A. Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari, seiring dengan penyelenggaraan pendidikan pada umumnya, dan dalam hubungan saling pengaruh antara orang yang satu dengan yang lainnya, peristiwa bimbingan setiap kali dapat terjadi, misalnya orang tua membimbing anaknya.istilah bimbingan sering kali dikaitkan dengan konseling. Istilah Bimbingan dan Konseling sering kita dengar dilingkungan Pendidikan. Karena Bimbingan dan Konseling itu bisa dikatakan menjadi bagian dari suatu proses dalam Pendidikan.
Bimbingan, dalam rangka menemukan pribadi, mengandung makna bahwa guru kelas, dalam kaitannya dengan pelaksanaan bimbingan, diharaapkan mampu memberikan bantuan kepada siswa, seperti orang tua/wali. Dengan keinginan dan kemampuannya, guru kelas dapat mengenal kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh siswa serta menerimanya secara positif dan dinamis sebagai modal pengembngan diri lebih lanjut.
Proses pengenalan harus ditindaklanjuti dengan proses penerimaan. Tanpa diimbangi dengan suatu bentuk penerimaan, siswa dan pihak-pihak yang dekat dengannya, akan mengalami kesulitan untuk mengembangkan kekuatan dan kelemahannya secara lebih baik. Sebagai contoh, jika siswa mengalami gangguan dalam penglihatannya, seperti rabun jauh dan rabun dekat, dan siswa yang bersangk7utan dan pihak-pihak terdekat tidak dapat menerima hal itu suatu kenyataan, program ya n disarankan tidak akan berjalan dengan baik.
B. Tujuan bimbingan dan konseling
a. Tujuan Umum
Individu atau siswa yang dibimbing, merupakan Tujuan umum pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya sejalan dengan tujuan pendidikan itu sendiri karena bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan.Pada undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, yang beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Jadi secara umum tujuan bimbingan dan konseling ialah agar siswa dapat mengenal dan menerima diri sendiri serta mengenal lingkungan nya secara positif dan dinamis serta mampu mengambil keputusan, mengamalkan dan mewujudkan diri sendiri secara efektif dan produktif sesuai dengan peranan yang diinginkannya di masa depan.
b. Tujuan Khusus
Secara khusus, tujuan bimbingan konseling adalah membantu siswa untuk mencapai tujuan-tujuan perkembangan yang meliputi aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir.
Tujuan khusus bimbingan dan konseling, diuraiakan H.M. Umar dkk., (1998: 20-21) sebagai berikut :
a) Membantu siswa-siswa untuk mengembangkan pemahaman diri sesuai dengan kecakapan, minat, pribadi,hasil belajar, serta kesempatan yang ada.
b) Membantu siswa untuk mengembangkan motif-motif dalam belajar, sehingga tercapai kemajuan pengajaran yang berarti.
c) Memberikan dorongan dalam pengarahan diri, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, keterlibatan diri dalam proses pendidikan.
d) Membantu siswa untuk memproleh kepuasan pribadi dalam penyesuaian diri secara maksimum terhadap masyarakat.
e) Membantu siswa untuk hidup di dalam kehidupan yang seimbang dalam berbagai aspek fisik, mental, dan sosial.
Tujuan bimbingan dan konseling bagi guru adalah sebagai berikut:
1. Membantu guru dalam berhubungan dengan siswa.
2. Membantu siswa dalam menyesuaikan keunikan individual dengan tuntutan umum sekolah dan masyarakat.
3. Membantu guru dalam mengenal pentingnya ketrlibatan diri dalam keseluruhan program pendidikan.
4. Membantu keseluruhsn program pendidikan untuk menemukan kebutuha-kebutuhan seluruh siswa.
Tujuan bimbingan dan konseling bagi sekolah dalah sebagai berikut;
1) Menyusun dan menyesuiakan data tentang siswa yang bermacam-macam.
2) Mengadakan penelitian tentang siswa dari latar belakangnya.
3) Membantu menyelenggarakan kegiatan penataranbagi para guru dan personil lainnya, yang berhubungan denga kegiatan bimbingan.
4) Mengadakan penelitian lanjutan terhadap siswa-siswa yang telah meninggalkan sekolah.
individu yang sedang dalam proses perkembangan. Oleh sebab itu, merujuk pada perkembangan individu yang sedang dalam proses perkembangan. Oleh sebab itu, merujuk kepada perkembangan individu yang dibimbing. Dengan perkataan lain agar individu (siswa) dapat mengembangkan dirinya secara optimal sesuai dengan potensi atau kapasitasnya dan agar individu dapat berkembang sesuai lingkungannya. Optimalisasi pencapaian tujuan bimbingan dan konseling pada setiap individu tentu berbeda sesuai tingkatan perkembangannya. Apabila yang dibimbing adalah murid sekolah dasar (SD/MI), dimana mereka sedang dalam proses perkembangan dari usia SD/MI ke usia SMP / MTS atau usia anak-anak ke usia remaja, tentu optimalisasi pencapaian tingkat perkembangannya sesuai dengan usia sekolah dasar, demikian juga apabila yang dibimbing adalah siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau siswa madrasah tsanawiyah dan sekolah menengah atas atau sekolah menengah kejuruan (SMA/ SMK) atau madrasah aliyah (MA) dan perguruan tinggi (PT).
Bimbingan dan konseling berkenaan dengan perilaku, oleh sebab itu tujuan bimbingan dan konseling adalah dlam rangka: pertama, membantu mengembangkan kualitas kepribadian individu yang dibimbing atau dikonseling. Kedua, membantu mengembangkan kualitas kesehatan mental klien. Ketiga, membantu mengembangkan perilaku-perilaku yang lebih efektif pada diri individu dan lingkungannya. Keempat, membantu klien menanggulangi problema hidup dan kehidupannya secara mendiri.
Secara lebih rinci, tujuan bimbingan dan konselling atau tujuan konseling seperti telah disebutkan di atas adalah agar klien: pertama, memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya. Kedua, mengarahkan dirinya sesuai dengan potensi yang dimilkinya kearah tingkat perkembangan yang optimal.Ketiga, mampu memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya. Keempat, mempunyai wawasan yang lebih realistis serta penerimaan yang obyektif tentang dirinya. Kelima, dapat menyesuaikan diri secra lebih efektif baik terhadap dirinya sendiri maupun lingkungannya sehingga memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. Keenam, mencapai taraf aktualisasi diri sesuai dengan potensi yang dimilkinya. Ketujuh, terhindar dari gejala-gejala kecemasan dan perilaku salah suai. Dalam islam, sosok individu yang ingin dicapai seperti disebutkan dalam tujuan bimbingan dan konseling di atas identik dengan individu yang “kaffah” atau insan kamil. Individu yang kaffah atau insan kamil merupakan sosok individu atau pribadi yang sehat baik rohani (mental atau psikis) dan jasmaninya (fisiknya). Dengan perkataan lain, sehat fisik dan psikisnya individu atau pribadi yang kaffah atau insan kamil juga merupakan sosok individu yang mampu mewujudkan potensi iman, ilmu, dan amal serta zikir sesuai kemampuannya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut M.Hamdan Bakran Adz Dzaky, (2004) merinci tujuan bmbingan dan konseing dalam islam sebagai berikut:
a. Untuk menghasilkan suatu perubahan, perbaikan, kesehatan dan kebersihan jiwa dan mental jiwa menjadi tenang, jinak, dan damai, bersikap lapang dada dan mendapatkan pencerahan taufik dan hidayahnya.
b. Untuk menghasilkan suatu perubahan, perbaikan, dan kesopanan tingkah laku yang dapat memberikan manfaat baik pada diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah madrasah
C. Fungsi bimbingan dan konseling
Fungsi bimbingan dan konseling secara umum adalah sebagai fasilitator dan motivator client dalm upaya mengatasi dan mencegah problema kehidupan klient dengan kemampuan yang ada pada diri sendiri. Sesuai dengan uraian sebelumnya bahwa bimbingan dan konseling bertujuan agar peserta didik dapat menemukan dirinya, mengenal dirinya dan mampu merencanakan masa depannya. Dalam hubungan ini bimbingan dan konseling berfungsi sebagai pemberi layanan kepada preseta didik agar masing-masing peserta didik dapat berkembang secara optimal sehingga menjadi pribadi yang utuh dan mandiri. oleh karna itu pelayanan bimbingan dan konseling mengembangkan sejumlah fungsi yang hendak dipenuhi melalui kegiatan bimbingan dan konseling. Fungsi utama bimbingan dan konseling dalam Islam yang hubungannya dengan kejiwaan tidak dapat terpisahkan dengan masalah spiritual (keyakinan). Islam memberikan bimbingan kepada manusia agar kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Fungsi bimbingan dan konseling di sini memberikan bimbingan kepada penyembuhan terhadap ganggauan mental berupa sikap dan cara berpikir yang salah dalam menghadapi problem individu setelah individu dapat kembali dalam kondisi yang bersih dan dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, mana yang baik bagi dirinya dan orang lain atau sebaliknya barulah dikembangkan ke arah pengembangan dan pendidikan bagi mereka.
Fokus bimbingan dan konseling Islam selain memberikan perbaikan dan penyembuhan pada tahap mental, spiritual atau kejiwaan, dan emosional, kemudian melanjutkan materi bimbingan dan konseling kepada pendidikan dan pengembangan dengan menanamkan nilai-nilai dan wahyu sebagai pedoman hidup.
Bimbingan mengembangkan sejumlah fungsi yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam setting sekolah. Ada beberapa fungsi bimbingan yang dikemukakan oleh Aquino dan Alviar (Thanyawi, 1995 : 39) yaitu pencegahan(preventif), perbaikan(kuratif), pengembangan (development) dan satu lagi yang dikemukakan oleh Prayitno dalam Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Kurikulum 1994(1998: 25) yaitu fungsi pemahaman (informatif).
Fungsi Bimbingan dan Konseling menurut rambu-rambu penyelenggaraan bimbingan dan konseling di jalur pendidikan formal adalah sebagai berikut:
1. Fungsi Pemahaman
Yaitu fungsi bimbingan yang membantu peserta didik agar memiliki pemahaman terhadap potensi dirinya dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, peserta didik diharapkan mampu mengembangkan potensinya secara optimal, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. 2. Fungsi Preventif
Yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh peserta didik. Melalui fungsi ini konselor memberikan bimbingan kepada peserta didik tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Adapun teknik yang digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada peserta didik dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya: bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas.
3. Fungsi Pengembangan
Yaitu fungsi bimbingan yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi pesrta didik. Konselor dan personel lainnya harus berkolaborasi dan bekerja sama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu peserta didik mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyaeisata.
4. Fungsi Penyembuhan
Yaitu fungsi bimbingan yang bersifat kuratif . Fungsi ini berkaitan dengan upaya pemberian bantuan kepada pesrta didik yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.
5. Fungsi Penyaluran
Fungsi bimbingan ini adalah membantu peserta didik memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi dan memeantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian, dan ciri-ciri kepribadiannya masing-masing.
6. Fungsi Adaptasi
Fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala sekolah, konselor dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan peserta didik.
7. Fungsi Penyesuaian
Fungsi bimbingan dalam membantu peserta didik agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
D. Ruang lingkup pelayanan bimbingan dan konseling
1. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah
a. Bidang kurikulum dan pengajaran meliputi semua bentuk pengembangan kurikulum dan pelaksanaan pengajaran, yaitu penyampaian dan pengembangan pengetahuan,ketrampilan ,sikap dan kemampuan berkomunikasi peserta didik.
Pelayanan bimbingan dan konseling dapat memberikan sumbangan yang berarti terhadap pengajaran.Misalnya proses belajar mengajar dapat berjalan dengan efektif apabilasiswa terbbas dari masalah-masalh yang menggangguproses belajarnya.Begitu pula sebaliknya.bidang kurikulum dan pengajaran merupakan lahan yang sangat efektif bagi terlaksanakannya didalam praktikmateri-materi layanan Bimbingan konseling. Pelaksanaan pengajaran yang sehat dan mantap baik didalam isi maupun suasananya,akan memberikan sumbangan besar bagipencegahan timbulnya masalah siswa dan juga merupkanwahana bagi pengetahuan masalah-masalah siswa dan jauga merupakan wahana bagi pengetahauan masalah –masalah siswa.pengajaran perbaikan dan pemberian materi pengayaan merupakan bentuklayanan bimbingan yang dilaksanakan kegiatan pengajara.
b. Bidang Administrasi atau Kepemimpinan
Bidang yang meliputiberbagai fungsi berkenaandengan tanggung jawab dan pengambilan kebijakasanaan,serta bentuk-bentuk kegiatan pengolahan dan administrsiseola,seperti perencanaan,pembiayaan pengadaan dan pengembangan staf,prasarana dan sarana fisikdan pengawasan.
Terhadap administrasi dan suprvisi,Bimbingan dan konseling melaluiberbagai kebijaksanaanyang tepat dalam rangka penciptaan iklim sekolah yang benar-benar menunjang bagi pemenuhan kebutuhandan perkembangan siswa,begitu pula sebaliknya bidang pengelolaan dan Administrsi dapat memberikan sumbangan yang besarbagi pelayanan bimbingan dan konseling elaluibebagai kebijaksanan dan pengaturan yang menghasilkan kondisi yang memungkinkan berjalannya layanan itu secara optimal, sehingga segenap fungsi-fungsidan jenis layanan serta kegiatan Bimbingan Konseling dapat terlaksana dengan lancar dan mencapai sasaran.
c. Bidang Kesiswaan
Yiatu bidang yang meliputiberbagai fungsi dan kegiatan yang mengacu padapelayanan kesiswaan secara individual agar masing-masing peserta didik itu dapat berkembangsesuai dengan bakat,potensi dan minat-minatnya,serta tahap-tahap perkembangannya.Bidang ini dikenal sebagai bidang pelayanan Bimbingan Konseling.
2. Pelayanan Bimbingan Konseling di Luar Sekolah
a. Bimbingan Konseling Keluarga
Palmo,Lowry,Weldon,danScioscia(1984)mengidentifikasi perubahan-perubahan yang terjadisecara signifikan mempengaruhi struktur dan kondisi keluarga,yaitu meningkatny perceraian,kedua orang tua bekerja,pengangkatan anak,emansipasi pria-wanita dan kebebasan hubungan seksual.selain itu meningkatnya kesadaran tentang anak-anakcacat,keadan depresidan bunuh diri,kesulitab mencari pekerjaan dan ketidakmampuan ekonomi menambah unsure-unsur yang mempengaruhi kehidupan keluarga.Unsur-unsur yang tidak menguntungkan itu secara langsung ataupun tidak langsung membawa pengaruh kepada anggota keluarga. Permasalahanyang yang ditimbulkan oleh pengaruh yang tidak menguntungkan itumengundang berperannya bimbingan dan konseling didalam keluarga.Segenap fungsi,jenis layanan dan kegiatan bimbingandan konseling pada dasarnya dapat diterapkandengan memperhatikan kesesuannya dengan masing-masingkarakteristik anggota keluarga yang memerlukan pelayanan itu.
3. Bimbingan dan Konseling Dalam lingkungan yang lebih luas
Permasalahan yang dialamioleh warga masyarakattidak hanay terjadi dilingkungan sekolah dan keluarga sajamelainkan yang diluar keduanya.Warga masyarakat dilingkunganperusahaan industri,kantor-kantor(baik pemerintah maupun swasta)dan lembaga-lembaga kerja lainnya,organisasi kemasyarakatan lainnya bahkan dilembaga pemasyarakatan,rumah jompo,rumah yatim piatuatau pantai asuhan,rumahsakitdan lain sebagainya,seluruhnya tifak terhindar dari kemungkinan menghadapi masalah.oloh karma itu disana diperlukan jasa Bimbingan konseling. Pelayanan bimbingan dan konseling yang menjangkau dearah kerja yang lebih luas itu perlu digerakkan oleh konseloryang bersifat multi dimensional(Chiles dan Giken,1983)yaitu yang mampu bekerja sama selain dengan guru,Administrator,dan orang tua,juga dengan berbagaikomponen dan lembaga masyarakat secara lebih luas.Konselor seperti itu bekerja dengan masalah-masalah personal,emosional,social,pendidikan dan pekerjaan yang kesemuanay itu untukmencegah timbulnya masalah,pengetahuan masalah,dan menunjang perkembangan individu anggota masyarakat.Konsep professional yang multidimensionalitu akan lebih berperan sebagai pelatih dan supervisior,disamping penyelenggaraanlayanan dan kegiatan “tradisional” Bimbingan dan Konseling ,bagi kaum muda dan anggota masyarakat lainnya(Goldman, 1976)
Dalam lingkungan yang lebih luas itu,Konselor akan berada di berbagai lingkungan,selain disekolah dan didalam keluarga,juga ditempat-tempat yang sekarang agaknya belum terjangkau pekerjaan profesionalbenar-benar memberikan ahli yang meberikan jasa berupa bantuan kepada orang-orang yang sedang mengfungsikan dirinya pada tahap perkembangan tertentu,membantu mereka mengambil manfaat yang sebesar-besrnya dari kondisi dan apa yang sudah mereka miliki. Membantu mereka menangani hal-hal tertentu agar lebih efektif, merencanakan tindak lanjutatas langkah-langkah yang telah diambil, serta membantu lembaga ataupun organisasimelakukan perubahan agar lebih efektif.
Dalam melaksanakan peranannya yang lebih luas itu konselor berada dimana-mana,dilembaga formal dan non formal, didesa-desa dan dikota-kota,konselor bekerja sama dengan kelurga dan tokoh-tokoh masyarakat,kepala desa dan camatdengan para pemimpin formaldan non formal konselor dimasa depan bekerja disemua bidang kehidupan dan sumberdaya manusia mebantu individu masyarakat dari berbagai umur,mencegahtimbulnya masalahdan mengentaskan berbagai masalah yang dihadapi warga masyarakat dan menjadikan tahap perkembangan yang mereka jalanai menjadi lebih optimal.
koselor yang bekerja diluar sekolah dapat mengikatkan dir pada lembaga tertentu (misalnya perusahaan,kantor,dan lain-lain),dapat bekerjasama dengan sejawat dalam suatu tim pelayanan Bimbingan dan konseling dapat bekerja mandiri dan dapat pula menciptkan bentuk-bentuk baru penjualan jasa Bimbingan dan Konseling di masyarakt.dimanapun konselor bekerja dan apaun tugas-tugas khusus yang diselenggarakan konselor, namun fungsi,prinsip,asas, jenis layanan dan kegiatan Bimbingan dan Konseling pada dasarnya tetap sama.modifikasi dan penyesuaian disesuaikan bedasarkan kekhususan yang ada pada sasaran layanan,lembaga dan tempat bekerja,tujuan dan kondisiyang menyertai diperlukannya pelayanan Bimbingan dan Konseling itu
E. Relevansi tujuan dan fungsi bimbingan dan konseling dengan islam
Fokus pelayanan bimbingan dan konseling adalah manusia. Oleh sebab itu, melihat relevansi dan tujuan fungsi bimbingan dan konseling dengan islam (ajaran islam) juga harus melihat bagaimana islam memandang manusia, tujuan penciptaannya, dan tugas atau tanggung jawabnya serta penjelasan-penjelasan lain yang berkenaan dengan syari’at islam. Islam adalah agama wahyu yang langsung dari dzat yang maha suci, maha benar dan maha sempurna: oleh sebab itu ajarannya tidak akan mungkin bertentangan dengan fitrah (potensi) manusia. Ajaran islam justru akan membimbing manusia kearah fitrahnya dalam rel yang benar.
Secara umum tujuan bimbingan dan konseling seperti telah disebutkan diatas, intinya adalah agar manusia (individu) mampu memahami potensi-potensi insaniyah-nya, dimensi-dimensi kemanusiaannya, termasuk berbagai memahami persoalan hidup dan mencari alternatif pemecahannya. Apabila pemahaman akan potensi-potensi insaniyah dapat diwujudkan secara baik, maka individu akan tercegah darihal-hal yang dapat merugikan dirinya dan orang lain. Pemahaman tentang ajaran islam (melalui al-qur’an dan hadist) secara prefentif akan dapat mnecegah individu dari segala sesuatu yang bisa merugikan esensi dan eksistensi dirinya.
Selain dibekali dengan potensi fitrah, manusia diciptakan oleh Allah swt. Juga diserahi tugas dan tanggung jawab kemanusiaan. Tugas dan tanggung jawab utama manusia sebagai makhluk ciptaannya ditegaskan dalam al-qur’an surat (adz-dzariyat {51}:56) sebagai berikut : “ aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengabdi kepadaku”. Kata “mengabdi” dalam terjemahan ayat diatas sering dimaknai beribadah. Dengan demikian, tugas utama manusia sebagai makhluk ciptaan Allah swt. Adalah beribadak kepada Allah swt. Dalam arti luas baik ibadah mahdhoh maupun ghoru mahdhoh ; ibadah wajib maupun sunnah. Dalam konteks yang luas, tugas manusia sebagai khalifah fil ardh juga harus dilaksanakan dalam rangka mengabdi kepada Allah swt. Dalam konteks yang luas juga, seluruh aktifitas manusia termasuk aktifitas siswa belajar yang disandarkan kepada Allah swt. (diniatkan karena Allah swt) adalah ibadah.
Berkenaan dengan fungsi bimbingan dan konseling yang telah disebutkan, secara umum al-qur’an diturunkan oleh Allah swt. Berfungsi membimbing manusia kearah jalan yang benar. Fungsi ini ditegaskan dalam al-qur’an surat (al-baqarah {2}: 2 ) sebagai berikut: “ kitab itu tidak ada keraguan didalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”. Melalui fungsi ini, al-qu’an sebagai petunjuk (hudan) akan membimbing manusia kearah jalan yang diridhai Allah swt.
Isi atau kandungan al-qur’an menjadi pedoman dalam perumusan semua ajaran islam. Ajaran islam berfungsi mengembangkan potensi keinsanan individu menuju kepada esensi keinsanan yang sempurna (insan kamil dan kaffah). Penjelasan al-qur’an tentang al-qur’an itu sendiri, tentang Allah swt, malaikat, rasul, takdir, hari kiamat (rukun iman) dan penjelasan al-qu’an tentang iman (syahadat), ibadah (shalat, puasa, zakat, haji) atau rukun islam ; serta penjelelasan al-qur’an tentang manusia , alam (lingkungan), dan lain sebagainya akan memberikan pemahaman kepada manusia itu sendiri. Dengan pemahaman yang baik, diharapkan akan terbentuk individu yang berkpribadian sehat akan dapat mewujudkan hal-hal yang positif (beriman, bertaqwa, beramal saleh, dan berbuat ikhsan serta berzikir) dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, fungsi pemahaman juga memberikan pengertian kepada siswa tentang manusia dan problematikanya dalam hidup dan kehidupan serta bagaimana mencari alternatif solusi terhadap problematika tertentu seperti gangguan mental ringan, spiritual dan moral, dan problematika lain yang bersifat lahiriyah bathiniyah pada umumnya secara benar dan baik. Fungsi pemahaman juga akan memberikan pengertian bahwa ajaran islam (al-qur’an dan sunnah) merupakan sumber yang paling lengkap, benar dan suci untuk berbagai problematika yang berkaitan dengan pribadi manusia dengan tuhannya, pribadi manusia dengan dirinya sendiri, pribadi manusia dengan lingkungan keluarganya, dan lingkungan sosialnya.
Ajaran islam melalui al-qur’an dan hadist juga berfungsi pengendalian (control), yakni memberikan potensi yang dapat mengarahkan aktivitas setiap hamba Allah swt. (siswa) agar tetap terjaga dalam pengendalian dan pengawasannya. Dengan fungsi ini perilaku individu (siswa) sebagai hambanya tidak akan menyimpang dari ajaran islam sehingga terwujud perilaku yang benar, baik dan bermanfaat baik bagi dirinya maupun orang lain (lingkungannya). Melalui pengendalian diri yang baik, cita-cita dan tujuan hidup dan kehidupannya akan dapat tercapai dengan sukses dan eksistensi serta esensi diri senantiasa mengalami kemajuan.
F. Kesimpulan
tujuan bimbingan dan konseling ialah agar siswa dapat mengenal danmenerima diri sendiri serta mengenal lingkungan nya secara positif dan dinamis serta mampu mengambil keputusan, mengamalkan dan mewujudkan diri sendiri secara efektif dan produktif sesuai dengan peranan yang diinginkannya di masa depan.
Fungsi utama bimbingan dan konseling dalam Islam yang hubungannya dengan kejiwaan tidak dapat terpisahkan dengan masalah spiritual (keyakinan). Islam memberikan bimbingan kepada manusia agar kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Fungsi bimbingan dan konseling di sini memberikan bimbingan kepada penyembuhan terhadap ganggauan mental berupa sikap dan cara berpikir yang salah dalam menghadapi problem individu setelah individu dapat kembali dalam kondisi yang bersih dan dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, mana yang baik bagi dirinya dan orang lain atau sebaliknya barulah dikembangkan ke arah pengembangan dan pendidikan bagi mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin,Muhammad Teori-Teori Konseliang, Umum Dan Agama , Jakarta: PT Golden
Terayon Press: 1996.
Budiamin, Amin, Bimbingan konseling, jakarta: Dirjen Pendidikan Islam, 2009
John, Mcleod, Pengantar Konseling Teori Studi Kasus, Jakarta, Kencana Prenada
Media: 2006.
CIpta,1999.
Sukardi, Dewa Ketut, Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Bina Aksara, 1988
Salahudin, Anas, Bimbingan dan Konseling , Bandung: Pustaka Setia, 2010
Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah Berbasis Integrasi,
M. Arifin, Teori-Teori Konseliang, Umum Dan Agama (Jakarta, PT Golden Terayon Press: 1996) hal 23
Priyatno dan Ermananti, Dasar-DasarBimbingan Dan Konseling, (Jakarta: PT Rineke CIpta,1999), hlm 23
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️