A. Pendahuluan
Bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an dan Hadits. Umat Islam tidak akan bisa menggali, mengetahui, dan memahami ajaran Islam yang sesungguhnya tanpa memiliki kemampuan menggali, mengetahui, memahami, dan menguasai bahasa Arab. Ilmu Nahwu adalah ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah yang digunakan untuk mengetahui hukum kalimat berbahasa Arab.
Karena kaum muslimin wajib mempelajari ilmu agama, maka dengan sendirinya dituntut untuk sedikit banyak mengerti bahasa Arab. Tanpa memiliki kemampuan berbahasa Arab, umat Islam akan buta terhadap agamanya sendirinya.
Salah satu problem yang dirasakan umat Islam non Arab, termasuk Indonesia adalah kesulitan mempelajari bahasa Arab. Jumlah para sarjana dan kaum intelektual juga masih banyak yang belum mampu membaca kitab kuning. Padahal kitab kuning adalah kitab standar dan rujukan dalam mempelajari dan memahami ajaran agama Islam.
B. Pengertian An-Nawasikh
Secara etimologi Annawasikh adalah bentuk jama dari lafadz annaasikh yang merupakan shigot isim fa’il dari nasakho yansakhu yang berarti menghapus atau menghilangkan
Sedangkan menurut istilah ilmu nahwu, annawasikh adalah kalimah-kalimah (baik berupa fi’il ataupun huruf) yang dapat merubah susunan mubtada' dan khobar dalam segi tarkib (kedudukan kalimat) serta i'rab nya
C. Macam-macam An-Nawasihk
D. As-Shugra
1. إنّ وأخواتها
a. Pengertian إنّ وأخواتها
إنّ وأخواتها adalah salah satu dari amil nawasib yang dapat merusak amalnya mubtada’ khobar. إنّ وأخواتها beramal الاسم و ترفع الخبر تنصب yaitu menashobkan isim dan merofakan khobar. Contoh: إنَّ زيدا قائمٌ
إنَّ زيدا قائمٌ asalnya زيدٌ قائمٌ (susunan mubtada – khobar tanpa إنَّ ) tetapi setelah dimasuki inna, maka mubtada yang pada awalnya rofa’ berubah menjadi nashab.
b. Macam-macam إنّ وأخواتها
1) اِنَّ dan أن bermakna للتَّوْكِيْد yaitu mengutkan kandungan hukum yang dimasuki.
2) لَكِنَّ bermakna لِلْاسْتِدْ رَاك yaitu memberi keterangan pada kalam sebelumnya
a) Menghilangkan perkara yang dianggap ada
contoh: زَيْدٌ عَالِمٌ لَكِنَّهُ غَيْرُ صَاِلحٍ
b) perkara yang dianggap tidak ada
contoh: زَيْدٌ جَاهِلٌ لَكِنّهُ صَالِحٌ
3) لَيْتَbermakna للتمنى yaitu:
a) Mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi
Contoh: لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُوْدُ يَوْمًا Semoga sifat muda kembali disuatu hari
b) Mengharapkan sesuatu yang sulit terjadi
Contoh: لَيْتَنِى عَالِمٌ بِغَيْرِ اِجْتِهَاٍد فِى التّعَلُّمِ Semoga saya pintar tanpa sungguh-sungguh dalam belajar
4) لَعَلّ : memiliki dua makna yaitu:
a) لِلتَّرَجِّى, mengharapkan sesuatu yang disenangi
Contoh: لَعَلَّ اْلحَبِيْبَ قَادِمٌ semoga sang kekasih datang.
b) لِلتَّوَقُّعْ, mengharapakan sesuatu yang tidak disenangi
Contoh: لَعَلَّ زَيْداً هَالِكٌ semoga zaid mati.
5) كَانَ bermaknaلِلتّشْبِيْهِ , yaitu menyerupakan perkara satu dengan perkara yang lain dalam sifat yang khusus.
Contoh: كَانَ عَمْرًا اَسَدٌ umar seakan-akan (seperti) singa. c. Syarat- syarat إنّ وأخواتها
1) Mubtada dan khobar tertib dalam satu ma’mul.
Syarat yang pertama إنّ و أخواتها. Dapat beramal adalah susunan mubtada (isim) dan khobar harus tertib dalam satu ma’mul, seperti pada contoh : إنّ زيدًا قائمٌ. Maka tidak boleh mendahulukan khobarnya dengan mengucapkan قائمٌ إنّ زيدًا , atau memisah antara إنّ dan isimnya dengan mengucapkan إنّ قائمٌ زيدًا.
Tetapi jika khobarnya berbentuk ظرف / جار مجرور, khobar boleh didahulukan sebagai pemisah antara إنّ dan isimnya.
Contoh:
إنَّ عندك زيدًا (khobar berbentuk ظرف)
إنّ في الدار زيدًا (khobar bentuk جار مجرور)
Adapun jika khobar berbentuk ظرف / جار مجرور ini mendahului inna maka tetap tidak diperbolehkan. Seperti dalam contoh: عندك إنَّ عندك زيدًا / في الدار إنّ زيدًا
2) إنّ و أخواتها tidak dimasuki ما زائدة (tambahan)
Syarat yang kedua إنّ و أخواتها dapat beramal adalah tidak adanya ما زائدة yang masuk pada إنّ و أخواتها. Karena jika terdapat ما yang menempel pada إنّ maka amal dari inna beserta akwatnya menjadi batal.
Contoh:
إنّما زيدٌ قا ئم (amal إنّ dibatalkan)
لعلّما اللهُ يرحمنا (amal لعّل dibatalkan)
كأنّما العلمُ نورٌ (amal كأنّ dibatalkan)
علمتُ أنّما ولدُك عالمٌ (amal أنّ dibatalkan)
Sementara jika maa ini masuk pada ليت , maka boleh beramal dan boleh tidak. Contoh:
ليتما الشبابُ يعود يوما (amal ليت dibatalkan) atau
ليتما الشبابَ يعود يوما (amal ليت ditetapkan)
3) Lafadz إنّ , أنّ , لكنّ, dan كأنّ bisa di takhfif dengan cara membuang nun yang kedua dan dibaca إنْ , أنْ, لكنْ , dan كأنْ. Dengan ketentuan sebagai berikut :
a) إنّ jika di takhfif maka amalnya boleh ditetapkan dan boleh juga dibatalkan dengan syarat khobarnya harus di tambahkan لام
Contoh:
إنْ اباك طبيبٌ (amalnya ditetapkan dengan menashabkan اباك)
إنْ ابوك لطبيب (amalnya dibatalkan dengan menambahkan لام pada khobarnya)
b) أنّ, jika di takhfif maka khobarnya harus berupa jumlah
Contoh:
علمت انْ العطلةُ قريبة (amalnya dibatalkan dan khobarnya berbentuk jumlah)
c) Lafadz لكنّ, jika ditakhfif maka amalnya wajib dibatalkan.
Contoh:
جاء زيدٌ لكنْ ابوه مسافر (amalnya dibatalkan dan لكنْ disebut huruf استدراك )
d) Lafadz كأنّ jika di takhfif maka amalnya masih bisa ditetapkan dengan syarat isimnya berupa ضمير شأن
Contoh: كأنْ ثدياه حُقا (amalnya ditetapkan dan isimnya berupa ضمير شأن) 4) Hamzah pada lafadz inna
Di dalam syarah ibnu aqil, dijelaskan bahwa imam sibawaih berpendapat jika إنّ و أخواتها hanya ada lima huruf saja yaitu ; إنّ - كأنّ -لكنّ – ليت dan لعل tanpa mengikutsertakan أنّ sebagai huruf yang keenam. Menurutnya أنّ dan إنّ itu sama sama bermakna taukid, hanya harokat fathahnya saja yang berbeda. Adapun mengenai hamzah inna dapat di golongkan menjadi tiga bagian yaitu ; wajib kasroh, wajib fathah, dan boleh mengkasrohkan ataupun memfathahkan.
a) Hamzah Inna yang wajib dibaca kasroh
1) Menjadi permulaan kalam (kalimat), Contoh : إنّكَ مجتهدٌ
2) Menjadi permulaan shilah, Contoh : جاء الّذى إنّهُ مجتهدٌ
3) Menjadi jawab qosam, Contoh : واللهِ إنّ العلمَ نورٌ
4) Menjadi maqulul qoul (mahkiyat qoul), Contoh : قلتُ إنّ اباك عالم
5) Menjadi حا ل, Contoh : جئتُ و إنّ الشمسَ تَغرُبُ
6) Terletak sesudah lafadz dzonna dkk. Yang di takliq dengan lam ibtida, Contoh : علمتُ إنّك لمجتهد
7) Sesudah amr, Contoh : أحسِنْ إنّه مُحسنٌ
8) Sesudah nida, Contoh : يا عمر إنك مخلصٌ
9) Sesudah nahi, Contoh : لا تُصَلِّ إنّك محدث
10) Sesudah du’a, Contoh : ربِّ اغفرلى إنّك غفور
11) Setelah hatta, Contoh : مرِض ابوك حتى إنّهم لا يرجونه
12) Setelah lafadz kalla, Contoh : زيد يُبغِضُك كلاّ إنّه حسن خُلقه
13) Setelalh alaa, Contoh : الا إنّهم هم المفسدون
14) Setelah haitsu, Contoh : اجلس حيث إنّ العلمَ موجود
15) Setelah lafadz lawla, Contoh : لولا إنك كاذبٌ لا منتك
5) Wajib dibaca fathah
Hamzah inna wajib dibacafathah apabila inna dan lafadz setelahnya bisa ditakwil masdar seperti pada tempat-tempat berikut :
a) Menjadi fail, Contoh : (بلغنى إجتهادك) بلغنى أنّك مجتهد
b) Menjadi naibul fail, Contoh : (علم إنصرافك) عُلِم أنّك منصرف
c) Menjadi tabi dari isim yang terbaca rofak, Contoh : (وحسن الخلق)بلغنى إجتهادك و أنّك حسن الخلق
d) Menjadi maful, Contoh : (علمت إجتهادك)علمت أنّك مجتهد
e) Menjadi khobar dari kaana dkk., Contoh : (اتباع الحق) كان يقينى أنك تتبع الحَقّ
f) Menjadi tabik dari ism yang dibaca nashob, Contoh : (قيامك)علمت مجيئك وأنّك قائم
g) Menjadi majrur, Contoh : (إهما لك) عجبت من أنّك مهمِل
h) Ikit pada isim yang dibaca jer, Contoh : (قبل طلوعها) جئت قبل أنّ الشمس تطلع
6) Boleh kasroh boleh fathah
a) Terletak setelah إذا فجا ئية
Contoh: خرجت فإذا أنّ زيدا واقف atau خرجت فإذا إنّ زيدا واقف
b) Setelah fa jawab
Contoh: إنْ تجتهد فإنّك تكرم atau إنْ تجتهد فأ نّك تكرم
c) Menjadi علة
Contoh: اكرم اباك إنه مستحق الإكرام atau اكرم اباك أنه مستحق الإكرام
d) Terletak setelah lafadz لا جرم
Contoh: لاجرم إنك على الحق atau لاجرم أنك على الحق
2. Kana waakhowatuhu (kana dan saudara-saudaranya)
تَرْفَعُ كَانَ الْمُبْتَدَا اسْمَاً وَالْخَبَرْ تَنْصِبُهُ كَكَانَ سَيِّدَاً عُمَرْ
“Kaana merofa’kan pada Mubtada’ sebagai isimnya, dan kepada Khabar yakni menashabkannya[6]. Kana dan saudaranya merafa’ka isim iaitu mubtada dan menjadikannya Isim Kaana. Dan ia menasabkan khabar, yang mana asalnya ialah khabar biasa yang marfu’, lalu menjadikannya Khabar Kaana[7]. Adapun contoh kana wa ahkowatuhu :
كان عبد الله رجلًا تقيًا صالحا (Abdullah adalah orang yang bertaqwa dan sholeh )
كان عا ئشة الرضَا مجد ةً فى مطا لعة دروسها (Aisyatu rido itu rajin menelaah pelajaran-pelajarannya
كا ن الطا لبةُ قا ئمينَ بتنتف سا حة المعهد جما عياً (pelajar- pelajar itu membersihkan pesantren secara massal)
1. Lafazh-Lafazh Saudara Kana
Lafaz-lafaz kana dan saudaranya terkumpul dalam kalimat :
كَكَانَ ظَلَّ بَاتَ أَضْحَى أَصْبَحا أَمْسَى وَصَارَ لَيْسَ زَالَ بَرِحَا
Adalah seperti Kaana (merofa’kan pada Mubtada’ sebagai isimnya dan menashobkan khobarnya) yaitu lafazh: Zholla (menjadi di siang hari), Baata (menjadi di malam hari), Adh-ha (menjadi diwaktu dhuha), Amsaa (menjadi diwaktu sore), Shooro (menjadi), Laisa (tidak). Zaala (senantiasa), Bariha (senantiasa)[8] Fati-a (senantiasa) Infakka(senantiasa). Adapun yang empat ini (Zaala, Bariha, Fati-a,Infakka) harus diikutkan pada nafi atau serupa naïf Dan semisal Kaana (merofa’kan pada Mubtada’ sebagai isimnya dan menashobkan khobar sebagai khobarnya) yaitu lafazh: Daama yg didahului dengan Maa mashdariyyah-zharfiyyah[9], seperti contoh: سا ر عبد اللهِ تلميذا رسمياً فى كلية الا دبِ العربي
(Abdullah telah menjadi murid resmi di fakultas sastra Arab)
ليس ابو بكٍر علماً فى العلوم العصرية
“Abu bakar itu bukanlah seorang ahli dalam ilmu umum “
مَا زالَ محمدٌ مدرسًا بمعهدِ روضةِ المتعلمينَ كبون سا رى
“ Muhammad itu masih mengajar dipesantren roudlotul muta’allimin kebon sari”
2. Fi’il Naqish Dan Fi’il Tam
Dan saudara kaana selain yg Tam, disebut Naqish. Sedangkan Naqish untuk lafazh “Fati-a”, “Laisa” dan “Zaala” selamanya diikuti/ditetapkan sebagai Naqish. Yaitu bahwa semua feel yang ditasrifkan daripada feel-feel naqis, mempunyai kuasa atau sifat yang sama dengan asal feelnya yang berbentuk madhi, dalam membaris dapankan isim (mubtada) dan membaris ataskan khobar.[10] نحو : كن يكون كن
Fi’il pertama madhi, diikuti madhi dan amar, kesemuanya merafa’kan isim(setelahnya) dan menasabkan khobar.
واسبح يصبح اصبح
Fi’il pertama madhi, diikuti madhi dan amar, kesemuanya merafa’kan isim dan menasabkan khobar. Contoh:
كان زيد قا ئما( feel madhi)
يكون زيد قا ئما( feel mudharek)
كن قا ئما(feel amar)
3. Hukum Subyek Dan Prediket Kana Dan Saudara-saudaranya
Subyek (isim) dan prediket (khabar) bagi kana dan saudara-saudaranya (كَان وَأَخَوَاتُهَا) mempunyai kaidah tertentu. Kaidah yang berhubungan dengan subyek (isim) dan prediket (khabar) bagi kana dan saudara-saudaranya berlaku hukum subyek dan prediket (mubtada’ dan khabar), karena berasal dari kalimat nominal (jumlatul ismiyyah)[11] Oleh sebab itu, maka berlaku ketentuan sebagai berikut :
a. Harus sama dalam bentuk tunggal (mufrad), Misal :
سا رالجو صا خيا (Udara itu menjadi bersih)
b. Sama-sama dalam bentuk dua (musanna).
Misal : كان الولدان جالسين (Dua anak (lk) itu duduk)
c. Sama-sama dalam bentuk banyak (jama’)
Misal : كان المسلمون متقدمين ( Orang-orang Islam itu maju)
Akan tetapi, apabila subyek (isim) kana dan saudara-saudaranya berupa jamak teruarai (jamak taksir) yang bukan dari kelompok berakal, maka prediketnya (khabar)nya berupa bentuk tunggal untuk perempuan (mufradu l-mu’annas)
Misal : كان الطير طا ئرة (Burung-burung itu terbang)
4. Contoh kana dan saudaranya
a. كان, Contohnya: وكانالله غفورارحيما
b. امس, Contohnya: امس زيد غنيا
c. اصبح, Contohnya rab: اصبح البرد شديدا
d. اضح, Contohnya: اصحالفقيه ورعا
e. ظل. Contohnya: ظل زيد صا ئما
f. با ت, Contohnya: بات زيد سهرا
g. صا ر, Contohnya: صارالسعر رخيصا
h. ليس, Contohnya: ليس زيد قائما
i. ما زال, Contohnya: ما زال زيد عالما
j. ما انفك, Contohnya: ماانفك عمروجالسا
k. ما فتئ, Contohnya: مافتئ بكرمحسنا
l. مابرح, Contohnya: ما برح محمد كرما
m. ما دام, Contohnya : لاأصحبك مادام زيد مترددا اليك
E. Al-Kubra
1. Af’alul Qulub
Secara makna berarti pekerjaan-pekerjaan yg ada dalam hati seperti mengetahui, meyakini, menyangka, dll. Af’aalul Quluub dalam hal ini terbagi menjadi empat bagian:
a. Berfaedah Yaqiin(meyakinkan ketetapan khobar), yaitu:
1) Wajada. Contoh:
إنّا وجدناه صابرا
Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar
2) Ta’allam. Contoh:
تعلم أن الربا بلاء
Ketahuilah sesungguhnya harta riba adalah petaka
3) Daroo. Contoh:
وَلَا أَدْرَاكُمْ بِهِ
dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu
b. Berfaedah Rujhaan(lebih cenderung pada meyakinkan ketetapan khobar), yaitu:
1) Ja’ala (bima’na beri’tikad) contoh:
2) وجعلوا الملائكة الذين هم عباد الرحمن إناثاً
Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan
3) Hajaa, contoh:
حجوت الجوَّ بارداً
Aku memperkirakan cuaca dingin
4) ‘Adda, contoh:
عددت الصديقَ أخاً
Aku menganggap teman itu sebagai saudara
5) Hab, contoh:
فقلت أجرني أبا مالك # وإلا فهبني أمرأً هالكاً
Aku Cuma mampu berkata: berilah aku kesempatan sekali lagi wahai Abu Malik! Jika tidak maka anggaplah aku sesuatu yg binasa.
6) Za’ama, contoh:
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا
Orang-orang yang kafir berdalih bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan.
c. Berfaedah Yaqiinterkadang juga faedah Rujhaan yaitu:
1) Ro’aa, contoh:
إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا وَنَرَاهُ قَرِيبًا
Sesungguhnya mereka memandang siksaaan itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (mungkin terjadi). (Ro’aa pertama berfaedah Rujhaan dan Ro’aa kedua berfaedah YAQIIN).
2) ‘Alima, contoh:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidakada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah.
d. Berfaedah Rujhaan terkadang juga faedah Yaqiinyaitu:
1) Zhonna, contoh Rujhaan:
فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا مُوسَى مَسْحُورًا
lalu Fir’aun berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir.”
Contoh Yaqiin:
الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ
(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya
2) Khoola, contoh:
خِلتُ الدراسةَ مُتعةً
Aku menyangka belajar itu adalah bersenang-senang.
3) Hasiba, contoh:
حسب المهملُ النجاحَ سهلاً
Orang iseng mengira kesuksesan itu mudah.
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ
Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim
F. Kesimpulan
Annawasikh adalah kalimah-kalimah (baik berupa fi’il ataupun huruf) yang dapat merubah susunan mubtada' dan khobar dalam segi tarkib (kedudukan kalimat) serta i'rab nya
وأخواتهاmerupakan bagian dari amil nawasikh yang dapat merusak susunan mubtada dan khobar. Amal dari إنّ وأخواتها adalah menashabkan isim dan merofa’kan khobar.
إنّ وأخواتها terdiri dari enam huruf yaitu: إِنَّ – أنَّ – لكنّ – لعلّ – ليت – dan كإنّ . اِنَّ dan أن bermakna للتَّوْكِيْد, لَكِنَّ bermakna لِلْاسْتِدْ رَاك , لَيْتَ bermakna للتمنى, لَعَلّ bermakna لِلتَّرَجِّى / لِلتَّوَقُّعْ dan كَانَ bermaknaلِلتّشْبِيْهِ
إنّ وأخواتها dapat beramal dengan syarat : 1. Mubtada –khobar tertib dalam satu makmul, 2. Tidak terdapat ma zaidah, 3. إنّ وأخواتها dapat di takhfif (diringankan) dengan cara membuang nun keduanya. 4. Hamzah pada inna bisa dibaca fathah dan juga dibaca kasroh dengan ketentuan yang sudah disebutkan.
DAFTAR PUSTAKA
M. maftuhin sholeh. Terjemah nadhom imrithi.Bandung: Bina Ilmu, 1992.
http://subpokbarab.wordpress.com/lesson/inna-kana-saudaranya.
Aminullah, Hukum Mkmul Dalam Kalimat Tanazzu, Medan: USU, 2000.
M. maftuhin sholeh. Terjemah nadhom imrithi.(Bandung: Bina Ilmu, 1992).Hlm. 182 http://subpokbarab.wordpress.com/lesson/inna-kana-saudaranya. Aminullah, Hukum Mkmul Dalam Kalimat Tanazzu, (Medan: USU, 2000), hlm. 25.
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️