MAKALAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK USIA 2-3 TAHUN

Baca Juga


Latar Belakang
Tahun-tahun pertama kehidupan seorang anak merupakan fase-fase yang sangat kritis dan penting dalam hal tumbuh kembang fisik, mental dan psikosisal yang berjalan sedemikian cepatnya sehingga keberhasilan tahun-tahun pertama untuk sebagian besar menentukan masa depan anak sebagai generasi penerus bangsa. Kelainan atau penyimpangan apapun bila tidak diintervensi secara
dini dengan baik pada saatnya dan tidak terdeteksi secara nyata mendapatkan perawatan yang bersifat komprehensif yaitu promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya. Dewasa ini tumbuh kembang anak adalah salah satu aspek yang diperhatikan serius oleh para pakar, karena hal tersebut merupakan aspek yang menjelaskan mengenai proses pembentukan individu secara fisik maupun psikologis pada anak (Sunawari, 2007).
Pertumbuhan merupakan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan jumlah dan ukuran sel yang akan menghasilkan peningkatan ukuran dan berat seluruh atau sebagian bagian sel sedangkan perkembangan merupakan perubahan kualitatif yaitu perubahan fungsi tubuh yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi melalui proses kematangan dan belajar. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai arti yang berbeda. Pertumbuhan berdampak terhadap aspek fisik sedangkan perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi organ dan individu. Kedua kondisi tersebut saling berkaitan dan berpengaruh pada tumbuh kembang pada setiap anak (Wong, 2009).
Pengukuran pertumbuhan dapat dilakukan dengan penilaian antropometri (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKUI, 2011) salah satunya dengan melihat indeks tunggal berat badan/tinggi badan (BB/TB) atau TB/BB. Indeks TB/BB ini merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa anak. Indeks ini dapat menggambarkan proporsi BB relatif terhadap TB dan menjadi indikator kekurusan atau yang lebih dikenal dengan wasting. Indeks ini digunakan untuk mengevaluasi dampak gizi dan untuk memantau perubahan status gizi dalam jangka waktu pendek. Pengukuran perkembangan dapat dilakukan dengn menggunakan DDST (Wong, 2008). Terdapat empat aspek perkembangan anak melingkupi kepribadian/tingkah laku sosial (personal social), motorik halus (fine motor adaptive), motorik kasar (gross motor), dan bahasa (language). Metode skrining ini yang sering digunakan untuk menilai perkembangan anak mulai usia 0-6 tahun (Suwariyah, 2013).
Tumbuh kembang pada anak terjadi di sepanjang kehidupan yang terdiri dari beberapa tahapan, salah satu diantaranya adalah masa toddler. Masa toddler berada dalam rentang dari masa kanak-kanak mulai berjalan sendiri sampai mereka berjalan dan berlari dengan mudah, yaitu mendekati usia 12 sampai 36 bulan. Pada masa ini seorang anak mulai belajar menentukan arah perkembangan dirinya, suatu fase yang mendasari derajat kesehatan, perkembangan emosional, derajat pendidikan, kepercayaan diri, kemampuan bersosialisasi serta kemampuan diri seorang anak di masa mendatang. Interaksi antara anak dan orang tua dalam proses ini sangat bermanfaat bagi proses perkembangan anak secara keseluruhan karena orang tua dapat segera mengenali kelainan proses tumbuh kembang anaknya sedini mungkin. (Potter & Perry, 2010).
Periode penting dalam proses tumbuh kembang anak adalah masa lima tahun pertama (Center on the Developing Child Harvard University, 2009), yang merupakan masa emas kehidupan individu atau disebut dengan the golden period (Kementerian Kesehatan RI, 2011). Golden period merupakan masa dimana kemampuan otak anak untuk menyerap segala bentuk informasi sangatlah tinggi, karena sekitar 80% otak anak berkembang pada periode emas tersebut (Ambarwati & Handoko, 2011). Masa ini juga merupakan jendela kesempatan bagi anak, yang memungkinkan anak untuk mengasah seluruh aspek perkembangan motorik, penglihatan, kemampuan berpikir, kemampuan bahasa, perkembangan sosial, serta kecerdasan emosional (Schiller, 2010). Masa emas ini sekaligus merupakan periode kritis bagi anak karena pada masa ini lingkungan memiliki dampak yang besar terhadap perkembangan anak, khususnya lingkungan yang tidak mendukung seperti asupan gizi yang tidak adekuat, tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, serta kurangnya stimulasi, akan berdampak buruk pada perkembangan anak (Kemenkes RI, 2011). Anak dibawah lima tahun merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan yang pesat namun kelompok ini sering menderita kekurangan gizi (Proverawati, 2009). Dampak kurang gizi pada anak dapat meningkatkan risiko kematian, menghambat perkembangan kognitif, dan mempengaruhi status kesehatan pada usia remaja dan dewasa (Almatsier, Soetardjo & Soekatri, 2011).
World health organitation (WHO) melaporkan bahwa 5-25% anak-anak usia prasekolah menderita disfungsi otak minor, termasuk gangguan perkembangan morik halus (Widati,2012). Sedangkan menurut (Kay-Lambkin, dkk, 2007) secara global dilaporkan anak yang mengalami gangguan berupa kecemasan sekitar 9% , mudah emosi 11-15%, gangguan perilaku 9-15%. Maka dari itu perhatian dari orang tua sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal ini lah yang mendorong kelompok kami untuk melakukan observasi terhadap anak usia 2-3 tahun untuk mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi dan gangguan apa saja yang terdapat pada anak usia 2-3 tahun.
B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak usia 2-3 tahun
2.      Tujuan Khusus
a.       Mengetahui perkembangan dan pertumbuhan anak usia  2-3 tahun
b.      Mengetahui gangguan perkembangan dan pertumbuhan anak usia 2-3 tahun
c.       Mengetahui penanganan gangguan anak usia 2-3 tahun

II.      TINJAUAN PUSTAKA
A.    Tumbuh Kembang Anak
1.      Definisi Tumbuh Kembang
Wong (2009) menyatakan bahwa pertumbuhan merupakan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan jumlah dan ukuran sel yang akan menghasilkan peningkatan ukuran dan berat seluruh atau sebagian bagian sel sedangkan perkembangan merupakan perubahan kualitatif yaitu perubahan fungsi tubuh yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi melalui proses kematangan dan belajar.
Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai arti yang berbeda. Pertumbuhan berdampak terhadap aspek fisik sedangkan perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi organ dan individu. Kedua kondisi tersebut saling berkaitan dan berpengaruh pada tumbuh kembang pada setiap anak
Pertumbuhan  masa  prasekolah  pada  anak  yaitu  pada  pertumbuhan  fisik, khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-rata pertahunnya adalah 2 kg, kelihatan kurus, akan tetapi aktivitas motoriknya tinggi, dimana sistem tubuh sudah  mencapai  kematangan,  seperti  berjalan,  melompat,  dan  lain -lain. Sedangkan  pada  pertumbuhan  tinggi  badan  anak  kenaikannya  rata-rata  akan mencapai 6,75-7,5 cm setiap tahunnya (Hidayat, 2009, hlm. 25).
Perkembangan  merupakan  proses  yang  tidak  akan  berhenti.  Masa prasekolah  merupakan  fase  perkembangan  individu  dapat  usia  2-6  tahun, perkembangan  pada  masa  ini  merupakan  masa  perkembangan  yang  pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting (Fikriyanti, 201 3, hlm.18).
2.      Teori-Teori Perkembangan
a.       Teori Perkembangan kognitif (Jean Piaget)
Perkembangan  kognitif  menurut  Piaget  merupakan  perubahan perubahan yang terkait usia yang terjadi dalam aktifitas mental. Ia juga menyebutkan bahwa kesuksesan perkembangan kognitif mengikuti prosses yang urutannya melewati empat  fase,  yaitu  fase  sensorimotorik  (0-2  tahun),  fase  pra-operasional  (2-7 tahun),  fase  operasional  (7-11  tahun)  dan  fase  operasional  formal  (>11  tahun) (Wong, 2008, hlm 118). Dalam  teori  perkembangan  ini  anak  prasekolah  termasuk  dalam  fase  praoperasional,  fase  pra-operasional  anak  belum  mampu  mengoperasionalisasikan apa  yang  dipikirkan  melalui  tindakan  dalam  pikiran  anak  (Wong,  2008,  hlm 119).
b.      Teori Perkembangan Psikososial (Erikson)
Menurut  Santrock  (2011),  Teori  perkembangan  ini  dikemukakan  oleh Erikson  yang  mengemukakan  bahwa  perkembangan  anak  selalu  dipengaruhi oleh  motivasi  sosial  dan  mencerminkan  suatu  keinginan  untuk  berhubungan dengan  orang  lain.  Untuk  mencapai  kematangan  kepribadian  psikososial  anak harus  melewati  beberapa  tahap  yaitu  :  tahap  percaya  dan  tidak  percaya  (1-3 tahun), tahap kemandirian versus malu-malu (2-4 tahun), tahap inisiatif versusrasa  bersalah  (3-6  tahun),  tahap  terampil  versus  minder  (6-12  tahun),  tahap identidas versus kebingungan peran (12-18 tahun) (Wong, 2008, hlm 117). Dalam  teori  perkembangan  psikososial  anak  prasekolah  termasuk  dalam tahap  perkembangan  inisiatif  versus  rasa  bersalah.  Pada  tahap  ini  anak  mulai mencari  pengalaman  baru  secara  aktif.  Apabila  anak  menapat  dukungan  dari orang  tuanya  untuk  mengekplorasikan  keingintahuannya  maka  anak  akan mengambil  inisiatif  untuk  suatu  tindakan  yang  akan  dilakukan,  tetapi  bila dilarang  atau  dicegah  maka  akan  tumbuh  perasaan  bersalah  pada  diri  anak (Wong, 2008, hlm 118).
c.       Teori Perkembangan Psikoseksual (Freud)
Teori perkembangan psikoseksual pertama kali dikemukakan oleh Sigmun Freud, ia menggunakan  istilah  psikoseksual  untuk  menjelaskan  segala kesenangan  seksual.  Selama  masa  kanak-kanak  bagian-bagian  tubuh  tertentu memiliki makna psikologik yang menonjol sebagai sumber kesenangan baru dan konflik  baru  yang  secara  bertahap  bergeser  dari  satu  bagian  tubuh  ke  bagian tubuh  lain  pada  tahap-tahap  perkembangan  tertentu.  Dalam perkembangan psikoseksual anak dapat melalui tahapan yaitu: tahap oral (0-1 tahun), tahap anal (1-3 tahun), tahap falik (3-6 tahun), tahap laten (6-12 tahun), dan  tahap genital (>12 tahun) (Wong, 2008, hlm 117). Dalam  teori  perkembangan  psikoseksual  anak  prasekolah  termasuk  dalam tahap  phalilc,  dalam  tahap  ini  genital  menjadi  area  tubuh  yang  menarik  dan sensitif anak mulai mengetahui perbedaan jenis kelamin dan men jadi ingin tahu tentang perbedaan tersebut (Wong, 2008, hlm 117).
d.      Teori Perkembangan Moral (Kohlberg)
Teori  perkembangan  moral  dikemukakan  oleh  Kohlberg  dengan memandang  tumbuh  kembang  anak  ditinjau  dari  segi  moralitas  anak  dalam menghadapi  kehidupan,  tahapan  perkembangan  moral  yaitu:  tahap prakonvensional  (orientasi  pada  hukum  dan  kepatuhan), tahap  prakonvensional (orientasi  instrumental  bijak),  tahap  konvensional,  tahap  pasca  konvensional (orientasi kontak sosial) (Wong, 2008, hlm 119). Dalam teori perkembangan moral anak prasekolah termasuk dalam tahap prakonvensional, dalam tahap perkembangan ini anak terorientasi secara budaya dengan  label  baik atau buruk, anak-anak  menetapkan  baik atau buruknya suatu tindakan  dari  konsekuensi  tindakan  tersebut.  Dalam  tahap  ini  anak  tidak memiliki  konsep  tatanan  moral,  mereka  menentukan  prilaku  yang  benar  terdiri atas  sesuatu  yang  memuaskan  kebutuhan  mereka  sendiri  meskipun  terkadang kebutuhan  orang  lain.  Hal tersebut diinterprestasikan dengan cara yang sangat konkrit tanpa kesetiaan, rasa terimakasih atau keadilan (Wong, 2008, hlm. 120)
3.      Prinsip Pertumbuhan dan Perkembangan
Menurut Santrock (2011), Perkembangan dan pertumbuhan mengikuti prinsip cephalocaudal dan proximodistal. Prinsip  cephalocaudal  merupakan  rangkaian dimana  pertumbuhan  yang  tercepat  selalu  terjadi  diatas,  yaitu  di  kepala. Pertumbuhan  fisik  dan  ukuran  secara  bertahap  bekerja  dari  atas  kebawah, perkembangan  sensorik  dan  motorik  juga  berkembang  menurut  prinsip  ini, contohnya  bayi  biasanya  menggunakan  tubuh  bagian  atas  sebelum  meeraka menggunakan tubuh bagian bawahnya. Prinsip proximodistal (dari dalam keluar) yaitu pertumbuhan dan perkembangan bergerak dari tubuh bagian dalam keluar. Anak-anak belajar mengembangkan  kemampuan  tangan  dan  kaki  bagian  atas  (  yang  lebih  dekat dengan bagian tengah tubuh) baru kemudian bagian yang lebih jauh, dilanjutkan dengan kemampuan menggunakan telapak tangan dan kaki dan akhirnya jari-jari tangan dan kaki (Papalia, dkk, 2010, hlm 170).
4.      Aspek–Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan
a.       Aspek Pertumbuhan
Untuk  menilai  pertumbuhan  anak  dilakukan  pengukuran  antropometri, pengukuran  antropometri  meliputi  pengukuran  berat  badan,  tinggi  badan (panjang badan), lingkar kepala. Pengukuran  berat  badan  digunakan  untuk  menilai  hasil  peningkatan  atau penurunan  semua  jaringan  yang  ada  pada  tubuh,  pengukuran  tinggi  badan digunakan  untuk  menilai  status  perbaikan  gizi  disamping  faktor  genetik sedangkan pengukuran lingkar kepala dimaksudkan  untuk menilai pertumbuhan otak.  Pertumbuhan otak kecil (mikrosefali)  menunjukkan  adanya  reterdasi mental, apabila otaknya besar (volume kepala meningkat) terjadi akibat penyumbatan cairan serebrospinal.
b.      Ciri Pertumbuhan Anak 2-3 Tahun
1.      Berat Badan
Pada umur 2½ tahun berat badan meningkat 4 x berat badan lahir. Pertambahan berat badan anak umur 1-2 th : 0,2 kg/bln.
2.      Tinggi Badan
Berdasarkan data yang dikeluarkan Direktorat Kesehatan Gizi Depkes RI untuk anak usia 0-5 tahun tanpa dibedakan jenis kelaminnya, pada usia tertentu harus memiliki tinggi badan ideal dengan plus minus 2 standar deviasi.
Tabel 2.1 Standar tinggi dan berat badan untuk anak usia 2-3 tahun
Umur
Berat (gram)
Tinggi (cm)
Standar
80% standar
Standar
80% standar
2 tahun 0 Bulan
3 Bulan
6 Bulan
9 Bulan
12.400
12.900
13.500
14.000
9.900
10.500
10.800
11.200
87.0
89.5
92.0
94.0
69.5
71.5
73.5
75.0
3 tahun 0 bulan
3 bulan
6 bulan
9 bulan
14.500
15.000
13.500
16.000
11.600
12.000
12.400
12.900`
96.0
98.0
99.5
101.5
77.0
78.5
79.5
81.5
Pengukuran tinggi badan pada anak diatas 2 tahun dilakukan dengan berdiri. Pada tahun kedua peningkatan tinggi badan lebih banyak dibandingkan berat badan.
3.      Lingkar kepala
Pertambahan ukuran lingkar kepala meliputi:
a)      Pada tahun ke-2 menjadi 46,9 - 49,5 cm (­ + 2,5 cm)
b)      Pada tahun ke-3 menjadi 47,7 - 50,8 cm (­ + 1,25 cm)
Berat otak sebesar 1/8 berat total bayi  paling pesat berkembang pada usia 2 tahun. Berat otak kecil sebesar 3x berat badan setelah bayi berusia 2 tahun. Pengukuran lingkar kepala dipakai untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Pengukuran dilakukan pada diameter occipitofrontal dengan mengambil rerata 3 kali pengukuran sebagai standar.
4.      Pertumbuhan Gigi
Gigi susu yang berjumlah 20 buah biasanya telah tumbuh seluruhnya pada umur 2,5 th.
c.       Aspek perkembangan
1)      Motorik  kasar  (gross  motor)  merupakan  keterampilan  yang  meliputi aktivitas  otot  yang  besar  seperti  gerakan  lengan  dan  berjalan  (Santrock, 2011,  hlm  210).  Perkembangan  motorik  kasar  pada  masa  prasekolah, diawali dengan kemampuan untuk berdiri dengan satu kaki selama 1-5 detik, melompat  dengan  satu  kaki,  membuat  posisi  merangkak  dan  lain-lain (Hidayat, 2009, hlm.25).
2)      Motorik  halus  (fine  motor  Skills)  merupakan  keterampilan  fisik  yang melibatkan otot kecil dan koordinasi  meta dan tangan yang memerlukan koordinasi  yang  cermat  (Papilia,  Old  &  Feldman,  2010,  hlm.  316). Perkembangan  motorik  halus  mulai  memiliki kemampuan  menggoyangkan jari -jari kaki, menggambar dua atau tiga bagian, menggambar orang, mampu menjepit  benda,  melambaikan  tangan  dan  sebagainya  (Hidayat,  2009, hlm.26).
3)      Bahasa  (language)  adalah  kemampuan  untuk  memberikan  respon  terhadap suara,  mengkuti  perintah  dan  dan  berbicara  spontan.  Pada  perkembangan bahasa  diawali  mampu  menyebut  hingga  empat  gambar,  menyebut  satu hingga dua warna, menyebutkan kegunaan benda, menghitung, mengartikan dua  kata,  meniru  berbagai  bunyi,  mengerti  larangan  dan  sebagainya (Hidayat, 2009, hlm.26).
4)      Prilaku  sosial  (personal  social)  adalah  aspek  yang  berhubungan  dengan kemampuan  mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Perkembangan adaptasi sosial pada anak prasekolah yaitu dapat berrmain dengan  permainan  sederhana,  mengenali  anggota  keluarganya,  menangis jika  dimarahi,  membuat  permintaan  yang  sederhana  dengan  gaya  tubuh, menunjukan  peningkatan  kecemasan  terhadapa  perpisahan  dan  sebagainya (Hidayat, 2009, hlm.26). Untuk  menilai  perkembangan  anak  yang  dapat  dilakukan  adalah  dengan wawancara  tentang  faktor  kemungkinan  yang  menyebabkan  gangguan  dalam perkembangan,  kemudian  melakukan  tes  skrining  perkembangan  anak  (Hidayat, 2009, hlm. 38).
d.      Tahap Perkembangan Anak 2-3 Tahun
1)      Perkembangan Motorik
Masa ini disebut sebagai masa sangat aktif dari seluruh masa kehidupannya, karena tingkat aktivitasnya dan perkembangan otot besar mereka sedang tumbuh. Demikian halnya dengan kemampuan motorik halus anak, sudah mulai meningkat. Dengan demikian masa ini disebut juga sebagai masa belajar berbagai kemampuan dan keterampilan, dengan berbekal rasa ingin tahu yang cukup kuat dengan seringnya anak mencoba hal-hal baru dan seringnya pengurangan menyebabkan masa ini menjadi masa yang tepat untuk mempelajari keterampilan baru. Kemampuan motorik yang dimiliki anak sbb;
Tabel 2.2 Aspek perkembangan motorik anak usia 2-3 tahun
Usia
Motorik Kasar
Motorik Halus
24-36 bulan
(2-3 tahun)
Mulai dapat memanjat dan melompat
Melakukan kegiatan dengan satu lengan, seperti mencorat-coret dengan alat tulis
Mulai kenal irama dan mulai membuat gerakan-gerakan yang berkaitan dengan menari
Menggunakan sendok dan garpu tanpa menumpahkan makanan
Melompat dengan 2 kaki
Melepas kancing jepret
Berdiri dengan satu kaki selama beberapa saat
Membuka halaman buku berukuran besar satu persatu
Naik turun 4-6 anak tangga tanpa bantuan dan biasanya tidak jatuh
Memegang gunting dan mulai memotong kertas
Menaiki dan mendorong benda keras seperti meja, kursi, dan lain-lain

Memakai dan melepas sepatu berperekat/tanpa tali

Bermain dengan bola (melempar, menangkap dan menggulirkan)
Melepas celana dan baju sederhana
Dapat berjalan jinjit, berjingkat-jingkat mengambil objek dari lantai tanpa terjatuh
Memegang pensil/krayon besar
Melempar bola dengan kedua tangan di atas kepala
Menyikat gigi dan menyisir rambut sendiri

2)      Perkembangan Bicara dan Bahasa
Bertambahnya kematangan otak dikombinasikan dengan peluang-peluang untuk menjelajahi dunia sekelilingnya dan sebagai penyumbang terbesar untuk lahirnya kemampuan kognitif anak. Sejumlah kemampuan anak, seperti belajar membaca adalah berkaitan dengan masukan dari mata anak yang ditransmisikan ke otak anak, kemudian melalui sistem yang ada di otak, menterjemahkannya kedalam kode huruf-huruf, kata-kata dan asosiasinya. Akhirnya akan dikeluarkan dalam bentuk bicara. Bakat bicara anak karena system otak diorganisasikan sedemikian rupa sehingga memungkinkan anak memproses sebagai bahasa.
Anak mulai pandai berbicara, sejalan dengan perkembangannya memahami sesuatu. Biasanya anak mulai berbicara sendiri,kemudian berkembang menjadi kemampuan untuk bertindak tanpa harus mengucapkannya. Dalam hal ini anak telah menginternalisasikan pembicaraan yang egosentris dalam bentuk berbicara sendiri menjadi pemikiran anak. Hal ini merupakan suatu transisi awal untuk dapat lebih berkomunikasi secara sosial.
Tabel 2.3 Aspek perkembangan bicara dan bahasa anak usia 2-3 tahun
Usia
Kemampuan Bicara dan Bahasa
24-36 bulan
(2-3 tahun)
Bahasa yang dipergunakan dapat dimengerti orang lain, meskipun masih sering membuat kesalahan
Menyebutkan tiga buah angka yang berurutan
Umumnya kalimat terdiri dari 4 sampai 5 kata
Menggunakan kata aku atau saya untuk menunjuk dirinya
Dapat menyebutkan namanya sendiri
Kosa kata berjumlah lebih dari 1000 kata
Memberi jawaban yang relevan jika ditanya
Dapat melakukan 2 sampai 4 kegiatan dengan instruksi yang berhubungan
Mengerti arti hubungan jika menggunakan kata “kalau……”, ”kemudian……” dan “karena…..”
Mengerti konsep besar dan kecil, panjang dan pendek
Mulai mengerti kata yang menerangkan waktu seperti : “Besok kita akan ke rumah nenek”

3)      Perilaku Sosial dan Kemandirian
Dasar-dasar sosialisasi yang sudah diletakkan pada masa bayi, maka pada masa ini mulai berkembang. Dalam hal ini hubungan keluarga, orangtua-anak, antar saudara dan hubungan dengan sanak keluarga cukup berperan. Pengasuhan pada tahun pertama berpusat pada perawatan, berubah ke arah kegiatan-kegiatan seperti permainan, pembicaraan dan pemberian disiplin, akhirnya mengajak anak untuk menalar terhadap sesuatu. Pada masa ini sebagai masa bermain, anak mulai melibatkan teman sebayanya, melalui bermain, meski interaksi yang dibangun dalam permainan bukan bersifat sosial, namun sebagai kegiatan untuk menyenangkan dan dilaksanakan untuk kegiatan itu sendiri. Jenis permainan yang dilakukan bisa berbentuk konstruktif, permainan pura-pura, permainan sensori motorik, permainan sosial atau melibatkan orang lain, games atau berkompetisi.
Tabel 2.4 Aspek perkembangan perilaku sosial dan kemandirian anak usia 2-3 tahun
Usia
Kemampuan Bersosialisasi
Kemampuan Kemandirian
24-36 bulan
(2-3 tahun)
Dapat mematuhi perintah sederhana
Makan sendiri tanpa banyak bantuan
Sudah mulai memperlihatkan rasa cemburu/iri terhadap saudaranya
Menuangkan air/pasir dari teko (botol) ke dalam gekas/cangkir/wadah lainnya
Merasa sulit untuk berbagi dengan orang lain dan menunjukkan perasaan bersaing
Mencuci tangan tanpa bantuan

Mencoba memaksakan kehendaknya pada orang lain

Menggunakan toilet sendiri (namun masih memerlukan bantuan untuk membersihkan dan memakai baju kembali)
Ingin mandiri (mengerjakan segala sesuatunya sendiri) tapi masih mencari peneguhan orang dewasa
Bermain dengan anak lain, melakukan interaksi

Dapat mematuhi perintah yang rumit

Menunggu giliran dan berbagi dengan dorongan dari orang lain
Minat bermain ditunjukkan dengan cara memperhatikan temannya ketika bermain dan segera bergabung bila tertarik
Berusaha untuk membantu mengerjakan pekerjaan di rumah seperti menyapu

Sikap kemandirian semakin jelas dengan lebih banyak berbuat untuk diri sendiri tanpa memperdulikan apakah temannya memperhatikan atau justru membelakanginya

Memulai permainan sandiwara (drama) & melakukan tingkah laku menurut peranannya seperti mengurus bayi

Dapat bekerja sama dengan orang dewasa dalam sejumlah aktivitas sederhana
Menyisir rambut sendiri


e.       Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak
Menurut Hidayat (2009) Proses Percepatan dan Perlambatan Tumbuh kembang anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.
1)      Faktor Herediter
Faktor  herediter  merupakan  faktor  yang  dapat  diturunkan  sebagai  dasar dalam  mencapai  tumbuh  kembang.  Yang  termasuk  faktor  herediter  adalah bawaan, jenis kelamin, ras, suku bangsa. Faktor  ini  dapat  ditentukan  dengan  intensitas  dan  kecepatan  alam pembelahan  sel  telur,  tingkat  sensitifitas  jaringan  terhaap  rangsangan,  umur puberitas, dan berhentinya pertumbuhan tulang.
2)      Faktor Lingkungan
Faktor  lingkungan  ini  dapat  meliputi  lingkungan  pranatal,  lingkungan postnatal,  dan  faktor  hormonal.  Faktor  pranatal  merupakan  lingkungan  dalam kandungan, mulai dari konsepsi sampai lahir yang meliputi gizi pada waktu ibu hamil, posisi janin, pengunaan obat -obatan , alkohol atau kebiasaan merokok. Faktor  lingkungan  pasca  lahir  yang  mempengaruhi  tumbuh  kembang  anak meliputi budaya lingkungan, sosial ekonomi, keluarga. nutrisi, posisi anak dalam keluarga dan status kesehatan. Faktor  hormonal  yang  berperan  dalam  tumbuh  kembang  anak  antara  lain. somatotrofin (growth Hormon) yang berperan alam mempengaruhi pertumbuhan tinggi  badan,  dengan  menstimulasi  terjadinya  poliferasi  sel  kartigo  dan  sistem skeletal. Hormon tiroid menstimulasi metabolisme tubuh, glukokartikoid menstimulasi  pertumbuhan  sel  interstisial  dari  testis  untuk  memproduksi testosteron  dan  ovarium  untuk  memproduksi  esterogen  selanjutnya  hormon tersebut  menstimulasi  perkembangan  seks  baik  pada  anak  laki-laki  maupun perempuan yang sesuai dengan peran hormonnya.

B.     Stimulasi, Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak
1.      Stimulasi Tumbuh Kembang Anak
Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak 0-6 tahun agar anak  tumbuh  dan  berkembang  secara  optimal.  Setiap  anak  perlu mendapatkan stimulasi  rutin  sedini  mungkin  dan  terus  menerus  pada setiap  kesempatan. Stimulasi tumbuh kembang anak dilakukan oleh ibu dan ayah atau yang merupakan orang terdekat anak (Depkes, 2012, hlm.15).
Perkembangan  kemampuan  dasar  anak  mempunyai  pola  yang  tetap  dan berlangsung  secara  berurutan, dengan demikian stimulasi  yang diberikan kepada anak  dalam  rangka  merangsang  pertumbuhan  dan  perkembangan  anak  dapat diberikan orang tua atau keluarga sesuai dengan pembagian kelompok umur stimulasi (Depkes, 2012, hlm.15).
Tabel 2.5 Kelompok umur stimulasi anak (Depkes, 2012)
No.
Priode Tumbuh Kembang
Kelompok Umur
Stimulasi
1.
Masa pranatal, janin dalam kandungan
Masa prenatal
2.
Masa bayi 0-12bulan
Umur 0-3 bulan


Umur 3-6 bulan


Umur 6-9 bulan


Umur 9-12 bulan
3.
Masa anak balita 12-60 hari
Umur 12-15 bulan


Umur 15-18 bulan


Umur 18-24 bulan


Umur 24-36 bulan


Umur 361-48 bulan


Umur 48-60 bulan
4.
Masa anak prasekolah 60-72 bulan
Umur 60-72 bulan

Kemampuan  anak dirangsang  dengan  stimulasi  terarah  pada kemampuan  gerak  kasar,  kemampuan  gerak  halus,  kemampuan  bicara dan bahasa serta kemampuan sosialisasi dan kemandirian. Stimulasi  yang dilakukan pada  kemampuan  gerak  kasar  pada  anak  misalnya  dengan mendorong  anak  untuk  bermain  bola  bersama  temannya,  permainan  menjaga keseimbangan tubuh, belari, melompat dengan satu kaki, diajari bermain sepeda, dan sebagainya (Depkes, 2012, hlm.37).
Stimulasi  yang  dilakukan  pada  kemampuan  gerak  halus  pada  anak misalnya  menulis  namanya,  menulis  angka-angka,  menggambar, berhitung,  berlatih  mengingat,  membuat  sesuatu  dari  tanah  liat  atau  lilin, bermain berjualan, belajar mengukur dan lain-lain (Depkes, 2012, hlm.37).
Stimulasi  yang  dilakukan  pada  kemampuan  bicara  dan  bahasa  pada  anak  misalnya  bermain  tebak-tebakan,  berlatih  mengingat -ingat, menjawab  pertanyaan  “mengapa?”,  mengenal  uang  logam,  mengamati  atau meneliti keadaan sekitanya dan lain-lain (Depkes, 2012, hlm.38).
Stimulasi  yang dilakukan pada kemampuan  bersosialisasi dan kemandirian pada  anak misalnya  mendorong  anak  untuk  berpakaian  sendiri, menyimpan  mainan  tanpa  bantuan,  ajak  berbicara  tentang  apa  yang  dirasakan, berkomunikasi  dengan  anak,  berteman  dan  bergaul,  mematuhi  peraturan keluarga dan lain-lain (Depkes, 2012, hlm.39).

2.      Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak
Deteksi dini tumbuh kembang anak adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak  prasekolah.  Dengan  ditemukan  secara  dini  penyimpangan  atau  masalah tumbuh  kembang  anak,  maka  intervensi  akan  mudah  juga  mempunyai  waktu dalam membuat rencana tindakan yang tepat terutama untuk melibatkan ibu dan keluarga (Depkes, 2012, hlm. 40).
Kegiatan  stimulasi  deteksi  dan  intervensi  dini  penyimpangan  tumbuh kembang balita yang menyeluruh dan terkoordinasi diselenggarakan dalam bentuk kemitraan  antara  keluarga  (orang  tua,  pengasuh  anak  dan  anggota  keluarga lainnya),  masyarakat  (kader,  tokoh  masyarakat,  lembaga  swadaya  masyarakat) dan tenaga professional (kesehatan, pendidikan dan sosial) (Depkes, 2012, hlm.1).
Melalui kegiatan SDIDTK kondisi terparah dari penyimpangan pertumbuhan anak  seperti gizi  buruk dapat dicegah, karena sebelum anak  jatuh  dalam kondisi gizi  buruk,  penyimpangan  pertumbuhan  yang  terjadi  pada  anak  dapat  terdeteksi melalui  kegiatan  SDIDTK.  Selain  mencegah  terjadinya  penyimpangan pertumbuhan,  kegiatan  SDIDTK  juga  mencegah  terjadinya  penyimpangan perkembangan dan penyimpangan mental emosional (Hermawan, 2011).
Menurut Depkes RI (2012) ada 3 jenis kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh tenaga  kesehatan  di  tingkat  puskesmas  dan  jaringannya  berupa  deteksi  dini penyimpangan  pertumbuhan,  deteksi  penyimpangan  perkembangan  dan  deteksi penyimpangan mental emosional.
1)      Skrining atau pemeriksaan perkembangan anak menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)
Tujuan skrining atau pemeriksaan perkembangan anak menggunakan KPSP adalah  untuk  mengetahui  perkembangan  anak  normal  atau  ada  penyimpangan. Jadwal  skrining  atau  pemeriksaan  KPSP  rutin  adalah  pada  umur 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 30, 36, 42, 48, 54, 60, 66  dan  72  bulan.  Skrining  atau pemeriksaan  dilakukan  oleh  tenaga  kesehatan,  guru  TK  dan  petugas  PAUD terlatih. Alat atau instrumen yang digunakan adalah formulir KPSP menurut umur, alat  bantu  pemeriksaan  berupa  pensil,  kertas,  bola  tenis,  bola  besar  dan  kubus (Depkes, 2012, hlm 52).
Cara penggunaan KPSP yaitu :
a.       Pada waktu pemeriksaan atau skrining anak harus dibawa.
b.      Tentukan umur anak dengan menanyakan tanggal, bulan dan tahun anak lahir. Bila umur anak lebih 16 hari dibulatkan jadi 1 bulan.
c.       setelah menentukan umur anak, pilih KPSP yang sesuai dengan umur anak.
d.      KPSP terdiri ada 2  macam pertanyaan,  yaitu : pertanyaan  yang dijawab oleh ibu  atau  pengasuh  anak,  dan  perintah  kepada  ibu  atau  pengasuh  anak  untuk melaksanakan  tugas  yang  tertulis  pada  KPSP (Depkes, 2012, hlm 52).
2)      Tes Daya Dengar (TDD)
Tujuan  tes  daya  dengar  adalah  untuk  menemukan  gangguan  pendengaran  sejak dini,  agar  dapat  segera  ditindaklanjuti  untuk  meningkatkan  kemampuan  daya dengar  dan  bicara  anak.  Jadwal  TDD  adalah  setiap  3  bulan  pada  bayi  umur kurang dari 12 bulan dan setiap 6 bulan pada anak umur 12 bulan keatas. Tes ini dilaksanakan oleh tenaga kesehatan, guru TK, tenaga PAUD dan petugas terlatih. Alat  yang  diperlukan  adalah  instrumen  TDD  menurut  umur  anak,  gambar binatang  (ayam,  anjing,  kucing)  dan  manusia,  mainan  (boneka,  kubus,  sendok, cangkir, bola) (Depkes, 2012. hlm. 70).
Cara melakukan TDD :
a.       Tanyakan tanggal bulan dan tahun anak lahir, hitung umur anak dalam bulan.
b.      Pilih daftar pertanaan TDD yang sesuai denga umur anak.
c.       Pada  anak  umur  kurang  dari  24  bulan  semua  pertanyaan  dijawab  oleh  orang tua  atau  pengasuh  anak. 
d.      Pada  anak  umur  24  bulan  atau  lebih,  pertanyaan-pertanyaan  berupa  perintah melalui  orang  tua  atau  pengasuh  untuk  dikerjakan  oleh  anak.  Amati kemampuan  anak  dalam  melakukan  perintah  orang  tua  atau  pengasuh. (Depkes, 2012. hlm. 70).
3)      Tes Daya Lihat (TDL)
Tujuan  tes  daya  lihat  adalah  untuk  mendeteksi  secara  dini  kelainan  daya lihat  agar  segera  dapat  dilakukan  tindakan  lanjutan  sehingga  kesempatan  untuk memperoleh  ketajaman  daya  lihat  menjadi  lebih  besar.  Jadwal  tes  daya  lihat dilakukan setiap 6 bulan pada anak usia prasekolah umur 36 sampai 72 bulan. Tes ini  dilakukan  oleh  tenaga  kesehatan,  guru  TK,  dan  petugas  terlatih.  Alat  atau sarana yang diperlukan yaitu dua buah kursi, poster E atau snelle n chart (Depkes, 2012, hlm 71).

C.    Deteksi Dini Penyimpangan Mental Emosional Pada Anak Prasekolah
Deteksi  Dini  Penyimpangan  mental  Emosional  adalah  kegiatan  atau Pemeriksaan  untuk  menemukan  secara  dini  adanya  masalah  mental  emosional, autisme gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas pada anak, agar dapat segera dilakukan tindakan intervensi. Bila penyimpangan mental emosional terlambat diketahui , maka intervensinya akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh  pada  tumbuh  kembang  anak.  Jenis  kegiatan  yang  dilaksanakan meliputi  :  Deteksi  dini  masalah  mental  emosional  pada  anak  prasekolah menggunakan  Kuesioner  Masalah  Mental  Emosional  (KMME),  deteksi  dini autis pada anak prasekolah menggunakan  ceklist  for Autism in Todlers  (CHAT) dan deteksi dini gangguan pemusatan parhatian dan Hiperaktivitas pada anak pra sekolah  menggunakan  kuesioner  Gangguan  Pemusatan  Perhatian  Dan Hiperaktivitas (GPPH) (Depkes, 2012, hlm.74).

 III.   HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
1.      Karakteristik Objek Pengamat
a.       Nama                           : ZMA
b.      Tanggal Lahir              : 23 Agustus 2013
c.       Jenis Kelamin              : Perempuan
d.      Umur                           :  2 tahun 3 bulan
2.      Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan dan Perkembangan objek yang telah kami amati yaitu dilakukan wawancara dengan ibu kandungnya yang menyatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan adiknya tidak mengalami gangguan.
a.       Aspek pertumbuhan objek pengamat
1)      Tinggi Badan                        :  90 cm
2)      Berat Badan              :  11 kg
b.      Aspek perkembangan objek pengamat
Tabel 3.1 Hasil wawancara aspek perkembangan responden
Motorik Kasar
Motorik Halus
Bersosialisasi
Kemandirian
Berbicara dan Berbahasa
Berjalan meloncat
Membentuk lingkaran diatas kertas
Mengerti perintah dan larangan sederhana
Bermain dengan anak lain,
melakukan interaksi

Menyusun kalimat sederhana
Memanjat dan melompat menggunakan 1 kaki
Menunjuk beberapa anggota tubuh
Bermain bersama orang lain
Mampu menyebutkan namanya
Berdiri satu kaki tanpa berpegangan
Meniru beberapa pekerjaan rumah tangga
Mengenal dan mencium anggota keluarga
Mampu mengucapkan kata-kata yang dapat dimengerti
Melempar bola

B.     Pembahasan
Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan kepada anak usia2 tahun 3 bulan diperoleh hasil bahwa pertumbuhan secara fisik normal tidak adanya gangguan terhadap anak. Anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya dan tidak mengalami keterlambatan pertumbuhan.
Pertumbuhan anak dilihat dari berat badan dan tinggi badannya jika dibandingkan dengan tabel berat badan dan tinggi ideal menurut Direktorat Kesehatan Gizi Depkes RI Anak usia 2 tahun 3 bulan memiliki tinggi badan ideal 89,5 cm. Tetapi anak yang kami teliti memiliki tinggi badan 90 cm. Ini masih variasi normal dan dengan tinggi badan 90 cm, berat badan normalnya menjadi 10,8 kg. Perbedaan tinggi badan ini masih dalam batas normal.
Perkembangan anak yang kami teliti sudah bisa menyebutkan namanya sendiri tanpa bantuan orang lain, dapat menyanyikan beberapa lagu, sudah bisa menyebutkan tiga buah angka yang berurutan, bahasa yang dipergunakan dapat dimengerti orang lain  meskipun masih sering membuat kesalahan. Sedangkan, apabila dilihat dari segi perkembangan  anak mengalami gangguan berupa hiperaktivitas karena anak tidak bisa duduk diam, tidak dapat mengikuti aktifitas dengan tenang, selalu bergerak terus dan banyak bicara, dapat  memulai pembicaraan dengan orang yang baru dia kenal, bahkan mau diajak pergi dengan orang yang baru saja dikenal, sering marah ketika sesuatu hal yang dia inginkan tidak bisa didapatkan, jika ada teman yang mengganggunya, dia berani membalas dengan  mengganggu temannya juga.
Anak pra sekolah umumnya berusia 2-3 tahun, secara fisik anak pra sekolah memiliki karakteristik sendiri dalam perkembangan fisik, yakni tinggi dan berat badan dan proporsi bentuk tubuh. Perkembangan motorik adalah proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Pada dasarnya, perkembangan ini berkembang sejalan dengan kematangan saraf dan otot anak, sehingga setiap gerakan sederhana apapun merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak. Perkembang motorik terbagi menjadi dua, yaitu perkembangan motorik kasar dan perkembangan motorik halus. Perkembangan motorik kasar adalah keterampilan yang meliputi aktivitas otot yang besar seperti gerakan lengan dan berjalan (Santrock, 2011). Perkembangan motorik halus adalah keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata dan tangan yang memerlukan koordinasi yang cermat (Papilia, Old & Feldman, 2010). Berikut beberapa perkembangan motorik kasar dan halus pada anak usia pra sekolah :
1.      Perkembangan motorik kasar pada masa prasekolah, diawali dengan kemampuan untuk berdiri dengan satu kaki selama 1-5 detik, melompat dengan satu kaki, membuat posisi merangkak dan lain-lain (Hidayat, 2009).
2.      Perkembangan motorik halus mulai memiliki kemampuan menggoyangkan jari-jari kaki, menggambar dua atau tiga bagian, menggambar orang, mampu menjepit benda, melambaikan tangan dan sebagainya (Hidayat, 2009).
 Sosio-emosional adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Perkembangan adaptasi sosial pada anak prasekolah yaitu dapat berrmain dengan permainan sederhana, mengenali anggota keluarganya, menangis jika dimarahi, membuat permintaan yang sederhana dengan gaya tubuh, menunjukan peningkatan kecemasan terhadapa perpisahan dan sebagainya (Hidayat, 2009). 
Anak usia 3 tahun yang kami amati memiliki kemampuan komunikasi yang cukup baik terhadap teman-teman sebayanya, suka berbicara dan bercerita dengan keluarganya kadang juga dengan dirinya sendiri, suka bernyanyi dan menari-nari saat bernyanyi. Hal tersebut terlihat bahwa peran orangtua dan keluarga sangat berpengaruh terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan anak.

IV.   PENUTUP
A.    Simpulan
Simpulan yang kami dapatkan dari hasil studi kasus yaitu :
1.      Pertumbuhan  masa  prasekolah  pada  anak  yaitu  pada  pertumbuhan  fisik, khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-rata pertahunnya adalah 2 kg, kelihatan kurus, akan tetapi aktivitas motoriknya tinggi, dimana sistem tubuh sudah  mencapai  kematangan Sedangkan perkembangan  pada  masa  ini  merupakan  masa  perkembangan  yang  pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting.
2.      Gangguan tumbuh kembang anak terdiri dari Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH), pada kasus objek yang kami mengalami gangguan hiperaktivitas. 
3.      Mendeteksi gangguan tumbuh kembang pada anak dapat dilakukan berupa deteksi dini pentimpangan pertumbuhan, deteksi perkembangan dan deteksi penyimpangan mental emosional.

B.     Saran
Ibu dan Keluarga harus memberikan contoh yang baik kepada anak, memperhatikan proses pertumbuhan dan perkembangan anak dengan baik serta memenuhi kebutuhan anak sesuai dengan usianya. Agar tumbuh kembang anak berjalan dengan optimal.
  
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Lukman. 2013. “Peran Orangtua Sebagai Guru dengan Perkembangan
Perilaku Sosial Pada Anak Usia Prasekolah di TK AL-IKHLAS Desa Sukoanyar Dusun Toyorono Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto”. Hospital Majapahit. Vol 5 nomor 1.
Departemen Kesehatan . 2012 . Profil Data Kesehatan Indonesia Tahun 2011.
Hidayat, Aziz Alimul.  2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta: Salemba
Medika.
______2009. Metode Penelitian Kesehatan Paradigma Kuantitatif. Jakarta : Heath Books
Kay-Lambkin, F., Kemp, E.,Stafford, K., & Hazell, T. (207). Mental Health
Promotion and Early   Intervention in Early Childhood and Primary School
Settings: A Review1. Journal of Student Wellbeing. (vol 1 No 1). Australia: Hunter Institute of Mental
Health.http://www.responseability.org/data/assets/pdf_file/0004/4882/MentaHealth PromotI on-and-Early-Intervention-in-Earl y-Childhood-and
Primary-School -Settings-A-Review.pdf.
Musarofah, S. 2011. Analisa pelaksanaan pendekatan sentra untuk mengembangkan
kreatifitas anak usia dini. skripsi. pontianak: Program studi bimbingan
dan konseling fakultas keguruan dan             ilmu pendidikan UNTAN.
Nirwana, Ade Benih. 2011. Psikologi Bayi, Balita dan Anak. Jakarta: Nuha Medika
Papalia . 2010. Kecerdasan dan Kesehatan Emosi Anak. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Santrock . 2011. Perkembangan Masa Hidup Jilid. 1 edisi kelima. Jakarta: Penerbit Erlangga
Utami, Sri. 2009. Bermain Lego Meningkatkan Kognitif Anak Usia Prasekolah (4-5
tahun). Ners Jornal     Jurnal Ners Vol 3. Surabaya: Program Studi Ilmu Keperawatan FKp Unair.
Wong, D., L., Hockenberry, M., Wilson, D., Winkelstein, M.L., & Schwartz, P. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Edisi 6 vol 1. Jakarta: EGC.
______2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Edisi 6 vol 1. Jakarta: EGC.
Alifiani Hervira dan Yuni M. “Pusat Tumbuh Kembang Anak” Jurnal Tingkat Sarjana Bidang Seni Rupa dan Desain. Prodi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD). ITB.
Apriadi, Sandi. 2009. Bagian Ilmu Penyakit Anak Jurnal Fakultas Kedokteran. Bandung.
Dewi Ratna dan Indarwati. 2011. “Hubungan Antara Pengetahuan Dan Sikap Orang Tua Tentang Bahaya Cedera Dan Cara Pencegahannya Dengan Praktik Pencegahan Cedera Pada Anak Usia Toddler Di Kelurahan Blumbang Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar”. Jurnal GASTER. Vol. 8, No. 2 : (750 - 764) 750.
Fristi Widya, dkk. “Perbandingan Tumbuh Kembang Anak Toddler Yang Diasuh Orang Tua Dengan Diasuh Selain Orang Tua”. Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau.
Nirwana, Ade Benih. 2011. Psikologi Bayi, Balita dan Anak. Jakarta : Nuha Medika.
Nur Chamidah Atien. 2009. “Deteksi Dini Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan Anak”. Jurnal Pendidikan Khusus.Vo. 5.No. 2.
Potter, P. A., & Perry, A.G. 2010. Fundamental of nursing. (buku 1 edisi 7). Jakarta: EGC.
Suwariyah, P. 2013. Tes perkembangan bayi/anak menggunakan Denver Developmental Screening Test (DDST). Jakarta: TIM.
Wong, D. L. 2008. Buku ajar keperawatan pediatrik Vol. 1. Jakarta: EGC.
__________. 2009. Buku ajar keperawatan pediatrik Wong edisi 6 volume 1. Jakarta: EGC.

📢 Bagikan Postingan Ini

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman atau media sosial Anda.

Facebook WhatsApp Twitter Telegram Copy Link

🤝 Butuh Bantuan atau Dokumen Lain?

Terima kasih telah berkunjung ke blog KhairalBlog21. Jika Anda membutuhkan makalah, format surat resmi, administrasi sekolah, atau dokumen lain yang belum tersedia di blog ini, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak. Kami juga menerima request untuk pembuatan dokumen sesuai kebutuhan Anda.

Jangan ragu untuk memberikan saran dan masukan agar blog ini bisa lebih bermanfaat untuk semua. Klik tombol di bawah ini untuk langsung menghubungi kami via WhatsApp:

Kami siap membantu menyediakan dokumen pendidikan dan administrasi sesuai kebutuhan Anda 📚✍️


No comments:

💬 Tinggalkan Komentar Anda

Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️

Featured Post

CONTOH DAN DONWLOAD SURAT LAMARAN SEBAGAI SPG

Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) , tentunya diperlukan sebuah surat lamaran kerja yang baik dan b...