MAKALAH KOMUNIKASI INTERPERSONAL

Baca Juga


A.      Pendahuluan
Manusia adalah makhluk jasmani dan rohani, atau makhluk rohani yang jasmani. Pada kita, manusia, yang rohani tersimpan dalam yang jasmani, dan yang jasmani memuat yang rohani.Karena kita makhluk yang rohani dan yang jasmani, maka apa yang ada dalam diri kita tidak dapat sepenuhnya dimengerti orang lain, jika kita tidak mau mengungkapkan kepada mereka. Orang lain tidak dapat mengerti dengan baik gagasan, pemikiran, perasaan, maksud dan kehendak kita jika kita tidak secara sadar menyampaikan kepada mereka. Namun, pengertian orang lain terhadap apa yang kita gagas, pikirkan, rasa, maksud, dan kehendaki yang kita sampaikan kepada mereka tidak secara otomatis. Karena itu komunikasi merupakan hal yang mutlak dalam hidup kita dengan orang lain. Tanpa komunikasi, kita dan orang lain tidak dapat berhubungan dan bertukar pikiran, perasaan dan kehendak.
Relasi antarmanusia dibangun melalui komunikasi. Dengan kata lain. Komunikasi menjadi sarana yang ampuh untuk untuk membangun sebuah relasi antara kita dengan orang lain. Melalui komunikasi, kita biasa mengenal orang lain dan demikian sebaliknya kita juga dikenal oleh orang lain. Berdasarkan latar belakang tersebuat kami mengambil judul makalah kami yaitu Komunikasi Interpersonal.
B.       Pengertian Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap-muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun non verbal.[1] Ia menjelaskan bentuk khusus dari komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang melibatkan hanya dua orang, seperti seorang guru dengan murid. Komunikasi demikian menunjukkan: pihak-pihak yang berkomunikasi berada dalam jarak yang dekat dan mereka saling mengirim dan menerima pesan baik verbal ataupun non-verbal secara simultan dan spontan.
Komunikasi interpersonal adalah proses penyampaian pesan-pesan yang berlangsung antar anggota organisasi, dapat berlangsung antara pimpinan dengan bawahan, pimpinan dengan pimpinan maupun bawahan dengan bawahan.[2]
Bentuk khusus dari komunikasi antarpribadi ini adalah komunikasi diadik yang melibatkan hanya dua orang secara tatap-muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal, seperti suami-isteri, dua sejawat, dua sahabat dekat, seorang guru dengan seorang muridnya, dan sebagainya.
Komunikasi antarpribadi sangat potensial untuk menjalankan fungsi instrumental sebagai alat untuk mempengaruhi atau membujuk orang lain, karena kita dapat menggunakan kelima lat indera kita untuk mempertinggi daya bujuk pesan yang kita komunikasikan kepada komunikan kita. Sebagai komunikasi yang paling lengkap dan paling sempurna, komunikasi antarpribadi berperan penting hingga kapanpun, selama manusia masih mempunyai emosi. Kenyataannya komunikasi tatap-muka ini membuat manusia merasa lebih akrab dengan sesamanya, berbeda dengan komunikasi lewat media massa seperti surat kabar, televisi, ataupun lewat teknologi tercanggihpun.
Komunikasi interpesonal mengacu pada pesan-peasan yang dikirimkan oleh orang –orang secara intern (pemikiran), yang sering kali berhubungan dengan diri merekasendiri (evaluasi diri). Studi komunikasi antarpesona efektif berdasarkan teori yang logis meliputi keahlian yang dapat diterapkan pada lingkungan bisnis.
Suatu studi nasional mengenai direktur personalia menyatakan bahwa keahlian komunikasi antarpesonal dan keahlian hubungan manusia menduduki urutan dalam keenam belas factor terpenting yang diperlukan dalam keberhasilan prestasi kerja.[3]
Salah satu rumusan yang banyak digunakan, sebuah adaptasi dari Hovland,  menyatakan bahwa komunikasi antar pribadi sebagai suatu keadaan interaksi ketika seseorang (komunikator) mengirimkan stimulasi (biasanya simbol-simbol verbal) untuk mengubah tingkah laku orang lain (komunikan), dalam sebuah peristiwa tatap muka.[4]
Persoalan penilaian hubungan merupakan persoalan lain yang penting dalam komunikasi antarpribadi. Dalam hubungan ini, dicakup setidaknya enam tahap atau tingkatan hubungan:
1.      Initiation. Pada tahap ini, masing-masing partisipan saling membuat kalkulasi atau menaksir-naksir satu dengan lain, dan mencoba mengupayakan penyesuaian-penyesuaian.
2.      Ekplorasi. Pada tahap ini, partisipan saling berusaha mengetahui karakter orang lain, misalnya minat, motif, dan nilai-nilai yang dipegang.
3.      Intensifikasi. Pada tahap ini, partisipan saling bertanya kepada diri sendiri apakah jalinan komunikasi diteruskan apa tidak.
4.      Formalisasi. Pada tahap ini partisispan saling sepakat mengenai hal-hal tertentu, yang kemudian terformalisasikan kedalam berbagai tingkah laku, misalnya, berjanji untuk saling bertemu lagi, mendatangani kontrak bisnis atau saling bercumbu.
5.      Redifinisi. Pada tahap ini jalinan hubungan dan komunikasi yang ada dihadapkan pada persoalan-persoalan baru dan silih berganti seiring dengan perjalanan waktu.
6.      Hubungan yang memburuk. Gejala semakin memburuknya hubungan kadangkala tidak disadari sepenuhnya oleh partisipan  komunikasi.[5]

C.      Klasifikasi Komunikasi Interpersonal
Redding yang dikutip Muhammad mengembangkan klasifikasi komunikasi interpersonal menjadi interaksi intim, percakapan sosial, interogasi atau pemeriksaan dan wawancara.
1.      Interaksi intim termasuk komunikasi di antara teman baik, anggota famili, dan orang-orang yang sudah mempunyai ikatan emosional yang kuat.
2.      Percakapan sosial adalah interaksi untuk menyenangkan seseorang secara sederhana. Tipe komunikasi tatap muka penting bagi pengembangan hubungan informal dalam organisasi. Misalnya dua orang atau lebih bersama-sama dan berbicara tentang perhatian, minat di luar organisasi seperti isu politik, teknologi dan lain sebagainya.
3.      Interogasi atau pemeriksaan adalah interaksi antara seseorang yang ada dalam kontrol, yang meminta atau bahkan menuntut informasi dari yang lain. Misalnya seorang karyawan dituduh mengambil barang-barang organisasi maka atasannya akan menginterogasinya untuk mengetahui kebenarannya.
4.      Wawancara adalah salah satu bentuk komunikasi interpersonal di mana dua orang terlibat dalam percakapan yang berupa tanya jawab. Misalnya atasan yang mewawancarai bawahannya untuk mencari informasi mengenai suatu pekerjaannya.[6]
D.      Tujuan Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal mungkin mempunyai beberapa tujuan. Di sini akan dipaparkan 6 tujuan, antara lain :[7]
1.      Menemukan Diri Sendiri
Salah satu tujuan komunikasi interpersonal adalah menemukan personal atau pribadi. Bila kita terlibat dalam pertemuan interpersonal dengan orang lain kita belajar banyak sekali tentang diri kita maupun orang lain.
Komunikasi interpersonal memberikan kesempatan kepada kita untuk berbicara tentang apa yang kita sukai, atau mengenai diri kita. Adalah sangat menarik dan mengasyikkan bila berdiskusi mengenai perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita sendiri. Dengan membicarakan diri kita dengan orang lain, kita memberikan sumber balikan yang luar biasa pada perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita.
2.      Menemukan Dunia Luar
Hanya komunikasi interpersonal menjadikan kita dapat memahami lebih banyak tentang diri kita dan orang lain yang berkomunikasi dengan kita. Banyak informasi yang kita ketahui datang dari komunikasi interpersonal, meskipun banyak jumlah informasi yang datang kepada kita dari media massa hal itu seringkali didiskusikan dan akhirnya dipelajari atau didalami melalui interaksi interpersonal.
3.      Membentuk Dan Menjaga Hubungan Yang Penuh Arti
Salah satu keinginan orang yang paling besar adalah membentuk dan memelihara hubungan dengan orang lain. Banyak dari waktu kita pergunakan dalam komunikasi interpersonal diabadikan untuk membentuk dan menjaga hubungan sosial dengan orang lain.
4.      Berubah Sikap Dan Tingkah Laku
Banyak waktu kita pergunakan untuk mengubah sikap dan tingkah laku orang lain dengan pertemuan interpersonal. Kita boleh menginginkan mereka memilih cara tertentu, misalnya mencoba diet yang baru, membeli barang tertentu, melihat film, menulis membaca buku, memasuki bidang tertentu dan percaya bahwa sesuatu itu benar atau salah. Kita banyak menggunakan waktu waktu terlibat dalam posisi interpersonal.
5.      Untuk Bermain Dan Kesenangan
Bermain mencakup semua aktivitas yang mempunyai tujuan utama adalah mencari kesenangan. Berbicara dengan teman mengenai aktivitas kita pada waktu akhir pecan, berdiskusi mengenai olahraga, menceritakan cerita dan cerita lucu pada umumnya hal itu adalah merupakan pembicaraan yang untuk menghabiskan waktu. Dengan melakukan komunikasi interpersonal semacam itu dapat memberikan keseimbangan yang penting dalam pikiran yang memerlukan rileks dari semua keseriusan di lingkungan kita.
6.      Untuk Membantu
Ahli-ahli kejiwaan, ahli psikologi klinis dan terapi menggunakkan komunikasi interpersonal dalam kegiatan profesional mereka untuk mengarahkan kliennya. Kita semua juga berfungsi membantu orang lain dalam interaksi interpersonal kita sehari-hari. Kita berkonsultasi dengan seorang teman yang putus cinta, berkonsultasi dengan mahasiswa tentang mata kuliah yang sebaiknya diambil dan lain sebagainya.
E.       Persepsi Interpersonal
Persepsi sosial kini telah memperoleh konotasi baru sebagai proses mempersepsi objek-objek dan peristiwa-peristiwa sosial. Untuk tidak mengaburkan istilah dan untuk menggarisbawahi manusia (bukan benda) sebagai objek persepsi, disini digunakan istilah persepsi interpersonal. Persepsi pada objek selain manusia kita sebut saja persepsi objek.
Ada empat perbedaan antara persepsi objek dengan persepsi interpersonal. Pertama, pada persepsi objek, stimuli ditangkap oleh alat indera melalui benda-benda fisik; gelombang, cahaya, gelombang suara, temperature, dan sebagainya; pada persepsi interpersonal, stumuli mungkin sampai kepada seseorang melalui lambang-lambang verbal atau grafis yang disampaikan pihak ketiga.
Kedua, dalam menanggapi objek, seseorang hanya menanggapi sifat-sifat luar obyek itu; tapi tidak meneliti sifat-sifat batiniyah obyek itu. Pada persepsi interpersonal mencoba memahami apa yang tampak pada alat indera seseorang. Ketiga, ketika mempersepsi objek, objek tidak bereaksi kepada seseorang; seseorang itu pun tidak memberikan reaksi emosional padanya. Dalam persepsi interpersonal, faktor-faktor personal anda, dan karakteristik orang yang ditanggapi serta hubungan anda dengan orang tersebut, menyebabkan persepsi interpersonal sampai cenderung untuk keliru. Keempat, objek relatif tetap, sedangkan manusia berubah-ubah. Persepsi interpersonal yang berobjekkan manusia kemudian menjadi mudah salah. [8]
1.      Pengaruh Faktor-faktor Situasional Pada Persepsi Interpersonal
a.      Deskripsi Verbal
Menurut eksperimen Solomon E. Asch, bahwa kata yang disebutkan pertama akan mengarahkan penilaian selanjutnya. Pengaruh kata pertama ini kemudian terkenal sebagai primacy effect. Menurut teori Asch, ada kata-kata tertentu yang mengarahkan seluruh penilaian seseorang tentang orang lain. Jika kata tersebut berada ditengah rangkaian kata maka disebut central organizing trait.
Walaupun teori Asch ini menarik untuk melukiskan bagaimana cara orang menyampaikan berita tentang orang lain mempengaruhi persepsi seseorang tentang orang itu, dalam kenyataan jarang seseorang melukiskan orang dengan menyebut rangkaian kata sifat. Biasanya mulai pada central trait, menjelaskan sifat itu secara terperinci, baru melanjutkan pada sifat-sifat yang lain. [9]
b.      Petunjuk Proksemik
Proksemik adalah studi tentang penggunaan jarak dalam menyampaikan pesan; istilah ini dilahirkan oleh antroplog intercultural Eward T. Hall. Hall membagi jarak kedalam empat corak; jarak public, jarak sosial, jarak personal, dan jarak akrab. Jarak yang dibuat individu dalam hubungannya dengan orang lain menunjukkan tingkat keakraban di antara mereka.
Pertama, seperti Edward T. Hall, disimpulkan bahwa keakraban seorang dengan orang lain dari jarak mereka, seperti hasil yang diamati. Kedua, erat kaitannya dengan yang pertama, menangapi sifat orang lain dari cara orang itu membuat jarak dengan seseorang. Ketiga, caranya orang mengatur ruang mempengaruhi persepsi individu tentang orang itu. [10]
c.       Petunjuk Kinesik (Kinesic Cues)
Petunjuk kinesik adalah persepsi yang didasarkan kepada gerakan orang lain yang ditunjukkan kepada seseorang. Beberapa penelitian membuktikan bahwa persepsi yang cermat tentang sifat-sifat dari pengamatan petunjuk kinesik. Begitu pentingnya petunjuk kinesik, sehingga apabila petunjuk-petunjuk lain (seperti ucapan) bertentangan dengan petunjuk kinesik, orang mempercayai yang terakhir. Karena petunjuk kinesik adalah yang paling sukar untuk dikendalikan secara sadar oleh orang yang menjadi stimuli (selanjutnya disebut persona stimuli-orang yang dipersepsi; lawan dari persona penanggap).[11]
d.      Petunjuk Wajah
Diantara berbagai petunjuk non verbal, petunjuk fasial adalah yang paling penting dalam mengenali perasaan persona stimuli. Ahli komunikasi non verbal, Dale G. Leather (1976:21), menulis; “Wajah sudah lama menjadi sumber informasi dalam komunikasi interpersonal. Inilah alat yang sangat penting dalam menyampaikan makna. Dalam beberapa detik ungkapan wajah dapat menggerakkan kita ke puncak keputusan. Ketika seseorang menelaah wajah rekan dan sahabat kita untuk perubahan-perubahan halus dan nuansa makna dan mereka,pada gilirannya, menelaah kita”.[12]
e.       Petunjuk Paralinguistik
Yang dimaksud paralinguistik ialah cara orang mengucapkan lambang-lambang verbal. Jadi, jika petunjuk verbal menunjukkan aoa yang diucapkan, petunjuk paralinguistik mencerminkan bagaimana mengucapkannya. Ini meliputi tinggi-rendahnya suara, tempo bicara, gaya verbal (dialek), dan interaksi (perilaku ketika melakukan komunikasi atau obrolan). Suara keras akan dipersepsi marah atau menunjukkan hal yang sangat penting. Tempo bicara yang lambat, ragu-ragu, dan tersendat-sendat, akan dipahami sebagai ungkapan rendah diri atau kebodohan.
Dialek yang digunakan menentukan persepsi juga. Bila perilaku komunikasi (cara bicara) dapat memberikan petunjuk tentang kepribadian persona stimuli, suara mengungkapkan keadaan emosional. [13]
f.       Petunjuk Artifaktual
Petunjuk artifaktual meliputi segala macam penampilan (appearance) sejak potongan tubuh, kosmetik yang dipakai, baju, pangkat, badge, dan atribut-atribut lainnya. Bila seorang individu mengetahui bahwa orang lain memiliki satu sifat (misalnya, cantik atau jelek), beranggapan bahwa ia memiliki sifat-sifat tertentu (misalnya, periang atau penyedih); ini disebut halo effect.Bila sudah menyenangi seseorang, maka seseorang tersebut cenderung melihat sifat-sifat baik pada orang itu dan sebaliknya. [14]
2.      Pengaruh Faktor-faktor Personal Pada Persepsi Interpersonal
Persepsi interpersonal besar pengaruhnya bukan saja pada komunikasi interpersonal, tetapi juga pada hubungan interpersonal. Karena itu, keceramatan persepsi interpersonal akan sangat berguna untuk meningkatkan kualitas komunikasi interpersonal seseorang. Beberapa cirri-ciri khusus penanggap yang ceramat adalah :[15]
a.      Pengalaman
Pengalaman mempengaruhi kecermatan persepsi. Pengalaman tidak selalu lewat proses belajar formal. Pengalaman kita bertambah juga melalui rangkaian peristiwa yang pernah kita hadapi. Inilah yang menyebabkan seorang ibu segera melihat hal yang tidak beres pada wajah anaknya atau pada petunjuk kinesik lainnya. Ibu lebih berpengalaman mempersepsi anaknya daripada bapak. Ini juga sebabnya mengapa kita lebih sukar berdusta di depan orang yang paling dekat dengan kita.
b.      MotivasiProses konstruktif yang banyak mewarnai persepsi interpersonal juga sangat banyak melibatkan unsur-unsur motivasi.
c.       Kepribadian
Dalam psikoanalisis dikenal proyeksi, sebagai salah satu cara pertahanan ego. Proyeksi adalah mengeksternalisasikan pengalaman subjektif secara tidak sadar. Orang melempar perasaan bersalahnya pada orang lain. Maling teriak maling adalah contoh tipikal dari proyeksi. Pada persepsi interpersonal, orang mengenakan pada orang lain sifat-sifat yang ada pada dirinya, yang tidak disenanginya. Sudah jelas, orang yang banyak melakukan proyeksi akan tidak cermat menanggapi persona stimuli, bahkan mengaburkan gambaran sebenarnya. Sebaliknya, orang yang menerima dirinya apa adanya, orang yang tidak dibebani perasaan bersalah, cenderung menafsirkan orang lain lebih cermat. Begitu pula orang yang tenang, mudah bergaul dan ramah cenderung memberikan penilaian posoitif pada orang lain. Ini disebut leniency effect (Basson dan Maslow, 1957).
F.       Konsep Diri
1.      Pengertian Konsep Diri
Konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Anita Taylor et al. mendefinisikan konsep diri sebagai “all you think and feel about you, the entire complex of beliefs and attitudes you hold about yourself”Ada dua komponen konsep diri : komponen kognitif dan komponen afektif. Dalam psikologi sosial, komponen kognitif disebut citra diri (self image), dan komponen afektif disebut harga diri (self esteem). [16]
Konsep diri yang positif, ditandai dengan lima hal, yaitu: [17]
a.       Yakin akan kemampuan mengatasi masalah;
b.      Merasa setara dengan orang lain;
c.       Menerima pujian tanpa rasa malu;
d.      Menyadari, bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat;
e.       Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.
3.      Factor-faktor yang mempengaruhi Konsep Diri
a.       Orang lain.
Sebagai mana dibahasakan diatas bahwa orang lain mempunyai pengaruh terhadap individu dalam menyimpulakan konsep dirinya. Selain itu mengutip pernyataan Gabriel Marcel dalam Rakhmat.[18]
 “The fact is that we can understand ourself by starting from the other, or from others, and only starting from them.” Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain terlebih dahulu. Bagaimana anda menilai diri saya akan membentuk konsep diri saya.
Kita sepakat bahwa orang lain mempunyai pengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita. Tetapi, tidak semua orang lain mempunyai pengaruh yang sama terhadap diri kita. Adayang paling berpengaruh, yaitu orang-orang yang paling dekat dengan diri kita. George Herbert Mead dalam Rakhmat menyebut mereka Significant others – orang lain yang sangat penting.[19]
b.      Kelompok rujukan
Dalam bermasyarakat kita pasti menjadi anggota berbagai kelompok masyarakat.Adakelompok yang secara emosional mengikat kita dan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita. Dengan melihat kelompok ini, orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan diri dengan ciri-ciri kelompoknya. ketika kita menjadi anggota kelompok persatuan bulu tangkis, ikatan mahasiswa Universitas Trunojoyo madura, dan lain-lain.[20]
c.       Pengaruh Konsep Diri terhadap Komunikasi Interpersonal
Konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi antarpribadi, yaitu:
a.       Nubuat yang dipenuhi sendiri.Setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Bila seseorang mahasiswa menganggap dirinya sebagai orang yang rajin, ia akan berusaha menghadiri kuliah secara teratur, membuat catatan yang baik, mempelajari materi kuliah dengan sungguh-sungguh, sehingga memperoleh nilai akademis yang baik.
b.      Membuka diri. Pengetahuan tentang diri kita akan meningkatkan komunikasi, dan pada saat yang sama, berkomunikasi dengan orang lain meningkatkan pengetahuan tentang diri kita. Dengan membuka diri, konsep diri menjadi dekat pada kenyataan. Bila konsep diri sesuai dengan pengalaman kita, kita akan lebih terbuka untuk menerima pengalaman-pengalaman dan gagasan baru.
c.       Percaya diri. Ketakutan untuk melakukan komunikasi dikenal sebagai communication apprehension. Orang yang aprehensif dalam komunikasi disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri. Untuk menumbuhkan percaya diri, menumbuhkan konsep diri yang sehat menjadi perlu.
d.      Selektivitas. Konsep diri mempengaruhi perilaku komunikasi kita karena konsep diri mempengaruhi kepada pesan apa kita bersedia membuka diri (terpaan selektif), bagaimana kita mempersepsi pesan (persepsi selektif), dan apa yang kita ingat (ingatan selektif). Selain itu konsep diri juga berpengaruh dalam penyandian pesan (penyandian selektif).[21]
G.      Keterbukaan Diri (Self Disclosure)
Self disclosure didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengungkapkan informasi tentang diri sendiri kepada orang lain (Wheeles, 1978). Sedangkan Person (1987) mengartikan self disclosure sebagai tindakan seseorang dalam memberikan informasi yang bersifat pribadi pada orang lain secara sukarela dan disengaja untuk maksud memberi informasi yang akurat tentang dirinya.
Pengetahuan tentang diri akan meningkatkan komunikasi. Pada saat yang sama, seseorang harus membuka diri atau berkomunikasi dengan orang lain karena akan meningkatkan pengetahuan tentang diri kita.
Tingkat keterbukaan diri (self disclosure) kita dapat diungkapkan dengan model johari window (diambil dari penemu konsep ini yaitu Josepf Luft dan Harry Ingham) Dalam johari window diungkapkan bahwa manusia terdiri dari empat sel (quadrant, jendela, bagian) tiap-tiap sel itu memiliki bagian self (diri) yang berbeda-beda.[22]
Model ini menekankan bahwa jendela yang satu tidak terpisah dengan jendela yang lain. Pembesaran pada satu jendela akan membuat jendela yang lain mengecil.
1.        Open self
Bagian self ini menyajikan informasi, perilaku, sifat, perasaan, keinginan, motif dan ide yang diketahui oleh diri kita sendiri dan orang lain. Informasi disini meliputi agama, jenis kelamin, rasa tau warna kulit, nama, hobi, status social.
Menurut Luft jika bagian “diri” ini diperkecil maka hubungan interpersonal memiliki kualitas yang rendah. Maka supaya mempunyai kualitas komunikasi interpersonal baik, bagian ini harus diperbesar.
2.        Blind self
Bagian self ini menyajikan hal-hal tentang diri kita yang diketahui oleh orang lain tapi tidak diketahui oleh kita sendiri. Ada orang yang hidungnya memerah ketika malu atau ada pula yang tidak menyadari dirinya selalu mengucapkan kata-kata, “…gitu…gitu” ketika berkomunikasi. Bagian ini perlu diperkecil karena mengakibatkan kualitas komunikasi interpersonal kurang baik.
3.        Hidden self
Bagian ini berisi tentang hal-hal yang kita ketahui dari dalam diri kita sendiri dan tidak diketahui oleh orang lain, yang kita simpan hanya untuk diri kita sendiri. Hal itu misalnya kondisi keuangan yang buruk, masalah keluarga, masalah pribadi, kehidupan seks, kecemasan, rasa takut terhadap sesuatu.
4.        Unknown self
Bagian ini merupakan aspek dari diri kita yang tidak diketahui oleh diri kita sendiri dan orang lain. Meskipun sulit diketahui tapi harus disadari bahwa bagian “diri” ini ada dalam diri kita. Salah satu cara untuk melacak bagian “diri” ini adalah dengan metode hipnotis.
Menurut Jhonson (1981), bebarapa manfaat dan dampak pembuakaan diri terhadap hubungan antar pribadi adalah sebagai berikut:[23]
1.        Pembukaan diri merupakan dasar bagi hubungan yang sehat antara dua orang.
2.        Semakin kita bersikap terbuka kepada orang lain, semakin orang lain tersebut akan menyukai diri kita. Akibatnya, ia akan semakin membuka diri kepada kita.
3.        Orang yang rela membuka diri kepada orang lain terbukti cenderung memiliki sifat.
4.        Membuka diri kepada orang lain merupakan dasar relasi yang memungkinkan komunikasi intim baik dengan diri kita sendiri maupun dengan orang lain.
5.        Membuka diri berarti bersikap realistik. Maka, pembukaan diri kita haruslah jujur, tulus dan autentik.
Menurut Devito (1989) ada beberapa keuntungan yang akan diperoleh seseorang jika mau mengungkap informasi diri kepada orang lain antara lain:
1.        Mengenal diri sendiri
Seseorang dapat lebih mengenal diri sendiri melalui self disclosure, karena dengan mengungkapkan dirinya akan diperoleh gambaran baru tentang dirinya, dan mengerti lebih dalam perilakunya.
2.     Adanya kemampuan menanggulangi masalah
Seseorang dapat mengatasi masalah, karena ada dukungan dan bukan penolakan, sehingga dapat menyelesaikan atau mengurangi bahkan menghilangkan masalahnya.
3.    Mengurangi Beban
Jika individu menyimpan rahasia dan tidak mengungkapkannya kepada orang lain, maka akan terasa berat sekali memikulnya. Dengan adanya keterbukaan diri, individu akan merasakan beban itu terkurangi, sehingga orang tersebut ringan beban masalah yang dihadapinya.
Cara-cara yang bisa dilakukan oleh konselor untuk membantu seseorang yang mempunyai tingkat Self Disclosure rendah diantaranya:
1.        Konselor harus memahami tentang latar belakang masalah klien
2.        Konselor dapat memberikan layanan informasi tentang etika dalam keterbukaan diri dengan orang lain: kepada siapa keterbukaan diri itu dilakukan, dalam situasi yang bagaimana keterbukaan diri dilakukan
3.        Memberikan pelatihan kepada orang yang memiliki tingkat self disclosure rendah berupa pelatihan untuk meningkat keterbukaan diri, kepercayaan diri, kemampuan berinteraksi dengan orang lain, kemampuan bersosialisasi.
4.        konselor dapat merencanakan kegiatan diskusi kelompok, kerja kelompok, role playing; konselor melakukan pendekatan personal secara kontinyu sehingga klien dapat merasakan dekat dengan konselor, sehingga klien dapat mengungkapkan perasaannya.


H.      Kesimpulan
Komunikasi interpersonal adalah termasuk pesan pengiriman dan penerimaan pesan antara dua atau lebih individu. Hal ini dapat mencakup semua aspek komunikasi seperti mendengarkan, membujuk, menegaskan, komunikasi nonverbal , dan banyak lagi. Sebuah konsep utama komunikasi interpersonal terlihat pada tindakan komunikatif ketika ada individu yang terlibat tidak seperti bidang komunikasi seperti interaksi kelompok, dimana mungkin ada sejumlah besar individu yang terlibat dalam tindak komunikatif.
Konsep diri dan Persepsi interpersonal sangat dibutuhkan untuk pencapaian dalam kelancaran komunikasi. Orang yang lancar dalam berkomunikasi berarti orang tersebut mempunyai keahlian dalam berkomunikasi. Persepsi interpersonal besar pengaruhnya bukan saja pada komunikasi interpersonal, tetapi juga pada hubungan interpersonal. Karena itu kecermatan persepsi interpersonal akan sangat berguna untuk meningkatkan kualitas komunikasi interpersonal kita.
Orang yang mempunyai keahlian komunikasi maka komunikasi orang tersebut akan berjalan efektif. Kita harus memupuk keahlian kita dalam komunikasi interpersonal melalui konsep diri. Konsep diri seperti yang telah tertuang diatas sangat penting dilakukan agar kita ahli dalam berkomunikasi. Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik.
DAFTAR PUSTAKA


B. Curtis, James, J. Floye, dan Jerry L.Winsor, Komunikasi Bisnis dan Profesional, Bandung : Remanja Rosdakarya,1996.
Dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi, Pengantar, Bandung : Remaja  Rosadakarya. 2000.
Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosda Karya.1986.
Marhaeni Fajar, Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktik,  Yogyakarta : Graha Ilmu, 2009.
Muhamad Arni, Komunikasi Organisasi. Jakarta : Bumi Aksara. 2001.
Mulyana Deddy Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.
Pawito,  Penelitian Komunikasi Kualitatif, Yogyakarta : LKIS, 2007.
Reed H. Blake, Edwin O. Haroldsen, Taksonomi Konsep Komunikasi,Surabaya : Payprus, 2005.
Siti Mutmainah dan Ahmad Fauzi, Psikologi Komunikasi, Jakarta: Universitas Terbuka, 2005.



[1] Dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi, Pengantar, (Bandung : Remaja  Rosadakarya. 2000), hlm. 73.
[2] Muhamad Arni, Komunikasi Organisasi.( Jakarta : Bumi Aksara. 2001)., hlm. 143.
[3] B. Curtis, James, J. Floye, dan Jerry L.Winsor, Komunikasi Bisnis dan Profesional,(Bandung : Remanja Rosdakarya,1996) hlm. 30-38
[4] Reed H. Blake, Edwin O. Haroldsen, Taksonomi Konsep Komunikasi, (Surabaya : Payprus, 2005), hlm. 30
[5] Pawito,  Penelitian Komunikasi Kualitatif,(Yogyakarta : LKIS, 2007) hal : 4-6
[6] Mulyana Deddy Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005)., hlm. 78-80.
[7] Ibid., hlm. 82.
[8] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi.(Bandung: Rosda Karya.1986)., hlm. 81-82.
[9] Ibid., hlm. 82-83.
[10] Ibid.,hlm. 84
[11] Ibid., hlm. 85
[12] Ibid., hlm. 87
[13] Ibid., hlm. 87
[14] Ibid., hlm. 87-88.
[15] Ibid., hlm. 89-91
[16] Marhaeni Fajar, Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktik, ( Yogyakarta : Graha Ilmu, 2009) hlm. 65
[17] Ibid., hlm. 66.
[18] Jalaluddin Rahmat, Op. Cit., hlm. 100.
[19] Ibid., hlm. 101.
[20] Ibid., hlm. 102.
[21] Ibid., hlm. 105-109.
[22] Siti Mutmainah dan Ahmad Fauzi, Psikologi Komunikasi, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2005)., hlm. 56.
[23] Ibid., hlm. 87

📢 Bagikan Postingan Ini

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman atau media sosial Anda.

Facebook WhatsApp Twitter Telegram Copy Link

🤝 Butuh Bantuan atau Dokumen Lain?

Terima kasih telah berkunjung ke blog KhairalBlog21. Jika Anda membutuhkan makalah, format surat resmi, administrasi sekolah, atau dokumen lain yang belum tersedia di blog ini, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak. Kami juga menerima request untuk pembuatan dokumen sesuai kebutuhan Anda.

Jangan ragu untuk memberikan saran dan masukan agar blog ini bisa lebih bermanfaat untuk semua. Klik tombol di bawah ini untuk langsung menghubungi kami via WhatsApp:

Kami siap membantu menyediakan dokumen pendidikan dan administrasi sesuai kebutuhan Anda 📚✍️


No comments:

💬 Tinggalkan Komentar Anda

Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️

Featured Post

CONTOH DAN DONWLOAD SURAT LAMARAN SEBAGAI SPG

Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) , tentunya diperlukan sebuah surat lamaran kerja yang baik dan b...