PERAN MULTIMEDIA DALAM BIMBINGAN KONSELING

Baca Juga



A.      Pendahuluan
Banyak cara dalam upaya bimbingan dan konseling, apalagi dizaman modern ini sudah banyak media-media pembantu kelangsungannya bimbingan dan konseling ini. Namun, dalam media ini kita harus memperhatikan Makna bimbingan dan konseling, makna media, manfaat media, dan apa itu fungsi media dalam bimbingan dan konseling selain sebagai alat pembantu kelangsungannya bimbingan dan
konseling. Media disini diartikan sebagai alat komunikasi atau prosesnya, dimana dengan media lebih memungkinkan memudahkan dalam penyampaian yang mengandung makna yang penting. Dalam media bisa berupa gambar atau klip video yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling tersebut.
Dalam melaksanakan layanan konseling, media yang diperlukan adalah ruang konseling, kursi dan meja, serta format pencatat hasil konseling, di samping suara guru BK berfungsi pula sebagai media proses konseling. Selanjutnya, pada akhir semester atau akhir tahun, guru BK membuat laporan kegiatan, maka ia memerlukan sejumlah media, bahkan laporan kegiatan tersebut juga dapat berfungsi sebagai media. Dengan demikian, bahwa media sangat diperlukan mulai dari membuat perencanaan program sampai dengan penyusunan laporan akhir kegiatan.
B.       Pengertian Media
Secara etimologi, kata “media” merupakan bentuk jamak dari “medium”, yang berasal dan Bahasa Latin “medius” yang berarti tengah. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia, kata “medium” dapat diartikan sebagai “antara” atau “sedang” sehingga pengertian media dapat mengarah pada sesuatu yang mengantar atau meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima pesan.[1]

C.      Peran Multimedia Bimbingan Konseling
Bimbingan dan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka anatara konselor dengan konseli agar mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya,mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah perkembangan yang optimal, sehingga dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.[2]
Media dalam bimbingan konseling sebagai hal yang digunakan menjadi perantara atau pengantar ketika guru BK (konselor) melaksanakan program BK. Namun dalam perkembanganya Media BK tidak sebatas untuk perantara atau pengantar ketika guru BK (konselor) melaksanakan program BK tetapi memiliki makna yang lebih luas yaitu segala alat bantu yang dapat digunakan dalam melaksanakan program BK. Misalnya konselor ketika melaksanakan konseling individu memerlukan ruang konseling, meja kursi, alat perekam/pencatat. ketika konselor pada akhir minggu/bulan/semester/tahun akan melaporkan kegiatan kepada Kepala Sekolah memerlukan media.
Sebagaimana dituliskan Deviarimariani pada situsnya Penerapan Teknologi Informasi Konseling, Gagne menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Lebih lanjut, Briggs menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Definisi tersebut mengarahkan kita untuk menarik suatu simpulan bahwa media adalah segala jenis (benda) perantara yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada orang yang membutuhkan informasi.
Ada beberapa jenis media dalam program BK yaitu:
1.      Media untuk menyampaikan informasi
2.      Media sebagai alat ( pengumpul data dan penyimpan data)
3.      Media sebagai alat bantu dalam memberikan group information
4.      Media sebagai Biblioterapi
5.      Media sebagai alat menyampaikan laporan
Jenis media yang digunakan dalam program BK di sekolah ditinjau dari fungsinya  diklasifikasikan sebagai berikut:
1.      Media untuk menyampaikan informasi, contohnya Selebaran, leaflet, booklet, dan papan bimbingan
2.      Media sebagai alat ( pengumpul data dan penyimpan data)
a.       Media Pengumpul data seperti: angket, pedoman wawancara, lembaran observasi berupa anekdot record, daftar cek, skala penilaian, mekanikal device, camera, tape, daftar cek masalah,  lembar isian pilihan teman (semua dapat dibuat sendiri kecuali mekanikal device, camera, tape).
b.      Media penyimpan data seperti: kartu pribadi, buku pribadi, map, disket, folder, filing cabinet, almari, rak dll
3.      Media sebagai alat bantu dalam memberikan group information seperti media auditori maupun visual
4.      Media sebagai Biblioterapi seperti Buku-buku, majalah,dll
5.      Media sebagai alat menyampaikan laporan seperti membuat laporan bisa mingguan, bulanan, semesteran tahunan dan sebagainya.[3]
D.      Pemaanfaatan Penggunaan Media dalam Konseling
Pada zaman sekarang tekhnologi sudah semakin berkembang,dan saat ini kita seperti hidup dalam dunia teknologi. Hampir seluruh aktivitas tergantung pada canggihnya teknologi pada saat ini ,terutama teknologi komunikasi. Konseling sebagai usaha bantuan kepada siswa, saat ini telah mengalami perubahan-perubahan yang sangat cepat. Perubahan ini dapat ditemukan pada bagaimana teori-teori konseling muncul sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau bagaimana media teknologi bersinggungan dengan konseling. Media dalam konseling antara lain adalah komputer dan perangkat audio visual.
Komputer merupakan salah satu media yang dapat dipergunakan oleh konselor dalam proses konseling. Pelling menyatakan bahwa penggunaan komputer (internet) dapat dipergunakan untuk membantu siswa dalam proses pilihan karir sampai pada tahap pengambilan keputusan pilihan karir. Hal ini sangat memungkinkan, karena dengan membuka internet, maka siswa akan dapat melihat banyak informasi atau data yang dibutuhkan untuk menentukan pilihan studi lanjut atau pilihan karirnya.
Data-data yang didapat melalui internet, dapat dianggap sebagai data yang dapat dipertanggungjawabkan dan masuk akal. Data atau informasi yang didapat melalui internet adalah data-data yang sudah memiliki tingkat validitas tinggi. Hal ini sangat beralasan, karena data yang ada di internet dapat dibaca oleh semua orang di muka bumi.
Sebagai contoh, saat ini dapat kita lihat di internet tentang profil sebuah perguruan tinggi. Bahkan, informasi yang didapat tidak sebatas pada perguruan tinggi saja, tetapi bisa sampai masing-masing program studi dan bahkan sampai pada kurikulum yang dipergunakan oleh masing-masing program studi. Data-data yang didapat oleh siswa pada akhirnya menjadi suatu dasar pilihan yang dapat dipertanggungjawabkan. Tentu saja, pendampingan konselor sekolah dalam hal ini sangat diperlukan.
Sampsons mengungkapkan bahwa fasilitas di internet dapat dapat dipergunakan untuk melakukan testing bagi siswa. Tentu saja hal ini harus didasari pada kebutuhan siswa. Penggunaan komputer di kelas sebagai media bimbingan dan konseling akan memiliki beberapa keuntungan seperti yang dinyatakan oleh Baggerly sebagai berikut: [4]
1.      Akan meningkatkan kreativitas, meningkatkan keingintahuan dan memberikan variasi pengajaran, sehingga kelas akan menjadi lebih menarik.
2.      Akan meningkatkan kunjungan ke web site, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan siswa.
3.      Konselor akan memiliki pandangan yang baik dan bijaksana terhadap materi yang diberikan.
4.      Akan memunculkan respon yang positif terhadap penggunaan email.
5.      Tidak akan memunculkan kebosanan.
6.      Dapat ditemukan silabus, kurikulum dan lain sebagainya melalui website.
7.      Terdapat pengaturan yang baik.
Selain penggunaan internet seperti yang telah diuraikan di atas, dapat dipergunakan pula software seperti microsoft power point. Software ini dapat membantu konselor dalam menyambaikan bahan bimbingan secara lebih interaktif. Konselor dituntut untuk dapat menyajikan bahan layanan dengan mempergunakan imajinasinya agar bahan layanannya tidak membosankan. Program software power point memberikan kesempatan bagi konselor untuk memberikan sentuhan-sentuhan seni dalam bahan layanan informasi. Melalui program ini, yang ditayangkan tidak saja berupa tulisan-tulisan yang mungkin sangat membosankan, tetapi dapat juga ditampilkan gambar-gambar dan suara-suara yang menarik yang tersedia dalam program power point. Melalui fasilitas ini, konselor dapat pula memasukkan gambar-gambar di luar fasilitas power point, sehingga sasaran yang akan dicapai menjadi lebih optimal.
Gambar-gambar yang disajikan melalui program power point tidak statis seperti yang terdapat pada Over Head Projector (OHP). Konselor dapat memasukkan gambar-gambar yang bergerak, bahkan konselor bisa melakukan insert gambar-gambar yang ada di sebuah film.
Media lain yang dapat dipergunakan dalam proses bimbingan dan konseling di kelas antara lain adalah VCD/DVD player. Peralatan ini seringkali dipergunakan oleh konselor untuk menunjukkan perilaku-perilaku tertentu. Perilaku-perilaku yang tampak pada tayangan tersebut dipergunakan oleh konselor untuk merubah perilaku klien yang tidak diinginkan.  Dalam proses pendidikan konselor pun, penggunaan video modeling ini juga dipergunakan untuk meningkatkan keterampilan dan prinsip konseling yang akan dikembangkan bagi calon konselor.
Sebelum VCD/DVD player ini ditayangkan, seorang konselor sebaiknya memberikan arahan terlebih dahulu kepada siswa tentang alasan ditayangkannya sebuah film. Hal ini sangat penting, sebab dengan memiliki gambaran dan tujuan film tersebut ditayangkan, maka siswa akan memiliki kerangka berpikir yang sama. Setelah film selesai ditayangkan, maka konselor meminta siswa untuk memberikan tanggapan terhadap apa yang telah mereka lihat. Tanggapan-tanggapan ini pada akhirnya akan mempengaruhi bagaimana klien berpikir dan bersikap, yang kemudian diharapkan akan dapat merubah perilaku klien atau siswa.
Kelebihan lainnya dalam pemberian layanan Bimbingan dan Konseling dengan menggunakan media internet adalah dapat melintasi jarak dan waktu; serta klien dapat mengakses data yang dibutuhkan dengan cepat.
E.       Kerugian Penggunaan Media dalam Konseling
Menurut Pelling, walaupun saat ini masyarakat sangat tergantung pada teknologi, tetapi di lain pihak, masih banyak diantara kita yang mengalami ketakutan untuk mempergunakan teknologi. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakat kita masih percaya bahwa pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh orang tua atau orang yang dituakan masih dianggap lebih baik. Hal ini tidak lepas dari budaya paternalistik yang melingkupi masyarakat kita. Sebaik apapun teknologi yang berkembang, tetapi jika pola pikir masyarakat masih terkungkung dengan nilai-nilai yang diyakini benar, maka data atau informasi yang didapat seakan-akan menjadi tidak berguna.
Hal lain yang terkait dengan penggunaan media dalam bimbingan dan konseling adalah sasaran pengguna seringkali disamakan. Walaupun ragam media sudah bermacam-macam, tetapi media ini seringkali masih belum bisa menyentuh sisi afektif seseorang. Dalam bimbingan dan konseling dikenal istilah empati. Penggunaan media, seringkali pula akan “menghilangkan” empati konselor, jika konselor mempergunakan media sebagai alat bantu utama. Klien datang ke ruang konseling tidak selalu membutuhkan informasi dari internet atau komputer, bahkan ada kemungkinan klien atau siswa datang ke ruang konseling juga tidak membutuhkan bantuan dari konselor secara langsung melalui proses konseling. Tetapi adakalanya, siswa atau klien datang ke ruang konseling hanya ingin mendapatkan senyuman dari konselor atau penerimaan tanpa syarat dari konselor.
Dalam menggunakan media, seperti internet ada kekurangannya seperti data sering kali sulit dilindungi; sulit mengetahui respon klien secara langsung; serta mahal. Selain itu ada beberapa dampak negatif dari beberapa alat media yang digunakan jika pengguna dan pelaksananya tidak memahami dampak yang akan ditimbulkan. Beberapa contoh dampak negatif penyalahgunaan teknologi informasi seperti: [5]
1.      Beredarnya rekaman video porno di ponsel
2.      Beredarnya video porno bajakan yang dilakukan oleh anak negeri
3.      Banyaknya video-video yang lebih kepada video porno yang beredar di internet yang dapat di akses dan di lihat oleh kalangan manusia tidak hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak.
Peralatan teknologi yang ada saat ini hanya bisa bermanfaat jika dimanfaatkan oleh mereka yang memahami penggunaan masing-masing alat tersebut. Artinya penggunaan teknologi ini akan memunculkan efek yang baik jika dijalankan oleh mereka yang paham peralatan tersebut.
F.       Kesimpulan
Secara etimologi, kata “media” merupakan bentuk jamak dari “medium”, yang berasal dan Bahasa Latin “medius” yang berarti tengah. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia, kata “medium” dapat diartikan sebagai “antara” atau “sedang” sehingga pengertian media dapat mengarah pada sesuatu yang mengantar atau meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima pesan.
Bimbingan dan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka anatara konselor dengan konseli agar mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya,mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah perkembangan yang optimal, sehingga dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.
Media dalam bimbingan konseling sebagai hal yang digunakan menjadi perantara atau pengantar ketika guru BK (konselor) melaksanakan program BK. Namun dalam perkembanganya Media BK tidak sebatas untuk perantara atau pengantar ketika guru BK (konselor) melaksanakan program BK tetapi memiliki makna yang lebih luas yaitu segala alat bantu yang dapat digunakan dalam melaksanakan program BK. Misalnya konselor ketika melaksanakan konseling individu memerlukan ruang konseling, meja kursi, alat perekam/pencatat. ketika konselor pada akhir minggu/bulan/semester/tahun akan melaporkan kegiatan kepada Kepala Sekolah memerlukan media.


DAFTAR PUSTAKA

Anas Salahudin, Bimbingan dan Konseling, Bandung: CV. Pustaka Setia,. 2013.
Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling”(Studi dan Karir), Yogyakarta: CV. Andi Offset, 2001.
Dewisnawati. http://dewiwisnawati.weebly.com/pengertian-media-bk.html. diakses 12 Januari 2019.
Halenn, A. Bimbingan dan Konseling. Padang: Ciputat Pers. 2002.
Sadiman Arief, Media Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo. 2008.



[1] Sadiman Arief, Media Pendidikan. ( Jakarta: Raja Grafindo. 2008), hlm. 6
[2] Dewisnawati. http://dewiwisnawati.weebly.com/pengertian-media-bk.html. diakses 12 Januari 2019.
[3] Halenn, A. Bimbingan dan Konseling. ( Padang: Ciputat Pers. 2002) hlm. 11
[4] Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling”(Studi dan Karir), (YogyakartA\: CV. Andi Offset, 2001)., hlm. 41-42
[5] Anas Salahudin, Bimbingan dan Konseling, (Bandung: CV. Pustaka Setia,. 2013), hlm 127-129

📢 Bagikan Postingan Ini

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman atau media sosial Anda.

Facebook WhatsApp Twitter Telegram Copy Link

🤝 Butuh Bantuan atau Dokumen Lain?

Terima kasih telah berkunjung ke blog KhairalBlog21. Jika Anda membutuhkan makalah, format surat resmi, administrasi sekolah, atau dokumen lain yang belum tersedia di blog ini, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak. Kami juga menerima request untuk pembuatan dokumen sesuai kebutuhan Anda.

Jangan ragu untuk memberikan saran dan masukan agar blog ini bisa lebih bermanfaat untuk semua. Klik tombol di bawah ini untuk langsung menghubungi kami via WhatsApp:

Kami siap membantu menyediakan dokumen pendidikan dan administrasi sesuai kebutuhan Anda 📚✍️


No comments:

💬 Tinggalkan Komentar Anda

Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️

Featured Post

CONTOH DAN DONWLOAD SURAT LAMARAN SEBAGAI SPG

Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) , tentunya diperlukan sebuah surat lamaran kerja yang baik dan b...