MAKALAH ANAK TUNA RUNGU

Baca Juga





A.      Pendahuluan
Penulis mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, dengan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini, selanjutnya shalawat dan salam ke-Ruh Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa manusia dari zaman kegelapan ke zaman yang terang benderang saat ini.
Anak berkebutuhan khusus (special needs children) dapat diartikan sebagai anak yang lambat (slow) atau mengalami gangguan (retarded) yang tidak akan pernah berhasil di sekolah sebagaimana anak-anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus (ABK) juga diartikan sebagai anak yang mengalami gangguan fisik, bahasa dan bicara, intelegensi, emosi dan sosial sehingga membutuhkan pembelajaran secara khusus.
Sebagaimana anak-anak normal pada umumnya, anak tunarugu tentu menginginkan kesempatan yang sama dalam meraih masa depan yang dicita-citakannya. Dalam hal ini, berarti peran orang di sekitarnya sangat dibutuhkan untuk membantu mengarahkan anak tunarungu mewujudkan cita-citanya. Dengan kesadaran ini, diharapkan potensi-potensi dari anak tunarungu dapat dikembangkan sebaik mungkin sehingga prestasi yang gemilang dapat terwujud dan turut membanggakan Indonesia.
Beranjak dari masalah diatas maka penulis akan membahas hal-hal yang mengenai anak tunarungu. Adapun ruang lingkup dalam makalah ini adalah sebagai berikut: pengertian anak dengan gangguan tunarungu, klasifikasi anak dengan gangguan tunarungu, penyebab anak dengan gangguan tunarungu, cara pencegahan terjadinya tunarungu dan gangguan komunikas, dampak tunarungu dan gangguan komunikasi bagi perkembangan anak, kebutuhan khusus dan profil pendidikan anak tunarungu dan gangguan komunikasi.
Dalam penyusunan makalah ini penulis menggunakan metode Library Research dan juga Analisis Content, yaitu merujuk langsung kepada sumber-sumber kepustakaan yang relevan menurut Penulis kemudian penulis melakukan analisis dengan sumber-sumber yang ada.
Kemudian yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pribadi mata kuliah Anak Berkebutuhan Khusus, kemudian bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang anak tunarungu.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis memohon kritik dan saran yang membangun dari pembaca makalah ini demi penyempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.
B.       Pengertian Anak Dengan Gangguan Tunarungu
Keadaan dimana seseorang kehilangan pendengarannya yang mengakibatkan ia tidak dapat menangkap berbagai rangsangan melalui indera pendengarannya disebut tunarungu.
Menurut Andreas Dwidjosumarto yang dikutip oleh Somantri seseorang yang tidak atau kurang mampu mendengar suara dikatakan tunarungu. Ada dua kategori ketunarunguan yaitu tuli (deaf) dan kurang dengar (low of hearing). Tuli adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga pendengaran tidak berfungsi lagi. Sedangkan kurang dengar adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan tetapi masih dapat berfungsi untuk mendengar, baik dengan maupun tanpa menggunakan alat bantu dengar (hearing aids). [1]
Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa yang dikatakan tunarungu bukan hanya individu yang benar-benar tidak bisa mendengar/tuli melainkan juga individu yang mengalami kesulitan pendengaran.
Menurut Kosasih dalam Hainudin terdapat kecenderungan bahwa seseorang yang mengalami tunarungu seringkali diikuti pula dengan tunawicara. Kondisi ini dapat menjadi suatu rangkaian sebab dan akibat. [2]
Selain itu, Mufti Salim yang dikutip oleh Somantri menyimpulkan bahwa anak tunarungu adalah anak yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran sehingga ia mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya. Ia memerlukan bimbingan dan pendidikan khusus untuk mencapai kehidupan lahir batin yang layak.[3]
Dari kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tunarungu adalah individu yang memiliki kelainan yang berhubungan dengan indera pendengaran baik sebagian (hard of hearing) maupun seluruhnya (deaf) sehingga ia mengalami hambatan dalam perkembangan bahasa.
C.      Klasifikasi Anak dengan Gangguan Tunarungu
Melihat dari rentang waktu terjadinya ketunarunguan, Kirk yang dikutip oleh Ahmad Wasita, mengelompokan gangguan pendengaran kedalam dua jenis, yakni prelingual dan postlingual. Kelompok anak tunarungu prelingual termasuk dalam tunarungu berat. Adapun postlingual adalah anak yang mengalami kehilangan ketajaman pendengaran setelah kelahirannya.[4]
Menurut Somantri (2005:94) tunarungu dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu klasifikasi secara etiologis dan menurut tarafnya. Di bawah ini penjelasan dari dua klasifikasi tersebut.[5]
1.       Klasifikasi secara etiologis
Yaitu pembagian berdasarkan sebab-sebab, dalam hal ini penyebab ketunarunguan ada beberapa faktor yaitu:
a.        Pada saat sebelum dilahirkan
1)      Salah satu atau kedua orang tua anak menderita tunarungu atau mempunyai gen sel pembawa sifat abnormal, misalnya dominat genes, recesive gen, dan lain-lain.
2)      Karena penyakit; seaktu ibu mengandung terserang suatu penyakit, terutama penyakit-penyakit yang diderita pada saat kehamilan tri semester pertama yaitu pada saat pembentukan ruang telinga. Penyakit itu ialah rubella, moribili, dan lain-lain.
3)      Keracunan obat-obatan; pada suatu kehamilan ibu meminum obat-obatan terlalu banyak, ibu seorang pecandu alkohol, atau ibu tidak menghendaki kehadiran anaknya sehingga ia meminum obat penggugur kandungan, hal ini akan dapat menyebabkan ketunarunguan pada anak yang dilahirkan.
b.        Pada saat kelahiran
1)      Sewaktu melahirkan, ibu mengalami kesulitan sehingga persalinan dibantu dengan penyedotan (tang).
2)      Prematuritas, yakni bayi yang lahir sebelum waktunya.
c.        Pada saat setelah kelahiran (post natal)
1)      Ketulian yang terjadi karena infeksi, misalnya infeksi pada otak (meningitis) atau infeksi umum seperti difteri, morbili, dan lain-lain.
2)      Pemakaian obat-obatan ototoksi pada anak-anak.
3)      Karena kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan alat pendengaran bagian dalam, misalnya jatuh.[6]
2.       Klasifikasi menurut tarafnya
Andreas Dwidjosumarto (Somantri, 2005:95) mengemukakan: [7]
a.       tingkat I, kehilangan kemampuan mendengar antara 35-54 dB, penderita hanya memerlukan latihan berbicara dan bantuan mendengar secara khusus.
b.      tingkat II, kehilangan kemampuan mendengar antara 55-69 dB, penderita kadang-kadang memerlukan penempatan sekolah secara khusus, dalam kebiasaan sehari-hari memerlukan latihan berbicara dan bantuan latihan berbahasa secara khusus.
c.       tingkat III, kehilangan kemampuan mendengar antara 70-89 dB.
d.      tingkat IV, kehilangan kemampuan mendengar 90 dB ke atas.
Penderita dari tingkat I dan II dikatakan mengalami ketulian. Dalam kebiasaan sehari-hari mereka sesekali latihan berbicara, mendengar berbahasa, dan memerlukan pelayanan pendidikan secara khusus. Anak yang kehilangan kemampuan mendengar dari tingkat III dan IV pada hakikatnya memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Ditinjau dari lokasi terjadinya ketunarunguan, klasifikasi anak tunarungu dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut:[8]


1.       Tunarungu Konduktif
Ketunarunguan tipe ini terjadi karena beberapa organ yang berfungsi sebagai pengahantar suara di telinga bagian luar, seperti liang telinga, selaput gendang, serta ketiga tulang pendengaran yang terdapat di telinga bagian dalam dan dinding-dinding labirin mengalami gangguan. Ada beberapa kondisi yang menghalangi masuknya getaran suara atau bunyi ke organ yang berfungsi sebagai penghantar, yaitu tersumbatnya liang telinga oleh kotoran telinga tau kemasukan benda-benda lainnya pada selaput gendang telinga dan ketiga tulang mendengar sehingga efeknya dpat menyebabkan hilangnya daya hantaran organ tersebut.
2.       Tunarungu Perseptif
Ketunarunguan tipe ini disebabkan terganggunya organ-organ pendengaran yang terdapat di belahan telinga bagian dalam.Ketunarunguan ini terjadi jika getaran suara yang diterima oleh telinga bagian dalam (terdiri dari rumah siput, serabut saraf pendengaran) yang bekerja merubah rangsang mekanis menjadi rangsang elektris, tidak dapat diteruskan ke pusat pendengaran di otak.
3.       Tunarungu Campuran
Ketunarunguan tipe ini sebenarnya untuk menjelaskan bahwa pada telinga yang sama rangkaian organ-organ telinga yang berfungsi sebagai penghantar dan menerima rangsangan suara mengalami gangguan, sehingga yang tampak pada telinga tersebut telah terjadi campuran antara kertunarungan konduktif dan ketrunarunguan perspektif.
D.      Penyebab Anak Dengan Gangguan Tunarungu
Moores dalam Anton Subarto mengidentifikasi beberapa penyebab ketunarunguan masa anak-anak yang terjadi di Amerika Serikat. Berdasarkan hasil penelitiannya, ia menemukan bahwa faktor keturunan, penyakit maternalrubella, lahir sebelum waktunya (prematur), radang selaput otak, serta ketidaksesuaian antara darah anak dengan ibu yang mengandungnya, toxoemia, pemakaian antibiotik overdosis, infeksi, otitis media kronis, dan infeksi pada alat-alat pernapasan menjadi penyebab utama terjadinya ketunarunguan. Kondisi ketunarunguan yang dialami anak, dihubungkan dengan kurun waktu terjadinya, yaitu sebelum anak lahir (prenatal), saat anak lahir (neonatal), atau sesudah anak lahir (posnatal). Ketunarunguan yang terjadi sebelum anak lahir maupun saat lahir disebut tunarungu bawaan (congenital), sedangkan ketunarunguan yang terjadi ketika anak mulai meniti tugas perkembangannya disebut tunarungu perolehan (acquired). [9]
Secara terinci determinan ketunarunguan yang terjadi sebelum, saat, dan sesudah anak dilahirkan dapat disimak pada uraian berikut:[10]
1.       Ketunarunguan sebelum lahir (prenatal), yaitu ketunarunguan yang terjadi ketika anak masih berada dalam kandungan ibunya. Ada beberapa kondisi yang menyebabkan ketunarunguan yang terjadi pada saat anak dalam kandungan antara lain sebagai berikut:[11]
a.       Hereditas atau keturunan, salah satu atau kedua orang tua anak menderita tunarungu atau mempunyai gen sel pembawa sifat abnormal. Misalnya gen dominan atau gen resesif.
b.      Maternalrubella, merupakan penyakit cacar air Jerman atau campak. Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan pada koklea anak saat di kandungan.
c.       Pemakaian antibiotika over dosis, contoh obat antibiotika adalah kinine & aspirin (obat penggugur kandungan), nomicin, kanamycin dan streptomicyn.  Tunarungu yang disebabkn oleh obat-obatan ini adalah tunarungu sensoneural (tunarungu saraf)
d.      Toxoemia, merupakan keracunan darah karena sebab tertentu. Kondisi ini akan berpengaruh pada rusaknya plasenta atau janin yang dikandungnya.
2.       Ketunarunguan saat lahir (neonatal), yaitu ketunarunguan yang terjadi saat anak dilahirkan. Ada beberapa kondisi yang menyebabkan ketunarunguan yang terjadi pada saat anak dilahirkan antara lain sebagai berikut:[12]
a.       Lahir prematur, merupakan proses kelahiran bayi yang terlalu dini sehingga berat badan atau panjang badannya relative sering di bawah normal, dan jarring-jaring tubuhnya sangat lemah, akibatnya anak lebih mudah terkena anoxia (kekurangan oksigen) yang berpengaruh pada kerusakan koklea.
b.      Rhesusfactors, jika ayah memiliki rhesuspositif dan ibu memiliki rhesus negatif maka anak yang dilahirkan ada kemungkinan akan memiliki rhesus positif. Ketika rhesus anak dan ibu berbeda ini menyebabkan sel-seldarah merah yang membentuk antibody, justru akan merusak sel darah merah anak dan menyebabkan kekurangan sel darah merah pada anak dan menderita sakit kuning. Ketika anak tersebut  lahir maka akan mengalami tunarungu.
c.       Tangverlossing, merupakan proses kelahiran anak yang dibantu dengan alat yaitu tang. Proses ini dapat menyebabkan kerusakan pada susunan saraf pendengaran.
3.       Ketunarunguan setelah lahir (posnatal), yaitu ketunarunguan yang terjadi setelah anak dilahirkan oleh ibunya. Ada beberapa kondisi yang menyebabkan ketunarunguan yang terjadi setelah dilahirkan antara lain sebagai berikut:[13]
a.       Penyakit meningitiscerebralis, merupakan peradangan yang terjadi pada selaput otak. Peradangan ini dapat disebabkan oleh benturan keras pada bagian kepala.
b.      Infeksi, yaitu ketika anak telah lahir dan terkena penyakit campak, typhus, influenzadan lain-lain. Infeksi yang akut dapat menyebabkan tunarungu pada anak. karena virus-virus akan menyerang bagian-bagian penting dalam rumah siput (koklea) sehingga menyebabkan peradangan.
c.       Otitis media kronis, keadaan ini menunjukkan bahwa cairan otitis media yang berwarna kekuning-kuningan tertimbun di dalam telinga bagian tengah. Ketika cairan mengental dan menyumbat telinga bagian tengah maka akan tejadi pembesaran adenoid, sinusitis dan seterusnya sehingga dapat menyebabkan alergi pada alat pendengaran.
E.        Cara Pencegahan Terjadinya Tunarungu Dan Gangguan Komunikasi
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan sebagai upya pencegahan terjadinya tunarungu. Upaya tersebut dapat dilakukan pada saat sebelum nikah ( pranikah), hamil (prenatal), persalinan (natal), dan setelah kelahiran (post natal) yang masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut:[14]
1.      Upaya yang dapat dilakukan sebelum nikah ( pranikah )
a.       Menghindari pernikahan sedarah atau pernikahan dengan saudara dekat, terutama pada keluarga yang mempunyai sejarah tunarungu
b.      melakukan pemeriksaan darah
c.       melakukan konseling genetika
2.      Upaya yang dapat dilakukan pada waktu hamil
a.       menjaga kesehatan dan memeriksakan kehamilan secara teratur pada dokter kandungan atau bidan
b.      mengonsumsi gizi yang baik atau seimbang
c.       tidak meminum obat sembarangan karena dapat menyebbkan keracunan pada janin
d.      melakukan imunisasi anti tetanus
3.      Upaya yang dapat dilakukan pada saat melahirkan
a.       pada saat melahirkan diupayakan tidak menggunakan alat penyedot
b.      apabila ibu tersebut terkena virus herpes simplek pada daerah vaginanya maka kelahiran harus melalui operasi caesar.
4.      Upaya yang dapat dilakukan pada masa setelah lahir
a.       Melakukan imunisasi dasar serta imunisasi rubella yang sangat penting, terutama bagi wanita.
b.      Apabila anak mengalami sakit influenza, harus dijaga atau diobati jangan sampai terlalu lama karena virusnya dapat masuk kerongga telinga tengah melalui saluran eustachius, dan dapat menyebabkan peradangan ( otitis media ).
c.       Menjaga telinga dari kebisingan, seperti menggunakan pelindung telinga bagi para pekerja di pabrik
F.       Dampak Tunarungu dan gangguan komunikasi bagi perkembangan anak
Hambatan yang dialami anak tunarungu, terutama hambatan belajar tidak akan lepas dari dampak ketunarunguan, yaitu:[15]
1.      Dalam Bidang Kognitif
Inteligensi anak tunarungu secara potensial pada umumnya sama dengan anak normal, tetapi secara fungsional perkembangannya dipengaruhi oleh tingkat kemampuan berbahasa. Keterbatasan informasi dan kurangnya daya abstraksi anak akibat ketunarunguan menghambat proses pencapaian pengetahuan yang lebih luas, dengan demikian perkembangan inteligensi secara fungsional juga terhambat. Hal ini mengakibatkan anak tunarungu kadang-kadang menampakkan keterlambatan dalam belajar dan menampakkan keterbelakangan mental.
Cruickshank yang dikutip Ahmad Wasita mengatakan bahwa: “ anak-anak tunarungu sering memperlihatkan keterlambatan dalam belajar dan kadang tampak terbelakang. Keadaan ini tidak hanya disebabkan oleh derajat gangguan pendengaran yang dialami anak, tetapi juga tergantung pada potensi kecerdasan yang dimiliki, rangsangan mental, serta dorongan dari lingkungan luar yang memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kecerdasan itu”.[16]
Pendapat lain yang mendukung pernyataan di atas adalah pernyataan Rittenhouse yang dikutip Wardani, adalah sebagai berikut: “ … karena anak tunarungu berprestasi sangat jauh di bawah rata-rata kelas sekolahnya, terutama di kelas yang agak tinggi, ada kecenderungan atau anggapan bahwa mereka secara kognitif kemampuannya kurang. Kesulitan akademik yang dihadapi anak tunarungu bukanlah karena masalah kognitif yang kurang, akan tetapi sebenarnya kesulitan dalam bahasa dan pendidiklah yang belum memaksimalkan kelebihan kognitif anak tunarungu”.[17]
Keterlambatan atau prestasi rendah kaum tunarungu dalam mengerjakan tugas dimana dituntut penalaran dengan bahasa bukan berarti potensi kecerdasan atau inteligensi mereka rendah. Bila kesulitan dalam penyampaian instruksi pada tes kecerdasan dapat diatasi dan perangkat tes yang digunakan bersifat non verbal yaitu tidak menuntut kemampuan berbahasa lisan maka kaum tunarungu menunjukkan penyebaran angka kecerdasan yang normal artinya sebagian besar diantara mereka akan berada pada taraf rata-rata.[18]
Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa dalam mengerjakan tugas (berdasarkan tahapan perkembangan kognitif Piaget), anak tunarungu (tuli) dapat menunjukkan kesamaan prestasi dengan anak mendengar bila tugas-tugas itu menuntut perhatian visual dan persepsi seperti misalnya seriasi. Namun bila tugas-tugas itu menuntut perhatian visual dan persepsi (seperti pada tugas konservasi) maka ketergantungan pada persepsi visual akan mengakibatkan kurangnya konseptualisasi. Apalagi dalam tahap operasional konkrit dan formal menuntut daya abstraksi dan penalaran yang memerlukan kemampuan bahasa yang memadai, prestasi mereka akan makin memprihatinkan.
Implikasinya adalah dengan mengadakan perubahan dalam petunjuk tugas, memberikan lebih banyak keterangan daripada yang dilakukan terhadap anak mendengar, penampilan anak tunarungu dapat diperbaiki dalam arti memperkecil perbedaannya dengan prestasi anak mendengar. Maka Furth menyimpulkan bahwa keterlambatan anak tunarungu dalam bidang kognitif lebih disebabkan kurangnya pengalaman dalam dunia nyata dan bahwa hal ini secara tidak langsung merupakan akibat kemiskinan bahasanya yang membatasi mereka dalam kesempatan mengembangkan interaksi dan dengan demikian membatasi pengalamannya pula.
Untuk lebih mengetahui perbedaan perkembangan kognitif anak tunarungu dengan anak normal pada umumnya, maka sebaiknya kita berlandaskan pada profil perkembangan kognitif anak pada umumnya. Allen & Marots berikut fase-fase perkembangan kognif anak sesuai dengan usianya:[19]
a.      Fase bayi (0-1 tahun)
1)      Pendengaran adalah keterampilan yang paling baik perkembangannya
2)      Tanggap terhadap sentuhan
3)      Mempunyai penciuman yang tajam pada saat lahir. Akan menjauhi ba yang menyengat dan tidak enak
4)      Melihat pada arah sumber suara
5)      Terus menerus menatap ke arah benda bergerak walaupun sudah menghilang
6)      Dapat membedakan wajah orangtuanya dengan wajah orang yang tidak dikenal
7)      Menoleh dn mencari sumber suara dan bunyi yang tidak asing
8)      Masih memasukkan segala sesuatu ke mlut
9)      Menirukan gerakan seperti lambaian selamat tinggal, dan bermain ci-luk-ba
10)  Mengikuti instruksi sederhana
11)  Menirukan kegiatan
12)  Mencari mainan yang tersembunyi
b.      Fase kanak-kanak dibawah 3 tahun
1)      menikmati kegiatan menyembunyikan benda
2)      senang melihat-lihat buku bergambar
3)      memamerkan atau menawarkan mainan untuk dilihat oleh orang lain
4)      melakukan arahan dan perintah sederhana
5)      mengenali dan mengekspresikan rasa sakit
6)      mulai menggunakan benda dengan tujuan yang jelas
c.       Fase kanak-kanak usia 3-5 tahun
1)      mendengarkan dnegan penuh perhatian pada cerita yang sesuai dnegan umurnya
2)      senang melihat buku dan pura-pura membacakan cerita pada orang lain
3)      bermain dnegan realistis
4)      mengetahui perbedaan dua kata yang pengucapannya mirip
5)      mengenali dan menunjukkan bagian dari puzzle yang hilang
6)      menumpuk paling sedikit 5 kubus yang ukurannya bertahap dari yang besar sampai yang terkecil
7)      mengerti dan menunjukkan knsep berbentuk dan berukuran sama
8)      mengenali angka 1-10
9)      mengenali dan bisa menyebutkan satuan mata uang
d.      Fase kanak-kanak usia dini usia 6-8 tahun
1)      memahami konsep seperti petunjuk waktu sederhana
2)      menyukai tatangan puzzle
3)      menyebutkan dan mengangkat tangan kanan dan kirinya dengan benar dan cukup konsisten
4)      memahami konsep ruang dan waktu
5)      meningkatkan pemahamannya mengenai sebab akibat
6)      tidak kesulitan lagi dalam membaca
7)      mulai tertarik dengan apa yang dipikirkan dan dilakukan orang lain
8)      menambah dan mengurangkan angka beberapa digit
e.       Fase kanak-kanak usia dini usia 9-12 tahun
1)      mengembangkan kemampuannya untuk membuat penalaran lebih berdasarkan logika
2)      menyukai tantangan aritmatika
3)      menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai hukum sebab akibat
4)      mulai berfikir dnegan cara yang lebih abstrak
5)      menerima pemikiran bahwa masalah bisa diselesaikan dengan baik
6)      menyukai tantangan, pemecahan masalah, dan penelitian.
2.      Dalam Bidang Emosi
Kekurangan akan pemahaman bahasa lisan ata tlisan seringkali menyebabkan anak tunarungu menafsirkan sesuatu secara negatif atau salah dan ini sering menjadi tekanan bagi emosinya. Tekanan pada emosinya itu dapat menghambat perkembangan pribadinya dengan menampilkan sikap menutup diri, bertindak agresif, atau sebaliknya menampakkan keseimbangan dan keragu-raguan.[20]
Emosi anak tunarungu selalu bergolak di satu pihak karena kemiskinan bahasanya dan di pihak lain karena pengaruh dari luar yang diterimanya. Anak tunarungu bila ditegur oleh orang yang tidak dikenalnya akan tampak resah dan gelisah.
Untuk lebih mengetahui sejauh mana perbedaan perkembangan emosi anak tunarungu dengan anak pada umumnya, maka ada baiknya jika kita melihat fase-fase perkembangan emosional anak pada umumnya sesuai dengan perkembangan usianya.
Perkembangan emosi pada anak akan mengikuti perkembangan usia kronologisnya. Artinya bahwa, perkembangan emosi pada anak selalu mengikuti dan berkembang sesuai dengan perkembangan dan pertambahan usianya. Perkembangan emosi pada anak bayi akan terus berkembang hingga anak menjadi remaja, dan terus berkembang menjadi dewasa.[21]
Di bawah ini akan diberikan ilustrasi perkembang emosi pada anak mulai dari bayi, hingga memasuki usia remaja. Perkembangan emosi pada anak akan di bagi menjadi beberapa fase dibawah ini: [22]
a.      Perkembangan Emosi Pada Anak Bayi Hingga Usia 18 Bulan 
1)      Pada fase ini, bayi butuh belajar dan mengetahui bahwa lingkungan di sekitarnya aman dan familier. Perlakuan yang diterima pada fase ini berperan dalam membentuk rasa percaya diri, cara pandangnya terhadap orang lain serta interaksi dengan orang lain. Contoh ibu yang memberikan ASI secara teratur memberikan rasa aman pada bayi.
2)      Pada minggu ketiga atau keempat bayi mulai tersenyum jika ia merasa nyaman dan tenang. Minggu ke delapan ia mulai tersenyum jika melihat wajah dan suara orang di sekitarnya.
3)      Pada bulan keempat sampai kedelapan bayi mulai belajar mengekspresikan emosi seperti gembira, terkejut, marah dan takut. Pada bulan ke-12 sampai 15, ketergantungan bayi pada orang yang merawatnya akan semakin besar. Ia akan gelisah jika ia dihampiri orang asing yang belum dikenalnya. Pada umur 18 bulan bayi mulai mengamati dan meniru reaksi emosi yang di tunjukan orang- orang yang berada di sekitar dalam merespon kejadian tertentu.
b.      Perkembangan Emosi pada Anak Usia 18 bulan sampai 3 tahun 
1)      Pada fase ini, anak mulai mencari-cari aturan dan batasan yang berlaku di lingkungannya. Ia mulai melihat akibat perilaku dan perbuatannya yang akan banyak mempengaruhi perasaan dalam menyikapi posisinya di lingkungan. Fase ini anak belajar membedakan cara benar dan salah dalam mewujudkan keinginannya.
2)      Pada anak usia dua tahun belum mampu menggunakan banyak kata untuk mengekspresikan emosinya. Namun ia akan memahami keterkaitan ekspresi wajah dengan emosi dan perasaan. Pada fase ini orang tua dapat membantu anak mengekspresikan emosi dengan bahasa verbal. Caranya orang tua menerjemahkan mimik dan ekspresi wajah dengan bahasa verbal.
3)      Pada usia antara 2 sampai 3 tahun anak mulai mampu mengekspresikan emosinya dengan bahasa verbal. Anak mulai beradaptasi dengan kegagalan, anak mulai mengendalikan prilaku dan menguasai diri.
c.       Perkembangan Emosi pada Anak Usia antara 3 sampai 5 tahun 
1)   Pada fase ini anak mulai mempelajari kemampuan untuk mengambil inisiatif sendiri. Anak mulai belajar dan menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan anak lain, bergurau dan melucu serta mulai mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
2)   Pada fase ini untuk pertama kali anak mampu memahami bahwa satu peristiwa bisa menimbulkan reaksi emosional yang berbeda pada beberapa orang. Misalnya suatu pertandingan akan membuat pemenang merasa senang, sementara yang kalah akan sedih.
d.      Perkembangan Emosi pada Anak Usia antara 5 sampai 12 tahun 
1)   Pada usia 5-6 anak mulai mempelajari kaidah dan aturan yang berlaku. Anak mempelajari konsep keadilan dan rahasia. Anak mulai mampu menjaga rahasia. Ini adalah keterampilan yang menuntut kemampuan untuk menyembunyikan informasi- informasi secara.
2)   Anak usia 7-8 tahun perkembangan emosi pada masa ini anak telah menginternalisasikan rasa malu dan bangga. Anak dapat menverbalsasikan konflik emosi yang dialaminya. Semakin bertambah usia anak, anak semakin menyadari perasaan diri dan orang lain.
3)   Anak usia 9-10 tahun anak dapat mengatur ekspresi emosi dalam situasi sosial dan dapat berespon terhadap distress emosional yang terjadi pada orang lain. Selain itu dapat mengontrol emosi negatif seperti takut dan sedih. Anak belajar apa yang membuat dirinya sedih, marah atau takut sehingga belajar beradaptasi agar emosi tersebut dapat dikontrol.
4)   Pada masa usia 11-12 tahun, pengertian anak tentang baik-buruk, tentang norma-norma aturan serta nilai-nilai yang berlaku di lingkungannya menjadi bertambah dan juga lebih fleksibel, tidak sekaku saat di usia kanak-kanak awal. Mereka mulai memahami bahwa penilaian baik-buruk atau aturan-aturan dapat diubah tergantung dari keadaan atau situasi munculnya perilaku tersebut. Nuansa emosi mereka juga makin beragam.
Pembagian perkembangan emosi pada anak diatas menjadi beberapa fase, dimaksudkan untuk mengetahui fase-fase perbedaan emosi anak anak normal pada umumnya dengan anak tunarungu sesuai dnegan realita yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Dampak Bidang Sosial
Manusia sebagai makhluk sosial selalu memerlukan kebersamaan dengan orang lain. Demikian pula anak tunarungu, ia tidak terlepas dari kebutuhan tersebut. Akan tetapi karena mereka memiliki kelainan dalam segi fisik, biasanya akan menyebabkan suatu kelainan dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan. Pada umumnya lingkungan melihat mereka sebagai individu yang memiliki kekurangan dan menilainya sebagai seseorang yang kurang berkarya. Dengan penilaian lingkungan yang demikian, anak tunarungu merasa benar-benar kurang berharga. Dengan penilaian dan lingkungan yang demikian juga memberikan pengaruh yang benar-benar besar terhadap perkembangai fungsi sosialnya. Dengan adanya hambatan dalam perkembangan sosial ini mengakibatkan pula minimalnya penguasaan bahasa dan kecenderungan menyendiri serta memiliki siifa egosentnis.[23]
Faktor sosial dan budaya meliputi pengertian yang sangat luas, yaitu lingkungan hidup di mana anak berinteraksi.  Interaksi antara individu dengan kelompok, keluarga, dan masyarakat. Untuk kepentingan anak tunarungu, seluruh anggota keluarga, guru, dan masyarak di sekitarnya hendaknya berusaha mempelajari dan memahami keadaan mereka karena hal tersebut dapat menghambat perkembangan kepribadi yang negatif pada diri anak tunarungu.
Sudah menjadi kejelasan bagi kita bahwa hubungan sosial banyak ditentukan oleh komunikasi antara seseorang dengan orang lain. Kesulitan komunikasi tidak bisa dihindari. Namun bagi anak tunarungu tidaklah demikian karena anak ini mengalami hambatan dalam berbicara. Kemiskinan bahasa membuat dia tidak mampu terlibat secara baik dalam situasi sosialnya. Sebaliknya, orang lain akan sulit memahami perassan dan pikirannya.[24]
Dengan ketunarunguan dapat mengakibatkan berkurangnya kepercayaan diri dan merasa asing dari masyarakat tempat mereka hidup, sehingga tampak adanya kekurangan dalam interaksi sosial dengan lingkungan tersebut. Dengan demikian semua ini mengakibatkan munculnya suatu keterasingan antara mereka dengan anak normal yang mendengar lainnya. Selain itu, anak tunarungu cenderung memiliki pandangan yang negatif atau bertindak kurang menyenangkan terhadap lingkungan. Untuk itu akan tampak pula efek-efek negatif lainnya, antara lain : [25]
a.       Egosentrisme yang melebihi anak normal
Daerah pengamatan anak tunarungu lebih kecil jika dibandingkan dengan anak yang mendengar, mereka hanya mampu menangkap dan memasukan sebagian kecil dunia luar ke dalam dirinya. Jadi makin sempit perhatiannya, dunia di luar hidupnya semakin menutup dan mempersempit kesadaran. Bagi anak yang masih mempunyai sisa pendengaran, dan jika alat bantu pendengarannya dipakai sejak kecil maka akan dapat membantu memfungsikan sisa pendengaran yang ada. Sehingga didalam menepuh hidupnya dapat terjalin komunikasi dan interaksi sosial dengan masyrakat dilingkungannya.
b.      Mempunyai perasaan takut akan lingkungan yang lebih luas
Bagi orang normal yang mendengar dapat saja suatu saat dihinggapi perasaan takut akan kehidupan ini, tetapi bagi anak tunarungu perasaan tersebut akan lebih sering muncul. Semua ini dapat terjadi karena anak tunarungu sering merasa kurang menguasai keadaan yang ada hal ini di akibatkan karena pendengaran yang mengalami ganguan, sering muncul pada dirinya kekuatiran yang lebih akhirnya dapat menimbulkan suatu ketakutan.
c.       Ketergantungan terhadap orang lain
Sikap ketergantungan terhadap orang lain atau terhadap apa yang sudah dikenalnya dengan baik, merupakan sikap bahwa mereka memiliki rasa keputusasaan dan selalu mencari bantuan dan perlindungan terhadap orang lain, maka di sini berarti anak tunarungu kurang percaya diri dan kurang yakin dengan apa yang telah dimiliki.
d.      Perhatian yang sukar dialihkan
Suatu hal yang sering terjadi pada anak tunarungu baik disekolah maupun di lingkungan tempat mereka tinggal, apabila ia menyukai suatu benda, atau menyukai suatu jenis kegiatan yang berupa keterampilan maupun permainan bisa mereka melakukannya maka perhatiannya sulit untuk dialihkan. Anak tunarungu sukar diajak berfikir tentang hal-hal yang belum terjadi artinya anak tunarungu kurang akan fantasi (abstrak).
e.       Memiliki sifat polos, sederhana tanpa banyak masalah
Di dalam hidupnya sehari-hari mereka seakan-akan tidak mempunyai beban. Biasanya dengan mudah menyampaikan perasaannya kepada orang lain tanpa berfikir dan mempertimbangkan atau memandang bermacam-macam segi yang mungkin menjadi penghalang. Hal ini bisa dipahami karena anak tunarungu tidak memilih alternatif lain karena anak tunarungu tidak menguasai suatu ungkapan dengan baik, bila itu tidak berkenan dalam hatinya maka anak tunarungu lansung menyampaikan walaupun perkataannya akan menyingung perasaan seseorang.
f.       Lebih mudah marah dan cepat tersinggung
Karena sering mengalami kekecewaan disebabkan karena kesukaran dalam menyampaikan fikiran perasaan kepada orang lain, hal ini diekspresikan dengan kemarahan. Mereka kadang kala berfikir bahwa setiap orang yang berbicara dihadapan mereka seakan-akan yang dibicarakan oleh orang lain tersebut adalah membicarakan dia, atau mengeledeknya. Anak tidak akan tersinggung apabila mampu memahami, mengerti dan menguasai dirinya melalui bahasa yang dimilikinya luas. Artinya apa yang dibicarakan orang lain akan lebih mudah dia kuasai dan akan semakin mudah pula mereka berbicara.
G.      Kebutuhan Khusus dan Profil Pendidikan Anak Tunarungu dan gangguan Komunikasi
Ditinjau dari segi jenisnya, layanan pendidikan bagi anak tunarungu meliputi layanan umum dan khusus:[26]
1.      Layanan umum
Layanan umum merupakan layanan pendidikan yang biasa diberikan kepada anak mendengar atau normal yang meliputi layanan akademik, latihan dan bimbingan. Layanan akademik bagi anak tunarungu pada dasarnya sama dengan layanan akademik bagi anak mendengar, yaitu mencakup mata-mata pelajaran yang biasa diberikan di SD biasa, tetapi terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan ciri khas layanan bagi anak tuna rungu. Layanan bimbingn trutama diperlukan dalam mengatasi dampak kelainan terhadap aspek psikologisnya, serta pengembangan sosialisai siswa.
2.      Layanan khusus
Layanan khusus merupakan layanan yang khusus diberikan kepada anak tunarungu dalam mengurangi  dampak ketunarunguannya atau melatih kemampuan yang masih ada, yang meliputi layanan bina bicara serta layanan bina persepsi bunyi dan irama.
a.       Layanan bina bicara
Layanan bina bicara merupakan layanan upaya untuk meningkatkan kemampuan anak tunarungu dalam mengucapkan bunyi-bunyi bahasa dalam rangkaian kata-kata, agar dapat dimengerti atau diinterpretasika oleh orang yang mengajak atau diajak bicara.Latihan bina bicara bertujuan antara lain agar anak tuna rungu memiliki dasar ucapan yang benar sehingga dapat dimengerti orang lain, memberi keyakinan pada anak tuna rungu bahwa bunyi atau suara yang yang diproduksi melalui organ bicaranya harus mempunyai    makna, membedakan ucapan yang satu dengan ucapan yang lainnya, serta memfungsikan organ-organ bicaranya yang kaku.
b.      Layanan bina persepsi bunyi dan irama
            Layanan bina persepsi bunyi dan irama merupakan layanan untuk melatih kepekaan terhadap bunyi dan irama melalui sisa pendengaran atau merasakan vibrasi (getaran bunyi) bagi siswa yang hanya memiliki sedikit sekali sisa pendengaran.
Adapaun Tempat atau sistem layanan pendidikan bagi anak tunarungu adalah sebagai berikut:[27]
1.      Tempat khusus atau sistem segregasi
Sistem pendidikan segregasi adalah sistem pendidikan yang terpisah dari sistem pendidikan anak normal. Pendidikan anak tunarungu melalui sistem segregasi, maksudnya adalah penyelenggaraan pendidikan tersebut dilaksanakan di tempat khusus dan terpisah dari penyelenggaraan pendidikan untk anak mendengar atau anak normal dengan memiliki kurikulum sendiri. Tempat pendidikan melalui sistem segregasi dapat dikemukakan sebagai berikut:
a.       Sekolah khusus, sekolah khusus bagi anak tunarungu disebut Sekolah Luar Biasa Bagian B ( SLB-B ).
b.      Sekolah Dasar Luar Biasa ( SDLB), adalah sekolah pada tingkat dasar yang menampung berbagai jenis kelainan, seperti anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan tuna daksa dalam satu sekolah.
c.       Kelas jauh atau kelas kunjung, adalah kelas yang dibentuk atau disediakan untuk memberi pelayanan pendidikan bagi anak luar biasa termasuk anak tunarungu yang bertempat tinggal jauh dari SLB/SDLB.
2.      Sekolah umum atau sistem integrasi
Sistem pendidikan integrasi merupakan sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada anak tunarungu untuk belajar bersama-sama dengan anak mendengar atau normal di sekolah umum atau sekolah biasa. Depdiknas ( 1986 ) mengelompokkan bentuk-bentuk keterpaduan tersebut menjadi :
a.       Bentuk kelas biasa
b.      Bentuk kelas biasa dengan ruang bimbingan khusus
c.       Bentuk kelas khusus
H.      Penutup
Demikianlah penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna sebagai mana mestinya. Oleh karenan itu, kritik dan saran dari semua komponen yang berkepentingan dengan tujuan kesempurnaan makalah ini sangatlah diharapkan. Khususnya Bapak Dosen pengampu Mata Kuliah Anak Berkebutuhan Khusus.
Sebagaimana pepatah mengatakan “Tak ada gading yang tak retak, retaknya itu jadi ukiran. Tak ada manusia yang tak bersalah, salahnya itu mohon dimaafkan”. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya mahasiswa/i yang belajar Mata Kuliah Anak Berkebutuhan Khusus.
I.         Referensi
Ahmad Wasita, Seluk Beluk Tunarungu dan Tunawicara, Jokyakarta: Javalitera, 2013.
Anton Subarto, Cara Perawatan Anak Berkebutuhan Khusus, Bandung: Kali Bagus, 2009.
Hainudin, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khsusus Tunarungu, Jakarta: PT. Luxima Metro Media, 2013.
IG. A. K. Wardani,  Dkk, Pengantar Pendidikan Luar Biasa, Jakarta: UT, 2008.
Mohammad Effendi, Pengantar Psikopaedogogik Anak Berkelainan, Jakarta: Bumi Aksara, 2006.
Mulyono Abdurrahman, Anak Berkesulitan Belajar,Jakarta: Rineka Cipta, 2012), hlm. 123.
T. Sutjihati Somantri, Psikologi Anak Luar Biasa, Bandung: Refika Aditama, 2006.



[1] T. Sutjihati Somantri, Psikologi Anak Luar Biasa, (Bandung: Refika Aditama, 2006), hlm. 93.
[2] Hainudin, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khsusus Tunarungu, (Jakarta: PT. Luxima Metro Media, 2013), hlm. 2.
[3] T. Sutjihati Somantri, Loc. Cit.
[4] Ahmad Wasita, Seluk Beluk Tunarungu dan Tunawicara, (Jokyakarta: Javalitera, 2013), hlm. 12.
[5] T. Sutjihati Somantri, Op. Cit., hlm. 94.
[6] Ibid.
[7] Ibid., hlm 95.
[8] Ahmad Wasita, Op. Cit., hlm. 15-16.
[9] Anton Subarto, Cara Perawatan Anak Berkebutuhan Khusus, (Bandung: Kali Bagus, 2009), hlm. 24.
[10] Ibid., hlm. 25-27.
[11] Ibid., hlm. 25.
[12] Ibid., hlm. 25-26.
[13] Ibid., hlm. 26-27.
[14] Hainudin, Op. Cit., hlm. 21-26.
[15] Anton Subarto, Op. Cit., hlm. 128.
[16] Ahmad Wasita, Op. Cit., hlm. 16.
[17] IG. A. K. Wardani,  Dkk, Pengantar Pendidikan Luar Biasa, (Jakarta: UT, 2008), hlm. 12.
[18] Ahmad Wasita, Op. Cit., hlm. 19.
[19] Ibid., hlm. 29-31.
[20] Hainudin, Op. Cit., hlm. 38.
[21] T. Sutjihati Somantri, Op. Cit., hlm. 97.
[22] Ahmad Wasita, Op. Cit., hlm. 32-34.
[23] T. Sutjihati Somantri, Op. Cit., hlm. 99.
[24] Ibid., hlm. 101.
[25] Ahmad Wasita, Op. Cit., hlm. 35-38.
[26] Mohammad Effendi, Pengantar Psikopaedogogik Anak Berkelainan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hlm. 42-46.
[27] Mulyono Abdurrahman, Anak Berkesulitan Belajar,(Jakarta: Rineka Cipta, 2012), hlm. 123.

📢 Bagikan Postingan Ini

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman atau media sosial Anda.

Facebook WhatsApp Twitter Telegram Copy Link

🤝 Butuh Bantuan atau Dokumen Lain?

Terima kasih telah berkunjung ke blog KhairalBlog21. Jika Anda membutuhkan makalah, format surat resmi, administrasi sekolah, atau dokumen lain yang belum tersedia di blog ini, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak. Kami juga menerima request untuk pembuatan dokumen sesuai kebutuhan Anda.

Jangan ragu untuk memberikan saran dan masukan agar blog ini bisa lebih bermanfaat untuk semua. Klik tombol di bawah ini untuk langsung menghubungi kami via WhatsApp:

Kami siap membantu menyediakan dokumen pendidikan dan administrasi sesuai kebutuhan Anda 📚✍️


No comments:

💬 Tinggalkan Komentar Anda

Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️

Featured Post

CONTOH DAN DONWLOAD SURAT LAMARAN SEBAGAI SPG

Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) , tentunya diperlukan sebuah surat lamaran kerja yang baik dan b...