A. Pendahuluan
Bahasa arab merupakan bahasa yang memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan bahasa lainnya, karena bahasa Arab sendiri itu memiliki banyak kaidah –kaidah tertentu. Yang harus dipelajari jika ingin menguasai bahasa Arab. Nah kaidah-kaidah tersebut di namakan Tata Bahasa Arab, yang lebih populer dengan kata Nahwu. Selain Nahwu juga ada istilah-istilah lain mengenai kaidah bahasa Arab. Shorof, Mantiq, Balaghah, yang dibahas pada kitab tertentu. Membutuhkan kerja keras yang tinggi untuk belajar Nahwu. Karena tingkataN kerumitannya yang luar biasa, mengharuskan adanya kajian- kajian dalam ilmu Nahwu tersebut. Ilmu Nahwu layaknya ilmu matematika, pasti dan sudah ada rumusnya tersendiri. Berbeda dengan ilmu alam, yang setiap tahunnya ada penemuan- penemuan baru. Namun, kaidah- kaidah Nahwu selamanya tidak bisa diubah. Begitulah sifat dari ilmu alat Bahasa Arab.
Karena begitu pentingnya tata bahasa Arab (Ilmu Nahwu) di dalam pembelajaran Bahasa Arab, maka dari itu kita mendalaminya bersama. Saling bertukar pendapat dan berdiskusi. Disini saya telah merangkum salah satu pembahasan Nahwu, yaitu at Taukid. Yang kemudian muncul beberapa rumusan masalah mengenai Taukid. Tentang pengertian taukid, Pembagian hukum taukid
B. Pengertian Taukid
Taukid adalah kata yang mengikuti i’rab sebelumnya yang berfungsi sebagai penguat. Taukid dengan menggunakan كُلٌّ harus ada dlomir yang kembali pada yang ditaukidi (مُؤَكَّد). Contoh : بِاْلكِتَابِ كُلِّه
Taukid juga memakai : أجْمَعِيْنَ، أَجْمَعُوْنَ، أَجْمَعُ، جَمْعَاءُ
Taukid adalah tabi’ yang menguatkan matbu’nya. (Semua siswa bermain) . لَعِبَ الطُّلَّابُ كُلُّهُ
Tabi' (lafazh yang mengikuti) yang berfungsi untuk melenyapkan anggapan lain yang berkaitan dengan lafazh yang di-taukid-kan. Contoh:
= Zaid telah datang sendiri. Lafazh
berkedudukan sebagai taukidyang mengukuhkan makna Zaidun, sebab kalau tidak memakai
, maka ada kemungkinan yang datang itu utusan Zaid, bukan Zaid-nya, dan sebagainya. Taukid itu mengikuti kepada lafazh yang di-taukid-kan dalam hal rafa', nashab, khafadh dan ta'rif (ke-ma'rifat-an) nya. Orang-orang Arab terkadang juga menggunakan lafadz عَامَّةٌ untuk menunjukkan makna yang menyeluruh sama dengan lafadz “كُلٌّ”, lalu di mudlafkan kepada dlamir lafadz yang di taukidi. Akan tetapi sedikit sekali dari kalangan ahli nahwu yang menganggapnya sebagai salah satu bagian dari lafadz taukid, hanya Imam Syibawaih menganggapnya sebagai salah satu huruf taukid. Contoh: (Kaum itu sebagian besarnya telah datang) جَآءَ القَوْمُ عَامَّتُهُمْ
C. Pembagian Taukid
1. Taukid Lafdzi
Yaitu taukid yang mengikuti lafadz muakkidnya. Taukid lafdzi bertempat pada 8 tempat :
a. Kalimah Isim
contoh : هَذَا زَيْدٌزَيْدٌ
b. Dalam Kalimah Fi’il
contoh:جَاءَ زَيْدٌ جَاءَ
c. Dalam Kalimah Hurf
contoh : لَا لَا أُحِبُّهُ
d. Dalam Jumlah
1) Jumlah Ismiyah. Contoh :زَيْدٌ قَاءِمٌ زَيْدٌ قَاءِمٌ
2) Jumlah Fi’liyah. Contoh :جَاءَ زَيْدٌ جَاءَ زَيْدٌ
3) Syibhul Jumlah. Contoh :فِيْ الْبَيْتِ فِيْ الْبَيْتِ
e. Dlamir
contoh : هُوَ هُوَ عَالِمٌ
f. Isim Fi’il
contoh : حَذَارٌ حَذَارٌ مِنْ بَطْشٍ
1) Isim. Contoh : الإِنْسَانُ الإنْسَانُ مِنَ الطِّيْنِ
2) Fi’il. Contoh :جَاءَ أتَيْ زَيْدٌ
3) Hurf. Contoh :نَعَمْ أَجَلْ إنَّهُ حَقٌّ
2. Taukid Maknawi
Yaitu lafadz yang ikut pada muakkadnya (lafadz yang ditaukidi) di dalam i’rabnya dan ma’rifatnya muakkad. Tujuannya adalah untuk menghilangkan berbagai macam kemungkinan. Lafadz taukid maknawi:
نَفْسٌ، عَيْنٌ، كُلٌّ، اَجْمَعُ، تَوَابِعُ أَجْمَعُ{أَكْتَعُ، أَبْتَعُ، أَبْصَعُ}
Taukid Maknawi dibagi menjadi 2, yaitu :
a. Lafadz yang berfungsi untuk melenyapkan anggapan lain yang berkaitan dengan lafadz yang ditaukidi.
b. Lafadz yang digunakan untuk melenyapkan anggapan yang meniadakan pengertian menyeluruh. Untuk tujuan ini gunakanlah lafadz : كلٌّ، كلتا، كلا، جميع , Contoh: جَاءَ الرجلُ كلُّهُ # جَاءَ الرجالُ كُلُّهُمْ
Adapun taukid ma’nawi adalah taukid yang diketahui dengan adanya penggunaan lafadz-lafadz taukid, seperti:
a. اَلنَّفْسُ (an-nafsu)
Contoh : قَابَلْتُ أَمِيْرَ نَفْسَه (Aku benar-benar bertemu presiden), Kata نَفْسَ , manshub dengan fathan sebagai taukid.
b. اَلْعَيْنُ (al-‘ainu)
Contoh : جَاءَ الْحَاكِمُ عَيْنُهُ(Pak hakim benar-benar dating), Kata عَيْن , marfu dengan dhommah sebagai taukid
c. كِلاَ (digunakan untuk 2 orang laki-laki)
Contoh: عُثْمَانُ وَ عَلِيٌّ كِلاَهُمَا فِي الْجَنَّةِ (Utsmaan dan Ali, keduanya benar-benar di dalam surge), kata كِلاَ sebagai taukid
d. كِلْتَا (kilta, digunakan untuk 2 orang perempuan)
Contoh: جَائَتْ اِمْرَأََتَانِ كِلْتَاهُمَا(Dua orang perempuaan benar-benar dating), kata كِلْتَا sebagai taukid.
e. كُلُّ (kullu)
Contoh: اَلْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ(Malu itu seluruhnya baik), kata كُلُّهُ sebagai taukid.
f. جَمِيْعُ (jamii’’u)
Contoh: رَجَعَ الطُّلاَّبُ جَمِيْعُهُمْ(Para murid, semuanya kembali)
g. عَامَّةُ (‘aammatu)
Contoh: اَحْسَنْتَ اِلَى الْفُقَرَاءِ عَامَّتِهِمْ(Kamu sangat baik kepada para fakir seluruhnya
Faedah memakai lafazh-lafazh itu ialah, untuk menambah maksud taukidsaja agar tidak diragukan.
Seperti perkataan:
= Zaid telah berdiri sendiri;
= aku telah melihat kaum itu semuanya;
= aku telah bersua dengan seluruh kaum itu. Kata Nazhim:
Boleh pada isim dikukuhkan dan lafazh yang mengukuhkan harus mengikuti lafazh yang dikukuhkannya dalam semua bentuk i'rab dan ta'rif (ma'rifat)nya, tidak di-nakirah-kan karena ia terbebas dari lafazh yang mengukuhkan.
D. Ketentuan- ketentuan Taukid
Ketentuan- ketentuan taukid itu ada 8, yaitu :
1. Lafadzكُلٌّ danنَفْسٌ Harus Mudlaf pada Dlamir yang Sesuai.
Contoh : زَيْدٌ نَفْسُهُ جَاءَ
Jadi ketentuan ini mengarah sesuai dengan Muakkidnya, jika muakkidnya mufrad mudzakar maka dlamir yang kembali juga wajib mufrad mudzakar. Dan seterusnya untuk semua dlamir.
2. Ketentuan Pada Tatsniyah
a. Dikukuhkan dengan lafadzكِلَا untuk mutsanna mudzakar.
Contoh : جَاءَ الزَّيْدَانِ كِلَاهُمَا
b. Dikukuhkan dengan lafadzكِلْتَا untuk mutsanna muannats
Contoh :جَاءَتِ الهِنْدَانِ كِلتَاهُمَا
Masing-masing ketentuan tersebut harus di mudlafkan dlamir yang sesuai dengan lafadz muakkad.
3. Ketentuan Setelah Kalimah كُلٌّ
a. Setelah lafadzكُلٌّ didatangkan أَجْمَعُ , setelah lafadz كلّهمdidatangkanأَجمعين , setelah lafadzكلها didatangkan جمعاء , dan setelah lafadzكلهنّ didatangkanجُمَعُ Dapat di tabelkan menjadi :
كلٌّ | أجْمَعُ |
كلّها | جَمَعَاءُ |
كلّها | أجْمَعِيْنَ |
كلّهنّ | جُمَعُ |
b. Terkadang orang-orang Arab menggunakan lafadz untuk tujuan taukid tanpa didahului dengan lafadz . Ibnu Malik beranggapan bahwa hal seperti ini sedikit pemakaiannya.
4. Hukum Mentaukidkan dengan Isim Nakirah
a. Menurut ulama nahwu Bashrah, tidak boleh mentaukidkan isim Nakirah samar dan tidah berfaidah.
b. Menurut ulama nahwu Kuffah, boleh mentaukidkan isim nakirah karena taukid yang dimaksud dapat memberi faidah. Contoh : صُمْتُ شَهْرًا كُلُّهُ
5. Mentaukidkan Dlamir Muttashil pada Lafadz كُلٌّ dan نَفْسٌ
a. Mentaukidkan dlamir muttashil rafa’ dengan memakai كُلٌّ atau نَفْسٌ tidak diperbolehkan, kecuali jika didahului dlamir munfashil. Adapun ketika dalam keadaan marfu’, manshub atau majrur, wajib mengikuti.
Contoh : جِئْتُ أَنَا نَفْسِي #أكْرَمْتُهُمْ أنْفُسَهُمْ #مَرَرْتُ بِهِمْ أنْفُسِهِمْ
b. Namun ketika mentaukidkannya selain dengan lafadz dan , maka tidak didahului dlamir munfashil lagi.
Contoh :قُوْمُوْا كُلُّكُمْ
6. Mentaukidkan Dlamir Munfashil pada Dlamir Muttashil
Dlamir munfashil rafa’ boleh digunakan untuk mentaukidi semua dlamir muttashil, apabila dlamir muttashilnya dalam keadaan marfu’. Contoh :قُمْتَ أنْتَ #أكْرَمْتَنِي أنَا
7. Lafadz نَفْسٌ danعَيْنٌ dalam Bentuk Jama’
Lafadz نَفْسٌ bentuk jama’nya أنْفُسٌ , dan untuk lafadz عَيْنٌ bentuk jama’nyaأعْيُنٌ . Contoh : جَاءَ التِّلَامِيْذُ أنْفُسُهُمْ
Kemudian untuk mutsanna lebih baik memakai أنفسهم/ أعين . Namun juga diperbolehkan mengikuti muakkadnya (pendapat ini lemah di dalam bahasa arab).
Contoh : جَاءَ الرَّجُلَانِ أنْفُسُهُمْ # جَاءَ الرَّجُلَانِ نَفْسَاهُمَا
8. Hukum Memasukkan Ba’ Zaidah pada Lafadz
Boleh hukumnya memakai ba’ zaidah di dalam huruf taukid. Contohnya : جَاءَ عَلِيٌّ بِنَفْسِهِ
E. Kesimpulan
1. Pengertian Taukid
Taukid adalah kata yang mengikuti i’rab sebelumnya yang berfungsi sebagai penguat. Taukid dengan menggunakan كُلٌّ harus ada dlomir yang kembali pada yang ditaukidi (مُؤَكَّد). Contoh : بِاْلكِتَابِ كُلِّهِ
2. Pembagian Taukid
a. Taukid Lafdzi
b. Taukid Maknawi
3. Ketentuan Taukid
a. Lafadzكُلٌّ danنَفْسٌ Harus Mudlaf pada Dlamir yang Sesuai.
b. Ketentuan Pada Tatsniyah
c. Ketentuan Setelah Kalimah كُلٌّ
d. Hukum Mentaukidkan dengan Isim Nakirah
e. Mentaukidkan Dlamir Muttashil pada Lafadz كُلٌّ dan نَفْسٌ
f. Mentaukidkan Dlamir Munfashil pada Dlamir Muttashil
g. Lafadz نَفْسٌ danعَيْنٌ dalam Bentuk Jama’
h. Hukum Memasukkan Ba’ Zaidah pada Lafadz
Demikianlah sedikit dari pendataan penulis tentang pembelajaran mengenai Taukid. Semoga bermanfaat bagi pembaca dan pembaca sekalian. Tentunya makalah ini jauh dari kesempurnaan, banyak sekali kesalahan-kesalahan. Kritik dan saran dari pembaca adalah kado terindah bagi saya, agar makalah yang akan datang lebih baik dan sempurna.
Dan terakhir terima kasih atas waktu luang anda untuk membaca makalah kecil ini. sekiranya ada kesalahan dalam tutur kata ataupun dalam menulis, penulis mohon maaf.
DAFTAR PUSTAKA
Fakhruddin Ahmad, Cara Cepat Membaca Kitab 6 Jam Langsung Praktek, Depok:Duta Grafik Nusantara, 2010.
Fakhruddin Ahmad, Cara Cepat Membaca Kitab 6 Jam Langsung Praktek, (Depok:Duta Grafik Nusantara, 2010), Hal. 54
syukron artikelnya gan
ReplyDeleteSyukron infonya.
ReplyDeleteSama sama.. Mohon di share
ReplyDelete