A. Pendahuluan
Kita telah mengetahui bersama, teknologi berkembang dengan sangat pesat baik teknologi komunikasi maupun teknologi informasi, sehingga perkembangan ini sudah merupakan gejala dunia. Teknologi itu sudah menjadi kebudayaan Indonesia pada umumnya dan juga merupakan kebudayaan kita pribadi pada khususnya, sejak dikembangkannya sistem komunikasi satelit domestik.
Teknologi juga sangat erat kaitannya dengan pendidikan dan dengan teknologi dapat meningkatkan mutu pendidikan itu sendiri.
Teknique yang dapat diartikan dengan “semua proses yang dilaksanakan dalam upaya untuk mewujudkan sesuatu secara rasional”. Teknologi dalam arti ini dapat diketahui melalui barang-barang, benda-benda, atau alat-alat yang berhasil dibuat oleh manusia untuk memudahkan dan menggampangkan realisasi hidupnya di dalam dunia.
Jadi, teknologi tersebut dapat berpengaruh baik dalam pendidikan, maupun dalam bidang-bidang lainnya. Teknologi itu bisa berdampak negatif jika penggunaannya salah dalam pemanfatannya, akan tetapi teknologi tersebut sangat bermanfaat dan bisa membantu dalam kehidupan sehari-hari jika seseorang itu dapat menggunakannya secara baik. Oleh karena teknologi itu sangaat penting bagi pendidikan, maka kita harus mengetahui lebih dalam tentang landasan teknologi pendidikan tersebut. Maka dari itu dalam makalah yang cukup sederhana ini penulis akan mencoba memaparkannya walaupun masih dalam bentuk makalah yang sederhana. Dan semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah wawasan kita mengenai landasan teknologi pendidikan.
B. Landasan Filosofis
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran-aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003), di bawah ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat, kaitannya dengan pengembangan kurikulum:
1. Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
2. Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.
3. Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan: bagaimana saya hidup di dunia ? Apa pengalaman itu ?
4. Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
5. Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum Interaksional.
Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.
Kemudian, konsep model pendidikan teknologsi secara filosofis serupa dengan model pendidikan klasik, yang bertumpu pada argumen bahwa model pendidikan hendaklah merupakan suatu bentuk atau contoh utama dari masyarakat yang lebih luas sebagai hasil karya pendidikan. Pada masyarakat teknologis perspektif pendidikan berorientasi ke masa depan. Pendidikan teknologis memandang dunia sebagai materi yang terikat oleh hukum sebab-akibat. Setiap kemungkinan adanya kekuatan “spiritual” yang tidak bisa dibuktikan tidak perlu di persoalkan, tidak perlu dipikirkan atau dianalisis. Segala kenyataan bersifat kuantitatif, ditentukan oleh lingkungan melalui pengetahuan ilmiah. Pengetahuan dipandang sebagai data empiris hasil pengamatan, dapat diukur dan dibuktikan secara sahih. Pendidikan adalah motifasi perilaku yang dicapai melalui aplikasi kondisi yang dipererat melalui teknologi. Isi pelajaran dan metodologi pengajaran ditetapkan dengan dukungan teknologi.
Teknologi dipandang sebagai alat atau sarana bebas nilai, bisa dipakai untuk kesejahteraan, atau untuk kehancuran. Dalam pendidikan lebih mengutamakan pendidikan perilaku lahiriah atau eksternal dan sesuai dengan prinsip cybernetics. Pendidikan model teknologis memandang pendidikan sebagai penyampai informasi dari pada pewaris kebudayaan masa lampau. Model pendidikan teknologis lebih menitik beratkan kemampuan anak didik secara individual dimana materi pelajaran disusun ke tingkat kesiapan sehingga anak didik dapat menunjukkan perilaku yang diharapkan. Manfaatnya besar dari pendidikan adalah, materi pelajaran dapat disajikan pada anak didik dalam bentuk multimedia.
C. Landasan Sosiologis
Kegiatan pendidikan merupakan proses interaksi antara dua individu, dua generasi yang memungkinkan generasi muda mengembangkan dirinya. Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi dalam lembaga yang disebut Sekolah. Sekolah sengaja dibentuk oleh masyarakat agar pola dan kegiatan pendidikan semakin intensif (Umar Tirtarahardja, 2005:95).
Interaksi antar individu, antar kelompok, terjadi karena ada aksi dan reaksi (dalam fisika dinyatakan sebagai Hukum 3 Newton), yaitu hubungan antara gaya dua benda yang besarnya sama namun arahnya berlawanan. Interaksi ini terjadi dalam dunia persekolahan sebagai bagian kecil dari masyarakat pendidikan yang membentuk karakter peserta didik.
Interaksi sosial adalah suatu hubungan timbal balik antara orang satu dengan orang lainnya. Di dalam sosiologi, misalnya interaksi selalu dikaitkan dengan istilah interaksi sosial, yaitu hubungan timbal balik atau aksi dan reaksi di antara orang-orang. Yang mana interaksi sosial tidak memperdulikan hubungan tersebut bersifat bersahabat atau bermusuhan, formal atau informal, apakah dilakukan berhadapan muka secara langsung atau melalui komunikasi yang tidak berhadapan secara langsung. Yang penting dalam interaksi ini adalah adanya kontak dan komunikasi di antara orang-orang itu. Sebagaimana diketahui juga, manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang selalu membutuhkan sesamanya dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh karena itu tidak dapat dihindari bahwa manusia selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Hubungan manusia dengan manusia lainnya, atau hubungan manusia dengan kelompok, atau hubungan kelompok dengan kelompok inilah yang disebut sebagai Interaksi Sosial. Dari interaksi sosial ini akan memunculkan budaya-budaya, seperti : budaya berpakaian, budaya bertingkah laku, budaya berkarakter, budaya belajar, budaya menulis, budaya mendengarkan, budaya mengajar, serta budaya-budaya yang lain yang terjadi dari interaksi sosial tersebut. Secara normatif benturan-benturan sosiokultural dapat di-enkulturasi dan di-asimilasi dalam Budaya Pancasila sebagaimana butir-butir sila yang ada dan sudah dijalan sejak dulu kala, namun perkembangan kemajuan, perkembangan zaman, perkembangan pergaulan masyarakat lokal, nasional, regional, global menuntut adanya peningkatan hubungan tersebut.
Teknologi dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, teknologi membantu pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.
Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.
Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusia – manusia yang menjadi terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan diharapkan dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.
Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya.
Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembang sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat.
Sekarang masyarakat teknologis telah menggantikan pikiran manusia dengan pikiran mekanis komputer, dengan kecepatan, ketepatan, serta kemampuan yang memungkinkan memecahkan masalah teknis dan organisasi yang sangat rumit. Manusia teknologis punya kekuatan meniru alam, termasuk kehidupan itu sendiri. Pesatnya pengunaan teknologi di dalam pendidikan pada tahun 1950-an merupakan akibat dari dua faktor, yaitu: pertama-tama, timbulnya kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan sebagai cara memperbaiki mutu kehidupan; kedua, terjadinya ledakan penduduk usia sekolah. Berkomunikasi merupakan kegiatan manusia, sesuai dengan nalurinya yang ingin berhubungan satu dengan yang lain, saling berinteraksi dan saling membutuhkan. Komunikasi merupakan bagian hakiki kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain, manusia akan kehilangan hakikatnya bila tidak melakukan komunikasi dengan sesamanya.
Komunikasi dipandang sebagai proses, yaitu proses pengoperan dan penerimaan lambang-lambang yang mengandung makna. Floyde Brooker menyatakan komunikasi adalah ... anything that conveys meaning, that carries a message from one person to another.” Proses belajar mengajar dari sudut pandang komunikasi adalah proses penyampaian pesan, gagasan, fakta, makna, konsep, dan data yang sengaja dirancang sehingga dapat diterima penerima pesan (komunikan). Selama komunikasi berjalan, terjadilah proses saling mempengaruhi antara komunikator dan komunikan. Inilah yang lazim disebut interaksi.
D. Landasan Psikologis
Tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah diperolehnya perubahan tingkah laku individu. Ciri tingkah laku diperoleh dari hasil belajar adalah:
- Terbentuknya tingkah laku baru berupa kemampuan aktual dan potensial.
- Kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relatif lama.
- Kemampuan baru diperoleh melalui usaha.
Studi yang mempelajari tingkah laku individu ada pada psikologi. Teknologi pengajaran sebagai upaya dalam mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran didasarkan atas psikologi. Psikologi belajar meletakkan dasar-dasar bagi lahirnya teori belajar, yakni teori yang berupaya menjelaskan dan menjawab pertanyaan mengapa terjadi perubahan tingkah laku pada individu. Teknologi pengajaran pada hakikatnya adalah teori pengajaran seperti teori kurikulum, teori administrasi pendidikan, teori bimbingan penyuluhan, teori penilaian. Ada tiga teori belajar aliran behavioristik yakni
:
1. Teori Koneksionime
Belajar adalah konektifitas dan asosiasi antara kesan panca indera dan kecenderungan untuk bertindak.
2. Teori Kondisioning Klasikal
Berpendapat bahwa tingkah laku dibentuk melalui pengaturan dalam lingkungan. Dalam teori ini tekanan utama terdapat dalam pengaturan stimulus, sedangkan teori koneksionisme tekanan utama pada pengaturan respon. Teori kondisioning klasikal disebut tipe stimulus. Skinner membedakan dua macam respon yakni : respondet response (reflexive) dan operant response (instrumental response). Respondent response adalah respon cara alami timbul karena ransangan yang sesuai dengan stimulus tersebut (eliciting stimulus), sedangkan operant response adalah respon yang timbul dan perkembangannya diikuti oleh stimulus tertentu yang dapat memperkuat respon (reinforcing stimulus). Berdasarkan konsep ini maka dikembangkan sistem pengajaran modifikasi tingkah laku dengan elemen utamanya hadiah dan hukuman. Prosedur yang ditempuh adalah:
a. Menentukan jenis tingkah laku yang dikehendaki (tujuan).
b. Menganalisa komponen tingkah laku yang mendasari tingkah laku yang sesuai.
c. Mengidentifikasikan hadiah (reinforcer) yang sesuai untuk setiap komponen.
d. Melaksanakan pembentukan tingkah laku sesuai dengan urutan yang seuai.
Menurut teori belajar kognitif atau komprehensif manusia pada hakikatnya adalah organisme yang aktif. Ciri utamanya adalah (a) mengutamakan kemampuan individual, (b) mengutamakan keseluruhan bagian-bagian, (c) pentingnya peranan kognisi (d) mementingkan keseimbangan dalam diri individu (e) pentingnya pemahaman dan pemecahan masalah. Teori belajar yang digolongkan dalam aliran kognitif adalah teori gestalt, teori medan, dan teori belajar humanistik.
Teori kognitif berbeda dengan teori behaviorisme, menurut teori ini yang utama kehidupan manusia adalah mengetahui dan bukan respon. Teori ini menekankan pada peristiwa mental, bukan hubungan stimulus, perilaku juga penting sebagai indicator, tetapi yang lebih penting adalah berfikir. Dalam kaitannya dengan berfikir ini bahwa pada manusia terbentuk struktur organisasi mental. Hal ini yang sangat penting dalam teori kognitif adalah bahwa individu itu aktif, konstruktif dan berencana, bukan fasif menerima stimulus dari lingkungan. Dan individu adalah merupakan pastisipan aktif dalam memperoleh dan mengutamakan pengetahuan. Meskipun pendekatan kognitif sering bertentangan dengan pendekatan behavioristik, tidak berarti psikologi kognitif anti terhadap aliran bahaviorisme. Hanya menurut ahli kognitif, aliran behaviorisme tidak lengkap sebagai sebuah teori psikologi, sebab tidak memperhatikan proses kejiwaan yang berdomensi ranah cipta seperti berfikir, mempertimbangkan pilihan dan mengambil keputusan. Selain ini, aliran behaviorisme tidak mau tahu urusan ranah rasa.
Dalam perspektif psikologi kognitif belajar pada asasnya adalah peristiwa mental bukan peristiwa behavioral yang bersifat jasmaniah. Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar gestaltl. Peletak dasar psikologi gestalt adalah Mexertheimar (1880-1943). Suatu konsep yang penting dalam psikologi gestaltl adalah tentang insight yaitu pengamatan/pemahaman mendadak terhadap hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi permasalahan, jadi teori kognitif tumbuh dan berkembang seiring lahirnya teori gestaltl. Ada banyak teori-teori belajar, setiap teori memiliki konsep atau prinsip sendiri tentang belajar. Berdasarkan berbedaan sudat pandang ini maka teori belajar tersebut dapat dikelompokan. Teori belajar yang terkemuka diabad 20 ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu kelompok teori bahaviorisme dan kelompok teori kognitivisme. Menurut kelompok teori behaviorisme, manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di dalam lingkungannya yang akan memberikan pengalaman-pengalamn belajar. Belajar adalah proses perubahan tingkahlaku yang terjadi karena adanya stimuli dan respon yang dapat diamati. Menurut teori ini manupulasi lingkungan sangat penting agar dapat diperoleh perubahan tingkah laku yang diharapkan. Teori behaviorisme ini sangat menekankan pada apa yang dapat dilihat yaitu tingkah laku, tidak memperhatikan apa yang terjadi didalam fikiran manusia. Para ahli pendidikan menganjurkan untuk menerapkan prinsip penguatan (reinforcement) untuk mengidentifikasi aspek situasi pendidikan yang penting dan mengatur kondisi pembelajaran sedemikian rupa sehingga siswa berhasil mencapai tujuan. Dalam menerapkan teori ini yang terpenting adalah guru harus memahami karakteristik si belajar dan karakteristik lingkungan belajar agat tingkat keberhasilan siswa selama kegiatan pembelajaran dapat diketahui. Tuntutan dari teori ini adalah pentingnya merumuskan tujuan belajar secara jelas dan spesifik supaya mudah dicapai dan diukur. Prinsip-prinsip bihaviorisme diatas telah banyak digunakan dan diterapkan dalam berbagai program pendidikan. Misalnya dalam pengajaran berprogram dan prinsip belajar tuntas (mastery learning). Dalam pengajaran berprogram materi pelajaran disajikan dalam bentuk unit-unit terkecil yang mudah dipelajari siswa, bila setiap unit selesai siswa akan mendapatkan umpanbalik secara langsung. Sedangkan dalam mastery learing materi dipecah perunit, dimana siswa tidak dapat pindah keunit di atasnya bila belum menguasai unit yang dibawahnya.
Kelompok teori kognitif beranggapan bahwa belajar adalah pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan perseptual untuk memperoleh pemahaman. Dalam model ini tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan dan perubahan tingkahlaku sangat dipengaruhi oleh proses berfikir internal yang terjadi selama proses belajar.
Hukum yang digunakan dalam teori pengajaran, yakni :
1. Hukum penuh arti yang menjelaskan kecenderungan pada individu untuk mengamati sesuatu dengan penuh arti melalui pengaturan bentuk, warna, ukuran, dll.
2. Hukum persamaan yang menjelaskan bahwa hal-hal yang sama akan cenderung akan membentuk keseluruhan.
3. Hukum ketertutupan yang mejelaskan bahwa hal-hal yang tertutup cenderung akan membentuk keseluruhan.
4. Hukum kontinuitas yang menjelaskan bahwa hal-hal yang berkesinambungan cenderung membentuk keseluruhan.
Menurut Kurt Lewin belajar adalah perubahan struktur kognitif, pentingnya motivasi apresiasi tentang kesuksesan dan kegagalan yang bersifat individu. Hadiah dan hukuman perlu diberikan dalam dosis tepat agar mendorong timbulnya motivasi. Teori Humanistik dipelopori oleh Maslow dan Carl Rogers menurut Maslow, tingkah laku manusia didorong dengan adanya kebutuhan akan pemuasan. Teknologi pengajaran sebagai sarana mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran tidak dapat melepaskan diri dari kaidah dan hukum terjadinya perubahan tingkah laku individu (teori belajar). Teknologi pengajaran diciptakan dan diusahakan berdasarkan teori-teori belajar. Oleh sebab itu, teori pengajaran, termasuk teknologi pengajaran, bersumber dari teori belajar.
E. Kesimpulan
Landasan teknologi pendidikan itu terbagi tiga, yaitu:
1. Landasan Filosofis
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran-aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan.
2. Landasan Sosiologis
Kegiatan pendidikan merupakan proses interaksi antara dua individu, dua generasi yang memungkinkan generasi muda mengembangkan dirinya. Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi dalam lembaga yang disebut Sekolah.
3. Landasan Psikologis
Tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah diperolehnya perubahan tingkah laku individu.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️