MAKALAH MASA BERSEKOLAH II

Baca Juga


  A.    Pendahuluan
Segala puja dan puji sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Allah sang khaliq yang menciptakan seluruh alam beserta isinya. Sholawat salam kepada Nabi besar Muhammad saw yang kita nantikan safa’at di hari akhir.
Terima kasih kepada bapak Drs. H. Agus salim Daulay M.Ag selaku dosen pembimbing yang telah memberikan penugasan makalah individu perkembangan peserta didik  kepada kami yang berjudul “masa bersekolah”.

Seperti halnya pada masa bersekolah, dimana pada masa ini anak dengan giat-giatnya untuk belajar. Namun tidak jarang kita jumpai di lapangan (sekolah) banyak anak-anak pada masa usia sekolah ini mengalami berbagai gejala-gejala psikologis yang sering luput dari perhatian pendidik. Maka dari itu seorang pendidik harus mengetahui berbagai perkembangan yang di lalui oleh peserta didiknya.
Untu itulah dalam makalah ini penulis akan mencoba menguraikan dan menyajikan beberapa pembahasan yang berkaitan dengan masa bersekolah.
1.      Ciri-ciri anak pada masa bersekolah
2.      Minat pada masa bersekolah
3.      Bahaya yang akan terjadi pada masa bersekolah
4.      Perkembangan perasaan pada masa bersekolah
5.      Pengelompokan sosial dan perilaku sosial anak sekolah
6.      Perkembangan pola emosi yang umum pada anak sekolah
7.      Perkembangan fisik pada masa bersekolah
8.      Kedudukan dan tugas psikologi anak bersekolah
9.      Perkembangan kepribadian pada masa bersekolah
Sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, maka mungkin saja dalam makalah ini terdapat beberapa kesalahan atau kekurangan. Semoga dengan adanya makalah ini dapat memberikan nilai keilmuan kepada kita khususnya tentang perkembangan peserta didik.
Adapun metode yang penulis pakai yaitu dengan menggunakan metode analisis kepustakaan, dengan mencari sumber yang relevan dan sesuai dengan judul penulis. Terima kasih kepada bapak pembimbing Drs. H. Agus salim Daulay yang telah membimbing kami selama satu semester pada perkuliahan perkembangan peserta didik. Dan penulis harapkan kritik dan saran bapak demi kesempurnaan makalah ini.
    B.     Ciri-ciri anak pada masa bersekolah
Orang tua pada dasarnya menganggap masa ini merupakan usia yang menyulitkan karena anak tidak mau lagi menuruti perintah dan lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebayanya. Juga disebut usia tidak rapi karena anak cenderung tidak memperoleh dan ceroboh dalam penampilan, kamarnya sangat berantakan, dan tidakbertanggung jawab terhadap pakaian dan benda-benda miliknya, terutama pada anak laki-laki. Selain itu, disebut usia bertengkar karena anak sering bertengkar dengan saudara-saudaranya.
Para pendidik menyebut sebagai usia sekolah dasar, yaitu saat anak memperoleh dasar-dasarpengetahuan dan berbagai keterampilandi sekolah dasar. Masa ini merupakan masa pembentukan kebiasaan dorongan berprestasi yang cenderung menetap sampai dewasa sehingga disebut juga masa kritis dalam dorongan berprestasi[2].
Ciri-ciri anak pada usia sekolah
Drs. Soemadi Suryobroto membagi masa keserasian bersekolah ini menjadi dua masa yaitu:
-         Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar (6/7-9/10 tahun)
-         Masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar (9/10-13 tahun). Pada akhir masa kelas-kelas tinggi antara anak mulai memasuki masa puber
Ciri atau sifat khas masa kelas rendah sekolah dasar adalah:
a.       Adanya korelasi yang tinggi antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah.
b.       Pola kecenderungan memuji diri sendiri.
c.       Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain. Kalau hal itu menguntungkan dalam hubungan dengan ini juga kecenderungan untuk menemukan anak-anak lain.
 Ciri atau sifat masa kelas tinggi sekolah dasar adalah:
a.       Adanya perhatian kepada kehidupan praktis sehari-hari yang konkret.
b.      Amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar.
c.       Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal dan mata pelajaran khusus.

Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu :
a.       Masa kelas-kelas rendah dan,
b.      Masa kelas tinggi.
Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) :
a)      Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi.
b)      Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional.
c)      Adanya kecenderungan memuji diri sendiri.
d)     Membandingkan dirinya dengan anak yang lain.
e)       Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting.
f)        Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.
Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.
Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) :
1.      Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang kongkrit
2.      Amat realistik, rasa ingin tahu dan ingin belajar.
3.      Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus.
4.      Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya.
5.      Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya.
6.       Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya.
7.       Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada), mereka membuat peraturan sendiri.
Sekolah sebagai tempat terjadinya proses menumbuhkembangkan seluruh aspek siswa memiliki tugas dalam memabntu perkembangan anak sekolah. Adapun tugas-tugas perkembangan anak sekolah (Makmun, 1995:68), diantaranya adalah:
1)      Mengembangkan konsep-konsep yang perlu bagi kehidupan sehari-hari
2)   Mengembangkan kata hati, moralitas, dan suatu skala, nilai-nilai.
3)    Mencapai kebebasan pribadi.                                              
4)    Mengembangkan sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok dan institusi-institusi sosial.

Anak besar adalah anak yang berusia antara 6 sampai dengan 10 atau 12 tahun (Sugiyanto dan Sudjarwo, 1992:101). Beberapa sifat sosial yang dimiliki anak besar sebagai hasil perkembangan dari usia 10 sampai 12 tahun:
a.       Baik laki-laki maupun perempuan menyenangi permainan yang terorganisir dan permainan yang aktif.
b.      Minat terhadap olahraga kompetitif meningkat.
c.        Membenci kegagalan atau kesalahan.
d.      Mudah bergembira, kondisi emosional tidak stabil.
   C.     Minat pada masa bersekolah
Karena adanya perbedaan dalam kemampuan dan pengalaman, minat anak yang lebih besar lebih beragam dari pada anak yang lebih muda. Meskipun setiap anak akan menggambarkan minat individual tertentu namun semua anak dalam kebudayaan mengembangkan minat-minat lain yang hamir dimiliki oleh semua anak dalam kebudayaan itu.[3]
Minat yang dikembangkan sangat mempengaruhi perilaku tidak saja selama periode masa kanak-kanak tetapi juga masa sesudahnya. Itulah sebabnya mengapa perkembangan minat yang bermanfaat dan  penting yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak sering diabaikan. Banyak orang tua dan guru merasa bahwa sebagian besar minat kekanak-kanakan hanyalah suatu tingkah saja, yang segera akan berlalu. Akibatnya, anak cenderung memandang enteng dan menganggap bahwa anak akan “mengakhiri” minat-minat ini dengan bertambahnya usia dan bertambah luasnya pengalaman.

Nuckols dan Banducci, dalam penelitian mengenai pengetahuan anak-anak tentang bermacam-macam pekerjaan dan pandangan mereka terhadap pekerjaan-pekerjaan tersebut berdasarkan pengetahuan mereka, yang baik maupun yang kurang baik. Sampai pada suatu kesimpulan bahwa pandangan anak-anak terhadap berbagai pekerjaan merupakan dasar bagi ada tidaknya minat anak terhadap pekerjaan-pekerjaan tersebut. Hal ini penting karena “keputusan-keputusan penting yang dapat mempengaruhi seluruh kehidupan didasarkan pada citra pekerjaan yang dianut seseorang.
Adapun Ikhtiar perkembangan anak pada masa besekolah sebagaimana disebutkan oleh M. Kasiram dalam bukunya yang berjudul ilmu jiwa perkembangan adalah[4]:
1.      Masa sekolah rendah menunjukkan tanda-tanda bahwa anak mempunyai minat objektiv dalam dunia luar
2.      Anak suka untuk kenyataan dan ingin mengetahui segala sesuatu
3.      Ia bersikap giat terhadap lingkungannnya dan keinginannya mengetahui segala sesuatu
4.      Dalam pada itu dia ingin mendapat penerangan dan oleh karena itu dia suku bersekolah.
5.      Sebaliknya anak sekolah rendah belum berpikir dengan kesadaran tentang diri sendiri, minat dan perhatiannyaditujukan keluar
6.      Ia belum dapat menentukan sikap rendah pilihan-pilihan yang besar tentang keindahan, kebenaran, dan lain-lain . akan tetapi ia telah mengenal peraturan-peraturan kesusilaan, serta telah tahu bagaimana ia harus bertingkah laku. Anak telah dapat hidup dalam suasana kehidupan agama, meskipun hanya meniru dan menyesuaikan diri dengan pandangan hidup orang tuanya.
7.      Dalam penerapannya anak melakukan penguraian (analisa) sifat-sifat yang terpisah itu diterimanya dengan terang dalam alam pikirannya. Akan tetapi anak belum dapat menghubungkan sifat-sifat itu menjadi suatu kesatuan.
   D.    bahaya yang akan terjadi pada masa bersekolah
Beberapa bahaya yang umum merupakan kelanjutan dari bahaya tahun-tahun sebelumnya, meskipun lain bentuknya. Ada bahaya baru yang timbul dari perubahan pola hidup anak setelah masuk sekolah.
Seperti bahaya tahun-tahun sebelumnya, bahaya akhir masa kanak-kanak dapat berbentuk bahaya fisik dan psikologis. Namun, selama akhir masa kanak-kanak, reaksi psikologis dari bahaya fisik sangat penting dan hal ini akan ditekankan.
1)      Bahaya fisik
Sebagai akibat dari adanya tekhnologi medis baru untuk mendiagnosis, mencegah dan merawat berbagai penyakit, maka tingkat  kematian selama  akhir masa kanak-kanak tidak sesering seperti dimasa lampau. Namun, kecalakaan masih tetap menyebabkan kematian pada anak periode ini.
Meskipun banyak bahaya fisik, dari tahun-tahun sebelumnya terus berlangsung sampai akhir masa kanak-kanak, namun akibatnya pada keadaan fisik anak tidak sehebat sebelumnya. Sebaliknya, akibat psikologis lebih besar dan lebih menetap dibawah ini dibahas bahaya fisik yang utama.
a.       Penyakit
Karena vaksin terhadap sebagian besar penyakit anak-anak sekarang mudah didapat, maka penyaikit yang diderita anak-anak terutama adalah selesma dan gangguan-gangguan pencernaan, yang jarang menimbulkan akibat fisik yang lama. Tetapi, akibat dari psikologis dari penyakit adalah serius. Penyakit mengganggu keseimbangan tubuh yang menjadikan anak mudah marah, menuntut dan sulit. Kalau penyakitnya berlangsung lama maka anak akan tertinggal dalam pelajaran sekolah dan dalam keterampilan bermain. Orang tua juga menjadi kurang sabar, mengeluh tentang bertambahnya tugas dan biaya akibat penyakit anak[5].
Beberapa penyakit merupakan penyakit khayalan atau “palsu” . cepat atau lambat anak belajar bahwa kalau ia sakit, anak tidak perlu melaksanakan tugas-tugas, tidak dikenakan disiplin yang ketat dan memperoleh lebih banyak perhatian daripada biasany. Dengan demikian anak berpura-pura  sakit untuk menghindari tugas atau situasi yang kurang menyenangkan. Bilamana cara ini berhasil, anak akan mengulanginya lagi dan menjadikan dasar bagi kecenderungan penyakit khayal.
b.      Bentuk tubuh yang tidak sesuai
Anak perempuan yang bentuk tubuhnya kelaki-lakian dan anak laki-laki yang penampilan fisiknya seperti perempuan sering dicomooh oleh teman-teman dan dikasihi oleh orang dewasa. Akibatnya penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial cenderung memburuk, terlebih lagi anak laki-laki. Sebaliknya, bentuk tubuh yang sesuai dengan selera membantu penyesuaian diri yang baik. Biller rostelman tentang anak laki-laki sebagai berikut.
Anak laki-laki yang tinggi dan tetap atau mesomorfik, sekalipun tanpa dorongan orang tua akan mudah mencapai sukses dalam berbagai aktivitas maskulin sehingga dilihat oleh orang-orang lain dan dengan sendirinya belajar diri sendiri sebagai seorang yang sangat maskulin , anak ekunmorfik yang lemah dan anak endomorfik yang gemuk pendek sulit mencapai sukses sehingga tidak terlihat oleh orang-orang lain dan belajar memandang  diri sendiri  sebagai tidak maskulin.
c.       Kecelakaan
Sekalipun kecelakaan tidak meninggalkan bekas-bekas fisik, namun kecelakaan itu dapat meninggalkan bekas psikologis. Anak yang lebih besar sebagaimana halnya dengan anak yang lebih muda, yang lebih sering mengalami kecalakaan biasanya lebih hati-hati. Keadaan ini dapat menyebabkab rasa takut terhadap semua kegiatan dan dapat meluas kepada bidang-bidang perilakunya. Kalau ini terjadi maka dapat berkembang menjadi rasa malu yang mempengaruhi hubungan sosial pekerjaan sekolah dan kepribadian.
d.      Ketidakmampuan fisik
Banyak ketidakmampuan fisik merupakan akibat dari kecelakaan, jadi kebanyakan terdapat pada anak laki-laki daripada perempuan. Besarnya pengaruh dari akibat ini bergantung pada drajat ketidakmampuan dan dari perlakuan teman-teman, terutama dengan teman-teman sebaya. Ada teman-teman yang menunjukkan belas kasihan dan memperhatikan anak cacat, tetap ada pula yang mengabaikan menolak bahkan mencemooh.
Kebanyakan anak menjadi terhambat dan merasa canggung di dalam situasi-situasi sosial, sehingga penyesuaian sosial menjadi buruk dan ini selnjutnya mempengaruhi penyesuaian pribadi. Telah dilaporkan bahwa banyak timbul kasus-kasus prilaku bermasalah diantara anak yang mengalami kelainan fisik ringan dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami kelainan.
Banyak anak-anak yang mengerti bahwa keadaan cacat fisik merupakan suatu cara untuk menghindari situasi-situasi yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu, mereka mengembangkan suatu cacat khayalan atau membesar-besarkan cacat yang ada. Ini merupakan salah satu bentuk invaismekhayal yang dibahas diatas.
2)      Bahaya psikologis
Bahaya psikologis akhir masa kanak-kanak terutama mempengaruhi penyesuaian sosial, yaitu tugas perkembangan utama dalam periode ini. Bahaya itu sangat besar pengaruhnya  pada penyesuaian pribadi dan pada perkembangan kepribadian anak[6].
a)      Bahaya dalam berbicara
Ada empat bahaya berbicara yang umum terdapat pada akhir masa kanak-kanak
1.      Kosakata yang kurang dari rata-rata menghambat tugas-tugas disekolah dan menghambat komunikasi dengan orang lain.
2.      Kesalahan dalam berbicara, seperti salah ucap dan kesalahan tata bahasa, cacat dalam berbicara seperti gagap atau pelat, akan membuat anak menjadi sangat sadar diri sehingga anak hanya berbicara bilamana perlu.
3.      Anak yang mempunyai kesulitan berbicara dalam bahasa yang digunakan dalam lingkungan sekolah akan terhalang dalam usaha untu berkomunikasi dan mudah merasa bahwa ia “berbeda”.
4.      Pembicaraan yang bersifat egosentris, yang mengkritik dan merendahkan orang lain, dan bersifat membual akan ditentang oleh teman-teman.
b)      Bahaya emosi
Anak aakan dianggap tidak matang baik oleh teman-teman sebaya maupun orang-orang dewasa, kalau ia masih menunjukkan pola-pola ekspresi emosi kurang menyenangkan, seperti amarah yang meledak-ledak, dan juga bila emosi yang buruk seperti marah dan cemburu masih sangat kuat sehingga kurang disenangi oleh orang lain.
c)      Bahaya sosial
Terdapat lima jenis anak yang penyesuaiannya oleh bahaya sosial. pertama, anak yang ditolak atau diabaikan oleh kelompok teman-teman akan kurang mempunyai kesempatan untuk belajar bersifat sosial. Kedua, anak yang terkucil, yang tidak memiliki persamaan dengan kelompok teman-teman akan menganggap dirinya “berbeda” dan merasa tidak mempunyai kesempatan untuk di terima oleh teman-teman. Ketiga, anak yang mobalitas dan sosial dan grafisnya tinggi mengalami kesulitan untuk diterima dalam kelompok yang sudah terbentuk. Keempat, anak berasal dari kelompok rasa tau kelompok agamayang terkena prasangka. Dan kelima, para pengikut yang ingin menjadi pemimpin kemudian menjadi anak yang penuh dengki dan tidak puas.
d)     Bahaya bermain
Anak yang kurang memiliki dukungan sosial akan terasa kekurangan kesempatan untuk mempelajari permainan dan olahraga yang penting untuk menjadi anggota kelompok. Anak yang dilarang berkhayal karena “membuang waktu” , atau dilarang melakukan kegiatan kreatif dan bermain akan mengembangkan kebiasaan penurut yang kaku.

   E.     Perkembangan perasaan pada masa bersekolah
Anak sudah mampu mengatur sebagian besar perasaannya, kepancainderaannya dan juga kejasmaniannya atau setidak-tidaknya dapat dikurangi sehingga tidak terlalu kelihatan mengganggu dirinya,  pelajarannya serta teman-temannya. Disamping itu sudah ada harga diri, perasaan sosial, perasaan malu dan juga perasaan seksual[7].
Pada umumnya rasa harga diri ini telah dikembangkan (berkembang), ia tidak takut berhadapan/tatap muka dengan anak lain, tidak takut menghadapai pelajaran-pelajaran ataupun tidak bingung di sekolah, ia tidak mengalami penyakit rasa rendah diri (kompleks inferioritet).
Dan ia juga sudah mampu memasuki masyarakatnya dan masyarakat baru yang berdisiplin (sekolah), ia tidak takut bergaul  dengan kawan-kawanya dan bahkan ia mencari kawannya, ia telah mengakui aku-aku orang lain sehingga kadang-kadang aku-nya harus pula tunduk kepada aku-nya orang lain, apa lagi tentang otoritet guru-gurunya , ia telah mampu menyesuaikan diri kepada tata tertib dan peraturan – peraturan yang berlaku disekolah  secara berangsur-angsur.
Sekalipun anak selalu ingin berada dalam permainan yang selalu gembira, namun ia sudah memiliki rasa tanggung jawab, keinginannya untuk melaksanakan sesuatu dengan kemauan sendiri ataupun atas anjuran orang lain sudah kelihatan. Adapun mengenai perasaan ketuhanan sudah mulai lebih  sempurna jika dibanding dari waktu-waktu sebelumnya, karena anak sejak masa totz  sudah ada rasa ketuhanan melihat/ mengalami keadaan –keadaan kehidupan ketuhanandi  lingkungan rumah tangganya.
Anak yang normal memiliki kematangan jasmani yang sudah mampu menerima peraturan dan tata tertib. Anak umur 5,0-6,0 tahun tidak mengalami kekurangan ataupun halangan untuk pergi kesekolah, ia mampu menahan hawa nafsunya, menahan lapar dan dahaga, mampu menahan buang air dan sebagainya. Dia mampu mengendalikannya semua mulai dari pagi sampai sore. Dia mampu duduk sekian lama dan diam dengan tenang di bangku sekolah, kesehatannya tidak terganggu karenanya.
Pada masa ini anak sudah memulai memasuki sekolah dasar, telah banyak minat anak terhadap dunia luar, dia suka mengumpulkan barang-barang, ia selalu berusaha untuk mendapatkan benda-benda sehingga kantong mereka penuh dengan benda-benda, anak umur 8,0 tahun ini sering sobek kantongnya karena selalu diisi dengan benda-benda yang berat.
Pada umumnya anak sudah memperhatikan   benda-benda yang kongkrit, hampir semua benda menarik bagi si anak selalu dikumpulkan (benda-benda yang dikumpulkan dianggap aneh) sehingga ditempat-tempat tertentu anak menjelajahnya, melihat bengkel mobil, bengkel sepeda ia pun teruspergi ke sana untuk mengambil benda-benda yang dianggapnya aneh.
Pada masa ini juga timbul hasrat yang besar untuk mengumpulkan barang-barang, ia melihat keadaan sekitarnya kadang-kadang ia mengambil batu, bungkus rokok, korek api dan sebagainya. Kemudian a juga mengetahui perhubungan antara benda-benda didapatinya, ia menumpulkan biji-bijian tersebut.
Pada masa ini anak kurang cocok dengan pengajaran abstrak dan tidak sistematis (tidak ada hubungan dengan dunia mereka) alasan tetapi ia senang dengan yang konkrit karena ia sedang mengenal/menjelajah dunia luar, ia ingin tahu dan menghubungkannya dengan sumbernya, ia sangat senang mendengarkan sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan dunianya.
Mereka ingin mengenal daerah-daerah lain dan keadaan-keadaannya, ingin mengetahui suku bangsa yang mendiaminya, bahasa yang dipakai, senang dengan keadaan yang aneh dan ganjil di daerah tersebut karena memang ada hubungannya dengan sifat dan dunia merekan (anak) yang selalu mencari sesuatu yang ganjil dan aneh. (hal ini sangat menonjol setelah anak berumur 9,0 tahun).
Pada masa usia sekolah ini anak selalu ingin memelihara binatang-binatang seperti ayam, ikan dan sebagainya. Binatang tersebut dia yang memeliharanya sekalipun untuk memberikan kebutuhan binatang tersebut. Ternyata juga orang tuanya, anak ingin mengandangkan/ mengurung ayamnya sendiri, kucingnya sendiri dan sebagainya dalam suatu kandang tersendiri yang terpisah dengan ayam lain.
Kemudian orang selalu mengumpulkan sesuatu sesuai dengan keinginannya/ hobbinya seperti gambar mobil, gambar boneka, gambar rumah dan sebagainya sehingga anak menggunting-gunting koran, majalh dan buku-buku. Mereka juga senang mencatat merek-merek mobil/ motor/ sepeda motor yang lewat, mereka hitung berapa honda, berapa pespa dan sebagainya yang lewat di jalan itu selama mereka berada, bahkan mereka bertaruh-taruhan menebak merek apa yang akan datang dan jenis apa yang akan lewat dan sebagainya.
Namun demikian sudah nampak bahwa mereka mengadakan pilihan tertentu, bagian mana yang disenanginya dan keadaan ini nampak menonjol disekolah dasar. Ada diantara mereka selalu menggambar/ melukis saja, ada yang menulis puisi-puisi/ cerita dan sebagainya dengan jalan mencontoh, maka pada masa ini jelas sudah ada kecenderungan tentang bakat mereka.
Bagi para pendidik / guru/ orang tua sebaiknya harus tanggap dengan keadaan ini, jangan hanya mengajar nilai saja sedang kegemaran atau bakat anak tidak di indahkan.
   F.     Pengelompokan sosial dan perilaku sosial anak sekolah
Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, setiap individu tidak dapat berdiri sendiri. Tetapi memerlukan bantuan individu lainnya. Bayi yang baru lahir tidak akan dapat mempertahankan kehidupannya tanpa bantuan orangtuanya. Sejalan dengan pertumbuhan badannya bayi yang telah menjadi anak dan sehingga ia dewasa, dia akan mengenal lingkungannya yang lebih kuat.
Perkembangan sosial pada anak-anak sekolah dasar ditandai dengan adanya perluasan hubungan, disamping dengan keluarga juga dengan mulai membentuk ikatan baru dengan teman sebaya , atau teman sekelas, sehingga ruang gerak sosialnya sudah terlalu luas. Meluasnya lingkungan sosial bagi anak menyebabkan anak menjumpai pengaruh-pengaruh yang ada diluar pengawsan orangtua. Ia bergaul dengan teman-teman. Ia mempunyai guru-guru yang mempunyai pengaruh sangat besar dalam proses emansipasi . dalam proses emansipasi dan individu maka teman-teman sebaya mempunyai peranan yang sangat besar[8].
Akhir masa kanak-kanak sering disebut sebagai “usia berkelompok” karena ditandai dengan adanya minat terhadap kativitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota suatu kelompok, dan merasa tidak puas bila tidak bersama teman-temannya anak tidak puas lagi bermain sendiri di rumah atau dengan saudara-saudara kandung atau melakukan kegiatan dengan anggota-anggota keluarga . anak ingin bersama teman-temannya dan akan meraa kesepian serta tidak puas bila tidak bersama teman-temannya.
Dua atau tiga teman tidaklah cukup baginya, anak igin bersama dengan kelompoknya, karen dengan hanya demikian terdapat cukup teman untuk bermain dan berolahraga, dan dapat memberikan kegembiraan, sejak anak masuk sekolah sampai masa puber, keinginannya untuk bersama dan untuk diterima kelompok menjadi semakin kuat hal ini berlaku baik untuk anak laki-laki maupun anak perempuan.
   G.    Perkembangan pola emosi yang umum pada anak sekolah
Perkembangan emosi adalah proses berkembangnya kemampuan anak untuk menyesuaikan diri terhadap dunia yang lebih luas  dalam proses perkembangan ini anak akan diharapkan mengerti/memahami orang lain yang berarti mampu menggambarkan ciri-cirinya, mengenali apa yang dipikirkan, dirasa, dan diinginkan serta dapat menempatkan diri pada sudut pandang orang lain tersebut tanpa “kehilangan” dirinya sendiri.

Pada masa ini, anak menjadi lebih peka terhadap perasaannya sendiri dan perasaan orang lain. Mereka dapat lebih mengatur ekperesi emosionalnya dalam situasi sosial dan mereka dapat merespon tekanan emosional orang lain. Pada usia 7-8 tahun, rasa malu dan bangga mempengaruhi pandangan anak terhadap diri mereka sendiri. Secara bertahap anak juga dapat memverbalisasi emosi yang saling bertentangan[9].
Selain itu anak juga mulai dapat melakukan contoh terhadap emosi negatif. Anak-anak belajar tentang apa yang membuat mereka marah, sedih atau takut, serta bagaimana orang lain bereaksi dalam melanjutkan emosi ini dan mereka belajar mengadaptasikan perilaku mereka dengan emosi-emosi tersebut. Anak-anak yang lebih besar juga makin mengetahui bahwa emosi dapat ditekan walaupun emosi tersebut masih tersisa.

   H.    Perkembangan fisik pada masa bersekolah
Masa pertengahan dan akhir masa anak-anak merupakan periode pertumbuhan fisik yang lambat dan relatif seragam sampai terjadi perubahan-perubahan pubertas, kira-kira 2 tahun  menjelang anak menjadi matang secara seksual, pada masa ini pertumbuhan berkembang pesat. Karena itu, masa ini sering juga disebut sebagai “periode tenang”  sebelum pertumbuhan yang cepat menjelang masa remaja. Meskipun “masa tenang” tetapi hal ini tidak berarti bahwa  pada masa ini tidak terjadi proses pertumbuhan fisik yang berarti. Berikut ini akan  menjelaskan beberapa aspek pertumbuhan fisik pada masa bersekolah yaitu:
1.      Tinggi dan berat badan
Sampai dengan usia sekitar 6 tahun terlihat badan anak bagian atas berkembang lebih lambat dari pada bagian bawah. Angggota-anggota lebih relatif masih pendek kepala dan perut masih relatif besar. Selama masa akhir anak-anak, tinggi bertumbuh 5 hingga 6% dan berat bertambah sekitar 10% setiap tahun. Pada usia 6 tahun tinggi rata-rata anak adalah 46 inci dengan berat 22,5 kg. Kemudian pada usia 12 tahun tinggi anak mencapai 60 inci dan berat 80 hingga 42,5 kg.
            Jadi pada masa ini peningkatan berat badan anak lebih banyak dari pada panjang badannya kaki dan tangan menjadi lebih panjang, dada dan pinggul lebih besar, peningkatan berat badan anak selama masa ini terjadi terutama karena bertambahnya ukuran sistem rangka otot, serta ukuran beberapa organ tubuh. Pada saat yang sama, kekuatan otot-otot  secara berangsur-angsur bertambah dan gemuk bayi (baby pat) berkurang. Pertambahan kekuatan otot ini adalah karena paktor keturunan dan latihan (olah raga). Karena perbedaan jumlah sel-sel otot , maka pada umumnya laki-laki lebih kuat dari pada anak perempuan[10].
            Anak yang normal memiliki kematangan jasmani yang sudah mampu menerima peraturan dan tata tertib. Anak umur 5,0-6,0 tahun tidak mengalami kekurangan ataupun halangan untuk pergi sekolah, ia mampu melawan hawa nafsunya, menahan lapar dan dahaga, mampu menahan buang air dan sebagainya. Dia mampu mengendalikannya semua mulai dari pagi sampai sore. Dia mampu duduk sekian lama dan diam dengan tenang di bangku sekolah, kesehatannya tidak terganggu kebenarannya.
Adapun perbandingan umum tinggi badan anak adalah:
a.       Baru dilahirkan tinngginya sekitar 50 cm, beratnya sekitar 3 kg
b.      Umur 1 tahun tingginya 75 cm  berat 10 kg
c.       Umur 2 tahun tingginya 85 cm, berat 12 kg
d.      Umur 3  tahun tinggginya 94 cm, berat 14 kg
e.       Umur 4 tahun tingginya 100 cm, berat beratnya 16 kg
f.       Umur 5 tahun tingginya 107 cm, beratnya 18 kg
g.      Umur 6 tahun tungginya 113 cm, berat 20 kg  (angka ini adalah taksiran umum)

               Apabila proporsi badan dan jaringan urat daging dapat dikatakan tetap sampai kurang lebih tahun kelima, maka menurut Zeller pada sekitar usia tahun kelima mulailah gestalwandell pertama, yang berarti proporsi kepala dan anggota badan mulai seimbang. Anggota-anggota badannya menjadi lebih panjang, perutnya mengecil dan proporsi kepala dibandingkan bagian badan lain sudah nornal[11].
               Bila usia sekitar dua tahun perbandingan kepala dan bagian badan adalah 1:5 dan usia 6 tahun perbandingan 1:6, maka perbandingan yang lebih baik di capai saat usia 12 tahun, 1:7 dan pada usia 25 tahun perbandingannya 1:8, jadi pada masa ini terutama kearah/mendekati usia 12 tahun, bnetuk tubuh sudah menyerupai orang dewasa dan keadaan fisiknya secara umum lebih stabil dan lebih kuat dibandingkan pada masa anak awal.

2.      Keterampilan motorik
Sejak usia 6 tahun, koordinasi antara mata dan tangan (visio-motorik) yang dibutuhkan untuk membidik, menyepak, melempar dan juga menangkap juga berkembang. Pada usia 7 tahun, tangan anak semakin kuat dan ia lebih menyukai pensil daripada krayon untuk melukis. Dari usia 8 sampai 10 tahun, tangan dapat digunakan secara bebas, mudah dan tepat. Koordinasi motorik halus berkembang, dimana anak sudah dapat menulis dengan baik. Ukuran huruf menjadi lebih kecil dan lebih rapi. Pada usia 10 sampai 12 tahun, anak-anak mulai memperlihatkan keterampilan-keterampilan manipulatif  menyerupai kemampuan orang dewasa.
Mereka mulai memperlihatkan gerakan-gerakan yang kompleks, rumut dan cepat, yang diperlukan untuk menghasilkan karya kerajinan yang bermutu bagus memainnkan instrumen musik tertentu.

    I.       Kedudukan dan tugas psikologi anak bersekolah
Psikologi sekolah memiliki peran khusus dalam ilmu psikologi. Psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi. Melalui psikologi sekolah diharapkan dapat menciptakan inovasi inovasi baru dalam dunia sekolah yang membantu anak didik dalam mengemban pendidikan sekolah.
Bagi ahli psikologi, akhir masa kanak-kanak adalah usia berkelompok suatu masa dimana perhatian utama anak tertuju pada keinginan diterima oleh teman-teman sebaya sebagai anggota kelompok, terutama kelompok yang bergengsi dalam pandangan teman-temannya. Oleh karena itu, anak ingin menyesuaikan dengan standar yang disetujui kelompok dalam penampilan, bicara, dan prilaku.
    J.      Perkembangan kepribadian pada masa bersekolah
Kpribadian berasal dari kata latin persona yang berarti topeng. Bagi bangsa roma persona berarti bagaimana seseorang tampak pada orang lain, bukan diri sebenarnya. Aktor menciptakan dalam pemikiran penonton, suatu impresi dari tokoh yang diperankan diatas pentas bukan impresi dari diri aktor itu  sendiri. Dari konotasi persona ialah gagasaan umum mengenai kepribadian sebagai kesan yang diberikan seseorang pada orang lain diperoleh. Apa yang dipikir, dirasakan dan siapa dia sesungguhnya termasuk dalam keseluruhan “make up” psikologis seseorang dan sebagian besar terungkapkan melalui perilaku. Karena itu, kepribadian bukanlah suatu atribut yang pasti dan spesifik, melainkan prilaku total seseorang.
Terdapat banyak defenisi istilah kpribadian kebanyakan diantaranya mengikuti defenisi Allport, karena defenisi ini merupakan salah satu defenisi yang paling luas cakupannya. Menurut defenisi tersebut kepribadian adalah susunan sistem-sistem psilofisik yang dinamai dalam diri suatu individu yang menentukan penyesuaian individu yang unik terhadap lingkungan.
Sistem psikofisik adalah kebiasaan sikap, nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan motif yang bersifat psikologis tetapi mempunyai dasar fisik dalam kelenjar, saraf, dan keadaan fisik anak secara umum. Sistem ini tidak merupakan produk hereditas, walaupun bersumberkan hereditas. Sistem-sistem ini telah berkembang melalui proses belajar sebagai hasil dari berbagai pengalaman anak[12].
Perubahan dalam kepribadian
Mengubah (change) berarti “mengubang” (alter) atau “membuat variasi” kata ini tidak perlu berarti bahwa perubahan atau pengubahan akan tuntas. Terdapat bukti bahwa konsep diri dan sifat-sifat memang berubah akan tetapi dalam hal sifat-sifat, perubahan mungkin kualitatif mungkin kuantitatif. Dalam perubahan kualitatif, suatu sifat yang tidak diinginkan mungkin digantikan dengan suatu sifat yang dikagumi masyarakat. Dalam perubahan kuantitatif, terdapat penguatanatau pelemahan sifat yang telah ada. Perubahan  kuatitatif sebagian besarlebih umum dari perubahan kualitatif. Thomas dan kawan telah menerangkan bahwa: temperamen anak kecil bukan tidak dapat diubah.
Dalam perkembangannya, kondisi lingkungan mungkin mempertinggi, mengurangi atau memodifikasi reaksi dan prilakunya”. Inti pola kepribadian konsep diri, relatif stabil dan berubah hanya bila anak melihat ada perubahan dalam sikap dan prilaku orang yang berarti baginya. Sebagian contoh, peningkatan dalam keterampilan yang penting bagi anggota kelompok teman sebaya dapat membawa sikap dan penerimaan sosial yang lebih menguntungkan.
Perubahan dalam kepribadian baik dalam sifat-sifat maupun dalam konsep diri lebih sering dan lebih menonjol pada anak yang lebih muda dari pada anak yang lebih tua dan remaja, dan jauh lebih kurang terjadi pada orang dewasa. Alasannya ialah bahwa dengan berlakunya waktu, inti pola kepribadian semakin kurang fleksibel. Perubahan dalam konsep diri anak yang lebih tua jauh lebih sulit dari pada bila mereka lebih muda. Kecuali bila hal ini dilakukan, tidak mungkin terdapat perubahan benar-benar dalam pola kepribadian.

    K.    Penutup
Pada masa ini anak sudah memulai memasuki sekolah dasar, telah banyak minat anak terhadap dunia luar, dia suka mengumpulkan barang-barang, ia selalu berusaha untuk mendapatkan benda-benda sehingga kantong mereka penuh dengan benda-benda, anak umur 8,0 tahun ini sering sobek kantongnya karena selalu diisi dengan benda-benda yang berat.

Masa bersekolah adalah masa dimana anak-anak sudah mulai memasuki usia sekolah, sekitar 6/7 tahun, masa ini juga merupakan masa yang sangat menyulitkan bagi orang tua karena anak tidak mau lagi menuruti perintah dan lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebayanya. Pada masa ini juga anak-anak sudah mulai mendekati masa puber, oleh karena itu tidak mau lagi di urus oleh orang tuanya dan sudah mulai mau melanggar perintah yang diberikan kepadanya.
Demikianlah isi makalah ini, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan bisa dijadikan bahan diskusi pada mata kulliah perkembangan peserta didik. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk penyempurnaan makalah ini terutama kepada dosen pembimbing.
Penulis berharap dengan adanya makalah ini, pembaca mampu memahami perkembangan-perkembangan yang terjadi bersekolah. Apabila ada kesalahan maupun kekurangan dalam makalah ini, penulis mohon maaf.

L.     Daftar pustaka
Daulay, Agus Salim, Diktat Psikologi Perkembangan, IAIN Padangsidimpuan, Untuk                Kalangan Sendiri, 2015.
Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan, Jakarta:PT Gelora Aksara Pratama, 1980
Jahja Yudrik, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Kencana, 2011
Santrock John W, Perkembangan Anak, Jakarta: Penerbit Erlangga 2007
Sujanto, Agus, Psikologi Perkembangan, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 19966



[2]Christiana Hari Soetjiningsih, Perkembangan Anak Sejak Pembuahan Sampai Dengan Kanak-Kanak Akhir, (Jakarta: Prenada Media Group,2012), hlm 248

[3]Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, (Jakarta: Erlangga, 1992), hlm 165

[4]Moh Kasiran, Ilmu Jiwa Perkembangan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), hlm 83-85
[5]Elizabeth B Hurlock, Op. Cit, hlm 174
[6]Ibid hlm 175
[7]Agus Salim Daulay, Diktat Psikologi Perkembangan, (STAIN Padangsidimpuan, Untuk Kalangan Sendiri, 2007), hlm 75

[8]F J Monks Knoers dan Siti  Rahayu Haditono, Psikologi Perkembangan dalam Berbagai Bagiannya, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2002), hlm 183
[9]Chiristiana Hari Soetjiningsih Op.Cit hlm 264
[10]Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005) hlm 153-154
[11]Desmita, Op.Cit, hlm 154-155
[12]Elizabeth B. Hurlock, Op, Cit hlm . 236-237

📢 Bagikan Postingan Ini

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman atau media sosial Anda.

Facebook WhatsApp Twitter Telegram Copy Link

🤝 Butuh Bantuan atau Dokumen Lain?

Terima kasih telah berkunjung ke blog KhairalBlog21. Jika Anda membutuhkan makalah, format surat resmi, administrasi sekolah, atau dokumen lain yang belum tersedia di blog ini, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak. Kami juga menerima request untuk pembuatan dokumen sesuai kebutuhan Anda.

Jangan ragu untuk memberikan saran dan masukan agar blog ini bisa lebih bermanfaat untuk semua. Klik tombol di bawah ini untuk langsung menghubungi kami via WhatsApp:

Kami siap membantu menyediakan dokumen pendidikan dan administrasi sesuai kebutuhan Anda 📚✍️


No comments:

💬 Tinggalkan Komentar Anda

Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️

Featured Post

CONTOH DAN DONWLOAD SURAT LAMARAN SEBAGAI SPG

Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) , tentunya diperlukan sebuah surat lamaran kerja yang baik dan b...