A. Pendahuluan
Teknologi Pendidikan merupakan ilmu yang memproses secara kompleks dan terintegrasi antara manusia, prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk menganalisis suatu masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia, merancang, melaksanakan, menilai serta mengelola pemecahan masalahnya. Di dalam teknologi pendidikan pemecahan masalah itu terwujud dalam semua sumber belajar.
Unsur pokok pada teknologi pendidikan memfokuskan pada kegiatan belajar dan sumber belajar yang diperlukan untuk belajar. Secara operasional belajar dan sumber belajar memerlukan unsur lain yaitu pendekatan sistem. Unsur-unsur tersebut menjadi tiga prinsip dasar pemecahan masalah pendidikan/pembelajaran Teknologi Pendidikan dan juga Teknologi Instruksional. Ketiga prinsip dasar tersebut adalah menggunakan pendekatan sistem, berorientasi pada siswa dan pemanfaatan sumber belajar secara maksimal.
Dalam pendidikan terdapat suatu sistem yang kompleks, dimana sistem tersebut memiliki beberapa komponen yang saling berhubungan dan membentuk suatu kesatuan untuk mencapai tujuan yang sama yaitu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, maka sebuah sistem yang memiliki banyak komponen tersebut, harus berjalan dengan baik sesuai fungsinya masing-masing.
Penyelenggaraan sistem pendidikan di sebuah negara memiliki perbedaan satu sama lain yang dipengaruhi oleh sistem sosial budaya yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat dan negara tersebut. Hal ini menjadi sangat kompleks mengingat sebuah negara memiliki jumlah individu yang sangat banyak dan beragam, sehingga penyelenggaraan pendidikan juga membutuhkan pengelolaan yang sistematis dan sistemik. Pengelolaan yang tidak sederhana tersebut meliputi level instruksional (ruang kelas), level administratif (sekolah), level wilayah, level nasional hingga level global. Keseluruhan level atau tahapan merupakan rangkaian proses yang kompleks namun memiliki tujuan yang sama yaitu mencapai tujuan pendidikan nasional dan hal ini merupakan perwujudan dari sebuah sistem yang berorientasi pada pemecahan masalah secara efektif dan efisien.
B. Pendekatan Sistem
1. Pengertian Sistem
Sistem berasal dari bahasa latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi, atau energi. Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan benda yang memiliki hubungan di antara mereka. Banyaknya defenisi yang digunakan untuk menjelaskan arti kata sistem diantaranya; Menurut Gagne dalam Briggs dalam Karti Soeharto dkk., : Sistem sebagai suatu cara yang terorganisir untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, apakah itu untuk seluruh masyarakat, sebagian masyarakat atau untuk seorang guru/dosen/instruktur saja. Bahkan Briggs sendiri mengatakan bahwa sistem adalah rencana kerja yang terpadu dari semua komponen sistem yang dirancang untuk memecahkan suatu masalah atau untuk memenuhi suatu kebutuhan tertentu. Menurut Tatang M. Amirin dalam Umar Tirtaraharia dan Lasula : a. Sistem adalah suatu kebulatan keseluruhan yang kompleks atau terorganisir, suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian- bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau utuh.
b. Sistem merupakan himpunan komponen yang saling berkaitan yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai suatu tujuan.
c. Sistem merupakan sehimpunan komponen atau subsistem yang terorganisasikan dan berkaitan sesuai dengan rencana untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Menurut Bela H. Banathy dalam bukunya bahwa sistem adalah : System is defined in the dictionary as on assemblage of objects umted by some form of regular interaction or interdependence; an organik or organized whole; as, the solar system; or a new telegraph system: “Sistem adalah suatu kumpulan konsep dari objek yang satu untuk beberapa bentuk yang teratur yang saling mempengaruhi atau saling bergantung, sistem; suatu organik atau menyusun keseluruhan; juga menyinari sistem; atau suatu alat penggerak sistem yang baru.” Sistem menurut Miarso (2007) adalah perpaduan antara sejumlah komponen yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri, namun saling berkaitan untuk mencapai tujuan bersama dalam suatu lingkungan yang komplek, dengan ciri-ciri: adanya tujuan yang telah ditentukan, adanya komponen, adanya keterpaduan antara semua komponen, adanya keterbukaan, terjadinya transformasi, adanya mekanisme kendali yang mengatur kekompakan fungsi masing-masing-masing komponen. Dengan demikian sistem dapat dikatakan sebagai suatu komponen atau unsur-unsur yang berinteraksi satu sama lain menuju ke suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Sistem merupakan suatu totalitas dari bagian-bagiannya yang saling berkaitan.
Sistem yang merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak, contoh umum misalnya seperti negara. Negara merupakan suatu kumpulan dari beberapa elemen kesatuan lain seperti provinsi yang saling berhubungan sehingga membentuk suatu negara dimana yang berperan sebagai penggeraknya yaitu rakyat yang berada di negara tersebut.
2. Ciri-ciri Sistem
Adapun batasan yang diberikan terhadap sistem pada dasarnya ditandai dengan ciri-ciri tertentu sebagaimana diuraikan berikut ini : a. Tujuan
Setiap sistem selalu mempunyai tujuan. Misalnya, tujuan suatu lembaga pendidikan ialah untuk memberi pelayanan pendidikan kepada yang membutuhkannya.
b. Fungsi-fungsi
Adanya tujuan yang harus dicapai suatu sistem menurut terlaksananya berbagai fungsi yang diperlukan untuk menunjang usaha tercapainya tujuan tersebut.
c. Komponen-komponen
Demi terlaksananya masing-masing fungsi yang menunjang usaha tercapainya tujuan, di dalam suatu sistem diperlukan adanya komponen-komponen yang melaksanakan masing-masing fungsi tersebut.
d. Interaksi dan Saling Bergantung
Komponen-komponen dalam suatu sistem saling berinteraksi dan bergantung satu sama lain. Kemacetan pada suatu komponen akan berpengaruh pada komponen yang lain dan sistem secara keseluruhan.
e. Dikelilingi oleh Sistem-sistem yang lain
Suatu sistem tidak berdiri sendiri. Ia menerima masukan dari sistem- sistem lain tersebut dan pada gilirannya sistem-sistem tersebut menerima keluaran yang dihasilkan oleh sistem tadi.
f. Proses Transformasi
Setiap sistem mempunyai misi untuk mengubah masukan (input) menjadi keluaran (output). Proses ini disebut proses transformasi.
g. Efek Sinergestik
Setiap sistem memiliki efek sinergistik (pengaruh keterpaduan) yang diperoleh melalui perpaduan yang kokoh dan serasi antara komponen- komponen yang saling menunjang.
h. Mekanisme Umpan Balik
Setiap sistem memiliki mekanisme umpan balik sebagai fungsi kontrolnya, untuk menjaga mutu sistem.
i. Bersifat Relatif
Suatu sistem bersifat relatif, sebab tergantung situasi atau lingkup memandangnya. Sebuah sistem bisa dipandang sebagai sub-sistem ; bisa pula dilihat sebagai suatu sistem; atau bahkan supra sistem.
3. Pendekatan Sistem
Cara berpikir dengan mempergunakan konsep sistem disebut pendekatan sistem. Pendekatan sistem adalah suatu proses pencapaian hasil secara efektif dan efisien atas dasar kebutuhan-kebutuhan yang ada. Proses tersebut meliputi pengidentifikasian kebutuhan dan masalah, alternatif pemecahan masalah, penilaian dan pelaksanaan alternatif serta pemikiran dan revisi terhadap pemecahan masalah.
Pendekatan sistem harus memenuhi persyaratan, Sistemik (menyeluruh), Sistematik (berurutan, terarah), Sinergistik (menjamin adanya nilai tambah diseluruh aspek kegiatan), Isomeristik (menggabungkan hal-hal yang sesuai dengan kajian bidang).
Pendekatan sistem diperlukan apabila kita menghadapi suatu masalah yang kompleks sehingga diperlukan analisa terhadap permasalahan tadi, untuk memahami hubungan bagian dengan bagian lain dalam masalah tersebut, serta kaitan antara masalah tersebut dengan masalah lainnya. Tata kerja pendekatan sistem menelaah masalah-masalah pendidikan dari berbagai sudut pandang hingga menghasilkan beberapa alternatif. Penyelesaian masalah dipilih dari alternatif tadi. Pendekatan sistem juga memadukan pola berpikir penyelesaian masalah dengan segi efisiensi.
Sedangkan cara berpikir yang selalu mengedepankan sistem, apabila sudah melekat pada diri seseorang maka ia disebut berpola pikir sistemik. Dalam buku Menyemai Benih Teknologi Pendidikan oleh Prof. Dr. Yusufhadi Miarso, komponen sistem (dalam kaitannya dengan teknologi pendidikan) terdiri dari komponen fungsional dan komponen proses (guru, media, sarana, cara belajar). Konsep dasar pendekatan sistem ditinjau dari pendapat menurut AECT yaitu merupakan suatu proses pencapaian hasil atau tujuan logis dari pemecahan masalah dengan cara efektif dan efisien, dan dianggap sebagai suatu metode ilmiah.
Teknologi Pendidikan juga merupakan sebuah sistem yang cukup kompleks, dalam memandang suatu masalah pembelajaran, bidang Teknologi Pendidikan melakukan pendekatan sistem dengan menggunakan konsep ADDIE atau ASSURE. Dimana konsep tersebut ditujukkan untuk menyelesaikan suatu masalah dilihat dari segi efisiensi dan efektifitasnya.
Pendekatan sistem merupakan suatu metode ilmiah, dimana proses pencapaian hasil atau tujuan logis dari pemecahan masalah dilakukan dengan cara efektif dan efisien. Menurut Reigeluth, pendekatan sistem adalah transaksi dari suatu urutan logis dari operasi untuk tujuan mengubah satu atau lebih faktor dalam suatu sistem. Penerapan pendekatan sistem ini dapat membantu mencapai suatu efek sinergitis dimana tindakan-tindakan berbagai bagian yang berbeda dari sistem tersebut bila dipersatukan akan memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan terpisah bagian demi bagian. Jadi, pendekatan sistem merupakan aplikasi pandangan sistem (system view or system thinking) dalam upaya memahami sesuatu atau untuk memecahkan suatu permasalahan secara lebih efektif dan efisien.
Pendekatan sistem dapat dihubungkan dengan analisis kondisi fisik (misalnya: sistem tata surya, rakitan mesin), dapat dihubungkan dengan analisis biotis (misalnya: jaring-jaring ekologis, koordinasi tubuh manusia), dan dapat dihubungkan dengan analisis gejala sosial (misalnya: kehidupan ekonomis, gejala pendidikan, pola nilai hidup). Analisis sistem sosial relatif lebih rumit dibanding analisis sistem fisik dan sistem biotis, sistem sosial seperti sistem pendidikan pada umumnya bersifat terbuka, yaitu suatu sistem yang mudah dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di luar sistem (rentan terhadap pengaruh luar). Sebagai contoh, sistem persekolah yang mudah dipengaruhi oleh situasi/trend di masyarakat dan kebijakan pemerintah. Karakter sistem pendidikan yang bersifat terbuka ini menuntut konsekuensi penyelenggaraan pendidikan sekolah yang lebih kritis dan kreatif dalam mencari alternatif pengembangan secara berkesinambungan.
Pendekatan sistem adalah upaya untuk melakukan pemecahan masalah yang dilakukan dengan melihat masalah yang ada secara menyeluruh dan melakukan analisis secara sistem. Pendekatan sistem diperlukan apabila kita menghadapi suatu masalah yang kompleks sehingga diperlukan analisa terhadap permasalahan tadi, untuk memahami hubungan bagian dengan bagian lain dalam masalah tersebut, serta kaitan antara masalah tersebut dengan masalah lainnya. Keuntungan yang diperoleh apabila pendekatan sistem ini dilaksanakan antara lain: a. Jenis dan jumlah masukan dapat diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan sehingga penghamburan sumber, tata cara dan kesanggupan yang sifatnya terbatas akan dapat dihindari.
b. Proses yang dilaksanakan dapat diarahkan untuk mencapai keluaran sehingga dapat dihindari pelaksanaan kegiatan yang tidak diperlukan.
c. Keluaran yang dihasilkan dapat lebih optimal serta dapat diukur secara lebih cepat dan objektif.
d. Umpan balik dapat diperoleh pada setiap tahap pelaksanaan program. Jadi pelbagai kemungkinan yang tersedia dapat diperhitungkan, sehingga tidak ada yang luput dari perhatian. Sekalipun demikian bukan berarti pendekatan sistem tidak mempunyai kelemahan, salah satu kelemahan yang penting adalah dapat terjebak dalam perhitungan yang terlalu rinci, sehingga menyulitkan pengambilan keputusan dan dengan demikian masalah yang dihadapi tidak akan dapat diselesaikan.
Pendekatan sistem adalah satu kesatuan dalam:
a. a way of thinking (filsafat sistem), yaitu sebuah paradigma baru dari persepsi dan penjelasan, yang diwujudkan dalam gabungan, berpikir holistik, tujuan-mencari, hubungan sebab akibat, dan proses-penyelidikan yang fokus dengan titik sasaran dapat menggambarkan suatu rancang bangun atau unsur pendekatan sistem yang akan bermanfaat dan mudah diaplikasikan pada tugas-tugas manajerial dalam konteks merumuskan strategi.
b. a method or technique of analysis (analisis sistem), yaitu pengamatan dan pemeriksaan fenomena yang berhubungan untuk tujuan memahami cara berinteraksi dari beberapa faktor dan mempengaruhi kinerja sebuah sistem dalam periode waktu yang lama (Reigeluth). Analisis sistem menekankan pada metode berfikir dan bekerja mengenai bagaimana menggunakan sumber-sumber yang tersedia secara optimal atau pendekatan yang bermanfaat pada proses pengambilan keputusan baik yang dilakukan pada tingkat manajerial maupun operasional.
c. a managerial style (manajemen sistem), yaitu menekankan pada metode berfikir dan bekerja dengan titik sasaran pada upaya pencarian manfaat. Manajemen sistem menggunakan metode sintesis (memadukan semua unsur dalam satu kesatuan), untuk mengintegrasikan operasi kerja melalui perencanaan operasional sehingga jaringan hubungan antar komponen menjadi jelas atau pendekatan yang berguna dalam pengelolaan organisasi-organisasi besar terutama dalam pengelolaan fungsi, proyek, atau program-program.
Salah satu model sistem yang sangat umum adalah model ”masukan-proses-hasil”, dimana antara masukan dan hasil terdapat sebuah proses yang memiliki banyak komponen yang saling bekerjasama untuk mencapai tujuan yang sama. Sistem Pendidikan Nasional juga merupakan sebuah sistem yang kompleks, dimana sumber-sumber masukan dari masyarakat ke dalam sistem pendidikan nasional dapat berupa informasi, energi atau tenaga dan bahan-bahan.
C. Pendekatan Sistem dalam Teknologi Pendidikan
Teknologi Pendidikan adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia.
Dalam teknologi pendidikan, pemecahan masalah itu terjelma dalam bentuk semua sumber belajar yang didesain dan/atau dipilih dan/atau digunakan untuk keperluan belajar. Sumber- sumber belajar ini diidentifikasi sebagai orang, pesan, bahan, peralatan, teknik dan latar (lingkungan).
Proses analisis masalah, penentuan cara pemecahan, pelaksanaan dan evaluasi pemecahan, masalah tersebut tercermin dalam fungsi pengembangan pendidikan dalam bentuk riset-teori, disain, produksi, evaluasi-seleksi, logistik, pemanfaatan dan penyebarluasan/pemanfaatan. Proses pengarahan atau koordinasi satu atau lebih fungsi-fungsi tercermin dalam fungsi pengelolaan pendidikan yang meliputi pengelolaan organisasi dan pengelolaan personel.
Teknologi pendidikan menggunakan tiga prinsip dasar yaitu : berorientasi pada si-belajar, pendekatan sistem, dan pemanfaatan sumber belajar secara luas dan maksimal. Ketiga prinsip tersebut menyarankan bahwa dalam proses belajar-mengajar, si-belajar hendaknya bertindak sebagai pihak yang aktif dan dibuat aktif.
Sedangkan Teknologi Instruksional (pembelajaran) adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi, untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah- masalah dalam situasi dimana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol.
Dalam teknologi instruksional pemecahan masalah itu berupa komponen sistem pembelajaran yang telah disusun dalam fungsi disain, atau seleksi, dan dalam pemanfaatan, serta dikombinasikan sehingga menjadi sistem instruksional yang lengkap. Komponen-komponen ini meliputi : pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan latar.
Proses analisis masalah dan mencari cara pemecahan, implementasi dan evaluasi pemecahan itu diidentifikasi melalui fungsi pengembangan pembelajaran yang meliputi riset-teori, disain, produksi, evaluasi, pemilihan, pemanfaatan, dan penyebar luasan - pemanfaatan. Proses pengerahan atau koordinasi satu atau lebih fungsi ini diidentifikasi melalui fungsi pengelolaan pembelajaran yang meliputi baik pengelolaan organisasi maupun pengelolaan personel
Maka prinsip dasar teknologi instruksional (pembelajaran) dalam upaya pemecahan masalah-masalah belajar adalah sama dengan prinsip dasar dalam Teknologi Penididikan yakni pendekatan sistem, berorientasi pada si belajar, dan pemanfaatan sumber belajar secara maksimal. Karena unsur pokok dalam Teknologi Pendidikan dan Teknologi Instruksional bukanlah peralatan sebagaimana pengertian kebanyakan orang, tetapi lebih memfokuskan pada "belajar dan berbagai sumber yang diperlukan untuk belajar". Kedua unsur ini yakni belajar dan sumber belajar, dalam operasionalnya memerlukan kegiatan, dan unsur- unsur inilah yang akhirnya menjelma menjadi tiga prinsip dasar Teknologi Pendidikan dan juga Teknologi Instruksional.
Setiap usaha pemecahan masalah yang dilandasi oleh Teknologi Pendidikan selalu dilandasi dengan penerapan prinsip pendekatan sistem artinya masalah-masalah yang dipandang sebagai suatu sistem atau dalam kaitan suatu sistem sehingga penanganan terhadap satu komponen harus mempertimbangkan komponen-komponen lainnya secara integratif.
Dari uraian pendekatan sistem dalam Teknologi Pendidikan dan Sistem Instruksional di atas maka ada hubungan yang erat antara Teknologi Pendidikan dan juga Teknologi Instruksional karena Teknologi Instruksional merupakan suatu sub-set Teknologi Pendidikan, dimana Teknologi Pendidikan sebagai suatu konsep yang lebih makro bergerak dalam semua aspek belajar, sedangkan dalam Teknologi Instruksional sebagai sub-set Teknologi Pendidikan hanya bergerak dalam situasi dimana belajar itu bertujuan dan terkontrol.
D. Implikasi Pendekatan Sistem dalam Teknologi Pendidikan
Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, bahwa pendekatan sistem mempunyai implikasi yang positif untuk berbagai bidang, khususnya dalam bidang Teknologi Pendidikan dan sistem Instruksional.
Dalam Teknologi Pendidikan dan Sistem Instruksional, implikasi dari pendekatan sistem itu adalah adanya pengembangan model-model Sistem Instruksional.
Model Sistem Instruksional yang dikembangkan sejak tahun 1975 sampai dengan sekarang digunakan, yaitu Model Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Model PPSI adalah salah satu model pengembangan sistem Instruksional yang berorientasi pada "tujuan".
Model PPSI terdiri dari 5 (lima) langkah. Langkah pertama sampai dengan langkah ke empat disebut langkah pengembangan, sedangkan langkah kelima disebut langkah pelaksanaan program.
Kelima langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Langkah Pertama, Merumuskan Tujuan Pembelajaran Khusus. Perumusan tujuan ini harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu:
a. Menggunakan istilah yang operasional.
b. Berbentuk hasil belajar.
c. Berbentuk tingkah laku.
d. Hanya ada satu tingkah laku.
2. Langkah Kedua, Menentukan alat Evaluasi Pengembangan alat evaluasi ini harus melalui dua tahapan, yaitu:
a. Menentukan jenis tes yang akan digunakan, dan
b. Menyusun (item soal) untuk menilai masing-masing tujuan instruksional khusus.
3. Langkah Ketiga, menentukan kegiatan Belajar. Penentuan kegiatan belajar ini harus memperhatikan hal-hal berikut ini :
a. Merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
b. Menetapkan kegiatan belajar mana yang perlu dan tidak perlu ditempuh oleh siswa. Kemudian perlu pula dirumuskan pokok-pokok materi pelajaran sesuai dengan jenis-jenis kegiatan belajar yang telah ditetapkan.
4. Langkah Keempat, merencanakan Program Kegiatan Pada langkah ini disusun strategi proses pengajaran, metode pengajaran, dan menyusun proses pelaksanaan evaluasi.
5. Langkah Kelima, melaksanakan Program. Kegiatan-kegiatan langkah ini meliputi:
a. Mengadakan prates.
b. Menyampaikan materi pelajaran, dan
c. Mengadakan pasca tes (evaluasi). E. Kesimpulan
Dari keseluruhan uraian dalam pembahasan ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Teknologi Pendidikan adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia.
b. Teknologi Pembelajaran adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah-masalah dalam situasi dimana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol.
c. Pendekatan sistem adalah suatu proses pencapaian hasil secara efektif dan efisien atas dasar kebutuhan-kebutuhan yang ada.
d. Pendekatan sistem dalam teknologi pendidikan dan sistem instruksional adalah merupakan salah satu prinsip dasar yang sangat menentukan keberhasilannya dalam memecahkan masalah-masalah belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi Iif Khoiru DKK. 2011. Pembelajaran Akselerasi. Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya
Rusyan A. Tabrani.1994 Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosdakary
Sardiman. 2011 Intraksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Soenarya, Endang. 2000. Teori Perencanaan Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa
Shah Darwin 2007. Perencanaan Sistem Pengajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Gaung Persada Pres
Utsman, Kahar dan Nadhirin. 2008. Perencanaan Pendidikan. Kudus: Pusat pengembanagan sumber belajar STAIN Kudus.
Endang Soenarya. Teori Perencanaan Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem.(Yogyakarta: Adicita Karya Nusa,2000), hal. 11-12 Kahar Utsman dan Nadhirin.Perencanaan Pendidikan. (Kudus: Pusat pengembanagan sumber belajar STAIN Kudus, 2008), hal. 59 Endang Soenarya, Op.Cit., hal. 22 Darwin Shah, Perencanaan Sistem Pengajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Gaung Persada Pres, 2007), hal.20 Iif Khoiru Ahmadi,. Pembelajaran Akselerasi. (Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya, 2011), hal. 84 Sadirman, Intraksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), Hal. 111 A. Tabrani Rusyan. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), hal.21 Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Prenada Media Group, 2008), hal. 7-8. sumber gambar: tarafficpendidikan
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️