A. Pendahuluan
Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Karena itu setiap anak memerlukan perlakkuan khusus agar dapat mengoptimalkan potensinya. Beberapa perlakuan yang sifatnya umum memang ada untuk diterapkan pada semua siswa, namun perlakuan tersebut tidak boleh mengorbankan kebutuhan individual person. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya dengan lancar tanpa mengalami kesulitan, dan ada pula siswa yang
mengalami kesulitan belajar. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Kesulitan ini dapat bersifat fisiologis, sosiologis atau psikologis.
Oleh karena itulah perlakuan yang diberikan pada siswa dalam pembelajaran juga harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kesulitan belajar anak. Agar perlakuan tersebut dapat mengoptimalkan potensi yang ada dalam diri anak. Maka pendidik, konselor dan orang tua seharusnya mengerti dan memahami tentang hambatan-hambatan yang mungkin terjadi pada anak, serta mengetahui cara-cara yang dapat dilakukan untuk megatasi kesulitan belajar pada anak. Pada kesempatan ini, penulis akan membahas tentang bimbingan terhadap kesulitan belajar khusus. B. Pengertian Kesulitan Belajar (Tidak Bisa Belajar)
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995), masalah berarti sesuatu yang harus diselesaikan.Masalah merupakan sesuatu yang merintangi , menghambat atau mempersulit seseorang untuk mencapai makksud dan tujuan tertentu.Dengan demikian, kondisi bermasalah mengganggu dan dapat merugikan individu ataupun lingkungannya. Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Karena itu setiap anak memerlukan perlakuan khusus agar dapat mengoptimalkan potensinya. Beberapa perlakuan yang sifatnya umum memang ada untuk diterapkan pada semua siswa, namun perlakuan tersebut tidak boleh mengorbankan kebutuhan individual person.
Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kita sering dihadapkan dengan sejumlah karakteristik siswa yang beragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya dengan lancar tanpa mengalami kesulitan, dan ada pula siswa yang mengalami kesulitan belajar. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Kesulitan ini dapat bersifat fisiologis, sosiologis atau psikologis.
Anak yang berkesulitan belajar (learning disabilities) adalah anak yang memiliki kesulitan belajar dalam proses psikologi dasar, sehingga menunjukkan hambatan dalam belajar berbicara, mendengar, menulis, membaca dan berhitung. Mereka memiliki potensi kecerdasan yang baik tetapi berprestasi rendah, bukan disebabkan tunanetra, tunarungu, tunagrahita, gangguan emosisonal, gangguan ekonomi, social atau budaya. C. Faktor-Faktor Kesulitan Belajar
Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, prevalensi anak dengan kesulitan belajarnya diperkirakan lebih besar. Para ahli mengemukakan bahwa penyebab kesulitan belajar itu kompleks dan luas. Secara umum, penyebab kesulitan belajar antara lain ; 1. Faktor intelektual, yaitu inteligensi yang rendah dan terbatas,
2. Faktor kondisi fisik dan kesehatan, termasuk kondisi kelainan, seperti kurangnya gizi pada ibu hamil, bayi dan anak, kerusakan susunan dan fungsi otak, dan penyakit persalinan,
3. Faktor sosial,seperti pengaruh teman bermain, pergaulan dan lingkungan sekitar,
4. faktor keluarga, seperti keadaan keluarga yang tidak baik dan kurangnya dukungan belajar dari orang tua.
Di bawah ini penjabaran faktor-faktor kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik ; 1. Menurut Koestur Partowisastro dan Hadi Suprapto
a. Kondisi fisiologis yang permanen
1) Inteligensi yang terbatas,
2) Hambatan penglihatan dan pendengaran,
3) Masalah persepsi.
b. Kondisi fisiologis temporer
1) Masalah makanan,
2) Kecenderungan,
3) Kecapaian.
c. Kondisi lingkungan sosial permanen
1) Harapan dan tekanan orang tua tinggi,
2) Konflik dalam kelurga.
d. Kondisi lingkungan sosial temporer
1) Ada bagian-bagian dalam urutan yang belum dipahami,
2) Persaingan interes.
2. Menurut Tidjan
a. Faktor interen
1) Faktor fisiologis, yaitu kesehatan fisik terganggu,cacat fisik dan sebagainya,
2) Faktor intelektual, misalnya kecerdasan kurang, kecakapan kurang, bakat-bakat kurang,
3) Faktor minat, tidak berminat atau kurang minat,
4) Faktorkonsentrasi perhatian kurang,
5) Faktor ingatan kurang,
6) Faktor emosi, misalnya rasa benci dan rasa tidak puas.
b. Faktor ekstern
1) Faktor tempat, misalnya tidak ada tempat khusus untuk belajar,
2) Faktor alat, alat-alat yang diperlukan dalam belajar kurang atau tidak ada,
3) Faktor waktu dan suasana, yaitu tidak dapat mengatur waktu belajar, ramai dan gaduh, rumah dekat jalan yang cukup ramai,
4) Faktor lingkungan sekolah, misalnya bahan pelajaran kurang, metode guru mengajar tidak memuaskan, pengeruh teman yang tidak baik (negatif),
5) Faktor lingkungan keluarga dan masyarakat, misalnya situasi keluarga yang tidak menguntungkan anak dalam belajar, begitu pula dengan masyarakatnya.
D. Jenis-Jenis Kesulitan Belajar
Adapun beberapa jenis kesulitan belajar adalah sebagai berikut : 1. Kesulitan Belajar Umum
Anak berkesulitan belajar umum secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus maupun umum, baik disebabkan oleh adanya disfungsi neurologis, proses psikologi dasar maupun sebab-sebab lain sehingga prestasi belajarnya rendah dan anak tersebut berisiko tinggi tinggal kelas.
Anak berkesulitan belajar tidak sama dengan anak tunagrahita. Anak berkesulitan belajar umum biasanya ditandai dengan prestasi belajar yang rendah untuk hampir semua mata pelajaran atau nilai rata-rata jauh di bawah rata-rata kelas sehingga mempunyai risiko cukup tinggi untuk tinggal kelas. Kesulitan belajar tersebut disebabkan karena IQ yang rendah. Pada umumnya nak yang mengalami kesulitan belajar karena mempunyai inteligensi di bawah rata-rata yakni dengan IQ antara 70-90. Mereka sulit untuk menangkap pelajarn dan umumnya bersekolah di sekolah-sekolah umum.
Anak berkesulitan belajar kemungkinan juga mengalami gangguan fisik, sosial dan mental yang ringan sehingga cukup mengganggu mereka dalam menangkap pelajaran. Anak yang mengalami gangguan penglihatan jauh akan merasa kesulitan jika ditempatkan di tempat duduk paling belakang, demikian juga dengan anak yang mengalami gangguan pendengaran ringan. Anak yang memilki inteligensi di bawah rata-rata (slow learner) memerlukan penjelasan dengan menggunakan berbagai metode dan berulang-ualang agar mereka dapat memahami pelajaran dengan baik. Anak yang mengalami gangguan tingkah laku memerlukan perhatian yang cukup terhadap persoalan sosial yang dihadapinya agar dapat mengonsentrasikan diri pada pelajaran.
2. Kesulitan Belajar Khusus
Kesulitan belajar khusus dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu kesulitan belajar praakademik dan kesulitan belajar akademik. a. Kesulitan Belajar Pra akademik
1) Gangguan Motorik dan Persepsi
Gangguan perkembangan motorik disebut dispraksia, mencakup gangguan pada motorik kasar, penghayatan tubuh, dan motorik halus. Gangguan persepsi mencakup persepsi penglihatan atau persepsi visual,persepsi pendengaran atau aoditoris, persepsi heptik (raba dan gerak atau tatkil dan kinestik), dan inteligensi sistem persepsual.
Dispraksia atau sering disebut clumsy adalah keadaan sebagai akibat adanya gangguan dalam inteligensi auditori-motor. Anak tidak mampu menggerakkan anggota tubuh dengan benar walaupun tidak ada kelumpuhan anggota tubuh. Ada beberapa jenis dispraksia, antara lain ;
a) Dispraksia ideomotoris, ditandai dengan kurangnya kemampuan dalam melakukan gerakan sederhana sperti ; menggunting, menggosok gigi, atau menggunakan sendok makan.Gerakannya terkesan canggung dan kurang luwes.
b) Dispraksia ideosional, ditandai anak dapat melakukan gerakan kompleks tetapi tidak mampu menyelesaikan secara keseluruhan terutama dalam kondisi lingkungan yang tidak tenang. Kesulitannya terletak pada urutan-urutan gerakan, anak sering bingung mengawali suatu aktivitas, misalnya mengikuti irama musik.
c) Dispraksia konstruksional, ditemukan pada anak yang mengalami kesulitan melakukan gerakan kompleks yang berkaitan dengan bentuk, seperti menyusun balok dan menggambar. Hal ini disebabakan karena kegagalan dalam konsep visiokonstruktif.
2) Kesulitan Belajar Kognitif
Pengertian kognitif mencakup berbagai aspek struktur intelektual yang digunakan untuk mengetahui sesuatu. Kognitif merupakan fungsi mental yang mencaku persepsi, pikiran, simbolisasi, penalaran, dan pemecahan masalah. Perwujudan fungsi kognitif dapat dilihat dari kemampuan anak menggunakan bahasa dan menyelesaikan soal-soal berhitung.
3) Gangguan Perkembangan Bahasa (Disfasia)
Disfasia adalah ketidakmampuan anak menggunakan simbol linguistik dalam berkomunikasi secara verbal. Gangguan pada anakyang terjadi pada fase perkembangan ketika anak belajar berbicara disebut disfasia perkembangan (developmental dysphasia).
Disfasia ada dua jenis, yaitu disfasia reseptif dan disfasia ekspresif. Pada disfasia reseptif anak mengalami gangguan pemahaman dalam penerimaan bahasa. Anak dapat mendengar kata- kata yang diucapakan, tetapi tidak mengerti apa yang didengar karena mengalami gangguan dalam peroses stimulus yang masuk. Pada disfasia eksperesif, anak itdak mengalami gangguan pemahaman bahasa, tetapi ia sulit mengekspresikan kata secara variabel. Anak dengan gangguan perkembangan bahasa akan berdampak akan berdampak kemampuan membaca dan menulis.
4) Kesulitan dalam Penyelesaian Perilaku Sosial
Ada anak yang perilakunya tidak dapat diterima oleh lingkungan sosialnya, baik oleh sesama anak, guru, maupun orang tau. Ia ditolak oleh lingkungan sosialnya karna sering mengganggu, tidak sopan, tidak tahu aturan, atau berbagai perilaku lainnya. Jika kesulitan penyusuaian perilaku sosial ini tidak secepatnya ditngani maka tidah hanya menimbulakan kerugian bagi anak itu sendiri, tetapi juga bagi lingkungannya.
b. Kesulitan Belajar Akademik
Meskipun sekolah mengajarkan berbagai mata pelajaran atau bidang studi, namun klasifikasi kesulitan belajar akademik tidak dikaitkan dengan semua mata pelajaran atau bidang studi tersebut. Berbagai literatur yang mengkaji kesulitan belajar hanya menyebutkan tiga jenis kesulitan belajar akademik sebagai berikut: 1) Kesulitan Belajar Membaca (Disleksia)
Kesulitan belajar membaca sering disebut disleksia.Kesulitan belajar membaca yang berat dinamakan aleksia. Kemampuan membaca tidak hanya merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang akademik, tetapi juga untuk meningkatkan keterampilan kerja dan memungkinkan orang untuk berprestasi dalam kehidupan masyarakat secara bersama.
Ada dua tipe disleksia, yaitu disleksia auditoris dan disleksia visual. Gejala-gejala disleksia auditoris adalah sebagai berikut:
a) Kesulitan dalam diskriminasi auditoris dan persepsi sehingga mengalami kesulitan dalam analisis fonetik, contohnya anak tidak dapat membedakan kata ’ kakak, katak, kapak’;
b) Kesulitan analisis dan sintesis auditoris, contohnya ‘ibu tidak dapat diuraikan ‘i-bu’ atau problem sintesa ‘p-i-ta’ menjadi ‘pita’. Gangguan ini dapat menyebabkan kesulitan membaca dan mengeja;
c) Kesulitan auditoris bunyi atau kata. Jika di beri huruf tidak dapat mengingat bunyi huruf atau kata tersebut, atau klau melihat kata tidak dan mengingatkannya walaupun mengerti arti kata tersebut;
d) Membaca dalam hati lebih baik dari pada membaca lisan;
e) Kadang-kadang disertai gangguan urutan auditoris;
f) Anak cenderung melakuan aktivitas visual.
2) Kesulitan Belajar Menulis (Disgrafia)
Kesulitan belajar menulis disebut jaga disgrafia. Kesulitan belajar menulis yang berat disebut agrafia. Ada tiga jenis pelajaran menulis, yaitu menulis permulaan, mengeja atau dekte, dan menulis ekspresif. Kegunaan kemampuan menulis bagi seorang siswa adalah untuk menyalin, mencatat,dan mengerjakan sebagian besar tugas sekolah. Oleh karena itu, kesulitan belajar menulis hendaknya didekteksi dan ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mempelajari berbagai mata pelajaran yang diajarakn di sekolah.
3) Kesulitan Belajar Berhitung (Diskalkulia)
Kesulitan belajar berhitung disebut juga diskalkulia. Kesulitan belajar berhitung yang berat disebut akalkulia. Ada tiga elemen belajar berhitung yang harus dikuasai oleh anak. Ketiga elemen tersebut adalah konsep, komputasi,dan pemecahan masalah. Seperti halnya bahasa, berhitung merupakan bagian dari matematika yang merupakan sarana berpikir keilmuan. Oleh karena itu, kesulitan belajar bahasa, kesulitan berhitung hendaknya dideteksi dan ditangani dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mempelajari berbagai mata pelajaran lain disekolah.
E. Pengertian Anak Putus Sekolah
Anak putus sekolah adalah keadaan dimana anak mengalami keterlantaran karena sikap dan perlakuan orang tua yang tidak memberikan perhatian yang layak terhadap proses tumbuh kembang anak tanpa memperhatikan hak – hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Undang – Undang nomor 4 tahun 1979, anak terlantar diartikan sebagai anak yang orang tuanya karena suatu sebab, tidak mampu memenuhi kebutuhan anak sehingga anak menjadi terlantar. Menurut Departemen Pendidikan di Amerika Serikat mendefinisikan bahwa anak putus sekolah adalah murid yang tidak dapat menyelesaikan program belajarnya sebelum waktunya selesai atau murid yang tidak tamat menyelesaikan program belajarnya. Anak putus sekolah (drop out) adalah anak yang karena suatu hal tidak mampu menamatkan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar maupun menengah secara formal.
F. Faktor Penyebab Anak Putus Sekolah
Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak putus sekolah yaitu : 1. Kondisi ekonomi keluarga
2. Pengaruh teman yang sudah tidak sekolah
3. Sering membolos
4. Kurangnya minat untuk meraih pendidikan/ mengenyam pendidikan dari anak didik itu sendiri
Disamping itu ada faktor internal dan faktor eksternal : 1. Faktor internal
a. Dari dalam diri anak putus sekolah disebabkan malas untuk pergi sekolah karena merasa minder, tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekolahnya, sering dicemoohkan karena tidak mampu membayar kewajiban biaya sekola.ak dipengaruhi oleh berbagai faktor
b. Karena pengaruh teman sehingga ikut-ikutan diajak bermain seperti play stasion sampai akhirnya sering membolos dan tidak naik kelas , prestasi di sekolah menurun dan malu pergi kembali ke sekolah.
c. Anak yang kena sanksi karena mangkir sekolah sehingga kena Droup Out.
2. Faktor Eksternal
a. Keadaan status ekonomi keluarga.
b. Kurang Perhatian orang tua
c. Hubungan orang tua kurang harmonis
G. Model Konseling Untuk Anak Yang tidak BIsa Belajar (Kesulitan Belajar) dan Putus Sekolah
Secara umum kemungkinan-kemungkinan bantuan yang dapat diberikan kepada siswa tidak bisa belajar dan putus sekolah antara lain : pemberian informasi secara lisan, layanan penempatan, latihan, pengajaran remedial, konsultasi dengan orang tua siswa. Kelima bantuan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Pemberian Layanan Informasi
Tujuan pemberian layanan informasi adalah untuk memberikan berbagai keterangan yang dibutuhkan siswa sesuai dengan masalah yang dialami. Jerome Rosner (1993) mengungkapkan petunjuk untuk mencapai tujuan tersebut layanan ini hendaknya memperhatikan patokan atau rambu-rambu berikut :
a. Pahami dan pastikan bahwa siswa memiliki pengetahuan factual yang diperlukan dalam memahami bahan ajar.
b. Batasi jumlah informasi baru kepada hal-hal yang tercantum pada bahan atau sub pokok bahasan, dan sampaikan sedikit demi sedikit, jika perlu dengan jembatan keledai.
c. Sajikan informasi secara jelas tentang apa yangharus dipelajari.
d. Nyatakan secara eksplisit bahwa informasi yang diajarkan berkaitan dengan informasi yang telah dimiliki siswa.
e. Jika siswa sudah mampu menguasai unit kecil (sub pokok bahasan) perkenlkan dia pada unit yang lebih besar.
f. Siapkan pengalaman ulang untuk memperkuat informasi baru dalam ingatan siswa.
g. Lakukan drill dan latihan yang paling efektif jika perlu siswa diminta mengatakan atau menuliskan apa yang dia lihat dan dengar.
2. Layanan Penempatan
Layanan penempatan dan penyaluran ialah kegiatan pembimbingan yang memungkinkan siswa memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat sesuai dengan kemampuan, bakat, minat, dan cirri-ciri pribaadinya. Tujuan layanan penempatan adalah membantu siswa agar dapat memiliki penyesuaian kepribadian yang lebih baik sehubungan dengan lingkungan sekolah. Kegiatan pelayanan penempatan ini ialah memberikan bantuan dalam hal : pembentukan kelompok belajar; pembentukan kelompok kegiatan; kegiatan ekstrakurikuler; penempatan tempat duduk di kelas; penempatan dalam situasi tertentu yang dapat memecahkan masalah (dalam pengajaran remedial) dan penempatan dalam kelompok khusus lainnya.
3. Latihan
Latihan merupakan kegiatan yang sudah direncanakan dan kegiatan itu dilakukan secara berulang-ulang sampai tercapai tujuan yang sudah ditentukan. Dalam hal ini tujuan merupakan perilaku, kebiasaan, sikap dan keterampilan yang diinginkan. Jadi latihan ini berfungsi mengubah perilaku, sikap dan kebiasaaan lama yang tidak baik dan dianggap penghambat perkembangan anak menjadi sikap, kebiasaan dan perilaku yang baik. Materi latihan harus disesuaikan dengan permasalahan anak dan caranya harus disesuaikan dengan kepribadian anak. Oleh karena itu, dalam melatih dibutuhkan kesabaran dan keterampiln guru.
4. Pengajaran Remidial
Dengan melalui pengajaran remedial dapat dilakukan pembetulan atau perbaikan terhadap sesuatu yang dipandang masih belum mencapai apa yang diharapkan dalam keseluruhan proses belajar-mengajar. Hal-hal yang diperbaiki atau dibetulkan melalui pengajaran remedial, antara lain : perumusan tujuan, penggunaan metode, cara-cara belajar, materi dan alat pelajaran, evaluasi, dan segi-segi pribadi siswa.
5. Konsultasi Dengan Orang Tua Siswa
Konsultasi dengan orang tua siswa dianggap paling banyak manfaatnya dalam membantu kesulitan yang dialami siswa lambat belajar. Konsultasi ini dimaksudkan untuk mendiskusikan kesulitan yang dihadapi anak, member saran-saran bagaimana sebaiknya memberikan layanan kepada anak belajar dan memberikan motivasi dan cara-cara belajar yang efektif dan efisien.
Dibutuhkan dukungan dari semua aspek yang menjadi faktor penentu keberhasilan kegiatan belajar mengajar disekolah dan salah satunya adalah tingkat kemampuan guru dalam menemukan dan melayani perbedaan individu siswa yang mengalami kesulitan belajar.
1. Identifikasi
Identifikasi adalah suatu kegiatan yang diarahkan untuk menemukan siswa yang mengalami kesulitan belajar, yaitu mencari informasi tentang siswa dengan melakukan kegiatan berikut:
a. Data dokumen hasil belajar siswa.
b. Menganalisis absensi siswa di dalam kelas.
c. Mengadakan wawancara dengan siswa.
d. Menyebar angket untuk memperoleh data tentang permasalahan belajar.
e. Tes untuk memperoleh data tentang kesulitan belajar atau permasalahan yang dihadapi.
2. Diagnosis
Diagnosis adalah keputusan atau penentuan mengenai hasil dari pengolahan data tentang siswa yang mengalami kesulitan belajar dan jenis kesulitan yang dialami siswa. Diagnosis ini dapat berupa hal-hal sebagai berikut:
a. Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar siswa
b. Keputusan mengenai factor-faktor yang menjadi sumber sebab-sebab kesulitan belajar
c. Keputusan mengenai jenis mata pelajaran apa yang menjadi kesulitan belajar
Kegiatan diagnosis dapat dilakukan dengan cara ;
b. Membandingkan nilai prestasi individu untuk setiap mata pelajaran dengan rata-rata nilai seluruh individu
c. Membandingkan prestasi dengan potensi yang dimiliki oleh siswa tersebut
d. Membandingkan nilai yang diperoleh dengan batas minimal tujuan yang diharapkan.
3. Prognosis
Prognosis menunjuk pada aktifitas penyusunan rencana atau program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar siswa. Prognosis ini dapat berupa:
a. Bentuk treatmen yang harus diberikan
b. Bahan atau materi yang diperlukan
c. Metode yang akan digunakan
d. Alat bantu belajar mengajar yang diperlukan
e. Waktu kegiatan dilaksanakan
4. Terapi atau pemberian bantuan
Terapi disini adalah pemberian bantuan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk terapi yang diberikan antara lain melalui:
a. Bimbingan belajar kelompok
b. Bimbingan belajar individual
c. Pengajaran remedial
d. Pemberian bimbingan pribadi
Dalam mengatasi terjadinya anak putus sekolah harus adanya berbagai usaha pencegahannya sejak dini, baik yang dilakukan oleh orang tua, sekolah (pemerintah) maupun oleh masyarakat. Sehingga anak putus sekolah dapat dibatasi sekecil mungkin.
Usaha-usaha untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah di antaranya dapat di tempuh dengan cara:
1. Membangkitkan kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan anak
2. Memberikan dorongan dan bantuan kepada anak dalam belajar
3. Mengadakan pengawasan terhadap di rumah serta memberikan motivasi kepada anak sehingga anak rajin dalam belajar dan tidak membuat si anak bosan dalam mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan di sekolah.
4. Tidak membiarkan anak bekerja mencari uang dalam masa belajar.
5. Tidak memanjakan anak dengan memberikan uang jajan yang terlalu banyak. H. Kesimpulan
Setiap individu memiliki perbedaan, baik dari segi fisik, psikis, emosi, dan latar belakang. Hal itu mempengaruhi proses belajar siswa. Ada siswa yang cepat menangkap pelajaran dan ada pula siswa yang lambat.
Anak yang berkesulitan belajar (learning disabilities) adalah anak yang memiliki kesulitan belajar dalam proses psikologi dasar, sehingga menunjukkan hambatan dalam belajar berbicara, mendengar, menulis, membaca dan berhitung. Mereka memiliki potensi kecerdasan yang baik tetapi berprestasi rendah, bukan disebabkan tunanetra, tunarungu, tunagrahita, gangguan emosisonal, gangguan ekonomi, social atau budaya.
Andi, Mapiare. Pengantar Bimbingan dan Konseling Di sekolah, (Surabaya : Usaha Nasional, 1984)., hlm. 80
Surya, Hendra. Kiat Mengatasi Penyimpangan Perilaku Anak. (Jakarta : Elex Media Komputindo, 2004)., hlm. 52.
Tidjan,dkk, Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah . (Yogyakarta : UNY Press, 2000)., hlm. 63-67.
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️