dengan orang lain khususnya teman sebaya, sikap egosentris itu secara perlahan- lahan berubah menjadi perspektivis ( anak sudah mulai memperhatikan kepentingan orang lain).
f. Perkembangan berlangsung dari out- control keinner control, yang berarti bahwa pada awalnya anak sangat tergantung kepada pengawasan atau batuan orang lain dalm memenuhi kebutuhan atau untuk melakukan seuatu kegiatan yang terkait dengan kedisiplinan. Seiring dengan betambahnya pengalaman atau belajar dari pergaulan sosial tentang norma- norma atau nilai- nilai, baik di lingkungan keluarga, sekolah, teman sebaya, maupun masyarakat, anak dapat mengembangkan kemampuannyauntuk mengontrol tindakan atau perilakunya oleh dirinya sendiri (inner control).
Pola perkembangan individu ini dapat pula berlangsung dari keadaan atau kondisi yang lemah (seperti masa bayi), kemudia berkembang menjadi kuat (masa remaja dan dewasa awal), dan selanjutnya kembali ke kondisi lemah (masa piku atau usia lanjut). Perubahan pola perkembangan ini dijelaskan dalam Al- Quran, surat Al- Rum ayat 54:
*ª!$#Ï%©!$#Nä3s)n=s{`ÏiB7#÷è|Ê¢OèO@yèy_.`ÏBÏ÷èt/7#÷è|ÊZo§qè%¢OèO@yèy_.`ÏBÏ÷èt/;o§qè%$Zÿ÷è|ÊZpt7øx©ur4 ß,è=øs$tBâä!$t±o( uqèdurÞOÎ=yèø9$#ãÏs)ø9$#ÇÎÍÈ
Artinya : Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari Keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah Keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.
4. Perkembangan Terjadi Pada Tempo yang Berlainan
Perkembangan fisik dan psikis mencapai kematangannya terjadi pada waktu dan tempo yangberbeda (ada yang cepat da nada yang lambat). Contoh:
a. Otak mencapai bentuk ukurannya yang sempurna pada umur 6-8 tahun
b. Tangan, kaki dan hidung mencapai pertumbuhannya yang maksimum pada usia remaja dan
c. Imajinasi kreatif berkembang dengan cepat pada masa kanak- kanak dan mencapai puncaknya pada masa remaja.
5. Setiap Fase Perkembangan Mempunyai Ciri Khas
Prinsip ini dapat dijelaskan denga contoh:
a. Sampai pada usia dua tahun anak memusatkan perhatiannya untuk menguasai gerak- gerik fisik dan belajar berbicara
b. Pada usia tiga sampai enam tahun, perkembnagan dipusatkan untuk menjadi manusia social (belajar bergaul dengan orang lain)
6. Setiap Individu yang Normal Akan Mengalami Tahapan atau Fase Perkembangan
Prinsip ini berarti bahwa dalam menjalani kehidupannya yang normal dan berusia panjang, individu akan mengalami masa atau fase perkembangan masa konsepsi, bayi, kanak- kanak, anak, remaja, dewasa. Tahapan perkembangan manusia itu dijelaskan dalam Al- Quran, surat Al Hajj ayat 5:
$ygr'¯»t â¨$¨Z9$# bÎ) óOçFZä. Îû 5=÷u z`ÏiB Ï]÷èt7ø9$# $¯RÎ*sù /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 5>#tè? §NèO `ÏB 7pxÿõÜR §NèO ô`ÏB 7ps)n=tæ ¢OèO `ÏB 7ptóôÒB 7ps)¯=sC Îöxîur 7ps)¯=sèC tûÎiüt7ãYÏj9 öNä3s9 4 É)çRur Îû ÏQ%tnöF{$# $tB âä!$t±nS #n<Î) 9@y_r& wK|¡B §NèO öNä3ã_ÌøéU WxøÿÏÛ ¢OèO (#þqäóè=ö7tFÏ9 öNà2£ä©r& ( Nà6ZÏBur `¨B 4¯ûuqtGã Nà6ZÏBur `¨B tã #n<Î) ÉAsör& ÌßJãèø9$# xøx6Ï9 zNn=÷èt .`ÏB Ï÷èt/ 8Nù=Ïæ $\«øx© 4 ts?ur ßöF{$# ZoyÏB$yd !#sÎ*sù $uZø9tRr& $ygøn=tæ uä!$yJø9$# ôN¨tI÷d$# ôMt/uur ôMtFt6/Rr&ur `ÏB Èe@à2 £l÷ry 8kÎgt/ ÇÎÈ
Artinya : “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. dan kamu Lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”
Selain itu para ahli merumuskanbeberapa prinsip perkembangan sebagai berikut: 1. Perkembnagan merupakan fungsi jasmaniah dan kejiwaan yang berlangsung dalam proses satu kesatuan yang menyeluruh
2. Setiap individu mempunyai kecepatan perkembangan
3. Perkembangan seseorang, baik secara keseluruhan maupun setiap aspek tidak konstan melainkan berirama
4. Proses perkembangan dengan mengikuti pola tertentu
5. Proses perkembnagan berlangsung secara berkesinambungan
6. Antara aspek yang satu dengan aspek yang lain saling berkaitan atau berkorelasi secara signifikan
7. Perkembangan berlangsung dari pola yang bersifat umum ke khusus
8. Perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan
9. Memiliki fungsi kepribadian yang bersifat jasmaaniah, yaitu fungsi motorik pada bagian- bagian tubuh, fungsi sensoris pada alat- alat indra, fungsi neurotic pada system saraf, fungsi seksual pada bagian- bagian tubuh yng erotis, fungsi pernapasan pada alat pernapasan, fungsi peredaran darah pada jantung dan urat- urat nadi, dan fungsi pencernaan makanan pada alat pencernaan. Adapun fungsi kepribadian yang bersifat kejiwaan, misalnya fungsi perhatian, fungsi tanggapan, fungsi ingatan, fungsi fantasi, fungsi fikiran, fungsi perasaan, fungsi kemauan.
Sejatinya setiap manusia memiliki tahapan perkembangan , hanya dalam kenyataannya tidak semua manusia memiliki perjalanan hidup sesuai dengan rentang tahapan perkembangan tersebut. Ada individu yang masa hidupnya hanya samapai bayi, kanak- kanak, anak, remaja. Namun ada juga rentang kehidupannya sampai usiadewasa atau masa pikun (usia lanjut). G. Fase – Fase Perkembanagan
Selama perkembangannya, kehidupan individu- individu itu tidak statis melainkan dinamis, dan pengalaman belajar yang disajikan kepda mereka harus sesuai dengan sifat- sifat khasnya yang sesuai dengan masa perkembangannya itu. Pengalaman belajar yang disajikan kepada maha siswa harus sesuai dan cocok dengan individu pada usia mahasiswa, yang tentu saja berbeda dengan pengalaman belajar yang cocok untuk individu pada usia sekolah dasar. Sudah barang tentu tidak ada orang yang menyangkal, bahwa pwerkembangan itu merupakan hal yang berkesinambungan.Akan tetati, untuk lebih mudah memahami dan mempersoalkannya, biasanya orang menggmbarkan perkembngan itu dalam fase- fase atau periode- periode tertentu. Masalah periodisasi perkembangan ini biasanya juga merupakan masalah yang banyak dipersoalkan oleh para ahli pendapat mereka mengenai dasar- dasar periodisasi serta panjang masing- masing periode juga bermacam- macam pada umumnya lebih bersifat teknis daripada konsepsional. Pendapat-pendapat mengenai penahapan yang bermacam- macam itu secara garis besar dapat digolongka menjadi tiga golongan, yaitu: 1. Bedasarkan biologis
Sekelompok ahli dalam membuat penahapan mendasarkan diri pada keadaan atas dasar biologis tertentu, diantara yang berpendapat demikian, misalnya Aristoteles, Kertschmer, dan Freud.
a. Pendapat Aristoteles
Aristoteles menggambarkan perkembangan anak sejak lahir sampai dewasa itu dalam tiga tahap yang masing- masing lamanya tujuh tahun.
1) Tahap satu :dari 0;0 sampai 7;0 masa anak kecil atau masa bermain
2) Tahap dua : dari 7;0 samapi 14;0 masa anak, masa belajar atau masa sekolah rendah
3) Tahap tiga : dari 14;0 sampai 21;0 masa remaja atau pubertas, masa peralihan dari anak menjadi orang dewasa
Penahapan ini didasarkan atas gejala dalam perkembangan jasmani.Hal ini mudah ditunjukkan antara tahap satu dan tahap dua dibatasi oleh pergantian gigi, antara tahap dua dan tiga ditandai oleh mulai berfungsinya perlengkapan kelamin (misalnya kelenjar).
b. Pendapat Kertschmer
Kertschmer mengemukakan bahwa dari lahir sampai dewasa setiap individu melewati empat tahap, seperti dikemukakan di bawah ini.
1) Tahap satu : dari 0;0 sampai kira- kira 3;0 fullungs pada periode satu, pada fase ini anak kelihatan pendek gemuk
2) Tahap dua :kira- kira 3;0 sampai kira- kira 7;0 streckungs pada periode satu, pada fase ini anak kelihatan langsing (memanjang atau meninggi)
3) Tahap tiga :dari kira- kira 7;0 sampai kira- kira 13;0 fullungs periode dua, pada fase ini anak kelihatan pendek dan gemuk kembali
4) Tahap empat : dari kira- kira 13;0 samopai kira- kira 20;0 sterckungs periode dua, pada fase ini anak kelihatan langsing.
Kehidupan psikis anak- anak pada tahap- tahap tersebut juga menunjukkan sifat- sifat yang khas. Pada tahap fullungs anak menu jukkan sifat yang mirip dengan temperamen orang yang berkonstitusi piknik, jadi seperti orang yang clyclothum. pada tahap sterckung individu menunjukkan sifat yang mirip dengan temperamen orang- orang yang berkonstitusi leptosom jadi seperti schizothym jiwanya tertutup, sukar bergaul, sukar didekati, dan sebagainya.
c. Pendapat Freud
1) Fase oral: dari 0;0 sampai 1;0 pada fase ini mulut merupakan daerah pokok aktivitas dinamis
2) Fase anal: dari 0;1 sampai 3;0 tahanan terpusat pada fungsi pembuangan kotoran
3) Fase falis: dari kira- kira 3;0 samapi 5;0 pada fase ini alt- alt kelamin merupakan daerah erogen terpenting
4) Fase laten :dari kira- kira 5;0 sampai 12;0 atau 13;0 pada fase ini implus- implus cenderung untuk ada dalam keadaan mengendap
5) Fase pubertas: dari kira- kira 12;0 atau 13;0 sampai kira- kira 20;0 pada fase ini implus- implus menonjol kembali. Apabila implus- implus itu dapat dipindahkan dan disubmilasikan oleh daslch dengan berhasil maka sampailah orang kepada fase kematangan
6) Fase genital :individu yang telah mencapai fase ini tetap siap untuk terjun kedalam kehidupan masyarakat orang dewasa.
2. Tahap Perkembangan Berdasarkan Dedaktis atau Instruksional
Dasar dedaktis atau instruksional yang dipergunakan oleh para ahli disini ada beberapa kemungkinan, yaitu:
a. Pendapat Comenius
Konsepsi Comenius itu sangat popular karena nilai praktisnya. Comenius merancangkan jenjang pendidikan yang disesuaikan dengan sifat- sifat khas individu dalam masa perkembangannya .Dengan kata lain, dalam masa perkembangannya individu pada umunya menunjukkan sifat- sifat yang serasi dengan jenjang pendidikan tertentu. Dipandang dari segi pendidikan, pendidikan yang lengkap bagi seseorang berlangsung dalam empat jenjang, seperti yang disajikan di bawah ini.
1) Sekolah ibu (scola materna), untuk anak- anka umur 0;0 sampai 6;0
2) Sekolah bahasa ibu (scola vernacular), untuk anak- anak umur 6;0 sampai 12;0
3) Sekolah latin (scola latin), untuk remaja umur 12;0 sampai 18;0
4) Akademi (academia), untuk pemuda pemudi umur 18;0 sampai 24;0.
Untuk masing- masing sekolah tersebut harus diberikan bahan pengajaran yang sesuai dengan perkembangan anak didik, dan harus dipergunakn cara- cara penyampaian yang sesuai dengan perkembangannya.
Perlu dicatat, bahwa perbedaan menjadi tiga kelompok itu tidak berarti bahwa setiap penahapan hanya menggunakan satu dasar dan mengingkari berfungsinya kedua dasar yang lain, pembedaan itu dilakukan atas dasar pilihan diatas dasar- dasar itu yang dianggap paling menentukan.
b. Pendapat Rousseau
Rosseau dengan karyanya Emile eu de ieducation juga mengemukakan penahapan atas dasar didaktis. Buku karya Rosseau itu terdiri atas lima jilid. Pendapat Rosseau adalah sebagai berikut :
1) Tahap satu: umur 0;0 sampai 2;0 masa asuhan
2) Tahap dua : umur 2;0 sampai 12;0 masa pendidikan jasmani dan latiha panca indra
3) Tahap tiga : umur 12;0 sampai 15;0 periode pendidikan akal
4) Tahap empat: umur 15;0 sampai 20;0 periode pendidikan watak dan pendidikan agama
3. Tahap Perkembangan Berdasarkan Psikologis
Ahli- ahli yang mengikuti pendapat ini menyatakan bahwa apabila orang berbicara tentang perkembangan psikologis maka hendaknya dia menggunakan hal- hal psikologis sebagai landasan, bukan keadaan biologis atau keadaan lain. Kelompok ahli ini yang dirintis olen Kroh mencari pengalaman- pengalaman psikologis mana yang khas bagi individu pada umunya, yang dapat digunakan sebagai masa perpindahan dari fase yang satu ke fase yang lain dalam perkembangannya. Kelompok ini beranggapan bahwa dalam perkembangannya, pada umumnya individu mengalami masa- masa kegoncangan. Kalau perkembangan itu dapat dilukiskan sebagai proses evolusi, maka pada masa kegoncangan itu evolusi berubah menjadi revolusi.
Kegocangan psikis itu dialami oleh hampir setiap orang karena itu dapat digunakan sebagai ancar- ancar perpindahan dari masa yang satu ke masa yang lain dalam proses perkembangannya. Pada umumnya, selama perkembangan individu mengalami kegoncangan dua kali, yaitu yang pertama kira- kira pada tahun ketiga dan keempat, dan yang kedua pada mula masa pubertas.
Suatu pendapat lain yang berdasarka atas keadaan psikologis, terutama perkembangan intelektual adalah pendapai Piaget yang akhir- akhir ini cepat sekali perkembangannya, termasuk di Indonesia. Berdasarkan perkembangan intelektual individu perkembangan dapat digambarkan dengan melewati empat fase :
a. Fase senso- motorik, yang berlangsung dari umur 0;0 sampai umur 2;0 tahun
b. Fase pra- operasional, dari umur 2;0 sampai umur 7;0 tahun
c. Fase operasional konkrek, yang berlangsung dari umur 7;0 samapi umur 12;0 tahun.
Menurut Piaget dari fase satu ke fase lain tidak hanya terdapat perbedaan yang sifatnya kuantitatif, tetapi juga, dan ini justru yang terpenting, terdapat perbedaan kualitatif.
Perkembangan individu sejak lahir hingga dewasa :
a. Masa usia pra- sekolah, yaitu dari umur 0;0 sampai kira- kira umur 6;0 tahun
b. Masa sekolah usia sekolah dasar, yaitu kira- kira umur 6;0 sampai kira- kira umur 12;0 tahun
c. Masa usia sekolah menengah, yaitu dari kira- kira umur 12;0 sampai kira- kira umur 19;0 tahun
d. Masa usia mahasiswa, yaitu kira- kira umur 18;0 sampai kira- kira umur 25;0.
H. Beberapa Teori Proses Perkembangan
Bahwa sesuatu perkembangan selalu melalui suatu proses, mudah sekali dimengerti. Tetapibagaimana proses itu berlangsung, ada beberapa teori yang perlu kita ketahui, kebenarannya, atau kita merenungkan demi perkembangan psikologi ini. Adapun beberapa teori proses perkembangan adalah sebagai berikut: 1. Teori Johan Friederische Herbart
Teori yang tertua adalah yang diajukan oleh seorang psikologi Jerman yang bernama Johan Friederische Herbart. Teorinya disebut teori asosiasi, disebut demikian oleh karena Herbart berpendapat bahwa seluruh proses perkembangan itu diatur dan dikuasai oleh kekuatan hukum asosiasi.
Herbart berpendapat bahwa tejadinya perkembangan adalah oleh karenanya adanya unsur- unsur yang berasosiasi, sehingga sesuatu semua yang bersifat simpel (unsur yang sedikit) makin lama makin banyak dan kompleks.
Herbart berpendapat demikian karena teorinya, bahwa anak baru lahir keadaan jiwanya masih bersih. Sejak alat indranya dapat menangkap sesuatu yanh dating dari luar, maka alat indra itu mengirimkan gambar, atau tanggapan kedalam jiwanya. Makin banyak tangkapan makin banyak pula tanggapan.Di dalam jiwa, tanggapan- tanggapan ini berasosiasi sesamanya, dengan kekuatan yanh dapat diukur.Tanggapan yang sejenis berasosiasi dan yang tidak sejenis tolak menolak secara mekanis, dan makin lama makin banyak, makin kompleks, dan inilah perkembangan itu.
2. Teori Gestalt (Wilhelm Wundt)
Kira- kira setengah abad setelah Herbart dengan teori asosiasinya menguasai dunia psikologi, muncul di Jerman para ahli yang menamakan dirinya para psikolog modern (dengan laboratorium psikologinya) mengajukan reaksi terhadap teori Herbart.
Mereka berpendapat bahwa proses perkembangan bukan berlangsung dari sesuatu yang simple ke sesuatu yang kompleks, melainkan berlangsung dari sesuatu yang bersifat global (menyeluruh tetapi samar- samar) ke makin lama makin dalam keadaan jelas, tampak bagian- bagian dalam keseluruhan itu. Jadi dari keadaan Gestalt ke struktur. Bagian- bagian itu bukan merupakan pecahan dari Gestalt tadi, melainkan merupakan kesatuan- kesatuan tertentu yang baru faedah bila ia berada dalm Gestalt tersebut. Ia berada di tempatnya spesifik dan akan merusak Gestalt bila ia dipisahkan. Seperti halnya sepeda, yang dapat dinaiki adalah sesuatu Gestalt dari bagian- bagian yang masing- masing merupakan kesatuan setir, roda, rantai, gir, dan sebagainya. Bila salah satu bagian kesatuan itu ada misalnya dipisahkan maka rusaklah Gestalt sepeda itu dan tidak dapat dinaiki. Jadi dengan tegas mereka berpendapat bahwa perkembangan bukan proses asosiasi melainkan proses diferensiasi.
Neo- Gestalt (Kurt Lewin) menambahkan adanya proses stratifikasi dalam proses diferensiasi. Tegasnya di samping adanya diferensisasi yang berlangsung terus, kelanjutan diferensiasi itu pun berkembang setahap se- strata demi se- strata.
Pada masa bayi, ia mengalami proses diferensiasi kemudian balik ke tahap (strata) masa kanak- kanak. Dalam masa kanak- kanak kembali proses diferensiasi berjalan terus menerus, kemudia naik ke strata masa kanak- kanak demikian seterusnya.
3. Teori Sosialisasi (James Mark Baldwin)
Teori ini berpendapat bahwa proses perkembangan itu adalah proses sosialisasi dari sifat individualis. Dalam hal ini Baldwin terkenal dengan teori circulair reaction.Ia berpendapat bahwa perkembangan sebagai proses sosialisasi, adalah dalam bentuk imitasi yang berlangsung dengan adaptasi dan seleksi. Adaptasi dan seleksi berlangsung atas dasar hukum efek (law effect). Tingkah laku pribadi seseorang adalah hasil peniruan (imitasi).
Kebiasaan, adalah imitasi terhadap diri sendiri sedang adaptasi adalah peniruan terhadap orang lain. Oleh efeknyan sendiri tingkah laku itu dipertahankan.Selanjutnya oleh efeknya sendiri tingkah laku itu dapat ditingkatkan faedah prestasinya.Dalam hal yang demikian inilah terkandung daya kreasi, sehingga manusia mampu menggunakan hasil peniruan itu sesuai dengan kebutuhan sendiri.Teori ini mendapat dukungan dari W. Sern Bechterv dan Koffka.
4. Teori Freudism (Sigmund Freud)
Teori ini dikemukakan oleh seorang pemuka dalam psikologi, yang bernama Sigmund Freud.Dalm mengemukakan teorinya, ia menggunakan sebagai contoh, pada masa bayi, manusia belum bermoral kemudian sesudah memiliki moral secara heterogen dan akhirnya memiliki moral dengan norma yang ditetapkan sendiri secara otonom.
Proses pemilikan moral dari heterogen ke otonom ini disebut internalisasi. Sebab norma moral tersebut ditentukan sendiri oleh manusia dengan menggunakan factor internnya.proses internalisasi ini berlangsung dengan identifikasi. Oleh karena proses ini menggunakan masyarakat sebagai faktor utama maka teori ini dapat dimaksudkan pula sebagai teori sosialaisasi. Yang dapat dimaksudkan pula sebagai teori sosialisasi adalah teori Langeveld.
Ia menyusun teorinya atas empat asas, yaitu :
a. Asas biologis
b. Asas ketidakberdayaan
c. Asas keamanan
d. Asas eksplorasi
Mula- mula perkembangan yang dialami manusia adalah perkembangan biologis yaitu dari telur ke janin, kemudian menjadi bayi, dan seterusnya, kemudian baru secara psikis.Yang bermula dari sifatnya yang tidak berdaya. Tetapi karena tidak berdaya inilah justru memungkinkan terjadinya perkembangan, bila ia berada dalam pergaulan antarmanusia. Untuk itu ia memerlukan rasa aman, rasa dilindungi, sehingga memungkinkan adanya kesempatan untuk berimitasi, beradaftasi maupun identifikasi. Selanjutnya, karena perkembangan itu sendiri ada pada dirinya sendiri secara kodrat, maka si anak mengadakan eksplorasi, untuk meyakinkan diri sebagai warga masyarakat. Demikianlah, proses perkembangan itu berlangsung sampai dewasa. I. Pendekatan Perkembangan Rentang Kehidupan dari Baltes
Paul B. Baltes dan rekan- rekan sejawatnya (1978 ; Baltes, Lindenberger, dan Staudinger, 1998 ; Staudinger dan Bluk, 2001) telah mengidentifikasi enam prinsip pendekatan perkembanganrentang kehidupan yang menyimpulkan banyak konsep. Secara bersamaaan, prinsip- prinsip ini befungsi sebagai kerangka kerja konseptual yang diterima secara luas untuk kajian perkembangan rentang kehidupan : 1. Perkembangan sepanjang hayat
Perkembangan merupakan proses perubahan seumur hidup dalam kemammpuan untuk beradaptasi terhadap berbagai situasi yang dipilih atau yang dihadapi seseorang. Masing- masing rentang kehidupan dipengaruhi oleh apa yang terjadi sebelumnya dan akan memengaruhi apa yang akan terjadi. Masing- masing masa memiliki karakteristik dan nilai yang unik, tidak ada yang lebih penting atau kurang penting.Bahkan orang yang sudah sangat tua dapat tumbuh secara emosional dan intelektual.Pengalaman meninggal merupakan upaya akhir untuk menghadapai kesulitan seseorang, singkatnya untuk berkembang.
2. Perkembangan mencakup pemerolehan dan kehilangan
Perkembanagan merupakan hal yang multidimensional dan banyak arah.Hal ini muncul sepanjang banyak dimensi saling berinteraksi biologis, psikologis, dan sosial masing- masing mungkin berkembang dengan kecepatan yang bervariasi.Perkembangan juga berlangsung lebih dari satu arah. Sebagaimana suatu orang menguasai satu bidang, mereka bisa saja kehilangan bidang yang lain. Sebagian besar anak tumbuh dengan satu arah ke atas baik dalam hal ukuran maupun kemampuan.Kemudian, secara bertahap keseimbangan beralih.Remaja biasanya memperoleh kemampuan fisik, tetapi kehilangan arah dalam pembelajaran bahasa.Beberapa kemampuan seperti kosakata, biasanya terus meningkat selama kebanyakan masa dewasa. Lainnya, seperti kemampuan menyelesaikan berbagai masalah yang tidak dikenal, mungkin berkurang dan beberapa atribut baru, seperti keahlian bisa berkembang pada masa dewasa tengah. Orang- orang berusaha memaksimalkan perolehan dengan memusatkan perhatian dengan melakukan hal- hal yang sudah mereka lakukan secara baik dan meminimalkan kehilangan dengan belaajr mengelola atau mengimbanginya.Misalnya, dengan menulis daftar “hal yang harus dilakukan” ketika ingatan menurun.
3. Pengaruh- pengaruh biologi dan budaya yang relatif berubah sepanjang rentang kehidupan
Proses perkembangan dipengaruhi oleh biologi dan budaya, tetapi keseimbangan antara pengaruh- pengaruh ini berubah. Pengaruh- pengaruh biologis, seperti ketajaman sensoris serta kekuatan dan koordinasi otot, melemah seiring bertambahnyan usia, tetapi dukungan- dukungan budaya seperti pendidikan, hubungan, dan lingkungan ramah teknologi yang tidak bergantung usia, dapat membantu mengimbanginya.
4. Perkembangan melibatkan sebuah perubahan alokasi berbagai sumber daya
Individu memilih untuk “menginvestasikan” berbagai sumber daya waktu, tenaga, bakat, uang, dan dukungan social mereka dengan berbagai cara. Berbagai sumber daya mungkin digunakan untuk pertumbuhan misalnya, belajar memainkan sebuah alat musik atau meningkatkan kemampuan seseorang. Untuk mempertahankan atau memulihkan (berlatih untuk mempertahankan atau mendapatkan kembali kemahiran), atau berhadapan dengan kehilangan ketika mempertahan atau memulihkan tidak mungkin dilakukan.Alokasi berbagai sumber daya pada ketiga fungsi ini berubah di seluruh kehidupan, seiring dengan keseluruhan kumpulan berbagai sumber daya yang tersedia menurun. Pada masa kanak- kanak dan dewasa muda, sejumlah besar sumber daya tumbuh pada usia yang menua, pengaturan kehilangn. Pada masa dewasa tengah, alokasi diseimbangkan secara merata diantara tiga fungsi tersebut.
5. Perkembangan menunjukkan plastisitas
Banyak kemampuan seperti ingatan, kekuatan, dan daya tahan, dapat ditingkatkan secara signifikan dengan pelatihan dan latihan, bahkan ketika sudah menua.Namun demikian, sebagaimana yang sudah dipelajari oleh Itard, bahkan pada anak- anak palastisitas memiliki batas. Salah satu tugas penelitian pekembangan adalah menemukan seberapa jauh jenis perkembangan tertentu dapat diubah pada berbagi usia.
6. Perkembangan dipengaruhi oleh konteks sejarah dan budaya
Masing- masing orang berkembang dengan banyak konteks, berbagai kondisi dan keadaan yang ditentukan sebagian oleh kematangan dan sebagian oleh waktu dan tempat. Sebagai tambahan pada pengaruh tingakat usia dan nonnormatif, manusia tidak hanya mempengaruhi, tapi juga dipengaruhi oleh konteks sejarah dan budaya mereka. Para ilmuan perkembangan menemukan berbagi perbedaan cohort yang signifikan dalam fungsi intelektual, perkembangan perempuan paruh baya, dan fleksibilitas kepribadian pada lansia.
J. Pengaruh Normatif dan Nonnormatif
Untuk memahami persamaan dan perbedaan dalam perkembagan, maka kita harus menelaah pengaruhtempat dan waktu.Kita juga perlu mempertimbangkan pengaruh yang menimpa banyak atau kebanyakan orang dan yang hanya menimpa segelintir individu.
1. Pengaruh Normatif
Pengaruh tingkat usia normatif sangat mirip bagi orang- orang pada usia kelompok tertentu. Hal- hal tersebut mencakup peristwa- peristiwa yang membuat mereka dewasa (seperti pubertas atau menopause) dan peristiwa- peristiwa sosial (seperti masuk pendidikan formal, pernikahan, menjadi orang tua, dan pensiun).Datangnya waktu peristiwa- peristiwa biologis cukup diramalkan dalam rentang usia yang normal. Sebagai contoh, orang- orang tidak mengalami pubertas pada usia 35 tahun atau menopause pada usia 12 tahun. Pemilihan waktu peristiwa- peristiwa sosial lebih fleksibel dan beragam pada waktu dan tempat yang berbeda- beda. Anak- anak pada masyarakat industrial Barat umumnya memulai pendidikan formal pada usia sekitar 5 atau 6 tahun, usia anak- anak mulai bersekolah lebih lambat.
Pengaruh tingkat sejarah normatif adalah peristiwa- peristiwa yang berarti (seperti depresi hebat atau perang dunia dua) yang membentuk perilaku dan sikap- sikap generasi bersejarah.Kelompok orang yang mengalami peristiwa pada waktu formatif dalam hidup mereka contoh, generasi- generasi yang sudah dewasa selama masa depresi dan perang dunia dua cenderung menunjukkan saling ketergantungan sosial dan percaya yang kuat yang telah menurun diantara generasi Yang Baru (Rongler, 2002).Bergantungan pada saat dan tempat mereka tinggal, seluruh generasi mungkin merasakan dapat bahaya kelaparan ledakan nuklir atau serangan teroris serta perkembangan budaya dan teknologi seperti perubahan peran perempuan dan dampak computer. Generasi bersejarah tidak sama dengan cohort. Sekolompok orang yang lahir pada masa yang sama. Generasi bersejarah mungkin terdiri atas lebih dari satu cohort , tetapi tidak semua cohort merupakan bagian dari generasi bersejarah, kecuali mereka mengalami berbagai peristiwa besar yang membentuk sejarah pada waktu formatif di dalam kehidupan mereka (Rongler, 2002).
2. Pengaruh Nonnormatif
Pengaruh nonnormatif merupakan peristiwa- peristiwa luarbiasa yang memiliki dampak besar terhadap kehidupan individu. Hal tersebut bisa berupa peristiwa- peristiwa biasa yang terjadi pada masa kehidupan yang tidak biasa (seperti pernikahan di usia remaja awal atau meninggalnya orang tua pada masa anak masih kecil) atau peristiwa- peristiwa luar biasa (seperti memiliki cacat bawaan atau mengalami kecelakaan pesawat terbang). Hal- hal tersebut juga tentunya bisa berupa peristiwa- peristiwa yang menyenangkan (seperti memenangkan undian berhadiah).Orang sendiri misalnya, dengan melamar pekerjaan yang menentukan atau melakukan hobi yang beresiko seperti terjun payung dan dengan demikian berperan serta secara aktif dalam pekerjaan mereka. K. Penutup
Adapun kesimpulan dari pembahasan diatas adalah sebagai berikut:
1. Perkembangan adalah suatu proses perubahan- perubahan yang terjadi dalam diri manusia baik itu psikho-fisis dan perubahan tersebut bukan hanya dalam perkembangan tumbuh tingginya badan tapi juga menuju kematangan yang lebih baik dari sebelunya dalam arti lain perubahan yang terjadi tersebut menuju kea rah kedewasaan.
2. Hakikat dari perkembangan itu sendiri ialah bahwa manusia itu hidup dalam satu kesatuan yakni jasmani dan rohaniah manusia yang saling berkembang dan membantu manusia tersebut menuju ka arah yang lebih baik dan perkembangan itu juga sosial individual yang mempengaruhi perkembangannya serta culturreligius yaitu dicipta oleh Tuhannya dan mencipta (kebudayaan).
3. Banyak jenis perkembangan yang terjadi dalam diri manusia salah satunya yaitu perkembangan intelektual yakni perkembangan kecerdasan pada diri orang tersebut semakin meningkat.
4. Ciri-ciri dalam perkembangan yaitu terjadinya perubahan ukuran yakni fisiknya yang semakin tinggi, gemuk, sedangkan dalam psikisnya daya ingat yang dimliki semakin kuat dan kemampuan berfikir yang lebih baik misalnya dalam menjalani kehidupannya mampu membedakan mana yang terbaik untuk dirinya.
5. Salah satu prinsip dari perkembangan itu adalah perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan maksudnya perkembangan yang terjadi dalam diri manusia itu dipengaruhi olen hereditas yakni keturunan karena tidak semua perkembangan yang terjadi dalam diri manusia itu sesuai dengan yang diharapkan bisa juga karena faktor keturunan, contoh tinggi badan yang dimiliki ayah pendek maka bisa jadi perkembangan tinggi badan anak juga akan pendek karena keturunan dari ayahnya.
6. Dalam perkembngan manusia memiliki fase-fase tertentu seprti dalam tahap perkembangan berdasarkan biologis yakni perkembangan yang terjadi adalah pergantia gigi dan mulai berfungsinya perlengkapan kelenjar kelamin.
7. Dalam teori proses perkembangan para ahli memiliki pendapat yang berbeda- beda. Maka dalam proses perkembangan tesebut yang pastinya memilki unsur- unsur tententu baik itu Sesuatu yang berasosiasi dan sesuatu yang bersifat global. Namun dalam proses perkembangan tersebut pasti banyak hal yang mempengaruhinya, yang makin lama makin menuju ke arah yang lebih baik dalam arti lain perubahan menuju kedewasaan.
8. Perkembanga yang terjadi dalam hidup manusia memiliki pengaruh dan mempengaruhi rentang kehidupan yang dijalaninya, baik itu dipengaruhi oleh kejadian yang telah berlalu atau yang pada saat itu dia jalani.
9. Pengaruh normative dalam perkembangan yaitu yang terjadi pada peristiwa- peristiwa tertentu seperti masa pubertas yang tidak dialami pada usia 12 tahun. Pada masa pubertas tersebut memilki masa pubertas yang berbeda karena pengaruh yang berbeda yaitu waktu dan dan tempat yang dialami.
L. Daftar Kepustakaan
Ahmadi, Abu dan Munawar Sholeh.Psikologi Perkembangan, Jakarta : Rineka Cipta, 2005.
Dalyono, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta, 1997.
Danim, Budarwan, Perkembangan Peserta Didik, Bandung : Alfabeta, 2011.
Daulay, Agus Salim,Diktat Psikologi Perkembangan, IAIN Padang Sidimpuan: Untuk Kalangan Sendiri, 2005.
Djaali, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara, 2011.
Papalia, dkk, Human Development, Jakarta : Penerbit Salemba Humanika, 2009.
Soejanto, Agus, Psikologi Perkembangan, Jakarta : Rineka Cipta, 2005.
Yusuf, Syamsu, dan Nana M. Sughandi, Perkembangan Peserta Didik, Jakarta : Raja Grafindo, 2011.
Agus Salim Daulay, Diktat Psikologi Perkembangan, (IAIN Padang Sidimpuan: Untuk Kalangan Sendiri, 2005), hlm. 1
Agus Soejanto, Psikologi Perkembangan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2005), hlm. 233.
Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 1997), hlm. 34-35.
Djaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2011), hlm. 21.
Papalia, dkk, Human Development, (Jakarta : Penerbit Salemba Humanika, 2009), hlm. 29-32.
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️