A. Pendahuluan
Salah satu komponen dalam system pendidikan adalah adanya peserta didik, peserta didik merupakan komponen yang sangat penting dalam system pendidikan. Sebab seseorang tidak bisa dikatakan sebagai pendidik apabila tidak ada yang di didiknya. Peserta adalah orang yang memiliki potensi dasar, yang perlu di kembangkan melalui pendidikan, baik secara fisik maupun psikis, baik pendidikan itu di lingkugan keluarga, sekolah maupun di lingkungan masyarakat dimana
anak tersebut berada.
Dalam kajian filosofisnya, peserta didik dipandang sebagai manusia seutuhnya, dimana mereka dipandang manusia yang memiliki hak dan kewajiban. Dalam pendidikan hak-hak peserta didik haruslah lebih di kedepankan atau di utamakan seperti hak mereka untuk mendapatkan pengetahuan yang sesuai dengan keinginan mereka, hak mereka untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada mereka, dimana itu semua dalam rangka mempersiapkan mereka menjadi manusia yang dewasa. Selain hak-hak tersebut peserta didik juga mempunyai kewajiban yang harus mereka jalani. Sebagai peserta didik juga harus memahami kewajiban etika serta melaksanakannya.
Kewajiban adalah sesuatu yang wajib dilakukan atau dilaksanakan oleh peserta didik. Sedangkan etika adalah aturan prilaku, adat kebiasaan yang harus di taati dan dilaksanakan oleh peserta didik dalam proses belajar. Namun itu semua tidak terlepas dari keterlibatan pendidik, karena seorang pendidik harus memahami dan memberikan pemahaman tentang aspek-aspek yang terdapat didalam diri peserta didik terhadap peserta didik itu sendiri, kalau seorang pendidik tidak mengetahui aspek-aspek tersebut, maka potensi yang dimiliki oleh peserta didik tersebut akan sulit dikembangkan, dan peserta didikpun juga mengenali potensi yang dimilikinya.
B. Latar belakang Keharusan Anak Didik
Secara kodrati anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa. Dasar kodrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak yang hidup di dunia ini. Allah SWT menciptakan manusia dalam keadaan tidak mengetahui apa, sebagaimana yang terdapat dalam surat An-Nahl ayat 78.
ยช!$#ur Nรค3y_t÷zr& .`รiB รbqรครรง/ รถNรค3รF»yg¨Bรฉ& w cqรJn=÷รจs? $\«รธx© @yรจy_ur รฃNรค3s9 yรฌรดJ¡¡9$# t»|รรถ/F{$#ur noyร«รธรนF{$#ur รถNรค3ยช=yรจs9 crรฃรค3รด±s? รรรร
dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk menentukan status manusia bagaimana mestinya adalah melalui pendidikan. Dalam hal ini keharusan mendapatkan pendidikan itu jika diamati lebih jauh sebenarnya mengandung aspek-aspek kepentingan yang antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut. 1. Aspek Paedagogis
Dalam aspek ini para ahli tidak memandang manusia sebagai animal educandummakhluk yang memerlukan pendidikan. Dalam kenyataanya manusia dapat dikategorikan sebagai animal artinya binatang yang dapat dididik. Sedangkan binatang pada umumnya tidak dapat dididik. Melainkan dilatih secara dresser, artinya latihan untuk mengerjakan sesuatu yang sifatnya statis, tidak berubah. Adapun manusia dengan potensi yang dimilikinya dapat dididik dan dikembangkan kearah yang diciptakan setarap dengan kemampuan yang dimilikinya.
2. Aspek Sosiologis dan Kultural
Menurut ahli sosiologis pada prinsipnya manusia adalah moscius, yaitu makhluk yang berwatak dan berkemampuan dasar atau memiliki garizah (insting) untuk hidup bermasyarakat. Sebagai makhluk social manusia harus memiliki rasa tanggung jawab social yang diperlukan dalam mengembangkan hubungan timbal balik dan saling pengaruh mempengaruhi antara sesama anggota masyarakat dalam kesatuan hidup mereka.
Apabila manusia sebagai makhluk social itu berkembang, maka berarti merupakan makhluk yang berkebudayaan baik moral maupun material. Diantara satu insting manusia adalah adanya kecendrungan mempertahankan segala apa yang dimilikinya, termasuk kebudayaanya. 3. Aspek Tauhid
Aspek tauhid ini ialah aspek pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang berketuhanan, yang menurut istilah ahli disebut homodivinous (makhluk yang percaya adanya Tuhan) atau disebut juga homoreligius artinya makhluk yang beragama. Adapun kemampuan dasar yang menyebabkan manusia menjadi makhluk yang berketuhanan atau beragama adalah di dalam jiwa manusia terdapat insting yang disebut insting religius atau garizah diniyah(insting percaya pada agama). Itulah sebabnya tanpa melalui proses pendidikan insting religius atau garizah diniyah tersebut tidak akan mungkin dapat berkembang secara wajar. Dengan demikian, pendidikan keagamaan mutlak diperlukan untuk mengembangkan insting religious atau garizah diniyah tersebut. Menurut pasal 1 ayat 4 UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Abu Ahmadi juga menuliskan tentang pengertian peserta didik, peserta didik adalah anak yang belum dewasa yang memerlukan usaha, bantuan, bimbingan orang lain untuk menjadi dewasa, guna dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Tuhan, sebagai umat manusia, sebagai warga negara, sebagai anggota masyarakat dan sebagai suatu pribadi atau individu. Anak kandung adalah anak didik dalam lingkungan keluarga, murid/siswa adalah anak didik disekolah. Anak-anak penduduk adalah anak didik masyarakat sekitarnya. Dalam proses pendidikan anak didik berdiri sebagai masukan kasar karena anak memasuki kancah pendidikan masih kosong. Belum diolah, belum diproses dalam system pendidikan atau latihan sebelumnaya. Dan belum mempunyai bekal apa-apa, kecuali hanya pembawaan yang dibawa sejak lahir atau potensi-potensi ini baru akan menjadi kemampuan-kemampuan nyata setelah dikembangkan. Adalah mengembangkan unsur-unsur yang ada pada manusia. Misalnya untuk mengembangkan unsur raga diberikan pendidikan jasmani, intuk unsur cipta ada pendidikan akal, untuk mengembangkan unsur rasa ada pendidikan perasaan dan sebagainya. Pendidikan untuk manusia muda yang ditinjau dari sikapnya sebagai makhluk individu dan makhluk social, ada pendidikan individual dan pendidikan social.
Dari defenisi-defenisi yang diungkapkan diatas dapat disimpulkan bahwa peserta didik adalah orang yang mempunyai fitrah (potensi) dasar, baik secara fisik maupun psikis, yang perlu dikembangkan untuk mengembangkan potensi tersebut sangat membutuhkan pendidikan dan pendidik.
Pendidikan merupakan bantuan bimbingan yang diberikan pendidik terhadap peserta didik menuju kedewasaanya. Sejauh dan sebesar apapun bantuan itu diberikan sangat berpengaruh oleh pandangan pendidik terhadap kemungkinan peserta didik untuk di didik. Sesuai denagan fitrahnya manusia adalah makhluk berbudaya, dimana manusia dilahirkan dalam keadaan yang tidak mengetahui apa-apa dan ia mempunyai kesiapan untuk menjadi baik atau buruk.
Pendidikan merupakan usaha yang sengaja untuk membantu perkembangan potensi dan kemampuan anak agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya. pendidikan ditujukan untuk membantu anak dalm menghadapi dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan yang dimiliki anak pada setiap priode, dimana setiap priode perkembangan memiliki bahaya tersendiri, seperti yang di ungkapkan Elizabeth B. Hurlock, bahaya perkembangan pada salah satu priode perkembangan anak ada pada ahir masa anak, yang salah satu bahayanya itu bahaya psikis seperti bahaya emosi, bahaya social, bahaya dalam konsep diri, bahaya yang menyangkut moral. Dari hal tersebut maka sangat perlu diperhatiakan oleh para pendidik agar dalam membimbing anak didik dapat membuat anak didik mengatasi bahaya-bahaya dalam perkembangan mereka. Suatu perkembangan akan menunujukkan ciri-ciri khas sebagai berikut. Proses pendidikan terhadap anak didik karena ia mutlak mendapat pendidikan. Membutuhkan bantuan atau pertolongan untuk membawanya ketingkat kedewasaan dalam arti dewasa dalam pendidikan. Keharusan ini bersumber dari keadaan anak yang sangat tidak berdaya pada waktu ia lahir, sehingga anak didik tidak akan dapat hidup kalau tidak ada pertolongan dari orang yang ada di sekelilingnya. Sewaktu anak dilahirkan, ia serba tergantung kepada orang dewasa yang ada disekelilingnya. Anak belum mampu melanjutkan hidupnya sebagai manusia biasa, karena ia masih dalam keadaan sangat tidak berdaya. Lain halnya dengan anak binatang ia lahir telah memiliki kemampuan anak mempertahankan diri beberapa kesulitan sekalipun dalam tahap sederhana. Dan tidak beberpa hari setelah itu anak itu lahir ia sudah mampu bertahan denagan semprna dan sudah mampu hidup tanpa bantuan sepenuhnya dari induknya.
Lain halnya dengan anak manusia memang belum memiliki kemampuan untuk mempertahankan dirinya pada waktu kecil. Akan tetapi keadaan inilah sebenarnya yang mendorong anak manusia berkembang dengan pesat sehingga dapat melampaui binatang bahkan mampu mengatur dan mengelola alam dengan sebaik-baiknya.
Keharusan mendidik ini diterangkan oleh langeveld katanya manusia merupakan hewan atau makhluk yang harus dididik oleh karena itu manusia tidak dididik, maka sangat kecil kemungkinannya ia dapat menjadi manusia seperti yang diharapkan yaitu seperti manusia yang berkebudayaan. Demikian bantuan dari pendidik mutlak adanya manusia tidak akan menjadi manusia tanpa pendidikan. Dan dengan pendidikan dan pengajaran manusia menjadi pengelola alam untuk kepentingan manusia itu sendiri. Dan semakin lama umur alam semakin banyak pula perkembangannya, dan memaksa manusia untuk menyesuaikan diri dengan keadaan alam tersebut. Sehingga manusia itu mencari penemuan-penemuan baru untuk lebih mampu dan berdaya guna dalam mengelola alam. Sekali gus manusia menghiaskan hidupnya untuk mencari dan mendapatkan ilmu yang sesuai dengan kebutuhan yang ada keadaan ini terus menerus sepanjang masa.
C. Landasan Filosofis
Landasan filosofis adalah landasan yang berdasarkan atau yang bersifat filsafat (falsafat, falsafah). Kata filsafat (philosophy) bersumber dari bahsa yunani, philein berarti mencintai, dan sophos atau sophis berarti hikmah, arif atau bijaksana. Filsafat menelaah sesuatu secara radikal, menyeluruh dan konseptual yang menghasilkan konsepsi-konsepsi mengenai kehidupan dan dunia. Konsepsi-konsepsi filosofis tentang kehidupan dunia pada umumnya bersumber dari dua factor yaitu:
1. Religi dan etika yang bertumpu pada keyakinan
2. Ilmu pengetahuan yang mengandalkan penalaran. Filsafat berada diantara keduanya kawasannya seluas dengan religii, namun lebih dekat dengan ilmu pengetahuan karena filsafat timbul dari keraguan dan karena mengandalkan akal manusia. Tinjauan filosofis tentang sesuatu termasuk pendidikan berarti berpikir bebas serta merentang pikiran sampai sejauh-jauhnya tentang sesuatu itu. Penggunaan istilah filsafat dapat dalam dua pendekatan yakni:
a. Filsafat sebagai kelanjutan dari berfikir secara ilmiah, yang dapat dilakukan oleh setiap orang serta sangat bermanfaat dalam memberi makna kepada ilmu pengetahuannya itu.
b. Filsafat sebagai kajian khusus yang formal, yang mencakup logika epistimologi (tentang benar dan salah), etika (tentang baik dan buruk), estetika (tentang indah dan jelek), metafisika (tentang hakikat yang ada termasuk akal itu sendiri) serta social dan politik (filsafat pemerintahan). Landasan filosofis terhadap pendidikan dikaji terutama melalui filsafat pendidikan. Yang mengkaji sekitar masalah pendidikan dengan susdut pandang filsafat.
Terdapat kaitan erat antara pendidikan dan filsafat karena filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarakat sedangkan pendidikan berusaha mewujudakan citra itu. Rumusan tentang harkat dan martabat manusia beserta masyarakatnya ikut menentukan tujuan dan cara-cara penyelenggaraan pendidikan, dan dari sisi lain pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia. Filsafat pendidikan merupakan jawaban kritis dan mendasar berbagai pertanyaan pokok sekitar pendidikan, seperti apa, mengapa, kemana dan bagaimana, dan sebagainya dari pendidikan itu. Kejelasan berbagai hal itu sangat perlu untuk menjadi landasan berbagai keputusan dan tindakan yang dilakukan dalam pendidikan. Hal itu sangat penting karena hasil pendidikan itu akan segera tampak, sehingga setiap urusan dan tindakan itu harus diyakinkan kebenaran dan ketepatannya meskipun hasilnya belum dapat dipastiakn.
Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran ilmu yang sifatnya relative. Karena kebenaran ilmu ditinjau dari segi yang biasa diamati hanya sebagian kecil saja. Di ibaratkan mengamati gunung es, kita hanya mampu melihat yang diatas permukaan laut saja sementara itu filsafat mencoba menyelami sampai kedasar gunung es itu untuk meraba segala sesuatu yang ada melalui pikiran dan renungan yang kritis.
Agar uraian tentang filsafat pendidikan itu menjadi lebih lengkap berikut ini akan diuraikan beberapa aliran filsafat pendidikan yang dominan didunia ini. Aliran itu adalah:
1. Idealisme
2. Realisme
3. Perenialisme
4. Esensialisme
5. Pragmatism dan progresevisme
6. Eksitensialisme
Filsafat idealisme menegaskan bahwa hakekat kenyataan adalah ide sebagai gagasan kejiwaan. Apa yang di anggap kebenaran realitas hanyalah bayangan atau refleksi dari ide sebagai kebenaran berfilsafat spiritual atau mental. Ide sebagai gagasan kejiwaan itulah sebagai kebenaran atau nilai sejati yang absolut dan abadi. Terdapat variasi pendapat beserta namanya masing-masing dalam aliran ini seperti spiritualisme, rasionalisme, dan lain-lain. Variasi itu antara lain menekankan pada akal dan rasio pada rasionalisme atau sebaliknya pada ilham rasionalisme dan lain-lain. Meskipun terjadi variasi pendapat tersebut namun pada umumnya aliran itu menekankan bahwa pendidikan merupakan kegiatan intelektual untuk membangkitkan ide-ide yang masih laten, antara lain melaui intropeksi dan Tanya jawab. Oleh karena itu sebagai lembaga pendidikan sekolah berfungsi membantu siswa mencari dan menemukan kebenaran , keindahan dan kehidupan yang luhur. Filsafat pendidikan esensialisme bertitik tolak dari kebenaran yang telah terbukti berabad-abad lamanya. Kebenaran seperti itulah yang esensial yang lain adalah suatu kebenaran secara kebetulan saja. Kebenaran yang esensial itu adalah kebudayaan klasik yang muncul pada zaman romawi yang menggunakan buku-buku klasik ditulis dengan bahasa latin yang dikenal dengan nama Great Book. Buku ini sudah berabad-abad lamanya mampu membentuk manusia-manusia berkaliber internasional. Inilah bukti bahwa kebudayaan ini merupakan suatu kebudayaan yang esensial, tokohnya adalah Brameld.
Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang mengemukakan bahwa segala sesuatu harusmdinilai dari segi kegunaan pragmatism dengan kata lain, paham ini menyatakan yang berfaedah itu harus benar, atau ukuran kebenaran didasarkan pada kemanfaatan dari sesuatu itu kepada manusia.
Filsafat paranialisme dan esensialisme yakni keduanya membela kurukulum tradisional yang berpusat pada mata pelajaran yang pokok-pokok. Perbedannya ialah prenialisme menekankan keabadian, teori kenikmatan yaitu:
· Pengetahuan yang benar (truth)
· Keindahan (beauty)
· Kecintaan kepada kebaikan (goodness)
Oleh karena itu dinmakan prenialisme karena kurikulumnya berisi materi yang konstan atau perennial. Perinsip pendidikan antara lain:
1. Konsep pendidikan itu bersifat abad, karena hakekat manusia tidak pernah berubah.
2. Inti pendidikan haruslah mengembangkan kekhususan makhluk manusia yang unik yaitu kemampuan berpikir.
3. Tujuan belajar adalah mengenal kebenaran abadi dan universal.
4. Pendidikan merupakan persiapan bagi kehidupan sebenarnya.
5. Kebenaran abadi itu diajarkan melalui pelajaran-pelajaran dasar (basic subject).
Filsafat rekonstruksionisme adalah suatu kelanjutan yang logis dari cara berpikir progresif dalam pendidikan. Individu tidak hanya belajar tentang pengalaman-pengalaman kemasyarakatan masa kini disekolah. Tetapi haruslah memelopori masyarakat kearah masyarakat baru yang diinginkan. Dengan demikian tidak setiap individu dan kelompok akan memecahkan kemasyarakatan secara sendiri-sendiri sebagai progresivisme.
Oleh karena itu sekiolah perlu mengembangkan suatu ideologis kemasyarakatan yang demokratis. Keunikan rekonstruksionisme ini ialah teorinya mengenai peranan guru yakni sebagai pemimpin dalam metode proyek yang memberi peranan kepada murid cukup besar dalam proses pendidikan. Namun sebagai poemimpin penelitian, guru dituntut supaya menguasai sejumlah pengetahuan dan ilmu esensial demi keterarahan pertumbuhan muridnya. D. Landasan Filsafat Pancasila
Filsafat pancasila adalah sebagai landasan filosofis pendidikan Indonesia Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang pendidikan nasional menetapkan bahwa: pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. Jika dari penjelasan UU-RI No 2 Tahun 1989, yang menegaskan bahwa pembangunanan nasional termasu di bidang pendidikan adalah pengamalan pancasila.
Menurut ketetapan MPR-RI No. II Tahun 1978 tentang pedoman penghayatan dan pengalaman pancasila (P-4) menegaskan pula bahwa pancasila itiu adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia dan dasar Negara republik Indonesia. Pancasila sebagai sumber dari segala gagasan mengenai wujud manusia dan masyarakat yang di anggap baik, sumber dari segala sumber nilai yang menjadi pangkal serata muara dari setiap keputusan dan tindakan dalam pendidikan, dengan kata lain pancasila sebagai sumber system nilai dalam pendidikan.
p-4 atau istilah lainnya Eka Prasetya panca karsa sebagai petunjuk operasional pengamalan pancasila itu haruslah dalam arti keseluruhan dan kebutuhan kelima sila dalam pancasila itu sebagai mana yang dirumuskan dalam pembukaan UU 1945, yakni ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah, kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan social bagi seluruh rakyat indfonesia. Jadi dapat disimpulkan bahwa filsafat pancasila adalah hasil pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang oleh bangsa Indonesia yang di anggap, dipercaya dan diyakini berbagai sutu kenyataan, norma atau nilai yang paling besar, paling adil bijaksana, paling cocok dan sesuai bangsa Indonesia. Adapun tujuan dan mempelajari filsafat pancasila adalah:
1. Untuk membentuk kepribadian yang seimbang
2. Untuk membentuk manusia susila yang berjiwa pancasila sejati yang taat dan takwa kepada tuhan yang maha esa
3. Menjunjung keadilan, memiliki kejujuran serta tanggung jawab
4. Untuk menumbuhkan wawasan berpikir integralistik, menjunjung tinggi nilai filosofis dari pancasila serta mampu menerapkan metode ilmiah dalam mempelajari norma-norma/kaidah nilai-nilai yang di gali dari pancasila
Manfaatnya ialah:
1. Filsafat pancasila bermanfaat bagi penetuan sikap, sebagai filter terhadap system dan aliran-aliran filsafat yang ada, dalam menghdapi berbagai aliran yang ada, maka filsafat pancasila merupakan pegangan yang kokoh bagi warga Negara Indonesia dalam menentukan sikap.
2. Dengan mengetahuai filsafat pancasila akan sangat membantu pengertian kita terhadap wawasan pancasila sebagai pendekatan dalam memahami hakikat hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. E. Kesimpulan
Keharusan ini bersumber dari keadaan anak yang sangat tidak berdaya pada waktu ia lahir, sehingga anak didik tiak akan dapat hidup kalau tidak ada pertolongan dari orang yang ada di sekelilingnya. Sewaktu anak dilahirkan, ia serba tergantung kepada orang dewasa yang ada disekelilingnya. Anak belum mampu melanjutkan hidupnya sebagai manusia biasa, karena ia masih dalam keadaan sangat tidak berdaya. Landasan filosofis adalah landasan yang berdasarkan atau yang bersifat filsafat (falsafat, falsafah). Kata filsafat (philosophy)bersumber dari bahasa yunani, phileinberarti mencintai, dan sophos atau sophis berarti hikmah, arif atau bijaksana. Filsafat menelaah sesuatu secara radikal, menyeluruh dan konseptual yang menghasilkan konsepsi-konsepsi mengenai kehidupan dan dunia.
Tinjauan filosofis tentang sesuatu termasuk pendidikan berarti berpikir bebas serta merentang pikiran sampai sejauh-jauhnya tentang sesuatu itu.
filsafat pancasila adalah hasil pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang oleh bangsa Indonesia yang di anggap, dipercaya dan diyakini berbagai sutu kenyataan, norma atau nialai yang paling besar, paling adil bijaksana, paling cocok dan sesuai bangsa Indonesia.
E. Tambu Raka Rustam, Pendidikan Pancasila: Tinjauan Filsafat Pancasila Serata Etika Profesi Berdasarkan Pancasila, Jakarta: Pustaka Jaya, 1995
No comments:
๐ฌ Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️