PENDIDIK, PESERTA DIDIK DAN ALAT PENDIDIKAN

Baca Juga


image source: http://global-news.co.id/

A.      Pendidik
Guru sebagai pendidik dalam lembaga sekolah, orang tua sebagai pendidik dalam lingkungan keluarga, dan pimpinan masyarakat baik formal maupun informal sebagai pendidik dilingkungan masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut diatas Syaifullah (1982) mendasarkan pada konsep pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang termasuk kategori pendidik adalah:[1]
1.      Orang tua
Pendidikan yang pertama dan utama adalah didalam keluarga atau rumah tangga atau keluarga. Pendidikandalam keluarga terjadi secara langsung dan terkadang juga hanya meurpakan contoh teladan yang diperhatikan orang tua kepadanya.[2]
Kedudukan orang tua sebagai pendidik, merupakan pendidik yang kodrati dalam lingkungan keluarga. Artinya orang tua sebagai pedidik utama dan yang pertama dan berlandaskan pada hubungan cinta-kasih bagi keluarga atau anak yang lahir di lingkungan keluarga mereka. Secara umum dapat dikatakan bahwa semua orang tua adalah pendidik, namun tidak semua orang tua mampu melaksanakan pendidikan dengan baik. sehingga kemampuan untuk menjadi orang tua sama sekali tidak sejajar dengan kemampuan untuk mendidik.
2.      Guru di Sekolah
Guru sebagai pendidik di sekolah yang secara lagsung maupun tidak langsung mendapat tugas dari orang tua atau masyarakat untuk melaksanakan pendidikan. Karena itu kedudukan guru sebagai pendidik dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan baik persyaratan pribadi maupun persyaratan jabatan.
Persyaratan pribadi didasarkan pada ketentuan yang terkait dengan nilai dari tingkah laku yang dianut, kemampuan intelektual, sikap dan emosional. Persyaratan jabatan (profesi) terkait dengan pengetahuan yang dimiliki baik yang berhubungan dengan pesan yang ingin disampaikan maupun cara penyampainannya, dan memiliki filsafat pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan.
3.      Pemimpin kemasyarakatan, dan pemimpin keagamaan
Selain orang dewasa, orang tua dan guru, pemimpin masyarakat dan pemimpin keagamaan merupakan pendidik juga. Peran pemimpin masyarakat menjadi pendidik didasarkan pada aktifitas pemimpin dalam mengadakan pembinaan atau bimbingan kepada anggota yang dipimpin. Pemimpin keagamaan sebagai pendidik, tampak pada aktifitas pembinaan atau pengembangan sifat kerohanian manusia, yang didasarkan pada nilai-nilai keagamaan.
B.  Peserta Didik
Perkembangan konsep pendidikan yang tidak hanya terbatas pada usia sekolah saja memberikan konsekuensi pada pengertian peserta didik. Kalau dulu orang mengasumsikan peserta didik terdiri dari anak-anak pada usia sekolah, maka sekarang peserta didik dimungkinkan termasuk juga didalamnya orang dewasa. Mendasarkan pada pemikiran tersebut di atas maka pembahasan peserta didik seharusnya bermuara pada dua hal tersebut di atas.
Persoalan yang berhubungan dengan peserta didik terkait dengan sifat atau sikap anak didik dikemukakan oleh Langeveld sebagai berikut:
Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, oleh sebab itu anak memiliki sifat kodrat kekanak-kanakan yang berbeda dengan sifat hakikat kedewasaan. Anak memiliki sikap menggantungkan diri, membutuhkan pertolongan dan bimbingan baik jasmaniah maupun rohaniah. Sifat hakikat manusia dalam pendidikan ia mengemukakan anak didik harus diakui sebagai makhluk individu dualitas, sosialitas dan moralitas. Manusia sebagai mahluk yang harus dididik dan mendidik.
Sehubungan dengan persoalan anak didik disekolah Amstrong 1981 mengemukakan beberapa persoalan anak didik yang harus dipertimbangkan dalam pendidikan.
Persoalan tersebut mencakup apakah latar belakang budaya masyarakat peserta didik ? bagaimanakah tingkat kemampuan anak didik ? hambatan-hambatan apakah yang dirasakan oleh anak didik disekolah ? dan bagaimanakah penguasaan bahasa anak di sekolah ? Berdasarkan persoalan tersebut perlu diciptakan pendidikan yang memperhatikan perbedaan individual, perhatian khusus pada anak yang memiliki kelainan, dan penanaman sikap dan tangggung jawab pada anak didik.[3]
C.    Alat Pendidikan
Alat pendidikan adalah segala sesuatu yang digunakan dalam proses pendidikan, baik berbentuk material maupun non-material. Alat pendidikan material adalah berbagai perlengkapan yang digunakan unutuk keperluan pelakasanaan proses pendidikan, biasanya berbentuk benda seperti sarana dan prasarana. Sedangkan alat pendidikan non material adalah suatu tindakan atau perbuatan atau situasi yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan, seperti : pembiasaan, menyuruh, larangan, menganjurkan, mengajak, memuji, menegur, menghukum dan berbagai bentuk perbuatan atau tindakan yang lainnya.
Prasarana yang dimaksudkan meliputi lahan dan bangunan, dan sarana prasarana meliputi alat bantu pelajaran misalnya benda, zat atau perkakas di laboratorium, alat atau perkakas di bengkel kerja, alat peraga ataupun buku dan semacamnya. Secara konseptual, optimalisasi peran alat pendidikan akan berkaitan dengan kecakapan pendidik dalam memilih dan menggunakannya, yang amat tergantung pada apa yang ingin tercapai dan dilakukannya dalam proses mendidik.[4]
D.      Kewibawaan
1.      Pengertian Kewibawaan
Konsep kewibawaan diadopsi dari bahasa Belanda yaitu ”gezaq” yang berasal dari kata “zeggen” yang  berarti “berkata”. Siapa yang perkataannya mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain, berarti mempunyai kewibawaan  atau gezaq terhadap orang itu.  Kewibawaan itu ada pada orang dewasa, terutama orang tua. Kewibawaan yang ada pada orang tua (ayah dan ibu) adalah asli. Orang tua dengan langsung mendapat tugas secara natural dari Tuhan untuk mendidik anak-anaknya, suatu hak yang tidak dapat dicabuk, karena terikat oleh kewajiban.[5]
Arti dari kata wibawa itu sendiri bias disebut sebagai “karisma”. Dengan demikian, kewibawaan pendidik adalah kepatuhan peserta didik secara sadar dan sukarela terhadap nasihat dan peraturan yang ditetapkan baik oleh agama, adat istiadat ,keluarga, pendidikan dan kurikulum. Berikut ini, beberapa definisi lain tentang kewibawaan, antara lain:[6]
Menurut Weins Tanlain, dkk. (1996) menjelaskan bahwa kewibawaanadalah adanya penerimaan, pengakuan, kepercayaan siswa terhadap gurusebagai pendidik yang memberi tuntunan dan nilai-nilai manusiawi. 
Menurut Charles Schaefer (1996) menjelaskan bahwa kewibawaan yangefektif didasarkan atas pengetahuan yang lebih utama atau keahlian yangdilaksanakan dalam suatu suasana kasih sayang dan saling menghormati.Oleh sebab itu, seorang pendidik diharapkan memiliki sikap kewibawaan agar mampu membimbing siswa kepada pencapaian tujuan belajar yang sesungguhnya ingin direalisasikan
Dalam situasi dan kondisi masyarakat sekarang kewibawaan sering diartikan sebagai suatu kelebihan yang dimiliki seseorang. Dengan kelebihan itu ia dihargai, dihormati, disegani, bahkan ditakuti oleh orang lain atau kelompok masyarakat tertentu. Kelebihan tersebut bisa dari segi ilmu, kepintarannya, kekayaannya, kekuatannya, kecakapannya, sifatnya, dan prilakunya (kepribadiannya).
2.      Fungsi Kewibawaan dalam pendidikan
Pendidik harus biasa menghadapi muridnya dengan kasih sayang tetapi juga tegas dan sistematis dalam pengaturan kerja. Menurut Prayitno (2002) menyatakan bahwa Hubungan antara pendidik dan peserta didik haruslah mengarah kepada tujuan-tujuan intrinsik pendidikan, dan terbebas dari tujuan-tujuan ekstrinsik yang bersifat pamrih untuk kepentingan pribadi pendidik. Sejalan dengan itu, wibawa guru (pendidik) dimata murid (peserta pendidik) kian jatuh seiring dengan adanya perubahan sosio-kultural masyarakat.[7]
Dikatakan demikian, karena khususnya di sekolah-sekolah kota yang hanya menghormati kewibawaan guru (pendidik) apabila ada maksud-maksud tertentu seperti untuk mendapatkan nilai tinggi. Kewibawaan yang hakiki itu melekat pada karakter bukan sekedar tampilanl uar yang setiap saat bisa luntur hanya karena suatu kesalahan. Sehingga sikap kewibawaan itu sangat penting bagi seorang pendidik.
Didalam pergaulan pendidikan terdapat kepatuhan dari anak, yaitu sikap menuruti atau mengikuti wibawa yang ada pada orang lain, mau menjalankan suruhan orang dewasa secara sadar. Tetapi tidak semua pergaulan antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan pendidikan, ada pula pergaulan yang semacam itu mempunyai pengaruh yang jahat atau pergaulan yang netral saja.Pengaruh yang dikatakan pendidikan adalah pengaruh yang menuju ke kedewasaan anak, untuk menolong anak menjadi orang yang kelak dapat atau sanggup memenuhi tugas hidupnya secara mandiri. Tidak semua tunduk atau menurut terhadap orang lain dapat dikatakan “tunduk terhadap wibawa pendidikan”. Sikap anak terhadap wibawa pendidikan, menurut longeveld ada dua buah kata yaitu:[8]
a.          Sikap menurut atau mengikut, yaitu mengakui kekuasaan orang lain yang lebih besar karena paksaan, takut, jadi bukan tunduk atau menurut yang sebenarnya.
b.          Sikap tunduk dan patuh, yaitu dengan sadar mengikuti kewibawaan, artinya mengakui hak orang lain untuk memerintah dirinya, dan dirinya merasa sendiri terikat akan memenuhi perintah itu.
Jadi fungsi wibawa pendidikan adalah membawa si anak ke arah pertumbuhannya yang kemudian dengan sendirinya mengakui wibawa orang lain dan mau menjalankannya.
a.         Mempengaruhi anak untuk menuju kekedewasaan
b.        Membantu anak menjadi orang yang kelak dapat dan sanggup memenuhi tugas hidupnya dengan berdiri sendiri
c.         Membawa anak kearah pertumbuhan yang kemudian dengan sendirinya mengakui wibawa orang lain dan mau menjalankannya juga
d.        Anak akan mengerti bahasa untuk menerima petunjuk-petunjuk tentang apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan oleh pendidik
e.         Membuat sianak mendapatkan nilai-nilai dan norma-norma hidup.
f.         Pendidik dapat menjalankan kewajibannya atas dasar cinta.
g.        Perputaran masyarakat menjadi baik
h.        Anak-anak akan berkembang jasmani dan rohaninya.
i.          Keluarga dapat terpelihara dan selamat .[9]
3.      Macam-macam kewibawaan
Ditinjau dari daya mempengaruhi seseorang, kewibawaan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :[10]
a.       Kewibawaan lahir
Kewibawaan lahir merupakan kewibawaan yang nampak dan terlihat pada diri seorang pendidik atau seorang guru. Kewibawaan lahir bisa nampak dari cara berpakaiannya, cara berbicaranya dan dari cara dia bertindak. Kewibawaan lahir ini bisa diraih dengan cara pembentukan fisik dan gerak yang kharismatik ketika berhadapan dengan peserta didik.
b.      Kewibawaan Batin
Kewibawaan bathin merupakan kewibawaan yang dimiliki oleh seorang guru atau pendidik yang tak nampak atau tidak terlihat, namun ketika ia hadir maka setiap siswa dapat merasakan bahwa ia adalah sosok yang mengagumkan dan sosok yang patut untuk dipatuhi perintahnya, harus didengarkan setiap perkataanya dan harus senantias menaruh hormat kepadanya. Meskipun pendidik tak melakukan atau berbicara apapun, namun karena kewibawaan yang terpancar dari dalam dirinya maka ia akan senantiasa dihormati oleh peserta didik atau muridnya.
Kewibawaan bathin ini bisa didapatkan dengan senantiasa mengoptimalkan potensi yang ada dalam diri kita atau dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Swt. Imam Al-Ghazali pernah berkata jika manusia ingin disebut sebagai manusia yang sesungguhnya maka ia harus senantiasa memperkuat ruhnya dengan amalan-amalan ukhrowi, karena ruh adalah sumber kebahagiaan, ruh adalah pemancar ketenangan dan harapan dan ruh ialah sumber dari kekuatan. Maka, untuk mengoptimalkan potensi ruhaniah yang ada pada diri kita hendaknya seorang pendidik haris senantiasa berdo’a dan mengingat Allah dalam setiap aktivitasnya, teruatama saat mendidik.
E.       Cirri-ciri Kedewasaan
Marc dan Angel (2007) mengemukakan bahwa kedewasaan seseorang bukanlah terletak pada ukuran usianya, tetapi justru pada sejauhmana tingkat  kematangan emosional yang dimilikinya. Berikut ini pemikirannya tentang ciri-ciri atau karakteristik kedewasaan seseorang yang sesungguhnya  dilihat dari kematangan emosionalnya yaitu sebagai berikut :[11]
  1. Tumbuhnya kesadaran bahwa kematangan bukanlah  suatu keadaan tetapi merupakan sebuah proses berkelanjutan dan secara terus menerus berupaya melakukan perbaikan dan peningkatan diri.
  2. Memiliki kemampuan mengelola diri  dari perasaan cemburu dan iri hati.
  3. Memiliki kemampuan untuk mendengarkan dan mengevaluasi dari sudut pandang orang lain.
  4. Memiliki kemampuan memelihara kesabaran dan fleksibilitas dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Memiliki kemampuan menerima fakta bahwa seseorang tidak selamanya dapat menjadi pemenang dan mau belajar dari berbagai kesalahan dan kekeliruan atas berbagai hasil yang telah dicapai.
  6. Tidak berusaha menganalisis  secara berlebihan atas hasil-hasil negatif yang diperolehnya, tetapi justru dapat memandangnya sebagai hal yang positif  tentang keberadaan dirinya.
  7. Memiliki kemampuan membedakan antara pengambilan keputusan rasional dengan dorongan emosionalnya (emotional impulse).
  8. Memahami bahwa tidak akan ada kecakapan atau kemampuan tanpa adanya  tindakan persiapan.
  9. Memiliki kemampuan mengelola kesabaran dan kemarahan.
  10. Memiliki kemampuan menjaga perasaan orang lain dalam benaknya dan berusaha  membatasi sikap egois.
  11. Memiliki kemampuan membedakan antara kebutuhan (needs) dengan keinginan (wants).
  12. Memiliki kemampuan menampilkan keyakinan diri tanpa menunjukkan sikap arogan (sombong).
  13. Memiliki kemampuan mengatasi setiap tekanan (pressure) dengan penuh kesabaran.
  14. Berusaha memperoleh kepemilikan  (ownership) dan bertanggungjawab atas setiap tindakan pribadi.
  15. Mengelola ketakutan diri (manages personal fears)
  16. Dapat melihat berbagai “bayangan abu-abu”  diantara ekstrem hitam dan putih dalam setiap situasi.
  17. Memiliki kemampuan menerima umpan balik negatif sebagai alat untuk perbaikan diri.
  18. Memiliki kesadaran akan ketidakamanan  diri dan harga diri.
  19. Memiliki kemampuan memisahkan perasaan cinta dengan berahi  sesaat.
  20. Memahami bahwa komunikasi terbuka adalah kunci kemajuan.








LINGKUNGAN PENDIDIKAN (ALAM, RUMAH TANGGA, MASYARAKAT DAN SEKOLAH)


A.      Lingkungan Pendidikan
1.      Pengertian Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia, baik berupa benda mati, makhluk hidup, ataupun peristiwa-peristiwa yang terjadi termasuk kondisi masyarakat terutama yang dapat memberikan pengaruh kuat kepada individu. Seperti lingkungan tempat pendidikan berlangsung dan lingkungan tempat anak bergaul. Lingkungan ini kemudian secara khusus disebut sebagai lembaga pendidikan sesuai dengan jenis dan tanggungjawab yang secara khusus menjadi bagian dari karakter lembaga tersebut.
Dalam memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak, lingkungan ada yang sengaja diadakan (usaha sadar) ada yang tidak usha sadar dari orang dewasa yang normatif disebut pendidikan, sedang ynag lain disebut pengaruh. Lingkunga yang dengan sengaja diciptakan untuk mempengaruhi anak ada tiga, yaitu : lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Ketiga lingkunga ini disebut lembaga pendidikan atau satuan pendidikan.[12]
Menurut Hasbullah (2003) lingkungan pendidikan mencakup :[13]
a.       Tempat (lingkungan fisik), keadaan iklim, keadaan tanah, keadaan alam.
b.      Kebudayaan (lingkungan budaya) dengan warisan budaya tertentu seperti bahasa, seni, ekonomi, ilmu pengetahuan, pandangan hidup, dan pandangan keagamaan.
c.       Kelompok hidup bersama (lingkungan sosial atau masyarakat) keluarga, kelompok bermain, desa, perkumpulan dan lainnya.
2.      Fungsi Lingkungan Pendidikan
Diantara fungsi lingkungan pendidikan adalah sebagai berikut :[14]
a.       Lingkungan pendidikan dapat menjamin kehidupan emosional peserta didik untuk tumbuh dan berkembang. Kehidupan emosional ini sangat penting dalam pembentukan pribadi anak.
b.      Lingkungan pendidikan membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya baik lingkungan fisik, sosial, maupun budaya, terutama berbagai sumberdaya pendidikan yang tersedia agar dapat dicapai tujuan pendidikan secara optimal.
c.       Lingkungan pendidikan berfungsi sebagai wahana yang amat besar bagi perkembangan individu dan masyarakat dalam memperluas dan mempercepat usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.
d.      Mengajarkan tingkah laku umum dan untuk menyeleksi serta mempersiapkan peranan-peranan tertentu dalam masyarakat.
e.       Di dalam lingkungan pendidikan dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik baik dalam bentuk karier, akademik, kehidupan beragama, kehidupan sosial budaya, maupun keterampilan lainnya.  [15]
Lingkungan pendidikan adalah tempat seseorang memperoleh pendidikan secara langsung dan tidak langsung. Oleh karena itu, lingkungan pendidikan ada yang bersifat sosial dan material. Lingkungan pendidikan secara garis besarnya oleh Ki Hajar Dewantoro dibagi menjadi tiga yang disebut denga Tri Pusat Pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.

B.       Lingkungan Keluarga
Manusia ketika dilahirkan di dunia dalam keadaan lemah. Tanpa pertolongan orang lain, terutama orang tuanya, ia tidak bisa berbuat banyak. Di balik keadaannya yang lemah itu ia memiliki potensi baik yang bersifat jasmani maupun rohani.
Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak, di lingkungan keluarga pertama-tama anak mendapatkan pengaruh sadar. Karena itu keluaraga merupaka kelompok primer yang terdiri dari sejumlah keluarga kecil karena hubungan sedarah yang bersifat informal dan kodrati dan menjadi lembaga pendidikan tertua. Keluarga bisa berbentuk keluarga inti (nucleus family : ayah, ibu, dan anak), ataupun keluarga yang diperluas (di samping inti, ada orang lain seperti kakek, nenek, ipar dan lain sebagainya).[16]
Keluarga sebagai lingkungan pendidikan yang pertama sangat penting dalam membentuk pola kepribadian anak. Karena di dalam keluarga, anak pertama kali berkenalan dengan nilai dan norma. Keluarga didasarkan pada cinta kasih yang sangat natural, sehingga suasana pendidikan yang berlangsung di dalamnya berdasarkan kepada suasana yang tanpa memikirkan hak.
Pendidikan keluarga memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar, agama, dan nilai moral, norma sosial dan pandangan hidup yang diperlukan peserta didik untuk dapat berperan dalam keluarga dan dalam masyarakat.
Lingkungan keluarga berpengaruh kepada anak dari sisi perlakuan, keluarga terhadap anak, kedudukan anak dalam keluarga, keadaan ekonomi keluarga,  keadaan pendidikan keluarga, dan pekerjaan orangtua.
Dari lingkungan keluarga yang harmonis mampu memancarkan keteladanan kepada anak-anaknya, karena dikatakan pendidikan pertama pada bayi atau anak itu berkenalan dengan lingkungan serta mendapat pembinaan pada keluarga.
C.    Lingkungan Sekolah
Sebagai akibat dari perkembangan ilmu dan teknologi dan terbatasnya orangtua dalam kedua hal tersebut, orangtua sangat penting dalam menyiapkan anak-anak untuk kehidupan mansyarakat. Sekolah memegang peranan penting dalam pendidikan karena pengaruhnya besar sekali pada jiwa anak. Karena itu di samping keluagra sebagai pusat untuk pendidikan, sekolah pun mempunyai fungsi sebagai pusat pendidikan untuk pembentukan kepribadian anak.
Pendidikan di sekolah mencakup pendidikan umum dalam mempersiapkan peserta didik menguasai kemampuan dasar untuk melanjutkan pendidikan atau memasuki lapangan kerja. Pendidikan sekolah biasanya disebut sebagai pendidikan formal karena ia adalah pendidikan yang mempunyai dasar, tujuan, isi, metode, alat-alatnya yang disusun secara eksplisit, sistematis, dan distandarisasikan. Penjabaran fungsi sekolah sebagai pusat pendidikan formal, terlihat pada tujuan instruksional, yaitu tujuan kelembagaan pada masing-masing jenis da tingkatan sekolah.[17]
Sekolah sebagai pendidikan formal dirancang sedemikian rupa agar lebih efektif dan efisien, yaitu bersifat klasikal dan berjenjang. System klasikal memungkinkan sejumlah anak belajar bersama dan dipimpin oleh seorang atau beberapa orang guru sebagai fasilitator. Sekolah memiliki cirri jenjang dapat dijelaskan sebagi berikut:[18]
1.      Jenjang lembaga, sekolah dirancang dengan berbagai tingkatan, dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai perguruan tinggi (PT). sebagian dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional dan sebagian lainnya dikelola oleh Departemen Agama.
2.      Jenjang kelas, berjenjang menurut tingkatan kelas, murid hanya bisa mengikuti pendidikan pada kelas yang lebih tinggi apabila ia telah mampu menyelesaikan pendidikan di tingkat sebelumnya. Jenjang kelas ini bervariasi, yaitu di tingkat SD/MI terdiri dari enam kelas, SMP/MTs terdiri dari tiga kelas, SMA/MA/sederajat terdiri dari tiga kelas, sedangkan di Perguruaan Tinggi tidak ditentukan dengan jenjang kelas.
Sekolah dianggap sebagai suatu lingkungan yang paling bertanggungjawab terhadap pendidikan murid-muridnya, lebih-lebih bila dikaitkan dengan pengabdian sumber daya manusia yang berkualitas untuk dapat bersaing secara global. Maka pembangunan sekolah dianggap sebagai investasi yang prosfektif demi menyongsong kemajuan bangsa.
D.      Lingkungan Masyarakat
Pendidikan dalam lingkungan masyarakat tampaknya sudah lebih maju dibandingankan dengan pendidikan dalam lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Karena masyarakat adalah salah satu lingkungan pendidikan yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi seseorang. Pandangan hidup, cita-cita bangsa, sosial budaya, dan perkembangan ilmu pengetahuan akan mewarnai keadaan masyarakat tersebut.
Masyarakat turut serta memikul tanggungjawab pendidikan. Pendidika kemasyarakatan merupakan wahana yang amat besar artinya bagi perkembangan individu dan masyarakat sebagai gerakan yang memperluas dan mempercepat usaha mencerdaskan bangsa.
Setiap masyarakat mempunyai mempunyai cita-cita, peraturan-peraturan dan sistem kekuasaan tertentu. Pendidikan dalam Lingkungan kehidupan. Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan pembentukan pengetahuan sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.
Pendidikan dalam pergaulan masyarakat terutama banyak sekali lembaga-lembaga pendidikan seperti masjid, surau atau langgar, musholla, madrasah, pondok pesantren, pengajian, kursus, dan badan-badan pembinaan rohani.[19]
























LANDASAN PSIKOLOGIS, SOSIOLOGIS DAN KULTURAL


A.      Landasan Psikologis
1.         Latar Psikologis
Landasan psikologis adalah asas pokok dari ilmu jiwa atau kejiwaan. Pemahaman peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan, merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Landasan psikologis pendidikan adalah suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya, serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi. Individu memiliki bakat, kemampuan, minat, kekuatan, serta tempo, dan irama perkembangan yang berbeda antara satu dengan lainnya.
Perbedaan individual terjadi karena adanya perbedaan berbagai aspek kejiwaan antarpeserta didik, bukan hanya yang berkaitan dengan kecerdasan dan bakat, tetapi juga perbedaan pengalaman dan tingkat perkembangan, perbedaan aspirasi dan cita-cita, bahkan perbedaan kepribadian secara keseluruhan.
Kajian psikologi yang erat hubungannya dengan pendidikan adalah yang berkaitan dengan kecerdasan (intelegensi dan bakat), berpikir, dan belajar. Pembentukan kecerdasan dapat dilakukan dengan menciptakan kondisi lingkungan, kesempatan, dan iklim emosi yang memungkinkan individu untuk memperoleh pengalaman tertentu. Dengan demikian, semakin baik kondisi-kondisi yang dimiliki individu, akan semakin meningkatkan kecerdasan individu untuk memperoleh pengalaman tertentu tersebut.




2.      Pengertian Landasan Psikologis
Pemahaman peserta didik merupakan kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam pendidikan terutama yang berkaitan dengan:[20]
a.         Perbedaan individual
b.        Kurikulum perlu disusun berdasarkan pengalaman belajar anak.
c.         Guru perlu memahami perkembangan kepribadian anak.
d.        Pendidikan hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan anak.
e.         Perlu diciptakan kondisi lingkungan yang dapat membantu peserta didik untuk mengembangkan potensi, kecerdasan, emosi, dan keterampilan dalam pendidikan.
Pendidikan adalah sesuatu yang universal dan berlangsung terus menerus dari generasi ke generasi. Upaya memanusiakan mannusia melalui pendidikan diselenggarakan sesuai dengan pandangan hidup sosial budaya setiap masyarakat. Pemahaman tentang landasan pendidiakan sangat penting untuk digunakan dalam mengambil keputusan dan tindakan yang tepat dalam pendididkan. Hal ini penting karena hasil pendidikan tidak segera nampak sehingga setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan dalam pendidikan harus diuji kebenarannya.
Manusia dilahirkan dengan sejumlah kebutuhan yang harus dipenuhi dan potensi yang harus dikembangkan. Dalam upaya memenuhi kebutuhannya itu maka manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Interaksi lingkungannya itu menyebabkan manusia mengembangkan kemampuannya melalui proses belajar. Seperti di kemukakakn teori A.maslow kategori kebutuhan menjadi enam kategori meliputi:[21]
a.       Kebutuhan fisiologis: kebutuhan memmpertahankan hidup (makan, tidur, istrahat dan sebagainya)
b.      Kebutuhan rasa aman: kebutuhan terus nenerus merasa aman dan bebasdari ketakutan
c.       Kebutuhan akan cinta dan pengakuan:kebutuhan rasa kasih sayang dalam kelompok
d.      Kebutuhan harga diri, artinya kebutuhan yang berkaitan dengan perolehan pengakuan oleh orang lain sebagai orang yang berkehendak baik.
e.       Kebutuhan akan alkuturasi diri:kebutuhan akan potensi potensi yang di miliki
f.       Kebutuhan untuk mengetahui dan di pahami:kebutuhan akan berkaitan dengan penguasaan iptek.
Untuk mewujudkan kebutuhan tersebut diatas perlu diupayakan oleh pendidik baik seacara individu maupun kelompok, dalam hal ini termasuk negara yang harus merancang dan mempersiapkan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut diatas, dengan usaha melalui pendidikan formal, nonformal dan informal mulai kecil sampai dewasa. Itu semua adalah dalam rangka membina kepribadian anak manusia itu sendiri. Alexander mengemukakan ada tiga faktor utama yang bekerka dalam menentukan pola kpribadian seseorang yaitu :
a.    Bakat atau hereditas individu
b.    Pengalaman awal di keluarga
c.    Peristiwa penting dalam hidupnya diluar lingkungan keluarga.
Ketiga hal ini akan membentuk kepribadian seseorang yang memunculkan sejumlah karakteristik, artinya perpaduan ketiga hal di atas akan memunculkan sesorang yang berbeda karakternya dengan yang lainnya.[22]
3.      Perkembangan Peserta Didik seabagai Landasan Psikologis
Perkembangan manusia berlangsung sejak konsepsi (pertemuan ovum dan sperma) sampai saat kematian, sebagai perubahan maju (progresif) ataupun kadang-kadang kemunduran (regresif).
Salah satu aspek dari pengembangan manusia seutuhnya adalah yang berkaitan dengan perkembangan kepribadian, utamanya agar dapat diwujudkan kepribadian yang mantap dan mandiri. Meskipun terdapat variasi pendapat, namun dapat dikemukakan beberapa prinsip umum kepribadian. Disebut sebagai prinsip prinsip umum karena:[23]
a.         Prinsip tersebut yang dikemukakan dengan variasi tertentu dalam berbagai teori kepribadian.
b.         Prinsip itu akan tampak bervariasi pada kepribadian manusia tertentu (sebab: kepribadian itu unik).
Terdapat dua hal kepribadian yang penting di tinjau dari konteks perkembangan kepribadian, yakni:[24]
a.         Terintegrasinya seluruh komponen ke dalam struktur yang teroganisir secara sistematik.
b.         Terjadi tingkah laku yang konsisiten dalam menghadapi lingkungan  
B.       Landasan Kultural
Kebudayaan tertentu diciptakan oleh orang di masyarakat tertentu tersebut atau dihadirkan dan diambil oper oleh masyarakat tersebut dan diwariskan melalui belajar/pengalaman terhadap generasi berikutnya. Kebudayaan seperti halnya sistem sosial di masyarakat merupakan kondisi esensial bagi perkembangan dan kehidupan orang
Proses dan isi pendidikan akan memberi bentuk kepribadian yang tumbuh dan pribadi-pribadi inilah yang akan menjadi pendukung, pewaris, dan penerus kebudayaan, secara ringkas adalah
1.         kebudayaan menjadi kondisi belajar,
2.         kebudayaan memiliki daya dorong, daya rangsang adanya respon-respon tertentu,
3.         kebudayaan memiliki sistem ganjaran dan hukuman terhadap perilaku tertentu sejalan dengan sistem nilai yang berlaku, dan
4.         adanya pengulangan pola perilaku tertentu dalam kebudayaan.
Tanpa pendidikan budaya dan manakala pendidikan budaya tersebut terjadi tetapi gagal, yang kita saksikan adalah kematian atau berakhirnya suatu kebudayaan.
Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan / dikembangkan dengan jalan mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baik secara informal maupun secara formal. Sebaliknya bentuk ciri-ciri dan pelaksanaan pendidikan itu ikut ditentukan oleh kebudayaan masyarakat dimana proses pendidikan itu berlangsung.
Anggota masyarakat berusaha melakukan perubahan-perubahan yang sesuai dengan perkembangan z aman sehingga terbentuklah pola tingkah laku, nilai-nilai, dan norma-norma baru sesuai dengan tuntutan masyarakat. Usaha-usaha menuju pola-pola ini disebut transformasi kebudayaan. Lembaga sosial yang lazim digunakan sebagai alat transmisi dan transformasi kebudayaan adalah lembaga pendidikan, utamanya sekolah dan keluarga.[25]
Pendidikan tidak hanya berfungsi untuk menstranmisi kebudayaan kepada generasi penerus, tetapi pendidikan juga berfungsi untuk menstranformasikan kebudayaan agar sesuai dengan perkembangan dan tujuan zaman. Dengan kata lain, sekolah secara seimbang melaksanakan fungsi ganda pendidikan , yakni sebagai proses sosialisasi dan sebagai agen pembaruan. Dalam bidang pendidikan, kedua fungsi tersebut kadang-kadang dipertentangkan, antara penganut pendidikan sebagai pelestarian (teashing a conserving activity).
Kebudayaan sebagai gagasan dan karya manusia beserta hasil budi dan karya itu akan selalu terkait dengan pendidikan, dan dalam belajar arti luas dapat berwujud:[26]
1.      Ideal seperti ide, gagasan, nilai dan sebagainya.
2.      Kegiatan yang berpola dari manusia dalam masyarakat, dan
3.      Fisik yakni benda hasil karya manusia
Pendidikan selalu terkait dengan manusia, sedang setiap manusia menjadi anggota masyarakat dan pendukung budaya. Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timabal balik. Kebudayaan dapat diwariskan ke generasi selanjutnya melalui pendidikan. Sistem pendidikan kita juga berakar pada kebudayaan bangsa indonesia dan berdasarkan pancasila dan UUD ’45. Pelestarian dan pengembangan kekayaan yang unik di setiap daerah itu melalui upaya pendidikan sebagai wujud dari kebineka tunggal ikaan masyarakat dan bangsa Indonesia.
Hal ini harsulah dilaksanakan dalam kerangka pemantapan kesatuan dan persatuan bangsa dan negara indonesia sebagai sisi ketunggal-ikaan. Karena masyarakat Indonesia sebagai pendukung kebudayaan itu adalah masyarakat yang majemuk, maka kebudayaan bangsa Indonesia tersebut lebih tepat disebut sebagai Kebudayaan Nusantara yang beragam. Puncak-puncak kebudayaan Nusantara itu dan yang diterima sacara nasional disebut kebudayaan nasional. Oleh karena itu, kebudayaan nasional haruslah dipandang dalam latar perkembangan yang dinamis seiring dengan semakin kukuhnya persatuan dan kesatuan bangsa indonesia sesuai dengan asas Bhineka Tunggal Ika.[27]


C.      Landasan Sosiologis
1.         Latar  Sosiologi
Salah satu tujuan sekolah adalah untuk membekali agar ia mampu menjadi anggota masyarakat yang berguna, karena sekolah telah memiliki peralatan dan tenaga personil serta sarana dan prasarana lainnya untuk membekali dan menginternalisasi nilai pada diri anak.
Keluarga kurang mampu membekali anak akan ilmu-ilmu dan keterampilan sesuai dengan tuntutan zaman. Lapangan kerja dan tuntunan sosial yang semakin luas didalam masyarakat menuntut adanya keseimbangan antara lapangan kerja dnegan tenaga yang siap pakai.
Anak dalam keluarga juga dalam sekolah dan masyarakat telah berhadapan dengan situasi dan kondisi yang tekadang tidak sesuai dengan usia mereka dan dapat memaksa perkembangan aspek tertentu dari kehidupan psikologisnya, sehingga mereka bisa lebih cepat masak dari usia semestianya dan tentu saja juga bisa merusak anak.
Perubahan drastis dalam perkembangan dunia, seperi teknologi yang begitu maju dihadapkan kepada anak, sehingga dalam ini sekolah harus pula mempersiapkan konsep yang sesuai dengan perkembangan zaman, terutama apabila dihadapkan kepada lapangan kerja yang menuntut anak didik harus mampu dan siap pakai untuk menerima dan mengolahnya.
Faktor sosial bisa menentukan kemajuan dan kemunduran belajar, baik dalam sekolah  maupun diluar sekolah seperti kondisi keluarga, tuntutan guru, bakat anak dan kebudayaan kelompok masyarakat.
2.         Pengertian tentang Landasan Sosiologis
Dasar sosiolagis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik masayarakat. Sosiologi pendidikan merupakan analisis ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiologi pendidikan meliputi empat bidang: [28]
a.         Hubungan sisitem pendidikan dengan aspek masyarakat lain, yang mempelajari:
1)        Fungsi pendidikan dalam kebudayaan
2)        Hubungan sistem pendidikan dan proses kontrol sosial dan sistem kekuasaan
3)        Fungsi sistem pendidikan dalam memelihara dan mendorong proses sosial dan perubahan kebudayaan
4)        Hubungan pendidikan dengan kelas sosial atau sistem status
5)        Fungsionalisasi sistem pendidikan formal dalam hubungannya dengan ras dan budaya.
b.      Hubungan kemanusiaan di sekolah yang meliputi:
1)        Sifat kebudayaan sekolah khususnya yang berbeda dengan kebudayaan di luar sekolah.
2)        Pola interaksi sosial atau struktur masyarakat sekolah.
c.         Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya,yang mempelajari:
1)        Peranan sosial guru.
2)        Sifat kepribadian guru .
3)        Pengaruh kepribadian guru terhadap tingkah laku siswa.
4)        Fungsi sekolah dalam sosialisasi anak.
d.      Sekolah dalam komunitas, yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya,yang meliputi:
1)        Pelukisan tentang komunitas seperti tampak dalam pengaruhnya terhadap organisasi sekolah
2)        Analisis tentangproses pendidikan seperti tampak terjadi pada sistem sosial komunitas dalam fungsi kependidikannya.
3)        Faktor-faktor demografi dan ekologi dalam hubungannya dengan organisasi sekolah.
4)        Hubungan antara sekolah dan komunitas dalam fungsi kependidikannya.
Kajian sosiologi tentang pendidikan pada prinsipnya mencakup semua jalur pendidikan, baik pendidikan sekolah maupun pendidikan diluar sekolah. Masyarakat Indonesia setelah kemerdekaan, utamanya pada zaman pemerintahan Orde Baru, telah mengalami banyak perubahan.
Suatu penelitian mengemukakan suatu kenyataan bahwa binatang memiliki ciri-ciri dan sifat-sifat hidup berkelompok antara lain sebagai berikut :
a.       Ada pembagian kerja yang tetap pada anggotanya,
b.      Ada ketergantungan antara anggota,
c.       Ada kerja sama antara anggota,
d.      Ada komunikasi antara anggota dan
e.       Ada diskriminasi antara individu yang hidup dalam suatu kelompok dengan individu yang hidupo dalam kelompok lain.
Ciri-ciri dan sifat binatang tersebut ternyata juga dimiliki oleh manusia. Kegiatan pendiudikan adalah suatu proses interaksi antara dua individu, beberapa orang, bahkan dua genereasi yang memungkinkan generasi muda mengembangkan dirinya. Pendidikan yang sistematis terjadi dilembaga sekolah dengan sengaja dibentuk masyarakat. Perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan semakin intensif. Dengan meningkatkan perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan tersebut, maka lahirlah cabang sosiologi pendidikan, Oleh karena itu kajian sosiologis tentang pendidikan mencakup semua jalur pendidikan tersebut..
Masyarakat dengan berbagai karakteristik sosiokultural inilah yang juga dijadikan landasan bagi kegiatan pendidikan pada suatu masyarakat tertentu. Bagi bangsa Indonesia, kondisi sosiokultural bercirikan dua, yaitu secara horisontal ditandai oleh kesatuan-kesatuan sosial sesuai dengan suku, agama adat istiadat dan kedaerahan. Secara vertikal ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan pola kehidupan antara lapisan atas, menengah dan bawah.
Disamping sekolah dan keluarga, proses pendidikan juga dipengaruhi oleh kelompok kecil dalam masyarakat. Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa telah mempengaruhi sistem pendidikan nasional. Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat dan komplek. Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan masyarakat terutama dalam hal menumbuhkembangkan Ke-Bhineka tunggal Ika-an, baik melalui kegiatan jalur sekolah (PPKn, Sejarah Perjuangan Bangsa, dan muatan lokal), maupun jalur pendidikan luar sekolah.[29]












DAFTAR PUSTAKA



Hasbullah. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009.
M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis Bandung: Pt Remaja
Sadulloh, Uyoh, Drs.,dkk. Pedagogic (Ilmu Mendidik). Bandung: Alfebata, 2010.
Wijanarko, Jarot. Mendidik anak: untuk meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritual. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007.
Abu Ahmadi Dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Jakarta: Pt Rineka Cipta, 2001.
Muslim Hasibuan, Dasar-dasar Pendidikan, Padangsidimpuan : IAIN Psp, 2012.
Robandi, B. Landasan Pendidikan. Bandung : Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Bandung, 1998.
Yunus, Firdaus M. 2004. Pendidikan Berbasis Realita. Yogyakarta: Lagung Pustaka, 2004.
M Athiyah dan Al-Abrasyi,  Dasar-Dasar Pendidikan.. Jakarta: Bulan Bintang, 2000.
Wasty Soemanto dan Hendyat Soetopo, Dasar dan Teori Pendidikan Dunia, Surabaya: Usaha Nasional, 1982.
Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan, jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006.
Umar Tirtarahardja, dkk. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Conny Seniawan,. Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar. Jakarta: Gramedia, 1951.
Parsono, Dkk. Landasan Kependidikan. Jakarta: Universitas Terbuka, tt.
Meilanie,Sri Martini, Pengantar Ilmu Pendidikan.(Jakarta : Universitas Negeri Jakarta.2009.



[1]Abu Ahmadi Dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan (Jakarta: Pt Rineka Cipta, 2001), hlm. 50.
[2]Muslim Hasibuan, Dasar-dasar Pendidikan, (Padangsidimpuan : IAIN Psp, 2012)., hlm. 70-71.
[3] Robandi, B. Landasan Pendidikan. (Bandung : Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Bandung, 1998)., hlm. 32.
[4] Sadulloh, Uyoh, Drs.,dkk. Pedagogic (Ilmu Mendidik). (Bandung: Alfebata, 2010)., hlm. 102.
[5]Yunus, Firdaus M. 2004. Pendidikan Berbasis Realita. Yogyakarta: Lagung Pustaka, 2004)., hlm. 80.
[6]Ibid., hlm,. 86.
[7]Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis (Bandung: Pt Remaja Rosda Karya, 2000)., hlm. 63.
[8]Ibid., hlm. 67.
[9]Ibid., hlm. 87-90.
[10]M Athiyah dan Al-Abrasyi,  Dasar-Dasar Pendidikan.. (Jakarta: Bulan Bintang, 2000)., hlm. 105.
[11]Ibid., hlm. 58.
[12]Wijanarko, Jarot. Mendidik anak: untuk meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritual. (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007), hlm. 100.
[13]Hasbullah. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009)., hlm. 25.
[14]Ibid., hlm. 36.
[15]Wasty Soemanto dan Hendyat Soetopo, Dasar dan Teori Pendidikan Dunia, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), hlm. 11-15
[16]Ibid., hlm. 16.
[17] Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan, (jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006),  h. 173-174
[18]Ibid., hlm. 175.
[19]M. Ngalim Purwanto, Op.Cit., hlm. 35-40.
[20] Umar Tirtarahardja, dkk. Pengantar Pendidikan. (Jakarta: PT Asdi Mahasatya)., hlm. 53.
[21]Muslim Hasibuan, op.cit., hlm. 46.
[22]Ibid., hlm. 46-47.
[23]Conny Seniawan,. Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar.( Jakarta: Gramedia, 1951)., hlm. 60.
[24]Ibid., hlm., 62.
[25]Tirtaraharja, op.cit., hlm. 30.
[26]Muslim Hasibuan, op.cit., hlm. 54
[27]Parsono, Dkk. Landasan Kependidikan. (Jakarta: Universitas Terbuka, tt)., hlm. 41.
[28] Meilanie,Sri Martini, Pengantar Ilmu Pendidikan.(Jakarta : Universitas Negeri Jakarta.2009)., hlm. 51.
[29] Tirtaraharja, ibid., hlm. 63-70.

📢 Bagikan Postingan Ini

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman atau media sosial Anda.

Facebook WhatsApp Twitter Telegram Copy Link

🤝 Butuh Bantuan atau Dokumen Lain?

Terima kasih telah berkunjung ke blog KhairalBlog21. Jika Anda membutuhkan makalah, format surat resmi, administrasi sekolah, atau dokumen lain yang belum tersedia di blog ini, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak. Kami juga menerima request untuk pembuatan dokumen sesuai kebutuhan Anda.

Jangan ragu untuk memberikan saran dan masukan agar blog ini bisa lebih bermanfaat untuk semua. Klik tombol di bawah ini untuk langsung menghubungi kami via WhatsApp:

Kami siap membantu menyediakan dokumen pendidikan dan administrasi sesuai kebutuhan Anda 📚✍️


No comments:

💬 Tinggalkan Komentar Anda

Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️

Featured Post

CONTOH DAN DONWLOAD SURAT LAMARAN SEBAGAI SPG

Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) , tentunya diperlukan sebuah surat lamaran kerja yang baik dan b...