MAKALAH TENTANG KALIMAT

Baca Juga


sumber gambar: http://ahmadfatihin.blogspot.co.id

A.      Pendahuluan
Bahasa adalah sarana berpikir baik untuk menyampaikan pesan kepada orang lain maupun untuk menerima pesan dari orang lain. Pikiran yang disampaikan dalam pembicaraan atau tulisan diungkapkan melalui rangkaian kata yang terpilih dan tersusun menurut kaidah tertentu.Bahasa sebagai symbol yang bermakna terdiri atas satuan- satuan tertentu yang secara fungsional saling berhubungan sebagai suatu system.Satuan terkecil yang mengandung makna berupa kata atau frasa (kelompok kata), sedangkan satuan yang lebih besar yang mengandung pikiran berupa kalimat.
Hal inilah yang kemudian menarik untuk diketahui tentang bagaimana pengertian kalimat, bagian- bagiannya dan jenis kalimat tunggal. Oleh karena itu penulis berusaha untuk memberikan pemahaman tentang  pertanyaan tersebut dalam makalah ini. Semoga makalah ini dapat menjadi jawaban dan memberikan pemahaman terkait pertanyaan yang dikaji.
B.       Pengertian Kalimat
Pengertiaan kalimat atau definisi kalimat memang bermacam-macam.Para ahli bahasa pun memiliki beragam definisi atau pengertian yang sama. Namun dapat kita pahami definisi atau pengertiaan kalimat memiliki maksud yang sama.
Tapi lebih terprinci lagi dapat diartikan sebagai berikut :
Kalimat adalah gabungan dari dua buah kata atau lebih yang menghasilkan suatu pengertian dan pola intonasi akhir. Kalimat dapat dibagi-bagi lagi berdasarkan jenis dan fungsinya yang akan dijelaskan pada bagian lain.Contohnya seperti kalimat lengkap, kalimat tidak lengkap, kalimat pasif, kalimat perintah, kalimat majemuk, dan lain sebagainya.
Berikut ini adalah contoh kalimat secara umum :
1.      Joy Tobing adalah pemenang lomba Indonesian Idol yang pertama.
2.      Bang Napi dihadiahi timah panas oleh polisi yang mabok minuman keras itu.[1]
C.      Pola dan Bagian-Bagian Kalimat
Gabungan dari bagian-bagian kalimat akan membentuk suatu kalimat yang mengandung arti. Adapun bagian-bagian inti kalimat antara lain SPOK :[2]
1.      Predikat (P)
Predikat dalam pandangan aliran struktural dianggap unsur yang paling penting dan merupakan inti kalimat. Predikat dalam bahasa Indonesia bisa berwujud kata atau frasa verbal, adjektival, nominal, numeral, dan preposisional.
Perhatikan beberapa contoh kalimat di bawah ini:
a.       Yasmina duduk-duduk di ruang tamu. (kalimat verbal)
b.      Letusan Gunung Merapi keras sekali.( kalimat adjektival)
c.       Ayah saya guru bahasa Indonesia.( kalimat nominal)
d.      Anak kami tiga(kalimat numeral)
e.       Dia dari Medan,(kalimat preposisional)
2.      Subjek (S)
Disamping predikat, kalimat umumnya mempunyai unsur yang berfungsi sebagai subjek. Dalam pola kalimat bahasa Indonesia, subjek biasanya terletak sebelum predikat, kecuali jenis kalimat inversi. Subjek umumnya berwujud nomina, tetapi pada kalimat-kalimat tertentu, katagori lain bisa juga mengisi kedudukan subjek.
Pada sepuluh contoh kalimat di atas, kata atau frasa Yasmina, Anda dan saya, letusan Gunung Merapi, ayah saya, anak kami, dia, berfungsi sebagai subjek. Subjek yang berupa nominal, bisa ditemukan pada contoh kalimat seperti ini:
a.       Merokok merupakan perbuatan mubazir.
b.      Berwudlu atau bertayamum harus dilakukan sebelum sholat.
3.      Objek (O)
Objek bukan unsur wajib dalam kalimat. Keberadaanya umumnya terletak setelah predikat yang berkatagori verbal transitif. Objek pada kalimat aktif akan berubah menjadi subjek jika kalimatnya dipasifkan. Demikian pula, objek pada kalimat pasif akan menjadi subjek jika kalimatnya dijadikan kalimat aktif. Objek umumnya berkatagori nominal.
Berikut contoh objek dalam kalimat:
a.       Dr. Ammar memanggil suster Ane.
b.      Adik dibelikan ayah sebuah buku.
Suster ane, ayah, sebuah buku, pada tiga kalimat di atas adalah contoh objek. Khusus pada kalimat b. Terdapat dua objek yaitu ayah (objek 1) dan sebuah buku (objek 2)
4.      Pelengkap (PEL)
Pelengkap atau komplemen mirip dengan objek. Perbedaan pelengkap dengan objek adalah ketidakmampuannya menjadi subjek jika kalimatnya yang semula aktif dijadikan pasif. Perhatikan kata-kata yang dicetak miring pada kalimat-kalimat di bawah ini. Kata-kata tersebut berfungsi sebagai pelengkap bukan objek.
Contoh:
a.       Indonesia berdasarkan Pancasila
b.      Ardi ingin selalu berbuat kebaikan
c.       Kaki Cecep tersandung batu.
5.      Keterangan
Unsur kalimat yang tidak menduduki subjek, predidkat, objek, maupun pelengkap dapat diperkirakan menduduki fungsi keterangan. Berbeda dengan O dan PEL. yang pada kalimat selalu terletak dibelakang P, unsur yang berfungsi sebagai keterangan (K) bisa terletak di depan S atau P.
Contoh:
a.       Di perpustakaan kami membaca buku itu.
b.      Kami membaca buku itu di perpustakaan.
c.       Kami /di perpustakaan/ membaca buku itu.
Pada 3 kalimat di atas, tampak bahwa frasa di perpustakaan dan dengan tang yang berfungsi sebagai keterangan mampu ditempatkan di awal maupun di akhir. Khusus jika ditempatkan antara S dan P, cara membacanya (intonasi) harus diubah sedemikian rupa (terutama jeda) agar pemaknaan kalimat tidak keliru.
Berdasarkan maknanya keterangan dapat dibedakan atas beberapa keterangan yaitu sebagai berikut :[3]
a.       Keterangan tempat, yaitu keterangan yang mengandung makna tempat. Keterangan tempat diawali oleh preposisi di, ke, dari (di) dalam
b.      Keterangan waktu, yaitu keterangan yang mengandung makna waktu. Keterangan waktu diawali oleh preposisi pada, dalam, se-, sepanjang, selama, sebelum, sesudah. Selain itu ada keterangan waktu yang tidak diawali oleh preposisi, misalnya sekarang, besok, kemarin, nanti.
c.       Keterangan alat, yaitu keterangan yang mengandung makna alat. Keterangan alat diawali oleh preposisi dengan dan tanpa.
d.      Keterangan cara, yaitu keterangan yang berdasarkan relasi antarunsurnya, bermakna cara dalam melakukan kegiatan tertentu. Keterangan cara ditandai oleh preposisi dengan, secara, dengan cara, dengan jalan, tanpa.
e.       Keterangan tujuan, yaitu keterangan yang dalam hubungan antar unsurnya mengandung makna tujuan. Keterangan tujuan ditandai oleh preposisi agar, supaya, untuk, bagi, demi.
f.       Keterangan penyerta, yaitu keterangan yang berdasarkan relasi antarunsurnya yang membentuk makna penyerta.
g.      Keterangan perbandingan, yaitu keterangan yang relasi antar unsurnya membentuk makna perbandingan. Keterangan perbandingan ditandai oleh preposisi seperti, bagaikan, laksana,
h.      Keterangan sebab, yaitu keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna sebab. Keterangan sebab dtandai oleh konjungtor sebab dan karena
i.        Keterangan akibat, yaitu keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna akibat. Keterangan akibat ditandai oleh konjungtor sehingga dan akibatnya
j.        Keterangan syarat, yaitu keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna syarat. Keterangan syarat ditandai oleh konjungtor jika dan apabila
k.      Keterangan pengandaian, yaitu keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna pengandaian. Keterangan pengandaian ditandai oleh konjungtor andaikata, seandainya dan andaikan
l.        Keterangan atributif, yaitu keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna penjelasan dari suatu nomina.
D.      Kalimat Berdasarkan Pengucapan
Berdasarkan pengucapannya Kalimat dapat dibedakan menjadi 2 jenis, sebagai berikut:[4]
1.      Kalimat Langsung
Kalimat langsung adalah kalimat yang secara cermat menirukan ucapan orang. Kalimat langsung juga dapat diartikan kaliamt yang memberitakan bagaimanaucapan dari orang lain (orang ketiga). Kalimat ini biasanya ditandai dengan tanda petik dua (“….”) dan dapat berupa kalimat tanya atau kalimat perintah.Contoh:Ibu berkata: “Rohan, jangan meletakkan sepatu di sembarang tempat!”
2.      Kalimat Tak Langsung
Kalimat tak langsung adalah kalimat yang menceritakan kembali ucapan atau perkataan  orang lain. Kalimat tak langsung tidak ditandai lagi dengan tanda petik dua dan sudah dirubah menjadi kalimat berita.Contoh:Ibu berkata bahwa dia senang sekali karena aku lulus ujian.
E.       Jenis Kalimat Berdasarkan Jumlah Frasa (Struktur Gramatikal)
Kalimat dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:[5]
1.      Kalimat Tunggal
Kallimat tunggal adalah kalimat yang memiliki satu pola (klausa) yang terdiri dari satu subjek dan satu predikat. Kalimat tunggal merupakan kalimat dasar sederhana. Kalimat-kalimat yang panjang dapat dikembalikan ke dalam kalimat-kalimat dasar yang sederhana dan dapat juga ditelusuri p0la-pola pembentukannya. Pola-pola kalimat dasar yang dimaksud adalah:
a.       KB + KK (Kata Benda + Kata Kerja)
Contoh:   Victoria bernyanyi
S          P
b.      KB + KS (Kata Benda + Kata Sifat)
Contoh:   Ika sangat rajin.
S          P
c.       KB + KBil (Kata Benda + Kata Bilangan)
Contoh:  Masalahnya seribu satu.
S             P
Kalimat tunggal  dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
a.       Kalimat nominal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata benda, contoh :  Saya siswa kelas VI.
b.      Kalimat verbal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata kerja, contoh :  Adik bernyanyi.
Setiap kalimat tunggal di atas dapat diperluas dengan menambahkan kata-kata pada unsur-unsurnya. Dengan penambahan unsur-unsur itu, unsur utama dari kalimat masih dapat dikenali. Suatu kalimat tunggal dapat diperluas menjadi dua puluh atau lebih. 
Perluasan kalimat tesebut terdiri atas:
a.       Keterangan tempat, seperti di sini, dalam ruangan tertutup, lewat Bali, sekeliling kota.
b.      Keterangan waktu, seperti: setiap hari, pada pukul 21.00, tahun depan, kemarin sore, minggu kedua bulan ini.
c.       Keterangan alat (dengan + kata benda), seperti: dengan linggis, dengan undang-undang itu, dengan sendok, dengan wesel pos, dengan cek.
d.      Keterangan modalitas, seperti: harus, barangkali, seyogyanya. sesungguhnya, sepatutnya.
e.       Keternagan cara (dengan + kata sifat/kata kerja), seperti: dengan hati-hati, seenaknya saja, selekas mungkin.
f.       Keterangan aspek, seperti akan, sedang, sudah, dan telah.
g.      Keterangan tujuan, seperti: agar bahagia, untuk anaknya, supaya aman, bagi mereka.
h.      Keterangan sebab, seperti: karena rajin, sebab berkuasa, lantaran panik.
i.        Keterangan aposisi adalah keterangan yang sifatnya menggantikan, seperti: penerima Sepatu Emas, David Beckham.
j.        Frasa yang, seperti: mahasiswa yang IP-nya 3 ke atas, pemimpin yang memperhatikan rakyat.
2.      Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk terdiri atas dua atau lebih kalimat tunggal yang saling berhubungan baik kordinasi maupun subordinasi. Kalimat majemuk dapat dibedakan atas  3 jenis, yaitu:[6]
a.       Kalimat majemuk setara, yaitu penggabungan dua kalimat atau lebih kalimat tunggal yang kedudukannya sejajar atau sederajat. Berdasarkan kata penghubungnya (konjungsi), kalimat majemuk setara terdiri dari lima macam, yakni:
1)      Kalimat Majemuk Setara Penggabungan: Menggunakan kata penghubung `dan`. Contoh, Adik bermain dan ibu menyapu dipelataran rumah.
2)      Kalimat Majemuk Setara Penguatan: Menggunakan kata penghubung `bahkan`. Contoh, Anita tidak membalas SMS dariku bahkan saat aku telepon ke HP-nya.
3)      Kalimat Majemuk Setara Pemilihan: Menggunakan kata penghubung `atau`. Contoh,  Adik menjadi bingung saat memilih ikan bakar atau ikan goreng.
4)      Kalimat Majemuk Setara Berlawanan: Menggunakan kata penghubung `tetapi`,   sedangkan`, `melainkan`.  Contoh,  Amir tidak pergi ke stasiun tetapi ke terminal, Kalimat Majemuk Setara Urutan Waktu: Menggunakan kata penghubung `kemudian`, `lalu`, `lantas`.
b.      Kalimat Majemuk Bertingkat, yaitu penggabungan dua kalimat atau lebih kalimat tunggal yang kedudukannya berbeda. Di dalam kalimat majemuk bertingkat terdapat unsur induk kalimat dan anak kalimat. Anak kalimat timbul akibat perluasan pola yang terdapat pada induk kalimat. Contoh: Induk Kalimat: Kemarin Mbok Minul mencuci baju. Selanjutnya kata `kemarin` yang menduduki pola keterangan, diperluas menjadi anak kalimat yang berbunyi: Ketika matahari berada di ufuk timur. Maka penggabungan induk kalimat dan anak kalimat berdasarkan kalimat di atas menjadi: Mbok Minul mencuci baju ketika matahari berada di ufuk timur.
c.       Kalimat Majemuk Campuran, yaitu gabungan antara kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Sekurang-kurangnya terdiri dari tiga kalimat. Contoh: Tomi sedang bermain dengan Kevin, dan Rina membuat kue di dapur, ketika Juminten datang ke rumahnya.



F.       Jenis Kalimat Berdasarkan Fungsinya
Kalimat dapat dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu: [7]
1.      Kalimat Perintah
Kalimat perintah adalah kalimat yang bertujuan memberikan perintah kepada orang lain untuk melakukan sesuatu. Kalimat perintah biasanya diakhiri dengan tanda seru (!) dalam penulisannya. Sedangkan dalam bentuk lisan, kalimat perintah ditandai dengan intonasi tinggi.
Macam-macam kalimat perintah :
a.       Kalimat perintah biasa, ditandai dengan partikel lah.
Contoh : Gantilah bajumu !
b.      Kalimat larangan, ditandai dengan penggunaan kata jangan.
Contoh Jangan membuang sampah sembarangan !
c.       Kalimat ajakan, ditandai dengan kata mohon, tolong, silahkan.
Contoh : Tolong temani nenekmu di rumah !
2.      Kalimat Berita
Kalimat berita adalah kalimat yang isinya memberitahukan sesuatu. Dalam penulisannya, biasanya diakhiri dengan tanda titik (.) dan dalam pelafalannya dilakukan dengan intonasi menurun. Kalimat ini mendorong orang untuk memberikan tanggapan.
Macam-macam kalimat berita :
a.       Kalimat berita kepastian
Contoh : Nenek akan datang dari Bandung besok pagi.
b.      Kalimat berita pengingkaran
Contoh : Saya tidak akan datang pada acara ulang tahunmu.
c.       Kalimat berita kesangsian
Contoh : Bapak mungkin akan tiba besok pagi.
d.      Kalmat berita bentuk lainnya
Contoh : Kami tidak tahu mengapa dia datang terlambat.


3.      Kalimat Tanya
Kalimat tanya adalah kalimat yang bertujuan untuk memperoleh suatu informasi atau reaksi (jawaban) yang diharapkan. Kalimat ini diakhiri dengan tanda tanya(?) dalam penulisannya dan dalam pelafalannya menggunakan intonasi menurun. Kata tanya yang dipergunakan adalah bagaimana, dimana, berapa, kapan.
Contoh:
a.       Mengapa gedung ini dibangun tidak sesuai dengan disainnya?
b.      Kapan Becks kembali ke Inggris?
4.      Kalimat Seruan
Kalimat seruan adalah kalimat yang digunakan untuk mengungkapakan perasaa ‘yang kuat’ atau yang mendadak. Kalimat seruan biasanya ditandai dengan intonsi yang tinggi dalam pelafalannya dan menggunakan tanda seru (!) atau tanda titik (.) dalam penulisannya.
Contoh:
a.       Aduh, pekerjaan rumah saya tidak terbawa.
b.      Bukan main, eloknya.
G.      Berdasarkan Unsur Kalimat
Kalimat dapat dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu:[8]
1.      Kalimat Lengkap
Kalimat lengkap adalah kalimat yang sekurang-kurangnya terdiri dari  satu buah subyek dan satu buah predikat. Kalimat Majas termasuk ke dalam kalimat lengkap.
Contoh :
a.       Mahasiswa berdiskusi di dalam kelas.
S               P                  K
b.      Ibu mengenakan kaos hijau dan celana hitam.
S            P                              O
2.      Kalimat Tidak Lengkap
Kalimat tidak lengkap adalah kalimat yang tidak sempurna karena hanya memiliki subyek saja, atau predikat saja, atau objek saja atau keterangan saja. Kalimat tidak lengkap biasanya berupa semboyan, salam, perintah, pertanyaan, ajakan, jawaban, seruan, larangan, sapaan dan kekaguman.Contoh:Selamat sore, Silakan Masuk!, Kapan menikah?
H.      Kalimat efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan penutur/penulisnya secara tepat sehingga dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula.Efektif dalam hal ini adalah ukuran kalimat yang memiliki kemampuan menimbulkan gagasan atau pikiran pada pendengar atau pembaca. Dengan kata lain, kalimat efektif  adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya.[9]
1.      Ciri-Ciri Kalimat Efektif
Untuk dapat mencapai keefektifan, suatu kalimat harus memenuhi paling tidak enam syarat berikut, yaitu adanya:[10]
a.         Kesepadanan
Yang dimaksud dengan kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai.Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.
Kesepadanan kalimat itu memiliki beberapa ciri, seperti tercantum di bawah ini:
1)        Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas.Ketidakjelasan subjek atau predikat suatu kalimat tentu saja membuat kalimat itu tidak efektif. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam bagi untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek. Contoh: Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (Salah) Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (Benar)
2)      tidak terdapat subjek yang ganda, Contoh: Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen, seharusnya Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh para dosen.
3)      Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal, Contoh:Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
Perbaikan kalimat-kalimat ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, ubahlah kalimat itu menjadi kalimat majemuk, sebagai berikut Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
4)      Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang, contoh:Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu, seharusnya Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.
b.      Keparalelan, yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina. Kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba, contoh:
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
Kalimat tidak memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat tidak sama bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang,pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu akan baik kalau diubah menjadi predikat yang nomial, sebagai berikut:
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
c.       Ketegasan, yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat.
1)      Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat), contoh: Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
Penekanannya ialah presiden mengharapkan.
2)      Membuat urutan kata yang bertahap, contoh: Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
Seharusnya:
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
3)      Melakukan pengulangan kata (repetisi), contoh:
Saya suka kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
4)      Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan, contoh:
Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
5)      Mempergunakan partikel penekanan (penegasan), contoh: Saudaralah yang bertanggung jawab.
d.      Kehematan, yang dimaksud dengan kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Peghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa. Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan:
1)      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek, contoh:
Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui bahwa presiden datang.
Perbaikan kalimat itu adalah sebagai berikut.
Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui bahwa presiden datang.
2)      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata, contoh:
Ia memakai baju warna merah. SeharusnyaIa memakai baju merah.
3)      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.Contoh :Dia hanya membawa badannya saja, menjadi Dia hanya membawa badannya.
4)      Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak, Misalnya:
Bentuk tidak baku        : para tamu-tamu, beberapa orang-orang
Bentuk baku                 : para tamu, beberapa orang.
e.       Kecermatan, yang dimaksud dengan cermat adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda. Dan tepat dalam pilihan kata. Perhatikan kalimat berikut :Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah. Pada Kalimat tersebut memilikimakna ganda, yaitu siapa yang terkenal, mahasiswa atau perguran tinggi.
f.       Kepaduan, yang dimaksud dengan kepaduan ialah kepaduan ialah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah.
1)      Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidaksimetris.Oleh karena itu, kita hindari kalimat yang panjang dan bertele-tele.
2)      Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalamkalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona, contoh:
Surat itu saya sudah baca, seharusnya Surat itu sudah saya baca.
Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentangantara predikat kata kerja dan objek penderita.
contoh :Mereka membicarakan daripada kehendak rakyat, seharusnya: Mereka membicarakan kehendak rakyat.
g.      Kelogisan, yang dimaksud dengan kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku.
2.      Syarat-Syarat Kalimat Efektif
Syarat-syarat kalimat efektif adalah sebagai berikut:[11]
a.       Secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.
b.      Mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca dengan yang dipikirkan pembaca atau penulisnya.
3.      Struktur kalimat efektif
Struktur kalimat efektif  haruslah benar. Kalimat itu harus memiliki kesatuan bentuk, sebab kesatuan bentuk itulah yang menjadikan adanya kesatuan arti.Kalimat yang strukturnya benar tentu memiliki kesatuan bentuk dan sekaligus kesatuan arti.Sebaliknya kalimat yang strukturnya rusak atau kacau, tidak menggambarkan kesatuan apa-apa dan merupakan suatu pernyataan yang salah.
Jadi, kalimat efektif selalu memiliki struktur atau bentuk yang jelas. Setiap unsur yang terdapat di dalamnya (yang pada umumnya terdiri dari kata) harus menempati posisi yang jelas dalam hubungan satu sama lain. Kata-kata itu harus diurutkan berdasarkan aturan-aturan yang sudah dibiasakan.Tidak boleh menyimpang, aalagi bertentangan. Setiap penyimpangan biasanya akanmenimbulkan kelainan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat pemakai bahasa itu.
Misalnya, akan menyatakan Saya menulis surat buat papa. Efek yang ditimbulkannya akan sangat lain, bila dikatakan:
a.       Buat Papa menulis surat saya.
b.      Surat saya menulis buat Papa.
c.       Menuis saya surat buat Papa.
d.      Papa saya buat menulis surat.
e.       Saya Papa buat menulis surat.
f.       Buat Papa surat saya menulis.
Walaupun kata yang digunakan dalam kalimat itu sama, namun terdapat kesalahan. Kesalahan itu terjadi karena kata-kata tersebut (sebagai unsur kalimat) tidak jelas fungsinya. Hubungan kata yang satu dengan yang lain tidak jelas. Kata-kata itu juga tidak diurutkan berdasarkan apa yang sudah ditentukan oleh pemakai bahasa.[12]
I.         Kesimpulan
Dari hasil pembahasan diatas maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:
1.         Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf latin kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!).
2.         Adapun bagian- bagian kalimat terdiri atas: subyek, prediket, objek, pelengkap dan keterangan
3.         Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Merupakan unsur kalimat dasar yang sederhana

DAFTAR PUSTAKA


Ali, Lukman dkk.1991. Petunjuk Praktis Berbahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Badudu, J.S. 1983. Membina Bahasa Indonesia baku. Bandung: Pustaka Prima.
Finoza, Lamuddin. 2002.. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Insan Mulia.
Razak, Abdul. 1985. Kalimat Efektif. Jakarta: Gramedia.



[1]Ali, Lukman dkk, Petunjuk Praktis Berbahasa Indonesia.(Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,  1991)., hlm. 20.
[2]Ibid.,hlm. 25-31.
[3]Badudu, J.S. Membina Bahasa Indonesia baku. (Bandung: Pustaka Prima, 1983)., hlm. 45.
[4]Ali, Lukman dkk, op.cit.,hlm. 41.
[5]Finoza, Lamuddin. Komposisi Bahasa Indonesia.(Jakarta: Insan Mulia, 2002)., hlm. 153.
[6] Ali Lukman, Dkk.,op.cit., hlm. 63.
[7]Ibid.,hlm. 65.
[8]Finoza, Lamuddin, op.cit.,hlm. 164.
[9]Razak, Abdul. Kalimat Efektif. (Jakarta: Gramedia, 1985)., hlm. 5
[10]Ibid.,hlm. 6-12.
[11]Ibid.,hlm. 13.
[12]Ibid.,hlm. 15.

📢 Bagikan Postingan Ini

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman atau media sosial Anda.

Facebook WhatsApp Twitter Telegram Copy Link

🤝 Butuh Bantuan atau Dokumen Lain?

Terima kasih telah berkunjung ke blog KhairalBlog21. Jika Anda membutuhkan makalah, format surat resmi, administrasi sekolah, atau dokumen lain yang belum tersedia di blog ini, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak. Kami juga menerima request untuk pembuatan dokumen sesuai kebutuhan Anda.

Jangan ragu untuk memberikan saran dan masukan agar blog ini bisa lebih bermanfaat untuk semua. Klik tombol di bawah ini untuk langsung menghubungi kami via WhatsApp:

Kami siap membantu menyediakan dokumen pendidikan dan administrasi sesuai kebutuhan Anda 📚✍️


No comments:

💬 Tinggalkan Komentar Anda

Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️

Featured Post

CONTOH DAN DONWLOAD SURAT LAMARAN SEBAGAI SPG

Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) , tentunya diperlukan sebuah surat lamaran kerja yang baik dan b...