MAKALAH KETERAMPILAN DASAR PEMBELAJARAN

Baca Juga


A.      Pendahuluan
Guru merupakan sosok yang digugu dan ditiru, begitulah falsafah yang sering kita dengar. Program kelas tidak akan berarti bilamana tidak diwujudkan menjadi kegiatan. Untuk itu peranan guru sangat menentukan karena kedudukannya sebagai pemimpin pendidikan diantara murid-murid suatu kelas .

Secara etimologi atau dalam arti sempit guru yang berkewajiban mewujudkan suatu program kelas adalah orang yang kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah atau kelas. Secara lebih luas guru berarti orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yangikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak untuk mencapai kedewasaan masing-masing dalam berpikir dan bertindak. Guru dalam pengertian terakhir bukan sekedar orang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan materi pengetahuan tertentu, akan tetapi adalah anggota masyarakat yang harus ikut aktif dan berjiwa bebas serta kratif dalam mengarahkan perkembangan akan didik nya menuju sebuah cita-cita luhur mereka.
Keterampilan dasar pembelajaran bagi seorang guru adalah sangat penting kalau ia ingin menjadi seorang guru yang profesional, jadi disamping dia harus menguasai sumbstansi bidang studi yang diampu, keterampilan dasar mengajar juga adalah merupakan keterampilan penunjang untuk keberhasilan dia dalam proses belajar mengajar.
B.       Pengertian Keterampilan Mengajar
Keterampilan dasar mengajar (teaching skills), merupakan suatu karakteristik umum dari seseorang yang berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan yang diwujudkan melalui tindakan. Keterampilan ini pada dasarnya berupa perilaku bersifat mendasar dan khusus yang harus dimiliki guru sebagai modal awal untuk melaksanakan tugas-tugas pembelajarannya secara terencana dan professional di sekolah.[1] Guru merupakan suatu profesi yang berarti, dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan.[2]Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakannya. Terdapat 8 keterampilan dasar mengajar guru, yaitu keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan, keterampilan mengadakan variasi, keterampilan menjelaskan, keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, keterampilan mengelola kelas, dan keterampilan mengajar perseorangan.[3]
Keterampilan mengajar merupakan salah satu komponen dalam pembentukan kemampuan profesional seorang guru. Keterampilan mengajar adalah salah satu jenis keterampilan yang harus dikuasai guru. Dengan memiliki keterampilan mengajar, guru dapat mengelola proses pembelajaran dengan baik yang berimplikasi pada peningkatan kualitas lulusan sekolah.[4]Keberhasilan dari suatu proses pendidikan dan pengajaran di sekolah salah satunya tergantung dari faktor guru. Gurulah yang secara langsung membantu, membimbing, mempengaruhi, dan mengembangkan potensi yang ada pada diri peserta didik. Sebagai pelaksana pendidikan dan pengajaran guru dituntut untuk memiliki keterampilan dasar yang diperlukan dalam menunjang profesionalisasinya.
Dalam mengajar ada dua kemampuan pokok yang harus dikuasai oleh seorang tenaga pengajar, yaitu:[5]
1.       Menguasai materi atau bahan ajar yang akan diajarkan (what to teach)
2.       Menguasai metodologi atau cara untuk membelajarkannya( how to teach)
3.       Keterampilan dasar mengajar termasuk kedalam aspek no 2 yaitu cara membelajarkan siswa.
Keterampilan dasar mengajar mutlak harus dimiliki dan dikuasai oleh tenaga pengajar, karena dengan keterampilan dasar mengajar memberikan pengertian lebih dalam mengajar. Mengajar bukan hanya sekedar proses menyampaikan materi saja, tetapi menyangkut aspek yang lebih luas seperti pembinaan sikap, emosional, karakter, kebiasaan dan nilai-nilai.
C.      Macam-Macam Keterampilan Dasar Pembelajaran
Semua keterampilan tersebut diuraikan sebagai berikut:
1.      Keterampilan Bertanya
Keterampilan dan kelancaran bertanya dari seorang guru perlu dilatih dan ditingkatkan, baik dari isi pertanyaan maupun dari teknik bertanya. Dengan pertanyaan, guru dapat meningkatkan dan mengikut sertakan peserta didik untuk aktif dalam proses belajar mengajar. Bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respons dari seseorang yang dikenai. Respons yang diberikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan. Jadi bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan berpikir.[6]
Dalam hal ini keterampilan bertanya yang dimaksud adalah keterampilan seorang guru dalam memberikan pertanyaan berupa ucapan verbal yang ditujukan kepada siswa untuk meminta jawaban. Pertanyaan yang diajukan adalah berhubungan dengan pengetahuan atau hal-hal yang dipertimbangkan dalam proses belajar mengajar. Adapun tujuan dari pemberian pertanyaan dalam proses belajar mengajar adalah:
a.       Merangsang kemampuan berpikir siswa
b.      Membantu siswa dalam belajar
c.       Mengarahkan siswa pada tingkat interaksi belajar yang mandiri
d.      Meningkatkan kemampuan berpikir siswa dari kemampuan berpikir tingkat rendah ke tingkat yang lebih tinggi
e.       Membantu siswa dalam mencapai tujuan pelajaran yang dirumuskan.[7]
Berdasarkan pendapat di atas, dapat dijelaskan bahwa pertanyaan dari seorang guru jika disajikan dengan teknik yang baik dapat memotivasi atau mendorong siswa untuk belajar dengan lebih giat dan aktif, sehingga hasil belajar yang didapatkan akan meningkat.
Terdapat Beberapa Dasar-dasar pertanyaan yang baik:
a.       Jelas dan mudah dimengerti oleh siswa.
b.      Berikan informasi yang cukup untuk menjawab pertanyaan.
c.       Difokuskan pada suatu masalah atau tugas tertentu.
d.      Berikan waktu yang cukup kepada anak untuk berfikir sebelum menjawab pertanyaan.
e.       Bagikanlah semua pertanyaan kepada seluruh murid secara merata.
f.       Berikan respon yang ramah dan menyenangkan sehingga timbul keberanian siswa untuk menjawab atau bertanya.
g.      Tuntunlah jawaban siswa sehingga mereka dapat menemukan sendiri jawaban yang benar.
Adapun jenis-jenis pertanyaan yang baik adalah sebagai  berikut :
a.       Jenis pertanyaan menurut maksudnya, antara lain:
1)      Pertanyaan permintaan (compliance question).
2)      Pertanyaan retoris (rhetorical question).
3)      Pertanyaan mengarahkan atau menuntun (prompting question,).
4)      Pertanyaan menggali (probing question).
b.      jenis pertanyaan menurut Taksonomi Bloom, antara lain:
1)      Pertanyaan pengetahuan (recall question atau knowlagde question).
2)      Pertanyaan pemahaman (conprehention question).
3)      Pertanyaan penerapan (application question).
4)      Pertanyaan sintetis (synthesis question).
5)      Pertanyaan evaluasi (evaluation question).
Sementara itu, keterampilan bertanya sendiri dibedakan atas:
a.       Keterampilan bertanya dasar. Keterampilan bertanya dasar mempunyai beberapa komponen dasar yang perlu diterapkan dalam mengajukan segala jenis pertanyaan. Komponen-komponen yang di maksud adalah: Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat, pemberian acuan, pemusatan, pemindah giliran, penyebaran, pemberian waktu berpikir dan pemberian tuntunan.
b.      Keterampilan bertanya lanjut. Keterampilan bertanya lanjut merupakan lanjutan dari keterampilan bertanya dasar yang lebih mengutamakan usaha mengembangkan kemampuan berpikir siswa, memperbesar partisipasi dan mendorong siswa agar dapat berinisiatif sendiri. Keterampilan bertanya lanjut di bentuk di atas landasan penguasaan komponen-komponen bertanya dasar. Karena itu, semua komponen bertanya dasar masih dipakai dalam penerapan keterampilan bertanya lanjut. Adapun komponen-komponen bertanya lanjut itu adalah : Pengubahan susunan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan, Pengaturan urutan pertanyaan, Penggunaan pertanyaan pelacak dan peningkatan terjadinya interaksi.
2.      Keterampilan Memberi Penguatan
Keterampilan memberi penguatan adalah keterampilan yang dapat dilakukan dengan kata-kata atau dengan perbuatan yang bertujuan untuk meningkatkan perhatian siswa terhadap materi yang sedang disampaikan. Menurut Sanjaya menyatakan bahwa: Keterampilan memberi penguatan adalah segala bentuk respons yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan infomasi atau umpan balik bagi siswa atas perbuatan atau responsnya yang diberikan sebagai dorongan atau koreksi.[8]Menurut B. Uno, “Keterampilan memberi penguatan merupakan keterampilan yang arahnya untuk memberikan dorongan, tanggapan, atau hadiah bagi siswa agar dalam mengikuti pelajaran siswa merasa dihormati dan diperhatikan.”[9] Sedangkan menurut Usman, keterampilan memberi penguatan adalah: Segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun non verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feedback) bagi si penerima (siswa) atas perbuatannya sebagai suatu tindak dorongan ataupun koreksi. Atau, penguatan adalah respons terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.[10]
Penguatan mempunyai pengaruh yang positif bagi siswa terhadap proses belajarnya dan bertujuan sebagai berikut:
a.       Meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran
b.      Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar
c.       Meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif.[11]
Beberapa komponen keterampilan memberi penguatan adalah:
a.       Penguatan Verbal
“Penguatan verbal adalah penguatan yang diungkapkan dengan kata-kata baik berupa pujian dan penghargaan maupun berupa koreksi.”[12]Melaluikata-kata itu siswa akan merasa tersanjung sehingga ia akan termotivasi danlebih aktif dalam belajar.
b.      Penguatan Non-Verbal
Penguatan non-verbal adalah penguatan yang diungkapkan melalui bahasa isyarat. Misalnya dengan anggukan kepala, geleng kepala, dan sebagainya. Selain itu, penguatan non verbal juga dapat dilakukan dengan memberikan tanda-tanda tertentu seperti memberikan sentuhan dengan menjabat tangan atau menepuk pundak siswa setelah siswa memberikan respons yang baik.[13]
3.      Keterampilan Mengadakan Variasi
Keterampilan mengadakan variasi diadakan karena faktor kebosanan yang disebabkan oleh adanya penyajian kegiatan belajar yang monoton akan mengakibatkan perhatian, motivasi, dan minat siswa terhadap pelajaran, guru, dan sekolah menurun. Untuk itu diperlukan adanya keanekaragaman dalam penyajian kegiatan belajar.[14]J.J. Hasibuan dan Moedjiono, menjelaskan bahwa:
Keterampilan mengadakan variasi diartikan sebagai perbuatan guru dalam konteks proses belajar mengajar yang bertujuan mengatasi kebosanan siswa, sehingga dalam proses belajarnya siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, keantusiasan, serta berperan serta secara aktif.[15]
Dari pendapat di atas, dapat dijelaskan bahwa keterampilan mengadakan variasi adalah suatu proses pengubahan kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam proses belajar mengajar di kelas yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan dan kejenuhan siswa, sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan minat dan perhatian siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
Beberapa komponen dalam keterampilan mengadakan variasi antara lain:
a.       Variasi gaya mengajar, meliputi: variasi suara berupa nada tinggi-rendah, volume keras-lemah, kecepatan cepat-lambat, perubahan mimic atau gerak, pemberian kesenyapan, melakukan kontak pandang, perubahan posisi, melakukan pemusatan (bahasa-isyarat).
b.      Variasi menggunakan media pembelajaran, meliputi: variasi media visual, media dengar, dan media yang dapat dipegang atau dimanipulasi.
c.       Variasi dalam interaksi pembelajaran, meliputi: peserta didik yang belajar sendiri tanpa campur tangan guru, atau peserta didik mendengarkan penjelasan guru dengan pasif.[16]


4.      Keterampilan Menjelaskan
Keterampilan menjelaskan secara sederhana dapat diartikan sebagai keterampilan menyapaikan informasi secara lisan dari seseorang kepada orang lain. Dalam konteks ini adalah keterampilan seorang guru dalam menyampaikan pelajaran kepada siswa. Usman mengungkapkan bahwa: Keterampilan menjelaskan dalam pengajaran ialah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematik untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya, misalnya antara sebab dan akibat, definisi dengan contoh atau dengan sesuatu yang belum diketahui.[17]
Kegiatan belajar mengacu kepada hal-hal  yang berhubungan dengan kegiatan siswa dalam mempelajari bahan yang di sampaikan oleh guru. Sedangkan kegiatan mengajar berhubungan dengan guru menjelaskan bahan kepada siswa.[18]Dalam pelaksanaannya guru  dapat menggunakan media pembelajaran dan  sumber-sumberbelajar yang relevan dengan tujuan pembelajaranyang akan dicapai . pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan yang luas kepada untuk bertanya. Untuk menaggapi pertanyaan tersebut seorang guru harus mampu menjelaskan secara sistematis dan logis.[19]
Keterampilan menjelaskan merupakan penyajian informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan lainnya, misalnya sebab dan akibat.
Komponen keterampilan menjelaskan, J.J. Hasibuan dan Moedjiono menjelaskan tentang beberapa komponen dalam keterampilan menjelaskan, yaitu[20]:
a.       Merencanakan penjelasan
Dalam merencanakan penjelasan perlu diperhatikan isi pesan yang akan disampaikan dan penerima pesan (siswa dengan segala kesiapannya).
b.      Menyajikan penjelasan
Penyajian suatu penjelasan dapat ditingkatkan hasilnya dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1)      Kejelasan; meliputi kejelasan tujuan, bahasa, dan proses penjelasan.
2)      Penggunaan contoh dan ilustrasi untuk mempermudah siswa yang sulit dalam menerima konsep yang abstrak.
3)      Memberikan penekanan yang dapat dikerjakan dengan cara mengadakan variasi dalam gaya mengajar (variasi suara, mimik) dan memberikan informasi yang menunjukkan arah atau tujuan utama sajian.
4)      Pengorganisasian yang dapat dikerjakan dengan cara membuat hubungan antara contoh dan dalil agar menjadi jelas dan memberikan ikhtisar butirbutir yang penting selama ataupun pada akhir sajian.
5)      Balikan; dapat diperoleh dengan cara memperhatikan tingkah laku siswa, memberikan kesempatan siswa menjawab pertanyaan guru, dan meminta pendapat siswa tentang penjelasan yang diberikan oleh guru.
5.      Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Keterampilan membuka dan menutup pelajaran merupakan suatu rangkaian yang termasuk ke dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini, seorang guru tentu harus mampu membuka dan menutup pelajaran sesuai dengan prosedur yang telah dibuat dalam rencana pengajaran sebelumnya dalam setiap pelaksanaan pengajaran. Menurut Sanjaya, keterampilan membuka pelajaran atau set induction adalah: “Usaha yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan prakondisi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada pengalaman belajar yang disajikan sehingga akan mudah mencapai kompetensi yang diharapkan.[21] Sedangkan menutup pelajaran, menurut Wina Sanjaya diartikan sebagai: Kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri pelajaran dengan maksud untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa serta keterkaitannya dengan pengalaman sebelumnya, mengetahui tingkat keberhasilan siswa, serta keberhasilan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran.[22]
Menurut Djamarah, “Keterampilan membuka pelajaran adalah perbuatan guru untuk menciptakan siap mental dan menimbulkan perhatian siswa agar terpusat pada yang akan dipelajari. Sedangkan menutup pelajaran adalah mengakhiri kegiatan inti pelajaran.”[23]
Keterampilan membuka dan menutup pelajaran memiliki komponen-komponen yang harus dikuasai oleh seorang guru, dengan tujuan agar ketika membuka dan menutup pelajaran dapat berjalan dengan lancar dan lebih efektif. Usman mengungkapkan komponen membuka dan menutup pelajaran adalah sebagai berikut:
a.       Membuka pelajaran
1)      Menarik perhatian siswa, dengan cara gaya mengajar guru, menggunakan alat bantu pelajaran, dan menggunakan pola interaksi yang bervariasi.
2)      Menimbulkan motivasi, dengan disertai kehangatan dan keantusiasan, menimbulkan rasa ingin tahu, mengemukakan ide yang bertentangan, dan memperhatikan minat siswa.
3)      Memberi acuan melalui berbagai usaha seperti mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas, menyarankan langkah-langkah yang akan dilakukan mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
4)      Membuat kaitan atau hubungan di antara materi-materi yang akan dipelajari dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dikuasai siswa.
b.      Menutup pelajaran
1)      Meninjau kembali penguasaan inti pelajaran dengan  merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan.
2)      Mengevaluasi dengan cara mendemonstrasikan keterampilan, mengaplikasikan ide baru pada situasi lain, mengeksplorasi pendapat siswa sendiri, dan memberikan soal-soal tertulis.[24]
Dengan menguasai dan mengimplementasikan komponen-komponen membuka dan menutup pelajaran dengan baik, seorang guru akan lebih mampu menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa secara lebih efektif dan efisien, sehingga lebih mudah dipahami oleh siswa.
6.      Keterampilan Mengelola Kelas
Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa merupakan syarat bagi keberhasilan pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya keberhasilan proses belajar mengajar yang efektif. Keterampilan mengelola kelas menurut J.J. Hasibuan dan Moedjiono adalah: Keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya ke kondisi yang optimal jika terjadi gangguan, baik dengan cara mendisiplinkan ataupun melakukan kegiatan remedial.[25]
Komponen-komponen keterampilan mengelola kelas adalah[26]:
a.       Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif), yaitu:
1)        Menunjukkan sikap tanggap.
2)        Membagi perhatian baik dikerjakan secara visual maupun verbal.
3)        Memusatkan perhatian kelompok.
4)        Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas.
5)        Menegur secara tegas dan jelas ditujukan kepada siswa yang mengganggu, menghindari peringatan yang kasar atau mengandung hinaan, dan menghindari ocehan yang berkepanjangan.
6)        Memberi penguatan, baik kepada siswa yang mengganggu, maupun kepada siswa yang bertingkah laku baik, sebagai contoh bagi siswa yang bertingkah laku kurang baik.
b.      Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal, yaitu:
1)        Memodifikasi tingkah laku, yang kurang baik dan menimbulkan gangguan.
2)        Pengelolaan kelompok, dengan cara memperlancar tugas, dan memelihara kegiatan kelompok.
3)        Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang  menimbulkan masalah.
Pengelolaan kelas mengarah pada peran guru untuk menata pembelajaran. Secara kolektif atau klasikal dengan perbedaan-perbedaan kekuatan individual menjadi sebuah aktifititas belajar agama. Suharsimi arikanto (1988) berpendapat bahwa pengelolaan kelas merupakan suatu usaha yang dilakukan guru untuk membantu menciptakan kondisi belajar yang opatimal.
Ada beberapa variable yang perlu dikelola secar asinergik, trepadu dan sistematik oleh guru yakni:
a.       Ruang kelas, menunjukan batasan lingkuan belajar,
b.      Usaha guru, adanya dinamika kegiatan guru dalam mensiasati segala kemungkinan yang terjadi dalam lingkungan belajar,
c.       Kondisi belajar, merupakan batasan aktifitas yang harus diwujudkan
d.      Belajar dan optimal, merupakan ukuran kualitas proses yang mendorong mutu sebuah produk belajar.[27]
7.      Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Pengajaran kelompok kecil dan perorangan memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap siswa serta terjadinya hubungan yang lebih akrab antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa. Pengajaran ini memungkinkan siswa belajar lebih aktif, memberikan rasa tanggung jawab yang lebih besar, berkembangnya daya kreatif dan sifat kepemimpinan pada siswa, serta dapat memenuhi kebutuhan siswa secara optimal. Menurut J.J. Hasibuan dan Moedjiono, mengungkapkan bahwa: Mengajar kelompok kecil dan perorangan diartikan sebagai perbuatan guru dalam konteks belajar mengajar yang hanya melayani 3-8 siswa untuk kelompok kecil, dan hanya seorang untuk perorangan. Pada dasarnya bentuk pengajaran ini dapat dikerjakan dengan membagi kelas dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil.[28]Peranan guru dalam pengajaran ini adalah sebagai organisator kegiatan belajar mengajar, sumber informasi (narasumber) bagi siswa, motivator bagi siswa untuk belajar, penyedia materi dan kesempatan belajar (fasilitator) bagi siswa, pembimbing kegiatan belajar siswa (konselor), dan sebagai peserta kegiatan belajar.[29]
Namun hakikatnya, guru dpat melakukanya, biarpun pembelajaran dilkukan dengan cara klasikal, namun sentuhan tetap individual.
e.       Hakikat pembelajaran perseorangan
1)      Terjadinya hubungan interpersonal antara guru dengan siswa dan juga siswa dengan siswa
2)      Siswa belajar sesuai dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing
3)      Siswa mendapat bantuan dari guru sesuai dengan kebutuhannya
4)      Siswa dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran peran guru dalam hal ini adalah sebagai organisator, narasumber motivator, fasilitator, konselor dan sekaligus sebagai peserta kegiatan
f.       Komponen-komponen pembelajaran perseorangan
1)       Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi
2)       Keterampilan mengorganisasi
3)       Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar, yaitu memungkinkan guru membantu siswa untuk maju tanpa mengalami frustrasi
4)       Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran, mencakup membantu siswa menetapkan tujuan dan menstimulasi siswa untuk mencapai tujuan tersebut.[30]
8.      Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok kecil merupakan kegiatan yang harus ada dalam kegiatan belajar mengajar. Akan tetapi, tidak setiap guru mampu membimbing siswa untuk berdiskusi tanpa mengalami latihan. Oleh karena itu, keterampilan ini perlu diperhatikan agar para guru mampu melaksanakan tugas ini dengan baik.“Diskusi kelompok kecil adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah”.[31]Dari pengertian ini, berarti siswa berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil di bawah pimpinan guru atau temannya untuk berbagi informasi, pemecahan masalah, atau pengambilan keputusan. Diskusi tersebut berlangsung secara terbuka. Setiap siswa bebas untuk mengemukakan ide-ide tanpa merasa ada tekanan dari guru ataupun dari temannya, dan setiap siswa harus mentaati semua peraturan yang telah ditetapkan.


D.    Kesimpulan
Keterampilan dasar mengajar (teaching skills) adalah kemampuan atau keterampilan yang bersifat khusus yang harus dimiliki oleh guru, dosen, instruktur atau widyaiswara.
Ada 8 jenis keterampilan, sebagai berikut:
1.      Keterampilan Menjelaskan
2.      Keterampilan Bertanya
3.      Keterampilan Menggunakan Variasi Stimulus
4.      Keterampilan Memberi Penguatan
5.      Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
6.      Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perseorangan
7.      Keterampilan Mengelola Kelas
8.      Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil


DAFTAR PUSTAKA

 
Conny Semiawan, Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: Gramedia, 1988.
Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
J.J. Hasibuan, Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009.
M sobry Sutikno, belajar dan pembelajaran, Lombok : Holistica , 2013.
Moch. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011.
Nana Sudjana, dasar-dasar Proses Belajar mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013.
Rahman, Model-model Pembelajaran, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012.
Ramayulis, Profesi & Etika Keguruan,Jakarta: Kalam Mulia,2013.
Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2011.
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Bandung: Mizan, 2001.
Wina Sanjaya, Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta : Rineka Cipta, 2003.



[1]Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2011), hlm.80.
[2]Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 15.
[3]Moch. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 74.
[4]Hamzah B. Uno, Op. Cit., hlm. 168.
[5] Conny Semiawan, Pendekatan Keterampilan Proses. (Jakarta: Gramedia, 1988)., hlm. 50
[6] J.J. Hasibuan, Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 62
[7]  Ibid., hlm. 62.
[8] Wina Sanjaya, Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta : Rineka Cipta, 2003)., hlm. 163.
[9] Hamzah B. Uno, Op. Cit., hlm. 168.
[10]Moch Uzer Usman, Op. Cit., hlm. 80.
[11]Ibid, hlm. 81.
[12]Wina Sanjaya, Op. Cit, hlm. 164.
[13]Ibid, hlm. 165.
[14] Hamzah B. Uno, Op. Cit, hlm. 171.
[15] J.J. Hasibuan, Moedjiono, Op. Cit, hlm. 64.
[16]  Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Bandung: Mizan, 2001)., hlm. 124.
[17] Moch Uzer Usman, Op. Cit, hlm. 88-89.
[18] Nana Sudjana, dasar-dasar Proses Belajar mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013)., hlm.  72
[19] Rahman, Model-model Pembelajaran, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012)., hlm. 86
[20] J.J. Hasibuan, Moedjiono, Op. Cit, hlm. 71.
[21]Wina Sanjaya, Op. Cit., hlm. 171.
[22]Ibid hlm. 173.
[23]Syaiful Bahri Djamarah, Op. Cit, hlm. 138-139.
[24] Moch Uzer Usman, Op. Cit, hlm. 92-93.
[25]  J.J. Hasibuan, Moedjiono, Op. Cit, hlm. 82.
[26] Ibid, hlm. 83-85.
[27] M sobry Sutikno, belajar dan pembelajaran, (Lombok : Holistica , 2013), hlm. 57
[28]J.J. Hasibuan, Moedjiono, Op. Cit.,hlm. 77.
[29]Moch Uzer Usman, Op. Cit, hlm. 103.
[30] Ramayulis, Profesi & Etika Keguruan,(Jakarta: Kalam Mulia,2013), hlm, 290
[31] Ibid, hlm. 94

📢 Bagikan Postingan Ini

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman atau media sosial Anda.

Facebook WhatsApp Twitter Telegram Copy Link

🤝 Butuh Bantuan atau Dokumen Lain?

Terima kasih telah berkunjung ke blog KhairalBlog21. Jika Anda membutuhkan makalah, format surat resmi, administrasi sekolah, atau dokumen lain yang belum tersedia di blog ini, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak. Kami juga menerima request untuk pembuatan dokumen sesuai kebutuhan Anda.

Jangan ragu untuk memberikan saran dan masukan agar blog ini bisa lebih bermanfaat untuk semua. Klik tombol di bawah ini untuk langsung menghubungi kami via WhatsApp:

Kami siap membantu menyediakan dokumen pendidikan dan administrasi sesuai kebutuhan Anda 📚✍️


No comments:

💬 Tinggalkan Komentar Anda

Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️

Featured Post

CONTOH DAN DONWLOAD SURAT LAMARAN SEBAGAI SPG

Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) , tentunya diperlukan sebuah surat lamaran kerja yang baik dan b...