A. Pendahuluan
Pendidikan Islam sesungguhnya telah tumbuh dan berkembang sejalan dengan adanya dakwah Islam yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Berkaitan dengan itu pula pendidikan Islam memiliki corak dan karakteristik yang berbeda sejalan dengan upaya pembaharuan yang dilakukan secara terus menerus pasca generasi Nabi, sehingga dalam perjalanan selanjutnya pendidikan Islam terus mengalami perubahan, baik dari segi kurikulum (mata pelajaran) , maupun dari segi lembaga pendidikan Islam. Timbulnya pembaharuan pendidikan Islam baik dalam bidang agama, sosial, dan pendidikan diawali dan dilatar belakangi oleh pemikiran Islam yang timbul di belahan dunia Islam lainnya, terutama diawali oleh pembaharuan pemikiran islam yang timbul di Mesir, Turki, dan India. Latar belakang pembaharuan yang timbul di Mesir di mulai sejak kedatangan Napoleon ke Mesir. Dalam makalah ini penulis mempokuskan pada India dan Mesir.
B. Pola-Pola Pembaharuan Pendidikan Islam
Dengan memperhatikan berbagai macam sebab kelemahan dan kemunduran umat Islam sebagaimana nampak pada masa sebelumnya, dan dengan memperhatikan sebab-sebab kemajuan dan kekuatan yang dialami oleh bangsa-bangsa Eropa, maka pada garis besarnya terjadi tiga pola pemikiran pembaharuan pendidikan Islam. Ketiga pola tersebut adalah:
1. Pola pembaharuan pendidikan Islam yang berorientasi kepada pola pendidikan modern di Eropa.
Pola pendidikan modern di Barat pada dasarnya berpandangan bahwa sumber kekuatan dan kesejahteraan hidup yang dialami oleh Barat adalah sebagai hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Dimana semua itu merupakan pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang berkembang di dunia Islam. Atas dasar demikian, maka untuk mengembalikan kekuatan dan kejayaan umat Islam, sumber kekuatan dan kesejahteraan tersebut harus dikuasai kembali.
Dan penguasaan ini harus dicapai melalui proses pendidikan yang meniru pola pendidikan yang dikembangkan oleh dunia Barat, sebagaimana dulu dunia Barat pernah meniru dan mengembangkan sistem pendidikan dunia Islam. Dalam hal ini, usaha pembaharuan pendidikan Islam adalah dengan jalan mendirikan sekolah-sekolah dengan sekolah Barat baik sistem maupun isi pendidikannya.[1] Pembaharuan pendidikan dengan pola Barat ini, mulanya timbul di Turki Utsmani pada akhir abad ke-11 H/ 17 setelah mengalami kalah perang dengan berbagai negara Eropa timur, yang merupakan benih bagi timbulnya usaha sekularisasi Turki dan membentuk Turki modern. Tokoh pelopor pembaharuan pendidikan di Turki ini adalah Sultan Mahmud II (yang memerintah di Turki Utsmani 1807-1809 M). Pola pembaharuan pendidikan yang berorientasi ke Barat ini, juga nampak dalam usaha Muhammad Ali Pasha di Mesir yang berkuasa tahun 1805-1848 M.
2. Pola pembaharuan pendidikan Islam yang berorientasi pada sumber ajaran Islam yang murni.
Pola ini berpandangan bahwa sesungguhnya Islam sendiri merupakan sumber bagi kemajuan dan perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan modern. Dimana Islam sendiri sudah penuh dengan ajaran-ajaran yang pada hakikatnya mengandung potensi untuk membawa kemajuan dan kesejahteraan serta kekuatan umat Islam.
Menurut pola ini, diantara sebab-sebab kelemahan umat Islam adalah karena mereka tidak lagi melaksanakan ajaran Islam secara semestinya. Ajaran-ajaran Islam yang menjadi sumber kemajuan dan kekuatan ditinggalkan dan menerima ajaran-ajaran Islam yang tidak murni lagi. Pola pembaharuan ini dirintis oleh Muhammad bin Abdul Wahab, kemudian dicanangkan kembali oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh (akhir abad 19 M). [2] 3. Pola pembaharuan pendidikan Islam yang berorientasi pada nasionalisme.
Rasa nasionalisme timbul bersamaan dengan berkembangnya pola kehidupan modern dan mulai dari Barat. Bangsa-bangsa Barat mengalami kemajuan rasa nasionalisme yang kemudian keadaan tersebut mendorong pada umumnya bangsa-bangsa Timur untuk mengembangkan nasionalisme masing-masing.
Umat Islam mendapati kenyataan bahwa mereka terdiri dari berbagi bangsa yang berbeda latar belakang dan sejarah perkembangan kebudayaannya. Mereka pun hidup bersama dengan orang-orang yang beragama lain tapi sebangsa. Inilah yang mendorong perkembangan rasa nasionalisme di dunia Islam.
Ide pembaharuan yang berorientasi pada nasionalisme ini bersesuaian dengan ajaran Islam karena adanya keyakinan dikalangan pemikir-pemikir pembaharuan dikalangan umat Islam, bahwa pada hakikatnya ajaran Islam bisa diterapkan dan disesuaikan dengan segala zaman.
Golongan nasionalis ini berusaha untuk memperbaiki kehidupan umat Islam dengan memperhatikan situasi dan kondisi obyektif umat Islam yang bersangkutan. Dan ide nasionalisme inilah yang pada perkembangan berikutnya mendorong timbulnya usaha-usaha untuk merebut kemerdekaan dan mendirikan pemerintahan sendiri dikalangan bangsa-bangsa umat Islam. [3]
C. Ciri-Ciri Pendidikan Islam Pada Massa Pembaharuan
Ada beberapa indikasi pendidikan Islam sebelum dimasuki oleh ode-ide pembaharuan :
1. Pendidikan yang bersifat nonklasikal. Pendidikan ini tidak dibatasi atau ditentukan lamanya belajar seseorang berdasarkan tahun.
2. Mata pelajaran adalah semata-mata pelajaran agama yang bersumber dari kitab-kitab klasik.
3. Metode yang digunakan ialah metode sorogan, wetonan, hafalan, dan muzakarah.
4. Tidak mementingkan ijazah sebgai bukti yang bersangkutan telah menyelesaikan pelajarannya.
5. Tradisi kehidupan pesantren amat dominan di kalangan santri dan kiai.
Dari berbagai uraian terdahulu dapat dikemukakan beberapa indikasi terpenting dari pendidikan Islam pada massa pembaharuan, yakni. Pertama, dimasukkannya mata pelajaran umum ke madrasah. Kedua, penerapan sistem klasikal dengan segala kaintannya. Ketiga, ditata dan dikelola administrasisekolah dengan tetap berpegang pada prinsip manajemen pendidikan. Keempat, lahirnya lembaga Islam baru yang diberi nama dengan madrasah. Kelima, diterapkannya beberapa metode mengajar selain dari metode yang lazim dilakukan di Pesantren Sorongan dan Wetonan. D. Pendidikan Islam Pada Masa Pembaruan Di Mesir
Kesadaran akan kelemahan dan ketertinggalan umat islam di mesir dimulai dari ekspedisi Napoleon Bonaparte tahun 1798 M. ini berarti kontak dunia islam dengan kemajuan barat yaitu prancis. Di Mesir para ilmu mendirikan Institu Diegypte yang mempunyai empat bagian yaitu: bagian ilmu pasti, bagian ilmu alam, bagian ilmu ekonomi praktek, dan bagian karya seni.
Setelah orang-orang prancis meninggalkan mesir pada tahun 1801M. Muhammad Ali memegang kekuasaan, beliau berambisi mendirikan sekolah-sekolah modern untuk menghasilkan dokter-dokter, insinyur, dan ahli teknik dari segala bidang.
Dampak dari usaha pembaruan di Mesir tersebut dengan adanya kontak dengan orang barat non-islam maka sekolah yang didirikan menghasilkan kaum intelektual yang jauh dari ajaran islam, karena mereka selalu keliru memahami islam, sementara pemuja-pemuja ilmu pengetahuan yang datang dari barat memandang islam sebagai pandangan yang rendah. 1. Tokoh-tokoh di Mesir
a. Muhammad Abduh
1) Biografi
Gagasan pembaruan Islam sesungguhnya muncul pada akhir abad 18 dan awal abad 19 Masehi. Dari sekian para pembaru, Muhammad Abduh (1849-1905) adalah tokoh yang monumentaldan paling bersemangat melakukan pembaruan bagi duni Islam. Muhammad Abduh sebagai tokoh pembaharuan dalam Islam patut dikenang dan diteladani, karena ia telah banyak berjuang untuk merobah kebiasaan masyarakat yang sebelum bersikap statis menjadi dinamis. Muhammad Abduh lahir pada tahun 1848 M/ 1265 H disebuah desa di Propinsi Gharbiyyah Mesir Hilir. Ayahnya bernama Muhammad ‘Abduh ibn Hasan Khairullah. Abduh lahir dilingkungan keluarga petani yang hidup sederhana, taat dan cinta ilmu pengetahuan. Orang tuanya berasal dari kota Mahallaj Nashr. Situasi politik yang tidak stabil menyebabkan orang tuanya berpindah-pindah, dan kembali ke Mahallaj Nashr setelah situasi poltiki mengizinkan.
Masa pendidikannya dimulai dengan pelajatan dasar membaca dan menulis yang didapatnya dari orang tuanya. Kemudian sebagai pelajaran lanjutan ia belajar Qur’an pada seorang hafiz. Dalam masa waktu dua tahun ia telah menjadi seorang yang hafal al-Qur’An. Pendidikan selanjutnya ditempuhnya di Thanta, sebuah lembaga pendidikan mesjid Ahmadi. Ditempat ini ia mengikuti pelajaran yang diberikan dengan rasa tidak puas, bahkan membawanya pada rasa putus asa untuk mendapatkan ilmu. Ia tidak puas dengan metode pengajaran yang diterapkan yang mementingkan hafalan tanpa pengertian bahkan ia berpikir lebih baik tidak belajar dari pada menghabiskan waktu menghafal istilah-istilah nahu dan fiqih yang tidak dipahaminya, sehingga ia kembali ke Mahallaj Nashr (kampungnya) dan hidup sebagai petani serta melangsungkan pernikahan dalam usia 16 tahun. Dalam kenyataan tidak semua ide dan pemikiran pembaharuan yang dibawanya dapat diterima oleh penguasa dan pihak al-Azhar. Penghalang yang utama yang dihadapinya adalah para ulama yang berpikiran statis beserta masyarakat awam yang mereka pengaruhi. Khedewi sendiripun akhirnya tidak setuju dengan pembaharuan fisik yang dibawa Muhammad Abduh terutama tentang institusi wakaf yang menyangkut masalah keuangan.
Dalam hal banyak rintangan tersebut Abduh jatuh sakit dan meninggal pada 8 Jumadil awal 1323 H/ 11 Juli 1905, jenazah Muhammad Abduh dikebumikan di Kairo (Pemakaman Negara). Dari uraian-uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi pemikiran Muhammad Abduh adalah :
a) Faktor sosial, berupa sikap hidup yang dibentuk oleh keluarga dan gurunya terutama Syekh Darwisy dan Sayyid Jamaludin al-Afghani, disamping itu lingkungan sekolah di Thanta dan Mesir tempat ia menemukan sistem pendidikan yang tidak efektif, serta dengan keagamaan yang statis dan fikiran-fikiran yang fatalistic
b) Faktor kebudayaan, berupa ilmu yang diperolehnya selama belajar disekolah-sekolah formal dari Jamaludin al-Afghani, serta pengalaman yang ditimbanya dari barat.
c) Faktor politik yang bersumber dari situasi politik dimasanya, sejak dilingkungan keluarganya di Mukallaf Nashr.
2) Pemikiran dan pembaruan tentang Pedidikan Islam
Gerakan pembaharuan islam yang dilakukan oleh Muhammad Abduh tidak terlepas dari karakter dan wataknya yang cinta pada ilmu pengetahuan. Gibb dalam salah satu karya terkenalnya, Modern trends in Islam, menyebutkan empat agenda pembaharuan Muhammad Abduh. Keempat agenda itu adalah pemurnian islam dari berbagai pengaruh ajaran dana amalan yang tidak benar, yaitu: a) Purifikasi
Purifikasi atau pemurnian ajaran islam telah mendapat tekanan serius dari Muhammad Abduh berkaitan dengan munculnya bid’ah dan khurafah yang masuk dalam kehidupan beragama kaum muslim. Kaum muslim tak perlu memercayai adanya karamah yang dimiliki para wali atau kemampan mereka sebagai perantara ( wasilah) kepada Allah. Dalam pandangan Muhammad Abduh, seorang muslim diwajibkan menghindarkan diri dari perbuatan syirik
b) Reformasi
Reformasi pendidikan tinggi islam difokuskan Muhammad Abduh pada universitas alamamaternya, Al-Azhar. Muhammad Abduh menyatakan bagwakewajiban belajar itu tidak hanya mempelajari buku-buku klasik berbahasa arab yang berisi dgma ilmu kalam untuk membela islam. Akan tetapi kewajiban belajar juga terletak pada mempelajari sains-sains modern, serta sejarah dan agama eropa, agar diketahui sebab-sebab kemajuan yang telah mereka capai. Usaha awal reformasi Muhammad Abduh adalah memperjuangkan mata kuliah filsafat agar diajarkan di Al-Azhar. Dengan belajar filsafat, semangat intelektualisme islam yang padam diharapkan dapat dihidupkan kembali.
c) Pembelaan islam
Muhammad Abduh lewat Risalah Al-Tauhidny tetap mempertahankan potret diri idlam. Hasratnya untuk menghilangan unsur-unsur asing merupakan bukti bahwa dia tetap yakin dengan kemandirian islam. Muhammad Abduh terlihat tidak pernah menaruh perhatian terhadap paham-paham filsafat antiagama yang marak di eropa. Dia lebih tertarik memerhatikan seranga-serangan terhadap agama islam dari sudut keilmuwan. Muhammad Abduh berusaha mempertahankan potret islam dengna menegaskan bahwa jika pikiran dimanfaatkan sebagaiman mestinya, hasil yang dicapainya otomatis akan selaras dengan kebenaran illahi yang dipelajari melalui agama.
d) Reformulasi
Agenda reformulasi tersebut dilaksanakan Muhammad Abduh dengan cara membuka kembali pintu ijtihad. Di latar belakangi oleh Umat islam di mesir yang pada waktu itu mengalami krisis dalam bidang akidah, syariah, akhalak serta moral. Pembaruan yang tidak seimbang hanya menekankan perkembangan aspek intlek mewariskan dua tipe pendidikan pada abad ke-20 saat itu. Tipe pertama adalah sekolah-sekolah agama dengan al-Azhar sebagaii lembaga pendidikan yang tinggi. Sedangkan tipe kedua adalah sekolah-sekolah modern, baik yang dibangun oleh pemerintah mesir maupun yang didirikan oleh bangsa asing. Kedua tipe tersebut tidak punya hubungan antara satu dengan yang lainnya, masing-masing berdiri sendiri dalam memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan pendidikannya. sekolah-sekolah agama berjalan di atas garis tradisional baik dalam kurikulum maupun metode pengajaran yang diterapkan. Ilmu-ilmu barat tidak diberikan di sekolah-sekolah agama, dengan demikian pendidikan agama kala itu tidak mementingkan perkembangan intelektual, padahal islam mengajarkan untuk mengembangakan aspek jiwa tersebut sejajar dengan perkembangan aspek jiwa yang lain.
Tujuan pendidikan adalah mendidik akal dan jiwa dan menyampaikannya kepada batas-batas kemungkinan seseorang mencapai kebahagiaan hidup didunia dan akhirat”
Disamping pendidikan akal ia juga mementingkan pendidikan spiritual agar lahir generasi yang mampu berpikir dan punya akhlak yang mulia dan jiwa yang bersih. Tujuan pendidikan yang demikian ia wujudkan dalam seperangkat kurikulum sejak dari tingkat dasar sampai ketingkat atas. Kurikulum tersebut adalah :
1) Kurikulum al-Azhar
Kurikulum perguruan tinggi al-Azhar disesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat pada masa itu. Dalam hal ini, ia memasukkan ilmu filsafat, logika dan ilmu pengetahuan modern ke dalam kurikulum al-Azhar. Upaya ini dilakukan agar out-putnya dapat menjadi ulama modern.
2) Tingkat Sekolah Dasar
Ia beranggapan bahwa dasar pembentukan jiwa agama hendaknya sudah dimulai semenjak masa kanak-kanak. Oleh karena itu, mata pelajaran agama hendaknya dijadikan sebagai inti semua mata pelajaran. Pandangan ini mengacu pada anggapan bahwa ajaran agama (Islam) merupakan dasar pembentukan jiwa dan pribadi muslim. Dengan memiliki jiwa kepribadian muslim, rakyat Mesir akan memiliki jiwa kebersamaan dan nasionalisme untuk dapat mengembangkan sikap hidup yang lebih baik, sekaligus dapat meraih kemajuan.
3) Tingkat Atas
ia mendirikan sekolah menegah pemerintah untuk menghasilkan ahli dalam berbagai lapangan administrasi, militer, kesehatan, peridustrian dan sebagainya. Melalui lembaga pendidikan ini, Abduh merasa perlu untuk memasukan beberapa materi, khususnya pendidikan agama. Sejarah Islam, dan kebudayaan Islam.
Di Madrsah-madrash yang berada di bawah naungan al-Azhar, Abduh mengajarkan ilmu Mantiq, Falsafah dan tauhid, sedangkan selama ini al-Azhar memandang ilmu Mantiq dan Falsafah itu sebagai barang haram. Dirumahnya Abduh mengajarkan pula kitab Thazib al-akhlak susunan ibn Maskawayh. Dan kitab sejarah Peradaban Eropa susunan seorang Perancis yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul al-Tuhfat al-Adaabiyah fi Tarikh Tamaddun al-Mamalik al-Awribiyah.
Selain itu Abduh menyoroti keadaan dan sistem pendidikan, ia menata kembali seluruh struktur pendidikan yang berlaku di Al-Azhar, dari mulai metode pengajaran ia membawa cara baru dalam dunia pendidikan saat itu. Ia mengkritik tajam penerapan metode hafalan tanpa pengertian yang umumnya dipraktikan di sekolah-sekolah saat itu, terutama sekolah agama. Abduh menghidupkan metode munazarah dalam memahami pengetahuan,yang sebelumnya mengarah kepada taqlid semata terhadap pendapat ulama yang berpengaruh. Bahasa Arab yang selama ini menjadi bahasa baku tanpa perkembangan, oleh Abduh dikembangkan dengan jalan menerjemahkan teks-teks pengetahuan modern ke dalam bahasa Arab, terutama isltilah-istilah baru muncul yang mungkin tidak ditemukan pada kosa kata bahasa arab.Abduh melakukan perbaikan menganai honorium dosen dan pengaturannya. Memberikan tunjangan untuk pakaian dinas, asrama mahasiswa, perbaikan kesehatan mahasiswa dan ujian. b. Al-Tahtawi
Al-Tahtawi Beliau sangat berjasa dalam meningkatkan ilmu pengetahuan di Mesir karena menguasai berbagai bahasa asing dan berhasil mendirikan sekolah penerjemahan dan menjadikan bahasaasing tertentu sebagai pelajaran wajib di sekolah. Diantara pendapat baru yang dikemukakannya adalah pendidikan yang universal. Sasaran pendidikannya terutama ditunjukan kepada pemberian kesempatanyang sama antara laki-laki dan perempuan di tengahmasyarakat. Menurutnya, perbaikan pendidikan hendaknya dimulai dengan memberikan kesempatan belajar yangsama antara pria dan wanita, sebab wanita itu memegang posisi yang menentukan dalam pendidikan. Wanita yang terdidik akan menjadi isteri dan ibu rumah tangga yang berhasil. Mereka yang diharapkan melahirkan putra-putri yang cerdas. Bagi al-Tahtawi, pendidikan itu sebaiknya dibagi dalam tiga tahapan. Tahap I adalah pendidikan dasar, diberikan secara umum kepada anak-anak dengan materi pelajaran dasar tulis baca, berhitung, al-Qur'an, agama, dan matematika. Tahap II, pendidikan menengah, materinya berkisar pada ilmu sastra, ilmu alam, biologi, bahasa asing, dan ilmu-ilmu keterampilan. Tahap III, adalah pendidikan tinggi yang tugas utamanya adalah menyiapkan tenaga ahli dalam berbagai disiplin ilmu. Dalam proses belajar mengajar, al-Tahtawi menganjurkan terjalinnya cinta dan kasih sayang antara guru dan murid, laksana ayah dan anaknya. Pendidik hendaknya memiliki kesabaran dan kasih sayang dalam proses belajar mengajar. Ia tidak menyetujui penggunaan kekerasan, pemukulan, dan semacamnya, sebab merusak perkembangan anak didik. Dengan demikian, dipahami bahwa al-Tahtawi sangat memperhatikan metode mengajar dengan pendekatan psikologi belajar. c. Muhammad Ali Pasya
1) Biografi
Muhammad Ali, adalah seorang keturunan Turki yang lahir di Kawalla, Yunani, pada tahun 1765, dan meninggal di Mesir pada tahun 1849. Orang tuanya bekerja sebagai seorang penjual rokok. Dari kecil Muhammad Ali harus bekerja. Ia tak memperoleh kesempatan untuk masuk sekolah. Dengan demikian dia tidak pandai menulis maupun membaca, meskipun ia tak pandai membaca atau menulis, namun ia adalah seorang anak yang cerdas dan pemberani. Hal itu terlihat dalam karirnya baik dalam bidang militer atau pun sipil yang selalu sukses. Setelah dewasa, Muhammad Ali Pasya bekerja sebagai pemungut pajak, dan karena ia rajin bekerja, maka Gubernur senang padanya dan diangkatnya menjadi menantu. Setelah menikah, ia diterima menjadi anggota militer. Karena keberanian dan kecakapannya dalam menjalankan tugas, ia diangkat menjadi Perwira. Pada waktu penyerangan Napoleon ke Mesir, Sultan Turki mengirim bantuan tentara ke Mesir. Dan di antara pasukan yang dikirim adalah Muhammad Ali Pasya, bahkan dia ikut bertempur melawan Napoleon pada tahun.Rakyat Mesir melihat kesuksesan Muhammad Ali dalam pembebasan Mesir dari tentara Napoleon, maka rakyat Mesir mengangkat Muhammad Ali sebagai wali Mesir dan mengharapkan Sultan di Turki merestuinya. Setelah Muhammad Ali mendapat kepercayaan rakyat dan pemerintah pusat Turki, ia menumpas musuh-musuhnya, terutama golongan Mamluk yang masih berkuasa di daerah-daerah. Akhirnya Mamluk dapat ditumpas habis. Dengan demikian Muhammad Ali menjadi penguasa tunggal di Mesir, akan tetapi lama kelamaan ia asyik dengan kekuasaannya, akhirnya ia bertindak sebagai diktator. Pada waktu Muhammad Ali meminta kepada Sultan agar Syiria diserahkan kepadanya, Sultan tidak mengabulkannya. Muhammad Ali Pasya marah dan menyerang. Dan ia pun dapat menguasai Syiria. Bahkan serangannya sampai ke Turki. Muhammad Ali dan keturunannya menjadi raja di Mesir lebih dari satu setengah abad lamanya memegang kekuasaan di Mesir. Terakhir adalah Raja Farouk yang telah digulingkan oleh para jenderalnya pada tahun 1953. Dengan demikian berakhirlah keturunan Muhammad Ali di Mesir. 2) Pemikiran
Dia disebut juga pelopor pembaharu dan bapak pembangunan Mesir Modren. Walaupun tidak pandai menulis dan membaca, namun ia sangat menyadari pentingnya arti pendidikan dan ilmu pengetahuan bagi kemajuan suatu bangsa. Untuk dalam pemerintahan ia mendirikan kementerian pendidikan, dan lembaga-lembaga pendidikan, membuka sekolah teknik, sekolah kedokteran, sekolah apoteker, sekolah pertambangan, sekolah pertanian, dan sekolah penerjemahan.
Kebijakan dan gebrakan yang diambilknya lebih mengadopsi tata cara yang dilakukan dibarat. Muhammad Ali Pasya juga mengirimkan siswa-siswa untuk belajar ke Italia, Prancis, inggris dan Austria. Gerakannya telah memperkenalkan ilmu pengetahuan dan teknologi barat kepada umat islam.
Begitu para pelajar datang dari Eropa, mereka disuruh menerjemahkan buku-buku Asing ke dalam bahasa Arab. Dengan adanya penerjemahan ini, masyarakat Mesir mulai mengenal paradigma pemikiran Barat, filsafat, dan kebebasan berpikir. Sejak saat itu, Islam mulai beradaptasi dengan kemajuan-kemajuan barat.Pada mulanya perkenalan dengan ide-ide dan ilm-ilmu baru ini hanya terbatas bagi orang-orang yang telah ke Eropa dan yang telah tahu bahasa Barat. Kemudian faham-faham ini mulai menjalar kepada orang-orang yang tak mengerti bahasa Barat pada permulaannya dengan perantaraan kontak mereka dengan mahasiswa-mahasiswa yang kembali dari Eropa dan kemudian dengan adanya terjemahan buku-buku Barat itu ke dalam bahasa arab. Yang penting diantara bagian-bagian tersebut bagi perkembangan ide-ide Barat ialah bagian Sastra. Pada tahun 1841, diterjemahkan buku mengenai sejarah raja-raja Prancis yang antara lain mengandung keterangan tentang revolusi Perancis. Satu buku yang serupa diterjemahkan lagi pada tahun 1847. E. Pendidikan Islam pada Masa Pembaharuan di India
1. Latar Belakang Pembaharuan Pendidikan Islam di India.
Berbeda dengan di Mesir, pembaharuan pendidikan islam di India lebih banyak bertujuan untuk menghilangkan deskriminasi pendidikan islam tradisionalis dengan pendidikan sekuler.
Pembaruan ini dilatarbelakangi oleh minimnya jumlah penduduk beragama islam, sperlima umat Hindu di India yang mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari inggiris, dalam rangka menyelematkan martabat umat islam maka perlu dilakukan upaya pembaharuan sikap yang fleksibel terhadap penjajah saat itu.
Perkembangan pendidikan islam di India, dapat dilihat dari perkembangan madrasah Deoband menjadi perguruan tinggi agama yang bernama Ulum deoband. Sekolah ini mengeluarkan ulama-ulama besar india yang mempunyai pengaruh besar bagi masyarakat India.
2. Tokoh-tokoh Pembaruan di India
a. Sayyid Ahmad Khan
Berpendapat bahwa peningkatan kedudukan umat islam di India dapat diwujudkan hanya dengan bekerjasama dengan Inggris. Oleh karena itu Ahmad Khan mengajak umat islam untuk bersikap loyal terhadap Inggris.
Satu diantara sekian banyak persoalan umat di India adalah rendahnya mutu pendidikan. Menurutnya mutu pendidikan umat islam harus ditingkatkan dengan menerapkan system modern yang cukup. Oleh karena itu, ia pertama kali mendirikan lembaga pendidikan modern. Yang pertama kali didikan adalah sekolah Inggris Muradabab pada tahun 1860 M. pada tahun 1864 ia mendirikan Scientific Society untuk memperkenalkan sains Barat kepada rakyat india, khususnya umat islam di India. Pada tahun yang sama ia juga mendirikan Sekolah Modren di Ghazipur, dan pada tahuun 1968 ia membentuk komite pendidikan dibeberapa daerah di India Utara.
Sama halnya kehkawatiwanm tokoh pembaharu Islam di Wilayah lain, akan adanya bahaya kesenjangan antara lembaga pendidikan agama dan sekolah-sekolah sekuler yang diasuh oleh pemerintah inggris, timbul ide dari Sayyid Ahmad Khan untuk mendirikan satu lembaga pendidikan yang didalamnya mengajar ilmu pengetahuan umum juga dalam pengajarannya juga tidak melupakan materi-materi keagamaan sebagaimana yang ada di madrasah. Lembaga pendidikan tersebut disebut Muhammedan Anglo Oriental College berdiri pada tahun 1878 M.yang merupakan karyanya yang bersejarah dan berpengaruh dalam cita-citanya untuk memajukan umat islam India. Seterusnya di tahun 1920 beridirilah universitas Alighar , yang mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan baik agama maupun sains. b. Muhammad Iqbal
Muhammad Iqbal berasal dari keluarga golongan menengah. Ia lahir pada tahun 1876 di Sialkot, Punjab, wilayah Pakistan (sekarang)Pendidikan formalnya dimulai di Scottish Mission School, Sialkot, di bawah bimbingan Mir Hasan, seorang guru yang ahli sastra Arab dan Persia. Kemudian ia mendapatkan biasiswa untuk melanjutkan ke Goverment College, di Lahore, sampai mendapat gelar MA. Di kota Lahore ia berkenalan dengan Thomas Arnold dan sekaligus menjadi pembimbingya, seorang orientalis yang menurut keterangan mendorong Iqbal untuk studi ke Inggris. Setelah selesai menempuh pendidikan di Lahore, Iqbal diangkat menjadi staf dosen di Goverment College dan mulai menulis syair-syair dan buku.
Akan tetapi, profesinya sebagai dosen tidak berlangsung lama, karena pada tahun 1905, atas dorongan Arnold, Iqbal berangkat ke Eropa untuk melanjutkan studi di Trinity College, Universitas Cambridge London, sambil ikut kursus advokasi di Lincoln Inn. Di lembaga ini ia banyak belajar pada James Wird dan JE. McTaggart, seorang neo-Hegelian. Ia juga sering diskusi dengan para pemikir lain serta mengunjungi perpustakaan Cambridge, London dan Berlin. Untuk keperluan penelitiannya, ia pergi ke Jerman mengikuti kuliah selama dua semester di Universitas Munich yang kemudian mengantarkannya meraih gelar doctoris philosophy gradum, gelar doctor dalam bidang filsafat pada Nopember 1907, dengan desertasi The Development of Metaphysics in Persia, di bawah bimbingan Hommel. Selanjutnya, kembali ke London untuk meneruskan studi hukum dan sempat masuk School of political science. Muhammad iqbal berbeda dengan pembaharu-pembaharu lain, ia adalah seorang penyair dan filosof timur yang telah mengukir hidupnya sedemikian rupa hingga akan di kenang umat manusia ratusan tahun yang akan datang, sebab seluruh karyanya dalam bentuk puisi dan prosa yang berbahasa urdu, parsi (persia), dan inggris telah terkomendasi dengan baik. Intelektualisme iqbal dapat ditinjau dari berbagai jurusan: , filsafat, hukum, pemikiran islam, pendidikan, politik, sastra, ekonomi dan kebudayaan dalam makna yang sempit. Iqbal dianggap telah meletakkan prinsip-prinsip dasar pendidikan Islam modern, maka tentusaja ini “diyakini” setelah diadakan pengkajian dan penelaahan terhadap kiprah Iqbal, terutama yang tertuang dalam karya-karyanya, baik dalam bentuk puisi maupun prosa. Buku yang ditulis oleh K.G. Saiyidain dengan judul karyanya Iqbal’s EducationalPhilosophyadalah Buku yang diterbitkan pertama kali tahun 1938 di Lahore ini diakui sebagai hasil sadapankarya Iqbal. Ide dan konsepsi yang terbentang pada karya ini merupakan hasil pengkajian dan penganalisisan tentang pemikiran-pemikiran Iqbal dalam bidang “pendidikan” yang mungkin tersurat atau mungkin tersirat pada karya-karya Iqbal. Iqbal dianggap telah menyumbangkan pemikirannya dalam bidang pendidikan, berupa prinsip-prinsipdasar pendidikan sebagai orientasi pendidikan untuk mewujudkan tujuan yang ingin dicapai darisuatu pendidikan. Hal ini, bagi Saiyidain ada dua alasan:
1) Pendidikan dipandang sebagai keseluruhan daya budaya yang mempengaruhi kehidupanindividu maupun kelompok masyarakat.
2) Setiap filsafat tentang kehidupan, selama menyoroti masalah hidup dan tujuan akhir manusia,mengimplikasikan dan melandasi suatu filsafat pendidikan. c. Sayyid Amir Ali
Sayyid Amir Ali berasal dari keluarga Syiah di zaman Nadir Syah (1736-1747) pindah dari Khurasan di Persia ke India. Keluarga itu kemudian bekerja di istana Raja Mughal. Sayyid Amir Ali lahir pada tahun 1849, dan meninggal pada tahun 1928 dalam usia 79 tahun. Pendidikannya ia peroleh di perguruan tinggi Muhsiniyyah yang berada di dekat Kalkuta. Ia belajar bahasa Arab dan Inggris, kemudian sastra Inggris dan hukum Inggris. Di tahun 1869, ia pergi ke Inggris untuk meneruskan studi dan selesai tahun 1873 dengan memperoleh kesarjanaan dalam bidang hukum. Ia kembali ke India dan bekerja sebagai pegawai pemerintah Inggris, pengacara, hakim, dan guru besar dalam hukum Islam. Pada tahun 1877, ia membentuk National Muhammedan Association, sebagai wadah persatuan umat Islam India, dan tujuannya ialah untuk membela kepentingan umat Islam dan untuk melatih mereka dalam bidang politik. Di tahun 1883, ia diangkat menjadi salah satu dari ketiga anggota Majelis Wakil Raja Inggris di India. Ia adalah satu-satunya anggota Islam dalam majelis itu. Selanjutnya di tahun 1904, ia meninggalkan India dan menetap untuk selama-lamanya di Inggris.
Pada tahun 1906, ia diangkat menjadi anggota The Judicial Committee of the Privy Council (Komite Kehakiman Dewan Raja) di London, dan merupakan orang India pertama yang menduduki jabatan tersebut.Amir Ali sendiri adalah seorang pemimpin yang dekat dengan pemerintah Inggris di India. Dia melihat pemerintahan Inggris adalah suatu alternatif untuk menghindari kemungkinan dominasi orang Hindu di India setelah kemerdekaan diperolehnya. Setelah berada di London, ia mendirikan cabang Liga Muslimin (didirikan tahun 1906). Ia terlibat pula dalam perundingan-perundingan di London tentang rancangan pembaharuan politik di India. d. Muhammad Ali Jinnah
Muhammad Ali Jinnah lahir pada tanggal 25 Desember 1876 di Karachi, orang tuanya adalah seorang saudagar. Sejak kecil ia dikenal sebagai seorang yang memiliki kecerdasan pikiran yang lebih dari pada teman-temannya, sehingga teman ayahnya yang merupakan orang inggris menganjurkan agar Jinnah melanjutkan pendidikannya ke inggris. Atas nasehat tersebut, pada umur 16 tahun ia berangkat ke inggris untuk melanjutkan pendidikannya, dan baru kembali ke India pada tahun 1896, dan bekerja sebagai pengacara di Bombay. Sepulang dari Inggris, Ali Jinnah memulai kariernya dengan menjadi seorang advokat di Bombay. Pada tahun 1906, Ali Jinnah bergabung dengan partai Kongres Nasional India, akan tetapi politik patuh dan setia kepada Inggris yang terdapat dalam partainya tidak sesuai dengan pendiriannya yang menginginkan penentangan terhadap Inggris untuk kepentingan nasional India.Ia juga menjauhkan diri dari Liga Muslim sampai dengan tahun 1913, yaitu ketika organisasi tersebut merubah sikap dan menerima ide pemerintahan sendiri bagi India sebagai tujuan perjuangan. Pada saat itu ia masih mempunyai keyakinan bahwa kepentingan umat Islam India dapat dijamin melalui ketentuan-ketentuan tertentu dalam undang-undang Dasar, ia juga masih sepakat dengan ide nasionAlisme India, sehingga ia masih mengadakan perundingan dan pembicaraan dengan pihak kongres nasional India terkait dengan nasionalisme India. Akan tetapi, kemudian ia melihat bahwa untuk memperoleh pandangan yang sama antara umat Islam dan hindu amat sangat sulit, bahkan ia menolak dan menentang konsep nasionAlisme India Gandhi yang didalamnya umat Islam dan Hindu bergabung menjadi satu Bangsa, yang pada akhirnya mengharuskan ia keluar dari partai kongres.
Setelah ia mengikuti Konferensi Meja Bundar di London ia memutuskan untuk keluar dari arena politik dan menetap di inggris. Di sana ia menjadi advokat, tetapi pada tahun tahun 1934 atas permintaan teman-temannya termasuk Iqbal ia kembali ke India, dan pada tahun itu juga ia terpilih sebagai ketua tetap liga Muslimin. Sekarang ini muslimin dibawah pimpinan Jinnah memiliki semangat baru, dan berubah menjadi gerakakan yang kuat. dengan adanya perkembangan ini umat Islam India mulai sadar, bahwa apa yang dikhawatirkan ulama terdahulunya telah menjadi kenyataan, diamana kekusaan hindu mulai terasa, umat Islam di daerah mayoritas mulai melihat perlunya adanya barisan kuat umat islam diseluruh Indonesia.
F. Kesimpulan
Adanya upaya pembaharuan pendidikan Islam tentu tidak bisa lepas dari lemahnya kondisi pendidikan Islam saat itu, yang mengharuskan para pembaharu Islam bisa menghadirkan satu paket pendidikan yang sesuai dengan dengan tuntutan zaman,
Ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya proses pembaharuan pendidikan Islam, yaitu: faktor kebutuhan pragmatis ummat Islam, faktor internal, adanya kontak Islam dengan Barat.
Dengan memperhatikan berbagai macam sebab kelemahan dan kemunduran umat Islam maka terjadi tiga pola pemikiran pembaharuan pendidikan Islam. Ketiga pola tersebut adalah: (a) Pola pembaharuan pendidikan Islam yang berorientasi kepada pola pendidikan modern di Eropa. (b) Yang berorientasi dan bertujuan untuk pemurnian kembali ajaran Islam. (c) Yang berorientasi pada kejayaan dan sumber budaya bangsa masing-masing dan yang bersifat nasionalisme.
DAFTAR PUSTAKA
George Ienczowski. Timur Tengah di Tengah Kanca Dunia. Bandung: Sinar Baru Algen Sindo, 1998.
Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1982.
Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.
Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), hlm. 37-38 Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 123 George Ienczowski. Timur Tengah di Tengah Kanca Dunia. (Bandung: Sinar Baru Algen Sindo, 1998)., hlm. 156.
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️