MAKALAH PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI UMAYYAH

Baca Juga



      A.      Pendahuluan
Setelah terjadi perang saudara antara Ali dan Mu’awiyah yang menjadi gubernur Damaskus saat itu, konflik kekuasaan di tubuh kekhalifahan memuncak hingga akhirnya Ali pun dibunuh oleh kelompok yang berasal dari kubunya sendiri karena telah menerima tahkim (arbitrase) dari pihak Mu’awiyah. Pada 661 M, Mu’awiyah membangun dinasti Bani Umayah dan dimulailah gelombang ekspansi yang kedua. Perluasan
kekuasaan yang sudah dimulai sejak zaman Umar dilanjutkan kembali setelah beberapa lama banyak mengurusi masalah internal.
Namun konflik internal kembali terjadi di lingkungan dinasti yang menyebabkan kekuasaan Bani Umayah hanya berlangsung selama kurang lebih 89 tahun dan kemudian diambil alih oleh Bani  ‘Abbasiyah (keturunan Al-Abbas ibn Abd Al-Muttallib – Paman Nabi). Selama pemerintahan Bani Umayyah Islam telah meluas sampai ke India, Spanyol dan daerah-daerah Rusia. Selama itu juga, berbagai macam kemajuan telah dicapai oleh umat Islam, dari kemajuan bidang politik, tatanegara, arsitektur, dan lain sebagainya.
Pada makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang sejarah sejarah peradaban islam pada masa Dinasti Umayyah.
B.       Sejarah Berdirinya Dinasti Umayyah
Nama Dinasti Bani Umayah diambil dari Umayah bin Abd Al-Syam, kakek Abu Sufyan. Umayah segenerasi dengan Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad Saw dan Ali bin Abi Thalib. Dengan demikian, Ali bin Abi Thalib segenerasi pula dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Ali bin Abi Thalib berasal dari keturunan Bani Hasyim sedangkan Mu’awiyah berasal dari keturunan Bani Umayah. Kedua keturunan ini merupakan orang-orang yang berpengaruh dalam suku Quraisy.[1]
Setting cikal bakal dinasti ini bermula ketika Ali bin Abi Thalib dibaiat sebagai khalifah menggantikan kedudukan khalifah Usman bin Affan, salah satu kebijakan awal dan Ali adalah pengambil alihan tanah-tanah dan kekayaan negara yang telah dibagi-bagikan oleh Usman kepada keluarganya dan memecat gubemur-gubemur dan pejabat pemerintahan yang diangkat Usman untuk meletakkan jabatannya, namun Muawiyyah Gubernur Syiria menolak pemecatan itu sekaligus tidak mau membaiat Ali sebagai khalifah dan bahkan membentuk kelompok yang kuat dan menolak untuk memenuhi perintah-perintah Ali. Dia berusaha membalas kematian khalifah Usman, atau kalau tidak dia akan menyerang kedudukan khalifah bersama-sama dengan tentara Syiria. Desakan Muawiyyah akhirnya tertumpah dalam perang Shiffin.[2]
Dalam pertempuran itu hampir-hampir pasukan Muawiyyah dikalahkan pasukan Ali, tapi berkat siasat penasehat Muawiyyah yaitu Amr bin 'Ash, agar pasukannya mengangkat mushaf-mushaf Al Qur'an di ujung lembing mereka, pertanda seruan untuk damai dan melakukan perdamaian (tahkim) dengan pihak Ali dengan strategi politik yang sangat menguntungkan Mu’awiyah.[3]
Bukan saja perang itu berakhir dengan Tahkim Shiffin yang tidak menguntungkan Ali, tapi akibat itu pula kubu Ali sendiri menjadi terpecah dua yaitu yang tetap setia kepada Ali disebut Syiah dan yang keluar disebut Khawarij. Sejak peristiwa itu, Ali tidak lagi menggerakkan pasukannya untuk menundukkan Muawiyyah tapi menggempur habis orang-orang Khawarij, yang terakhir terjadi peristiwa Nahrawan pada 09 Shafar 38 H, dimana dari 1800 orang Khawarij hanya 8 orang yang selamat jiwanya sehingga dari delapan orang itu menyebar ke Amman, Kannan, Yaman, Sajisman dan ke Jazirah Arab.[4]
Jatuhnya Ali dan naiknya Muawiyah juga disebabkan keberhasilan pihak khawarij (kelompok yang membangkang/ keluar dari kelompok Ali) membunuh khalifah Ali, meskipun kemudian tampuk kekuasaan dipegang oleh putranya Hasan, namun tanpa dukungan yang kuat dan kondisi politik yang kacau akhirnya kepemimpinannya pun hanya bertahan sampai beberapa bulan. Pada akhirnya Hasan menyerahkan kepemimpinan kepada Muawiyah, namun dengan perjanjian bahwa pemmilihan kepemimpinan sesudahnya adalah diserahkan kepada umat Islam. Perjanjian tersebut dibuat pada tahun 661 M / 41 H dan dikenal dengan am jama’ah karena perjanjian ini mempersatukan ummat Islam menjadi satu kepemimpinan politik.[5]
Setelah terjadi kesepakatan antara Hasan bin Ali  dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan pada tahun 41 H/ 661 M, maka secara resmi Mu’awiyah diangkat menjadi khalifah oleh umat Islam secara umum. Pusat pemerintahan Islam dipindahkan Mu’awiyah dari Madinah ke Damaskus. Pemerintahan Mu’awiyah berubah bentuk dari theo-demokrasi menjadi monarchi (kerajaan/dinasti) yang berbasiskan Islam, ini terjadi sejak dia mengangkat anaknya Yazid sebagai putra mahkota. Sejak itulah sistem pemerintahan mamakai sistem monarchi hingga pada khalifah terakhir Marwan bin Muhammad, yang tewas dalam pertempuran melawan pasukan Abul Abbas As-Safah dari Bani Abbas pada tahun 750 M. Dengan tewasnya Marwan bin Muhammad berakhir Dinasti Bani Umayah dan digantikan oleh Dinasti Bani Abbas.[6]
Pola pemerintahan menjadi kerajaan ini terjadi karena pada masa itu umat Islam telah bersentuhan dengan peradaban Persia dan Bizantium. Oleh karena itu, Mu’awiyah juga bermaksud meniru cara suksesnya kepemimpinan yang ada di Persia dan Bizantium yaitu Kerajaan tetapi gelar pemimpin tetap menggunakan Khalifah dengan makna konotatif yang diperbaharui.[7]
C.      Para Khalifah Dinasti Umayyah
1.      Mu’awiyah Ibnu abu Sufyan (41-60 H=661-680M)
Mu’awiyah dilahirkan kira-kira 15 tahun sebelum hijrah dan masuk islam pada hari penaklukan kota mekah bersama-sama dengan penduduk kota mekah lainnya. Pada waktu Muawiyah berumur 23 tahun, Rasulullah berusaha mempererat hubungan antara orang-orang yang baru masuk islam dengan beliau, terutama dari kalangan pemimpin-pemimpin keluarga ternama. Hal ini dimaksudakan agar mereka dapat lebih mencurahkan perhatiannya terhadap islam dan ajaran-ajaran islam lebi meresap didalam hati mereka. Rasulullah berusaha agar Mu’awiyah dapat lebih akrab dengan beliau. Oleh sebab Mu’awiyah diangkat sebagai anggota sidang pleno penulis wahyu. Mu’awiyah juga dikenal sebagai sahabat yang banyak meriwayatkan hadits.
Dia adalah salah seorang penulis wahyu Rasulullah dan meriwayatkan sedikitnya 163 hadist dari Rasulullah. Rasulullah dalam hadist riwayat  Tirmidzi, pernah berdoa kepada Allah untuknya ”jadikanlah dia orang yang memberkan petunjuk jalan yang benar dan orang yang mendapat hidayah”.[8]
Ada tiga macam usaha Mu’awiyah untuk mencapai kedudukan sebagai khalifah :
a.       Membujuk pasukan Ali agar bersedia meletakan senjata dalam perang shiffin yang kemudian diadakan Majelis Tahkim Daumatul Jandal.
b.      Mu’awiyah mengadakan tekanan-tekanan kepada hasan sehingga akhirnya   Hasan berdamai dan sekaligus menyerahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah.
c.       Mu’awiyah berusaha menghancurkan pemberontakan yang dilancarkan oleh kaum khawarij didaerah pedalaman Arabia, di Irak dan Iran.
Setelah Mu’awiyah menjabat sebagai Khalifah, maka ia pun mengangkat putranya Yazid sebagai putra mahkota, yang akan menggantikan kedudukannya sebagai Khalifah.
Tindakan Mu’awiyah ini tidak sesuai lagi dengan cara-cara yang telah ditempuh oleh Khulafaur Rsyidin, yaitu dalam menentukan khalifah berdasarkan musyawarah. Kecuali mengangkat putra mahkota, Mu’awiyah sendiri dalam usahanya menjadi khalifah juga tanpa melalui musyawarah terlebih dahulu. Kebijakan Mu’awiyah untuk mengangkat putranya Yazid menjadi putra mahkota sebenarnya mendapatkan tantangan dari sebagian besar umat Islam pada waktu itu, sehingga dia harus menghadapi persoalan yang sangat pelik dan penantangan yang sangat keras akibat keputusan ini.[9]
Masa pemerintahannya dianggap sebagai salah satu pemerintahan yang paling baik dalam perjalanan kekuasaan islam. Keamanan internal terjamin dan unsur-unsur yang akan melakukan perlawanan terhadapnya selalu mengalami kekalahan. Dia berhasil melakukan penaklukan-penaklukan di semua medan dan diwarnai dengan kemenangan-kemenangan.[10]
Menjelang wafat, beliau berwasiat kepada putranya Yazid, yang telah diangkat sebagai putra mahkota (wliyu ahdi), yang isinya antara lain, bahwa musuhnya yang berusaha menghalang-halangi usahanya ada empat orang yaitu : Husain Ibn Ali, Abdurrahman Ibnu Abu Bakar, Abdullah Ibnu Zubair, dan Abdullah Ibnu Umar. Diantara empat orang musuh itu yang paling berbahaya adalah Abdullah Ibnu Zubair. Oleh karena itu jika tertangkap harus dibunuh jangan diberi ampun. Sedangkan yang lainnya jika tidak melawan jangan dibunuh dan hendaknya tetap dihormati.
2.      Pemerintahan Yazid Ibnu Mu’awiyah. (60-64 H/680-684 M)
Yazid Ibnu Mu’awiyah naik tahta sebagai khalifah pada usia 34 tahun menggantikan ayahnya. Berbeda dengan ayahnya yang dari sejak masa mudanya dalam meniti jenjang kepemimpinannya melalui tahapan-tahapan  yang beliku-liku sehingga dapat menduduki jabatan tertinggi dalam pemerintahan sebagai khalifah, Yazid tidak memiliki pengalaman sebagaimana yang dimiliki ayahnya, iya dibesarkan dikalangan istana yang semuanya serba mewah. Semenjak kecil dia dilayani oleh dayang-dayang istana. Iya kurang cakap dalam memegang pemerintahan. Oleh sebab itu pada Yazid tidak banyak usaha untuk perluasan islam, bahkan di negeri sendiri banyak terjadi pemberontakan-pemberontakan.
3.      Pemerintahan Muawiyah II bin Yazid, (64-65 H / 683-684 M)
Setelah Yazid wafat, pemerintahan digantikan oleh Mu’awiyah II bin Yazid. Namun, Mu’awiyah II tidak sanggup memerintah dan menyerahkan kepemimpinannya kepada Marwan bin Hakam.
4.      Pemerintahan Marwan I Ibn Hakam (64-65 H/684-685 M)
Jabatan yang pernah dipegang oleh Marwan Ibnu Hakam ialah sebagai sekertaris pada masa khalifah Usman bin Affan dan sebagai gubernur Hijaz yang berkedudukan di madinah pada masa khalifah Mu’awiyah.
Usaha marwan yang mula-mula dilakukan adalah menumpas Abdullah Ibnu Zubair, usaha ini mula-mula dengan mengirim pasukan kemesir dari tangan wali mesir yang telah diangkat oleh Abdullah Ibnu Zubair, ternyata pasukan marwan mendapatkan kemenangan.Setelah pasukan Marwan menang dimesir, kemudian dilanjutkan dengan menumpas Abdullah Ibnu Zubair di hijaz beserta wali-wali yang telah diangkatnya. Belum selesai usaha penumpasan di hijaz ini, Marwan yang baru saja memerintah selama Sembilan  bulan menemuai ajalnya.
Sebelum itu beliau telah mengangkat Abdul Malik dan Abdul Azis sebagai putra mahkota yang akan menggantikannya sebagai kahalifah nanti ketika mangkat.


5.      Pemerintahan Abdul Malik Ibnu Marwan (65-86 H = 685-705 M)
Abdul Malik Ibnu Marwan mulai menjabat sebagai khalifah pada saat usia 39 tahun setelah ayahnya (Marwan Ibnu Hakam) wafat. Ia terpandang sebagai seorang khalifah yang perkasa dan negarawan yang cakap dan berhasil memulihkan kembali kesatuan dunia islam.
Khalifah Abdul Malik mewarisi pemerintahan ayahnya dalam keadaan yang belum aman dan tertib. Oleh karena itu usaha yang diutamakan ialah mengamankan negerinya dari ancaman pemberontakan. Dengan demikian, maka Abdullah malik tidak sempat untuk melakukan perluasan daerah.
Setelah Abdul Malik dapat menumpas pemberontakan yang besar itu, kemudian beralih pandangannya untuk mengadakan pembersihan terhadap kaum, yang selalu membuat kekecauan didaerah timur.
Amru ibnu Said masih merupakan keluarga abdul malik. Ia ingin ditetapkan sebagai putra mahkota yang akan menggantikan sebagai khalifah setelah Abdul Malik. Hal ini dikabulkan oleh abdul malik sebagai suatu siasat saja.
Pada suatu malam Amru dipanggil oleh Abdul Malik untuk menghadap kepadanya. Maka datanglah Amru bersama-sama dengan beberapa pengikutnya. Setelah amru tiba tepat didepannya abdul malik, waktu itulah Abdul Malik menangkap dan membunuhnya. Kepelanya dilemparkan kepada pengikut-pengikutnya yang sedang menunggu dihalaman istanah.
6.      Pemerintahan Walid Ibnu Abdul Malik (86-96 H = 705-715M)
Walid Ibnu Abdul Malik naik tahta sebagai khalifa pada saat usia 34 tahun. Pribadinya sendiri sebenarnya kurang fasih dalam bahasa arab, sehingga pada suatu ketika pernah ditegur oleh ayahnya, bahwa yang dapat memimpin bangsa Arab hanyalah orang yang baik bahasanya. Teguran itu menjadi cambuk baginya untuk belajar sunguh-sungguh dalam bidang bahasa arab.
Meskipun walid kurang faseh dalam bidang bahasa arab, akan tetapi namanya sangat tercatat dalam daulat bani umayah, yang menjadikan bahasa arab sebagai bahasa diplomatic didalam hubungan dengan Negara-negara tetangga. Kebesaran Walid dapat diungkap, bahwa mu’awiyah adalah pendiri daulat Umayah, sedangkan abdul malik yang menstabilkan pemerintahan dan walid adalah menagakannya. Pada masanyalah Daulat Umayah mengalami keemasan. Pada masa itu segenap rakyat cinta padanya.
Usaha yang mula-mula dilakukan walid adalah mengangkat orang-orang kuat untuk menduduki jabatan-jabatan penting. Hujaj ibnu Yusuf diangkat sebagai amir (jabatan diatas gubernur) untuk wilayah timur yang berkedudukan di Basrah. Untuk selanjutnya Hajaj mengengkat dua tokoh berat, yaitu panglima kutaibah ibnu muslim mejedi gubernur wilayah Khurasan dan panglima Muhammad Ibnu Qasim menjadi gubernur wilayah sindu.
7.      Pemerintah Sulaiman Ibnu Abdul Malik (96-99H) = 715-717 M)
Sulaiman Ibnu Abdul Malik naik tahta sebagai khalifah menggantikan kakaknya pada usia 42 tahun. Ia dikenal sebagai seorang khalifah yang tampan, sehingga digelar “raja remaja”.Khalifah sulaiman disamping dikenal sebagai khalifah yang memiliki sifat-sifat terpuji seperti fasih dan lancar berbicara, adil dan gemar ke medan perang, juga mempunyai sifat pendendam.
Sulaiman meninggal dunia di Dabik di perbatasan Bizantium setelah memegang kendali pemerintahan yang sangat singkat dan tidak begitu gemilang. Diranjang kematiannya dia mencalonkan Umar Bin Abdul Azis sebagai penggantinya watak sulaiman sangat kontradiktif , ia bermurah hati terhadap pengikutnya, dan begitu kejam terhadap musuh-musuhnya sebagaimana ayahnya.[11]
8.      Pemerintahan Umar Ibnu Abdul Azis (99-101 H = 717 – 720 M)
Pada saat Khalifah Sulaimanmen dekat ajalnya, maka ia telah menunjuk Umar ibnu abdul Azis sebagai penggantinya. Meskipun umar ibnu abdul azis bukan saudara seketurunannya, tetapi pilihan Sulaiman sangat tepat, karena umar adalah satu-satunya pemimpin yang dikehendaki masyarakat islam pada saat itu.
Umar ibnu Abdul Azis naik tahta sebagai khalifah pada usia 37 tahun. Sebelum menjadi khalifah ia menjadi gubernur wilayah Hijaz pada masa Khalifa walid. Di kala menjabat sebagai Gubernur, Umar ibnu Abdul Azis telah membangun dan memperluas mesjid nabawi dimadinah dan masjid Al HAram di Mekah. Masa Khalifah sulaiman ia menjabat sebagai Al-Katib ( sekertaris ).
Umar ibnu Abdul Azis merupakan Khalifah bani Umayah yang sangat hebat. Beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa pemerintahannya termashur seperti halnya pemerintahan ortodok atau pemerintahan Abu Bakar dan Umar. Diriwayatkan: “Tiga khalifah ialah Abu Bakar, Umar dan Umar bin Abdul Azis”.[12] 
9.      Pemerintah Yazid Ibnu Abdul Malik (101-105 H = 720-724 M)
Yazid Ibnu Malik Ibnu Marwan naik tahta sebagai Khalifah ketika berumur 36 tahu, dengan gelar Yazid II. Pada permulaan pemerintahan ia mengikuti kebijakan yang dilakukan oleh Umar ibnu Abdul Azis. Hal ini tidak bertahan lama karena terlalu banyak penasehat-penasehatnya yang tidak senang dengan kebijaksanaan umar. Berbeda dengan Umar ibnu Abdul Azis yang sangat teguh menjalankan agama maka Yazid Ibnu Abdul Mlik orangnya pemabuk.
10.  Pemerintahan Hisyam Ibnu Abdul Malik (105-125=724-743)
Empat orang putera Abdul Malik yaitu : Al-Walid, Sulaiman, Yazid dan Hisyam, kesemuanya diangkat menjadi putra mahkota dan semuanya berhasil menjadi khalifah oleh sebab itu sering disebut: “Abul Muluk” artinya Ayah Raja-Raja.
Hisyam Ibnu Abdul Malik naik tahta dalan usia 35 tahun mengentikan saudaranya yazid II. Berbeda dengan Yazid, maka Hisyam terpandang sebagai seorang negarawan yang cakap dan ahli strategi militer dan mempunyai cukup untuk mengemudikan roda pemerintahan, yaitu lebih kurang 20 tahun.
11.  Pemerintahan Al-Walid Ibnu Yazid Ibnu Abdul Malik (125-126/743-744 M)
Pada waktu walid ibnu yazid tengah berada dikota peristirahatan bernama Arzak di Sebelah Utara Damaskus, Khalifa Hisyam wafat. Para pembesar keluarga umayah memilih Al Walid untuk menjadi Khalifah. Ia dikenal dengan nama Walid II. Pada waktu itu ia berusia 39 tahun.
Keadaan pemerintah bani Umayah dibawah pimpnan Al Walid II mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan kelemahan Al Walid dengan sifat-sifat yang kurang terpuji. Karena perangainya yang kurang terpuji itu, maka ia dibenci oleh masyarakat dan keluarganya, sampai-sampai ia dituduh kafir.


12.  Pemerintahan Yazid ibnu Al Walid Ibnu Abdul Malik (126 H = 744 M )    
Setelah Al Walid terbunuh  maka digantikan oleh Yazid III. Ia dikenal sebagai orang yang kuat beribadat. Ia digelari An-Naqish artinya yang mengurangi. Hal ini disebabkan karena ia mengurangi anggaran belanja untuk Mekah dan Madinah.
Pada masa pemerintahan sudah mulai goyang karena dengan diam-diam para pelapo daulat bani Abas bekerja keras untuk menyusun kekuatan yang berpusat di Khurasan. Mereka mulai melakukan propaganda ke Negara-negara lain. Tokoh-tokohnya antara lain Abu Muslim Al Khurasani dan Ibrahim Al Imam. Yazid III memerintah hanya selama lima bulan, sebab meninggal pada masa itu juga.
13.  Pemerintahan Ibrahim ibn Malik (744 M)
Pada masa pemerintahannya keadaan negara semakin kacau dan dia memerintah selama 3 bulan dan wafat pada tahun 132 H.
14.  Pemeritahan Marwan Ibnu Muhammad (127-132 H = 745-750 M)
Yazid wafat digantikan dengan saudaranya Ibrahim Ibnu Walid Ibnu Abdul Malik. Ia tidak mendapat dukungan rakyat, sehingga timbul beberapa pemberontakan. Pemberontakan Yang paling kuat dari Marwan Ibnu Muhammad Seorang Gubernur Armenia. Marwan dapat merebut beberapa kota dan akhirnya menguasai damaskus. Sejak itu Marwan mengangkat dirinya sebagai Khalifah yang berkedudukan di damaskus.[13]
D.      Perkembangan dan  Kemajuan Dinasti Umayyah
Terbentuknya Dinasti Umayyah merupakan gambaran awal bahwa umat Islam ketika itu telah kembali mendapatkan identitasnya sebagai negara yang berdaulat, juga merupakan fase ketiga kekuasaan Islam yang berlangsung selama lebih kurang satu abad (661 - 750 M). Perubahan yang dilakukan, tidak hanya sistem kekuasaan Islam dari masa sebelumnya (masa Nabi dan Khulafaurrasyidin) tapi juga perubahan-perubahan lain di bidang sosial politik, keagamaan, intelektual dan peradaban.[14]
1.      Dinamika Politik
Dalam awal perkembangannya, dinasti ini sangat kental diwarnai nuansa politiknya yaitu dengan memindahkan ibukota kekuasaan Islam dari Madinah ke Damaskus.[15] Kebijakan itu dimaksudkan tidak hanya untuk kuatnya eksistensi dinasti yang telah mendapat legitimasi politik dari masyarakat Syiria, namun lebih dari itu adalah untuk pengamanan dalam negeri yang sering mendapat serangan-serangan dari rival politiknya.
a.       Sistem Penggantian kepala Negara bersifat Monarchi.[16]
b.      Sistem Sosial (Arab dan Mawali),syarat keanggotaan masyarakat harus berasal dari orang Arab, sedangkan orang non Arab setelah menjadi Muslim harus mau menjadi pendukung (mawali)bangsa Arab. Dengan demikian masyarakt muslim pada masa Dinasti Umayyah terdiri dari dua kelompok, yaitu Arab dan Mawali.
c.       Kebijaksanaan dan Orientasi Politik. Selama lebih kurang 90 tahun Dinasti Bani Umayah ini memerintah, banyak terjadi kebijaksanaan politik yang dilakukan pada masa ini, seperti:
1)      Pemisahan Kekuasaan. Terjadi dikotomi antara kekuasaan agama (spiritual power) di tunjuklah qadhi/ hakim dan kekuasaan politik (temporal power).
2)      Pembagian wilayah. Khalifah bin Khattab terdapat 8 Provinsi, maka pada masa Bani Umayah menjadi 10 Provinsi Wilayah kekuasaan terbagi dalam 10 provinsi, yaitu: Syiria dan Palestina; Kuffah dan Irak; Basrah, Persia, Sijistan, Khurasan, Bahrain, Oman, Najd dan Yamamah; Arenia;Hijaz; Karman dan India; Egypt (Mesir);Ifriqiyah (Afrika Utara); Yaman dan Arab selatan, dan Andalusia.[17]
d.      Bidang Administrasi Pemerintahan. Dibidang pemerintahan, dinasti membentuk semacam Dewan Sekretaris Negara (Diwan al Kitabah) yang terdiri dari lima orang sekretaris yaitu : Katib ar Rasail, Katib al Kharraj, Katib al Jund, Katib asy Syurtah dan katib al Qadi.[18]
Pada masa Abdul Malik bin Marwan, jalannya pemerintahan ditentukan, oleh empat departemen pokok (diwan) yaitu :[19]
1)      Dewan Rasail (istilah sekarang disebut sekretaris jenderal). Diwan ini berfungsi untuk mengurus surat-surat negara yang ditujukan kepada para gubernur atau menerima surat-surat dari mereka.
2)      Diwan al-Kharaj. Bertugas untuk mengurus masalah pajak.
3)      Diwan al-Barid. Merupakan badan intelijen negara yang berfungsi sebagai penyampai berita-berita rahasia daerah kepada pemerintah pusat.
4)      Diwan al-Khatam (departemen pencatatan). Setiap peraturan yang dikeluarkan oleh khalifah harus disalin di dalam suatu register, kemudian yang asli harus di segel dan dikirim ke alamat yang dituju.
e.       Politik Arabisasi. Dengan tatanan masyarakat yang homogin tersebut, menimbulkan ambisi penguasa dinasti ini untuk mempersatukan masyarakat dengan politik Arabisme,[20] Pada masa Bani Umayah (sejak Khalifah Abd Malik bin Marwan), berkembang istilah Arabisasi artinya usaha-usaha pengaraban oleh Bani Umayah di wilayah-wilayah yang dikuasai Islam. Bidang ini dilakukan Bani Umayah antara lain dalam pengangkatan kepala-kepala wilayah dari bangsa arab untuk ditempatkan pada wilayah-wilayah yang dikuasai. Disamping itu ia mengajarkan bahasa arab diseluruh wilayah Islam. Penerjemahan buku-buku berbahasa asing ke dalam bahasa arab.[21]
f.       Kebijakan politik Dinasti Umayyah lainnya adalah upaya-upaya perluasan wilayah kekuasaan. Pada zaman Muawiyyah, Uqbah bin Nafi' berhasil menguasai Tunis yang kemudian didirikan kota Qairawan sebagai pusat kebudayaan Islam pada tahun 760 M. Di sebelah, timur Muawiyyah memperoleh daerah Khurasan sampai ke Lahore di Pakistan. Di sebelah barat dan utara diarahkan ke Bizantium dan dapat menundukkan Rhodes dan pulau-pulau lain di Yunani. Pada tahun 48 H, Muawiyyah merencanakan penyerangan laut dan darat terhadap Konstantinopel, tetapi gagal setelah kehilangan pasukan dan kapal perang mereka.[22]
2.      Dinamika Ekonomi
Kemenangan-kemenangan yang diperoleh umat Islam secara luas itu, menjadikan orang-orang Arab bertempat tinggal di daerah penaklukan dan bahkan menjadi tuan-tuan tanah. Kepada pemilik tanah diwajibkan oleh Dinasti Umayyah untuk membayar pajak tanah, namun pajak kepala hanya berlaku kepada penduduk non muslim sehingga mengakibatkan banyaknya penduduk yang masuk Islam, akibatnya secara ekonomis penghasilan negara berkurang, namun demikian dengan keberhasilan Dinasti Umayyah menaklukkan Imperium Persia beserta wilayah kepunyaan Imperium Byzantium, sesungguhnya kemakmuran bagi Dinasti ini melimpah ruah yang mengalir untuk kas Negara. Kebijakan Dinasti di bidang ekonomi lainnya adalah menjamin keadaan aman untuk laiu lintas darat dan laut, lalu lintas darat melalui jalan Sutera ke Tiongkok guna memperlancar perdagangan sutera, keramik, obat-obatan dan wewangian, sedangkan lalu lintas laut ke arah negeri-negeri belahan untuk mencari rempah-rempah, bumbu. kasturi, permata, logam mulia, gading dan bulu-buluan.[23]
Pada masa khalifah Abdul Malik, telah dirintis industri kerajinan tangan berupa tiraz (semacam bordiran) yakni cap resmi yang dicetak pada pakaian khalifah dan para pembesar pemerintahan, format tiraz bertuliskan lafaz "La Ilaaha Ilia Allah". Guna memperlancar produktifitas pakaian resmi kerajaan, maka Abdul Malik mendirikan pabrik-pabrik kain, dan setiap pabrik diawasi oleh Sahib at Tiraz yang bertujuan mengawasi tukang emas dan penjahit, menyelidiki hasil karya dan membayar gaji mereka.[24]
3.      Dinamika Sosial
Seperti yang suda di jelaskan sebelumnya, pada masa Dinasti Umayyah, bangsa Arab mendapatkan posisi terhormat daiam masyarakat. Pada umumnya, bangsa Arab merupakan tuan tanah hasil rampasan perang. Adanya dua kelompok masyarakat yang membangun Daulat Umayyah yakni bangsa Arab dan non-Arab, berpengaruh positif pada motivasi orang-orang non-Arab untuk memeluk agama Islam. Kebijakan ini juga berpengaruh pada perkembangan dan perluasan pemakaian bahasa Arab dengan cepat.
4.      Intelektual dan Keagamaan
Di zaman pemerintahan Abdul Malik terdapat banyak bahasa yang digunakan dalam administrasi, seperti bahasa Persia, Yunani dan Qibti, namun atas usaha Salih bin Abdur Rahman, sekretaris al Hajjaj, ia mencoba menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa administrasi dan bahasa resmi di seluruh negeri sehingga perhatian dan upaya penyempurnaan pengetahuan tentang bahasa Arab mendorong lahirnya ahli bahasa yaitu Sibawaihi dengan karya tulisnya al Kitab menjadi pegangan dalam soal tata bahasa Arab.
Dalam daerah kekuasaannya terdapat kota-kota pusat kebudayaan yaitu Yunani Iskandariyah. Antiokia, Harran dan Yunde Sahpur yang semula dikembangkan oleh imuwan-ilmuwan Yahudi, Nasrani dan Zoroaster Khalifah Khalid bir'i Yazid bin Muawiyyah yang seorang orator dan berpikiran tajam berupaya menerjemahkan buku-buku tentang astronomi, kedokteran dan kimia. Khalifah Walid bin Abdul Malik memberikan perhatian kepada bimarstan, yaitu rumah sakit sebagai tempat berobat, perawatan orang sakit dan studi kedok-teran yang berada di Damaskus, sedangkan khalifah Umar bin Abdul Aziz menyuruh para ulama secara resmi untuk membukukan hadits-hadits Nabi, dan selain itu ia bersahabat dengan ibn Abjar, seorang dokter dan Iskandariah yang kemudian menjadi dokter pribadinya.[25]
Pendukung dalam pengembangan ilmu adalah golongan non Arab dan telaahnya pun sudah meluas sehingga ada spesialisasi ilmu menjadi : ilmu pengetahuan bidang agama, bidang sejarah, bidang bahasa dan bidang filsafat. Ilmuwan itu antara lain Sibawaihi, al Farisi, al Zujaj (ahli nahwu), al Zuhpy, Abu Zubair, Muhammad bin Muslim bin Idris dan Bukhari Musiim (ahli Hadits) dan Mujahid bin Jabbar (ahli tafsir).
5.      Sistem Fiskal
Sumber uang masuk pada Dinasti Bani Umayah, pada umumnya seperti di zaman permulaan Islam. Walaupun demikian ada beberapa tambahan seperti al-Dharaaib yaitu kewajiban yang harus dibayar oleh warga negara dan terdapat pajak-pajak istimewa. Adapun saluran uang keluarnya sama seperti permulaan Islam, seperti gaji para pegawai dan tentara, serta biaya tata usaha negara, pembangunan pertanian termasuk irigasi dan penggalian terusan-terusan, ongkos bagi orang-orang hukuman dan tawanan perang, perlengkapan perang, serta hadiah-hadiah kepada para pujangga dan para Ulama.Pada masa Umayah di cetak mata uang muslimin secara teratur dan pembayaran dengan mata uang ini, walaupun pada masa Umar bin Khattab sudah dicetak mata uang kaum muslimin namun belum begitu teratur seperti pada khalifah Abdul Malik bin Marwan.[26]
6.      Pembangunan Peradaban, Intelektual, bahasa dan sastera Arab.
Masa Bani Umayah ini merupakan peletak dasar pembangunan peradaban Islam yang nanti pada masa Bani Abbas merupakan puncak dari peradaban Islam. Pada masa ini ilmu Naqliyah mulai berkembang. Perkembangan yang paling menonjol adalah ilmu tafsir dan ilmu hadits. Dan terjadi pengumpulan hadits pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dikumpulkan oleh ‘Ashim al-Anshari. Muncul juga ilmu Nahwu (tata bahasa Arab) sehingga Sibawaihi menyusun al-kitab untuk memperlajari tata bahasa arab.  Khalifah Mu’awiyah memerinthkan karya-karya bangsa Yunani yang mengandung berbagai macam Ilmu. Dengan demikian umat Islam pada masa ini mulai mengenal ilmu kedokteran, ilmu Kalam, seni bangunan (architecture) dan sebagainya.[27]
7.      Sistem Militer
Pada masa Dinasti Bani Umayah orang masuk tentara kebanyakan dengan dipaksa atau setengah dipaksa. Untuk menjalankan kewajiban ini dikeluarkan semacam undang-undang wajib militer yang dinamakan Nidhamut Tajnidil Ijbary.
a.       Perluasan Ke Asia Kecil
Dengan armada laut yang terdiri dari 1700 kapal, lengkap dengan perbekalan dan persenjataannya. Lalu Mu’awiyah menyerang pulau-pulau dilaut tengah sehingga berhasil menduduki pulau Rhodes tahun 53 H dan pulau Kreta tahun 54 H. Kemudian di serang kota Konstatinopel.Kemudian mengepung kota Konstatinopel di bawah pimpinan Yazid bin Mu’awiyah dan didampingi oleh pahlawan Islam yang berani seperti Abu Ayyub al-Anshar, Abdullah ibnu Zuber, Abdullah ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Penyerangan pertama ini gagal karena ada pengkhianatan Loen Mar’asy.
b.      Perluasan ke Timur
Ke arah Timur dapat menaklukkan daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan dari Afghanistan sampai ke Kabul. Kemudian diteruskan pada zaman Malik di bawah pimpinan Al- Hajjaj ibn Yusuf. Kemudian dapat menundukkan daerah Balkh, Bukhara, Khawarizan, Fergnana, dan Samarkand. Selanjutnya pasukan muslim juga sampai ke India serta dapat menguasai Balukhistan, Sind, dan daerah Punjab sampai ke Multan (713 H).
c.       Perluasan ke Afrika Utara
Uqbah ibn Nafi’ al-Fahri telah menetap di Barqah setelah wilayah itu dikuasai. Oleh karena kemahiran dan keberaniannya, ia mengalahkan armada Bizantium di daerah pantai, barbar dipedalaman, serta Tripoli dan Fazzan. Dan pada tahun 95 H/ 713 M dapat membebaskan rakyat Spanyol dan Eropa dari penindasan bangsa Visigoth (Gothik) Barat yang telah berkuasa selama 300 tahun.[28]
8.      Prestasi Dinasti Umayyah
a.       Bidang Fisik
Dalam pembangunan fisik, pada Diansti Umayyah telah didirikan pos-pos yang pada pemerintahan sebelumnya tidak ditemukan. Lebih lengkapnya, dapat dikatakan bahwa beberapa prestasi Dinasti Umayyah dalam pembangunan fisik adalah  membangun pos-pos, jalan raya, Mencetak mata uang, panti asuhan, gedung pemerintahan, mesjid, rumah sakit, sekolah studi kedokteran.
b.      Perluasan Wilayah Kekuasaan.
Dalamhal perluasan wilayah, Dinasti Umayyah menjalankan ekspansi sebagai berikut:
1)      Menguasai Tunis pada tahun 760 M di bawah pimpinan Uqbah bin Nafi'.
2)      Menguasai Khurasan hingga Lahore di sebelah Timur.
3)      Menguasai Bizantium.
4)      Menguasai Rhodes dan pulau-pulau kecil lainnya di Yunani.
5)      Di sebelah Barat, Dinasti Umayyah berhasil menaklukkan Aljazair dan Maroko.
6)      Dinasti Umayyah berhasil menaklukkan Andalusia yakni Toledo, Sevilla, Malaga, Elvira dan Cordova.
7)      Penaklukkan yang sama berlanjut hingga ke Cadiz dan Calica.
8)      Menaklukkan Baikh, Bukhara, Khawarizm, Farghana dan Samarqand.
9)      Menaklukkan India, hingga ke Brahmanabat.[29]
E.       Masa Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Umayyah
Dinasti yeng didirikan oleh Muawiyyah bin Abu Sofyan ini, dari beberapa khalifah yang memegang kekuasaan, hanya beberapa orang saja yang dianggap berhasil dalam menjalankan roda pemerintahannya antara lain : Muawiyyah bin Abu Sofyan, Abdul Malik bin Marwan, al-Walid bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz dan Hisyam bin Abdul Maiik, selain mereKa itu merupakan khalifah yang lemah. Dinasti ini mencapai puncaknya pada masa al Walid I bin Abdul Malik dan kemudian akhirnya menurun dan kekuasaan mereka direbut oleh Bani Abbasiyah pada tahun 750 M.[30]
Diantara faktor penyebab keruntuhan Dinasti Umayyah ini, menurut Hasan Ibrahim Hasan adalah : [31]
1.      Pengkatan Dua Putera Mahkota
Perubahan sistero kekuasaan, dari sistem demokrasi kepada monarchi yang dirintis Muawiyyah bin Abu Sofyan, berakibat pada tumbuhnya bibit permusuhan dan persaingan diantara sesama anogota keluarga dinasti dan ditambah dengan langkah pengangkatan dua putera mahkota yang diberi mandat, agar putera mahkota yang kedua sebagai pelanjut sesudah yang pertama, hal itu dilakukan khalifah Marwan bin al Hakim dengan mengangkat Abdul Malik bin Marwan dan Abdul Aziz, berikutnya adalah Abdul Malik mengikuti jejak mendiang ayahnya dengan mengangkat puteranya, yatu al Walid dan Sulaiman. Langkah ini tidak hanya menjadi permusuhan dan persaingan diantara sesama anggota keluarga tetapi juga merembet masuk di lingkungan para panglima dan pejabat.
2.      Munculnya Fanatisme Suku
Setelah Yazid bin Muawiyyah meninggal, fanatisme suku menyebar di tengah-tengah kabilah Arab namun belum sampai membahayakan kekuatan Bani Umayyah dari rongrongan kakuatan lain yang menginginkan kehancurannya sebagai pemegang supremasi politik umat Islam. Kondisi tersebut masih dapat dikendalikan terlebih dengan tampilnya Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah, ia seorang yang saleh dan adil. Dalam masa pemerintahannya diisi dengan memperbaiki kerusakan yang dilakukan oleh para khalifah Bani Umayyah sebelumnya, sehingga legalitas kepemimpinannya diakui dan diterima oleh semua pihak yang tidak mengakui pemerintahan Bani Umayyah. la terbebas dari fanatisme suku, karena ia tidak mengangkat seorang menjadi gubernur melainkan berdasarkan kecakapan dan keadilan yang dimiliki oleh yang bersangkutan.
Ketika Yazid wafat dan saudaranya yaitu Hisyam naik tahta maka khalifah baru menilai bahwa posisi orang-orang Qais dalam pemerintahan sudah terlalu kuat, dan hal ini, menurut Hisyam adalah membahayakan kelangsungan pemerintahan Bani Umayyah, kemudian ia mengambil tindakan dengan cara mengenyahkan orang-orang Qais dari kekuasaan dan balik berpihak kepada unsur Yamani, ini dimaksudkan agar kadua unsur tersebut berimbang. Untuk itu ia mengangkat Khalid bin Abdullah al Qasari sebagai gubernur Irak, dan juga mengangkat saudara Khaiid yaitu Asad sebagai gubernur Khurasan. Dengan demikian kekuatan unsur Yamani kembali berperan dan kekuatan unsur Qaisi melemah, kemudian orang-orang dan unsur Yamani berkesempatan menumpahkan balas dendam mereka kepada orang-orang dari unsur Qaisi.
Demikianlah fanatisme suku yang telah mencabik-cabik Dinasti Umayyah. sehingga negara menjadi ajang bagi tumbuhnya beragam fitnah dan kerusuhan dan kemudian keruntuhan dinasti ini teriadi.
3.      Terlena Dalam Kemewahan
Pola hidup sebagian khalifah Dinasti Umayyah yang sangat mewah dan senang berfoya-foya sebagai warisan pola hidup para penguasa Bizantium adalah faktor lain yang telah menanam andil besar bagi keruntuhan dinasti ini. Yazid bin Muawiyyah adalah seorang khalifah dari Dinasti Umayyah sangat terkenal sebagai pengagum berat wanita, memelihara para penyanyi wanita, memelihara burung buas, singa padang pasir dan seorang  pecandu minuman karas.
Prilaku Yazid bin Abdul Malik juga tidak lebih baik dari Yazid bin Muawiyyah, ia adalah pemuja wanita dan penggemar pesta pora. Begitu pula dengan puteranya yaitu al Walid, ia seorang khalifah yang sangat senang dengan kehidupan serba mewah dan terlena dengan romantika asmara.
4.      Fanatik Arab
Dinasti Umayyah adalah muni daulat Arab, sehingga ia sangat fanatik kepada bangsa Arab dan kearabannya. Mereka memandang orang non Arab (mawali) dengan pandangan sebelah mata, sehingga menimbulkan fitnah diantara sesama kum Muslimin, disamping itu pula telah membangkitkan nasionalisme di dalam Isiam. Bibit daripada geraka tersebut adalah anggapan bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang paling utama dan mulia dan bahasa Arab adalah bahasa yang paling tinggi dibanding dengan yang lain.
Tindakan diskriminatif tersebut telah membangkitkan kebencian kaum mawali kepada Bani Umayyah, akhirnya sebagai kaum tertindas mereka selalu mencari waktu yang tepat untuk melampiaskan kebenciannya. Mereka menggabungkan diri dengan al Mukhtar dan kaum khawarij untuk bersekutu dan ditambah dengan propagandis kaum abassi untuk memberontak dan menggulingkan Dinasti Umayyah.
F.       Kesimpulan
Nama Bani Umayah berasal  dari nama seorang pemimpin Kabilah Quaraisy pada zaman Jahiliah ialah Umayah Ibnu Abdi Syam Ibnu Abdi Manaf.
Khalifah yang memerintah Dinasti bani Umayah sebanyak 14 (empat belas) oarng yaitu : Mu’awiyah ibnu abi Sofyan, Yazid Ibnu Muawiyah, Muawiyah  bin Yazid, Marwan Ibnu Hakam, Abdul Malik Ibnu Marwan, Walid Ibnu Abdul Malik, Sulaiman Ibnu Abdul Malik, Umar ibnu Abdul Azis, Yazid Ibnu Abdul Malik, Hisyam Ibnu Abdul Malik, Al-Walid ibnu Yazid Ibnu Abdul Malik, Yazid Ibnu Al Walid Ibnu Abdul malik, Ibrahim bin al-Walid, Marwan Ibnu Muhammad.
Salah satu penyebab kehancuran dan runtuhnya daulah ini adalah . Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan.















DAFTAR PUSTAKA



Ahmad al-Usairi, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX,  (Jakarta: Akbar Media Sarana, 2003)

Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, (Bandung: Salamadani, 2012)

Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008)

Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya,  (Jakarta, UI Press, 1978)

Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, terj, Jahdan Ibn Human (Yogyakarta; Kota Kembang. 1995)

Hasymy, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta, Bulan Bintang, 1975)

Mahmudunnasir, Syed,  Islam dan Konsepsi sejarahnya. (Bandung : Remaja Rosda Karya , 1994)

Maidir Harun dan Firdaus, Sejarah Peradaban Islam, (Padang: IAIN-IB Press, 2002)

Montgomary Watt, Pergolakan Pemikiran politik  Islam, (Jakarta: Bennabi Cipta, 1985)

Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta, Prenada Media, 2010)

Siti Maryam (Ed), Sejarah Peradaban Islam Dari Masa Klasik Hingga Modern, (Yogyakarta: SPI Adab IAIN Sunan Kalijaga, 2002)



[1] Maidir Harun dan Firdaus, Sejarah Peradaban Islam, (Padang: IAIN-IB Press, 2002), h. 83
[2] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, terj, Jahdan Ibn Human(Yogyakarta; Kota Kembang. 1995), h.62
[3] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), h. 103
[4] Ahmad al-Usairi, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX,  (Jakarta: Akbar Media Sarana, 2003), h.176.
[5] Dedi Supriyadi, Op. Cit.,h. 104.
[6] Maidir Harun dan Firdaus, Op. Cit., h. 83.
[7] Dedi Supriyadi, Op.Cit, h. 104
[8] Ahmad Al-Usairi, Op. Cit, h. 186.
[9] Ibid, h. 192
[10] Ibid, h. 192
[11] Syed Mahmudun Nasir, islam dan konsep sejarahnya (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1994), h. 226.
[12] Hasan Ibrahim Hasan, Op. Cit., h. 96.
[13] Harun nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1985), h. 61.
[14] Siti Maryam , Sejarah Peradaban Islam Dari Masa Klasik Hingga Modern, (Yogyakarta: SPI Adab IAIN Sunan Kalijaga, 2002). h.79
[15] Ibid, h.79
[16] Maidir Harun dan Firdaus, Op.Cit, h. 103
[17] Maidir Harun dan Firdaus, Op.Cit, h. 86
[18] A. Hasymy, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta, Bulan Bintang, 1975) h.151
[19] Maidir Harun dan Firdaus, Op.Cit, h. 87
[20] Siti Maryam, Op.Cit, h. 88
[21] Maidir Harun dan Firdaus, Op. Cit., h. 87
[22] Hasan Ibrahim Hasan, op.cit, h 95
[23] Siti Maryam, op. Cit.,h. 88-91.
[24] Hasan Ibrahim Hasan, Op.Cit, h.448
[25] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta, Prenada Media, 2010), h.40
[26] Maidir Harun dan Firdaus, Op.Cit, h. 98
[27] Hasan Ibrahim Hasan, op.cit, h. 66
[28] Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, (Bandung: Salamadani, 2012), h. 64-65
[29] A.Latif Osman, Ringkasan Sejarah (Jakarta: Widjaya, 1951), h.99.
[30] Harun Nasution, Op. Cit.,  h.62
[31] Ibid., h. 112-123.

📢 Bagikan Postingan Ini

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman atau media sosial Anda.

Facebook WhatsApp Twitter Telegram Copy Link

🤝 Butuh Bantuan atau Dokumen Lain?

Terima kasih telah berkunjung ke blog KhairalBlog21. Jika Anda membutuhkan makalah, format surat resmi, administrasi sekolah, atau dokumen lain yang belum tersedia di blog ini, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak. Kami juga menerima request untuk pembuatan dokumen sesuai kebutuhan Anda.

Jangan ragu untuk memberikan saran dan masukan agar blog ini bisa lebih bermanfaat untuk semua. Klik tombol di bawah ini untuk langsung menghubungi kami via WhatsApp:

Kami siap membantu menyediakan dokumen pendidikan dan administrasi sesuai kebutuhan Anda 📚✍️


No comments:

💬 Tinggalkan Komentar Anda

Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️

Featured Post

CONTOH DAN DONWLOAD SURAT LAMARAN SEBAGAI SPG

Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) , tentunya diperlukan sebuah surat lamaran kerja yang baik dan b...