A. Pendahuluan Peran seorang guru pada pengelolaan kelas sangat penting khususnya dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menarik. Itu karena secara prinsip, guru memegang dua tugas sekaligus masalah pokok, yakni pengajaran dan pengelolaan kelas. Tugas sekaligus masalah pertama, yakni pengajaran, dimaksudkan segala usaha membantu murid dalam mencapai tujuan
pembelajaran. Sebaliknya, masalah pengelolaan berkaitan dengan usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien demi tercapainya tujuan pembelajaran.
Kegagalan seorang guru mencapai tujuan pembelajaran berbanding lurus dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu seperti prestasi belajar murid rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan.
Keharmonisan hubungan guru dan anak didik, tingginya kerjasama diantara murid tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas.
Oleh karena itu, untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif, guru dituntut memiliki kemampuan untuk mengetahui, memahami, memilih, dan menerapkan pendekatan yang dinilai efektif menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam menunjang proses pembelajaran yang optimal.
B. Pengertian Pengelolaan Kelas
Kata pengelolaan atau manajemen berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata manus yang berarti tangan dan agree berarti melakukan. Kata-kata itu digabung menjadi kata kerja manageryang artinya menangani. Managere diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris dalam bentuk kata kerja to manage, dengan kata benda management, dan manager untuk melakukan kegiatan manajemen. Akhirnya, managementditerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan. Suharsimi mengatakan bahwa manajemen atau pengelolaan adalah pengadministrasian, pengaturan atau penataan suatu kegiatan. Secara umum, pengelolaan adalah suatu kegiatan untuk menciptakan dan memertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar di dalamnya mencakup pengaturan siswa dan fasilitas, yang dikerjakan mulai terjadinya kegiatan pembelajaran di dalam kelas sampai berakhirnya pembelajaran di dalam kelas. Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kelas artinya pangkat, tingkat; ruang ; golongan, kalangan. Kelas dalam arti sempit yaitu ruangan yang dibatasi oleh empat dinding tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses pembelajaran. Sedangkan pengertian umum mengenai kelas, yaitu sekelompok siswa pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Sementara itu, menurut Oemar Hamalik menjelaskan “kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru”. Sedangkan menurut Ahmad “kelas adalah ruangan belajar atau rombongan belajar”. Sulaeman mengartikan bahwa kelas dalam arti umum menunjukkan kepada pengertian sekelompok siswa yang ada pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dan dari guru yang sama pula. Kelas dalam arti luas merupakan bagian dari masyarakat kecil yang sebagian adalah suatu masyarakat sekolah yang sebagian suatu kesatuan di organisasi menjadi unit kerja secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan. Definisi pengelolaan kelas atau pengelolaan kelas yang dipetik dari informasi Pendidikan Nasional bahwa ada lima definisi pengelolaan kelas sebagaimana berikut ini : 1. Pengelolaan kelas yang bersifat otoritatif, yakni seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan memertahankan ketertiban suasana kelas, disiplin sangat diutamakan.
2. Pengelolan kelas yang bersifat permisif, yakni pandangan ini menekankan bahwa tugas guru adalah memaksimalkan perwujudan kebebasan siswa.
3. Pengelolaan kelas yang berdasarkan prinsip-prinsip pengubahan tingkah laku (behavioral modification), yaitu seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan.
4. Pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim sosio-emosional yang positif di dalam kelas. Pandangan ini mempunyai anggaran dasar bahwa kegiatan belajar akan berkembang secara maksimal di dalam kelas yang beriklim positif, yaitu suasana hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.
5. Pengelolaan kelas yang bertolak dari anggapan bahwa kelas merupakan sistem sosial dengan proses kelompok (group process) sebagai intinya. Dalam kaitan ini dipakailah anggapan dasar bahwa pengajaran berlangsung dalam kaitannya dengan suatu kelompok. Dalam pengelolaan kelas terdapat dua komponen yang sangat penting yaitu guru dan siswa. Guru dalam menjalankan fungsinya tidak hanya bertindak sebagai penyampai materi pelajaran tetapi juga dapat berfungsi selaku pengelola atau “manager” kelas. Siswa ditempatkan tidak hanya sebagai obyek yang menjadi sasaran pembelajaran tetapi juga dapat diposisikan sebagai subyek yang dinamis dan ikut dilibatkan dalam proses atau kegiatan pengelolaan kelas.
C. Perinsip – Perinsip Pengelolaan Kelas
Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip pengelolaan kelas di sini adalah hal-hal yang dapat dijadikan pedoman atau pegangan guru di dalam mengelola, agar menjadi terarah dan efisien.
Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas, prinsip-prinsip pengelolaan kelas dapat dipergunakan, yaitu : 1. Hangat dan antusias
Hangat dan antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan akrab dengan anak didik selalu menunjukkan atusias pada tugasnya atau pada aktivitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
2. Tantangan
Penggunaan kata-kata tindakan, cara kerja atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah anak didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang. Tambahan lagi akan dapat menarik perhatian anak didik dan dapat mengendalikan gairah belajar mereka. 3. Bervariasi
Penggunaan alat atau media, atau alat bantu, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian anak didik. Apalagi bila penggunaannya bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Kevariasian dalam penggunaan apa yang disebutkan di atas merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan.
4. Keluwesan
Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan anak didik, serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif. Keluwesan pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan anak didik, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya.
5. Penekanan pada hal-hal yang positif
Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian anak didik pada hal-hal yang negatif. Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku anak didik yang positif dari pada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif, dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu proses belajar mengajar.
6. Penanaman disiplin diri
Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan disiplin diri sendiri. Karena itu, guru sebaiknya selalu mendorong anak didik untuk melaksanakan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal. Seorang ahli dari Amerika Serikat bernama L. Gulick mengemukakan adanya 7 (tujuh) unsur administrasi seperti disebutkan dalam buku administrasi seperti disebutkan dalam buku “Administrasi Pendidikan” Sebagai landasan manajemen adalah : 1. Perencanaan (planning).
2. Pengorganisasian (organizing).
3. Kepegawaian (staffing).
4. Pengarahan (directing).
5. Pengkoordinasian (coordinating).
6. Pengawasan (controlling).
7. Pelaporan (reporting).
Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam mengatasi masalah untuk membuat iklim kelas yang sehat dan efektif adalah sebagai berikut : 1. Bila situasi kelas memungkinkan anak-anak belajar secara maksimal, fungsi kelompok harus diminimalkan.
2. Manajemen kelas harus memberi fasilitas untuk mengembangkan kesatuan dan bekerjasama.
3. Anggota-anggota kelompok harus diberi kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang memberi efek kepada hubungan dan kondisi belajar atau kerja.
4. Anggota-anggota kelompok harus dibimbing dalam menyelesaikan kebimbingan, ketegangan dan perasaan tertekan.
5. Perlu diciptakan persahabatan dan kepercayaan yang kuat antar siswa.
D. Jenis - Jenis Pengelolaan Kelas
Berbagai macam pendekatan dalam manajemen kelas dapat dipelajari melalui berbagai sumber. Setidaknya ada sembilan pendekatan yang terdapat dalam pengelolaan kelas.
1. Pendekatan Kekuasaan
Kekuasaan berasal dari kata kuasa yang berarti kemampuan atau kesanggupan, kekuatan, wewenang atas sesuatu atau untuk menentukan, pengaruh, mampu, kesanggupan, dan orang yang diserahi wewenang. Sementara kekuasaan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menyuruh, memerintah, mengatur, menguasai, dan sebagainya. Dalam penerapan pendekatan kekuasaan ini guru sebagai seorang manajer kelas memiliki dua peran. Pertama, berperan sebagai pengontrol (controller). Kedua berperan sebagai pembimbing (konselor) perilaku peserta didik di dalam kelas. Sebagai pengontrol, guru memiliki kekuasaan untuk melakukan pengawasan terhadap perilaku peserta didik di dalam kelas.
2. Pendekatan Ancaman
Ancaman berasal dari kata ancam, kata kerjamya adalah ancaman. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengancam diartikan sebagai menyatakan maksud, niat, rencana untuk melakukan sesuatu yang merugikan, menyulitkan, menyusahkan, dan mencelakakan pihak lain serta memberikan pertanda atau peringatan kemungkian malapetaka atau akibat yang dapat terjadi. Pendekatan ancaman ini dapat digunakan oleh guru jika kondisi kelas benar-benar sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Jika guru masih mampu mengendalikan kondisi kelas dengan pendekatan lain, sebaiknya guru tidak menggunakan pendekatan acaman ini. 3. Pendekatan Kebebasan
Bebas berarti lepas sama sekali, tidak terhalang, terganggu, dan sebagainya sehingga dapat bergerak dan berbicara dengan leluasa. Sementara kebebasan dapat diartikan sebagai keadaan bebas.Kata kerjanya adalah membebaskan yang berarti melepaskan dari ikatan, tuntutan, tekanan, hukuman, dan kekuasaan. Membebaskan juga dapat berarti memberikan keleluasaan untuk bergerak. Jadi dalam konteks manajemen kelas, pendekatan kebebasan dapat didefinisikan sebagai cara pandang guru yang menyatakan bahwa kondisi kelas yang kondusif dapat dicapai jika guru sebagai seorang manajer di kelas memberikan keleluasaan kepada semua peserta didiknya untuk bergerak bebas di dalam kelas. 4. Pendekatan Resep
Dalam konteks manajemen kelas, resep dapat diartikan sebagai keterangan tentang cara bagaimana mengelola suatu kelas. Resep tersebut terwujud dalam berbagai aturan-aturan kelas yang dibuat dan disepakati secara bersama-sama. Dengan demikian, pendekatan resep dapat diartikan sebagai cara pandang guru yang berasumsi bahwa kelas dapat dikelola dengan baik melalui pembuatan dan penerapan aturan kelas.
5. Pendekatan Pengajaran
Pengajaran berasal dari kata dasar ajar yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui dan dituruti. Kata kerjanya adalah mengajar yang berarti memberi pelajaran, melatih, dan memarahi. Sementara pengajaran dapat diartikan sebagai proses, cara, perbuatan mengajar atau mengajarkan.Jadi dalam konteks manajemen kelas, pendekatan pengajaran dapat diartikan sebagai cara pandang yang beranggapan bahwa kelas yang kondusif dapat dicapai dengan kegiatan mengajar itu sendiri. Untuk itu, sebelum mengajar seorang guru harus membuat perencanaan pengajaran yang matang sebelum masuk kelas dan pada saat mengajar di kelas seorang guru harus melaksanakan kegiatan mengajar sesuai dengan apa yang telah direncanakannya. 6. Pendekatan Perubahan Perilaku
Perilaku peserta didik yang bersifat positif dapat menciptakan kondisi kelas yang kondusif. Sebaliknya, perilaku peserta didik yang bersifat negatif dapat memunculkan berbagai gangguan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas yang tidak menutup kemungkinan dapat menggagalkan kegiatan belajar mengajar. Itulah sebabnya seorang guru sebagai manajer kelas dituntuk untuk bisa meredam atau meminimalisasi bahkan menghilangkan perilaku yang negatif tersebut.
7. Pendekatan Sosio-emosional
Dalam pendekatan sosio-emosional ini manajemen kelas merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan iklim sosio-emosional yang positif di dalam kelas. Sosio-emosional yang positif berarti ada hubungan yang positif antara guru dengan peserta didik dan peserta didik dengan peserta didik. Dalam pendekatan ini guru menjadi kunci dalam pembentukan hubungan pribadi dan peranannya adalah menciptakan hubungan pribadi yang sehat. 8. Pendekatan Proses Kelompok
Pendekatan ini bertolak dari psikologi dan dinamika kelompok, dengan anggapan dasar bahwa proses pembelajaran yang efektif dan efisien berlangsung dalam konteks kelompok, yaitu kelompok kelas. Oleh karena itu, peranan guru dalam rangka pengelolaan kelas adalah menciptakan kelompok kelas yang mempunyai ikatan yang kuat serta dapat bekerja secara efektif dan efisien. Pada awal pelajaran, para siswa biasanya masih merupakan kerumunan orang dengan tujuan, pikiran, perasaan yang sangat berbeda. 9. Pendekatan Elektris atau Pluralistik
Pada pendekatan elektis atau pluralistik, pengelolaan kelas dilakukan dengan menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki kemungkinan untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi kelas yang memungkinkan kegiatan belajar-mengajar berjalan efektif dan efisien.Jadi, dalam konteks manajemen manajemen kelas, pendekatan elektis atau pluralistik dapat didefinisikan sebagai cara pandang seorang guru yang beranggapan bahwa guru dapat memilih dan memadukan berbagai pendekatan dalam manajemen kelas untuk menciptakan kelas yang kondusif.
E. Tahapan Manajemen Kelas
Prosedur pengelolaan kelas merupakan serangkaian langkah kegiatan pengelolaan kelas yang dilakukan agar tercipta kondisi kelas yang optimal supaya proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Kegiatan-kegiatan pengelolaan kelas mengacu pada tindakan pencegahan (preventif) dan tindakan penyembuhan (kuratif).
1. Prosedur dimensi pencegahan
Tindakan pencegahan merupakan tindakan yang dilakukan sebelum munculnya tingkah laku yang menyimpang. Tindakan pencegahan merupakan terapi yang tepat sebelum munculnya tingkah laku yang dapat mengganggu kondisi belajar mengajar. Adapun prosedur pengelolaan kelas dimensi pencegahan sebagai berikut: a. Peningkatan kesadaran diri sebagai guru
Peningkatan kesadaran diri sebagai guru merupakan hal yang paling strategis dan mendasar karena dengan adanya rasa kesadaran diri sebagai guru akan mampu meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki yang menjadi modal dasar dalam melaksanakan tugasnya. b. Peningkatan kesadaran pada siswa.
Kurangnya kesadaran pada siswa akan menumbuhkan sikap suka marah, mudah tersinggung, yang memungkinkan siswa melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji yang dapat mengganggu kondisi optimal yang telah terbangun pada proses belajar mengajar. Peningkatan kesadaran pada diri siswa dapat menanggulangi sikap kemalasan, sikap menyerahkan tanggung jawab, kurang puas, mudah kecewa, mudah tertekan oleh peraturan sekolah dan sebagainya. c. Sikap polos dan tulus dari guru.
Sikap polos, tulus hati, jujur dan terbuka adalah modal penting untuk menciptakan kondisi yang optimal untuk memberikan pengajaran pada siswa. Sikap ini mengandung makna bahwa guru dalam segala tindakannya tidak boleh berpura-pura dalam bersikap dan harus bertindak apa adanya.
d. Mengenal dan menemukan alternatif pengelolaan kelas
Seorang guru harus mampu mengidentifikasi berbagai penyimpangan tingkah laku siswa yang sifatnya individual maupun kelompok, termasuk penyimpangan yang disengaja maupun tidak disengaja. Guru juga harus mengenal berbagai pendekatan yang paling tepat.
b. Menciptakan kontrak social
Pada dasarnya kontrak sosial diciptakan sangat berkaitan dengan standar tingkah laku yang diharapkan seraya memberi gambaran tentang fasilitas beserta keterbatasannya dalam memenuhi kebutuhan siswa. Untuk mengelola kelas, norma berupa kontrak sosial atau daftar aturan, tata tertib dengan sanksinya yang mengatur kehidupan di dalam kelas, perumusannya harus dibicarakan atau disetujui bersama oleh guru dan siswa. 2. Prosedur dimensi penyembuhan
a. Mengidentifikasi masalah
Pada tahapan ini seorang guru harus melakukan kegiatan untuk mengenal dan mengetahui masalah-masalah pengelolaan kelas yang timbul dalam suatu kelas. Kemudian mengidentifikasi jenis-jenis penyimpangan, sekaligus mengetahui latar belakang yang membuat siswa melakukan penyimpangan perilaku. b. Menganalisis masalah
Seorang guru harus menganalisis penyimpangan pada siswa dan menyimpulkan latar belakang terjadinya penyimpangan tingkah laku dan sumber-sumber dari penyimpangan itu. Setelah ditemukan penyimpangan, guru menentukan alternatif-alternatif penanggulangan atau penyembuhan dari penyimpangan tersebut.
c. Menilai alternatif-alternatif pemecahan
Pada tahapan ketiga ini guru menilai dan memilih alternatif pemecahan berdasarkan sejumlah alternatif yang telah tersusun. Sesudah terpilih alternatif pemecahan yang dianggap tepat, selanjutnya guru mengaplikasikan alternatif pemecahan itu.
d. Mendapatkan balikan
Pada tahapan keempat ini guru melakukan kegiatan kilas balik. Tujuannya untuk menilai keampuhan pelaksanaan dari alternatif pemecahan yang dipilih untuk mencapai sasaran yang sesuai dengan yang direncanakan. Kegiatan kilas balik dilakukan oleh guru dalam bentuk pertemuan dengan siswa, diusahakan dengan penuh ketulusan, semata-mata untuk perbaikan dan kepentingan siswa dan sekolah. 2. Rancangan Pengelolaan Kelas
Rancangan merupakan serangkaian kegiatan yang disusun secara sistematis berdasarkan pemikiran yang rasional untuk mencapai tujuan tertentu. Hal ini berkaitan dengan tugas guru dimana seorang guru harus menentukan serangkaian kegiatan tentang langkah-langkah pengelolaan kelas yang disusun secara sistematis berdasarkan pemikiran yang rasional untuk tujuan menciptakan kondisi lingkungan pembelajaran yang optimal bagi siswa. Dalam penyusunan rancangan prosedur pengelolaan kelas dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya : a. Pemahaman terhadap arti, tujuan dan hakikat pengelolaan kelas, akan memberikan arah kepada apa, mengapa dan bagaimana harus berbuat dalam manajemen kelas.
b. Pemahaman terhadap hakikat siswa yang dihadapinya, maksudnya setiap siswa pada setiap saat, dalam lingkungan tertentu akan memperlihatkan sikap dan tingkah laku tertentu.
c. Pemahaman terhadap bentuk penyimpangan serta latar belakang tindakan penyimpangan yang dilakukan seorang siswa melalui identifikasi bentuk penyimpangan dilakukanya.
d. Pemahaman terhadap pendekatan-pendekatan yang dapat digunakan dalam pengelolaan kelas. Pemahaman ini akan menambah kemampuan dalam menyesuaikan pendekatan tertentu dengan masalah penyimpangan yang dilakukan oleh siswa.
e. Memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam membuat rancangan proseedur pengelolaan kelas.
Sedangkan proses pengelolaan kelas dimulai dari langkah-langkah sebagai berikut: a. Memahami hakikat konsep dan tujuan pengelolaan kelas.
b. Menentukan permasalahnya baik dari segi prevenrtif atau kuratif.
c. Mempertimbangkan hakikat anak yang memiliki pertumbuhan dan perkembangan sendiri, lalu memperhatikan kenyataan penyimpangan perilaku yang ada.
d. Menentukan pemasalahan dari segi individu maupun kelompok.
e. Menyusun rancangan prosedur pengelolaan kelas dari segi preventis individul atau kelompok.
f. Menjabarkan langkah-langkah kegiatan rancangan prosedur pengelolaan kelas.
g. Melaksanakan rancangan yang telah disusun, dimana fungsi dan peranan guru sangat menentukan.
h. Melakukan monitoring untuk mengetahui sejauh mana hasil pemecahan masalah itu dilaksanakan dan ditaati atau telah terjadi perkembangan baru.
E. Faktor – Faktor Yang Menimbulkan Gangguan di Kelas
Dalam menangani tugasnya, guru sering menghadapi permasalahan dengan kegiatan-kegiatan di dalam kelasnya. Permasalahan ini meliputi dua jenis yaitu yang menyangkut pengajaran dan pengelolaan kelas. Sering terjadi guru menangani masalah yang bersifat pengajaran dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan dan sebaliknya. Masalah pengajaran harus ditangani dengan pemecahan yang bersifat pengajaran dan masalah pengelolaan harus ditangani dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan.
Untuk dapat menangani masalah-masalah pengelolaan kelas secara efektif guru harus mampu: 1. Mengenali secara tepat berbagai jenis masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun kelompok.
2. Memahami pendekatan mana yang cocok dan tidak cocok untuk jenis masalah tertentu.
3. Memilih dan menetapkan pendekatan yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang dimaksud.
Ada dua jenis masalah pengelolaan kelas, yaitu: 1. Masalah Individual
Penggolongan masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah laku menyimpang.
2. Masalah Kelompok
Dikenal adanya tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas: a. Kurangnya kekompakan
b. Kekurangmampuan mengikuti peraturan kelompok
c. Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok
d. Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang.
e. Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya saja.
f. Ketiadaan semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes.
g. Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan
F. Kesimpulan
1. Pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan pembelajaran dengan maksud agar tercapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar sebagaimana yang diharapkan.
2. Dalam memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas, prinsip-prinsip pengelolaan kelas dapat dipergunakan, yaitu :
a. Hangat dan antusias
b. Tantangan
c. Bervariasi
d. Keluwesan
e. Penekanan pada hal-hal yang positif
f. Penanaman disiplin diri
3. Adapun macam-macam pendekatan dalam manajeman pengelolaan kelas yaitu:
a. Pendekatan kekuasaan
b. Pendekatan ancaman
c. Pendekatan kebebasan
d. Pendekatan resep
e. Pendekatan pengajaran
f. Pendekatan sosio-emosional
g. Pendekatan kerja kelompok
h. Pendekatan elektris atau pluralistik.
4. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terciptanya proses belajar-mengajar yang efektif pula. Oleh karena itu setiap guru dituntut memiliki kemampuan untuk mengetahui, memahami, memilih, dan menerapkan pendekatan yang dinilai efektif guna menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam menunjang proses pembelajaran yang optimal.
DAFTAR PUSTAKAAN
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️