A. Pendahuluan
Evaluasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran, kita sering mendengar istilah latihan, ujian, ulangan, middle, quis, Ebtanas, UAN, dan sebagainya. Kesemuanya itu merupakan jenis-jenis evaluasi, mengapa evalusi tidak dapat dipisahkan dari sebuah proses pembelajaran untuk menjawab pertanyaan itu, coba kita perhatikan, proses pembelajaran ibarat sebuah alat transportasi, tujuan dari pendidikan merupakan tempat tujuan kita, dan evalusi ibarat argo yang mengukur apakah kita sudah sampai tujuan atau belum. Dalam pendidikan Bahasa Arab, tujuan merupakan sasaran ideal yang hendak dicapai. dengan demikian kurikulum telah di rancang, di susun dan di proses dengan maksimal hal ini pendidikan Islam mempunyai tugas yang berat. Di antara tugas itu adalah mengembangkan potensi fitrah manusia (anak). Untuk mengetaui kapasitas, kwalitas, anak didik perlu diadakan evaluasi. Dalam evaluasi perlu adanya teknik, dan sasaran untuk menuju keberhasilan dalam proses belajar mengajar.
Evaluasi yang baik haruslah didasarkan atas tujuan pengajaran yang ditetapkan oleh suro dan kemudian benar-benar diusahakan oleh guru untuk siswa. Betapapun baiknya, evaluasi apabila tidak didasarkan atas tujuan pengajaran yang diberikan, tidak akan tercapai sasarannya.
B. Pengertian Evaluasi Pembelajaran Bahasa Arab
Secara etimologi, ‘’evaluasi” berasal dari kata ‘’to evaluate’’yang berarti ‘’menilai’’. Evaluasi pendidikan agama ialah suatu kegiatan untuk menentukan taraf kemajuan suatu pekerjaan di dalam pendidikan agama. Evaluasi adalah alat untuk mengukur ampai dimana penguasaan murid terhadap pendidikan yang telah diberikan. Yang dimaksud dengan penilaian dalam pendidikan adalah keputusan-keputusan yang diambil dalam proses pendidikan secara umum; baik mengenai perencanaan, pengelolaan, proses dan tindak lanjut pendidikan atau yang menyangkut perorangan, kelompok, maupun kelembagaan. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan evaluasi dalam pendidikan Bahasa Arab adalah pengambilan sejumlah keputusan yang berkaitan dengan pendidikan bahasa arab guna melihat sejauh mana keberhasilan pendidikan yang selaras dengan nilai-nilai islam sebagai tujuan dari pendidikan islam itu sendiri. Atau lebih singkatnya yang dimaksud dengan evaluasi disini adalah evaluasi tentang proses belajar mengajar dimana guru berinteraksi dengan siswa. C. Tujuan Dan Fungsi Evaluasi Pembelajaran Bahasa Arab
Adapun tujuan dan fungsi hasil-hasil evaluasi pada dasarnya dapat digolongkan menjadi empat kategori:
1. Untuk memberikan umpan balik (feedback) kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar.
2. Untuk menentukan angka/hasil belajar masing-masing murid yang antara lain diperlukan untuk penentuan kenaikan kelas dan penentuan lulus tidaknya murid.
3. Untuk menempatkan murid dalam situasi belajar mengajar yang tepat, sesuai dengan tingkat kemampuan (karakteristik) lainnya yang dimiliki murid.
4. Untuk mengenal latar belakang (psikologi, fisik, dan lingkungan) murid yang mengalami kesulitan-kesulitan belajar, yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar dalam memecahkan kesulitan-kesulitan tersebut.
Pelaksanaan fungsi pertama dan kedua terutama menjadi tanggung jawab guru sedangkan pelaksanaan fungsi ketiga dan keempat lebih merupakan tanggung jawab bimbingan dan penyuluhan. Sehubungan dengan keempat fungsi yang dikemukakan di atas, evaluasi hasil belajar dapat digolongkan menjadi empat jenis, yaitu:
1. Evaluasi Formatif
Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk keperluan memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan melaksanakan pelayanan khusus bagi murid/siswa. Evaluasi ini jarang dipraktekkan oleh guru-guru di sekolah sebagaiman yang seharusnya.
2. Evaluasi Sumatif
Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dlaksanakan untuk keperluan memberikan angka kemajuan belajar murid/siswa yang sekaligus dapat digunakan untuk pemberian laporan kepada orang tua, penentuan lenaikan kelas, dan sebagainya.
3. Evaluasi Penempatan
Evaluasi penempatan adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk keperluan penempatan murid/siswa pada situasi belajar mengajar yang tepat, sesuai dengan tingkat kemampuan lainnya yang dimilikinyaa.
4. Evaluasi Diagnostik
Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk keperluan latar belakang (psikologi, fisik, lingkungan) dari murid/ siswa yang mengalami kesulitan-kesulitan dalam belajar, yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar dalam memecahkan kesuliatan –kesuliatan tersebut. Evaluasi jenis ini erat hubungannya dengan kegiatan bimbingan dan penyuluhan di sekolah.
Sementara itu Ramayulis berpendapat bahwa, sebagai salah satu komponen penting dalam pelaksanaan pendidikan Islam, evaluasi berfungsi untuk:
1. Mengetahui tingkat kepahaman anak didik terhadap mata pelajaran yang disampaikan.
2. Mendorong kompetisi yang sehat antar peserta didik.
3. Mengetahui perkembangan anak didik setelah mengikuti proses belajar mengajar.
4. Mengetahui akurat tidaknya guru dalam memilih bahan, metode dan berbagai penyesuaian dalam kelas.
Tidak jauh berbeda dengan Ramayulis, Armai Arief menyebutkan beberapa fungsi evaluasi pendidikan islam sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui sejauhmana efektivitas cara belajar mengajar yang telah dilakukan, khususnya yang berkenaan dengan anak didik.
2. Untuk mengetahui prestasi belajar siswa guna mengambil keputusan apakah materi pelajaran bisa dilanjutkan atau tidak.
3. Untuk mengumpulkan informasi tentang taraf perkembangan dan kemajuan yang diperoleh oleh anak didik dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum pendidikan Islam.
4. Sebagai bahan laporan kepada wali murid tentang hasil belajar siswa yang bersangkutan, baik berupa buku raport, piagam, sertifikat, ijazah dan lain-lain.
5. Untuk membandingkan hasil pembelajaran yang diperoleh sebelumnya dengan hasil pembelajaran yang dilakukan sesudah itu, guna meningkatkan pendidikan.
Dari uraian tentang fungsi evaluasi tersebut di atas, tampak bahwa evaluasi pendidikan hanya berjalan satu arah, yakni yang di evaluasi hanya elemen siswa saja.Karena masalah cultural, kata Abdurrahman Mas’ud, anak didik tidak memperoleh kesempatan untuk memberi umpan balik kepada sekolah mengenai gurunya, apalagi mengevaluasi guru tersebut.
D. Jenis Evaluasi Pembelajaran PAI
Jenis-jenis evaluasi yang dapat diterapkan dalam pendidikan Islam ada beberapa macam yaitu:[10] 1. Evaluasi formatif
Evaluasi ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai anak didik setelah ia menyelesaikan program dalam satuan bahan pelajaran pada suatu bidang studi tertentu.
2. Evaluasi sumatif
Yaitu evaluasi yang dilakukan terhadap hasil belajar peserta didik setelah mengikuti pelajaran utuk menentukan jenjang pendidikan berikutnya.
3. Evaluasi penempatan (placement)
Yaitu evaluasi yang dilakukan sebelum peserta didik mengikuti proses belajar mengajar untuk kepentingan penempatan pada jurusan atau fakultas yang diingini.
4. Evaluasi diagnostik
Yaitu evaluasi yang dilakukan tehadap hasil penganalisaan tentang keadaan belajar peserta didik, meliputi kesulitan-kesulitan atau hambatan yang ditemui dalam situasi belajar mengajar.
5. Evaluasi prasyarat
Evaluasi jenis ini sangat mirip dengan pre test. Tujuannya adalah mengidentifikasi penguasaan siswa atas materi lama yang mendasari materi baru yang akan diajarkan.
Sebagai suatu program, evaluasi pembelajaran dibagi menjadi lima jenis, yaitu:[11] 1. Evaluasi perencanaan dan pengembangan
Hasil evaluasi ini sangat diperlukan untuk mendesain program pembelajaran. Sasaran utamanya adalah memberikan bantuan tahap awal dalam penyusunan program pembelajaran. Persoalan yang disoroti menyangkut tentang kelayakan dan kebutuhan. Hasil evaluasi ini dapat meramalkan kemungkinan implementasi program dan tercapainya keberhasilan program pembelajaran. Pelaksanaan evaluasi dilakukan sebelum program sebenarnya disusun dan dikembangkan.
2. Evaluasi monitoring
Evaluasi ini dimaksudkan untuk memeriksa apakah program pembelajaran mencapai sasaran secara efektif dan apakah program pembelajaran terlaksana sebagaimana mestinya.
3. Evaluasi dampak
Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh suatu program pembelajaran. Dampak ini dapat diukur berdasarkan kriteria keberhasilan sebagai indikator ketercapaian tujuan program pembelajaran.
4. Evaluasi efisiensi-ekonomis
Evaluasi ini dimaksudkan untuk menilai tingkat efisiensi pelaksanaan program pembelajaran untuk itu diperlukan perbandingan antara jumlah biaya,tenaga dan waktu yang diperlukan dalam suatu program pembelajaran dengan program lainnyan yang memiliki tujuan yang sama.
5. Evaluasi program komprehensif
Evaluasi ini dimaksudkan untuk menilai program pembelajaran secara menyeluruh, seperti perencanaan program, monitoring pelaksanaan, dampak program, tingkat keefektifan dan efisiensi.
E. Strategi evaluasi Pembelajaran Bahasa Arab
1. Prinsip-prinsip Evaluasi Pembelajaran
Paling tidak ada tujuh prinsip yang mesti diperhatikan oleh pendidik sebagai faktor pendukung/ penunjang dalam melaksanakan evaluasi yaitu :
a. Prinsip berkesinambungan ( Continuity)
Prinsip ini mempunyai maksud bahwa evaluasi tidak hanya dilakukan secara insedentil belaka(umpama hanya tiap caturwulan sekali) karena pendidikan itu merupakan proses yang kontinu, maka penilaian pun dilakukan dengan kontinu. Hasil penilaian yang diperoleh di suatu waktu senantiasa dihubungkan dengan waktu yang lalu, sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas tentang perkembangan anak. b. Prinsip menyeluruh (comprehensive)
Prinsip ini menekankan pelaksanaan evaluasi dengan baik secara utuh dan menyeluruh keseluruhan aspek tingkah laku siswa, aspek berpikir, aspek nilai dan sikap, dan aspek ketrampilan yang ada pada siswa.
c. Prinsip Objektivitas
Tiap penilaian harus dilakukan seobjektif mungkin, dalam hal ini si penilai/ guru harus menjauhkan sikap atau perasaan benci, kesal, kasih sayang, kasihan, hubungan keluarga, dan lain-lain. Hal ini tidak boleh dipengaruhi dalam penilaian.
d. Prinsip Validitas dan Reliabilitas
Validitas merupakan suatu konsep yang menyatakan bahwa alat evaluasi yang dipergunakan benar-benar dapat mengukur apa yang hendak diukur. Yang diukur adalah partisipaso siswa dalam pembelajaran, kehadiran, konsentrasi saat belajar, kecepatan dalam menjawab dan lain-lain.
Reliabilitas adalah ketetapan yaitu hasil dari suatu evaluasi yang dilakukan memunjukkan suatu ketetaapan ketika diberikan kepada para siswa yang sama dalam waktu yang berlainan. e. Prinsip Kegunaan
Evaluasi yang dilakukan hendaknya bermanfaat bagi para siswa maupun bagi guru. Kemanfaatan ini diukur dari aspek waktu, biaya, fasilitas, dan lain-lain.
f. Prinsip Praktikabilitas
Suatu evaluasi dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila evaluasi tersebut bersifat prkatis (mudah dilaksanakan) dan mudah peadministrasiannya (mudah pemeriksaan) dan dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas. g. Prinsip Koperatif
Hendaknya penilaian dilakukan bersama-sama oleh semua guru yang bersangkutan. Terlebih pada sekolah lanjutan, karena anak didik diasuh oleh banyak guru. Hasil evaluasi banyak guru perlu didata, bahkan juga evaluasi para orang tua murid juga perlu dipertimbangkan. Jadi, bukan hanya wali kelas saja.
2. Macam-Macam Metode Evaluasi
Pada situasi kelas yang sebenarnya, dimana seseorang guru misalnya memiliki 24 siswa atau lebih, peru melakukan evaluasi dengan cara yang baik, untuk mencapai tujuan itu ia perlu menguasai macam-macam metode untuk melakukan evaluasi yang relevan. Secara garis besar metode evaluasi dalam pendidikan dapat di bedakan menjadi dua macam bentuk, yiatu Tes Dan Nontes.
a. Tes
Tes yang biasanya di realisasikan dengan tes tertulis. Tes ini digunakan utamanya untuk memperoleh data, baik data kuantitatif maupun data kualitatif. Testertulis juga biasanya di bedakan menjadi dua, yaitu :
1) Tes objektif
Tes objektif pada umumnya disebut juga sebagi alat evaluasi guna mengungkapkan atau menghafal kembali dan mengenal materi yang telah di berikan. Tes ini biasanya diberikan dengan item pertanyaan menghafal yang di antaranya sebagai jawaban bebas, melengkapi, dan identifikasi.
2) Tes esai
Tes esai pada umumnya dapat di bedakan ke dua jawaban berbeda, yaitu jawaban terbatas dan jawaban luas. Evaluasi yang di buat dengan mengunakan pertanyaan esai biasanya digunakan untuk menerangkan, menunjukkan hubungan, memberikan pembuktian, menganalisis perbedaan, menarik kesimpulan, dan lain-lain.
Secara umum, ada dua macam fungsi yang dimiliki oleh tes, yaitu:
1) sebagai alat pengukur terhadap peserta didik. Dalam hubungan ini tes berfungsi mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik setelah mereka menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu.
2) sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran, sebab melalui tes tersebut akan dapat diketahui sudah berapa jauhkah program pengajaran yang telah ditentukan, telah dapat dicapai.
b. Non Tes
Alat nontes ini di gunakan untuk mengevaluasi penampilan dan aspek-aspek belajar efektif dari siswa. Alat nontes yang sering di gunakan adalah :
1) Observasi
Dengan menggunakan alat observasi, seorang guru dapat mengevaluasi penampilan siswa yang baru melakukan kegiatan terencana, seperti kerja laboratorium, kebiasaan, demonstrasi, tingkah laku kelas, dan asumsi pertanggung jawaban.
2) Laporan
Alat ini digunakan oleh para siswa yang mengerjakan evaluasi sendiri (self evaluasion) sebagai bentuk evaluasi mereka.
3) Angket atau kuesioner
Bannyak di gunakan dalam proses penelitian guna mengeksplorasi informasi atas dasar pilihan siswa. Dalam evaluasi, angket sering digunakan untuk menentukan kondisi tertentu dan fakta tentang siswa.
3. Syarat Tes yang Baik
a. Validitas
Ketentuan penting dalam evaluasi adalah bahwa hasilnya harus sesuai dengan keadaan yang dievaluasi. Mengevaluasi dapat diumpamakan sebagai pekerjaan memotret. Gambar potret atau foto dikatakan baik apabila sesuai dengan aslinya. Data evaluasi yang baik sesuai dengan kenyataan disebut data valid.[15]Validitas adalah suatu standart ukuran yang menunjukan ketepatan dan kessahihan suatu instrument. Validitas terbagi menjadi dua jenis yaitu pertama validitas yang menyangkut soal secara keseluruhan. Kedua yakni validitas yang menyangkut butir soal atau item dan Validitas factor yang menyangkut bagian materi.
Secara garis besar ada dua macam validitas, yaitu:[16] 1) Validitas logis
Istilah validitas logis berasal dari kata logika yang berarti penalaran. Dengan demikian maka vaiditas logis untuk sebuah instrument evaluasi menunjuk pada kondisi bagi sebuah instrument yang memenuhi persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran. Ada dua macam validitas logis yang dapat dicapai oleh sebuah instrument yaitu:
a) Validitas isi (content validity)
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Validitas ini dapat diusahakan tercapai sejak saat penyusunan dengan cara memerinci materi kurikulum atau materi buku pelajaran.
b) Validitas konstrak (construct validity)
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstrak apaila butir-butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berfikir seperti yang disebutkan dalam tujuan instruksional khusus. Konstrak dalam pengertian ini bukanlah susunan seperti yang sering dijumpai dalam tehnik, tetapi merupakan rekaan psikologis, yaitu suatu rekaan yang dibuat oleh para ahli ilmu jiwa dengan cara tertentu “memerinci”.
2) Validitas empiris
Validitas empiris memuat kata empiris yang artinya pengalaman. Sebuah instrument dapat dikatakan memiliki validitas empiris apabila sudah diuji dari pengalaman. Validitas empiris terbagi menjadi dua yaitu:[17] a) Validitas “ada sekarang” (concurrent validity)
Validitas ini lebih umum dikenal dengan validitas empiris. Sebuah tes dikatakan validitas empiris jika hasilnya sesuai dengan pengalaman. Jika ada istilah “sesuai” tentu ada dua hal yang dipasangkan. Dalam hal ini, hasil tes dipasangkan dengan hasil pengalaman.
b) Validitas prediksi (predictive validity)
Memprediksi artinya meramal, dengan meramal selalu mengenal hal yang akan datang. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas prediksi atau validitas ramalan apabila mempunyai kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.
b. Reliabilitas
Kata realibilitas dalam bahasa indonesia diambil dari kata reliability dalam bahasa inggris, berasal dari kata asal reliable yang artinya dapat dipercaya. Seperti halnya istilah validitas dan valid, kekacauan dalam penggunaan istilah “realibilitas” sering dikacaukan dengan istilah “reliabel”. “realibilitas” merupakan kata benda, sedangkan “reliabel” merupakan kata sifat atau kata keadaan.[18] Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta atau kenyataan hidup tadi diukur atau diamati berkali-kali dalam waktu yang berlainan. Seseorang dapat dikatakan dapat dipercaya jika seseorang tersebut selalu berbicara ajeg, tidak berubah-ubah pembicaraannya dari waktu ke waktu.
Demikian pula halnya sebuah tes. Tes tersebut dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap apabila di teskan berkali kali. Sebuah tes dikataka reliabel apabila hasil tes tes tersebut menunjukkan ketetapan. Dengan kata lain, jika kepada para siswa diberikan tes yang sama pada waktu yang berlainan, maka setiap siswa akan tetap berada dalam urutan (ranking) yang sama dalam kelompoknya.
Walaupun tampaknya hasil tes pada pengetesan kedua lebih baik, akan tetapi karena kenaikannya diambil oleh semua siswa, maka tes yang digunakan dapat dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi. Kenaikan hasil tes kedua barang kali disebabkan oleh adanya “pengalaman” yang diperoleh pada waktu mengerjakan tes pertama, dalam keadaan seperti ini dikatakan bahwa ada carry-over effet atau practice-effect, yaitu adanya akibat yang dibawa karena siswa telah mengalami suatu kegiatan. Jika dihubungkan dengan validitas makaValiditas adalah ketepatandan Realibilitas adalah ketetapan.
c. Objektivitas
Dalam pengertian sehari-hari objektif berarti tidak adanya unsur pribadi yang mempengaruhi. Lawan dari objektif adalah subjektif, artinya terdapat unsur pribadi yang masuk memengaruhi. Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor subjektif yang memengaruhi. Hal ini terutama terjadi pada sistem skoringnya.Apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka objektivitas menekankan ketetapan (consistency) pada sistem skoring, sedangkan realibilitas menekankan ketetapan dalam hasil tes.
d. Praktikabilitas (practicability)
Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis, mudah pengadministrasiannya.[19] Tes yang praktis adalah tes yang:
1) Mudah dilaksanakan, misalnya tidak menuntut peralatan yang banyak dan memberi kebebasan pada siswa untuk mengerjakan terlebih dahulu bagian yang dianggap mudah oleh siswa.
2) Mudah pemeriksaannya, artinya bahwa tes itu dilengkapi dengan kunci jawaban maupun pedoman skoringnya. Untuk soal bentuk objektif, pemeriksaan akan lebih mudah dilakukan jika dikerjakan oleh siswa dalam lembar jawaban.
3) Dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas.
e. Ekonomis
Yang dimaksud dengan ekonomis disini adalah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak membutuhkan biaya yang mahal, tenaga yang banyak dan waktu yang lama.
f. Efisiensi
Yaitu tes ang dilakukan merupakan tes yang mudah administrasinya, penilaian dan interpretasinya (penafsirannya). Selain itu, evaluasi yang dilaksanakan harus secara cermat dan tepat pada sasarannya.
4. Langkah-langkah Pelaksanaan Evaluasi
Setelah ada tujuan dari pengajaran, guru yang bertindak sebagai evaluator segera harus berpikir tentang langkag agar tujuan yang diharapkan terlaksana, tentu disini yang terpikir adalah cara evaluasi atau cara mengetes. Di dalam berbagai buku diuraikan berbagai macam langkah-langkah evaluasi, dalam makalah ini akan dirincikan beberapa langkah-langkah evaluasi sebagai berikut : a. Langkah Perencanaan
Di dalam taraf perencanaan, evaluator perlu merencanakan segenap langkah pendahuluan yang dapat melancarkan proses evaluasi itu sendiri, misalnya, penyusunan skedul untuk waktu-waktu pengumpulan data, mempersiapkan alat yang akan dipergunakan untuk mengumpulkan data, mengumpulkan data menurut ketentuan jenisnya, menentukan jenis pengolahan data dan lain-lainnya.
1) Menyusun Kisi-Kisi.
Kisi-kisi adalah format pemetaan soal yang menggambarkan distribusi item untuk berbagai topik atau pokok bahasan berdasarkan jenjang kemampuan tertentu yang berfungsi sebagai pedoman untuk menulis soal atau merakit soal menjadi perangkat tes. Kisi-kisi yang baik akan memperoleh perangkat soal yang relatif sama sekalipun penulis soalnya berbeda. Kisi-kisi penting dalam perencanaan penilaian hasil belajar karena di dalamnya terdapat sejumlah indikator sebagai acuan dalam mengembangkan instrumen (soal) dengan persyaratan. a) Representatif, yaitu harus betul-betul mewakili isi kurikulum sebagai sampel perilaku yang akan di nilai
b) Komponen-komponennya harus terurai/terperinci, jelas, dan mudah dipahami
c) Soalnya dapat dibuat sesuai dengan indikator dan bentuk soal yang diterapkan. 2) Uji Coba
Jika soal dan perangkatnya sudah disusun dengan baik, maka perlu diuji cobakan terlebih dahulu di lapangan. Tujuannya untuk melihat soal-soal mana yang perlu diubah, diperbaiki, bahkan dibuang sama sekali. Soal yang baik adalah soal yang sudah mengalami beberapa kali uji coba dan revisi, yang didasarkan atas analisis empiris dan rasional. Hal ini dimaksudkan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan setiap soal. b. Langkah Pengumpulan Data
Pada dasarnya banyak hal yang perlu dikumpulkan dalam pengumpulan data, seperti mempertimbangkan tujuan pengajaran, memperhatikan aspek tingkah laku siswa, selanjutnya buku-buku pelajaran(teksbook)yang pernah digunakan dengan tidak menafikan buku lain yang relevan, dan tidak kalah penting adalah pengetahuan mengenai alat-alat yang hendak dipergunakan, yang terakhir adalah metodologi dari pengumpulan data yang menurut pemakalah hal ini akan ditempuh oleh masing-masing individu evaluator.
Jenis evaluasi yang digunakan akan mempengaruhi seorang evaluator dalam menentukan prosedur, metode, instrumen, waktu pelaksanaan, sumber data dan sebagainya, yang pelaksanaannya dapat dilakukan dengan : 1) Non-tes yang dimaksudkan untuk mengetahui perubahan sikap dan tingkah laku peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, pendapat terhadap kegiatan pembelajaran, kesulitan belajar, minat belajar, motivasi belajar dan mengajar dan sebagainya. Instrumen yang digunakan: (1) angket; (2) pedoman observasi; (3) pedoman wawancara; (4) skala sikap; (5) skala minat; (6) daftar chek; (7) rating scale; (8) anecdotal records; (9) sosiometri; (10) home visit
2) Untuk mengetahui tingkat penguasaan kompetensi menggunakan bentuk tes pensil dan kertas (paper and pencil test) dan bentuk penilaian kinerja (performance), memberikan tugas atau proyek dan menganalisis hasil kerja dalam bentuk portofolio.
c. Langkah Penelitian Data
Segenap data yang telah terkumpul di dalam langkah pengumpulan data diolah lebih lanjut yang proses penyaringan data, atau disebut penelitian data. Dalam langkah ini evaluator memisahkan data yang baik dengan data yang kurang baik. Tuntutan penting disini adalah evaluator diharapkan bekerja sama dengan pihak lain atau tidak bekerja sendiri di dalam penelitian data, serta evaluator dapat membatasi diri artinya guru sudah harus memperkirakan datanya agar mencegah hal-hal yang jauh dari target semula.
d. Langkah Pengolahan Data
Mengolah hasil dilakukan dengan maksud memberikan makna terhadap data yang telah berhasil dihimpun sebelumnya. Untuk keperluan itu, maka disusun atau diatur hasil evaluasi sedemikian rupa.caranya dengan berbagai macam statistik maupun nonstatistik. Dengan uraian yang telah disajikan, jelas bahwa fungsi pengelolaan data dalam proses evaluasi merupakan sebuah keharusan untuk kelengkapan evaluasi tersebut.
e. Langkah penafsiran Data dan Menarik Kesimpulan
Penafsiran data dalam proses evaluasi merupakan verbalisasi dari makna yang terkandung dalam data yang telah mengalami beberapa langkah di atas, sehingga dapat dikemukakan kesimpulan-kesimpulan tertentu. Kesimpulan-kesimpulan tersebut mengacu pada tujuan dilakukannya evaluasi.
f. Laporan Hasil Penelitian
Pada akhir jenjang sebuah proses belajar seperti semester, akhir tahun ajaran, maka diperlukan suatu laporan kemajuan anak didik, yang mana ini merupakan laporan kemajuan sekolah, agar anggota masyarakat mengetahui secara objektif tingkat kemajuan peserta didik. Lembaga sekolah harus membuka diri untuk memberi informasi secara berkala.
F. Penutup
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Dan Pemakalah mengucapkan banyak terimakasih kepada semua yang telah membantu menyelesaikan makalah ini. Pemakalah menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu mohon kritik dan sarannya untuk perbaikan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, dan dengan mengetahui semua hal yang berkaitan dengan strategi evaluasi pembelajaran Bahasa Arab, semoga kita dapat melakukan evaluasi pembelajaran secara maksimal agar tujuan dari pendidikan itu sendiri dapat tercapai secara maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Arif, Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2002.
Eko Putro Widoyoko, Evaluasi Program Pembelajaran, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2013.
Usman, Basyiruddin, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.
Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009.
Zuhairini dkk, Metodologi Penelitian Agama,Solo: Ramadhani, 1993.
Zuhairini dkk, Metodologi Penelitian Agama, (Solo: Ramadhani, 1993), hlm.146
Arif, Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 54
Usman, Basyiruddin, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm.130
Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009)., hlm. 35. Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2013)., hlm. 79. Eko Putro Widoyoko, Evaluasi Program Pembelajaran, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 99.
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️