MAKALAH ISTISNA

Baca Juga

Image Source: https://almaabogor.wordpress.com


A.     Pendahuluan
Kita kaum muslimin memaklumi, bahwa bahasa arab adalah bahasa Al-Qur’an, setiap orang muslimin yang bermaksud menyelami atau mendalami ajaran Islam yang sebenarnya dan sebagai isti’anah (lantaran) dalam memahami lebih mendalam. Tiada jalan lain kecuali harus menggali dasar sumber aslinya yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rosulullah (Al-hadits).
B.     Pengertian
مَااِسْتَثْنَتِ الاَّمَعَ تَمَامٍ يَنْتَسِبْ
”Istisna lafazh yang dikecualikan dengan memakai  “illaa” (اِلاَّ) dalam kalam tamam (tidak dinapikan), di nasabkan.
Hukum mustastna dengan memakai illa ialah nasab apabila kalam mujub yang sepurna, apakah ia negative ataupun positif.[1]
Contoh:
Aku telah memukul kaum itu kecuali zaid
Aku telah bersua dengan kaum itu keduali keledai
ضَرَبْتُ القَوْمَ اِلاَّزَيْدًا

مَرَرْتُ بِاالقَوْمِ اِلاَّ حِمَارًا

Katerangan:
Lafazh زَيْدًا dalam contoh-contoh di atas, demikian pula lafazh حِمَارًا di nasab-kan karena menjadi istisna.
Perbedaan antara “mustastna” dengan “mustastna minhu” adalah bahwa jika mustastna minhunya dinyatakan datang maka mustastnanya tidak seperti yang telah dicontohkan di atsa.
C.     Huruf atau a’dat istisna’
Adapun huruf atau kata yang digunakan untuk mengecualikan antara lain:[2]
اِلاَّ            : kecuali                              غَيْرَ     : Selain
سِوَى    : kecuali                                   خَلاَ   : Selain
عَدَا      : Kecuali                                  خَشَا  : Selain
D.     Adat  istana (lafd yang berfungsi untuk mengecualikan)
1.       Hukum Lafad yang Jatuh Sesudah   اِلاَّ  
a.       Bila mustana tersebut mengkote naka wajib dibaca nasob akan tetapi menurut  ulama’ tamim adalah dijadikan badal contoh :  اِلاَّحِمَارًا القَوْمُ قَامَ مَا        
b.      Lebih baik dibaca nasob karena istisna dengan  اِلاَّ  yang menyebutkan mustasna  minhu yang berada pada kalam tam manfi ( yang terdapat rafi nahi atau istifham) contoh : اِلاَّزَيْدًا  القَوْمُ قَامَ مَا        
c.       Boleh dibaca nasob sebagai istisna atau dibaca rofa sebagai badal (apabila mustsna tersebud berada dalam kalam tam manfi dan yang menyerupainya),[3]seperti
 اِلاَّبَكْرًا  القَوْمُ قَامَ   , اِلاَّحِمَارًا القَوْمُ قَامَ  
2.      Hukumnya اِلاَّ disebutkan berulang-ulang (dua atau tiga keatas dalam tarkib istisna)
a.       Adat istisna اِلاَّ yang diulang-ulang (disebutkan dua atau tiga keatas) dan mengulangi menyebutkan اِلاَّ yang bermaksud untuk mentaukhi اِلاَّ  yang pertama. Maka اِلاَّ yang kedua keatas itu hukumnya mulgho’ (tidak berfungsi apa-apa dan isim yang jatuh setelah اِلاَّ yang kedua keatas dii’robi seperti i’robnya isim (mustasna) yang jatuh setelah  اِلاَّ  yang pertama tersebut berlaku secara mutlak yakni baik berada pada kalam tam mujab, tam manfi kalam naqis, baik istisna’ muntashil, mungkote itu adalah dua wajah :  
1)       Menjadi badal, contoh :
أَحِيْكَ اِلاَّ مُحَمَّدٍ اِلاَّ اِحْتَرَامِ نَضَرْتُ اَحَدٍ اِلَى نَضَرْتُ مَا
                 Lafad  أَحِيْكَ  menjadi badalnya isim (mustasna) ayang jatuh setelah اِلاَّ yang  pertama berupa lafad  مُحَمَّدٍ  dan contoh tersebut masuk pada istisna’ muntasil tam  manfi (tidak didahului nafi)
2)      Menjadi atof, contoh :
عَلِيٌّ اِلاِّلِحٌ صَا اِلاَّ مُحَمَّدٌ اِلاَّ يَوْمِيًّا المَكْتَبَةِ اِلَى هَبْ يَدْ لَمْ
                Lafad sholikhun dan artinya menjadi ma’thufnya lafadz muhammadun (diathofnya pada lafad  مُحَمَّدٌ  yang dibaca rofa’, sebab menjadi fa’ilnya  يَدْ هَبُ ) karena contoh tersebut termasuk kalam manfi atau sibhunnafi (yang didahului nafi) maka  اِلاَّ  tidak berlaku apa-apa dan isim yang jatuh setelah اِلاَّ yang pertama (mustasna) dibaca menurut amilnya yang berupa    ذَهَبً  7
خَا لِدًا اِلاَّ اِلاَّبَكْرًا اِلاَّ عَمْرًا مُحَمَّدٌ اِلاَّ قَامَ مَا , اِلاّ خَا لِدًا  عَمْرٌ اِلاَّبَكْرًا اِلاَّ اِلاَّ مُحَمَّدً قَامَ مَا
اِلاَّبَكْرٌاِلاَّ خَا لِدًا اِلاَّ مُحَمَّدً اِلاّعَمْرًا مَا قَامَ, اِلاَّعَمْرً اِلاَّ بَكْرًا اِلاَّخَالِدٌ اِلاَّ مُحَمَّدً قَامَ مَا
Lafad-lafad yang bergaris bawah tersebut itu dii’robi menurut kebutuhan amil, yang salah satunya harus dii’robi menurut amil yang jatuh sebelum اِلاَّ yang pertama.
لِحِيْنَ الَصَا لاَّ الدُّعَاةَ اِلاَّ يْنَ هِدِالْمُجَا اِلاَّ اِخْتَرِمَ لَمْ
(saya tidak menghormati kecuali pejuang kecuali da’i dan kecuali para solihin).
اِلاَّعَلِيًّا اِلاَّبَكْرًالِدًا خَااِلاَّ القَوْمُ قَامَ
Contoh :    اِلاَّعَلِيًّااِلاَّغَالِدًا اِلاَّبَكْرٌ/بَكْرًا                                       
Sedang yang lain wajib dibaca nasob semuanya, adapun hokum mustasna-mustasna  tersebut itu seperti hukum mustasna yang pertama dalam arti masuk dan keluarnya.
3.      Hukum mustasna selain   اِلاَّ   
a.       Lafad yang jatuh setelah سِوَىً غَيْرُ   ,  سُوًى  dan سَوَاءٌ itu harus  dibaca  jer menjadi mudhof ileh secara mutlak (baik pada kalam tam mujab, ta manfi, kalam naqis ataupun pada istisna’ muttasil ataupun munfasil/mungqote, sedang غَيْرُ, سوىً  dan  سَوَاءٌ  itu dii’robi seperti i’robnya mustasna dengan اِلاَّ  adakalanya :
1)      wajib dibaca nasob bila berada pada kalam tam mujab contoh :
زَيْدٍ سَوَاءَ /سُوَى /سِوَى /غَيْرُ القَوْمُ قَامَ  
2)        wajib di baca nasob (menurut pendapat mayoritas ulama nahwu) bila pada istisna’ mungkote: اللهِ عَبْدِ سَوَاءَ / سُوَى /سِوَى /غَيْرَ اْلأَسَرَةَ رَاَيْتُ 
(saya lewat melihat maling kecuali Abdillah)
3)      lebih baik dijadikan badal dari pada di baca nasob bila berada pada kalam tam manfi yang berada pada istisna muttasil
contoh :  اللهِ عَبْدِ سَوَاءٌ /سُوَى /سِوَى /غَيْرُ القَوْم قَامَ مَا
b.      di I’robi menurut kebutuhan amil yang sebelumnya jika berada pada kalam naqis .
               (di baca rofa’) زَيْدٍ سَوَاءُ /سُوَى /سِوَى /غَيْرُ الفَصْلِ فِى قَامَ  مَا                                                                                              
               (di baca nasob) زَيْدٍ سَوَاءَ /سُوَى /سِوَى / غَيْرَ ضَرَبْتُ مَا                                                                                    
               (di baca jer) بِسِوَائِكَ / بِسُوَى /بِسِوَى /بِغَيْرِ ضَرَبْتُ مَا
Hukum lafad yang jatuh setelah  خَاسَا , عَدَا , خَلاَ , لَيْسَ dan  يَكُوْنُ لاَ itu     semuannya harus di baca nasob yakni  :[4]
a.       Mustasna (lafad) yang jatuh setelah  خَلاَ dan  عَدَا harus dibaca nasab (menjadi maf’ul bih) contoh : عَدَا القَوْمُ قَامَ / زَيْدًا خَلاَ
b.      Mustasna (lafad) yang jatuh setelah عَدَا dan خَلاَ yang didahului مَصْرَرِيَّةْ مَا                      (menjadi عَدَا مَا  dan خَلاَ مَا ) maka wajib dibaca nasab contoh :
 طِمَةَ فَا خَلاَ مَا طِمَةَ فَا عَدَا مَا الغِلْمِيَّةِ قَسَّةِ المُنَا هَذِهِ فِى تُ لِبَاالطَّا حَضَرَتِ
(pelajar-pelajar putrid hadir dalam diskusi ilmiyah ini selain Fatimah)
Jika mustasna dibaca nasab maka خَلاَ  dan عَدَا itu adalah fi’il madhi yang muta’adi maf’ul satu sedang fi’ilnya tersimpan.
c.       Mustasna (lafad) yang jatuh selain عَدَا`dan خَلاَ itu selain dibaca nasab ( sebagai  maf’ulnya) juga bisa dibaca jer (sebagai majrurnya contoh :    زَيْدٍ عَدَا / خَلاَ القَوْمُ قَامَ
d.      Kadang-kadang ada juga mustasna yang jatuh setelah خَلاَ  dan عَدَا  yang didahului  مَا 
Menjadi (عَدَا مَا  dan خَلاَ مَا ) itu dibaca jer dengan menjadikan  مَا  yang jatuh sebelumnya tersebut sebagai زَئِدَا مَا (  مَا   tambahan)
Contoh: زَيْدٍ خَلاَ مَا / زَيْدٍ عَدَا مَا القَوْمُ قَامَ
Jika mustasna yang jatuh setelah عَدَا  dan  خَلاَ  tersebut dibaca jer, maka عَدَا dan  خَلاَ itu keduanya adalah termasuk huruf jer.
a.       Mustasna (lafad) yang jatuh setelah  لَيْسَ  dan  يَكَوْنُ مَا itu dibaca[5]
b.      Lafad  خَاسَا itu bisa dibaca شَاخَا dan  حَاشَا itu semua seperti hukumnya lafad  خَلاَ       yakni, contoh :  زَيْدٍ شَا خَا القَوْمُ قَامَ                                              
E.       Sibhul Istisna’
Sibhul istisna (yang serupa sengan istisna) itu ada 2 yaitu : لاَسِيَّمَا  danبِيْرَ  lafad لاَسِيَّمَا   susunan aslinya dari “ سِيَّ “ yang bermakna مِثْلُ (misalnya) dan tasniahnya berupaسِيَّانِ adapun لاَ  tersebut adalah  لاَ  linafyil jinsi.
Lafad  لاَسِيَّمَا itu digunakan untuk menjelaskan lafad setelahnya (mustasna) dan lafad   yang sebelumnya seperti ucapan : اِجْتَهَدَ التَّلاَمِيْدُ وَلاَسِيَّمَا خَالِدٍ                                                    
Lafad yang jatuh setelah لاَسِيَّمَا  itu ada dua wajah yakni :(1) berupa nakiro (2)berupa ma’rifat, adapun bila berupa nakiroh maka boleh wajah 3 yaitu :
1.         Dibaca rofa’ contoh :      كُلُّ مُجْتَهِدٍ يُحَبُّ وَلاَ سِيَّمَا تِلْمِيْدٌ مِثْلُكَ
Rofa’nya lafad تِلْمِيْدٌ itu menjadi khobarnya mubtadak yang dibuang yang ditakdirkan هُوَ dan adapun  مَا  nya  لاَسِيَّمَا itu مَا mausul yang mahal jer yang dimudhofkan pada lafad سِيَّ  dan jumlah ismiahnya (mubtada’ khobar) yang berupa  تِلْمِيْدٌ  هُوَ  itu menjadi silahnya isim mausul  مَا   takdirnya
كُلِّ تِلْمِيْدٌ                       يُحِبُّ كُلُّ مُجْتَهِدٍ لاَ مَثَلَ مُحَبَّةٍ الَذِى هُوَ تِلْمِيْدٌ مِثْلُكَ لأَِنَّكَ مُفَضَّلٌ عَلَى
 (Semua murid disenangi apalagi murid-murid sepertimu karena kamu itu lebih utama dari pada murid-murid yang lain).
2.      Dibaca nasob seperti contoh :    كُلُّ مُجْتَهِدٍ يُحَبُّ وَلاَ سِيَّمَا تِلْمِيْدًا مِثْلُكَ
(setiap orang yang giat itu disenangi apalagi murid yang sepertimu).
Lafad  تِلْمِيْدٌ   dibaca nasob karena menjadi tamyiznya lafad سِيَّ   dan مَا   tersebut berlaku (   زائدة مَا  ) tambahan .
3.      Bila dibaca jer seperti contoh :       كُلُّ مُجْتَهِدٍ يُحَبُّ وَلاَ سِيَّمَا تِلْمِيْدٍ مِثْلِكَ
Lafad   تِلْمِيْدِ dibaca jerk arena di rofaknya pada lafad “ سِيِّ “ adapun  مَا  diatas berlaku sebagai  مَا  tambahan (  زائدة مَا ) dan kebanyakan itu dibaca jer, karena dibaca jer itu sudah mashur (lebih utama).[6]
F.       Kesimpulan          
Adapun istisna itu ada yang mutasil dan ada yang istisna mungkote sedang istilah-istilah dalam istisna itu ada 10 diantaranya adalah : istisna’, adat istisna’, mustasna’, mustasna’ minhu, kalam tam, kalam naqis, kalam tam mujab, kalam tam manfi, kalam muffasil, istisna’ mungkote.


DAFTAR PUSTAKA



Bahaud din Abdullah Ibnu’Aqil, Terjemahan Matan Alfiyyah jilid I, (Bandung: Sinar Baru Alginsindo, 2006.
K.H. Moch, Anwar, Ilmu Nahwu Terjemahan Matan Ajjurumiya dan Imrythy, Jakarta: Sinar Baru Algensindo,2012.



[1] Bahaud din Abdullah Ibnu’Aqil, Terjemahan Matan Alfiyyah jilid I, (Bandung: Sinar Baru Alginsindo, 2006). Hal 411.
[2]Ibid. hal 149
[3]K.H. Moch, Anwar, Ilmu Nahwu Terjemahan Matan Ajjurumiya dan Imrythy, (                 : Sinar Baru Algensindo, 2012). Hal 145
[4]Ibid. hal. 152

[6]Ibid. hal 151

📢 Bagikan Postingan Ini

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman atau media sosial Anda.

Facebook WhatsApp Twitter Telegram Copy Link

🤝 Butuh Bantuan atau Dokumen Lain?

Terima kasih telah berkunjung ke blog KhairalBlog21. Jika Anda membutuhkan makalah, format surat resmi, administrasi sekolah, atau dokumen lain yang belum tersedia di blog ini, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak. Kami juga menerima request untuk pembuatan dokumen sesuai kebutuhan Anda.

Jangan ragu untuk memberikan saran dan masukan agar blog ini bisa lebih bermanfaat untuk semua. Klik tombol di bawah ini untuk langsung menghubungi kami via WhatsApp:

Kami siap membantu menyediakan dokumen pendidikan dan administrasi sesuai kebutuhan Anda 📚✍️


1 comment:

Featured Post

CONTOH DAN DONWLOAD SURAT LAMARAN SEBAGAI SPG

Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) , tentunya diperlukan sebuah surat lamaran kerja yang baik dan b...