A. Pendahuluan
Pembentukan dan pengembangan sikap serta moral seorang siswa melalui pendidikan agama di sekolah menjadi sangat penting. Sebab dasar agama untuk membentuk pribadi yang agamis (bertaqwa) merupakan kebutuhan rohaniah dan juga kebutuhan akademis melalui ilmu
pengetahuan. Namun demikian, kondisi kurikulum yang sangat padat, serta kendala-kendala lain menuntut proses pembelajaran pendidikan agama perlu dilakukan secara baik, sistematis agar mencapai tujuan yang direncanakan, dan dapat menanamkan nilai-nilai agama tersebut untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dapat kita lihat pada kenakalan remaja di Negara Indonesia tercinta ini. Sangat jelas dan nampak sekali. Pada massa era globalisasi ini, khususnya remaja atau pemuda-pemudi banyak melakukan perbuatan yang sangat tidak etis, sehingga saat-saat ini Negara Indonesia banyak mengalami cobaan-cobaan dan bencana alam yang salah satunya adalah akibat dari kenakalan remaja itu sendirI. Berdasarkan uraian di atas, dapat Salah satu faktor dari kenakalan remaja adalah sikap yang ada pada peserta didik yang belum diterapkan dan kurang ditanamkan oleh seorang guru dalam proses pembelajaran di sekolah dan pada kehidupan sehari-hari. Masalah afektif dirasakan penting oleh semua orang, namun implementasinya masih kurang. Hal ini disebabkan merancang pencapaian tujuan pembelajaran afektif tidak semudah seperti pembelajaran kognitif dan psikomotor. Satuan pendidikan harus merancang kegiatan pembelajaran yang tepat agar tujuan pembelajaran afektif dapat dicapai. Maka dari itu, Pembentukan dan pengembangan sikap dan moral seorang siswa melalui pendidikan agama di sekolah menjadi sangat penting. Dasar agama untuk membentuk pribadi yang agamis (bertaqwa) merupakan kebutuhan rohaniah selain kebutuhan akademis melalui ilmu pengetahuan. Kemampuan afektif berhubungan dengan minat dan sikap yang dapat berbentuk tanggung jawab, kerjasama, disiplin, komitmen, percaya diri, jujur, menghargai pendapat orang lain, dan kemampuan mengendalikan diri. Semua kemampuan ini harus menjadi bagian dari tujuan pembelajaran di sekolah, yang akan dicapai melalui kegiatan pembelajaran yang tepat. Keberhasilan pendidik melaksanakan pembelajaran ranah afektif dan keberhasilan peserta didik mencapai kompetensi afektif perlu dinilai. Oleh karena itu perlu dikembangkan acuan pengembangan perangkat penilaian ranah afektif.
B. Pengertian dan konsep Strategi Pembelajaran Berbasis afektif.
Strategi pembelajaran afektif adalah strategi yang bukan hanya bertujuan untuk mencapai pendidikan kognitif saja. Melainkan bertujuan untuk mencapai dimensi yang lainnya. diantaranya sikap dan keterampilan afektif berhubungan dengan volume yang sulit diukur karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam. Afeksi juga dapat muncul dalam kejadian behavioral yang diakibatkan dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Kemampuan aspek afektif berhubungan dengan minat dan sikap yang dapat berupa tanggung jawab, kerja sama, disiplin, komitmen, percaya diri, jujur, menghargai pendapat orang lain dan kemampuan mengendalikan diri. Semua kemampuan ini harus menjadi bagian dari tujuan pembelajaran di sekolah, yang akan dicapai melalui kegiatan pembelajaran yang tepat. Dalam pengertian lain disebutkan bahwa ranah afektif sangat mempengaruhi perasaan dan emosi. Pengertian aspek afektif yang penulis maksudkan adalah bahwa seorang anak dilihat dari bagaimana perkembanganya bukan pada apa yang telah dirasakannya. Aspek afektif yang penting diketahui adalah sikap dan minat peserta didik melalui lima jenjang yaitu, Menerima, Menjawab, Menilai, Organisasi, dan Karakteristik dengan suatu nilai. Masalah afektif yang bersifat kejiwaan dan berada di dalam diri manusia, sulit dibaca dan diukur. Namun mampu dikaji/dibaca/diramal melalui sejumlah indikator. Karenanya pembelajaran afektif pun hendaknya memanfaatkan media indikator ini untuk dapat menembus hati nurani dan perasaan anak, dan guru harus telaten serta ulet, karena untuk mampu membuka tabir diri anak dan membina keseluruhan kejiwaannya kita harus menggunakan aneka teknik dan metode. Dalam membaca potret diri seseorang (anak) banyak orang kuatir kalau apa yang dinampakkan/terbaca itu adalah semu dan berbeda dengan apa yang sebenarya ada dalam diri anak tersebut. Hal ini bisa saja terjadi. Bahkan justru merupakan sifat afektif bahwa apa yang hari ini dianggap baik/benar oleh kita pada kesempatan atau kondisi lain menjadi tidak benar (berubah). Untuk itulah pemakalah ingatkan kembali perlunya membaca aneka indikator yang ditampilkan anak. Demikian halnya dalam membinanya. Hal lain yang pemakalah ingin ingatkan bahwa dalam mengajar afektif/nilai sebenarya juga dalam pembelajaran lainnya yang terutama harus mengetahui/menyatakan keadaan sesuatu bukanlah guru melainkan anak itu sendiri. Maka kita tidak usah paksa/ambisius untuk tahu segalanya melainkan melontarkan upaya/stimulus agar anak dapa menampilkan jati dirinya yang sebenarnya. Boleh saja anak mengatakan “saya belum pernah mencuri”, tetapi melalui stimulus/media yang kita lontarkan dalam pembelajaran anak itu berdialog dan menjawabnya bohong karena sebenarnya pernah mencuri lalu menilainya baik atau tidak perbuatan tersebut serta muncul jawaban dan niat baru. Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor dipengaruhi oleh kondisi afektif peserta didik. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tertentu, sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Walaupun para pendidik sadar akan hal ini, namun belum banyak tindakan yang dilakukan pendidik secara sistematik untuk meningkatkan minat peserta didik. Oleh karena itu untuk mencapai hasil belajar yang optimal, dalam merancang program pembelajaran dan kegiatan pembelajaran bagi peserta didik, pendidik harus memperhatikan karakteristik afektif peserta didik. C. Nilai-Nilai Dalam Strategi Pembelajaran Afektif
Pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif (Andersen, 1981:4). Pertama, perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Kedua, perilaku harus tipikal perilaku seseorang. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas, arah, dan target. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan yang menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk. Misalnya senang pada pelajaran dimaknai positif, sedang kecemasan dimaknai negatif. Bila intensitas dan arah perasaan ditinjau bersama-sama, maka karakteristik afektif berada dalam suatu skala yang kontinum. Target mengacu pada objek, aktivitas, atau ide sebagai arah dari perasaan. Bila kecemasan merupakan karakteristik afektif yang ditinjau, ada beberapa kemungkinan target. Peserta didik mungkin bereaksi terhadap sekolah, matematika, situasi sosial, atau pembelajaran. Tiap unsur ini bisa merupakan target dari kecemasan. Kadang-kadang target ini diketahui oleh seseorang namun kadang-kadang tidak diketahui. Seringkali peserta didik merasa cemas bila menghadapi tes di kelas. Peserta didik tersebut cenderung sadar bahwa target kecemasannya adalah tes.
Ada 5 (lima) tipe nilai karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.
1. Sikap
Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.
2. Minat
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583), minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi.
3. Konsep Diri
Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik. Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat.
Penilaian konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Kelebihan dari penilaian diri adalah sebagai berikut.
a. Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik.
b. Peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai.
c. Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya.
d. Memberikan motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik.
e. Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
f. Dapat digunakan untuk acuan menyusun bahan ajar dan mengetahui standar input peserta didik.
g. Peserta didik dapat mengukur kemampuan untuk mengikuti pembelajaran.
h. Peserta didik dapat mengetahui ketuntasan belajarnya.
i. Melatih kejujuran dan kemandirian peserta didik.
j. Peserta didik mengetahui bagian yang harus diperbaiki.
k. Peserta didik memahami kemampuan dirinya.
l. Pendidik memperoleh masukan objektif tentang daya serap peserta didik.
m. Mempermudah pendidik untuk melaksanakan remedial, hasilnya dapat untuk instropeksi pembelajaran yang dilakukan.
n. Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain.
o. Peserta didik mampu menilai dirinya.
p. Peserta didik dapat mencari materi sendiri.
q. Peserta didik dapat berkomunikasi dengan temannya.
4. Nilai
Manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat.
5. Moral
Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang perkembangan moral anak. Namun Kohlberg mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral. Ia hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap dilema hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya seseorang bertindak.
Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.
D. Proses Pembentukan Sikap Dalam Strategi Pembelajaran Afektif
Terbentuknya sebuah sikap pada diri seseorang tidaklah secara tiba-tiba, tetapi melewati proses yang terkadang cukup lama. Proses ini biasanya dilakukan lewat pembiasaan dan modeling (percontohan).
1. Pola pembiasaan
Dalam proses pembelajaran di sekolah, baik secara di sadari maupun tidak, guru dapat menanamkan sikap tertentu kepada siswa melalui proses pembiasaan, misalnya sikap siswa yang setiap kali menerima perilaku yang tidak menyenangkan dari guru, satu contoh mengejek atau menyinggung perasaan anak. Maka lama kelamaan akan timbul perasaan benci dari anak yang pada akhirnya dia juga akan membenci pada guru dan mata pelajarannya, untuk mengembalikannya pada sikap positif bukanlah pekerjaan mudah.
Belajar membentuk sikap melalui pembiasaan itu juga dilakukan oleh Skinner melalui teorinya operant conditioning. Proses pembentukan sikap melalui pembiasaan yang dilakukan oleh Watson berbeda dengan proses pembiasaan sikap yang dilakukan oleh Skinner. Pembentukan sikap yang dilakukan oleh Skinner menekankan pada proses peneguhan respon anak. Setiap kali anak berprestasi yang baik diberikan penguatan (reinforcement) dengan cara memberikan hadiah atau perilaku yang menyenangkan, lama-kelamaan anak berusaha meningkatkan sikap positifnya.
2. Modeling.
Pembelajaran sikap dapat juga dilakukan melalui proses modeling yaitu pembentukan sikap melalui proses asimilasi atau proses pencontoaan. Salah satu karakteristik anak didik yang sedang berkembang adalah keinginan untuk melakukan peniruan (imitasi). Hal yang di tiru itu adalah perilaku-perilaku yang di peragakan atau di demontrasikan oleh orang yang menjadi idolanya. Prinsip peniruan in ilah yang disebut dengan modeling, jadi modeling adalah proses peniruan anak terhadap orang lain yang menjadi idolanya atau orang yang dihormatinya.
Proses penanaman sikap anak terhadap suatu objek melalui proses modeling pada mulanya dilakukan secara mencontoh, namun anak perlu diberi pemahaman mengapa hal itu dilakukan. Misalnya: guru perlu menjelaskan mengapa kita harus telaten terhadap tanaman, atau mengapa kita harus berpakaian bersih dan rapi. Hal ini diperlukan agar sikap tertentu yang muncul benar-benar didasari oleh suatu keyakinan kebenaran sebagai suatu sistem nilai.
E. Model Strategi Pembelajaran Berbasis Afektif
Setiap strategi pembelajaran sikap pada umumnya menghadapkan siswa pada situasi yang mengandung konflik atau situasi problematis, melalui situasi ini di harapkan siswa dapat mengambil keputusan berdasarkan nilai yang dianggapnya baik. Di bawah ini disajikan beberapa model strategi pembelajaran pembentukan sikap : 1. Model Konsiderasi
Model konsiderasi dikembangkan oleh MC.Paul, seorang humanis. Paul menganggap bahwa pembentukan moral tidak sama dengan pengembangan kognisi yang rasional. Pembelajaran moral siswa menurutnya adalah pembentukan pembentukan kepribadian bukan pengembangan intelektual. Oleh sebab itu, model ini menekankan kepada strategi pembelajaran yang dapat membentuk kepribadian. Tujuannya adalah agar siswa menjadi manusia yang memiliki kepedulian terhadap orang lain.
Implementasi model konsiderasi guru dapat mengikuti tahapan-tahapan pembelajaran seperti berikut: a. menghadapkan siswa pada suatu masalah yang mengandung konflik,yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.Ciptakan situasi”Seandainya siswa ada dalam masalah tersebut’’.
b. Menyuruh siswa untuk menganalisis sesuatu masalah dengan melihat bukan hanya yang tampak,tapi juga yang tersirat dalam permasalahan tersebut,misalnya perasaan,kebutuhan,dan kepentingan orang lain.
c. Menyuruh siswa untuk menuliskan tanggapannya terhadap permasalahan yang dihadapi.Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat menelaah perasaannya sendiri sebelum mendengar respons orang lain untuk dibandingkan.
d. Mengajak siswa untuk menganalisis respons orang lain serta membuat kategori dari setiap respons yang diberikan siswa.
e. Mendorong siswa untuk merumuskan akibat atau konsekuensi dari setiap tindakan yang diusulkan siswa.Dalam tahapan ini siswa diajak berpikir tentang segala kemungkinan yang akan timbul sehubungan dengan tindakannya.
f. Mengajak siswa untuk memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang untuk menambah wawasan agar mereka dapat menimbang sikap tertentu sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
g. Mendorong siswa agar merumuskan sendiri tindakan yang harus dilakukan sesuai dengan pilihannya berdasarkan pertimbangannya sendiri.
2. Model Pengembangan Kognitif
Model pengembangan kognisi dikembangkan oleh Lawrence Kohlberg. Model ini banyak diilhami oleh pemikiran John Dewey yang berpendapat bahwa perkembangan manusia terjadi sebagai proses dari restrukturisasi kognitif yang berlangsung secara berangsur-angsur menurut urutan tertentu.
Menurut Kohlberg, moral manusia itu berkembang melalui 3 tingkat, dan setiap tingkat terdiri dari 2 tahap, yaitu :
a. Tingkat Prakonvensional.
Pada tingkat ini setiap individu memandang moral berdasarkan kepentingannya sendiri. Artinya, pertimbangan moral didasarkan pada pandangannya secara individual tanpa menghiraukan rumusan dan aturan yang dibuat oleh masyarakat. Pada tingkat prakonvesional ini terdiri atas dua tahap, yaitu : tahap pertama adalah Orientasi Hukum dan Kepatuhan dan tahap kedua Orientasi Instrumental Relatif.
b. Tingkat Konvensional
Pada tahap ini anak mendekati masalah didasarkan pada hubungan individu masyarkat. Kesadaran dalam diri anak mulai tumbuh bahwa perilaku itu harus sesuai dengan norma – norma dan aturan yang berlaku dimasyarakat. Pada tingkatan ini mempunyai 2 tahap, yaitu : keselarasan interpersonal serta tahap sistem sosial dan kata hati.
c. Tingkat Postkonvensional
Pada tingkat ini perilaku bukan hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap norma – norma masyarakat yang berlaku, akan tetapi didasarkan oleh adanya kesadaran sesuai dengan nilai – nilai yang dimilikinya secara individu. Pada tingkatan ini juga terdiri dari dua tahap, yaitu : tahap kontrak sosial dan tahap prinsip etis yang universal.
3. Tehnik Mengklarifikasikan Nilai.
Tehnik volume clarification technic Que atau VCT dapat diartikan sebagai tehnik pengajaran untuk memebantu siswa dalam menerima dan menentukan suatu nilai yang di aggapnya baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa. VCT menekankan bagaimana sebenarnya seseorang membangun nilai yang menurut anggapannya baik, yang pada akhirnya nilai – nilai tersebut akan mewarnai perilaku dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Salah satu karakteristik VTC sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran sikap adalah proses penanaman nilai dilakukan melalui proses analisis nilai yang sudah ada sebelumnya dalam diri siswa, kemudian menyelaraskannya dengan nilai-nilai baru yang hendak ditanamkan. John Jarolimek (1974) menjelaskan langkah pembelajaran dengan VCT dalam 3 tingkatan :
a. Kebebasab memilih
b. Menghargai
c. Berbuat à mengulangi perilaku sesuai dengan pilihannya .
4. Pengembangan moral kognitif
Model ini bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan mempertimbangkan nilai moral secara kognitif. Langkah-langkah pembelajaran moral kognitif :
a. Menghadapkan siswa pada suatu situasi yang mengandung dilema moral atau pertentangan nilai.
b. Siswa diminta salah satu tindakan yang mengandung nilai moral tertentu.
c. Siwa diminta untuk mendiskusikan atau menganalisis kebaikan dan kejelekannya.
d. Siswa didorong untuk mencari tindakan-tindakan yang lbih baik.
e. Siswa menerapkan tindakan dalam segi lain.
5. Model non direktif
Para siswa memiliki potensi dan kemampuan untuk berkembang sendiri. Perkembangan pribadi yang utuh berlangsung dalam suasana permisif dan kondusif. Guru hendaknya menghargai potensi dan kemampuan siswa, dan berperan sebagai fasilitator atau konselor dalam pengembangan kepribadian siswa. Penggunaan model ini bertujuan untuk membantu siswa mengaktualisasikan dirinya. Langkah pembelajaran nondirek :
a. Menciptakan sesuatu yang peermisif melalui ekspresi bebas.
b. Pengungkapan : siswa mengemukakan perasaan, pemikiran, masalah-masalah yang dihadapinya, kemudian guru menerima dan memberikan klasifikasi.
c. Pengembangan pemahaman : siswa mendiskusikan masalah dan guru memberikan dorongan.
d. Perencanaan dan penentuan keputusan: siswa merencanakan dan menentukan keputusan, kemudian guru memberikan klarifikasi.
F. Kesulitan Dalam Pembelajaran Afektif
Disamping aspek pembentukan kemampuan intelektual untuk membentuk kecerdasan peserta didik dan dan pembentukan keterampilan untuk mengembangkan kompetensi agara peserta didik memiliki kemampuan motorik, maka pembentukan sikap peserta didik merupakan aspek yang tidak kalah pentingnya, ada beberapa kesulitan yang disebabkan dalam proses pembelajaran dan pembentukan akhlak, yaitu:
1. Selama ini proses pendidikan sesuai dengan kurikulum yang berlaku, cenderung diarahkan untuk membentuk intelektual, akibatnya upaya yang dilakukan oleh seorang guru diarahkan kepada bagaimana anak dapat menguasai pengetahuan sesuai dengan standar isi kurikulum yang berlaku, oleh karena kemampuan intelektual identik dengan penguasaan materi pelajaran.
2. Sulitnya melakukan control karena banyaknya factor yang dapat mempengaruhi perkembangan sikap seseorang, pengembangan kemampuan sikap baik melalui proses pembiasaan maupun model bukan hanya ditentukan oleh factor guru, akan tetapi terutama dari factor lingkungan.
3. Keberhasilan pembentukan sikap tidak bisa dievaluasi dengan segera, berbeda dengan pengembangan aspek kognitif, aspek keterampilan yang hasilnya dapat diketahui setelah pembelajaran berakhir, maka keberhasilan dari pembentukan sikap baru dapat dilihat dari rentang waktu yang cukup panjang.
4. Pengaruh kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi yang menyuguhkan aneka program acara, berdampak pada pembentukan karakter anak. G. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Berbasis Afektif
Ada beberapa kelebihan dalam pelaksanaan pengelolaan pembelajaran afektif, yaitu: 1. Dalam pelaksanaan pembelajaran afektif akan dapat membentuk watak serta peradaban yang punya martabat
2. Mengembangkan potensi anak didik dalam hal nilai dan sikap
3. Sebagai sarana pembentukan manusia yang beriman, bertaqwa kepada Allah Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis.
4. Anak didk akan mengetahui hal yang berguna atau berharga dan tidak berguna atau tidak berharga.
5. Anak didik akan mengetahui mana hal yang baik dan tidak baik.
6. Dengan pelaksanaan pengelolaan seperti inni akan memperkuat karakter bangsa, apalagi bila dimulai sejak dini.
7. Dengan pelaksanaan pengelolaan seperti ini anak didik dapat berprilaku yang dipandang baik sesuai degan norma-norma yang berlaku.
Ada juga beberapa kelemahan pengelolaan pembelajaran berbasis afektif, antara lain: 1. Selama ini proses pendidikan sesuai dengan kurikulum yang berlaku cenderung diarahkan untuk pembentukan intelektual.dengan demikian keberhasilan proses pendidikan dan proses pembelajaran di sekolah ditentukan oleh criteria kemampuan intelektual.
2. Sulitnya melakukan control karena banyaknya factor yang dapat mempengaruhi perkembangan sikap seseorang.
3. Keberhasilan pembentukan sikap tidak bisa dievaluasi dengan segera. Berbeda dengan keberhasilan pembentukan kognisi dan aspek ketrampilan yang hasilnya dapat diketahui setelah proses pembelajaran berakhir.
Pengaruh kemajuan teknologi,khususnya teknologi informasi yang menyuguhkan aneka pilihan program acara, berdampak pada pembentukan karakter anak.
H. Kesimpulan
Banyak yang beranggapan bahwa pembelajaran afektif bukan untuk diajarkan, seperti pelajaran Biologi, Fisika ataupun Matematika. Pembelajaran afektif merupakan pembelajaran bagaimana sikap itu terbentuk setelah siswa memperoleh pembelajaran, oleh karena itu yang pas untuk afektif bukanlah pengajaran melainkan pendidikan. Afektif berhubungan sekali dengan nilai (value) yang sulit diukur karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam. Dalam batas tertentu afektif dapat muncul dalam kejadian Behavioral, akan tetapi penilaian untuk sampai pada kesimpulan yang dapat di pertanggungjawabkan membutuhkan ktelitian dan observasi yang terus menerus dan hal ini tidak mudah dilakukan, dalam proses pembelajaran di sekolah, baik secara disadari maupun tidak guru dapat menanamkan sikap tertentu kepada siswa melalui proses pembiasaan.
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Op., Cit, hlm.143 M. Sobry Sutikno, Pembelajaran Efektif. (Mataram: Aneka Press, 2005), hlm. 53 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Afektif, Op., Cit, hlm. 71
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️