MAKALAH MANGUPA DITINJAU BERDASARKAN HUKUM ISLAM

Baca Juga



     A.      Pendahuluan
Adat istiadat merupakan warisan leluhur yang masih ada di tenggah-tengah masyarakat, karena ada istiadat merupakan tatanan yang mengatur kehidupan di masyarakat secara turun temurun. Masyarakat yang beradat lebih tertib dalam menjalankan berbagai persoalan kehidupan bermasyarakat. Begitu pula dengan adat istiadat yang masih dipakai masyarakat di berbagai daerah di indonesia, begitu juga khususnya di Tapanuli Selatan.
Pada prosesi penerimaan boru dan horja adat Tapanuli Selatan, ada beberapa hal yang perlu di perhatikan. Tradisi yang dilakukan pada upacara manarimo boru dan horja ini sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu. Di samping itu ada beberapa persyaratan adat harus dipenuhi agar upacara adat tersebut dapat terselenggara.
Untuk lebih jelasnya mengenai upacara manarimo boru dan horja kami dari pemakalah akan mempersentasikannya. Dalam hal ini kami dari pemakalah meminta kritik dan sarannya kepada Dosen Pembimbing dan para saudara dan saudari, untuk kelancaran acara diskusi ilmiah kita ini.

B.       Pengertian upara mangupa haroan boru
Upacara Mangupa Haroan Boru adalah salah satu serangkaian upacara adat dalam pesta perkawinan yang bertujuan mengembalikan tondike badan. Upacara adat ini berasal dari tapuli selatan, sumatera utara, yang memiliki tata laksana spesifik dan fungsi nasehat untuk pasangan pernikahan yang akan mengarungi bahtera kehidupan.[1]
Menurut Agama Kristen tujuan terutama untuk menguatkan, meneguhkan dan memberi semangat kepada anak atau boru yang sakit, terkejut atau baru lepas dari bahaya. Pada jaman pra-kristen orang yang sakit, lemah, terkejut, celaka dianggap ditinggalkan oleh roh-nya (tondi-nya) karena itu perludiupa-upa agar rohnya kembali: “mulak tondi tu ruma”. Sebab itulah nenek moyang kita kadang memberikan beras ke atas kepala anak atau borunya. Istilah boras si pir ni tondi menunjuk kepada pemahaman bahwa tondi (roh) si sakit harus dikuatkan dan didinginkan. Istilah boras si pir ni tondi ini tidak cocok lagi dengan kekristenan kita yang menghayati kesatuan pribadi (tubuh-roh). Selain itu bagi orangyang beriman kepada Kristus makanan (sipanganon) tidak lagi dianggap memiliki kekuatan magis atau menjadi medium berkat. Sumber kesembuhan, kekuatan dan keselamatan  adalah Tuhan Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit. Boras hanyalah simbol hahorason! Sebab itu acara mangupa-upa bagi Kristen adalah kebaktian atau ibadah memohon kesembuhan atau kekuatan kepada Allah Bapa, AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus. Makanan upa-upa hanyalah simbol kasih dan perhatian kita kepada yang sakit dan bukan medium (parhitean) berkat. Dalam mangupa-upa perhatian harus tetap tertuju kepada Kristus yang tersalib dan bangkit. Jelas dan tegas bagi kita Kristus itulah satu-satunya sumber kehidupan.[2]

C.      Asal-Usul
Upacara Mangupa atau upah-upah  merupakan salah satu upacara adat yang berasal dari Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Upacara Mangupa bertujuan untuk mengembalikan tondi ke badan dan memohon berkah kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selalu selamat, sehat, dan  murah rezeki dalam kehidupan. Upaya memanggil tondi badan dilakukann dengan cara menghidangkan sepetangkat bahan (perangkat pangupa) dan nasehat pangupa (hata pangupa; hata upah-upah) yang disusun secara sistematis dan dilakukan oleh berbagai pihak yang terdiri dari orang tua, raja-raja, dan pihak-pihak adat lainya.
Ada tiga kondisi di mana upacara Mangupa dapat dilaksanakan, yaitu :
1.      Hasosorang ni daganak atau kelahiran anak
2.      Haroan boru atau dikenal juga sebagai patobang anak atau perkawinan anak laki-laki dan
3.      Marmasuk bagas ni imbaru atau memasuki rumah baru (Marakub Marpaung, 1969). Pada saat ini, perkambangan tradisi mangupa telah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Tapanuli Selatan sehingga terdapat banyak jenis Mangupa,misalnya Mangupa memasuki rumah baru (marbongkot baga).
Wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan pada saat ini terdiri dari 12 Kecamatan dengan total luas wilayah 4502,26 km. Secara administratif, Kabupaten Tapanuli Selatan mempunyai batas-batas sebagai berikut: di sebelah berbatasan dengan  Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Tapanuli Tengah; sebelah Selatan Berbatasan dengan Kabupaten Mandailing Natal; di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Labuhan Batu dan Kabupaten Padang Lawas Utara; dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Tengah dan Samudra Indonesia.[3]

D.    Makna Upa-upa
Upa- upasecara bahasa adalah pemberian. Sedangkan secara istilah adalah suatu ritual yang dilakukan oleh orang yang berhajat dengan mendoa’kan orang yang di upa- upa agar memperoleh kebaikan.
Upa-upamenurut suku Batak Rokan adalah semacam tradisi mendoakan untuk hal-hal yang baik, Saat ini tradisi dan budaya asli suku Batak Rokan, berada di antara budaya mayoritas Melayu dan Minangkabau, sehingga secara tidak langsung mempengaruhi tradisi dan budaya asli suku Batak Rokan. Sebagian besar suku Batak Rokan menganut agama Islam. Dan pejuang muslim mereka yang terkenal adalah Tuanku Tambusai, yang bermarga Harahap. Mungkin saja beliau berasal dari Tapanuli Selatan, karena dilihat dari marganya saja marga mandailing. Ada juga yang mengatakan bahwa upa- upa dipraktikkan pula oleh sebagian kecil suku Melayu Deli.

E.     Macam-macam Upa- upa
Ada beberapa macam upa- upa:
1.      Upa- upa. Biasanya dilakukan pada waktu pelaksanaan hajatan secara umum.
2.      Mangupa. Upah- upa Margondang dilakukan pada selamatan di saat seseorang anak laki- laki dari yang punya hajat mendapatkan suatu pekerjaan.
3.      Upa- upa Tondi. Upa- upa tondi biasanya dilaksanakan bila ada seseorang dari kalangan mereka mendapat kecelakaan, upa- upa yang dimaksud di sini guna menjemput kembali semangat orang tersebut yang pudar pasca kecelakaan. Pada umumnya orang yang kecelakaan itu sering jera dan kurang mempunyai semangat hidup.[4]

F.       Prosedur Haroan Boru
Adapun prosedurnya dimulai dari martandang (Markusip), mangaritrit, manunang, kawin lari, kawin na di pabuat, dan kawin na marhabuatan.
Adapun secara normal (biasa) tanpa memperhatikan prosedur diatas adalah sebagai berikut :[5]
1.      Manaruhon  bodil pangoncot. Maksudnya adalah pihak mempelai tidak memerintahkan ulubalangnya mencari gadisnya. Adanya kata-kata Unduk-unduk toru bulu tunduk na jadi di bunu, artinya yang menyerah jangan dibunuh.
2.      Pada saat pemindahan  calaon mempelai perempuan ke calon mempelai pria diberikan jujuran (pengantin) berupa kerbau/lembu/omas sigumorusing (uang).
3.      Selesai hobaran (pertemuan) ni boru maka utusan keluarga pihak perempuan mengirim utusannya ke pihak lelaki untuk mengantakan makanan pertanda restu disebut Indahan Tompu Robu.
4.      Pihak lelaki datang berkunjung ke pihak keluarga perempuan disebut Indahan Lungun-Lungun. Pihak keluarga perempuan memberikan barang-barang berupa perangkat rumah tangga dsb kepada pengantin dengan kata-kata sbb :
5.      Tungkap marmama anak, singgalak marmama boru, artinya putra dan putri d hangatkan memakai arang.
6.       Anak diparsigadon boru pe diparsigadonkon, artinya putra dan putri di hangatkan memakai arang.
7.      Holong ni roha di anak sepanjang dalan holong ni roha di boru buruk batu matua otal, artinya kasih sayang kepada boru sepanjang masa.

G.      Pokayan Pokean Adat (Pakaian Adat)
a.       Taka (Tuku, Happu), Topi kebesaran adat
b.      Puttu Tapak Kuda, Gelang.
c.       Rencong, keris.
d.      Bulang, pakaian perempuan untuk upacara adat berskala besar.
e.       Abit Godang, ulos adat.
f.       Burangir, sirih.
g.      Hadangan
h.      Ampang
i.        Suan-suanan, bulu, dangka ni hanyahap, hayu andayuk, Bulung ni Torop, Bunga ni Sanggar, Ria-ria, Rudang, dingin-dingin, Sanggul, Mare-mare, Ijuk, Tarugi, Bulung ni Pisang si tabar, anduri.
j.        Pahan-pahanan
k.      Payung Rarangon, tombak 2 buah dan pedang 2 buah
l.        Sira, garam

H.      Waktu Dan Tempat Pelaksanaan
Mangupa patobang Anak atau haroan boru dilaksanakan sebelum tengah hari di rumah atau tempat pelaksanaan acara adat pernikahan (horja).

I.         Pemimpin Dan Peserta
Upacara Mangupa Haroan Boru  biasanya dipimpin langsung oleh  Raja Panusunan Bulung, yaitu seseorang yang diangkat sebagai pemimpin adat di lingkungan yang sedang mengadakan horja. Raja Panusunan Bulung memegang tampuk adat dalam upacara adat (Marakub, 1969) dan merupakan raja adat yang dianggap ahli tentang adat-istiadat (L.S. Diapari, 1990).
Raja Panusuan Bulung bertindak sebagai pemimpin yang merangkum semua hata pangupa dan membacakan Surat Tembago Holing. Surat Tembaago Holing adalah ayat-ayat atau kalimat-kalimat yang berisi tentang kebenaran, kebaikan, dan estetika.
Raja Panusuan Bulung menerjemahkan semua perangkat Pangupa dan esensi dari nasehat, harapan, dan do’a dari berbagai pihak yang sudah memberikan hata pangupa berdasarkan nilai-nilai dalam Surat Tembago Holing.
Peserta utama upacara Mangupa Boru adalah pengantin laki-laki dan perempuan. Selain mempelai, upacara Mangupa Haroan Boru harus memenuhi struktur adat dalam Tapanuli Selatan, yaitu Dalihan Na Tolu (Tungku yang Tiga). Tanpa di sertai kehadiran Dalihan Na Tolu, maka upacara Mangupa tidak bisa dilaksanakan karena struktur adat tidak dipenuhi. Ketiga unsur dalihan na tolu itu adalah kahangi, anak boru, dan mora. Diapari (1990) dalam buku Adat Istiadat Perkawinan Dalam Masyarakat Batak Tapanuli Selatan memberikan batasan terhadap ketiga unsur adat tersebut sebagai berikut :
a.       Kahangi, yaitu pihak atau kelompok keluarga yang semarga. Di Toba, pihak ini disebut sebagai Dongan Tubu atau Dongan Sabutuh.
b.      Anak Boru, yaitu dari pihak atau kelompok yang mengambil istri dari pihak yang pertama pihak ini di Toba disebut sebagai Boru.
c.       Mora, yaitu pihak yang memberikan istri kepada pihak pertama. Pihak pertama ini di Toba Hula-Hula.
Upacara Mangupa sebaiknya juga memenuhi unsur adat lainnya yang mencakup Pisang Rahut, Hatobangon, Raja Pamusuk, Raja Tording Balok, Raja Panusunan Bulung dan ulama (pemuka agama). Pisang Rahut tergolong  dalam kelompok anak boru, yaitu anak boru dari anak boru suhut, hatobangon, menurut diapari (1990), adalah wakil-wakil dari tiap marga yang bertempat tinggal dikampung yang mengadakan Horja. Raja Pamusuk dapat disamakan sebagai ketua kampung pelaksanaan upacara Mangupa (Marakup, 1969). Raja Tording Balok adalah Raja-raja yang berasal dari kampung-kampung yanga berdekatan dengan kampung yang sedang menyelenggarakan upacara adat.
Di perantauan, Raja Tording Balok juga bisa menjadi Raja Panusunan Bulung dalam setiap paguyuban-paguyuban yang ada (Persadaan Marga Harahap Dohot Boruna, 1993).[6]

J.        Peralatan Dan Bahan
Upacara Mangupa  menyajikan perangkat makanan yang diletakkan di atas tampi  (niru) dan di alasi oleh bagian ujung daun pisang sebanyak tiga helai. Jenis makanan yang digunakan di dalam Mangupa menentukan besar kecilnya pesta adat (Horja). Makanan yang diolah dari hewan yang disajikan dalam perangakat tersebut menandakan tingkatan besar kecilnya Mangupa yang sedang dilaksanakan. Ada empat jenis bahan dan hewan penting di dalam upacara Mangupa, beserta dengan hadistnya, yaitu :
(BUKHARI-4770): Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb Telah menceritakan kepada kami Hammad dari Tsabit dari Anas ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah mengadakan walimah terhadap seorang pun dari isteri-isterinya sebagaimana walimah yang beliau adakan atas pernikahannya dengan Zainab. Saat itu, beliau mengadakan walimah dengan seekor kambing.
a.       Pira manuk na di hobolan (telur ayam)
b.      Manuk (ayam)
c.       Hambeng (kambing)
d.      Horbo (kerbau), dalam pembicaraan adat dijuluki na bontar (yang putih) (Persadaan Marga Harahap Dohot Boruna, 1993)
Tingakatan dalam Mangupa dalam pesta adat kecil dan mendasar paling sedikit harus memenuhi bahan penting sebutir telur ayam, tingkat kedua harus mengandung ayam, tingkatan harus mengandung kambing, an tingkatan tertinggi harus mengandung kerbau. Setiap tingkatan Mangupa yang lebih tinggi harus mengandung unsur bahan dan hewan yang ada dalam tingkatan lebih rendah. Misalnya untuk tingkatan Mangupa tertinggi, yang menggunakan hewan penting berupa kerbau, hidangan Pangupa itu juga harus menyajikan kambing, ayam, dan telur. Hewan-hewan penting tersebut tentu saja harus dipadukan dengan berbagai hidangan dan perangkat Pangupa yang lain.
Perangkat Pangupa dengan hewan kerbau adalah sebagai berikut :
a.       Alas paling bawah adalah Anduri (tampi)
b.      Di atas anduri ( tampi ) ada tiga helai bulung ujung (daun pisang ujung)
c.       Di atas  bulung ujung ditaruh Indahan sibonang Manita  (nasi putih yang disebut Siribu-ribu) di ,  Indahan sibonang wanitadiletakan masing-masing seekor ikan, di bagian belakang di taruh Parmiakan ni manuk  (bagian bagian punggung ayam), di bagia kiri dan kanan dlam diletakkan pada kerbau, di samping paha kerbau diletakkan dua paha ayam, di depan paha kerbau  dan paha ayam di letakkan tiga Pira manuk na di hobolan (telur ayam yang masak dan sudah di kupas), yang dibubuhi garam di tengahnya bagian paling depan adalah kepala kerbau, mata, telinga, bibir dan dagunya, semua Pangupa ditutupi dengan sehelai bulung ujung (daun pisang), paling atas adalah sehelai kain Adat, Abit godang (selimut adat).

K.      Tata Laksana
a.      Persiapan
Tahap awal adalah pengaturan posisi duduk setiap hadirin selama upacara Mangupa berlangsung, (Persadaan Marga Harahap Dohot Boruna, 1993) menjelaskan tempat duduk tiap-tiap para pelaksana upacara Mangupa sebagai berikut :
Sebelah kanan duduk bayo pangoli (pengantin laki-laki) yang didampingi sebelah kanannya oleh kahangginya yang ikut ketapian ray bangunan. Disebelah kiri duduk pula Boru na dioli (pengantin perempuan) didampingi oleh anak boru mereka semua di talaga (arah ke pintu masuk) tampak duduk semua suhut laki-laki dan perempuan anak boru, pisang raut, harajaon, dan hatobangon. Pakaian adat yang dikenakan pengantin ke tapian raya tetap di pakai.
Setelah semua hadir di ruangan sidang adat dan duduk sesuai dengan aturan, perangkat pangupa dibawa masuk ke dalam ruang sidang adat. Orang Kaya yang bertugas sebagai pembawa acara memperdengarakan ungkapan-ungkapan yang berisi harapan-harapan. Bagian selanjutnya memaparkan tata laksana upacara Mangupa mulai dari pembukaan hata pangupaoleh Orang Kaya sampai kepada hata pangupa jawaban dari pengantin.
b.      Pelaksanaan
1.      Pembukaan Oleh Orang Kaya
Perangakat Pangupa diletakkan oleh Orang Kaya di hadapan kedua pengantin. Di sebelah kiri dan kanan perangkat pangupa diletakkan masing-masing satu piring pangupa yang lain yang isinya adalah ikan dan daging ayam. Satu pring diletakkan dihadapan kelompok kahanggi dan piring yang lain di hadapan anak boru. Orang Kaya membuka acara dengan sambutan  seperti berikut ini (persadaan, 1993).
Jagit bo tulang burangir on,jagit bo nantulang burangir sirara unduk sibontar adop-adop. Sataon so ra busuk, sabulan so ra malos, “Sumurdu burangir nami di hamu, di hananaek ni mata ni ari on, anso manaek matua, hamomora, hahorasan dohot hagabean di hamu na diadopkon ni pangupa on. Nadung lolot do on tarniat di andora suhut sihabolonan. Jadi na palaluhon ma sadarion niat ni roha nadung lolot tarsimpan di bagasan sitamunang ni morangkon. Hara godang ni roha i, nipasu baga-baga on.
Jadi onpe patotor hamu ma sanga songon dia natumbuk mangihutkon partamana di bagasan adat i. Laho paboahan sinta-sinta dohot haul ni roha adop Tuhanta Na Uli Basa i. Anso denggan mardalan karejonta on, jana anso saut dohot tulus na di parsinta ni rohanta i. Jadi sannari kehe ma tu suhut sihabolanan.
Artinya : Terimalah tulang (mamak pengantin laki-laki) sirih ini, terimalah nantulang (isteri mamak pengantin laki-laki) sirih ini, sirih yang merah yang bagian belakang dan putih bagian depan. Setahun tidak akan busuk, sebulan tidak akan layu. Kami persembahkan sirih kami kepada kamu, ketika matahari mulai naik, agar naik pula tuah, derajat, kesehatan dan kejayaan kepada kamu berdua yang sedang  disajikan pangupa ini. Sudah lama terniat bagi suhut sihabolonan (orang tua laki-laki dan kahangginya). Jadi dilaksanakanlah hari ini niat yang sudah lama tersimpan di dalam hati mora saya ini. Karena kami sangat berbahagia, maka dilaksanakanlah upacara yang mengandung harapan ini.
Jadi dalam hal ini sampaikanlah apa yang tepat menurut adat. Kemudian sampaikanlah angan-angan kamu selama ini dan niat dalam hati kepada Tuhan kita, yang Maha Kuasa dan Maha Penyayang itu agar berjalan lancar acara kita ini dan terlaksana apa yang kita inginkan. Sekarang giliran suhut sihabolanan menyampaikan hata mangupa.
Orang Kaya kemudian melanjutkan Mangupa dengan mempersilahkan berbagai pihak untuk menyampaikan hata mangupa. Orang Kaya harus mendahulukan pihak ibu-ibu menyampaikan hata pangupa. Kelompok ibu-ibu yang menyampaikan hata pangupa adalah suhut, kahanggi, anak boru, dan pisang rahut.
2.      Hata mangupa dari suhut sihabolanan, kahanggi, anak boru, dan pisang rahut dari pihak ibu-ibu
Suhut sihabolanan (tuan rumah yang punya hajat) yang pertama menyampaikan hata pangupa adalah ibu kandung pengantin laki-laki. Dia menguraikan maksud pertemuan adat ini dan maksud pangupa agar semua yang hadir secara resmi mengetahui. Dia menyampaikan hata pangupa penuh keharusan dan biasanya sambil menangis-menangis karena bahagia.
Kemudiangiliran hata pangupa kepada kahanggi, anak boru dan pisang rahut diberikan kepada kelompok barisan atau kelompok ibu-ibu. Contoh isi dari suhut (ibu pengantin laki-laki) diatas.
3.      Hata pangupa dari suhut sihabolanan, kahanggi dan anak boru, dan hatobangon dari pihak bapak-bapak
Giliranpertama dari kelompok Bapak-Bapak adalah Suhut Sihabolonan, yaitu tuan rumah, dalam hal ini ayah dari pengantin laki-laki. Setelah itu, Orang Kaya kemudian akan memperselisihkan kahanggi untuk memberi hata pangupa. Isi hata pangupa dari kahanggi umumnya sama dengan hata pangupa dari suhut.Setelah kahanggi memberikan hata pangupa, kemudian tiba giliran anak  boru dan hatobangon dari pihak bapak-bapak untuk memberikan hata pangupa, yang isinya pada umumnya sama dengan isi hata pangupa dari anak boru pihak ibu-ibu yang telah dipaparkan di bagian sebelumnya.

L.       Penutup, Pengantin Mencicipi Hidangan Pangupa Dan Memberikan Hata Pangupa
Tahap berikutnya dari acara Mangupa adalah kedua pengantin mecicipi hidangan pangupa itu. Ketika mencicipi makanan atau hidangan pangupa tersebut, si pegantin harus memakan telur yang ada mulai dari putih telur dan bagian kuning telurnya, setelah itu dilanjutkan dengan mengambil sedikit garam dan nasi.
Akhir upacara Mangupa ditutup dengan jawaban dari sepasang pengantin. Setelah kedua pengantin mencicipi hidangan  pangupa, mereka dipersilakan menyampaikan kata-kata jawaban dari hata pangupa dari berbagai kalangan di atas. Isi jawaban sambutan mereka umumnya adalah ucapan terima kasih kepada para hadirin yang telah bersusah payah melaksanakan upacara adat yang sangat megah dan sakral itu.

M.     Do’a atas Mantera
Do’a atau mantera pada upacara adat Mangupa Haroan Boru ini terletak pada bagian hata pangupa oleh Raja Adat yang membacakan Surat Tumbaga Holing di atas.

N.      Nilai-Nilai
Ada banyak nilai yang terkandung di dalam upacara Mangupa. Selain fungsi paulak tondi tu badan (memanggil tondi kebadan), upacara Mangupa juga memiliki fungsi nasehat, do’a, dan harapan. Setiap hata upah-upah yang di sampaikan oleh fungsionaris masyarakat adat pada saat pelaksanaan acara Mangupa Haroan Boru atau Patobang Anak berisi  nilai-nilai tersebut.  Berikut ini adalah pemaparan setiap nilai dari upacara Mangupa.
a.      Nilai Kerukunan Berumah Tangga
Nilai menjaga kerukunan berumah tangga dikandung oleh nasehat-nasehat yang terkandung dalam hata pangupa. Petikan nasehat yang menekankan pentingnya menjaga kerukunan berumah tangga tercermin juga pada pembacaan Surat Tumbaga Holing yang dibacakan oleh raja adat.



b.      Nilai Spiritual
Harapan adan do’a agar kedua pengantin mendapatkan rumah tangga yang langgeng dan memperoleh keturunan anak yang baik-baik. Fungsionaris adat juga mengharapkan dan mendo’akan agar rumah tangga yang akan dibina ole kedua pengantin selalu diberkahi oleh Tuhan. Kesatuan unsur harapan dan  do’a merupakan fungsi penting dalam pelaksanaan  upacara Mangupa ini.
c.       Nilai Sosial
Petuah dan nasehat itu umumnya merupakan petunjuk hidup masyarakat. Elfitriana Kaspy Lubis ( 1988 ) membuat contohnya seperti dibawah ini.
Pature na di luar ni bagas/Malo mamasukkon diri tu kaum kahanggi/Angkot diraban halak dohot /Tale, anso manjagit na denggan iba/Tarpayak di bulung ujung/Di anduri na marbingke maldo/Tardok pangalaho na madung marujung/On pe mulai sian sannari malo ma hamu marpanggalaho/Horbo saeto tanduk/Boti mangasa gogo/Malo hamu marbisuk/Songon i marpanggalaho.
Artinya :
Bina masyarakat mu/pande mamasukkan diri kepada seluruh keluarga/Selalu berbuat baik kepada orang/agar kita selalu menerima kebaikan/Terletak di daun ujung/Di atas tampi bertangkai rotan/Setiap tingkah laku sudah berujung/Sejak saat hati-hati kamu berprilaku/Kerbau bertanduk sehasta/Bahkan bertenaga kuat/Kamu mesti berbaik budi/Begitu juga berprilaku.
Upacara adat Mangupa, berdasarkan hasil penelitian Bahril Hidayat ( 2004 ), juga memiliki dampak atau pengaruh penting bagi kematangan psikologi pada pasangan pernikahan atau pengantin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi upacara adat Mangupa yang diberikan kepada pasangan pernikahan pemula Tapanuli Selatan memiliki pengaruh dalam motivasi mereka agar menjadi pribadi yang matang dan mampu bersosialisasi dengan baik di masyarakat. Kematangan tersebut merupakan potensi psikologis yang di butuhkan untuk mencapai keberhasilan menjalin hubungan baik dengan orang lain.




O.      Pantangan dan  Larangan Mangupa
a.       Unsur Dalihan Na Tolu tidak terpenuhi atau tidak hadir dalam acara adat Mangupa.
b.      Tidak ada Harajaon yang hadir dalam upacara Mangupa.
c.       Upacara Mangupa sebaiknya tidak dilaksanakan setelah tengah hari (setelah jam 1 siang).
d.      Bahan atau hewan penting Pangupatidak terpenuhi. Untuk melaksanakan Mangupa, minimal bahan dasar sebutir telur yang direbus harus dipenuhi. Jika tidak ada telur rebus tersebut di antara bahan makanan lainnya (perangkat pangupa), maka Mangupa tidak boleh dilaksanakan.[7]

P.     Kesimpulan
Upa- upa merupakan salah satu adat masyarakat Tapanuli selatan dalam suatu acara pernikahan. Sejatinya upacara adat upa-upa ini adalah hajat suatu keluarga yang ingin disampaikan dengan memberikan do’a kepada objek yang di upa-upakan melalui dengan cara ­upa- upa. Selain itu pula untuk menjemput kembali semangat orang yang di upa- upa.
Ada beberapa aspek yang terkandung dalam adat Mangupa, yaitu:
1.      Nilai nasihat
2.      Nilai do’a
3.      Mempererat silaturrahim
4.      Memupuk rasa syukur
5.      Pengembalian dan elaborasi spirit







DAFTAR PUSTAKA

Pemkab Tapanuli Selatan, 2010. Profil Daerah Situs Resmi Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan (Online) Tersedia di http://www.tap\sel.go.id ( Diunduh pada tanggal 21 Februari 2013 )
htttp;//www.tapselkab.go.id diakses akses pada hari Sabtu 2 Oktober 2013 pukul 10.00
http://pustakaangkola.blogspot.com/2011/12/upacara-perkawinan-angkola-mandailing.html
Parsadaan Marga Harahap Dohot Boruna, 1993. Horja : adat istiadat Dalihan Na Tolu, musyawarah Parsadaan Marga Harahap Dohot Anak Boruna di Padangsidimpuan 26-27 Desember 1991, Bandung : PT.Grafiti




[1] Pemkab Tapanuli Selatan, 2010. Profil Daerah Situs Resmi Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan (Online) Tersedia di http://www.tap\sel.go.id (Diunuduh pada tanggal 21 Februari 2013).
[2] http://rumametmet.com/2007/11/15/mangan/(Diunuduh pada tanggal 21Februari 2013).
[3]htttp;//www.tapselkab.go.id diakses akses pada hari Sabtu 2 Oktober 2013 pukul 10.00
[4] http://azwarammar.blogspot.com/2012/10/tradisi-upa-upa-di-kalangan-masyarakat.html
[5]http://pustakaangkola.blogspot.com/2011/12/upacara-perkawinan-angkola-mandailing.html
[6]Parsadaan Marga Harahap Dohot Boruna, 1993. Horja : adat istiadat Dalihan Na Tolu, musyawarah Parsadaan Marga Harahap Dohot Anak Boruna di Padangsidimpuan 26-27 Desember 1991, Bandung : PT.Grafiti

📢 Bagikan Postingan Ini

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman atau media sosial Anda.

Facebook WhatsApp Twitter Telegram Copy Link

🤝 Butuh Bantuan atau Dokumen Lain?

Terima kasih telah berkunjung ke blog KhairalBlog21. Jika Anda membutuhkan makalah, format surat resmi, administrasi sekolah, atau dokumen lain yang belum tersedia di blog ini, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak. Kami juga menerima request untuk pembuatan dokumen sesuai kebutuhan Anda.

Jangan ragu untuk memberikan saran dan masukan agar blog ini bisa lebih bermanfaat untuk semua. Klik tombol di bawah ini untuk langsung menghubungi kami via WhatsApp:

Kami siap membantu menyediakan dokumen pendidikan dan administrasi sesuai kebutuhan Anda 📚✍️


No comments:

💬 Tinggalkan Komentar Anda

Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️

Featured Post

CONTOH DAN DONWLOAD SURAT LAMARAN SEBAGAI SPG

Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) , tentunya diperlukan sebuah surat lamaran kerja yang baik dan b...