 |
| https://desainpembelpai.wordpress.com |
A. Pendahuluan
Perencanaan adalah pemikiran sebelum pelaksanaan sesuatu tugas. Jadi Perencanaan Pengajaran berarti pemikiran tentang penerapan prinsip-prinsip umum mengajar tersebut di dalam pelaksanaan tugas mengajar dalam suatu situasi interaksi guru dan murid, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Karena dengan perencanaan itu, maka seseorang guru akan bisa memberikan pelajaran dengan baik, karena ia dapat menghadapi situasi di dalam kelas secara tegas, mantap dan fleksibel.
Karena membuat perencanaan yang baik, maka seorang akan tumbuh menjadi seorang guru yang baik. Seorang bisa menjadi guru yang baik adalah berkat pertumbuhan, berkat pengalaman dan akibat dari hasil belajar yang terus menerus, walaupun faktor bakat ikut pula berpengaruh.
Dalam menyusun sebuah desain pembelajaran, konsep interaksi merupakan sesuatu cukup dijadikan yang penting untuk diperhitungkan. Oleh karena hal itu desain pembelajaran tidak dapat digantikan dengan desain informasi. Interaksi sangat berkaitan dengan keberagaman peserta didik. Hal inilah yang menuntut designer pembelajaran untuk dapat memunculkan bermacam-macam desain-desain pembelajaran yang bervariasi.
B. Defenisi Model Desain Pembelajaran
Model merupakan seperangkan prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses, seperti penilaian kebutuhan, pemilihan media, dan evaluasi.
Desain merupakan sebagai proses pemecahan masalah, tujuan sebuah desain adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi yang tersedia.
Dengan demikian suatu desain muncul karena kebutuhan manusia untuk memecahkan masalah, dengan desain seseorang dapat melalakukan pemecahan masalah
yang dihadapi.
Desain pembelajaran didefiniskan sebagai prosedur yang terorganisasi diman mencakup langkah-langkah dalam menganalisis, mendesain, mengembangkan, mengimplementasikan, dan mengadakan evaluasi.
Hal senada diungkapkan oleh Asmadawati dalam bukunya bahwa desain pembelajaran adalah suatu pemikiran atau persepsi untuk melaksanakan tugas mengajar pengajaran untuk menerapkan prinsip-prinsip pengajaran serta melalui langkah-langkah pengajaran. Dengan demikian guru sebagai desainer pengajar sekaligus sebagai pengelola pengajaran, guru perlu memiliki keterampilan dan pengetahuan dalam menyusun desain pengajaran.
Untuk menyusun desain pembelajaran yang baik ada baiknya memperhatikan 8 prinsip yaitu :
1. Tujuan dan sumber yang ada harus jelas sebelum desain disusun.
2. Masing-masing komponen desain harus saling membantu.
3. Proses ditempuh memungkinkan untuk melakukan koreksi terhadap keinginan.
4. Proses desain bersifat berulang-ulang dan saling berinteraksi.
5. Desain pengajaran harus dirancang sedemikian rupa sehingga harus dapat sejalan dengan keinginan lainnya.
6. Tidak satu komponen pun yang berubah tanpa menimbulkan pengaruh terhadap komponen lain.
7. Koordinasikan kebutuhan lainnya.
8. Nilai belajar peserta didik berdasarkan tujuan.
C. Pembagian Model Desain Pembelajaran
Dalam desain dikenal beberapa model yang dikemukakan oleh para ahli. Secara umum, model desain pembelajaran dapat diklasifikasikan kepada :
1. Model berorientasi kelas, biasanya ditujukan untuk mendesain level mikro yang hanya dilakukan setiap dua jam pelajaran atau lebih. Contohnya Model ASSURE.
2. Model berorientasi produk, merupakan model desain pembelajaran untuk menghasilkan suatu produk, biasanya media pembelajaran. Contohnya Model Hannfin dan Peck.
3. Model berorientasi system, yaitu model desain pembelajaran untuk menghasilkan suatu system pembelajaran yang cakupannya luas, seperti system suatu pelatihan,kurikum sekolah, dan lain-lain. Contohnya model ADDIE.
D. Model PPSI
Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional) adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975.Konsep PPSI model instruksional yang menggunakan pendekatan sistem, yaitu satu kesatuan yang terorganisasi, yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lain dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan dalam sumber lain dinyatakan bahwa PPSI berfungsi untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistemis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. PPSI terdiri dari 5 tahap yakni: - Merumuskan tujuan, yaknikemampuan yang harus dicapai oleh sisiwa, ada 4 syarat dalam perumusan tujuan ini yakni tujuan harus operasional, artinya tujuan yang dirumuskan harus spesifik atau dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan proses belajar, berbentuk perubahan tingkah laku dan dalam setiap rumusan tujuan hanya satu bentuk tingkah laku.
- Mengembangkan alat evaluasi, yakni menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk masing-masing tujuan. Alat evaluasi disimpan pada tahap 2 setelah perumusan tujuan untuk meyakinkan ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah di tentukan. Dalam mengembangkan alat evaluasi ini perlu ditentukan terlebih dahulu jenis-jenis tes dari bentuk-bentuk tes yang akan digunakan, yang bergantung pada hakikat tujuan yang ingin dicapai.
- Mengembangkan kegiatan belajar mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar dan menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh. Dalam menentukan kegiatan, hal yang harus dilakukan adalah :
a. Merumuskan semua kemungkinan kegiatan yang akan diperlukan untuk mencapai tujuan.
b. Menetapkan mana dari sekian kegiatan tersebut yang perlu ditempuh,
c. Menetapkan kegiatan belajar yang masih perlu dilaksanakan siswa. - Mengembangkan program kegiatam pembelajaran yakni merumuskan materi pelajaran. Menetapkan metode dan memilih alat dan sumber pelajaran.
- Pelaksanaan program, yaitu kegiatan mengadakan pra tes, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan psikotes, dan melakukan perbaikan.
E. Model Glasser
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mengembangkan desain pembelajaran model Glasser adalah sebagai berikut :
1. Sistem Objektif
Pembelajaran dilakukan dengan cara langsung melihat atau menggunakan objek sesuai dengan materi pelajaran. Jadi seorang siswa diharapkan langsung bersentuhan dengan objek pelajaran
2. Sistem Input
Pelajaran yang diberikan pada siswa dapat diperlihatkan dalam bentuk tingkah laku, misalnya terjun langsung kelapangan.
3. Sistem operator
Membuat prosedur pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan materi pelajaranyang akan disampaikan kepada siswa sehingga pembelajaran sesuai dengan prosedurnya.
4. Output monitor
Pembelajaran diharapkan dapat mengubah penampilan atau perilaku siswa secara tetap atau perilaku siswa menetap.
F. Model Gerlach dan Ely
Model ini merupakan suatu upaya untuk menggambarkan secara grafis, suatu metode perencannan pembelajaran yang sistematis, dan merupakan suatu garis pedoman
dalam membuat rencana untuk kegiatan pembelajaran. Model ini memperlihatkan hubungan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, serta menyajikan suatu pola urutan yang dapat dikembangkan kedalam suatu rencana untuk kegiatan pembelajaran.
Adapun komponen-komponen model ini adalah sebagai berikut :
1. Merumuskan tujuan pembelajaran
Dalam tujuan ini merumuskan kemampuan apa yang harus dimiliki siswa pada tingkat belajar tertentu siswa dapat memiliki kemampuan yang telah ditentukan sebelumnya, berikut petunjuk praktis merumuskan tujuan pembelajaran :
a. Formulasikan dalam bentuk operasional.
b. Rumuskan dalam bentuk produk belajar.
c. Rumuskan dalam tingkah laku siswa.
d. Rumuskan sedemikian rupa sehingga menunjukkan tingkah laku yang jelas.
e. Rumuskan tujuna dalam tingkat keluasan yang sesuai.
f. Rumuskan kondisi dari tingkah laku.
g. Cantumkan standar tingkah laku yang dapat diterima.
2. Menentukan isi Materi
Apa yang hendak diajarkan pada siswa hendaknya dipilih pokok bahasan yang lebih spesifik, untuk membatasi ruang lingkup dan dapat lebih jelas dan mudah dibandingkan dan dipisahkan dengan pokok bahasan lain dalam satu mata pelajaran yang sama.
3. Penilaian kemampuan awal
Pengetahuan tentang kemampuan awal siswa ini penting bagi guru agar dapat memberikan porsi pelajaran yang tepat, tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah, dan berguna untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan, yang dapat dikumpulkan dengan pretes dan mengumpulkan data pribadi siswa.
4. Menentukan strategi
Dalam tahap ini pengajara harus menentukan cara untuk dapat mencapai tujuan dengan sebaik-baiknya, ada dua macam pendekatan yaitu :
a. Bentuk ekspose, yang lasim dipergunakan pada kuliah-kuliah tradisional, biasanya bersifat satu arah, pengajar lebih besar peranannya.
b. Bentuk inquiry, lebih mengutamakan partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar.
G. Model Mikro
Model pengembangan sistem pembelajaran yang berorientasi kelas biasanya bertujuan untuk mendesain pembelajaran miro yang hanya dilakukan setiap 2 jam pelajaran atau lebih.
1. Model PAIKEM
Menyiapkan pembelajaran yang menyenangkan dan menantang (pembelajaran Partisifatif, kreatif, aktif, interaktif, efektif dan menyenangkan).
a. Pembelajaran partisipatif, yaitu melibatkan siswa secara optimal.
b. Pembelajaran aktif, yaitu melibatkan aktivitas siswa.
c. Pembelajaran kreatif, yaitu memotivasi dan memunculkan kreativitas siswa.
d. Pembelajaran efektif yaitu memberi pengalaman baru agar siswa dapat mencapai tujuan.
e. Pembelajaran Menyenangkan yaitu siswa belajar tanpa perasaan tertekan.
2. Model ASSURE
Sharpm E. Smaldino,James D. Russel, Robert Heinich, dan Michael Molenda mengemukakan sebuah model desain sistem pembelajaran yang diberi nama dengan model ASSURE.
Model ini dikembangkan untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien, khususnya pada kegiatan pembelajaran yang menggunakan media dan teknologi. Model ini dipokuskan pada perencanaan pembelajaran untuk digunakan dalam situasi pembelajaran didalam kelas secara actual.
Dalam pengembangan model desain system pembelajaran ASSURE, penulis smaldino, Russel dan Molenda mendasari pemikirannya pada pandangan-pandangan-pandangan Robet M. Gagne tentang peristiwa pembelajaran.
Langkah-langkah kegiatan yang perlu dilakukan dalam mendesain sistem pembelajaran dengan Model ini dapat digambarkan sebagai berikut :
A : Analisis Karakteristik siswa
S : Menetapkan Tujuan Pembelajaran.
S : Seleksi Media, metode dan Bahan.
U : Memanfaatkan Bahan Ajar
R : Melibatkan Siswa dalam Kegiatan pembelajaran.
E : Evaluasi dan Revisi.
Menurut Heinich model ini terdiri atas enam langkah kegiatan yaitu sebagai berikut :
a. Analyze Learners (Analisis Peserta Didik)
Jika sebuah media pembelajaran digunakan secara baik dan disesuaikan dengan cirri-ciri belajar, isi pelajaran yang akan dibuatkankan medianya, media dan bahan pelajaran itu sendiri.
b. States Objektif
Difokuskan pada tujuan kognitif, aefektif, dan psikomotorik. Menyatakan tujuan adalah tahapan ketika menentukan tujuan pembelajaran baik berdasarkan buku atau kurikulum. Menyatakan tujuan harus difokuskan pada pengetahuan, kemahiran, dan sikap yang baru untuk dipelajari.
1) Memilih metode , media, dan materi.
2) Penggunaan media dan bahan,
3) Partisifasi peserta didik dikelas.
Model ASSURE merupakan suatu model yang merupakan sebuah formulasi untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau disebut juga model berorientasi kelas. a. Analisis Pelajar
Menurut Heinich jika sebuah media pembelajaran akan digunakan secara baik dan disesuaikan dengan cirri-ciri pelajar, isi dari pelajaran yang akan dibuatkan medianya, media dan bahan pelajaran itu sendiri. Lebih lanjut Heinich, menyatakan sukar untuk menganalisis semua cirri pelajar yang ada, namun ada tiga hal penting dapat dilakuan untuk mengenal pelajar sesuai .berdasarkan cirri-ciri umum, keterampilan awal khusus dan gaya belajar . b. Menyatakan tujuan
Menyatakan tujuan adalah tahapan ketika menentukan tujuan pembeljaran baik berdasarkan buku atau kurikulum. Tujuan pembelajaran akan menginformasikan apakah yang sudah dipelajari anak dari pengajaran yang dijalankan. Menyatakantujuan harus difokuskan kepada pengetahuan, kemahiran, dan sikap yang baru untuk dipelajari. c. Pemilihan Metode, media dan bahan
Heinich menyatakan ada tiga hal penting dalam pemilihan metode, bahan dan media yaitu menentukan metode yang sesuai dengan tugas pembelajaran, dilanjutkan dengan memilih media yang sesuai untuk melaksanakan media yang dipilih, dan langkah terakhir adalah memilih dan atau mendesain media yang telah ditentukan.
d. Penggunaan Media dan bahan
Menurut Heinich terdapat lima langkah bagi penggunaan media yang baik yaitu, preview bahan, sediakan bahan, sedikan persekitaran, pelajar dan pengalaman pembelajaran. e. Partisipasi Pelajar di dalam kelas
Sebelum pelajar dinilai secara formal, pelajar perlu dilibatkan dalam aktivitas pembelajaran seperti memecahkan masalah, simulasi, kuis atau presentasi. f. Penilaian dan Revisi
Sebuah media pembelajaran yang telah siap perlu dinilai untuk menguji keberkesanan dan impak pembelajaran. Penilaian yang dimaksud melibatkan beberaoa aspek diantaranya menilai pencapaian pelajar, pembelajaran yang dihasilkan, memilih metode dan media, kualitas media, penggunaan guru dan penggunaan pelajar. 6. Model Hannafin dan Peck
Model Pengembangan system pembelajran yang berorientasi produk adalah model desain untuk menghasilkan suatu produk biasanya media pembelajaran.
Model hannapin dan penck ialah model desain pengajaran yang terdiri daripada tiga pase yaitu fase analisis keperluan, fase desai, dan fase pengembangan implementasi. Model ini adalah model yang berorientasi pada produk.
Tahap-tahap model hannafin dan Peck adalah sebagai berikut :
a. Tahap analisa kebutuhan, mengidentifikasi kebutuhan yang meliputi kebutuhan dalam mengembangankan suatu media pembelajaran :
1) Tujuan dan keperluan objek media yang dibuat,
2) Pengetahuan dan kemahiran yang diperlukan oleh kelompok sasaran,
3) Peralatan dan keperluan media pembelajaran.
b. Setelah semua diidentifikasi, hannfain dan Peck menekankan untuk menjalankan penilaian terhadap hasil itu sebelum melanjutkan ke tahap desain.
c. Tahap desain, bertujuan untuk mengidektifikasi dan mendokumenkan kaidah yang paling baik untuk mencapai tujuan pembuatan media tersebut.
d. Tahap pengembangan dan implementasi, penghasilan diagram alur, pengujian, serta penilaian formatif (dikukan sepanjang proses pengembangan media) dan penilaian sumatif (dilakukan setelah media selesai dikembangkan).
4. Model Bella H. Banathy
Model ini berorientasi pada tujuan pembelajaran, yang menjadi acuan dalam menetapkan langkah-langkah pengembangan.
Model desain system pembelajaran dari Banathy berbeda dengan model Kemp. Model ini memandang bahwa penyusunan system pembelajaran dilakukan melalui tahap-tahapan yang jelas.
Terdapat enam tahap dalam mendesain suatu program pembelajran yakni :
a. Menganilis dan merumuskan tujuan, baik tujuan pengembangan system maupun tujuan spesifik.
b. Merumuskan criteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
c. Menganilisis dan merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan menginventarisasi seluruh kegiatan belajar mengajar, menilai kemampuan penerapannya.
d. Merancang system, yaitu kegiatan menganisis system menganalisi setiap komponen system, mendistribusikan dan mengatur penjadwalan.
e. Mengimplementasikan dan melakukan control kualitas system.
f. Mengadakan perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi.
Manakala kita lihat langkah 1-4 merupakan tahapan dalam rangka proses rancangan, sedangkan tahap 5 dan 6 adalah tahap pelaksanaan dari perencanaan yang sudah dirumuskan.
H. Model Makro
Model berorientasi pada sistem yaitu model desain pembelajran menghasilkan suatu sistemp pembelajaran yang cakupannya luas, seperti desain sistem suatu pelatihan, kurikulum sekolah.
1. Model ADDIE
Model Berorientasi system yaitu model desain untuk mengasilkan system pembelajaran yang cakupannya luas, seperti desain sistem suatu pelatihan, kurikulum sekolah.
a. Analisis
Langkah analisis terdiri dari dua tahap yaitu :
1) Analisis kinerja, dilakukan untuk mengetahui dan mengklarifikasi apakah masalah kinerja yang dihadapi memerlukan solusi berupa penyelenggaraan program pembelajaran atau pemikiran manajemen,
2) Analisis kebutuhan merupakan langkah yang diperlukan untuk kemampuan-kemampuan atau kompetensi yang perlu dipelajari siswa untuk meningkatkan kinerja atas prestasi belajar.
b. Desain
Pada langkah ini diperlukan adanya klarifikasi program pembelajaran yang didesain sehingga program tersebut dapat mencapai tujuan pembelajaran seperti yang diharapkan. Pusat perhatian difokuskan pada upaya untuk menyelidiki masalah pembelajaran yang sedang dihadapi. Langkah yang penting yang dilakukan dalam desain ini adalah menentukan pengalaman belajar yang perlu dimiliki oleh siswa selama mengikuti aktivitas pembelajaran.
c. Pengembangan
Langkah pengembangan meliputi kegiatan membuat, member, dan memodifikasi bahan ajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Langkah pengembangan dengan kata lain mencakup kegiatan memilih dan menentukan metode, media, serta strategi pembelajaran yang sesuai untuk digunakan dalam menyampaikan materi atau
substansi program pembelajaran.
d. Implementasi
Langkah ini sering diasosiasikan dengan penyelenggara program pembelajaran itu sendiri. Langkah ini memang mempunyai makna adanya penyampaian materi pembelajaran dari guru atau instruktur kepada siswa.
e. Evaluasi
Evaluasi dapat diartikan sebagai sebuah proses yang dilakukan untuk memberi nilai terhadap program pembelajaran. Pada dasarnya, evaluasi dapat dilakukan sepanjang pelaksanaan kelima sistem dalam model ADDIE.
2. Model Dick and Cery
Model pengembangan ini juga memiliki kemiripan dengan model Kemp, teatapi ditambah dengan komponen melaksanakan analisis pembelajaran, terdapat beberapa komponen yang akan dilewati dalam, proses pengembangan dan perencanaan tersebut.
Seperti model Banathy, dalam mendesain pembelajaran
model Dick dan Cery harus dimulai dengan mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum.
Menurut model ini, sebelum desainer merumuskan tujuan khusus yakni performance goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan kemampuan awal siswa terlebih dahulu. Criterion Reference Test, artinya tes yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan khusus. Untuk mencapai tujuan khusus selanjutnya dikembangkan strategi pembelajaran, yakni skenario pelaksanaan pembelajaran yang diharapkan dapat mencapai tujuan secara optimal, setelah itu dikembangkan bahan-bahan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Langkah akhir dari desain ini adalah melakukan evaluasi, yakni evaluasi formatif dan evaluasi sumatif Identifikasi tujuan pembelajaran, menentukan apa yang diharapkan dapat dikuasai siswa, tujuan setelah pembelajaran. Definisi tujuan mungkin mengacu pada kurikulum tertentuy atau mungkin juga berasal dari daftar tujuan sebagai hasil
need assessment, atau dari pengalaman praktik dengan kesulitan belajar dikelas.
Analisis pembelajaran, setelah perumusan tujuan, dilakukan analisis pembelajaran untuk mengidektifikasi keterampilan yang harus dipelajari untuk mencapai tujuan, prosesnya dapat dilakukan dengan mengidentifikasi konsep, aturan, dan informasi yang dibutuhkan siswa, atau mengidentifikasi langkah dalam urutan yang harus diikuti dalam melakukan proses sesuatu
. Analisis ini akan menghasilkan
carta atau diagram tentang keterampilan atau konsep dan menunjukkan kertekaitan antara konsep tersebut.
Identifikasi
Entry Behavior dan Karakteristik siswa, dalam hal ini perlu diidentifikasi kemampuan siswa sebagai prasyarat sebelum belajar materi pembelajaran yang bersangkutan.
Yang penting juga untuk diidentifikasi adalah karateristik khusus siswa yang mungkin ada hubungannya dengan rancangan aktivitas-aktifitas pengajaran.
Merumuskan tujuan pembelajaran, berdasarkan anilisis pembelajaran dan penyataan dengan tingkah laku awal siswa, selanjutnya akan dirumuskan penyataan khusus tentang apa yang harus dilakukansiswa setelah menyelesaikan pembelajaran.
Pengembangan tes acuan patokan, pengembagan tes acuan ini didasarkan pada tujuan yang telah dirumuskan, pengembangan butit
assement untuk mengukur kemampuan siswa seperti yang diperkirakan dalam tujuan.
Pengembangan strategi Pembelajaran, informasi dari lima tahap sebelumnya, maka selanjutnya akan mengidektifikasi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan akhir, strategi akan meliputi aktiviats preinstruksional, penyampaian informasi, praktik, dan balikan, testing, yang dilakuakan lewat aktifitas.
7. Model Kemp
Model desain system instruksional yang dikembangkan oleh Kemp merupakan model yang membentuk siklus, menurut Kemp pengembangan desain system pembelajaran terdiri atas komponen-komponen yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan berbagai kendala yang timbul.
Model ini tidak ditentukan dari
komponen mana seharusnya guru memulai proses pengembangan.
Mengembangkan system menurut Kemp darimana saja bisa, asal saja urutan komponen tidak diudah, dan setip komponen itu memerlkukan revisi untuk mencapai hasil yang maksimal.
Namun karena kurikulum yang berlaku secara nasional di Indoneisa dan beroreintasi pada tujuan, maka syogyanya proses itu dimulai dari tujuan, model pengembangan system pembelajaran ini memuat pengembangan perangkat pembelajaran.
Komponen-komponen dalam suatu desain instruksional menurut kemp adalah sebagai berikut :
a. Hasil yang ingin dicapai,
b. Analisis tes mata pelajaran
c. Tujuan khusus belajar,
d. Aktivitas belajar
e. Sumber belajar,
f. Layanan pendukung,
g. Evaluasi belajar,
h. Tes awal,
i. Karakteristik belajar.
Kesembilan komponen tersebut merupakan suatu siklus yang terus-menerus direvisi setelah dievaluasi baik evaluasi sumatif maupun formatif dan diarahkan untuk menentukan kebutuhan siswa, tujuan yang ingin dicapai, prioritas dan berbagai kendala yang muncul.
Ada beberapa unsur rencana perangcangan pembelajaran, unsur tersebut adalah :
a. Identifikasi masalah pembelajaran, bertujuan mengidentifitkasi tujuan menurut kurikulum yang berlaku dengan fakta yang terjadi dilapangan baik menyangkut model, pendekatan, metode, teknik dan strategi yang digunakan guru.
b. Analisis siswa, dilakukan untuk mengetahui tingkah laku awal dan karakteristik siswa yang meliputi cirri, kemampuan, dan pengalaman.
c. Analisis tugas, adalah kumpulan prosedur untuk menentukan isi suatu pengajaran, analisis konsep, analisis pemrosesan informasi, dan analisis procedural yang digunakan untuk memudahkan pemahaman dan penguasaan tentang tugas dan tujuan pembelajaran yang dituangkan dalam RPP.
d. Merumuskan indicator, berfungsi sebagai : Alat untuk mendesain kegiatan pembelajaran. Kerangka kerja dalam merencanakan mengevalauasi hasil belajar siswa. Panduan siswa dalam belajar.
e. Penyusunan instrument evaluasi, bertujuan untuk menilai hasil belajar, criteria yang digunakan adalah penilaian acuan patokan.
f. Strategi pembelajaran, kegiatan ini meliputi pemilihan model, pendekatan, metode, pemilihan format, yang dipandang berguna untuk mencapai tujuan pembelajaran.
g. Pemilihan media atau sumber belajar, dipilih dan disiapkan dengan hati-hati untuk memenuhi tujuan pembelajaran.
h. Merinci pelayanan penunjang yang diperlukan untuk mengembangkan dan melaksanakan semua kegiatan dan untuk memperoleh alat membuat bahan.
8. Model DSI-PK
Yaitu gambaran proses rancangan sistematis tentang pengembangan pembelajaran baik mengenai proses maupun bahan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dalam upaya pencapaian kompetensi. Karakter utama desain berorientasi pencapaian tujuan adalah :
a. Memuat sejumlah kompetensi yang harus dikuasai siswa.
b. Menekankan proses pengalaman dengan memperhatikan keregaman tiap individu.
c. Evaluasi hasil dan proses belajar.
Senada dengan pendapat diatas, dalam buku Sanjaya dijelaskan karaktritik model ini sebagai berikut :
a. Model desain yang sederhana yang tahapannya jelas dan praktis.
b. Secara jelas menggambarkan langkah-langkah yang harus ditempuh, sehingga guru-guru tidak dihadapkan kepada persoalan-persoalan yang rumit.
c. Merupakan pengembangan dari analisis kebutuhan.
d. Ditekankan pada penguasaan kompetensi seabgai hasil belajar yang dapat diukur.
Prosedur pengembangan DSI-PK terdiri dari tiga bagian penting yaitu sebagai berikut :
a. Analisis kebutuhan, yakni proses penjaringan informasi tentang kompetensi yang dibutuhkan anak didik sesuai dengan jenjang pendidikan.
b. Pengembangan, yakni proses mengorganisasikan materi pelajaran dan pengembangan proses pembelajaran.
c. Pengembangan alat evaluasi, yang memiliki dua fungsi utama yaitu formatif dan sumatif.
9. Model IDI
IDI secara umum memiliki langkah sebagai berikut :
a. Pembatasan, ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu karakteristik siswa, kondisi, sumber-sumber yang relevan.
b. Pengembangan tujuan yang hendak dicapai.
c. Penilaian.
I. Kesimpulan
Desain pembelajaran adalah praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik. Ada beberapa model desain pembelajaran yaitu: Model Dick and Carrey, Model Kemp, Model ASSURE, Model ADDIE, Model Hanafin and Peck, Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional), Model PAIKM, Model IDI, dan lainnya yang telah dijelaskan diatas.
DAFTAR PUSTAKA
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️