A. Pendahuluan
Ilmu nahwu merupakan salah satu ilmu alat yang bisa memahamkan kita dalam berbahasa arab serta memahami al-Quran dan Hadits yang menjadi pedoman umat islam di dunia. Serta dapat memahamkan kita dalam mengkaji kitab-kitab karangan para ulama pada zaman dahulu maupun sekarang. Ilmu nahwu dan shorof kalau kita ibaratkan bagaikan perahu dan dayung yang kita gunakan
untuk menuju ke sebuah pulau yang indah. Tanpa dayung dan perahu tersebut kita tidak akan dapat menuju ke sebuah pulau tersebut, sama halnya apabila kita tidak tahu tentang ilmu alat (nahwu dan shorof) kita tidak akan bisa memahami al-Quran dan Hadits secara baik dan benar.
Maka dari itu ilmu alat mempunyai peran yang sangat penting sekali bagi kita semua sebagai media untuk memahamkan kita mempelajari konteks arab.
Dalam makalah ini akan dijelaskan sebagian kecil dari ilmu nahwu, yaitu tentang Kaana dan Saudara-saudaranya.
B. Pengertian kana waakhwatuha
Bagian pertama dari nawasikh ibtida, ialah kaana dan akhwatnya. Kemudian perlu diketahui, bahwa mubtada itu kadang-kadang dinasakh oleh fiil kaana, zhonna, Inna beserta akhwatnya masing-masing. Kaana dan akhwatnya merupakan salah satu dari amil nawasikh. Amil nawasikh ialah amil baik fiil maupun huruf yang merusak susunan jumlah ismiyah.
Menurut kesepakatan ahli nahwu kaana dan saudara-saudaranya merupakan fiil, kecuali lafadz laisa. Kebanyakan ahli nahwu berpendapat bahwa laisa adalah fiil. Akan tetapi al farisi dan Abu Bakar ibnu Syukair mengatakan bahwa laisa adalah huruf.
C. Akhwat kana
كَكَانَ ظَلَّ بَاتَ اَضْحَى اَصْبَحَا # اَمْسَى وَصَارَ لَيْسَ زَالَ بَرِحَا
فَتِئَ وَانْفَكَ وَهَذِى الْاَرْبَعَهْ # لِشِبْهِ نَفْيٍ اَوْ لِنَفْيِ مُتْبَعَهْ
وَمِثْلُ كَانَ دَامَ مَسْبُوْقًا بِمَا # كَاَعْطِ مَا دُمْتَ مُصِيْبًا دِرْهَمَا
Menyamai kaana dalam pengamalannya lafaz zhalla, baata, adhha, ashbaha, amsa, shara, laisa, zaala, bariha.
Fatia, infakka, empat lafaz (yang terakhir) ini disyaratkan diikuti dengan nafi atau serupa nafi
Dan menyamai kaana yaitu lafaz daama dengan didahului maa masdariyah dzorfiyah, seperti lafaz “A’thi maa dhumta mushiiban dirhaman” 1. Zhalla, bermakna menggambarkan bahwa hal yang diberitakan itu terjadi pada siang hari.ظَلَّ زَيْدٌ صَائِمًا “siang hari zaid puasa”
2. Baata, bermakna menggambarkan bahwa hal yang diberitakan itu terjadi pada malam hari. بَاتَ زَيْدٌ سَاهِرًا “malam hari zaid sahur”
3. Adh-ha, bermakna menggambarkan bahwa hal yang diberitakan itu terjadi pada waktu dhuha. اَضْحَى زَيْدٌ ذَاهِبًا “waktu dhuha zaid pergi”
4. Ashbaha, bermakna menggambarkan bahwa hal yang diberitakan itu terjadi pada waktu pagi. اَصْبَحَ اْلبَرْدُ شَدِيْدًا “waktu shubuh dingin sekali”
5. Amsa, bermakna menggambarkan bahwa hal yang diberitakan itu terjadi pada waktu sore hari. اَمْسَى زَيْدٌ رَاجِعًا “sore hari zaid pulang”
6. Shara, bermakna perpindahan dari suatu keadaan ke keadaan lain.
صَارَ زَيْدٌ عَاِلمًا “zaid menjadi orang yang alim
7. Laisa, bermakna bukan atau tidak. لَيْسَ زَيْدٌ طَبِيْبًا “zaid bukan dokter”
8. Ma Zaala, bermakna senantiasa atau masih. مَازَالَ زَيْدٌ قَائِمًا “zaid masih berdiri”
9. Ma Bariha, bermakna senantiasa atau masih. مَابَرِحَ زَيْدٌ صَائِمًا “zaid masih puasa”
10. Ma Fatia, bermakna senantiasa atau masih. مَافَتِئَ زَيْدٌ فِى اْلمَسْجِدِ “zaid masih di mesjid”
11. Ma Infaka, bermakna senantiasa atau masih. مَابَرِحَ زَيْدٌ مُقِيْمًا “zaid masih bermuqim”
12. Ma Daama, bermakna tetap dan terus menerus. اَعْطِ مَا دُمْتَ مُصِيْبًا دِرْهَمَا “berilah selagi kamu masih tetap memperoleh dirham
D. Amalnya kana dan Akhwatnya
تَرْفَعُ كَانَ اْلمُبْتَدَا اسْمًا وَاْلخَبَرْ # تَنْصِبُهُ كَكَانَ سَيِّدًا عُمَرْ
Kaana merafakan mubtada sebagai isimnya, dan khabarnya di nashab-kan olehnya seperti “Kaana sayyidan Umar”
Jadi, kaana dapat merafakan mubtada dan menashab-kan khabarnya mubtada, yang di-rafa-kannya dinamakan sebagai isimnya, dan yang dinashab-kannya dinamakan sebagai khabar-nya.
Seperti lafaz كَانَ سَيِّدًا عُمَرْ “umar adalah sayyid”
Mengenai amalnya Kaana dan akhwatnya terbagi dua macam:
1) Yang bisa beramal tanpa syarat, ialah:
كَكَانَ ظَلَّ بَاتَ اَضْحَى اَصْبَحَا # اَمْسَى وَصَارَ لَيْسَ. . .
1. كان
2. بات
3. ظل
4. اضحى
5. . اصبح
6. امسى
7. صار
8. ليس
2) Yang bisa beramal dengan syarat sebagai berikut:
Didahului dengan lafadz naafi atau syibih naafi, ialah:
.زَالَ بَرِحَا
فَتِئَ وَانْفَكَ وَهَذِى الْاَرْبَعَهْ # لِشِبْهِ نَفْيٍ اَوْ لِنَفْيِ مُتْبَعَهْ
1. زَال
2. بَرِحَ
3. فَتِئَ
4 . انْفَكَ
3) Didahului oleh maa masdariyah zhorfiyah, ialah:
وَمِثْلُ كَانَ دَامَ مَسْبُوْقًا بِمَا # كَاَعْطِ مَا دُمْتَ مُصِيْبًا دِرْهَمَا
1. دَامَ
E. Kaana taam dan kana naqhis
Fiil yang tam ialah fiil yang merasa cukup dengan lafadz (fail) yang di rafakannya
Selain tam disebut fiil naqhis. Dalam lafadz fati’a, laisa, dan zaala, fiil naqhis yang selalu diberlakukan dalam beramal
Maksudnya bait di atas ialah bahwa fiil jenis ini terbagi dua bagian yaitu: Fiil Taam dan Fiil Naqhis. Yang dimaksud taam ialah fiil yang cukup dengan lafadz fail yang dirafakannya. Naqhis ialah fiil yang tidak cukup dengan lafadz yang dirafakannya, bahkan membutuhkan lafadz yang dinashabkannya.
Semua fiil jenis ini boleh digunakan dalam keadaan taam kecuali lafadz Fati’a, dan Zaala yang fiil mudharinya berbentuk Yazaalu bukan yang berbentuk Yazuulu, karena mudhari yang kedua ini berasal dari fiil yang taam seperti dalam contoh berikut:
زالت الشمس matahari telah tenggelam.
Dikecualikan pula dari fiil ini lafadz laisa karena lafadz laisa tidaklah digunakan selain dalam keadaan Naqhishah.Contoh untuk fiil yang taam ialah firman Allah swt.
كُنْ فَيَكُوْنُ jadilah kamu maka terjadilah.
Contoh untuk fiil yang Naqhis ialah firman Allah swt.
وَكَانَ اللهُ غَفُوْرًا رَحِيْمًا dan Allah itu maha pengampun lagi maha penyayang. F. Pengertian inna
inna wa akhwatuha adalah salah satu dari amil nawasib yang dapat merusak amalnya mubtada’ khobar. إنّ وأخواتها beramal الاسم و ترفع الخبر تنصب yaitu menashobkan isim dan merofakan khobar. Contoh: إنَّ زيدا قائمٌ
إنَّ زيدا قائمٌ asalnya زيدٌ قائمٌ (susunan mubtada – khobar tanpa إنَّ ) tetapi setelah dimasuki inna, maka mubtada yang pada awalnya rofa’ berubah menjadi nashab.
G. Macam-macam inna
a. اِنَّ dan أن bermakna للتَّوْكِيْد yaitu mengutkan kandungan hukum yang dimasuki.
b. لَكِنَّ bermakna لِلْاسْتِدْ رَاك yaitu memberi keterangan pada kalam sebelumnya
c. menghilangkan perkara yang dianggap ada
contoh: زَيْدٌ عَالِمٌ لَكِنَّهُ غَيْرُ صَاِلحٍ
d. perkara yang dianggap tidak ada
contoh: زَيْدٌ جَاهِلٌ لَكِنّهُ صَالِحٌ
e. لَيْتَ bermakna للتمنى yaitu:
f. Mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi
Contoh: لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُوْدُ يَوْمًا Semoga sifat muda kembali disuatu hari Mengharapkan sesuatu yang sulit terjadi
Contoh: لَيْتَنِى عَالِمٌ بِغَيْرِ اِجْتِهَاٍد فِى التّعَلُّمِ Semoga saya pintar tanpa sungguh-sungguh dalam belajar
g. لَعَلّ : memiliki dua makna yaitu:
h. لِلتَّرَجِّى, mengharapkan sesuatu yang disenangi.
Contoh: لَعَلَّ اْلحَبِيْبَ قَادِمٌ semoga sang kekasih datang.
i. لِلتَّوَقُّعْ, mengharapakan sesuatu yang tidak disenangi
Contoh: لَعَلَّ زَيْداً هَالِكٌ semoga zaid mati.
j. كَانَ bermaknaلِلتّشْبِيْهِ , yaitu menyerupakan perkara satu dengan perkara yang lain dalam sifat yang khusus.
Contoh: كَانَ عَمْرًا اَسَدٌ umar seakan-akan (seperti) singa H. Syarat-syarat inna wa akhwatuha
Mubtada dan khobar tertib dalam satu ma’mul.
Syarat yang pertama إنّ و أخواتها. Dapat beramal adalah susunan mubtada (isim) dan khobar harus tertib dalam satu ma’mul, seperti pada contoh : إنّ زيدًا قائمٌ. Maka tidak boleh mendahulukan khobarnya dengan mengucapkan قائمٌ إنّ زيدًا , atau memisah antara إنّ dan isimnya dengan mengucapkan إنّ قائمٌ زيدًا.
Tetapi jika khobarnya berbentuk ظرف / جار مجرور, khobar boleh didahulukan sebagai pemisah antara إنّ dan isimnya.
Contoh:
إنَّ عندك زيدًا (khobar berbentuk ظرف)
إنّ في الدار زيدًا (khobar bentuk جار مجرور)
Adapun jika khobar berbentuk ظرف / جار مجرور ini mendahului inna maka tetap tidak diperbolehkan. Seperti dalam contoh: عندك إنَّ عندك زيدًا / في الدار إنّ زيدًا
2. إنّ و أخواتها tidak dimasuki ما زائدة (tambahan)
Syarat yang kedua إنّ و أخواتها dapat beramal adalah tidak adanya ما زائدة yang masuk pada إنّ و أخواتها. Karena jika terdapat ما yang menempel pada إنّ maka amal dari inna beserta akwatnyamenjadi batal.
Contoh:
إنّما زيدٌ قا ئم (amal إنّ dibatalkan)
لعلّما اللهُ يرحمنا (amal لعّل dibatalkan)
كأنّما العلمُ نورٌ (amal كأنّ dibatalkan)
علمتُ أنّما ولدُك عالمٌ (amal أنّ dibatalkan)
Sementara jika maa ini masuk pada ليت , maka boleh beramal dan boleh tidak.
Contoh:
ليتما الشبابُ يعود يوما (amal ليت dibatalkan) atau
ليتما الشبابَ يعود يوما (amal ليت ditetapkan)
3. Lafadz إنّ , أنّ , لكنّ, dan كأنّ bisa di takhfif dengan cara membuang nun yang kedua dan dibaca إنْ , أنْ, لكنْ , dan كأنْ. Dengan ketentuan sebagai berikut :
إنّ . a jika di takhfif maka amalnya boleh ditetapkan dan boleh juga dibatalkandengan syarat khobarnya harus di tambahkan لام
Contoh:
إنْ اباك طبيبٌ (amalnya ditetapkan dengan menashabkan اباك)
إنْ ابوك لطبي (amalnya dibatalkan dengan menambahkan لام pada khobarnya)
b. أنّ, jika di takhfif maka khobarnya harus berupa jumlah
Contoh:
علمت انْ العطلةُ قريبة (amalnya dibatalkan dan khobarnya berbentuk jumlah)
c. Lafadz لكنّ, jika ditakhfif maka amalnya wajib dibatalkan.
Contoh:
جاء زيدٌ لكنْ ابوه مسافر (amalnya dibatalkan dan لكنْ disebut huruf استدراك
I . Kesimpulan
Kaana dan akhwatnya merupakan salah satu dari amil nawasikh. Amil nawasikh ialah amil baik fiil maupun huruf yang merusak susunan jumlah ismiyah.
Menurut kesepakatan ahli nahwu kaana dan saudara-saudaranya merupakan fiil, kecuali lafadz laisa. Kebanyakan ahli nahwu berpendapat bahwa laisa adalah fiil. Akan tetapi al farisi dan Abu Bakar ibnu Syukair mengatakan bahwa laisa adalah huruf.
تَرْفَعُ كَانَ اْلمُبْتَدَا اسْمًا وَاْلخَبَرْ # تَنْصِبُهُ كَكَانَ سَيِّدًا عُمَرْ
Kaana merafakan mubtada sebagai isimnya, dan khabarnya di nashab-kan olehnya seperti “Kaana sayyidan Umar”
inna wa akhwatuha adalah salah satu dari amil nawasib yang dapat merusak amalnya mubtada’ khobar. إنّ وأخواتها beramal الاسم و ترفع الخبر تنصب yaitu menashobkan isim dan merofakan khobar.
Bahrun Abu Bakar Terjemahan Alfiyah Syarah Ibnu Aqil, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2010). Hlm 34 Moch Anwar, Tarjamah Matan Alfiyah, (Bandung: Alma’arif, 1972).hlm 123 M. Sholihuddin Shofwan, ,Terjemah Alfiyah Ibnu Malik,( Jombang: Darul Hikmah, 2007).hlm 117
Muhammad Maftuhin Sholih, Awdohul Masalik Fi Tarjamati Alfiyah Ibn Malik Juz 1 (Surabaya: Putera Jaya) Hlm. 214
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️