A. Pendahuluan
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang tepat pada waktunya dengan judul Emosi.
Selanjutnya shalawat dan salam ke-Ruh junjungan semesta alam yakni Muhammad SAW yang telah mentransmisi masa kegelapan terhadap masa yang terang benderang saat ini. Makalah ini disusun berdasarkan judul yang telah penulis ajukan kepada Dosen Pembimbing sebagai tugas makalah pribadi Mata Kuliah Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus.
Semakin banyaknya gejala gangguan autisme pada anak, menimbulkan keperihatinan bagi para orang tua, baik dalam bidang kesehatan maupun bidang pendidikan. Segala upaya telah dicoba oleh berbagai pihak untuk membantu anak penyandang gangguan autis. Salah satu upaya yang telah banyak dilakukan adalah dengan mendirikan pusat-pusat terapi autis dan sekolah-sekolah untuk anak yang berkebutuhan khusus. Tujuannya adalah untuk membentuk perilaku positif dan mengembangkan kemampuan lain yang terhambat, misalnya bicara, kemampuan motorik dan daya konsentrasi.
Autisme atau juga disebut dengan Autistic Spectrum Disorder (ASD), hingga kini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Meski demikian, saat ini sudah ada beberapa langkah yang tepat untuk penderita autis agar dapat memiliki kemampuan bersosialisasi, bertingkahlaku, dan berbicara. Anak yang menderita autis sebenarnya dapat diketahui sejak usia dini. Karena umumnya gangguan ini muncul sebelum anak berusia tiga tahun. Hanya kebanyakan orangtua kurang aware dengan gejala yang timbul pada anaknya hingga usia empat tahun. Padahal pada usia tersebut, anak sudah larut dengan dunianya sendiri sehingga tidak bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman-teman dan lingkungannya.
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk memenuhi tugas makalah pribadi Mata Kuliah Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus.
2. Untuk menambah wawasan serta pengetahuan para pembaca khususnya kepada penulis tentang autisme.
Selanjutnya ruanglingkup dalam makalah ini yang berdasarkan judul yang telah penulis ajukan adalah sebagai berikut : pengertian, ciri-ciri autisme, penyebab , sejarah autisme, klasifikasi autisme, intervensi autisme, prevalensi autisme, gangguan perilaku terhadap autisme, cara memperhatikan belajar anak autis, cara memberlakukan anak autisme dalam proses pembelajaran, cara menenangkan siswa autis dalam kelas, tiga teori utama terkait autisme.
Dalam penyusunan makalah ini penulis menggunakan metode Library Research dan juga Analisis Content, yaitu merujuk langsung kepada sumber-sumber kepustakaan yang relevan menurut Penulis kemudian penulis melakukan analisis dengan sumber-sumber yang ada.
Akhir kata, kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusuna makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita.
B. Pengertian Autisme
Istilah Autisme berasal dari “autos” yang berarti “diri sendiri” dan “isme” yang berarti “aliran”. Autisme berarti suatu paham yang tertarik hanya pada dunianya sendiri. Ada pula yang menyebutkan bahwa autisme adalah gangguan perkembagan yang mencakup bidang komunnikasi, interaksi, dan perilaku. Gejalanya mulai tampak pada anak sebelum mencapai usia tiga tahun. Gangguan autistik ditandai dengan tiga gejala utama yaitu gangguan interakasi sosial, gangguan komunikasi, dan perilaku yang stereotipik. Di antara ketiga hal tersebut, yang paling penting diperbaiki lebih dahulu adalah interaksi sosial. Apabila interaksi mebaik, sering kali gangguan komunikasi dan perilaku akan membaik secara otomatis. Banyak orang tua yan mengharapkan anaknya segera bicara. Tanpa interaksi yang baik, bicara yang sering kali berupa ekolalia, mengulang sesuatu yang di dengarnya. Komunikasi juga tidak selalu identik denngan bicara. Bisa berkomunikasi nonverbal jauh lebih baik dibandingkan dengan bicara yang tidak dapat dimengerti olehnya.
Semantara itu menurut Mudjito dalam Kosasih, autisme ialah anak yang mengalami gangguan berkomunikasi dan berinteraksi sosial serta mengalami berkomunikasi dan berinteraksi sosial serta mengalami gangguan sesori, pola bermain, dan emosi. Penyebannya karena antar jaringan dan fungsi otak tidak biasa-biasa saja. Survei menunjukan, anak-anak autisme lahir dari ibu-ibu kalangan ekonomi menengah keatas. Ketika di kandung, asupan gizi ke ibunya tak seimbang. Hakikatnya, anak autis memerlukan perawatan atau intervensi terapi secara dini, terpadu, dan instensif. Dengan intervensi terapi yang sesuai, penyandang autisme dapat mengalami perbaikan dan dapat mengatasi perilaku autistiknya sehingga mereka dapat bergaul secara normal, tumbuh sebagai orang dewasa yang sehat dan dapat hidup mendiri di masyarakat. Berbagai macam terapi yang dapat menolong. C. Ciri-Ciri Autisme
Anak dengan autisme dapat tampak normal di tahun pertama maupun tahun kedua dalam kehidupannya. Para orang tua seringkali menyadari adanya keterlambatan kemampuan berbahasa dan cara-cara tertentu yang berbeda ketika bermain serta berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tersebut mungkin dapat menjadi sangat sensitif atau bahkan tidak responsif terhadap rangsangan-rangasangan dari kelima panca inderanya (pendengaran, sentuhan, penciuman, rasa dan penglihatan). Perilaku-perilaku repetitif (mengepak-kepakan tangan atau jari, menggoyang-goyangkan badan dan mengulang-ulang kata) juga dapat ditemukan. Perilaku dapat menjadi agresif (baik kepada diri sendiri maupun orang lain) atau malah sangat pasif. Besar kemungkinan, perilaku-perilaku terdahulu yang dianggap normal mungkin menjadi gejala-gejala tambahan. Selain bermain yang berulang-ulang, minat yang terbatas dan hambatan bersosialisasi, beberapa hal lain yang juga selalu melekat pada para penyandang autisme adalah respon-respon yang tidak wajar terhadap informasi sensoris yang mereka terima, misalnya; suara-suara bising, cahaya, permukaan atau tekstur dari suatu bahan tertentu dan pilihan rasa tertentu pada makanan yang menjadi kesukaan mereka.
Autisme ditandai oleh ciri-ciri utama antara lain: 1. Tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya
2. Tidak bisa bereaksi normal dalam pergaulan sosialnya
3. Perkembangan bicara dan bahasa tidak normal
4. Reaksi/pengamatan terhadap lingkungan terbatas atau berulang-ulang.
Menurut Power Danie dalam karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang : 1. Interaksi sosial
2. Komunikasi (bicara dan bahasa)
3. Perilaku – emosi
4. Pola bermain
5. Gangguan sensorik – motorik
6. Perkembangan terlambat atau tidak normal
Menurut Depdiknas mendeskripsikan anak dengan autisme berdasarkan jenis masalah gangguan yang dialami anak dengan autisme. Karakteristik dari masing-masing masalah/gangguan itu di deskripsikan sebagai berikut: 1. Masalah/gangguan di bidang komunikasi dengan karakteristiknya sebagai berikut:
a. Perkembangan bahasa anak autistic lambat atau sama sekali tidak ada. Anak tampak seperti tuli, dan sulit bicara.
b. Kadang-kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya.
c. Mengoceh tanpa arti secara berulang-ulang, dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti orang lain.
d. Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi senang meniru atau membeo (echolalia)
e. Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan, misalnya bila ingin meminta sesuatu.
2. Masalah/gangguan di bidang interaksi sosial dengan karakteristik berupa:
a. anak autistic lebih suka menyendiri
b. anak tidak melakukan kontak mata dengan orang lain atau meghindari tatapan muka atau mata orang lain.
c. Tidak tertarik bermain bersama dengan teman, baik yang sebaya maupun yang lebih tua.
d. Bila diajak bermain, anak autistik itu tidak mau dan menjauh.
3. Masalah/gangguan di bidang sensorisdegan karakteristiknya berupa:
a. Anak autistik tidak peka terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk.
b. Anak autistik bila mendengar suara keras langsung menutup telinga.
c. Anak autistic senang mencium-cium atau menjilat-jilat mainan atau benda-benda yang ada disekitarnya.
d. Tidak peka terhadap rasa sakit dan rasa takut
4. Masalah/gangguan di bidang pola bermainkarakteristiknya berupa:
a. Anak autistic tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya.
b. Anak autistik tidak suka bermain dengan teman sebayanya
c. Anak autistik tidak bermain sesuai dengan fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya diputar.
5. masalah/gangguan di bidang perilakukarakteristiknya berupa:
a. Anak autistik dapat berperilaku berlebihan atau terlalu aktif (hiperaktif) dan berperilaku berkekurangan (hipoaktif).
b. Anak autistik memperlihatkan stimulasi diri atau merangsang diri sendiri seperti bergoyang-goyang mengepakan tangan seperti burung.
c. Anak autistik tidak suka kepada perubahan
d. Anak autistik duduk bengong dengan tatapan kosong.
6. Masalah/gangguan di bidang emosi karakteristiknya berupa:
a. Anak autistic sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa dan menangis tanpa alasan
b. Anak autistik kadang agresif dan merusak
c. Anak autistik kadang-kadang menyakiti dirinya sendiri
d. Anak autistik tidak memiliki empati dan tidak mengerti perasaan orang lain yang ada di sekitarnya.
D. Penyebab Autisme
Faktor penyebab atuisme masih terus dicari dan masih dalam penelitian parah ahli. Beberapa teori terakhir mengatakan bahwa faktor genetika (keturunan memegang peranan penting dalam proses terjadinya autisme. Adapun beberapa penyebab terjadinya autisme adalah sebagai berikut: 1. Faktor Genetik
Lebih kurang 20% dari kasus-kasus autisme disebabkan oleh faktor genetik.Penyakit genetik yang sering dihubungkan dengan autisme adalah tuberous sclerosis (17-58%) dan sindrom fragile X (20-30%). Disebut fragile-X karena secara sitogenetik penyakit ini ditandai oleh adanya kerapuhan (fragile) X 4.Sindrome fragile X merupakan penyakit yang diwariskan secara X-linked (X terangkai) yaitu melalui kromosome X. Pola penurunannya tidak umum, yaitu tidak seperti penyakit dengan pewarisan X-linked lainnya, karena tidak bisa digolingkan sebagai dominan atau resesi, laki-laki dan perempuan dapat menjadi penderita maupun pembawa sifat (carrier).
2. Ganguan pada Sistem Syaraf
Banyak penelitian yang melaporkan bahwa anak autis memiliki kelainan pada hampir semua struktur otak. Tetapi kelainan yang paling konsisten adalah pada otak kecil. Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel purkinye di otak kecil pada autisme. Otak kecil berfungsi mengontrol fungsi luhur dan kegiatan motorik, juga sebagai sirkuit yang mengatur perhatian dan pengindraan. Jika sirkuit ini rusak atau terganggu maka akan mengganggu fungsi bagian lain dari sistem saraf pusat, seperti misalnya sistem limbik yang mengatur emosi dan perilaku.
3. Ketidakseimbangan Kimiawi
Beberapa peneliti menemukan sejumlah kecil dari gejala autistik berhubungan dengan makanan atau kekurangan kimiawi di badan. Alergi terhadap makanan tertentu, seperti bahan-bahan yang mengandung susu, tepung gandum, daging, gula, bahan pengawet, penyedap rasa, bahan pewarna, dan ragi. Untuk memastikan pernyataan tersebut, dalam tahun 2000 sampai 2001 telah dilakukan pemeriksaan terhadap 120 orang anak yang memenuhi kriteria gangguan autisme menurut DSM IV. Rentang umur antara 1 – 10 tahun, dari 120 orang itu 97 adalah anak laki-laki dan 23 orang adalah anak perempuan. Dari hasil pemeriksaan diperoleh bahwa anak anak ini mengalami gangguan metabolisme yang kompleks, dan setelah dilakukan pemeriksaan untuk alergi, ternyata dari 120 orang anak yang diperiksa: 100 anak (83,33%) menderita alergi susu sapi, gluten dan makanan lain, 18 anak (15%) alergi terhadap susu dan makanan lain, 2 orang anak (1,66 %) alergi terhadap gluten dan makanan lain.. Penelitian lain menghubungkan autism dengan ketidakseimbangan hormonal, peningkatan kadar dari bahan kimiawi tertentu di otak, seperti opioid, yang menurunkan persepsi nyeri dan motivasi.
4. Kemungkinan Lain
Autisme juga diduga dapat disebabkan oleh virus, seperti rubella, toxo, herpes, jamur, nutrisi yang buruk, pendarahan dan keracunan makanan pada masa kehamilan yang dapat menghambat pertuimbuhan sel otak yang menyebabkan fungsi otak bayi yang dikandung terganggu terutama fungsi pemahaman komunikasi dan interaksi. Kemungkinan yang lain adalah faktor psikologis, karena kesibukan orang tuanya sehingga tidak memiliki waktu untuk berkomunikasi dengan anak, atau anak tidak pernah diajak berbicara sejak kecil, itu juga dapat menyebabkan anak menderita autisme. E. Sejarah Autisme
Kata autisme pertama mengambil pengertian modern pada tahun 1938 ketika Hans Asperger dari Vienna University Hospital Bleuler mengadopsi terminologi psikopat autistik dalam sebuah ceramah di Jerman tentang psikologi anak.
Asperger sedang menyelidiki sebuah ASD sekarang dikenal sebagai Sindrom Asperger, meskipun karena berbagai alasan tidak secara luas diakui sebagai diagnosis terpisah sampai 1981. Leo Kanner dari Rumah Sakit Johns Hopkins autisme pertama kali digunakan dalam pengertian modern dalam bahasa Inggris ketika ia memperkenalkan label autisme infantil awal dalam laporan 1943 dari 11 anak dengan kemiripan perilaku mencolok . Hampir semua karakteristik yang dijelaskan dalam makalah pertama Kanner pada subjek, terutama "autistik kesendirian" dan "desakan kesamaan", masih dianggap sebagai khas dari gangguan spektrum autistik. Tidak diketahui apakah Kanner istilah independen yang berasal dari Asperger.
Kanner penggunaan kembali dekade autisme menyebabkan kebingungan seperti kekanak-kanakan terminologi skizofrenia, dan psikiatri anak fokus pada kekurangan ibu menyebabkan kesalahpahaman tentang autisme sebagai respons bayi untuk "kulkas ibu". Dimulai pada akhir tahun 1960-an autisme didirikan sebagai sindrom terpisah dengan menunjukkan bahwa itu adalah seumur hidup, membedakannya dari keterbelakangan mental dan skizofrenia dan gangguan perkembangan lain, dan mendemonstrasikan manfaat yang melibatkan orang tua dalam program aktif terapi. Pada akhir Pada pertengahan 1970-an ada sedikit bukti dari peran genetik autisme, sekarang dianggap salah satu yang paling diwariskan dari semua kondisi kejiwaan.
Walaupun munculnya organisasi-organisasi induk dan masa kanak-kanak destigmatization ASD telah sangat terpengaruh bagaimana kita memandang ASD, orangtua terus merasakan stigma sosial dalam situasi di mana mereka perilaku anak-anak autis dianggap negatif oleh orang lain, dan banyak dokter perawatan primer dan spesialis medis masih mengungkapkan beberapa keyakinan konsisten dengan penelitian autisme yang sudah ketinggalan zaman. The Internet telah membantu individu autistik bypass isyarat-isyarat nonverbal dan emosional berbagi bahwa mereka menemukan begitu sulit untuk ditangani, dan telah memberi mereka suatu cara untuk membentuk komunitas online dan bekerja dari jarak jauh. Sosiologis dan aspek budaya autisme telah mengembangkan: beberapa di masyarakat mencari obat, sementara yang lain percaya bahwa autisme hanyalah cara lain untuk menjadi. F. Klasifikasi Autisme
Dalam berinteraksi sosial anak autistik dikelompokan atas 3 kelompok yaitu:
1. Kelompok Menyendiri
a. Terlihat menghindari kontak fisik dengan lingkungannya
b. Bertedensi kurang menggunakan kata-kata, dan kadang-kadang sulit berubah meskipun usianya bertambah lanjut. Dan meskipun ada ada perubahan, mungkin hanya bisa mengucapkan beberapa patah kata yang sederhana saja.
c. Menghabiskan harinya berjam-jam untuk sendiri, dan kalu berbuat sesuatu, akan melakukannya berulang-ulang.
d. Gangguan perilaku pada kelompok anak ini termasuk bunyi-bunyi aneh, gerakan tangan, tabiat yang mudah marah, melukai diri sendiri, menyerang teman sendiri, merusak dan menghancurkan mainannya.
2. Kelompok Anak Autisme Yang Pasif
a. Lebih bisa bertahan dengan kontak fisik, dan agak mampu bermain dengan kelompok teman bergaul dan sebaya, tetapi jarang sekali mencari teman sendiri.
b. Mempunyai perbendaharaan kata yang lebih banyak meskipun masih agak terlambat bisa berbicara dibandingkan dengan anak sebaya.
c. Kadang-kadang malah lebih cepat merangkai kata meskipun kadang-kadang pula dibumbui kata yang kurang dimengerti.
d. Kelompok pasif ini masih bisa diajari dan dilatih dibandingkan dengan anak autisme yang menyendiri dan yang aktif tetapi menurut kemauannya sendiri.
3. Kelompok Anak Autisme Yang Aktif Tetapi Menurut Kemauannya Sendiri
a. Kelompok ini seperti bertolak belakang dengan kelompok anak autisme yang menyendiri karena lebih cepat bisa bicara dan memiliki perbendaharaan kata yang paling banyak
b. Meskipun dapat merangkai kata dengan baik, tetapi tetap saja terselip kata-kata yang aneh dan kurang dimengerti.
c. Masih bisa ikut berbagi rasa dengan teman bermainnya.
d. Dalam berdialog, sering mengajukan pertanyaan dengan topik yang menarik, dan bila jawaban tidak memuaskan atau pertanyaannya dipotong, akan bereaksi sangat marah.
G. Intervensi Autisme
Orang tua yang anaknya baru diidentifikasi autisme atau ASD (autisme spectrum disorder) akan banyak menerima saran atau pendapat soal perawatanya. Mulai dari bertanya kepada teman, tetangga, dokter ahli, bahkan dari buku maupun internet. Beberapa filosofi intervensi berkembang dengan memberi perhatian kuat pada lingkungan anak untuk memaksimalkan perkembangannya. Beberapa punya pendukung sangat kuat dan beberapa sangat tidak menyetujuinya. Tujuan utama dalam penanggulangan autisme adalah untuk mengurangi gejala-gejala yang berkaitan dengan autisme dan mengurangi tekanan yang terjadi dalam keluarga. Selanjutnya, upaya terapi juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup anak autistik agar dapat berfunggsi di dalam kehidupan sehari-hari secara mandiri. Salah satu masalah yang timbul dalam melakukan intervensi autisme adalah laporan neuropsikologi sulit dimengerti oleh pendidik sehingga sulit untuk diterjemahkan ke dalam tindakan edukatif yang sesuai bagi anak autistik. Intervensi pendidikan dalam banyak hal secara efektif memberikan manfaat bagi perkembangan anak autistik. Salah satu metoda intervensi dini yang banyak diterapkan di Indonesia adalah modifikasi perilaku atau lebih dikenal sebagai metoda Applied Behavioral Analysis(ABA) Kelebihan metode ini dibanding metode lain adalah sifatnya yang sangat terstruktur, kurikulumnya jelas, dan keberhasilannya bisa dinilai secara objektif. Pelaksanaannya dilakukan empat sampai delapan jam sehari. Anak dilatih melakukan berbagai macam keterampilan, misalnya berkomunikasi, berinteraksi, berbicara, berbahasa, dan sebagainya. Namun yang pertama-tama perlu diterapkan adalah latihan kepatuhan. Hal ini sangat penting agar mereka dapat mengubah perilaku seenaknya sendiri menjadi perilaku yang lazim dan diterima masyarakat. Biasanya setelah satu sampai dua tahun menjalani intervensi dini dengan baik, si anak siap untuk masuk ke kelompok kecil. Bahkan ada yang siap masuk kelompok bermain. Mereka yang belum siap masuk ke kelompok bermain, bisa diikutsertakan ke kelompok khusus. Di kelompok ini mereka mendapat kurikulum yang khusus dirancang secara individual. Di sini anak akan mendapatkan penanganan terpadu, yang melibatkan pelbagai tenaga ahli, seperti psikiater, psikolog, terapis wicara, terapis okupasi, dan ortopedagogik. Berbagai penelitian yang berkaitan dengan intervensi mengalami berbagai masalah metodologi yang bersumber pada masalah efektifitas dan efisiensi dalam penerapannya. Walaupun demikian, sebagian besar ahli intervensi psikososial menemukan bukti-bukti positif yang menyarankan bahwa beberapa upaya terapi cocok untuk diterapkan pada anak autistik. Berikut ini merupakan jenis terapi yang dapat dilakukan dalam menangani anak autisme: 1. Terapi perilaku
Terapi Perilaku terdiri dari :
a. Terapi okupasi, Terapi ini untuk menguatkan, memperbaiki koordinasi dan keterampilan ototnya.
b. Terapi Wicara, Bagi penyandang autisme oleh karena semua penyandang autisme mempunyai keterlambatan bicara dan kesulitan berbahasa, speech therapy adalah juga suatu keharusan, tetapi pelaksanaannya harus dengan metode ABA.
b. Sosialisasi dengan menghilangkan perilaku yang tidak wajar, hal ini perlu dimulai dari kepatuhan dan kontak mata, kemudian diajarkan konsep menirukan, lalu diberikan pengenalan konsep dan kognisi melalui bahasa reseptif/kognitif dan bahasa ekspresif disertai dengan tata krama dan sebagainya.
2. Terapi biomedik
Sebagian besar terapi biomedik terhadap ASD diintegrasikan dengan kegiatan anak di rumah dan di sekolah. Hal ini dilakukan karena terapi yang dilakukan secara terpisah kurang berhasil.
3. Pengobatan (pemberian obat, vitamin, mineral, food supplements)
Tidak diketahui adanya pengobatan menyeluruh terhadap autisme, menggunakan pengobatan tradisional, obat-obatan herbal atau homeopati. Obat-obatan bukanlah perawatan utama dalam autisme. Pemberian obat-obatan untuk penyandang autisme sifatnya sangat individual dan perlu berhati-hati. Dosis dan jenisnya sebaiknya diserahkan kepada Dokter Spesialis yang memahami dan mempelajari autisme (biasanya Dokter Spesialis Jiwa Anak).
4. Program Intervensi lainnya
a. Program Adaptasi Hanen: yaitu suatu program pelatihan di bidang bahasa dan bicara. Dalam berkomunikasi dengan anak autisme haruslah menggunakan bahasa yang sederhana, saling bertatapan muka dengan anak, dan mendengarkan mereka dengan baik.
b. Auditor Integration Training (pelatihan integrasi auditori): yaitu suatu program pelatihan dengan menggunakan suara sebagai cara mengekspos anak pada serangkaian pengalaman pendengaran. Alat dengan headphone digunakan untuk memainkan musik yang dapat diubah dan dikontrol.
c. Diet: beberapa diet telah disarankan untuk mengurangi beberapa gejala autisme. Hingga kini belum ada riset yang mengkomfirmasi keefektifannya. Diet bebas gluten dan kasein adalah yang sangat umum ditemui. Namun tak ada bukti yang menunjukkan bahwa dengan mengeluarkan gluten dan kasein dari diet anak mengarah pada perubahan dalam perkembangan anak.
d. Lumba-lumba: merupakan suatu program treatment, yaitu berenang dengan ikan lumba-lumba sebagai kegiatan terapi.
e. EarlyBird: yaitu suatu program pelatihan bagi para orang tua anak autis. Tujuan dari pelatihan ini yaitu, 1) untuk mendukung orang tua dalam periode diantara identifikasi dan penempatan sekolah, khususnya dalam memahami autisme. 2) untuk mendorong orang tua dan membantu memfasilitasi komunikasi sosial anak dan tingkah laku sesuai dalam lingkungan alami anak. 3) untuk membantu orang tua mempraktekkan pengasuhan anak di usia awal dengan sebagai pengendali perkembangan tingkah laku yang tak sesuai.
5. Higashi: terapi daily life dikembangkan di jepang oleh Dr. Kiyo Kitahara dan lainnya. Terapi ini memusatkan filosofi mereka pada budaya Jepang atas penampilan dan milik kelompok. Ini merupakan kurikulum 24 jam yang berfokus pada keterampilan hidup sehari-hari, pendidikan fisik, musik, dan prakarya.
f. Lovaas: pelatihan ini menggunakan pendekatan berdasarkan terapi tingkah laku, serta menggunakan penguatan positif untuk mendorong pembelajaran. Karena program ini sangat terstruktur dan membutuhkan kerjasama yang tinggi dari anak dengan tingkat perulangan yang tinggi.
g. Mifne: pelatihan ini merupakan program intervensi awal untuk keluarga dengan anak autis di bawah umur lima tahun. Program ini menggunakan pendekatan melalui permainan resiprokal (saling respon) dengan anak. Program ini juga menggunakan tim, bekerja secara intens dengan anak dan keluarga untuk menghasilkan lebih banyak peluang berkomunikasi. Ini bertujuan untuk memperbaiki kontak mata, ekspresi afeksi, dan kepedulian sosial.
h. PECS: The Picture Exchange Communication System, program ini mengajarkan anak menukar gambar dengan benda yang diinginkannya, program ini dimulai dengan satu gambar tunggal, bergerak pada pilihan dan kemudian membentuk kalimat yang lebih kompleks.
i. Program Son-Rise, program ini merupakan perawatan dengan pendekatan pendidikan yang dirancang untuk membantu anak autis, keluarga dan pengasuh mereka. Pendekatan ini juga mengeksploitasi ketertarikan anak dan interaksi orang dewasa dengan apa yang dilakukan anak, dan pendekatan ini juga menyarankan interaksi sosial dan belajar sebagai pemfasilitas terbaik melalui ketertarikan spesifik anak. Adapun prinsip kunci dalam program ini yaitu: 1) secara aktif bergabung dengan tingkah laku berulang atau tak biasa anak dalam usaha memfasilitasi lebih banyak interaksi sosial. 2) fokus pada motivasi anak dan ketertarikannya untuk memfasilitasi pembelajaran dan keterampilan. 3) mendorong permainan interaktif dan menggunakan ini untuk belajar. 4) mempertahankan sikap mengasuh, tanpa menghakimi, dan positif dalam interaksi dan harapan. 5) menyampaikan bahwa orang tua dan pengasuh adalah sumber paling penting dan tanpa akhir bagi anak. 6) menciptakan area bekerja dan bermain yang aman, tanpa gangguan.
j. TEACCH, program ini bertujuan untuk membantu anak ASD hidup mandiri sesuai dengan potensi terbaik mereka. Program ini juga menyarankan pengajaran berstruktur, tetapi tidak mendikte dimana orang dengan autisme seharusnya dididik. Program ini juga menyediakan layanan seperti identifikasi, pengembangan kurikulum, setiap individu, pelatihan keterampilan sosial, pelatihan dan konseling orang tua. Sebagai tambahan program ini juga menyediakan layanan konsultasi keberbagai kelompok profesinal. Orang tua dan guru dapat dilatih dengan pendekatan TECCCH. H. Prevalensi Autisme
Autis dapat terjadipada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa dikota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia. Sekalipun demikian anak-anak di negara maju pada umumnya memiliki kesempatan terdiagnosis lebih awal sehingga memungkinkan tatalaksana yang lebih dini dengan hasil yang lebih baik.
Jumlah anak yang terkena autis makin bertambah. Di Kanada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 di simpulkan terdapat 9 kasus autis per harinya. Dengan adanya metode diagnosis yang kian berkembang hampir dipastikan jumlah anak yang ditemukan terkena Autisme akan semakin besar. Jumlah tersebut di atas sangat mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autisme masih misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para ahli dan dokter di dunia.
Di Amerika Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 - 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalensi autisme 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autisme meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autis. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 - 4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah penyandang namun diperkirakan jumlah anak austime dapat mencapai 150 - 200 ribu orang. I. Gangguan Perilaku terhadap Autisme
1. Gangguan pada bidang komunikasi verbal dan non verbal
a. Terlambat bicara atau tidak dapat berbicara
b. Mengeluarkan kata – kata yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain yang sering disebut sebagai bahasa planet.
c. Tidak mengerti dan tidak menggunakan kata – kata dalam konteks yang sesuai
d. Bicara tidak digunakan untuk komunikasi
e. Meniru atau membeo , beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian , nada , maupun kata – katanya tanpa mengerti artinya.
f. Kadang bicara monoton seperti robot
g. Mimik muka datar
h. Seperti anak tuli, tetapi bila mendengar suara yang disukainya akan bereaksi dengan cepat
2. Gangguan pada bidang interaksi sosial
a. Menolak atau menghindar untuk bertatap muka
b. anak mengalami ketulian
c. Merasa tidak senang dan menolak bila dipeluk
d. Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang
e. Bila menginginkan sesuatu ia akan menarik tangan orang yang terdekat dan mengharapkan orang tersebut melakukan sesuatu untuknya
f. Bila didekati untuk bermain justru menjauh
g. Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain
h. Kadang mereka masih mendekati orang lain untuk makan atau duduk di pangkuan sebentar, kemudian berdiri tanpa memperlihatkan mimik apapun
i. Keengganan untuk berinteraksi lebih nyata pada anak sebaya dibandingkan terhadap orang tuanya
3. Gangguan pada bidang perilaku dan bermain
a. Seperti tidak mengerti cara bermain, bermain sangat monoton dan melakukan gerakan yang sama berulang – ulang sampai berjam – jam
b. Bila sudah senang satu mainan tidak mau mainan yang lain dan cara bermainnya juga aneh
c. Keterpakuan pada roda (dapat memegang roda mobil – mobilan terus menerus untuk waktu lama)atau sesuatu yang berputar
d. Terdapat kelekatan dengan benda – benda tertentu, seperti sepotong tali, kartu, kertas, gambar yang terus dipegang dan dibawa kemana- mana
e. Sering memperhatikan jari – jarinya sendiri, kipas angin yang berputar, air yang bergerak
f. Anak dapat terlihat hiperaktif sekali, misal; tidak dapat diam, lari kesana sini, melompat - lompat, berputar -putar, memukul benda berulang - ulang
4. Gangguan pada bidang perasaan dan emosi
a. Tidak ada atau kurangnya rasa empati, misal melihat anak menangis tidak merasa kasihan, bahkan merasa terganggu, sehingga anak yang sedang menangis akan di datangi dan dipukulnya
b. Tertawa – tawa sendiri , menangis atau marah – marah tanpa sebab yang nyata
c. Sering mengamuk tidak terkendali ( temper tantrum) , terutama bila tidak mendapatkan apa yang diingginkan, bahkan dapat menjadi agresif dan dekstruktif
5. Gangguan dalam persepsi sensoris
a. Mencium – cium , menggigit, atau menjilat mainan atau benda apa saja
b. Bila mendengar suara keras langsung menutup mata
c. Tidak menyukai rabaan dan pelukan . bila digendong cenderung merosot untuk melepaskan diri dari pelukan
d. Merasa tidak nyaman bila memakai pakaian dengan bahan tertentu. J. Cara Memperhatikan Belajar Anak Autis
Sampai kini, belum banyak lembaga pendidikan ataupun guru yang mempunyai cara sistematis dalam menanggulangi kesulitan belajar anak autis. Padahal, jumlah penderita autis setiap tahun semakin meningkat. Hal ini tentu menjadi perhatian tersendiri dan serius bagi para guru, cara menangani dan memperhatikan anak autis perlu menggunakan pendekatan khusus.
Dalam memperlakukan anak autis, guru patut menerapkan beberapa cara:
1. Prinsip kekonkretan, ini dapat diterapkan oleh guru di dalam kelas dengan menggunakan benda sebagai contoh sehingga dapat lebih mudah dipelajari.
2. Prinsip belajar sambil melakukan, proses pembelajaran tidak harus selamanya bersifat informatif, tetapi dapat juga siswa diajak ke dalam situasi nyata. Misalnya, untuk mengajarkan siswa autis sifat pemurah, maka guru harus mengajarkan secara lansung dengan cara memberi contoh/teladan yang baik.
3. Prinsip keterarahan wajah dan suara. Seperti diketahui siswa autis mengalami hambatan dalam pemusatan perhatian dan konsentrasi. Akibatnya ia mengalami kesulitan dalam memahami setiap materi yang diajarkan kepadanya. Oleh sebab itu guru diharapkan mampu memberikan pemahaman secara jelas, baik dalam bentuk gerak maupun suara.
4. Prinsip kasih sayang. Anak autis memiliki hambatan dalam konsentrasi sehingga berdampak negatif secara kognitif. Oleh karena itu, siswa autis membutuhkan kasih sayang yang tulus dari guru. Seorang guru hendaknya menggunakan bahasa sederhana, tegas, jelas, memahami kondisi siswa, serta menunjukkan sikap ramah, sabar, rela berkorban, serta memberi contoh atau teladan yang baik. Ini bertujuan untuk menumbuhkan ketertarikan siswa sehingga menjadi bersemangat dalam belajar.
5. Prinsip kebebasan yang terarah. Siswa autis memiliki sikap tidak mau dikekang serta cendrung ingin berbuat sesuka hati. Oleh sebab itu, guru hendaknya membimbing, mengarahkan, dan menyalurkan segala prilaku siswa ke arah positif dan berguna, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain.
6. Prinsip minat dan kemampuan. Guru harus mampu menggali minat dan kemampuan siswa dalam pelajaran untuk dijadikan acuan dalam memberikan tugas-tugas tertentu. Dengan memberikan tugas yang sesuai, siswa autis akan merasa senang sehingga lama-kelamaan akan terbiasa belajar.
7. Prinsip disiplin. Siswa autis biasanya memnuhi keinginan sendiri tanpa memerhatikan situasi dan kondisi lingkungan sekitar. Oleh karena itu, guru perlu membiasakan siswa hidup teratur, menunjukkan keteladanan, serta membina dengan sabar.
K. Cara memberlakukan anak autisme dalam proses pembelajaran
Berikut adalah beberapa teknik yang bisa dilakukan untuk mengajar anak-anak dengan autisme: 1. Tidak Melakukan Modifikasi Jadwal
a. Anak-anak autis tidak suka variasi karena lebih menyukai rutinitas yang sama serta kebiasaan berulang.\
b. Oleh karena itu, sebaiknya tidak melakukan perubahan jadwal untuk anak dengan autisme
c. Namun, bukan tidak mungkin untuk melakukan sedikit modifikasi jadwal bila memang dibutuhkan.
2. Memilih Gaya Belajar
a. Setiap anak memiliki gaya belajar tertentu.
b. Beberapa anak mungkin lebih cepat menyerap informasi dengan cara mendengar, sementara anak yang lain lebih cenderung pada gaya belajar visual.
c. Pada beberapa anak, media gambar menjadi bahasa pengantar utama dalam belajar.
L. Cara Menenangkan Siswa Autis dalam Kelas
Dalam proses pembelajaran di kelas, guru yang memiliki siswa autis perlu menujukan perhatian ekstra. Tingkah laku siswa autis bukan saja menggangu siswa lain, tetapi juga membuat guru kesulitan dalam memberikan pelajaran. Bahkan, untuk sekedar duduk di kelas, siswa autis harus berjuang keras untuk tidak beranjak dari tempat duduknya, tetap fokus, dan bertahan dalam mengerjakan tugas. Namun, dengan dukungan serta penyesuaian yang tepat, siswa autis mampu meningkatkan waktu fokus dan tetap merasa nyaman saat diberikan intruksi dengan durasi lebih lama.
Ada sejumlah hal yang dapat dilakukan: 1. Memberikan kesempatan untuk menyibukkan diri. Beberapa siswa autis bersikap lebih tenang apabila memiliki objek tertentu untuk dimanipulasi sepanjang pelajaran berlangsung. Ada yang senang memainkan bola bekel, menggambar, melipat-lipat kertas membentuk berbagai jenis origami, dan sebagainya.
2. Membiarkan Siswa Autis Menggambar atau Mencoret-coret. Membiarkan siswa autis menggambar juga termasuk teknis yang cukup efektif. Sayangnya, hal ini sering dipandang sebagi prilaku menghindari tugas oleh guru. Tidak sedikit siswa – baik dengan kebutuhan khusus maupun tidak- tampak lebih mampu berkonsentrasi pada suatu pelajaran atau aktivitas ketika diberi kesempatan untuk menggambar di sebuah buku catatan. Siswa autis dapat menulis dibuku, membuat sketsa, atau bahkan mewarnai sebuah kertas kerja. Tindakan tersebut sebaiknya dibiarkan karena siswa autis susah diatur dan juga berbuat semaunya sendiri. Apabila guru melarangnyan untuk menggambar makan ekspresinya akan berubah menjadi marah dan sebagainya. Padahal, media media menggambar atau mencoret-coret dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pelajaran.
3. Membiarkan mereka Berjalan-jalan. Beberapa siswa autis dapat belajar lebih baik apabila diperbolehkan beristirahat di antara serangkaian tugas serta mengerjakannya dengan gaya sendiri (berjalan-jalan, meregangkan tubuh, dan sebagainya). Adapula yang perlu beristirahat dengan berjalan beberapa detik hingga 15-20 menit. Terkadang, ada siswa yang perlu berjalan sepanjang gang di sekolah sebanyak sekali atau dua kali. Sementara itu, beberapa yang lain cukup senang apabila boleh berjalan di dalam kelasnya sendiri. Guru yang khawatir siswanya kehilangan waktu pembelajaran memberikan tugas yang berkaitan dengan materi justru pada saat siswa sedang berjalan-jalan di dalam kelas. Adapun guru lain yang menyadari pentingnya gerakan serta adanya interaksi memutuskan untuk menawarkan kesempatan bergerak kepada semua siswa. Secara berkala, ia memberikan siswa-siswa bantuan untuk berdiskusi, kemudian mengarahkan mereka untuk berjalan dan berbicara pada temannya. Sesudah sepuluh menit bergerak, guru mengumpulkan siswanya kembali, lalu menanykan berbagi hal sehingga terjadi diskusi di antara mereka. d) Memberi Pilihan Tempat Duduk. Tempat duduk yang tepat mungkin jarang dipertimbangkan guru ketika membuat perencanaan bagi siswa autis. Akan tetapi, untuk beberapa siswa, jenis perabot kelas yang tepat menjadi kunci utama keberhasilan dan kenyaman mereka. Pemberian beberapa pilihan tempat duduk di kelas dapat meningkatkan pengalaman belajar semua siswa.
M. Tiga teori Utama Terkait Autisme
Widyawati daam Frieda mengemukakan beberapa teori tentang penyebab autisme, yaitu sebagai berikut: 1. Teori Biologis
Gangguan autisme diyakini sebagai sindrom perilaku yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi yang mempengaruhi sistem saraf pusat. Hal ini diduga karena adanya disfungsi dari batang otak dan mesolimbic. Namun, dari penelitian terakhir ditemukan adanya keterlibatan dari serebelum. Berbagai kondisi biologis yang menjadi penyebab autisme yaitu:
a. Faktor Genetik; Hasil penelitian terhadap keluarga dan anak kembar menunjukan adanya faktor genetik yang berperan dalam autisme. Pada penelitian terhadap keluarga ditemukan 2,5 – 3 % autisme pada saudara kandung, yang berarti 50 – 100 kali lebih tinggi dibanding populasi normal. Ditemukan juga adanya hubungan antara autisme dengan sindrom fragile-X, yaitu suatu keadaan abnormal dari kromosom X. Diduga, 0 – 20 % sindrom fragile-X pada autisme.
b. Faktor Pranatal; Hal yang paling sering ditemukan adalah adanya pendarahan setelah trimester pertama dan adanya kotoran janin pada cairan amnion, yang merupakan tanda fetal distress. Penggunaan obat-obatan tertentu pada ibu, adanya komplikasi waktu bersalin, gangguan pernapasan, dan anemia pada janin, juga diduga ada hubungan dengan autisme.
c. Model Neuroanatomi; ada beberapa daerah diotak anak penyandang autisme yang diduga mengalami disfungsi. Ditemukan adanya kesamaan perilaku autistik dan perilaku abnormal pada orang dewasa yang diketahui mempunyai lesi di otak.
Dijelaskan oleh Hass dkk. dan Courchesne, pada otak anak autisme ditemukan adanya penurunan jumlah sel Purkinje pada hemisfer sebelum dan vermi. Courchesne dkk. kemudian mengemukakan pendapat bahwa pada saat lahir, bayi autistik memiliki ukuran otak yang normal. Namun setelah mencapai usia dua atau tiga tahun, ukuran otak mereka membesar melebihi normal, terutama pada lobus frontalis dan otak kecil, yang disebabkan oleh pertumbuhan white matter dan gray matter yang berlebihan. Sementara sel saraf yang ada lebih sedikit dibandingkan pada otak normal dan kekuatannya juga lebih lemah. Kondisi inilah yang tampaknya berkaitan dengan gangguan pada perkembangan kognitif, bahasa, emosi dan interaksi sosial.
d. Hipotesis Neurokemistri; Pada tahun 1961, para peneliti menemukan adanya kenaikan kadar serotonin di dalam darah pada sepertiga anak autisme.
2. Teori Psikososial
Kanner mempertimbangkan adanya pengaruh psikogenik sebagai penyebab autisme, yaitu orang tua yang emosional, kaku, dan obsesif, yang mengasuh anak mereka dalam suatu atmosfer yang secara emosional kurang hangat, bahkan dingin. Pendapat lain mengemukakan bahwa adanya trauma pada anak disebabkan kekerasan yang tidak disadari oleh ibu, yang sebenarnya tidak menghendaki anak ini. Hal ini mengakibatkan gejala penarikan diri pada anak autisme.
3. Teori Spiritual
Penyebab autisme berdasarkan Teori Spiritual diungkap oleh Larson (1992) dan beberapa pakar lainnya dalam berbagai penelitian yang berjudul Religious Commitment and Health, menyimpulkan bahwa di dalam memandu kesehatan manusia yang serba kompleks ini dengan segala keterkaitannya, hendaknya komitmen agama sebagai suatu kekuatan (spiritual power) jangan diabaikan begitu saja.Agama dapat berperan sebagai pelindung lebih dari pada sebagai penyebab masalah. Misalnya saja, pergaulan yang terlalu bebas antara laki – laki dan perempuan bisa menyebabkan terjadinya kehamilan yang tidak dikehendaki. Apabila hal ini terjadi, anak yang dikandung biasanya akan digugurkan untuk menjaga nama baik. Pengguguran kandungan dapat dilakukan dengan obat – obatan atau pengobatan alternatif lainnya. Apabila penggugguran kandungan ini gagal, akan berdampak pada mental dan fisik si anak. Anak dapat lahir dengan gangguan mental dan fisik yang parah, misalnya mengalami autisme atau cacat penglihatan, dan dampak buruk lainnya. Untuk itu, agama sebagai dasar spiritual perlu dijadikan pedoman yang kuat dalam bertindak dan berperilaku.
N. Kesimpulan
Autisme merupakan keadaan yang disebabkan oleh kelainan otak yang ditandai dengan kelainan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku yang sangat kaku dan pengulangan perilaku. Autisme dapat dibagi ke dalam tiga jenis yaitu autism spectrum disorder (ASD) dan asperger syndrome, kedua jenis autism ini mengalami kelambatan dalam perkembangan kognitif dan bahasa, dan PDD-NOS apabila kriteria dari kedua jenis autisme yang terdahulu tidak cocok dengan karakteristik autism yang dialami anak. Di Indonesia, saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah anak penyandang autisme, namun diperkirakan jumlah anak autis dapat mencapai 150-200 ribu orang. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6-4:1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat.
Upaya terapi juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup anak autistik agar dapat berfunggsi di dalam kehidupan sehari-hari secara mandiri. Salah satu metoda intervensi dini yang banyak diterapkan di Indonesia adalah modifikasi perilaku atau lebih dikenal sebagai metoda Applied Behavioral Analysis (ABA) Kelebihan metode ini dibanding metode lain adalah sifatnya yang sangat terstruktur, kurikulumnya jelas, dan keberhasilannya bisa dinilai secara objektif.
O. Daftar Kepustakaan
Martini, Jamaris, Kesulitan Belajar: Perspektif, Assessmen dan Penanggulangannya. (Jakarta: Yayasan Penamas Murni, 2009)., hlm. 228.
Theo Peeters, Panduan Autisme Terlengkap. (Jakarta: Dian Rakyat, 2009)., hlm. 16-17.
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️