 |
| www.tongkronganislami.net |
A. Pendahuluan
Dengan berakhirnya kekuasaan khalifah Ali ibn Abi Thalib, maka lahirlah kekuasan bani Umayyah. Pada periode Ali dan Khalifah sebelumnya pola kepemimpinan masih mengikuti keteladanan Nabi. Para khalifah dipilih melalui proses musyawarah. Ketika mereka menghadapi kesulitan-kesulitan, maka mereka mengambil kebijakan langsung melalui musyawarah dengan para pembesar yang lainnya.
Hal ini berbeda dengan masa setelah khulafaur rasyidin atau masa dinasti-dinasti yang berkembang sesudahnya, yang dimulai pada masa dinasti bani Umayyah. Adapun bentuk pemerintahannya adalah berbentuk kerajaan, kekuasaan bersifat feodal (penguasaan tanah/daerah/wilayah, atau turun temurun. Untuk mempertahankan kekuasaan, khilafah berani bersikap otoriter, adanya unsur kekerasan, diplomasi yang diiringi dengan tipu daya, serta hilangnya musyawarah dalam pemilihan khilafah.
Umayyah berkuasa kurang lebih selama 91 tahun. Reformasi cukup banyak terjadi, terkait pada bidang pengembangan dan kemajuan pendidikan Islam. Perkembangan ilmu tidak hanya dalam bidang agama semata melainkan juga dalam aspek teknologinya. Sementara sistem pendidikan masih sama ketika Rasul dan khulafaur rasyidin, yaitu kuttab yang pelaksanaannya berpusat di masjid.
Dalam sejarah, islam merupakan gerakan raksasa yang telah berjalan sepanjang zaman dalam pertumbuhan dan perkembangan dirinya. Dengan pengalaman-pengalaman yang naik turun, mju mundur dan berliku-liku ia telah berhasil memberi dan menerima pengaruh-pengaruh dari lingkungan yang dijumpainya. Perubahan perubahan fundamental telah terjadi berkat pokok-pokok dasar ajaran islam yang kenyal dan mengandung falsafah yang menyeluruh dalam segi-segi kehidupan ummat manusia. Perkembangan masyarakat islam mempunyai hubungan timbal balik dengan perkembangan pendidikan islam. Keduanya menggunakan landasan spritual dan sosial yang berasaskan islam.
B. Sejarah pendidikan bani Umayyah
Kekhalifahan bani Umayyah, adalah kekhalifahan pertama setelah masa khulafaur rasyidin yang memerintah dari 661 sampai 750 di Jazirah Arab dan sekitarnya, serta dari 756 sampai 1031 di Kordoba, Spanyol. Nama dinasti ini dirujuk kepada Umayyah bin ‘Abd Asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah, yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan. Beliau pada mulanya hanyalah gubernur Syam. Akan tetapi setelah terjadi pembunuhan Khalifah Ustman bin Affan, maka situasi itu dimanfaatkannya untuk melawan kekuasaan Ali bin Abi Thalib. Sehingga timbul perang Siffin. Hampir semua sejarawan membagi Dinasti Umayah menjadi dua (2), yaitu ; pertama Dinasti Umayyah yang dirintis dan didirikan oleh Muawiyah Ibn Abi Sufyan yang berpusat di Damaskus (Siria). Fase ini berlangsung sekitar satu abad dan mengubah system pemerintahan dari system khalifah pada system mamlakat (kerajaan/monarki). Dan kedua, Dinasti Umayyah di Andalusia (Siberia) yang pada awalnya merupakan wilayah taklukan Umayyah di bawah pimpinan seorang gubernur pada zaman Walid Ibn Abd Al-Malik; kemudia diubah menjadi kerajaan yang terpisah dari kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah setelah berhasil menaklukkan Dinasti Umayyah di Damaskus.
Daulah Bani Umayyah mempunyai peranan penting dalam perkembangan masyarakat di bidang politik, ekonomi dan sosial. hal ini didukung oleh pengalaman politik Muawiyah sebagai Bapak pendiri daulah tersebut yang telah mampu mengendalikan situasi dan menepis berbagai anggapan miring tentang pemerintahannya. Muawiyah bin Abu sufyan adalah seorang politisi handal di mana pengalaman politiknya sebagai gubernur Syam pada masa khalifah Utsman bin Affan cukup mengantar dirinya mampu mengambil alih kekuasaan dari genggaman keluarga Ali bin Abi Thalib.
Perintisan Dinasti Umayyah dilakukan oleh Muawiyah dengan cara menolak membaiat Ali bin Abi Thalib, berperang melawan Ali, dan melakukan perdamaian (Tahkim) dengan pihak Ali yang secara politik sangat menguntungkan Muawiyah. Keberuntungan Muawiyah berikutnya adalah keberhasilan pihak Khawarij membunuh Khalifah Ali r.a. jabatan khalifah dipegang oleh putranya, Hasan Ibn Ali selama beberapa bulan. Akan tetapi, karena tidak didukung oleh pasukan yangkuat, sedangkan pihak Muawiyah semakin kuat, akhirnya Muawiyah melakukan perjanjian dengan Hasan Ibn Ali. Isi perjanjian itu adalah bahwa penggantian pemimpin akan diserahkan kepada umat Islam setelah masa Muawiyah berakhir. Perjanjian ini dibuat pada tahun 661 M (41 H). dan pada tahun tersebut dinamakan ‘amu Jama’ah karena perjanjian ini mempersatukan umat Islam kembali menjadi satu kepemimpinan politik, yaitu Muawiyah. Pada masa itu, umat Islam telah bersentuhan dengan peradaban Persia dan Bizantium. Oleh karena itu, Muawiyah juga bermaksud meniru cara suksesi kepemimpinan yang ada di Persia dan Bizantium, yaitu monarki (kerajaan).
Pada masa dinasti Umayyah politik telah mengalami kamajuan dan perubahan, sehingga lebih teratur dibandingkan dengan masa sebelumnya, terutama dalam hal Khilafah (kepemimpinan), dibentuknya Al-Kitabah (Sekretariat Negara), Al-Hijabah (Ajudan), Organisasi Keuangan, Organisasi Keahakiman dan Organisasi Tata Usaha Negara.
C. Pendidikan islam pada masa bani umayyah di andalusia
Kemajuan dalam bidang pendidikan yang dicapai pada masa ini berkaitan sekali dengan mantapnya system pemerintahan Islam sebagai suatu Negara. Pada masa ini, perhatian Kaum Muslimin diarahkan kepada pembangunan peradaban, ilmu pengetahuan dan lain-lain. Hal ini tiada lain adalah karena adanya hubungan atau persentuhan dan kontak budaya dengan bangsa-bangsa lain yang telah ditaklukkan. Pada masa Dinasti Muawiyah pendidikan Islam mencapai kemajuan yang sangat pesat, baik di bidang ilmu pengetahuan maupun kebudayaan. Berbagai disiplin ilmu berkembang pesat pada masa itu. Hal ini ditandai dengan banyaknya bermunculnya figure-figur ilmuan yang cemerlang di bidangnya masing-masing dan sampai sekarang, buah pikiran mereka menjadi bahan rujukan para akademis, baik dibarat maupun di timur.
Islam pada masa Dinasti Muawiyah telah mencatat satu lembaran peradaban dan kebudayaan yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyebrangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad XII. Minat terhadap pendidikan dan ilmu pengetahuan serta filsafat mulai dikembangkan pada abad IX M selama pemerintahan penguasa Bani Umayah yang ke-5, Muhammad ibn Abd Al-Rahman. Sejak pemerintahan muawiyyah telah melakukan sejumlah pendekatan agar sistem penggantian khalifah yang hendak dikembangkan, yaitu turun temurun, dapat lancar dilaksanakan. Dia melakukan pendekatan kepada sejumlah tokoh elite politik untuk mendukung kebijakannya itu. Kemudian khalifah mengumumkan dekret pertamanya, yaitu mengangkat putranya, yazid sebagai putra mahkota, pewaris tahta kekhalifahan bani umayyah.
Dinasti bani umayyah berkuasa sejak tahun 41 H sampai dengan 132 H. Dengan 14 orang kekhalifahannya silih berganti. Ditinjau dari segi pendidikan pada masa kerajaan bani umayyah telah berlangsung beberapa aktifitas pendidikan sebagai berikut:
a. Lembaga pendidikan
Pada masa ini, lembaga pendidikan adalah masjid dan kuttab. Masjid telah memegang peranan sebagai lembaga pendidikan sejak zaman Rasulullah. Di masjidlah Rasulullah menyampaikan ajaran-ajaran keislaman. Kemudian para khulafaurrasyidin juga memfungsikan masjid sebagai tempat pendidikan, begitu juga sampai kepada zaman bani umayyah. Dimasjid para ulama memberikan pendidikan agama dalam berbagai cabang ilmu keagamaan. Dalam masjid terdapat dua tingkatan sekolah, tingkatan menengah dan perguruan tinggi. Pelajaran yang diberikan dalam tingkat menengah dilakukan secara perorangan, sedangkan pada tingkat perguruan tinggi, dilakukan secara halakah, murid duduk bersama mengelilingi guru. Hasan langgulung menyebutkan bahwa diantara jasa besar kerajaan umayyah dalam perkembangan ilmu pengetahuan adalah menjadikan masjid sebagai pusat aktifitas ilmiyah, termasuk sya’ir, sejarah bangsa-bangsa terdahulu, perdebatan dan akidah.
Masjid masjid dijadikan sebagai sentral pendidikan. Pada pemerintahan Walid bin Abdul malik didirikanlah masjid umayyah di damaskus yang merupakan universitas terbesar di zaman itu. Pada zaman ini pulalah didirikan masjid az-zaitunah di tunisia yang dianggap sebagai universitas tertua di dunia yang masih hidup sampai sekarang yang didirikan oleh al-habhab pada tahun 114 H. Pada masa ini jugalah didirikan masjid qairawan di Afrika utara oleh Uqbah bin Nafi’i.
Selain dari masjid, maka lembaga pendidikan berikutnya adalah kuttab. Kuttab adalah tempat pendidikan anak-anak selain dari rumah tangga dan mesjid. Sebetulnya kuttab telah ada sebelum datangnya agama islam, akan tetapi belum tersebar luas dan orang yang masuk kuttab masih sangat sedikit. Dengan adanya kuttab, maka sebagian kecil dari bangsa Arab bisa membaca dan menulis baru 17 orang saja diantara penduduk makkah.
Kehadiran kuttab dapat dihubungkan dengan semangat umat islam menuntut ilmu. Islam telah mendorong penganutnya untuk belajar membaca dan menulis dengan giat. Pada waktu terjadinya perang badar, banyak penduduk mekkah menjadi tawanan kaum muslimin. Rasulullah memerintahkan kepada tawanan yang pandai membaca dan menulis agar mengajari kaum muslimin sebagai tebusandiri mereka.
b. Pusat pusat pendidikan
Pada masa daulat umayyah, islam telah tersebar keberbagai daerah di luar saudi Arabiya, seperti Syria (Syam), Irak, Iran (Parsi), Mesir, Maghribi (Maroko), dan telah sampai pula keandalusia (spanyol) tahun 711 M. Dengan tersebarnya islam ke berbagai daerah tersebut, maka timbul pulalah pusat-pusat pendidikan islam, antara lain:
1. Di kota mekkah dan madinah (hijaz)
2. Dikota basrah dan kufah (irak)
3. Dikota damsyik dan palestina (syam)
4. Dikota fustat (mesir)
Mahmud yunus mengemukakan tentang madrasah-madrasah yang terkenal pada masa umayyah dan telah banyak melahirkan ulama.
1) Madrasah mekkah
2) Madrasah madinah
3) Madrash Basrah
4) Madrasah Kufah
5) Madrasah Damsyik (syam)
6) Madrasah fustat (mesir)
Berdasarkan diatas dapat dilihat bahwa para sahabat Nabi itu tersebar keberbagai kota-kota islam dan disana mereka menjadi ulama yang melahirkan pula generasi ulama berikutnya dan demikianlah seterusnya sehingga estafet keilmuan ilmu islam itu bergulir dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Perguliran keilmuan islam itu tiada lain karena adanya pendidikan islam, dengan demikian terjadilah tranfer ilmu, nilai, dan skill dari satu generasi kegenerasi berikutnya.
Diantara ulama-ulama termashur yang mewakili kota-kota islam pada waktu iti antara lain:
1. Abdullah bin umar di mekkah
2. Abdullah bin mas’ud di kufah
3. Abdullah bin Abbas di mekkah
4. Abdullah bin ‘Amr bi’Ash di mesir
c. Pertumbuhan ilmu pengetahuan
Pada zaman daulat umayyah, islam telah tersebar keberbagai daerah seperti yang telah diungkapkan terdahulu. Pengaruh perluasan daerah tersebut timbulnya kontak antara umat islam dengan penduduk yang mereka taklukkan. Daerah-daerah yang ditaklukkan umat islam itu sebelum ditaklukkan oleh umat islam telah memiliki peradaban yang tinggi, seperti: parsi, irak dan mesir.
Terjadinya kontak umat islam dengan berbagai peradaban tersebut terutama peradaban yunani, mendorong umat islam untuk mempelajari serta mendalami falsafah yunani dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya.
Alexander yang Agung Raja Macedonia menaklukkan Parsi di abad ke- 3 sebelum masehi. Alexander menaklukkan daerah ini tidak hanya menaklukkan ekspansi militer, tetapi juga kedatangan beliau kedunia timur ini membawa peradaban yunani dalam hal ini filsafat yunani. Dengan demikian berkembanglah pemikiran yunani ke dunia timur. Dampak dari itu melahirkan semangat berfilsafat dan keilmuan.
Pada zaman bani umyyah itu mulailah diletakkan dasar-dasar ilmu pengetahuan baik naqliyyah maupun aqliyyah. Ilmu-ilmu aqliyyah naqliyyah meliputi: fiqih, tafsir, hadis, tauhid dan bahasa arab. Adapun dalam ilmu aqliyyah meliputi: filsafat, kedokteran, ilmu kimia, dan astronomi. Dalam bidang ilmu naqliyyah, maka muncul para mujtahid, dan timbullah dengan subur semangat berijtihad berarti suasana alam pikiran umat islam menjadi dinamis.
d. Ciri pendidikan islam masa pertumbuhan
Zaman Rasulullah, khulafaurrasyidin dan zaman bani umayyah, dapat dikelompokkan dalam periode zaman pertumbuhan pendidikan islam. Pada zaman pertumbuhan diletakkan dasar-dasar awal pendidikan islam. Ada beberapa hal yang menjadi ciri pendidikan islam pada masa pertumbuhan ini:
a) Rasulullah telah meletakkan dasar-dasar pertumbuhan pendidikan islam sejak diturukannya wahyu pertama kepada beliau, maka islam telah memasuki era pendidikan. Karena dengan turunnya wahyu yang sekaligus Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul.
b) Pendidikan berbasis al-qur’an, titik tolak Rasulullah dalam mendidik sahabat-sahabatnya. Bertolak dari wahyu yang turun.
c) Pada zaman khulafaurr rasyidin, pendidikan islam berkembang keberbagai wilayah sesuai dengan perkembangan islam. Perluasan wilayah keluar jazirah Arab banyak pengaruhnya bagi pertumbuhan intelektual muslim.
d) Pada era khulafaurrasyidin ini core pendidikan islam masih tetap pendidikan keagamaan, pendidikan sains masih tahap pengenalan pada zaman bani umayyah.
e) Sahabat-sahabat nabi banyak berpindah keberbagai wilayah taklukkan merupakan sumber daya manusia yang menjadi pembimbing keagamaan dan kerohanian bagi masyarakat muslim.
f) Banyaknya orang yang baru masuk islam pada daerah-daerah penaklukkan menjadikan pendidikan islam memegang fungsi yang sangat strategis pada ketika itu.
Ketika kaum muslimin di bawah pemerintahan khulafaurrasyidin , pendidikan islam juga mendapat tempat yang baik. para khalifah sesuai kondisi dan situasi pada setiap khalifah selalu terkait erat dengan pendidikan.
Zaman umayyah, pendidikan islam sudah mengalami perkembangan melebih, dari zaman-zaman sebelumnya. Pergaulan antar bangsa semakin menguat. Islam telah bertapak di tiga benua: asia, afrika dan erofa. Berbagai bangsa telah menjadi penganut islam.
Pada masa ini semakin intensiflah kontak peradaban. Dalam kontak peradaban ini tentu kaum muslimin telah semakin mengenal peradaban-peradaban yang telah maju di daerah-daerah yang di taklukkan (syam, irak, persia, mesir, afrika, andalusia, dan sampai kebagian Timur wilayahTranssoksiana dan juga sampai ke india. Kontak peradaban inilah merupakan cikal bakal bagi kemajuan ilmu pengetahuan di dunia islam.
Didalam kontak peradaban tersebut, umat islam dapat menyaring (menapis) apa yang baik bagi mereka dan apa yang tidak baik. Hal-hal yang baik, seperti ilmu dan filsapat, mulailah mereka pelajari. Hal-hal yang tidak baik, seperti keyakinan yang menyimpang dari akidah islam mereka jauhi. Di sini yang dapat diketengahkan bahwa sikap memilah-milah yang baik itu dapat dijadikan ibrah bagi umat islam sepanjnag zaman.
D. Akhir masa kekhalifahan muawiyyah
Ciri utama masa kekhalifahan umayyah di damaskus dalam segi sosial adalah kemewahan sebagai akibat kejayaan dalam politik. Sementara itu nilai-nilai keislaman tenggelam oleh nilai-nilai keduniaan, meski semua penampilan secara formal menggunakan simbol-simbol islam. Disamping itu perbudakan merupakan gejala sosial yang umum di kala itu, terutama di kalangan para ningrat.
Sementara itu dalam kehidupan politik tidak dapat dikatakan aman dan mulus. Karena kebijakan setiap khalifah selalu dilaksanakan dengan tangan besi, upaya pemberontakan seperti tidak pernah terjadi. Sebetulnya akibat ketidak puasan selalu terjadi dimana-mana. Beberapa daerah keamiran telah menyatakan memisahkan diri dan bersikap oposisi. Salah satu gerakan oposisi dilakukan oleh abas. Salah seorang paman nabi muhammad.
Dengan dalih ingin mengembalikan keturunan Ali ke atas singgasana kekhalifahan, Abas berhasil menarik dukungan kaum syi’ah dalam mengorbankan perlawanan terhadap kekhalifahan umayyah. Abas kemudian memulai makar dengan melakukan pembunuhan sampai tuntas semua keluarga khalifah, yang waktu iti dipegang oleh khalifah Marwan II bin Muhammad. Begitu dahsyatnya pembunuhan itu , sampai menyebut dirinya sang pengalir darah atau as-saffar.
Dalam peristiwa itu salah seorang pewaris takhta kekhalifahan Umayyah, yaitu Abdurrahman yang baru berumur 20 tahun, berhasil menyusun kembali kekuatan bani umayyah di seberang lautan, yaitu di keamiran Cordova. Disana dia berhasil mengembalikan kejayaan kekhalifahan Umayyah dengan nama kekhalifahan Andalusia.
E. Kesimpulan
Kekhalifahan bani Umayyah, adalah kekhalifahan pertama setelah masa khulafaur rasyidin yang memerintah dari 661 sampai 750 di Jazirah Arab dan sekitarnya, serta dari 756 sampai 1031 di Kordoba, Spanyol. Nama dinasti ini dirujuk kepada Umayyah bin ‘Abd Asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah, yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan.
Beliau pada mulanya hanyalah gubernur Syam. Akan tetapi setelah terjadi pembunuhan Khalifah Ustman bin Affan, maka situasi itu dimanfaatkannya untuk melawan kekuasaan Ali bin Abi Thalib. Sehingga timbul perang Siffin.Hampir semua sejarawan membagi Dinasti Umayah menjadi dua (2), yaitu ; pertama Dinasti Umayyah yang dirintis dan didirikan oleh Muawiyah Ibn Abi Sufyan yang berpusat di Damaskus (Siria).
Dinasti bani umayyah berkuasa sejak tahun 41 H sampai dengan 132 H. Dengan 14 orang kekhalifahannya silih berganti. Ditinjau dari segi pendidikan pada masa kerajaan bani umayyah telah berlangsung beberapa aktifitas pendidikan sebagai berikut:
1. Lembaga pendidikan
2. Pusat-pusat pendidikan
3. Pertumbuhan ilmu pengetahuan
4. Ciri pendidikan islam masa pertumbuhan
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️