MAKALAH PEMBELAJARAN PAIKEM

Baca Juga


A.      Pendahuluan
Dewasa ini, para penggiat pendidikan selalu berusaha untuk mengembangkan metode-metode dan model-model pembelajaran yang baik dan efektif untuk dapat  membantu guru dalam menyampaikan materi kepada siswa. Pengembangan ini telah dilakukan sejak dulu hingga sekarang secara kontinyu dan terus menerus, mengikuti perkembangan teknologi dan juga permasalahan-permasalahan yang timbul dalam dunia pendidikan.
Salah satu pendekatan pembelajaran yang dianggap baik dan  layak untuk diterapkan dalam proses pembelajaran salah satunya adalah PAIKEM, singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Di era kontemporer ini, PAIKEM sangat dianjurkan mengingat semakin kompleksnya permasalahan di dunia pendidikan dan juga besarnya tuntutan yang dibebankan kepada guru dalam mensukseskan pembelajaran di tingkat sekolah ataupun  para dosen di tingkat perguruan tinggi.
Pelatihan-pelatihan tentang PAIKEM pun juga telah banyak diadakan dalam rangka meningkatkan kualitas guru/dosen. PAIKEM kini telah menjadi salah satu bagian dari usaha sebuah unit pendidikan dalam meningkatakan kualitas pembelajarannya. Selain itu, yang paling mendasar tujuan  penerapan PAIKEM adalah agar siswa-siswa menjadi lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran, lebih enjoy dalam belajar, tentu saja menjadi lebih mudah dalam menyerap materi pembelajaran yang diberikan, dan yang tidak kalah penting adalah tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Namun pada kenyataanya, belum semua guru maupun para penggiat pendidikan dapat memahami dengan sebenarnya pendekatan PAIKEM ini. Oleh sebab itu, dalam makalah ini kami berusaha dan mencoba membantu memberikan pemahaman tentang PAIKEM yang lebih komprehensif dan mudah untuk dipelajari.
B.       Konsep Pembelajaran PAIKEM
Menurut Tarmizi (2009) dalam La Iru dan La Ode Safiun Arihi (2012:96) PAIKEM adalah singkatan dari pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif yang dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus mampu menciptakan suasana yang sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan dan mengemukakan gagasan. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar.keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung sebab pembelajaran memiliki sejumblah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tapi tidak efektif, pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa . secara garis besar PAIKEM dapat digambarkan sebagai berikut:[1]
1.      Siswa yang terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan menekan pada belajar melalui berbuat 
     2.      Guru menggunakan berbagai macam alat bantu dan berbagai macam cara dalam membangkitkan semangat, termaksud menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan dan cocok bagi siswa 
     3.      Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan “pojok bacaan)
    4.      Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif termaksud cara belajar kelompok
      5.      Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri  dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswadalam menciptakan lingkungan sekolahnya. PAIKEM diperhatikan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama KBM. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut.
Pembelajaran Aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan merupakan salah satu pembelajaran yang ideal karena dengan menggunakan model pembelajaran PAIKEM, siswa dapat mendapatkan ide-ide sendiri  dalam proses pembelajaran dengan pendekatan dilingkungan sekitar mereka.
     1.      Pembelajaran Aktif
Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, konsep pembelajaran aktif bukanlah tujuan dari kegiatan pembelajaran tetapi merupakan salah satu strategi yang digunakan untuk menoptimalkan proses pembelajaran.[2]Aktif dalam strategi ini adalah memposisikan guru sebagai orang yang menciptakan suasana belajar yang kondusif atau sebagai fasilitator dalam belajar, sementara siswa sebagai peserta belajar yang harus aktif. Dalam proses pembelajaran yang aktif, terjadi dialog interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan sumber belajar lainnya.
Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad Pembelajaran aktif adalah pada saat peserta didik aktif, terlibat dan peduli akan pendidikan mereka sendiri.[3] La Iru dan La Ode Safiun Arihi, pengembangan pembelajaran ini  menganggap bahwa belajar merupakan proses aktif merangkai pemahaman untuk memperoleh pemahaman baru.[4]Teori belajar kontruktifisme merupakan titik berangkat pembelajaran ini. Sedangkan menurut Agus N. Cahyo, belajar aktif merupakan strategi belajar yang diartikan sebagai proses belajar belajar mengajar yang mengunakan berbagai metode yang melibatkan pada keaktifan siswa dan melibatkan berbagai potensi siswa baik yang bersifat fisik, mental, emosional maupun intelektual untuk mencapai tujuan pendidikan yang berhubungan dengan wawasan kognitif, afektif, dan psikomotor secara optimal.[5]
Model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran aktif yaitu:
a.       Metode Pembelajaran dengan Audio Visuals
Metode pembelajaran yang menggunakan audio visual dapat memberikan dimensi lain pada pembelajaran dan selain itu materi tersebut efektif menjangkau pembelajar dengan gaya belajar yang berbeda-beda.
b.      Metode Curah Pendapat
Metode curah pendapat juga digunakan dalam strategi pembelajaran yang aktif. Metode ini sangat efektif untuk mengetahui apa yang telah diketahui oleh siswa.
c.       Metode Studi Kasus
Metode studi kasus ini dengan memanfaatkan situasi atau kasus yang dapat memberikan siswa pembelajaran bermakna dan bermanfaat.
d.      Metode Demonstrasi
Metode ini bersentuhan dengan bagaimana siswa memperagakan sesuatu.
e.       Metode Penemuan
Metode penemuan ini merupakan strategi pembeajaran di mana siswa didorong untuk menemukan sendiri pengetahuan atau konsep baru. 

f.       Metode Jigsaw
Metode jigsaw`adalah metode yang menghendaki siswa belajar melalui kelompok. Metode ini mendorong kerja sama dalam kelompok.
g.      Metode Kegiatan Lapangan
Metode ini berusaha menelusuri dan menginvestigasi masalah tertentu dilapangan.
h.      Metode Ceramah
Metode ini menghendaki siswa harus mendapat informasi yang sama dalam jumlah yang banyak.
i.        Metode Diskusi Kelompok
Metode yang menghendaki agar siswa dan guru serta siswa dengan siswa lainnya terjadi interaksi dan saling tukar pengalaman dan informasi dalam memecahkan masalah.
j.        Metode Pembicara Tamu
Metode ini menghendaki untuk mendapatkan informasi lain di luar konteks yang telah disiapkan guru. Pembicara tamu biasanya sudah siap dengan berbagai pengalaman yang pernah dia peroleh.
k.      Metode Tulis Berantai
Metode ini ditujukan untuk mendapatkan informasi yang terstruktur dari sumber yang berbeda.
l.        Metode Debat
Metode ini dirancang untuk memecahkan masalah dari sudut pandang yang berbeda, biasanya menghadirkan beberapa ahli.
m.    Metode Bermain Peran
Metode ini sengaja dirancang untuk memecahkan masalah yang diawali kasus, lalu ada yang berperan sesuai kasus untuk menyelesaikan masalah tersebut.


n.      Metode Simulasi
Metode ini untuk bertindak atau mencoba suatu kondisi yang sebenarnya akan terjadi atau dilakukan.
o.      Metode Tugas Proyek
Ini digunakan untuk mengetahui suatu kondisi tertentu dan langsung terjun ke lapangan.
p.      Metode Presentasi
Ini menjadikan siswa berusaha memberikan gambaran umum tentang sesuatu yang mereka telah bahas.
q.      Metode Penilaian Sejawat
Metode ini merupakan kegiatan untuk saling memberikan penghargaan dan masukan atas hasil karya teman sendiri.
r.        Metode Bola Salju
Ini memberikan kesempatan individu untuk berpendapat, kemudian dipadukan secara berpasangan, kelompok, dan mendapatkan pandangan dari seluruh siswa.
s.       Metode Kunjung Karya
Metode ini mendorong siswa mengetahui apa yang telah dikerjakan temannya.
          2.      Pembelajaran Inovatif
Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, pembelajaran inovatif adalah suatu proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga berbeda dengan pembelajaran pada umumnya yang dilakukan oleh guru. Pembelajaran inivatif ini lebih mengarah kepada siswa.[6] Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, pembelajaran inovatif juga merupakan pembelajaran yang mendorong aktifitas belajar. [7]Maksud inovatif disini adalah dalam kegiatan pembelajaran itu terjadi hal-hal yang baru, bukan saja oleh guru sebagai fasilitator belajar tetapi juga oleh siswa yang sedang belajar. Dalam pembelajaran yang inovatif ini guru tidak hanya tergantung pada materi pembelajaran yang ada pada buku tetapi dapat menimplementasikan hal-hal baru yang sangat cocok dan relefan dengan masalah yang sedang dipelajari oleh siswa. Demikian pula siswa, melalui aktifitas belajar inovatif ini, siswa dapat menemukan caranya sendiri untuk memperdalam hal-hal yang mereka pelajari.
Inovatif adalah pembaharuan yang dibutuhkan bagi dinamisasi segala aspek termasuk dalam hal pembelajaran. Inovasi adalah merupakan proses kreatif dalam mengubah infut, proses, dan output agar berhasil dalam menanggapi dan mengantifitasi perubahan-perubahan ekstrernal dan internal sekolah.[8]
Melalui model pembelajaran inovatif,  peserta didik harus terbebas dari perasaan bosan, malas, ketaakutan akan kegagalan ataau perasaan tertekan dikarenakan tenggat waktu. Salah satu contoh pebelajaran inovatif adalah pembelaajaran yang dapat merangsang daya kreatif siswa.
Dengan demikian inovatif berarti memiliki kecendrungan untuk melakukan pembaharuan dalam arti perbaaikan dan pengembangan dalam kegiatan pembelajaran. pembelajaran inovatif merupakan pembelajaran yang memberikan kesempaatan kepada anak didik untuk mengembangkan ide-ide/gagasan-gagasan baru untk perbaaikan atau pengembangan kegiataan pembelajaran dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran.[9]
           3.      Pembelajaran Kreatif
La Iru dan La Ode Safiun Arihi, pembelajaran PAIKEM juga dirancang untuk mampu mengembangkan kreatifitas.pendidik haruslah memberi ruang yang cukup bagi prakarsa, inisiatif, dan kreatifitas serta kemandirian siswa sesuai dengan bakat minat dan pengembangan fisik serta psikologisnya.[10]Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, pembelajaran kreatif adalah salah satu pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa.[11]
Pembelajaran kreatif merupakan pengembangan pola mental yang baru. Hal-hal yang bersifat rasional dapat membuka pikiran dan membimbing mental guna memungkinkan ide-ide yang baru. Gordon juga mengatakan bahwa ide-ide yang bermakna dapat meningkatkan aktifitas kreatif melalui bantuan daya fikir yang lebih kaya.[12]
Pembelajaran kreatif ini pada dasarnya mengembangkan belahan otak kanan yang dalam teori Hemosfir disebut bahwa belahan otak anak terdiri dari belahan kiri dan belahan kanan. Belahan kiri sifatnya konvergen dengan ciri utamanya berpikir linear dan teratur , sementara belahan otak kanan sifatnya diferegen dengan ciri utamanya berpikir konstruktif, kreatif dan holistik atau bisa dilihat lebih jelas perbedaannya dalam Ipho Santosa.[13]
Perbedaan Otak Kiri dan Otak Kanan
Otak Kiri
Otak Kanan
Rasional, terkait IQ
Emosional, terkait EQ
Kognitif, logis
Afektif, intuitif
Realistis, analisis
Imajinatif, artistik
Kuantitatif, aritmatik
Kualitatif, spasial
Serial, linier
Paralel, lateral
Terencana, kausal
Tak terencana, impulsdif
Segmental, fokus
Holistik, difus
Verbal, eksplisit
Visual, implisit
Intrapersonal, self-centric
Interpersonal, other-centric
Motorik kanan
Motorik kiri

Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, mengemukakan kreativitas adalah:[14]
a.        Kretif sering digambarkan dengan kemampuan berpikir kritis dan banyak ide dan gagasan
b.       Orang kreatif melihat hal yang sama, tetapi melalui cara berpikir yang beda.
c.        Kemampuan menggambungkan sesuatu yang belum perna tergabung sebelumnya.
d.       Kemampuan untuk menemukan atau mendapatkan ide dan pemecahan baru.
Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, hasil penelitian para pakar psikologi pendidikan dan ahli-ahli instruksional menemukan bahwa belahan otak kanan anak belum banyak dilibatkan dalam proses pembelajaran.[15]Kurikulum di Indonesia belum menyentuh bagaimana menggali potensi siswa dalam proses pembelajaran. Pembelajaran banyak bersifat kontruktif dengan menekankan pada garapan domain kognitif. Hal ini dapat terlihat dari sistem pendidikan kita yang masi banyak menggunakan hafalan dan ukuran keberhasilan siswa ditentukan bagaimana kemampuan siswa menentukan jawaban atau memilih pilihan jawaban yang paling objektif dari masalah yang dihadapkan pada siswa. Sementara domain menciptakan sesuatusetelah belajar belum menjadi tujuan pembelajaran. Dengan demikian pembelajaran kreatif menghedaki guru harus kreatif, dan siswa dapat mengembangkan kreatifitasnya.
4.      Pembelajaran Efektif
Menurut Yusuf Hadi Miarso(1993) dalam Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang dapat menghasilkan belajar yang bermanfaat dan terfokus pada siswa melalui penggunaan prosedur penggunaan yang tepat.[16]Definisi ini mengandung arti bahwa pembelajaran yang efektif terdapat dua hal penting yaitu terjadinya belajar pada siswa dan apa yang dilakukan guru untuk mebelajarkan siswanya. Menurut Wotruba dan Wright (1985) dalam Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, mengidentifikasih 7 indikator yang dapat menunjukan pembelajaran yang efektif yaitu:[17]
a.   Pengorganisasian materi yang baik
Pengorganisasian adalah bagaimana cara mengurutkan materi yang akan disampaiokan secara logis dan teratur, sehingga dapat dilihat kaitan antara topik yang satu dan topik yang lainnya selama pertemuan berlangsung. Pengorganisasian materi terdiri dari:
                                      i.      Perincian materi
                                    ii.      Urutan materi dari yang mudah ke yang sukar
                                  iii.      Kaitannya dengan tujuan.
b.  Komunikasi yang efektif
Komunikasi yang efektif dalam pembelajaran mencakup penyajian yang jelas, kelancaran berbicara, interprestasi gagasan abstrak dengan contoh-contoh, kemudian wicara yang baik (nada, intonasi, ekspresi), dan kemampuan untuk mendengar
c.   Penguasaan dan antusiasme terhadap materi pelajaran
Seorang guru harus mampu menghubungkan materi yang diajarkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki para siswanya, mampu mengaitkan materi dengan pengembangan yang sedang terjadi sehingga proses belajar mengajar menjadi “hidup”. Hal yang tatkalah pentingnya adalah seorang guru harus dapat mengambil manfaat dari hasil penelitian yang relevan untuk dikembangkan sebagai bagian dari materi pembelajaran.
d.  Sikap positif terhadap siswa
Sikap positif terhadap siswa dapat dicerminkan dalam beberapa cara, antara lain:
1)      Apakah guru memberi bantuan, jika siswanya mengalami kesulitan dalam memahami materi yang di berikan?
2)      Apakah guru mendorong para siswanya untuk mengajukan pertanyaan atau memberi tanggapan?
3)      Apakah guru menyadari dan peduli apa yang dipelajari oleh siswanya diluar jam pelajaran?
4)      Apakah guru menyadari dan peduli dengan apa yang dipelajari siswanya?
e.   Pemberian nilai yang adil
Keadilan dalam pemberian nilai tercermin dari adanya:
1)      Kesesuaiaan soal tes dengan materi yang diajarkan merupakan salah satu mengukur tolak keadilan.
2)      Sikap konsisten terhadap pencapaian tujuan pembelajaran
3)      Usaha yang dilakukan siswa untuk mencapai tujuan
4)      Kejujuran siswa dalam memperoleh nilai
5)      Pemberian umpan balik terhadap hasil pekerjaan siswa
f.   Keluwesan dalam pendekatan pembelajaran
Pendekatan pembelajaran yang berfariasi merupakan salah satu petunjuk adanya semangat dalam mengajar. Kegiatan pembelajaran seharusnya ditentukan berdasarkan karasteristik siswa, karasteristik mata pelajaran, dan hambatan yang dihadapi. Karena karasteristik yang berbeda, kendala yang berbeda menghendaki pendekatan yang berbeda pula.

g.  Hasil belajar siswa yang baik
Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar adalah dengan menetapkan indikator (petunjuk adanya perstasi tertentu) dikaitkan dengan prestasi yang akan diukur. Contohnya untuk mengetahui seberapa jauh siswa dapat menerapkan hidup tentang pola sehat, dapat dilihat dari indikator dengan melihat siswa dapat memberikan contoh dari kebiasaan hidup sehat.
Proses pelaksanaan pembelajaran efektif dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:[18]
a.       Melakukan appersepsi
b.      Melakukan konsolidasi pembelajaran, yaitu mengaktifkan siswa dalam pembentukan kompetensi dalam mengaitkannya dengan kehidupan siswa.
c.       Melakukan penilaian, yaitu mengumpulkan fakta-fakta dan data atau dokumen belajar siswa menciptakan pembelajaran yang efektif, guru juga harue memperhatikan beberapa hal, yaitu:
1)      Pengolahan tempat belajar.
2)      Pengelolaan siswa.
3)      Pengelolaan kegiatan pembelajaran.
4)      Pengelolaan konten atau materi pembelajaran.
5)      Pengelolaan media dan sumber belajar.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran efektif adalah cara terbaik melakukan pekerjaan dengan pengetahuan baru setelah dia melakukan pembelajaran. Dengan kata lain penggunaan metode pembelajaran efektif ini diarahkan untuk mencapai sasaran tertentu. Yaitu lebih banyak menekankan pembelajaran melalui proses.[19]
Pelaksanaan pembelajaran efektif juga dapat meningkatkan kemampuan siswa yang diharapkan sesuai dengan tujuan intruksional yang ingin dicapai. Untuk itu untuk meningkatkan cara belajar yang efektif perlu memperhatikan beberapa hal beikut ini:
a.       Kondisi internal
        Yang dimaksud kondisi internal yaitu kondisi yang ada di dalan diri siswa itu sendiri, misalnya kesehatannya, keagamaannya, ketentramannya, siswa dapat belajar dengan baik apabila kebutuhan-kebutuhan internalnya terpenuhi.
b.    Kondisi eksternal
Yang dimaksud dengan kondisi eksternal adalah kondisi yang ada diluar diri pribadi manusia, umpamanya kebersihan rumah, penerangan, serta keadaan lingkungan, serta lingkungan fisik yang lain.[20]   
           5.      Pembelajaran Menyenangkan
La Iru dan La Ode Safiun Arihi, pembelajaran yang dilaksanakan harus dilakukan dengan tetap memperhatikan suasana belajar yang menyenangkan.hal ini penting karena belajar akan efektif jika pembelajarannya menyenangkan.[21] Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, pembelajaran yang menyenangkan tentu tidak akan berjalan hampa tanpa dibarengi dengan penyiapan suasana pembelajaran yang mendorong siswa akan memperdalam apa yang dia pelajari. Dalam kaitan ini guru yang baik, sebagaimana disebutkan bahwa peran guru sekarang inisangat efektif jika guru memposisikan dirinya sebagai fasilitator belajar. Artinya guru menyediakan situasi atau suasana agar pembelajaran itu berjalan dengan baik. Dalam kaitan ini, hal yang oerlu disampaikan guru adalah:
                            i.      Media pembelajaran disampaikan dengan baik
                          ii.      Lingkungan belajar diseting sesuai objek materi yang dipelajari
                        iii.      Metode pembelajaran yang digunakan sesuai dengan karasteristik
                        iv.      Siswa diperlukan sebagai seorang yang perlu dilayani.[22]
C.      Prinsip-prinsip Pembelajaran PAIKEM dalam Pembelajaran
Beberapa prinsip yang harus diperhatikan ketika pendidik menerapkan PAIKEM adalah sebagai berikut:[23]
1.         Memahami Peserta didik
Pada dasarnya peserta didik memiliki rasa ingin tahu dan berimajinasi, kedua sifat ini merupakan modal bagi berkembangnya sikap berfikir kritis dan kreatif. Maka pembelajaran harus dirancang untuk mengembangakn kedua sifat tersebut.
2.         Mengenal Peserta Didik secara Perorangan
Peserta didik berasal dari latar belakang dan kemampuan yang berbeda-beda. Perbedaan individu harus diperhatikan dan harus tercermin dalam pembelajaran. Peserta didik yang mempunyai kemampuan lebih dapat membantu teman yang lemah.
3.         MemanfaatkanPerilaku Peserta Didik dalam Pengorganisasian
Peserta didik secara alami bermain secara berpasangan atau berkelompok. Hal ini bisa digunakan guru dalam pengorganisasian kelas. Dengan ini akan memudahkan mereka untuk berinteraksi atau bertukar pikiran.
4.         MengembangkanKemampuan Berfikir Kritis dan Kreatif serta mampu Memecahkan Masalah
Pada dasarnya hidup adalah memecahkan masalah, untuk itu peserta didik perlu dibekali kemampuan berfikir kritis dan kreatif untuk menganalisis masalah.
5.         MenciptakanRuangan Kelas Sebagai Lingkungan Belajar
Ruangan kelas yang menarik sangat disarankan dalam PAIKEM. Hasil pekerjaan peserta didik harus dipajang di dalam kelas, karena dapat memotivasi peserta didik untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi peserta didik lainnya. Selain itu pajangan itu bisa dijadikan bahan ketika membahas materi pelajaran lain.
6.         MemanfaatkanLingkungan sebagai Lingkungan Belajar
Lingkungan merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar peserta didik. Lingkungan dapat berfungsi sebagai media belajar serta objek belajar peserta didik
7.         MemberikanUmpan Balik Yang baik Untuk Meningkatkan Kegiatan
Pemberian umpan balik dari guru kepada peserta didik merupakan suatu interaksi antara guru dan peserta didik. Umpan balik hendaknya lebih mengungkapkan kekuatan dan kelebihan peserta didik dari pada kelemahannya.
8.         Membedakanantara Aktif Fisik dengan Aktif Mental
Dalam pembelajaran PAIKEM, aktif secara mental diinginkan dari pada aktif fisik. Karena itu aktifitas sering bertanya mempertanyakan gagasan orang lain, mengemukakan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental.
Berikut ini dikemukakan prinsip-prinsip pembelajaran PAIKEM, yaitu:
          1.      Mengalami
Peserta didik terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun emosional. Melalui pengalaman langsung pembelajaran akan lebih memberi makna kepada siswa daripada hanya mendengarkan. Misalnya pada mata pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga, supaya siswa dapat mengetahui tentang bagaimana melakukan servedalam permainan bola voli, maka guru memberikan kesempatan kepada siswanya untuk melakukan serve bola.    
            2.      Komunikasi
Kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya komunikasi antara guru dan peserta didik. Proses komunikasi yang baik adalah proses komunikasi dimana antara unsur komunikator dan komunikan terdapat satu arah yang sama.
           3.      Interaksi
Kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya interaksi multi arah. Interaksi multi arah yang diharapkan terjadi adalah interaksi transaksional, dimana proses komunikasi antara guru dengan siswa, siswa antara guru, siswa dengan siswa, bahkan siswa dengan lingkungan sekitar memiliki kesiapan yang cukup baik.
4.      Refleksi
Kegiatan pembelajaran memungkinkan peserta didik memikirkan kembali apa yang telah dilakukan. Proses refleksi sangat perlu dilakukan untuk mengetahui sejauh mana ketercapaian proses pembelajaran. Kegiatan refleksi ini dilakukan secara bersama antara guru dengan siswa.[24]
D.      Skenario Pembelajaran (PAIKEM)
              1.      Landasan Teoritis Strategi Pembelajaran PAIKEM
Berlangsungnya proses pembelajaran tidak terlepas dengan lingkungan sekitar. Sesungguhnya pembelajaran tidak terbatas pada empat dinding kelas. Pembelajaran dengan pendekatan lingkungan menghapus kejenuhan dan menciptakan peserta didik yang cinta lingkungan.
Berdasarkan teori belajar, melalui pendekatan lingkungan pembelajaran menjadi bermakna. Sikap verbalisme siswa terhadap penguasaan konsep dapat diminimalkan dan pemahaman siswa akan membekas dalam ingatannya. Konsep-konsep sains dan lingkungan sekitar siswa dapat dengan mudah dikuasai siswa melalui pengamatan pada situasi yang konkret.[25]
Manfaat keberhasilan pembelajaran akan terasa manakala apa yang diperoleh dari pembelajaran dapat diaplikasikan dan diimplementasikan dalam realitas kehidupan. Inilah salah satu sisi positif yang melatarbelakangi pembelajaran dengan pendekatan lingkungan.
Empat pilar pendidikan, yakni learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to be (belajar untuk menjadi jati dirinya), learning to do (belajar untuk mengerjakan sesuatu) dan learning to life together (belajar untuk bekerja sama) dapat diwujudkan melalui proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran yang dikemas efektif untuk pencapaian kompetensi yang diharapkan. Untuk itu, menjadi tugas guru untuk merancang pembelajaran sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan kompetensi siswa secara optimal.
         2.      Skenario Pembelajaran PAIKEM
Secara garis besar, penerapan strategi pembelajaran PAIKEM dapat dilakukan antara lain sebagai berikut:
a.        Guru berusaha untuk membangkitkan semangat dengan menggunakan berbagai alat bantu. Misalnya, menggunakan lingkungan sebagai salah satu sumber belajar yang dapat diolah sedemikian rupa sehingga dapat memberikan suasana pembelajaran lebih menarik, menyenangkan, dan sesuai dengan kompetensi siswa yang ingin dicapai;
b.       Guru mengatur kelas sedemikian rupa agar lebih kondusif untuk situasi pembelajaran dan membuat siswa merasa betah di kelasnya. Misalnya, dengan memajang buku-buku dan bahan belajar menarik. Juga menyediakan  pojok baca. Guru juga bisa memajang hasil-hasil karya anak didiknya di seluruh penjuru kelas. Sehingga siswa dapat merasa bangga, karyanya bisa diapresiasi oleh teman-temannya;
c.        Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif. Contohnya melalui belajar kelompok atau memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya;
d.       Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, mengemukakan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menata lingkungan belajarnya.
          3.      Teknik Pelaksanaan Strategi PAIKEM
Berikut ini adalah contoh beberapa kegiatan yan dapat dilakukan oleh guru dalam pelaksanaan strategi PAIKEM:
Kemampuan Guru
Pembelajaran
Guru menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam.
Sesuai mata pelajarannya, guru dapat menggunakan beragam alat bantu belajar/media pembelajaran, misalnya:
·     Gambar;
   ·  Lingkungan;
   ·  Alat peraga dll.
Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan.
Guru mengajak diskusi;
Guru melontarkan pertanyaan –pertanyaan yang memancing jawaban siswa;
·  Guru memberikan kepercayaan kepada siswa untuk memaparkan gagasannya kepada teman- teman kelasnya dll.
Guru menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa.
·  Guru mengelompokkan siswa sesuai dengan kriteria tertentu, kemudian memberikan bahan pelajaran yang sesuai dengan anggota-anggota kelompok tersebut;
·  Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki nilai/kemampuannya melalui tugas tambahan/pengayaan.
Guru mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman siswa sehari-hari.
·  Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menceritakan pengalamannya sehari-hari;
·  Guru memberikan contoh aplikasi nyata dalam kehidupan sehari- hari dari materi pelajaran yang sedang diterangkan.
Guru menilai pembelajaran dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus.
·  Guru memantau dan megevaluasi kinerja siswa;
·  Guru memberikan bimbingan, nasihat, motivasi dan saran- saran kepada siswa untuk dapat meningkatkan prestasinya.

         4.      Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pelaksanaan Strategi PAIKEM
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru agar strategi PAIKEM dapat dilaksanakan dengan baik. Hal-hal tersebut adalah :
a.        Memahami sifat yang dimiliki anak
Ada dua sifat yang mendasar yang pasti dimiliki oleh setiap anak dimanapun, yaitu kesukaan berimajinasi dan rasa ingin tahu yang besar. Guru bisa menggunakan berbagai cara yang (tentunya) dapat membuat siswa senang/merasa dihargai, seperti memuji hasil karyanya, mengajukan pertanyaaan yang menantang, atau mendorong siswa untuk melakukan percobaan.
b.       Mengenal anak secara perorangan
Setiap siswa pasti memiliki karakteristik yang berbeda. Ada siswa yang memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap materi pelajaran, ada juga siswa yang agak lambat dalam menyerap materi pelajaran. Dengan mengenal kekurangan dan kelebihan dari tiap siswa didiknya, guru bisa merumuskan perlakuan khusus yang harus diberikan kepada setiap siswa. Misalnya, siswa yang memiliki kemampuan lebih bisa diarahkan untuk membantu temannya yang memiliki kemampuan kurang dalam belajarnya.
c.        Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisaian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran.
d.       Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
Untuk memancing siswa agar mengeluarkan daya nalarnya, guru bisa melontarkan pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban terbuka, semisal “Apa yang terjadi bila tanaman tidak mendapat sinar  matahari ?” atau “Apa yang terjadi di saat gerhana matahari ?”. Pertanyaan-pertanyaan terbuka semacam itu akan memicu siswa untuk berpikir kritis dan kreatif demi menemukan pemecahan masalah.
e.        Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Ruangan kelas sebagai lingkungan utama tempat berlangsungnya pembelajaran, merupakan salah satu aspek yang harus mendapat perhatian lebih dalam strategi PAIKEM. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah memajang karya-karya siswa. Selain hasil-hasil karya siswa, dinding kelas juga bisa ditempeli oleh beragam media pembelajaran, seperti poster, diagram, peta, alat peraga dll. Benda-benda tersebut sekaligus dapat dijadikan rujukan saat kegiatan pembelajaran.
f.         Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Salah satu sumber belajar yang sangat kaya bagi kegiatan pembelajaran peserta didik adalah lingkungan. Contohnya, siswa diajak mengamati pertumbuhan tanaman di taman atau kebun sekolah. Namun, demi efektifitas waktu dan biaya, tidak selamanya siswa diajak ke lingkungan untuk belajar. Guru bisa mengambil salah satu bagian dari lingkungan belajar ke dalam kelas, contohnya membawa contoh tanaman ke dalam ruang kelas atau membawa foto/gambar dari lingkungan belajar ke dalam kelas.
g.        Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Catatan dan komentar yang berkaitan dengan pekerjaan siswa jauh lebih bermakna daripada sekedar angka-angka.

h.       Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental
Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah cirri yang sebenarnya dari PAIKEM. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengemukakan merupakan tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Peran guru dalam hal ini guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datan dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan aspek Menyenangkan dari strategi PAIKEM.[26]


 
DAFTAR PUSTAKA


Endang Mulyatininsih, Model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, Depok: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, 2010.
Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad. Belajar Dengan Pendekatan PAILKEM. Jajarta: PT. Bumi Aksara, 2011.
La Iru, dan La Ode Safiun Arihi. Analisis Penerapan Pendekatan, Metode, Strategi dan Model-model Pembelajaran. Bantul: Multi Presindo, 2012.
Agus N. Cahyo. Panduan Aplikasi Teori-teori Belajar Mengajar Teraktual dan Terpopuler. Jogjakarta: DIVA Press, 2012.
Jamal Makmur Asmanji, Micro Teching, Jakarta: Bumi Aksara, 2010.
Saleh Muntasir, Pengajaran Terprogram, Jakarta: Rajawali, 1985.
M.D. Dahlan, Model-model mengajar,Bandung: Ponegoro, 1990.
Ipho Santosa 7 Keajaiban Rezeki. Jakarta: PT Alex Media Komputindo, 2010.
Rusman, Model- model Pengembangan Profesionalisme Guru,Jakarta: Raja Grapindo Persada, 2010.
Asra Sumiati, Metode Pembelajaran, Bandung: CV. Wacana Prima, 2008), hlm.40.
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2003.
Wahid murni, dkk, Keterampilan Dasar Mengajar, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2010.
Masitoh dan Laksmi Dewi, Strategi Pembelajaran, Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama RI, 2009.
Media Edukasi, 2011, (http://www.m-edukasi.web.id/2011/12/konsep-pembelajaran-paikem.html) diakses pada 2 Mei 2016 pukul 15.44 WIB



[1]Endang Mulyatininsih, Model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, (Depok: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, 2010), hlm. 4
[2] Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad. Belajar Dengan Pendekatan PAILKEM. (Jajarta: PT. Bumi Aksara, 2011), hlm. 10.
[3] Ibid., hlm. 178.
[4] La Iru, dan La Ode Safiun Arihi. Analisis Penerapan Pendekatan, Metode, Strategi dan Model-model Pembelajaran. (Bantul: Multi Presindo, 2012), hlm. 98-99
[5] Agus N. Cahyo. Panduan Aplikasi Teori-teori Belajar Mengajar Teraktual dan Terpopuler. (Jogjakarta: DIVA Press, 2012), hlm. 137.
[6] Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, Op.cit.,hlm. 106.
[7] Ibid.,hlm. 11.
[8]Jamal Makmur Asmanji, Micro Teching, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hlm. 76-77.
[9]Saleh Muntasir, Pengajaran Terprogram, (Jakarta: Rajawali, 1985), hlm. 17.
[10] La Iru dan La Ode Safiun Arihi, op.cit.,hlm. 99.
[11] Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, Op.cit.,hlm. 12-13.
[12]M.D. Dahlan, Model-model mengajar,(Bandung: Ponegoro, 1990), hlm.85
[13]Ipho Santosa 7 Keajaiban Rezeki. (Jakarta: PT Alex Media Komputindo, 2010), hlm. 12.
[14] Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, Op.cit.,hlm. 154
[15] Ibid.,hlm. 13.
[16] Ibid.,hlm. 173-174.
[17] Ibid.,hlm. 174-190.
[18]Rusman, Model- model Pengembangan Profesionalisme Guru, (Jakarta: Raja Grapindo Persada, 2010), hlm 324.
[19]Asra Sumiati, Metode Pembelajaran, (Bandung: CV. Wacana Prima, 2008), hlm.40.
[20]Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2003), hlm.76.
[21] La Iru dan La Ode Safiun Arihi, op.cit.,hlm. 100.
[22] Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, op.cit.,hlm.  19.
[23]Wahid murni, dkk, Keterampilan Dasar Mengajar, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), hlm., 108-113
[24]Masitoh dan Laksmi Dewi, Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama RI, 2009), hlm. 259
[25]Media Edukasi, 2011, (http://www.m-edukasi.web.id/2011/12/konsep-pembelajaran-paikem.html) diakses pada 2 Mei 2016 pukul 15.44 WIB
[26] Masitoh dan Laksmi Dewi, Op.Cit,  hlm. 270-275

📢 Bagikan Postingan Ini

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman atau media sosial Anda.

Facebook WhatsApp Twitter Telegram Copy Link

🤝 Butuh Bantuan atau Dokumen Lain?

Terima kasih telah berkunjung ke blog KhairalBlog21. Jika Anda membutuhkan makalah, format surat resmi, administrasi sekolah, atau dokumen lain yang belum tersedia di blog ini, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak. Kami juga menerima request untuk pembuatan dokumen sesuai kebutuhan Anda.

Jangan ragu untuk memberikan saran dan masukan agar blog ini bisa lebih bermanfaat untuk semua. Klik tombol di bawah ini untuk langsung menghubungi kami via WhatsApp:

Kami siap membantu menyediakan dokumen pendidikan dan administrasi sesuai kebutuhan Anda 📚✍️


No comments:

💬 Tinggalkan Komentar Anda

Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️

Featured Post

CONTOH DAN DONWLOAD SURAT LAMARAN SEBAGAI SPG

Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) , tentunya diperlukan sebuah surat lamaran kerja yang baik dan b...