MAKALAH DAKWAH : TOKOH NABI IBRAHIM DAN MUSA AS

Baca Juga



 
https://www.dream.co.id
A.      Pendahuluan
Sejarah bermulanya dakwah ke atas manusia telah bermula sejak daripada zaman Nabi Adam a.s lagi, kemudian diteruskan oleh para utusan risalah Allah s.w.t yang lain sehinggalah kepada utusan Allah yang terakhir untuk umat akhir zaman, yakni Nabi Muhammad s.a.w. Menyingkap sejarah dakwah oleh empat orang nabi yang ulung dalam sejarah dakwah sehingga diberikan gelaran ‘ulul azmi’, pelbagai iktibar boleh diambil dan dijadikan sebagai panduan dalam usaha menyampaikan dakwah. Beberapa metod uslub, dan wasilah dakwah yang digunakan oleh para nabi ulul azmi terdahulu mungkin boleh diserapkan oleh para daie pada masa kini dalam mengahadapi realiti masyarakat sekarang. Bagi mendapatkan hasil kajian, metod pengumpulan data secara kualitatif dilakukan oleh pengkaji. Kebanyakan fakta adalah berdasarkan rujukan kepada beberapa buah buku ,jurnal, tafsir-tafsir al-Quran, laman web terpilih, majalah-majalah dan hasil temubual dengan beberapa orang graduan Pendidikan Islam dan Usuluddin.
B.       Nabi Ibrahim As
1.      Biografi tokoh
Ibrahim dilahirkan di Babylonia, bagian selatan Mesoptamia (sekarang Irak). Ayahnya bernama Azar, seorang ahli pembuat dan penjual patung. Nabi Ibrahim AS dihadapkan pada suatu kaum yang rusak, yang dipimpin oleh Raja Namrud, seorang raja yang sangat ditakuti rakyatnya dan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Sejak kecil Nabi Ibrahim AS selalu tertarik memikirkan kejadian-kejadian alam. Ia menyimpulkan bahwa keajaiban-keajaiban tsb pastilah diatur oleh satu kekuatan yang Maha Kuasa.
Nama sebenarnya Ibrahim bin Aazar(Tarih) bin Nahor bin Sarugh bin Rgouh bin Falegh bin Aabir bin Soleh bin Arfakshyaz bin Saam bin Nuh a.s .Ayahandanya bernama Aazar (Tarih), manakala ibundanya bernama Umailah (Boona bt Karibta bt Kartisy).Mempunyai dua orang saudara kandung lelaki, iaitu Haron dan Nabi Luth a.s . Berkahwin dengan Sarah, anak kepada saudara lelakinya Haron. Kemudian baginda berkahwin lagi dengan Hajar untuk mendapatkan zuriat untuk meneruskan usaha dakwah baginda kerana setelah sekian lama baginda berkahwin dengan Sarah, baginda masih belum mendapat zuriat. Namun, dengan kuasa Allah yang Maha Kuasa, tidak berapa lama selepas Nabi Ismail a.s dilahirkan daripada rahim Hajar, Sarah pula yang mengandung dan kemudiannya melahirkan Nabi Ishak a.s pada usia yang cukup tua. Kedua-dua zuriat Nabi Ibrahim inilah yang kemudiannya menjadi pelopor kepada para nabi yang memimpin Bani Quraisy dan Bani Israel.
2.      Keadaan Masyarakat
Nabi Ibrahim a.s dilahirkan dalam kalangan masyarakatnya yang tidak mempercayai akan kewujudan Allah s.w.t dan memuja sesama makhluk. Mereka memuja patung berhala yang diwarisi daripada masyarakat Nabi Nuh a.s , iaitu masyarakat ‘Ad dan Thamud (masyarakat Babylion, yakni di negeri Babil tempat kelahiran Nabi Ibrahim a.s). Terdapat juga dalam kalangan mereka yang memuja cakerawala di langit seperti bulan,bintang,matahari (masyarakat di palestin), di samping kewujudan raja-raja mengaku dirinya sebagai Tuhan seperti Raja Namrud ibnu Kan’an. Ayah baginda sendiri merupakan seorang pengukir patung berhala yang terkenal dan banyak menghasilkan ukiran-ukiran patung berhala untuk dipersembahkan kepada raja dan kemudiannya dijadikan sebagai sembahan di rumah-rumah ibadat ataupun pada musim perayaan tertentu.
3.      Dakwah  Nabi Ibrahim
Berbicara tentang proses dakwah Nabi Ibrahim as. Ada beberapa komponen dakwah yang tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan dakwah beliau, yaitu:
a.       Ad-Da’i
Di sini tugas sebagai penyeru  (Ad-Da’i) dilakukan langsung oleh nabi Allah Ibrahim as. Sebagai seorang hamba Allah yang dipersiapkan untuk mengemban sebuah risalah dakwah, untuk mengajak manusia ke jalan Allah, Ibrahim memiliki berbagai keutamaan. Sesungguhnya akhlak pokok dan terpuji yang harus dimiliki oleh setiap da’i tergambar dalam kepribadian Ibrahim Bapak para nabi. Allah menjelaskan bahwa beliau seorang yang penuh syukur (Syakir), sangat lembut hati (awwah), sangat penyantun (halim), saleh, bertobat (munib), dan sangat membenarkan (shidiq).[1]
Berikut ini adalah keutamaan-keutamaan yang dimiliki oleh nabi Allah Ibrahim yang diceritakan dalam sebagian ayat-ayat Al-Qur’an:
1)      Lurus Aqidahnya
Artinya:  Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah Telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. dan Sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.(QS. An-Nahl 16: 120-122)
Dalam menjelaskan ayat ini Ibn Katsir berkata bahwa Ummah berarti imam yang di ikuti, al-qaanit berarti orang yang khusu’ lagi patuh, dan al-hanifberarti orang yang berpaling dari kemusyrikan menuju kepada katauhidan.[2]
2)      Menepati janji
Artinya:Dan (lembaran-lembaran) Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (QS. An-Najmu 53:37)
Dalam menjelaskan ayat ini Ibn Katsir mengatakan bahwa maksud firman Allah “dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji” mengandung makna bahwa nabi Allah Ibrahim selalu melakukan semua perintah dan meninggalkan semua larangan, serta menyampaikan risalah secara sempurna dan utuh. Karenanya nabi Ibrahim berhak menjadi imam bagi umat manusia yang akan dijadikan suri teladan dalam setiap kebijakan, perkataan, dan perbuatannya.[3]
3)      Ikhlas
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya. (QS. An-Nisa’ 4: 125)
Menurut Yusuf al-Qardhawi dalam Fathul Bahri an-Nabiry mengatakan bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang amal perbuatannya hanya didasari dengan mengharap keridhaan Allah dan membersihkannya dari segala noda individual maupun duniawi.[4]ikhlas merupakan bekal utama yang harus dimiliki oleh seorang da’i, karena ia akan mempengaruhi tingkat keberhasilan dakwah yang disampaikan kepada masyarakat.
Walaupun beliau hanya berbohong sebanyak tiga kali seumur hidup beliau, dan itu pun berbohong untuk kemaslahatan, namun Nabi Ibrahim selalu mohon ampun kepada Allah  atas perbuatannya  tersebut. Bahkan tidak jarang permohonan beliau tersebut diiringi dengan teteskan air mata, karena takut kalau Allah tidak mengampuninya.
4)      Sabar
Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS. Ash-Shaffat 37:102)
Sabar dapat berarti tabah, tahan uji, tidak mudah putus asa, tidak tergesa-gesa, dan tidak mudah marah. Sedangkan menurut Sayyid Quthub dalam Muhammad Amahzun mengatakan  kesabaran merupakan bekal dan senjata seorang mukmin untuk menghadapi beratnya berbagai beban dakwah, serta memudahkan seseorang untuk melewati jalan dakwah yang penuh ujian hingga terwujud perintah Allah untuk menegakkan agama-Nya di muka bumi.[5]Kesabaran seperti inilah yang dimiliki oleh nabi Allah Ibrahim, beliau tetap membenarkan perintah Allah, meskipun yang diperintahkan Allah adalah menyembelih anaknya sendiri.
Seorang da’iyang menginginkan kebaikan dan keberhasilan dalam dakwahnya perlu memiliki dan memupuk  sifat sabar dalam menghadapi berbagai halangan dan rintangan dalam berdakwah.
5)      Cerdas
Artinya: Ketika malam Telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, Pastilah Aku termasuk orang yang sesat. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, Ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (Qs. Al-An’am 6:76-78)
Kecerdasan nabi Allah Ibrahim tergambar dari peristiwa, ketika beliau mengamati benda-benda langit yang timbul tenggelam pada siang dan malam hari. Perhatian beliau terhadap bintang, bulan, dan matahari yang muncul pada waktu-waktu tertentu dan tenggelam pada waktu yang lain membuat pikiran cerdasnya mengambil kesimpulan bahwa sesuatu yang timbul dan tenggelam itu tidak pantas dijadikan Tuhan apalagi disembah. Pergolakan pikirannya tentang siapa pencipta alam yang sesungguhnya telah mengantarkan beliau kepada pengetahuan yang hakiki tentang Allah Zat Yang Maha Tunggal yang berhak disembah oleh semua manusia.
Peristiwa ini memberi isyarat, bahwa seorang da’i hendaknya cepat tanggap dalam membaca dan memahami berbagai pelajaran yang Allah jelaskan melalui ayat-ayat kauniyah yang ada di alam.
6)      Teguh dalam menghadapi tantangan dakwah
Artinya: Berkata bapaknya: "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, Hai Ibrahim? jika kamu tidak berhenti, Maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah Aku buat waktu yang lama. (QS. Maryam 19:46)
Menurut Quraisy Shihab kata (لأرْجُمَنَّكَ) la arjumannaka berasal dari kata (رَجَمَ) rajama yang berarti melempar. Ada juga yang memahami kata tersebut dengan memaki. Kata (وَاهْجُرْنِي) wahjurni berasal dari kata (هَجَرَ) hajara yaitu meninggalkan sesuatu karena kebencian kepadanya. Ini dapat terlaksana dengan memutuskan hubungan dalam bentuk tidak berbicara atau meninggalkan arena. Ayat ini menjelaskan bahwa tantangan dakwah yang paling keras juga datang dari ayah nabi Allah Ibrahim. Ayahnya Azar mengancam akan merajam dan mengusir nabi Ibrahim jika terus juga berdakwah kepadanya.
b.      Mad’u
Secara umum masyarakat yang menjadi sasaran dakwah nabi Allah Ibrahim adalah masyarakat penyembah berhala atau orang-orang kafir. Hal ini terlihat dari proses dakwah beliau yang mendapat penolakan keras dari kaumnya, karena itu sudah merupakan karakter orang-orang yang sulit untuk menerima kebenaran.
Walaupun secara umum mad’u yang dihadapi oleh nabi Allah Ibrahim adalah masyarakat kafir, namun Al-Quran membagi mereka menjadi tiga golongan utama, yaitu:
1)      Penguasa (raja)
Artinya:Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) Karena Allah Telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan. Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah 2:258)
Orang yang mendebat nabi Ibrahim mengenai Tuhannya seperti diceritakan oleh ayat di atas adalah raja Babiolonia yang bernama Namruz bin kausy bin Sam bin Nuh. Namruz menolak adanya Tuhan selain dirinya, hal ini karena didorong oleh sikap sombong dan keinginan bertahta dalam kerajaannya selama mungkin. Namruz mengaku dapat menghidupkan dan mematikan seperti halnya Tuhan Ibrahim, dengan mengemukakan dalil yaitu menampilkan dua orang yang mendapat hukuman mati. Namruz menyuruh membunuh yang seorang dan memafkan yang seorang lagi agar tetap hidup.[6]
Untuk mematahkan hujjah raja Namruz, nabi Ibrahim meminta ia untuk menerbitkan matahari dari barat, sebagaimana Allah menerbitkan matahari dari timur, tetapi raja Namruz tidak mampu memberikan jawaban atas tantangan nabi Ibrahim tersebut.[7]
2)      Keluarga dekat
Orang pertama yang mendapat dakwah Nabi Ibrahim  adalah Azar, ayahnya sendiri. Azar sangat marah mendengar pernyataan bahwa anaknya tidak mempercayai berhala yang disembahnya, bahkan mengajak untuk memasuki kepercayaan atau agama baru yaitu menyembah Allah SWT. Ibrahim pun diusir dari rumah.
Meskipun ayahnya menolak dakwah yang disampaikannya, nabi Ibrahim tetap menghormati ayahnya dan tidak pernah berlaku kasar kepadanya. Malah nabi Ibrahim membalas ancaman ayahnya dengan berjanji akan selalu mendoakannya kepada Allah agar mendapat pengampunan.
3)      Masyarakat penyembah berhala
Artinya: Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia Berkata kepada bapaknya dan kaumnya: apakah yang kamu sembah? Mereka menjawab: "Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya. Berkata Ibrahim: apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?. Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?  Mereka menjawab: "(Bukan Karena itu) Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian. (Asy-Syu’araa 26: 69-74)
Sebagaimana telah diceritakan dalam surat al-Anbiyaa’ ayat 25-26, bahwa kaum nabi Ibrahim sudah menyadari bahwa patung-patung yang mereka sembah sebetulnya tidak mampu berbuat apa-apa, bahkan untuk menolak kemudharatan yang menimpa dirinya sendiri pun tidak mampu. Namun kebutaan hati mereka telah membuat mereka berpaling dari kebenaran hujjah yang disampaikan oleh nabi Ibrahim as.
Dalam menghadapi mad’u yang seperti ini, keras lagi taklik, maka Nabi Allah Ibrahim, menerapkan beberapa prinsip pokok dalam menyampaikan dakwah  kepada mad’unya, yaitu:
1)      Berlaku lemah lembut serta tidak menggurui
2)      Memiliki hujjah yang kuat
Al-Maraghi mengatakan, mendengar jawaban nabi Ibrahim umatnya mencela diri sendiri, karena mereka menyadari bahwa apa tidak kuasa menolak bahaya dari dirinya sendiri dan dari orang lain mustahil akan dapat menolak bahaya bagi orang lain atau mustahil akan mendatangkan manfaat bagi orang lain. Bahkan sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain “kalian adalah orang-orang yang zhalim yang menyembah apa yang tidak dapat berbicara, yang kalian lakukan hanyalah kebodohan”.[8]
3)      Janji dan ancaman
4)      Menjaga hubungan silahturrahmi
5)      Memuliakan tamu
6)      Hijrah
Sejarah mencatat bahwa nabi Ibrahim melakukan hijrah sebanyak empat kali, yaitu hijrah dari Babilonia ke Syam, dari Syam ke Mesir, dari Mesir kembali hijrah ke Syam untuk yang kedua kalinya, terakhir hijrah ke Hijaz atau Mekah.[9]
c.       Materi
Artinya: Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang Telah menciptakannya: dan Aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu". (QS. Al-Anbiya’ 21: 56)
Ayat di atas  menjelaskan bahwa materi dakwah yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim berkaitan dengan mentauhidkan Allah, yaitu berupa pengakuan bahwa Allah lah yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Ungkapan ini menunjukkan bahwa tidak Tuhan selain Allah. Allah lah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi secara utuh, dan Allah jualah yang memiliki dan mengatur menurut kehendak-Nya segala yang ada antara keduanya. 
Jika diperhatikan ayat di atas ada beberapa komponen dasar dari materi dakwah yang disampaikan oleh nabi Ibrahim as. Kepada bapaknya, yaitu:
a.       Larangan menyembah berhala,
b.      Larangan menyembah dan berteman dengan syaitan,
c.       Memelihara hubungan silahturrahmi,
d.      Jangan mengikuti kebiasaan nenek moyang kalau tidak memiliki pengetahuan tentangnya
e.       Menegaskan bahwa Allah yang memberi rezeki kepada manusia, yang menyehatkan jika sakit, yang menghidupkan dan mematikan, serta Allah yang mengampuni manusia dari segala kesalahan-kesalahan
Jadi secara umum materi dakwah yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim as, masih  berkisar masalah tauhid, yaitu seputar masalah bahwa Allah adalah Tuhan yang berhak disembah dan tidak ada sekutu baginya. Hal ini terjadi karena mad’u yang di dihadapi oleh Nabi Ibrahim adalah orang kafir karena itu yang perlu diluruskan pertama kali adalah pemahaman tauhid mereka, sebagaimana Rasulullah juga menanamkan pemahaman tauhid kepada masyarakat Arab dalam waktu yang cukup lama.




4.      Metode Dakwah Nabi Ibrahim As
Dari apa yang telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Quran tentang dakwah Nabi Ibrahim, maka dapat diambil kesimpulan tentang metode apa saja yang terkandung dalam proses pelaksanaan dakwah beliau, yaitu:[10]
a.        Metode hikmah
Metode hikmah merupakan cara menyampaikan materi kepada mad’u dengan menggunakan bahasa yang lembut, santun, dan sesuai dengan tingkat nalar pendengarnya. Terkadang dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan atau sumpah. Penerapan metode hikmah oleh nabi Allah Ibrahim terlihat dalam ungkapannya terhadap bapaknya:
Artinya:Berkata bapaknya: "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, Hai Ibrahim? jika kamu tidak berhenti, Maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah Aku buat waktu yang lama. Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, Aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya dia sangat baik kepadaku. (QS. Maryam 19: 46-47)
Jawaban nabi Ibrahim terhadap ancaman bapaknya, seperti yang diungkapkan oleh ayat di atas menggambarkan penggunaan metode hikmah. Nabi Ibrahim berusaha menggugah perasaan ayahnya dengan ungkapan yang sangat santun dan penuh kasih sayang walaupun ayahnya sedang marah. Orang tua mana yang tidak akan tersentuh hatinya jika diperlakukan sedemikian rupa, padahal ia marah kepada anaknya dengan kata-kata kasar, mengancam, bahkan mengusir anaknya. Perlakuannya ini ditanggapi oleh anaknya  dengan ungkapan “semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, dan aku akan memintakan ampun bagimu”.
Artinya:Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang Telah menciptakannya: dan Aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu".(QS. Al-Anbiya’ 21: 56)
b.        Metode mai’izhatul hasanah
Metode mauizhatul hasanah adalah cara berdakwah kepada masyarakat dengan memberikan pelajaran yang baik. Penggunaan metode ini dalam dakwah Nabi Ibrahim as terlihat dalam dua aspek, yaitu:
1)   Nasehat
Nasehat adalah memberi pelajaran dan anjuran serta teguran kepada orang lain secara sadar dan berlaku dalam bentuk berhadapan antara penasehat dan yang dinasehati. Nasehat tidak mesti datang dari kalangan atas saja tetapi boleh jadi datang dari kalangan bawah. Sedangkan dalam dakwah Nabi Ibrahim as Nasehat beliau tergambar dalam ungkapan beliau berikut ini:
Artinya: Ingatlah ketika ia Berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, Mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? (QS. Maryam 19: 42)
Artinya:Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. (QS. Maryam 19: 44)
2)   Tabsyir dan Tanzir
Tabsyir adalah cara mengajak orang dengan memberi kabar gembira kepada orang yang di ajak. Contoh ungkapan nabi Ibrahim
Artinya:Wahai bapakku, Sesungguhnya Telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah aku, niscaya Aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. (QS. Maryam 19: 43)
Di sini seruan Nabi Ibrahim kepada ayahnya diiringi dengan kabar gembira, jika Azar mau mengikuti ajakan dakwah Nabi Ibrahim, maka Ibrahim akan menunjukkan kepadanya jalan yang lurus. Jalan yang lurus tentu saja kebahagiaan dunia dan akhirat yaitu berupa kemuliaan di sisi Allah. Ini adalah imbalan yang tidak terhitung nilainya bagi siapa yang mau mengikuti seruan nabi Ibrahim
Tanzir adalah mengajak orang kepada Islam dengan memberi kabar pertakut atau ancaman. Contohnya ungkapan Nabi Ibrahim berikut ini:
Artinya:Wahai bapakku, Sesungguhnya Aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha pemurah, Maka kamu menjadi kawan bagi syaitan".(QS. Maryam 19: 45)
Ayat ini mengisahkan tentang peringatan Nabi Ibrahi terhadap ayahnya. Jika Azar tidak mau mengikuti dakwah Nabi Ibrahim niscaya Allah akan mendatangkan azabnya kepada orang yang ingkar terhadap seruannya.
c.        Metode Mujadalah bil lati hiya ahsan
Penggunaan metode ini dalam dakwah nabi Ibrahim hanya berupa dialog (hiwar) yaitu mendiskusikan suatu objek untuk mendapatkan jawaban. Contoh dialog Nabi Ibrahim adalah:
Artinya;  Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) Karena Allah Telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah 2:258)
Ayat ini menjelaskan tentang dialog nabi Ibrahim dengan Raja Namruz. Dialog ini berisi tentang kekuasaan Allah dalam menghidupkan dan mematikan, serta mengatur sistem tata surya. Raja Namruz  mengaku dirinya juga mampu menghidupkan dan mematikan dengan membiarkan hidup seseorang dan membunuh yang lainnya. Namun ketika ditantang oleh Nabi Ibrahim untuk menerbitkan matahari dari barat ia tidak sanggup.
Artinya: Ketika ia Berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Apakah yang kamu sembah?" Mereka menjawab: "Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya". Berkata Ibrahim: "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?. Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat? Mereka menjawab: "(Bukan Karena itu) Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian". Ibrahim berkata: "Maka apakah kamu Telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah. Kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena Sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta Alam. (yaitu Tuhan) yang Telah menciptakan aku, Maka dialah yang menunjuki aku, (QS. Asy-Syu’araa 26: 70-78)
Dari dialog nabi Ibrahim dengan kaumnya ini dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya mereka menyembah berhala bukan karena berhala itu dapat mendengar dan mengabulkan doa mereka, tetapi karena mereka melihat nenek moyangnya menyembah berhala juga.
C.      Nabi Musa As
1.       Riwayat Nabi Musa As
Nabi Musa A.S. adalah seorang bayi yang dilahirkan dikalangan Bani Isra'il yang pada ketika itu dikuasai oleh Raja Fir'aun yang bersikap kejam dan zalim. Nabi Musa bin Imron bin Qahat bin Lawi bin Ya'qub adalah beribukan Yukabad.Setelah meningkat dewasa Nabi Musa telah beristerikan dengan puteri Nabi Syu'aib yaitu Shafura. Dalam perjalanan hidup Nabi Musa untuk menegakkan Islam dalam penyebaran risalah yang telah diutuskan oleh Allah kepadanya ia telah diketemukan beberapa orang nabi diantaranya ialah bapa mertuanya Nabi Syu'aib, Nabi Harun dan Nabi Khidhir.
2.       Keadaan Masyarakat
Secara ringkasnya, masyarakat Nabi Musa a.s berada dalam keadaan kekejaman Firaun sebagai Raja dan pemerintah yang berkuasa di Mesir pada ketika itu. Firaun telah membunuh bayi lelaki sewenang-wenangnya setelah tukang tilik yang berkhidmat dengannya menceritakan tentang tafsir mimpinya bahawa pada suatu ketiika kelak akan lahir seorang bayi lelaki yang akan menghancurkan kerajaannya. Firaun juga merupakanseorang raja yang takbur dan bongkak sehingga sanggup mengaku dirinya sebagai Tuhan dan menyuruh rakyatnya menyembahnya.
Bani Israel yang berada di bawah pemerintahan Firaun telah ditindas dan dizalimi sesuka hati. Di samping, masyarakat Nabi Musa juga tidak terlepas daripada golongan yang memuja bermacam-macam benda. Akhlak masyarakat pada zaman Nabi Musa a.s rosak kerana akhlak yang mulia sudah dilupai dan tidak diamalkan dalam kehidupan seharian.
3.       Dakwah Musa As
Raja Firaun yang telah berkuasa di Mesir telah lama menjalankan pemerintahan yang zalim, kejam dan ganas. Rakyatnya yang terdiri dari bangsa Egypt yang merupakan penduduk peribumi dan bangsa Israil yang merupakan golongan pendatang, hidup dalam suasana penindasan, tidak merasa aman bagi nyawa dan harta bendanya.[11]
Tindakan sewenang-wenang dan pihak penguasa pemerintahan terutamanya ditujukan kepada Bani Israil yang tidak diberinya kesempatan hidup tenang dan tenteram. Mereka dikenakan kerja paksa dan diharuskan membayar berbagai pungutan yang tidak dikenakan terhadap penduduk bangsa Egypt, bangsa Firaun sendiri.
Selain kezaliman, kekejaman, penindasan dan pemerasan yang ditimpakan oleh Firaun atas rakyatnya, terutama kaum Bani Israil. ia menyatakan dirinya sebagai tuhan yang harus disembah dan dipuja. Dan dengan demikian ia makin jauh membawa rakyatnya ke jalan yang sesat tanpa pendoman tauhid dan iman, sehingga makin dalamlah mereka terjerumus ke lembah kemaksiatan dan kerusakan moral dan akhlak.
Maka dalam kesempatan bercakap-cakap langsung di bukit Thur Sina itu diperintahkanlah Musa oleh Allah untuk pergi ke Firaun sebagai Rasul-Nya, mengajakkan beriman kepada Allah, menyedarkan dirinya bahwa ia adalah makhluk Allah sebagaimana lain-lain rakyatnya, yang tidak sepatutnya menuntut orang menyembahnya sebagi tuhan dan bahawa Tuhan yang wajib disembah olehnya dan oleh semua manusia adalah Tuhan Yang Maha Esa yang telah menciptakan alam semesta ini.[12]
Nabi Musa dalam perjalanannya menuju kota Mesir setelah meninggalkan Madyan, selalu dibayang oleh ketakutan kalau-kalua peristiwa pembunuhan yang telah dilakukan sepuluh tahun yang lalu itu, belum terlupakan dan masih belum hilang dari ingatan para pembesar kerajaan Firaun. Ia tidak mengabaikan kemungkinan bahwa mrk akan melakukan pembalasan terhadap perbuatan yang ia tidak sengaja itu dengan hukuman pembunuhan atas dirinya bila ia sudah berada di tengah-tengah mereka. Ia hanya terdorong rasa rindunya yang sangat kepada tanah tumpah darahnya dengan memberanikan diri kembali ke Mesir tanpa memperdulikan akibat yang mungkin akan dihadapi.
Jika pada waktu bertolak dari Madyan dan selama perjalannya ke Thur Sina. Nabi Musa dibayangi dengan rasa takut akan pembalasan Firaun, Maka dengan perintah Allah yang berfirman maksudnya : “Pergilah engkau ke Firaun, sesungguhnya ia telah melampaui batas, segala bayangan itu dilempar jauh-jauh dari fikirannya dan bertekad akan melaksanakan perintah Allah menghadapi Firaun apa pun akan terjadi pada dirinya. Hanya untuk menenterankan hatinya berucaplah Musa kepada Allah: “Aku telah membunuh seorang drp mereka , maka aku khuatir mereka akan membalas membunuhku, berikanlah seorang pembantu dari keluargaku sendiri, yaitu saudaraku Harun untuk menyertaiku dalam melakukan tugasku meneguhkan hatiku dan menguatkan tekadku menghadapi orang-orang kafir itu apalagi Harun saudaraku itu lebih petah {lancar} lidahnya dan lebih cekap daripada diriku untuk berdebat dan bermujadalah.”
Allah berkenan mengabulkan permohonan Musa, maka digerakkanlah hati Harun yang ketika itu masih berada di Mesir untuk pergi menemui Musa mendampinginya dan bersama-sama pergilah mereka ke istana Firaun dengan diiringi firman Allah: “Janganlah kamu berdua takut dan khuatir akan disiksa oleh Firaun. Aku menyertai kamu berdua dan Aku mendengar serta melihat dan mengetaui apa yang akan terjadi antara kamu dan Firaun. Berdakwahlah kamu kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut sedarkanlah ia dengan kesesatannya dan ajaklah ia beriman dan bertauhid, meninggalkan kezalimannya dan kecongkakannya kalau-kalau dengan sikap yang lemah lembut daripada kamu berdua ia akan ingat pada kesesatan dirinya dan takut akan akibat kesombongan dan kebonmgkakannya.”[13]
D.      Kesimpulan
Prasyarat utama dari keberhasilan dakwah adalah keamanan. Jika tempat kita berdakwah tidak aman, maka dakwah tentu tidak bisa dilaksanakan secara maksimal Prasyarat berikutnya adalah aqidah dari para aktifis dakwah itu sendiri. Nabi Ibrahim as. tidak mengelak dari kewajibannya untuk menyampaikan kebenaran tanpa kenal lelah. Beliau senantiasa siap untuk berdiskusi dengan siapa pun dan menyampaikan argumen-argumen yang baik. Hendaknya sikap nabi Ibrahim ini menjadi panduan atau suri teladan bagi juru dakwah. Seorang juru dakwah  hendaknya mampu memposisikan dirinya dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh nabi Allah Ibrahim.










DAFTAR PUSTAKA


Ahmad Mushthafa al-Maraghi, Terjemahan  Tafsir Al-Maraghi, Semarang: Toha Putra Semarang, 1992.
Ahzami Samiun Jazuli, Hujrah Dalam Pandangan Al-Qur’an, Jakarta: Gema Insani Press, 2006.
Fathul Bahri An-Nabiry, Meniti  Jalan Dakwah Bekal Perjuangan para da’i Jakarta: Amzah, 2008.  
Muhammad Amahzuh, Manhaj Dakwah Rasulullah, Jakarta: Qisthi Press, 2006.
Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta: Gema Insani, 1999.
Mustafa Dieb Al-Bugha Muhyidin Mistu, Al-Wafi: Syarah Kitab Arba’in An-Nawawiyah, Jakarta: Al-I’tishom, 2010.
Salmadanis, Metode Dakwah Perspektif Al-Quran, Padang: Hayfa Press, 2010.





[1]Ahzami Samiun Jazuli, Hujrah Dalam Pandangan Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani Press, 2006), h. 120
[2]Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta: Gema Insani, 1999), Jilid Ke-2, h. 1075
[3]Ibid, h, 517
[4]Fathul Bahri An-Nabiry, Meniti  Jalan Dakwah Bekal Perjuangan para da’i (Jakarta: Amzah, 2008), h. 146  
[5]Muhammad Amahzuh, Manhaj Dakwah Rasulullah, (Jakarta: Qisthi Press, 2006), h. 81
[6]Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Op.Cit, h. 431
[7]Mustafa Dieb Al-Bugha Muhyidin Mistu, Al-Wafi: Syarah Kitab Arba’in An-Nawawiyah, (Jakarta: Al-I’tishom, 2010), h. 297
[8]Ahmad Mushthafa al-Maraghi, Terjemahan  Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: Toha Putra Semarang, 1992), Jilid ke-17, h. 78-79
[9]Ahzami Samiun Jazuli, Op.Cit, h. 134
[10]Fathul Bahri An-Nabiry,op.cit, h. 146  
[11] Salmadanis, Metode Dakwah Perspektif Al-Quran, (Padang: Hayfa Press, 2010), h. 299-300
[12] Ibid.,h. 301
[13] Ibid.,hlm. 101-121.

📢 Bagikan Postingan Ini

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman atau media sosial Anda.

Facebook WhatsApp Twitter Telegram Copy Link

🤝 Butuh Bantuan atau Dokumen Lain?

Terima kasih telah berkunjung ke blog KhairalBlog21. Jika Anda membutuhkan makalah, format surat resmi, administrasi sekolah, atau dokumen lain yang belum tersedia di blog ini, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak. Kami juga menerima request untuk pembuatan dokumen sesuai kebutuhan Anda.

Jangan ragu untuk memberikan saran dan masukan agar blog ini bisa lebih bermanfaat untuk semua. Klik tombol di bawah ini untuk langsung menghubungi kami via WhatsApp:

Kami siap membantu menyediakan dokumen pendidikan dan administrasi sesuai kebutuhan Anda 📚✍️


No comments:

💬 Tinggalkan Komentar Anda

Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️

Featured Post

CONTOH DAN DONWLOAD SURAT LAMARAN SEBAGAI SPG

Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) , tentunya diperlukan sebuah surat lamaran kerja yang baik dan b...