MAKALAH MASA TROTZALTER PERTAMA (3-6 TAHUN)

Baca Juga



A.    Pendahuluan
Tidak bosan-bosannya penulis mengucapkan syukur Alhamdulillahhirabbil’alamin, dan shalawat bertangkaikan salam kepada kekasih Allah, buah hati Aminah Muhammad Saw dengan terselesaikannya makalah ini. Terima kasih pula yang sebesar-besarnya Drs. H. Agussalim Daulay, M.Ag, selaku dosen pengampu yang telah memberikan masukan-masukan kepada penulis seputar cara-cara penulisan karya ilmiah yang baik, dan dalam hal memberikan berbagai buku rujukan untuk dijadikan sebagai referensi. Adapun judul makalah ini adalah “Masa Trotzalter Pertama (3-6 Tahun)”. 

Usia 3 sampai 6 tahun sering juga disebut sebagai masa kanak-kanak awal. Proses perkembangan anak yang normal-tenang-teratur pada suatu saat akan berubah menjadi proses “revolusi”, yang ditandai oleh gejala-gejala eksplosif/ledakan “pemberontakan” dan penentangan, dan dimuati oleh emosi yang meluap-luap. Saat-saat seperti ini berlangsung dua kali dalam masa perkembangan anak, yaitu yang pertama usia 3-6 tahun dan yang keduanya pada masa pubertas usia 12-13 tahun.
Untuk lebih memudahkan pembaca dalam memahami isi dari makalah ini, maka berikut garis-garis besar pembahasannya sebagai berikut:
  1. Perkembangan Permainan Anak,
  2. Perkembangan Sosial Individual,
  3. Fantasi dan Dongeng,
  4. Taman Kanak-Kanak,
  5. Perkembangan Moral Anak,
  6. Perkembangan Minat dan Kepribadian Anak,
Dalam penggunaan metode penelitian atau penulisan, penulis melakukan penelitian di perpustakaan. Jadi dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode penulisan makalah ini adalah dengan menggunakan metode kepustakaan yaitu mencari berbagai buku yang relevan dengan pembahasan.
Oleh karena terbatasnya pengetahuan dan referensi yang ditemukan oleh penulis sehingga penulis mungkin merasa bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu saran dan kritik dari Bapak Dosen Pembimbing sangat penulis harapkan, dan juga kepada para pembaca sekalian.
B.     Perkembangan Permainan Anak
Bermain merupakan pekerjaan anak kecil dan memberikan kontribusi kepad seluruh ranah perkembangan anak. Melalui bermain anak-anak merangsang indra, belajar bagaimana menggunakan otot mereka, mengordinasikan pandangan dan gerakan, meraih kontrol terhadap seluruh tubuh mereka dan mendapatkan keterampilan baru.
Anak prasekolah melakukan permainan yang berbeda pada umur yang berbeda. Para periset mengkategorikan permainan anak berdasarkan isinya (content) (apa yang dilakukan oleh seorang anak ketika bermain) dan dimensi arti sosial dari permainan tersebut (apakah mereka bermain seorang diri atau bersama yang lain?).
Menurut Desmita[1]permainan adalah salah satu bentuk aktivitas sosial yang dominan pada awal masa kanak-kanak. Sebab anak-anak menghabiskan lebih banyak waktunya di luar rumah dengan teman-temannya dibandingkan terlibat dalam aktivitas lain. Karena itu, kebanyakan hubungan sosial dengan dengan sebaya dalam masa ini terjadi dalam bentuk permainan. Anak selalu ingin bermain karena permainan merupakan makann rohani bagi anak. Ia tidak senang bila tidak ada kesempatan untuk bermain, kadang-kadang ia bermain tidak pada tempatnya dan tidak pada waktu yang cocok.
Adapun jenis-jenis permainan menurut Parten sebagaimana dikutip oleh Desmita,[2]permainan anak-anak yaitu:
1.      Permainan Unoccupied, anak memperhatikan dan melihat segala sesuatu yang menarik perhatiannya dan melakukan gerakan-gerakan bebas dalam bentuk tingkah laku yang tidak terkontrol.
2.      Permainan Solitary, anak dalam sebuah kelompok asyik bermain sendiri-sendiri dengan bermacam-macam alat permainan.
3.      Permainan Onlooker, anak melihat dan memperhatikan anak-anak lain bermain. Anak ikut berbicara dengan anak-anak lain itu dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, tetapi ia tidak ikut terlibat dalam aktivitas permainan tersebut.
4.      Permainan Parallel, anak-anak bermain dengan alat-alat permainan yang sama, tetapi tidak terjadi kontak antara satu dengan yang lain, atau tukar-menukar alat permainan.
5.      Permainan Assosiative, anak bermain bersama-sama saling pinjam alat permainan, tetapi permainan itu tidak mengarah paa satu tujuan.
6.      Permainan Cooperative, anak-anak bermain dalam kelompok yang terorganisir, dengan kegiatan-kegiatan konstruktif dan membuat sesuatu yang nyata, di mana setiap anak mempunyai peranan sendiri-sendiri.
Oleh karena banyaknya macam permainan yang ada pada anak, maka para ahli berusaha membedakan jenis permainan itu, yaitu:[3]
  1. Permainan Gerak atau Fungsi.
Ialah permainan yang mengutamakan gerak dan berisi kegembiraan di dalam bergerak.
  1. Permainan Destruktif.
Ialah bahwa anak bermain dengan merusakkan alat-alat permainannya itu. Seakan ada rahasia di dalam permainannya itu dan ia mencari rahasia itu.
  1. Permainan Konstruktif.
Anak senang sekali membangun. Disusunlah balok-balok, batu-batu dan sebagainya sehingga menjadi sesuatu yang baru, dan dengan itu si anak akan menemukan kegembiraan tersendiri. 
  1. Permainan Peranan atau Ilusi.
Ialah permainan yang di dalamnya si anak menjadi seseorang yang penting. Contohnya, Siti yang bermain boneka adalah siti yang berperan sebagai seorang Ibu. Amin yang bermain Kereta Api berperan sebagai Masinis.
  1. Permainan Resektif.
Artinya, apabila orang tuanya sedang menceritakan sesuatu ceritera, maka di dalam jiwa si anak itu mengikuti cerita dengan menempatkan dirinya sebagai tokoh utama, seakan-akan dialaminya sendiri, sehingga terkadang anak itu menangis, kadang-kadang meluap kegembiraannya, kadang-kadang juga bangga dengan kemenangannya, dan sebagainya.
  1. Permainan Prestasi.
Di dalam permainan itu si anak berlomba-lomba untuk menunjukkan kelebihannya baik dalam kekuatan, keterampilan maupun dalam ketangkasannya. Dalam hal ini orang tua harus hati-hati sekali, meskipun prestasi yang menjadi tujuan, tetapi faktor sportivitas harus juga ditanamkan, bahkan inilah yang terpenting bagi si anak.
Dan adapun arti permainan itu bagi anak menurut Kartini Kartono adalah sebagai berikut:[4]
1.      Permainan itu merupakan sarana penting untuk mensosialisasikan anak. Yaitu sarana untuk mengintrodusir anak jadi anggota dari suatu masyarakat.
2.      Dengan permainan dan situasi bermain itu anak bisa mengukur kemampuan dan potensi diri sendiri.
3.      Dalam situasi bermain anak bisa menampilkan fantasi, bakat-bakat dan kencendrungannya.
4.      Ditengah permainann itu setiap anak menghayati macam-macam emosi, dia merasakan kegairahan dan kegembiraan.
5.      Permainan itu menjadi alat pendidikan, karna bermain bisa memberikan rasa kepuasan, kegembiraan dan kebahagiaan pada diri anak.
6.      Permainan itu memberikan pralatihan untuk mengenal aturan-aturan permainan, mematuhi norma-norma dan larangan, dan bertindak secara jujur serta loyal.
7.      Dalam bermain anak belajr menggunakan semua funsi kewajiban dan fungsi jasmaniyah dengan suasana hati kesungguhan.

C.    Perkembangan Sosial Individual
Sebagian psikolog beranggapan bahwa perkembangan sosial itu mulai ada sejak anak lahir didunia, terbukti seorang anak yang menangis, adalah dalam rangka menyatakan kontak/hubungan dengan orang lain. Atau anak tampak aktivitas anak meraba, tersenyum bila memperoleh rangsangan dan teguran dari luar.[5]
Beberapa ciri khas masa kanak-kanak yang dapat disebutkan, berdasarkan pendirian ilmu jiwa modern ialah :[6]
1.      Bersifat egosentris-naif
2.      Mempunyai relasi sosial dengan benda-benda dan manusia yang sifatnya sederhana dan primitif.
3.      Kesatuan jasmani dan rohani yang hampir-hampir tidak terpisahkan sebagai satu totalitas.
4.      Sikap hidup yang pisiognomis.
Sebagai akibat dari sifat egosiantri-naif (anak secara tidak sadar menganggap dirinya sebagai pusat dari dunia ini), relasi sosial dengan lingkungannya masih sangat longgar. Hal ini disebabkan oleh karena anak belum sadar menghayati kedudukan diri sendiri dalam lingkungannya. Karenanya, ikatan sosialnya masih berifat simpel dan primitif sebab masih belum muncul pengertian akan adanya orang lain dan benda-benda lain yang sifatnya berbeda dengan diri sendiri.
Kita harus mengakui, bahwa individu anak (juga manusia) itu berbeda. maka perbedaan individual ini menampilkan nilai kanak-kanak sendiri. Dan perbedaan fisik serta phisikis anak (didukung pula oleh perbedaan sistem nilai anak) mengakibatkan perbedaan respon setiap anak terhadap pengaruh lingkungan, usaha bimbingan dan usaha pendidikan. Perbedaan unsur-unsur tempo dan irama, perkembangan, keinginan, tuntutan, sensitivitas/kepekaan ataupun kecendrungan “berkulit tebal” dan bersifat kurang sensitif, semua ini merefleksikan ciri-ciri yang karakteristik individual dan masing-masing anak.
 Maka jelas bagi kita, bahwa individualitas dan sosialitas itu adalah “unsur-unsur” yang komplementer(saling mengisi dan melengkapi) dalam eksistensi anak. Anak sebagai individu tidak mungkin bisa berkembang tanpa bantuan orang lain. Kehidupan anak itu bisa berlangsung, jika dia berada bertsama dengan orang lain. Maka asosiatifdengan pendapat ini dapat dikemukakan, bahwa anak manusia itu bisa memasuki dunia-manusia, jika dia dibawa atau dimasukkan oleh dan bersama-sama dengan manusia lain. Itulah sebabnya diperlukan pendidikan. Khususnya bagi anak-anak yang masih muda dan dalam kondisi “masih kuncup”.[7]
Ringkasnya kehidupan individual dan kehidupan sosial masih belum terpisahkan oleh anak. Anak Cuma meminati benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang sesuai dengan dunia fantasi dan dunia keinginannya. Boleh dikatakan, anak tersebut membangun dunianya sesuai dengan khayalan dan keinginannya.
Sebagian ahli psikologi beranggapan bahwa perkembangan sosial ini mulai ada sejak lahir di dunia. Karena sudah terbukti seorang anak itu yang menangis, adalah dalam rangka mengadakan kontak atau hubungan dengan orang lain. Atau anak tampak mengadakan aktivitas merasa, tersenyum bila memperoleh dengan rangsangan dan teguran dari luar.
Charlotte Buhler seperti dikutip oleh Abu Ahmadi, membagi tingkatan perkembangan sosial anak menjadi 4 tingkatan sebagai berikut:[8]
1.      Tingkatan pertama:
Sejak berumur 0;4/06 sudah mulai mengadakan reaksi positif terhadap orang lain, atau ia tertawa karena mendengar suara orang lain.
2.      Tingkatan kedua:
Adanya rasa bangga dan senang yang terpancar dalam gerakan dan mimiknya, jika anak tersebut dapat mengulangi yang lainnya.
3.      Tingkatan ketiga:
Jika anak telah lebih dari umur kurang lebih 2 tahun sudah mulai timbul adanya perasaan simpati (rasa setuju) atau rasa tidak setuju kepada orang lain.
4.      Tingkatan keempat:
Pada masa akhir tahun kedua, anak akan menyadari akan pergaulannya dengan anggota keluarga, anak timbul keinginan untuk ikut campur dalam gerak dan tingkah lakunya.

D.    Fantasi dan Dongeng
Karena banyaknya kegunaan fantasi bagi kehidupan manusia, maka pendidikan hendaknya berusaha mengembangkan fantasi anak didik secara sehat, misalnya melalui kegiatan-kegiatan ekspresif.
Anak mengamati dan mengambil kesan apa saja yang penting baginya, tidak memikirkan apakah ada lagi yang lain selain yang dibutuhkannya. Menurut Buhler seperti dijelaskan oleh Agus Salim Daulay dalam Diktatnya Psikologi Perkembangan,, bahwa fantasi anak ada tiga fase pertumbuhan yaitu:[9]
  1. Masa struwelpeter, yaitu anak-anak sampai umur  tahun sangat suka dan gemar mendengarkan dongengan atau cerita tentang anak nakal, anak kotor dan sebagainya.
  2. Masa dongengan (4-8 tahun), yaitu anak senang mendengarkan cerita, dongengan seperti cerita si Kancil, Sampuraga. Ia senang berulang kali menmdengar cerita seperti itu dan kalau ada yang salah menceritakannya, ia langsung menegurnya bahkan marah kalau tidak dibetulkan.
  3. Masa Robinson Crasve (8-12 tahun), yaitu sudah diluar masa anak. Anak kecil itu dapat hidup dalam alam dongengan bahkan ia percaya pada hakikatnya, misalnya dongengan binatang dan berbicara dalam hal ini anak tidak begitu minta kebenarannya dan nampaknya hal itu tidak mengherankannya. Dan apabila dongengan telah habis maka ia mudah kembali lagi kealam realita dan juga disamping itu ia tidak terikat kepada tempat dalam waktu.
Sejak anak bersekolah perhatiannya terhadap kenyataan mulai berkembang dan nampak pula pada anak bahwa fantasi dalam permainan mulai mundur. Tetapi kemundurannya bukan untuk lenyap melainkan mencari lapangan baru untuk berkembang.
Lapangan baru ini ialah lapangan hiburan, membaca buku dan mendengarkan cerita-cerita, mengambil tempat yang luas sekali dalam dalam lapangan ini. Dengan buku-buku dan cerita-cerita itu anak dibawa ke dunia lain dari kehidupannya sehari-hari. Fantasinya memberikan kesempatan padanya untuk menghayati semua yang diceritakan orang dan dibacanya, seakan-akan semua benar. Sering anak itu menempatkan dirnya sebagai pelaku utama, sebagai pahlawan dari kisah-kisah itu. Ia ikut menghayati suka-duka dalam cerita-cerita itu.
 E.     TamanKanak-Kanak
Taman Kanak-Kanak merupakan tahun transisi antara kebebasan rumah atau sekolah dengan struktur “sekolah taman-taman yang sebenarnya” saat ini anak-anak menghabiskan lebih sedikit waktu untuk aktivitas yang mereka pilih sendiri dan lebih banyak untuk mengerjakan lembar tugas dan persiapan membaca. Anak-anak dengan pengalaman prasekolah yang panjang cenderung lebih mudah beradaptasi di Taman Kanak-Kanak dibandingkan mereka hanya sebentar atau tidak pernah merasakan sekolah.[10]
Kematangan penyesuaian sosial anak akan sangat terbantu, apabila anak dimasukkan ke Taman Kanak-Kanak. TK sebagai “jembatan bergaul” merupakan tempat yang memberikan peluang kepada anak agar belajar memperluas pergaulan sosialnya, dan menaati peraturan (kedisiplinan). TK dipandang mempunyai kontribusi yang baik bagi perkembangan sosial anak, karena alasan-alasan sebagai berikut:
  1. Suasana TK sebagian masih seperti suasana keluarga.
  2. Tata tertibnya masih longgar, tidak terlalu mengikat kebebasan anak.
  3. Anak berkesempatan untuk aktif bergerak, bermain, dan riang gembira yang kesemuanya mempunyai nilai pedagogis.
  4. Anak dapat mengenal dan bergaul dengan teman sebaya yang beragam (multi budaya), baik etnis, agama, dan budaya.

F.     Perkembangan Moral Anak
Ciri yang sangat menonjol pada priode Trotzalter merupakan sikap keras kepala dan suka menentang. Hal ini disebabkan karena anak sedang dalam fase nenentukan dirinya sendiri atau menemukan Aku-nya. dalam hal ini sekali-kali bukan dengan sadar dan secara obyektif anak tersebut ingin membantah dan menentang segala sesuatu yang dirasakan kurang memuaskan, akan tetapi sikap memberontak anak ini didorong oleh keinginan menuntut hak-haknya serta menuntut pengakuan atas status dan martabat dirinya. Jelas bahwa masa menentang ini tidak ada sangkut pautnya dengan pembawaan yang buruk. Sikap memberontak dan menentang tersebut merupakan gejala perkembangan yang wajar pada setiap perkembangan individu anak, malahan boleh dikatakan sebagai keharusan dalam perkembangan yang normal.  
  Pada masa ini anak sudah memiliki dasar tentang sikap moralitas terhadap kelompok sosial. Melalui pengalaman berinteraksi orang lain, anak belajar memahami tentang kegiatan atau perilaku yang baik/boleh diterima/disetujui atau boleh/ditolak/tidak disetujui. Berdasarkan pemahaman itu, maka pada masa ini anak harus dilatih atau dibiasakan bagaimana dia harus bertingkah laku seperti mencuci tangan sebelum makan, menggosok gigi sebelum tidur dan membaca basmalah sebelum makan.[11]
Ada dua jenis pemahaman moral anak menurut Piaget sebagaimana dikutip Agus Salim yang dicapai anak dalam tingkat umur yang berbeda:[12]
1.      Pemahaman moral hetoronomyang dimiliki anak antara umur 2 – 7 tahun.
2.      Pemahaman moral otonom yang dicapai pada umur 10 tahun.
Menurut umur 7-10 tahun, anak mengalami periode transisi. Jadi anak sekolah tingkat dasar kelas dua, tiga dan empat berada dalam periode ini, yakni meninggalkan periode moral realisasi dan akan memasuki periode moral otonom.
Kemudian para ahli yang bernama Kohrlberg mengemukakan dengan 3 periode perkembangan moral yang dialami oleh anak, yaitu:
1.      Tingkat prekonvensional.
Dalam periode ini akan belum memiliki nilai moral dalam dirinya. Karena nilai-nilai moral itu ditentukan orangtuanya atau orang dewasa. Jadi perilaku yang baik adalah patuh kepada aturan dan tidak dihukum, demi mendapat penghargaan. Oleh karena itu perilaku moral anak tergantung pada larangan dan dukungan dari orang dewasa.
2.      Tingkat pos konvensional.
Periode ini merupakan tingkat perkembangan moral tertinggi. Anak telah menginternalisasikan moral, sehingga menjadi miliknya sendiri.
3.      Tingkat konvensional.
Pada periode ini keinginan untuk menjadikan nilai-nilai moral menjadi miliknya meningkat. Karena anak berkeinginan untuk mematuhi standar moral yang ditentukan orangtua, sekolah dan masyarakat
Dalam upaya pengembangan perilaku bermoral, ada beberapa cara yang dapat ditempuh:[13]
1.      Memperkenalkan dan menanamkan kesadaran akan nilai moral yang berlaku pada masyarakat.
2.      Memperkokoh atau memperkuat tingkah laku atruistik, yakni sifat tingkah laku dimana anak lebih cenderung mengutamakan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri.
3.      Perangsangan tingkah laku empati supaya berkembang dengan baik. Hoffman mengungkapkan bahwa penguasaan tingkah laku empati merupakan modal dasar bagi perkembangan moral.
4.      Memperkuat kata hati, yang memiliki seperangkat nilai moral yang telah menjadi milik anak yang dijadikannya untuk menanam baik dan buruk.
5.      Pembangkitan perasaan bersalah setelah melakukan tingkah laku yang melanggar moral.

G.    Perkembangan Minat dan Kepribadian Anak
Minat pada awal masa kanak-kanak ini, ada beberapa minat yang dikemukakan Elizabeth B. Hurlock yang berlaku umum di antara anak-anak yaitu:[14]
1.      Minat pada agama.
Keyakinan agama sebagian besar tidak berarti bagi anak-anak meskipun mereka menunjukkan minat dalam ibadah agama. Konsep anak-anak mengenal agama adalah realistik, dalam arti anak manafsirkan apa yang didengar dan dilihat sesuai dengan apa yang sudah diketahui.
2.      Minat pada tubuh manusia.
Minat timbul lebih dahulu pada anggota bagian luar tubuh daripada minat pada bagian dalam tu  buh. Tetapi sebelum periode ini berakhir, kebanyakan anak menunjukkan minat besar pada bagian dalam tubuhnya dan ingin mengetahui di mana letak hati, paru-paru, otak, dan sebagainya. Anak-anak ingin tahu mengenai tubuhnya, tetapi keingintahuannya tidak bersifat pribadi, dalam arti bahwa anak tidak memandang tubuhnya sebagai tubuh dalam pribadinya sendiri, tetapi sebagai benda asing dan anak-anak ingin tahu bagaimana cara kerja organ tersebut.
3.      Minat terhadap diri sendiri.
Setelah masa bayi tidak berdaya dilampaui, tidak mengherankan kalau kebanyakan anak masih terus mempertahankan minat terhadap diri sendiri yang tadinya perlu agar bayi ditunggu dan dirawat orang lain. Egosentrimse awal masa kanak-kanak sangat jelas pada tahun pertama dan tahun kedua sebelum anak mulai bermain dengan anak-anak lain, yaitu masa bermain sejajar terhadap diri sendiri.
4.      Minat terhadap seks.
Keingintahuan mengenai asal-usul bayi sangat besar pada anak-anak dan mereka banyak bertanya mengenai masalah ini. Banyak anak memperlihatkan minat mereka terhadap seks dengan membicarakannya dengan teman-teman bermain.
5.      Minat terhadap pakaian.
Anak-anak tidak banyak berminat mengenai penampilannya, apakah ia bersih atau kotor, rapi atau tidak, tetapi ia mempunyai minat yang besar dalam berpakaian. Ini disebabkan dalam usia yang lebih muda, anak menemukan bahwa pakaiannya menarik perhatian. Anak-anak menaruh minat terhadap pakaian pada umumnya, etapi khususnya pada pakaian yang akan dilihat oleh orang lain.
Pola perkembangan anak adalah pola yang kompleks karena merupakan hasil dari beberapa proses: proses biologis (fisik), kognitif, bahasa, sosioemosional dan moral. Bahasa merupakan suatu kelebihan untuk umat manusia. Dengan menggunakan bahasa, orang mampu membedakan antara subjek dan objek. Suatu tanda adanya pemisahan antara subjek dan objek adalah kesadaran untuk memberi nama. Setiap objek berpikir dinyatakan dengan tanda suara. Khususnya anak yang buta tuli, mereka mempunyai cara atau tanda sendiri untuk menyatakan isi hatinya.[15]
Pada waktu lahir anak belum mempunyai kepribadian; yang ada baru potensi-potensi atau kemungkinan-kemungkinan untuk berkembang menjadi sesuatu yang tertentu. Semakin bertambah umurnya maka sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya semakin banyak pula pengalaman-pengalaman dan pengaruh-pengaruh lingkungan yang diterimanya. Potensi-potensi yang dibawa sejak lahir yang diterimanya sebagai warisan biologis dari orangtuanya mula berpadu dengan pengalaman-pengalaman dan pengaruh lingkungan itu, sehingga terbentuklah pola-pola sifat dan tingkah laku yang menjadi pola dasar bagi perkembangan kepribadiannya selanjutnya. Pola-pola dasar kepribadian yang terbentuk pada waktu bayi ini mempunyai arti yang penting bagi kepribadian anak kelak sampai ia dewasa.
Adapun factor-faktor yang mempengaruhi kepribadian anak adalah:
1.      Faktor Biologis
Yaitu faktor yang berhubungann dengan keadaan jasmani, atau disebut juga faktor fisiologis. “Konstitusi tubuh itu ialah pencernaan, pernafasan, peredaran darah, kelenjar-kelenjar, urat syaraf, dan lain-lain. Juga termasuk tingginya, beratnya, dan sebagainya”. [16]Setiap orang mempunyai konstitusi yang berbeda. Konstitusi tubuh diperoleh dari keturunan, atau pembawaan. Konstitusi yang berbeda inilah yang menyebabkan sikap dan sifat-sifat setiap orang berbeda.
2.      Faktor sosial
Faktor sosial disini  inilah masyarakat. Termasuk juga tradisi, adat istiadat, peraturan, bahasa yang berlaku dalam masyarakat. Masyarakat disini adalah orang-orang lain disekitar individu yang mempengaruhi individu yang bersangkutan. “Masyarakat pertama sejak sejak anak dilahirkan adalah keluarga, terutama ayah dan ibunya kemudian beralih kepada anggota keluarga lainnya”.[17]Peranan keluarga sangat penting dalam menentukan kepribadian seseorang, keadaan dan suasana keluarga yang berlainan memberikan pengaruh yang bermacam-macam pula terhadap perkembangan pribadi seseorang serta suasana keluarga juga sangat berpengaruh. Pengaruh lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian karena:
a. Karena pengaruh itu merupakan pengalaman pertama.
b. Pengaruh yang diterima anak masih terbatas jumlahnya.
c. Intensitas pengaruh itu tinggi karena berlangsung terus-menerus.
d. Umumnya pengaruh itu diterima dalam suasana aman serta bersifat intim dan bernada  emosional.
Pengaruh selanjutnya adalah dari anggota keluarga lain, tamu-tamu yang datang teman-teman sepermainan, tetangga, lingkungan kampung, kota dan seterusnya. Dari uraian tersebut jelaslah bahwa faktor sosial sangat besar pengaruhnya terhada pembentukan kepribadian seseorang.
3.      Faktor Kebudayaan.
Perkembangan dan pembentukan kepribadian tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat dimana dia dibesarkan. Misalnya kepribadian anak yang dibesarkan pasti sangat berbeda dengan anak yang dibesarkan di Indonesia. “Aspek kebudayaan yang sangat mempengaruhi kebudayaan adalah nilai-nilai (values). Adab, tradisi, pengetahuan dan keterampilan, bahasa serta milik kebendaan (material possessions)”.[18]
Perkembangan kepribadian pada awal masa kanak-kanak ini bahwa pola kepribadian yang dasarnya telah diletakkan pada masa bayi, mulai berbentuk dalam awal masa kanak-kanak.
1.      Kondisi-kondisi yang membentuk konsep diri pada awal masa kanak-kanak.
Karena lingkungan anak-anak terbatas pada rumah dan anggota keluarga, tidaklah mengherankan bahwa banyak kondisi dalam keluarga yang turut membentuk konsep diri dalam tahun-tahun awal dari masa kanak-kanak.
2.      Cara pelatihan anak, yang digunakan adalah penting dalam dalam membentuk konsep diri yang sedang berlangsung.
3.      Cita-cita orangtua, terhadap anaknya berperan penting dalam mengembangkan konsep dirinya. Kalau harapan mereka terlampau tinggi, anak cenderung gagal.
4.      Posisi urutan, anak-anak dalam keluarga dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian. Bahwa setiap anak di dalam keluarga belajar memerankan peran khusus, sebagian karena adanya perbedaan dalam penggunaan metode pelatihan dan sebagian lagi oleh berhasil tidaknya anak dalam bersaing dengan saudara-saudara kandungnya.
5.      Meningkatnya individualitas.
Individualitas, yang sudah tampak pada saat dilahirkan dan lebih meningkat lagi dalam masa bayi, merupakan salah satu ciri yang menonjol. Individualitas sangat dipengaruhi oleh berbagai pengalaman sosial awal di luar rumah.[19]



H.    Penutup
Setelah menguraikan dan menjelaskan tentang “Masa Trotzalter Pertama” di atas, maka penulis dapat menarik kesimpulan:
  1. Permainan adalah salah satu bentuk aktivitas sosial yang dominan pada awal masa kanak-kanak. Sebab anak-anak menghabiskan lebih banyak waktunya di luar rumah dengan teman-temannya dibandingkan terlibat dalam aktivitas lain.
  2. Kehidupan individual dan kehidupan sosial masih belum terpisahkan oleh anak. Anak Cuma meminati benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang sesuai dengan dunia fantasi dan dunia keinginannya. Boleh dikatakan, anak tersebut membangun dunianya sesuai dengan khayalan dan keinginannya.
  3. Sejak anak bersekolah perhatiannya terhadap kenyataan mulai berkembang dan nampak pula pada anak bahwa fantasi dalam permainan mulai mundur. Tetapi kemundurannya bukan untuk lenyap melainkan mencari lapangan baru untuk berkembang.
  4. Kematangan penyesuaian sosial anak akan sangat terbantu, apabila anak dimasukkan ke Taman Kanak-Kanak. TK sebagai “jembatan bergaul” merupakan tempat yang memberikan peluang kepada anak agar belajar memperluas pergaulan sosialnya, dan menaati peraturan (kedisiplinan).
  5.  Pada masa ini anak sudah memiliki dasar tentang sikap moralitas terhadap kelompok sosial, melalui pengalaman berinteraksi orang lain, anak belajar memahami tentang kegiatan atau perilaku yang baik/boleh diterima/disetujui atau boleh/ditolak/tidak disetujui.
  6. Orang tua selalu mempunyai pengaruh yang paling kuat pada anak-anak. Setiap orang tua mempunyai gaya tersendiri dalam hubungannya dengan anak-anak, dan ini mempengaruhi perkembangan sosial anak-anak.
  7. Hubungan antara anak-anak dan teman sebaya berbeda dengan hubungan mereka dengan orang dewasa. Yang paling penting dalam berhubungan dengan teman sebaya, anak-anak dapat menilai diri mereka sendiri, menyampaikan pendapat mereka, dan berdiskusi tentang pandangan mereka yang berbeda.
  8. Pada umumnya anak usia 2 tahun sudah dapat menerapkan label laki-laki atau perempuan secara tepat atas dirinya sendiri dan orang lain.

I.       Daftar Kepustakaan
Ahmadi, Abu dan Munawar Sholeh. Psikologi Perkembangann, Jakarta: Rhineka Cipta, 2005.

Daulay, Agus Salim. Diktat Psikologi Perkembangan, STAIN Padangsidimpuan: Untuk Kalangan Sendiri, 2010.

Desmita. Psikologi Perkembangan, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005.

Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Edisi Kelima), Jakarta: Erlangga, 1980.

Kartono, Kartini. Psikologi Anak, Bandung: Alumni, 1986.

L, Zulkifli. Psikologi Perkembangan, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2009.

Papalia, Diane F.  dkk. Human Development; Psikologi Perkembangan, Edisi Sembilan, Jakarta: Kencana, 2008.

Purwanto, M. Ngalim. Psikologi Pendidikan, Bandung : Remaja Rosdakarya, 1992.

Sujanto, Agus. Psikologi Perkembangan, Jakarta : Aksara Baru, 2009. 



[1]Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 141. 
[2]Ibid., hlm. 142-143.
[3]Agus Sujanto, Psikologi Perkembangan, (Jakarta : Aksara Baru, 2009), hlm. 34-35. 
[4]Kartini Kartono, Psikologi Anak, (Bandung: Alumni, 1986), hlm. 126-127 
[5]Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh, Psikologi Perkembangann, (Jakarta: Rhineka Cipta, 2005), hlm. 102
[6]Kartini Kartono, Op.Cit., hlm. 113
[7]Ibid, hlm. 51
[8]Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh, Op.cit., hlm. 104. 
[9]Agus Salim Daulay, Diktat Psikologi Perkembangan, (STAIN Padangsidimpuan: Untuk Kalangan Sendiri, 2010), hlm. 58.
[10]Diane F. Papalia dkk, Human Development; Psikologi Perkembangan, Edisi Sembilan, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 356.
[11]Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh, Op.cit., hlm. 104 
[12]Agus Salim Daulay, Op.cit., hlm. 61-63.  
[13]Agus Salim Daulay, Op.cit., hlm , 61-63.
[14]Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Edisi Kelima),, (Jakarta: Erlangga, 1991), hlm. 126-128
[15]Zulkifli L, Psikologi Perkembangan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2009), hlm. 34.
[16]M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1992), hlm 154.
[17]Ibid., hlm .161.
[18]Ibid,  hlm. 164.
[19]Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Edisi Kelima),, (Jakarta: Erlangga, 1980), hlm. 120.

📢 Bagikan Postingan Ini

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman atau media sosial Anda.

Facebook WhatsApp Twitter Telegram Copy Link

🤝 Butuh Bantuan atau Dokumen Lain?

Terima kasih telah berkunjung ke blog KhairalBlog21. Jika Anda membutuhkan makalah, format surat resmi, administrasi sekolah, atau dokumen lain yang belum tersedia di blog ini, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak. Kami juga menerima request untuk pembuatan dokumen sesuai kebutuhan Anda.

Jangan ragu untuk memberikan saran dan masukan agar blog ini bisa lebih bermanfaat untuk semua. Klik tombol di bawah ini untuk langsung menghubungi kami via WhatsApp:

Kami siap membantu menyediakan dokumen pendidikan dan administrasi sesuai kebutuhan Anda 📚✍️


No comments:

💬 Tinggalkan Komentar Anda

Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️

Featured Post

CONTOH DAN DONWLOAD SURAT LAMARAN SEBAGAI SPG

Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) , tentunya diperlukan sebuah surat lamaran kerja yang baik dan b...