Latar Belakang
Tahun-tahun pertama kehidupan seorang anak merupakan fase-fase yang sangat kritis dan penting dalam hal tumbuh kembang fisik, mental dan psikosisal yang berjalan sedemikian cepatnya sehingga keberhasilan tahun-tahun pertama untuk sebagian besar menentukan masa depan anak sebagai generasi penerus bangsa. Kelainan atau penyimpangan apapun bila tidak diintervensi secara
dini dengan baik pada saatnya dan tidak terdeteksi secara nyata mendapatkan perawatan yang bersifat komprehensif yaitu promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya. Dewasa ini tumbuh kembang anak adalah salah satu aspek yang diperhatikan serius oleh para pakar, karena hal tersebut merupakan aspek yang menjelaskan mengenai proses pembentukan individu secara fisik maupun psikologis pada anak (Sunawari, 2007).
Pertumbuhan merupakan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan jumlah dan ukuran sel yang akan menghasilkan peningkatan ukuran dan berat seluruh atau sebagian bagian sel sedangkan perkembangan merupakan perubahan kualitatif yaitu perubahan fungsi tubuh yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi melalui proses kematangan dan belajar. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai arti yang berbeda. Pertumbuhan berdampak terhadap aspek fisik sedangkan perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi organ dan individu. Kedua kondisi tersebut saling berkaitan dan berpengaruh pada tumbuh kembang pada setiap anak (Wong, 2009).
Pengukuran pertumbuhan dapat dilakukan dengan penilaian antropometri (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKUI, 2011) salah satunya dengan melihat indeks tunggal berat badan/tinggi badan (BB/TB) atau TB/BB. Indeks TB/BB ini merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa anak. Indeks ini dapat menggambarkan proporsi BB relatif terhadap TB dan menjadi indikator kekurusan atau yang lebih dikenal dengan wasting. Indeks ini digunakan untuk mengevaluasi dampak gizi dan untuk memantau perubahan status gizi dalam jangka waktu pendek. Pengukuran perkembangan dapat dilakukan dengn menggunakan DDST (Wong, 2008). Terdapat empat aspek perkembangan anak melingkupi kepribadian/tingkah laku sosial (personal social), motorik halus (fine motor adaptive), motorik kasar (gross motor), dan bahasa (language). Metode skrining ini yang sering digunakan untuk menilai perkembangan anak mulai usia 0-6 tahun (Suwariyah, 2013).
Tumbuh kembang pada anak terjadi di sepanjang kehidupan yang terdiri dari beberapa tahapan, salah satu diantaranya adalah masa toddler. Masa toddler berada dalam rentang dari masa kanak-kanak mulai berjalan sendiri sampai mereka berjalan dan berlari dengan mudah, yaitu mendekati usia 12 sampai 36 bulan. Pada masa ini seorang anak mulai belajar menentukan arah perkembangan dirinya, suatu fase yang mendasari derajat kesehatan, perkembangan emosional, derajat pendidikan, kepercayaan diri, kemampuan bersosialisasi serta kemampuan diri seorang anak di masa mendatang. Interaksi antara anak dan orang tua dalam proses ini sangat bermanfaat bagi proses perkembangan anak secara keseluruhan karena orang tua dapat segera mengenali kelainan proses tumbuh kembang anaknya sedini mungkin. (Potter & Perry, 2010).
Periode penting dalam proses tumbuh kembang anak adalah masa lima tahun pertama (Center on the Developing Child Harvard University, 2009), yang merupakan masa emas kehidupan individu atau disebut dengan the golden period (Kementerian Kesehatan RI, 2011). Golden period merupakan masa dimana kemampuan otak anak untuk menyerap segala bentuk informasi sangatlah tinggi, karena sekitar 80% otak anak berkembang pada periode emas tersebut (Ambarwati & Handoko, 2011). Masa ini juga merupakan jendela kesempatan bagi anak, yang memungkinkan anak untuk mengasah seluruh aspek perkembangan motorik, penglihatan, kemampuan berpikir, kemampuan bahasa, perkembangan sosial, serta kecerdasan emosional (Schiller, 2010). Masa emas ini sekaligus merupakan periode kritis bagi anak karena pada masa ini lingkungan memiliki dampak yang besar terhadap perkembangan anak, khususnya lingkungan yang tidak mendukung seperti asupan gizi yang tidak adekuat, tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, serta kurangnya stimulasi, akan berdampak buruk pada perkembangan anak (Kemenkes RI, 2011). Anak dibawah lima tahun merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan yang pesat namun kelompok ini sering menderita kekurangan gizi (Proverawati, 2009). Dampak kurang gizi pada anak dapat meningkatkan risiko kematian, menghambat perkembangan kognitif, dan mempengaruhi status kesehatan pada usia remaja dan dewasa (Almatsier, Soetardjo & Soekatri, 2011).
World health organitation (WHO) melaporkan bahwa 5-25% anak-anak usia prasekolah menderita disfungsi otak minor, termasuk gangguan perkembangan morik halus (Widati,2012). Sedangkan menurut (Kay-Lambkin, dkk, 2007) secara global dilaporkan anak yang mengalami gangguan berupa kecemasan sekitar 9% , mudah emosi 11-15%, gangguan perilaku 9-15%. Maka dari itu perhatian dari orang tua sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal ini lah yang mendorong kelompok kami untuk melakukan observasi terhadap anak usia 2-3 tahun untuk mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi dan gangguan apa saja yang terdapat pada anak usia 2-3 tahun.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak usia 2-3 tahun
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui perkembangan dan pertumbuhan anak usia 2-3 tahun
b. Mengetahui gangguan perkembangan dan pertumbuhan anak usia 2-3 tahun
c. Mengetahui penanganan gangguan anak usia 2-3 tahun
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tumbuh Kembang Anak
1. Definisi Tumbuh Kembang
Wong (2009) menyatakan bahwa pertumbuhan merupakan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan jumlah dan ukuran sel yang akan menghasilkan peningkatan ukuran dan berat seluruh atau sebagian bagian sel sedangkan perkembangan merupakan perubahan kualitatif yaitu perubahan fungsi tubuh yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi melalui proses kematangan dan belajar.
Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai arti yang berbeda. Pertumbuhan berdampak terhadap aspek fisik sedangkan perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi organ dan individu. Kedua kondisi tersebut saling berkaitan dan berpengaruh pada tumbuh kembang pada setiap anak
Pertumbuhan masa prasekolah pada anak yaitu pada pertumbuhan fisik, khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-rata pertahunnya adalah 2 kg, kelihatan kurus, akan tetapi aktivitas motoriknya tinggi, dimana sistem tubuh sudah mencapai kematangan, seperti berjalan, melompat, dan lain -lain. Sedangkan pada pertumbuhan tinggi badan anak kenaikannya rata-rata akan mencapai 6,75-7,5 cm setiap tahunnya (Hidayat, 2009, hlm. 25).
Perkembangan merupakan proses yang tidak akan berhenti. Masa prasekolah merupakan fase perkembangan individu dapat usia 2-6 tahun, perkembangan pada masa ini merupakan masa perkembangan yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting (Fikriyanti, 201 3, hlm.18).
2. Teori-Teori Perkembangan
a. Teori Perkembangan kognitif (Jean Piaget)
Perkembangan kognitif menurut Piaget merupakan perubahan perubahan yang terkait usia yang terjadi dalam aktifitas mental. Ia juga menyebutkan bahwa kesuksesan perkembangan kognitif mengikuti prosses yang urutannya melewati empat fase, yaitu fase sensorimotorik (0-2 tahun), fase pra-operasional (2-7 tahun), fase operasional (7-11 tahun) dan fase operasional formal (>11 tahun) (Wong, 2008, hlm 118). Dalam teori perkembangan ini anak prasekolah termasuk dalam fase praoperasional, fase pra-operasional anak belum mampu mengoperasionalisasikan apa yang dipikirkan melalui tindakan dalam pikiran anak (Wong, 2008, hlm 119).
b. Teori Perkembangan Psikososial (Erikson)
Menurut Santrock (2011), Teori perkembangan ini dikemukakan oleh Erikson yang mengemukakan bahwa perkembangan anak selalu dipengaruhi oleh motivasi sosial dan mencerminkan suatu keinginan untuk berhubungan dengan orang lain. Untuk mencapai kematangan kepribadian psikososial anak harus melewati beberapa tahap yaitu : tahap percaya dan tidak percaya (1-3 tahun), tahap kemandirian versus malu-malu (2-4 tahun), tahap inisiatif versusrasa bersalah (3-6 tahun), tahap terampil versus minder (6-12 tahun), tahap identidas versus kebingungan peran (12-18 tahun) (Wong, 2008, hlm 117). Dalam teori perkembangan psikososial anak prasekolah termasuk dalam tahap perkembangan inisiatif versus rasa bersalah. Pada tahap ini anak mulai mencari pengalaman baru secara aktif. Apabila anak menapat dukungan dari orang tuanya untuk mengekplorasikan keingintahuannya maka anak akan mengambil inisiatif untuk suatu tindakan yang akan dilakukan, tetapi bila dilarang atau dicegah maka akan tumbuh perasaan bersalah pada diri anak (Wong, 2008, hlm 118).
c. Teori Perkembangan Psikoseksual (Freud)
Teori perkembangan psikoseksual pertama kali dikemukakan oleh Sigmun Freud, ia menggunakan istilah psikoseksual untuk menjelaskan segala kesenangan seksual. Selama masa kanak-kanak bagian-bagian tubuh tertentu memiliki makna psikologik yang menonjol sebagai sumber kesenangan baru dan konflik baru yang secara bertahap bergeser dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lain pada tahap-tahap perkembangan tertentu. Dalam perkembangan psikoseksual anak dapat melalui tahapan yaitu: tahap oral (0-1 tahun), tahap anal (1-3 tahun), tahap falik (3-6 tahun), tahap laten (6-12 tahun), dan tahap genital (>12 tahun) (Wong, 2008, hlm 117). Dalam teori perkembangan psikoseksual anak prasekolah termasuk dalam tahap phalilc, dalam tahap ini genital menjadi area tubuh yang menarik dan sensitif anak mulai mengetahui perbedaan jenis kelamin dan men jadi ingin tahu tentang perbedaan tersebut (Wong, 2008, hlm 117).
d. Teori Perkembangan Moral (Kohlberg)
Teori perkembangan moral dikemukakan oleh Kohlberg dengan memandang tumbuh kembang anak ditinjau dari segi moralitas anak dalam menghadapi kehidupan, tahapan perkembangan moral yaitu: tahap prakonvensional (orientasi pada hukum dan kepatuhan), tahap prakonvensional (orientasi instrumental bijak), tahap konvensional, tahap pasca konvensional (orientasi kontak sosial) (Wong, 2008, hlm 119). Dalam teori perkembangan moral anak prasekolah termasuk dalam tahap prakonvensional, dalam tahap perkembangan ini anak terorientasi secara budaya dengan label baik atau buruk, anak-anak menetapkan baik atau buruknya suatu tindakan dari konsekuensi tindakan tersebut. Dalam tahap ini anak tidak memiliki konsep tatanan moral, mereka menentukan prilaku yang benar terdiri atas sesuatu yang memuaskan kebutuhan mereka sendiri meskipun terkadang kebutuhan orang lain. Hal tersebut diinterprestasikan dengan cara yang sangat konkrit tanpa kesetiaan, rasa terimakasih atau keadilan (Wong, 2008, hlm. 120)
3. Prinsip Pertumbuhan dan Perkembangan
Menurut Santrock (2011), Perkembangan dan pertumbuhan mengikuti prinsip cephalocaudal dan proximodistal. Prinsip cephalocaudal merupakan rangkaian dimana pertumbuhan yang tercepat selalu terjadi diatas, yaitu di kepala. Pertumbuhan fisik dan ukuran secara bertahap bekerja dari atas kebawah, perkembangan sensorik dan motorik juga berkembang menurut prinsip ini, contohnya bayi biasanya menggunakan tubuh bagian atas sebelum meeraka menggunakan tubuh bagian bawahnya. Prinsip proximodistal (dari dalam keluar) yaitu pertumbuhan dan perkembangan bergerak dari tubuh bagian dalam keluar. Anak-anak belajar mengembangkan kemampuan tangan dan kaki bagian atas ( yang lebih dekat dengan bagian tengah tubuh) baru kemudian bagian yang lebih jauh, dilanjutkan dengan kemampuan menggunakan telapak tangan dan kaki dan akhirnya jari-jari tangan dan kaki (Papalia, dkk, 2010, hlm 170).
4. Aspek–Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan
a. Aspek Pertumbuhan
Untuk menilai pertumbuhan anak dilakukan pengukuran antropometri, pengukuran antropometri meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan (panjang badan), lingkar kepala. Pengukuran berat badan digunakan untuk menilai hasil peningkatan atau penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh, pengukuran tinggi badan digunakan untuk menilai status perbaikan gizi disamping faktor genetik sedangkan pengukuran lingkar kepala dimaksudkan untuk menilai pertumbuhan otak. Pertumbuhan otak kecil (mikrosefali) menunjukkan adanya reterdasi mental, apabila otaknya besar (volume kepala meningkat) terjadi akibat penyumbatan cairan serebrospinal.
b. Ciri Pertumbuhan Anak 2-3 Tahun
1. Berat Badan
Pada umur 2½ tahun berat badan meningkat 4 x berat badan lahir. Pertambahan berat badan anak umur 1-2 th : 0,2 kg/bln.
2. Tinggi Badan
Berdasarkan data yang dikeluarkan Direktorat Kesehatan Gizi Depkes RI untuk anak usia 0-5 tahun tanpa dibedakan jenis kelaminnya, pada usia tertentu harus memiliki tinggi badan ideal dengan plus minus 2 standar deviasi.
Tabel 2.1 Standar tinggi dan berat badan untuk anak usia 2-3 tahun
| Umur | Berat (gram) | Tinggi (cm) |
| Standar | 80% standar | Standar | 80% standar |
| 2 tahun 0 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 9 Bulan | 12.400 12.900 13.500 14.000 | 9.900 10.500 10.800 11.200 | 87.0 89.5 92.0 94.0 | 69.5 71.5 73.5 75.0 |
| 3 tahun 0 bulan 3 bulan 6 bulan 9 bulan | 14.500 15.000 13.500 16.000 | 11.600 12.000 12.400 12.900` | 96.0 98.0 99.5 101.5 | 77.0 78.5 79.5 81.5 |
Pengukuran tinggi badan pada anak diatas 2 tahun dilakukan dengan berdiri. Pada tahun kedua peningkatan tinggi badan lebih banyak dibandingkan berat badan.
3. Lingkar kepala
Pertambahan ukuran lingkar kepala meliputi:
a) Pada tahun ke-2 menjadi 46,9 - 49,5 cm ( + 2,5 cm)
b) Pada tahun ke-3 menjadi 47,7 - 50,8 cm ( + 1,25 cm)
Berat otak sebesar 1/8 berat total bayi paling pesat berkembang pada usia 2 tahun. Berat otak kecil sebesar 3x berat badan setelah bayi berusia 2 tahun. Pengukuran lingkar kepala dipakai untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Pengukuran dilakukan pada diameter occipitofrontal dengan mengambil rerata 3 kali pengukuran sebagai standar.
4. Pertumbuhan Gigi
Gigi susu yang berjumlah 20 buah biasanya telah tumbuh seluruhnya pada umur 2,5 th.
c. Aspek perkembangan
1) Motorik kasar (gross motor) merupakan keterampilan yang meliputi aktivitas otot yang besar seperti gerakan lengan dan berjalan (Santrock, 2011, hlm 210). Perkembangan motorik kasar pada masa prasekolah, diawali dengan kemampuan untuk berdiri dengan satu kaki selama 1-5 detik, melompat dengan satu kaki, membuat posisi merangkak dan lain-lain (Hidayat, 2009, hlm.25).
2) Motorik halus (fine motor Skills) merupakan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi meta dan tangan yang memerlukan koordinasi yang cermat (Papilia, Old & Feldman, 2010, hlm. 316). Perkembangan motorik halus mulai memiliki kemampuan menggoyangkan jari -jari kaki, menggambar dua atau tiga bagian, menggambar orang, mampu menjepit benda, melambaikan tangan dan sebagainya (Hidayat, 2009, hlm.26).
3) Bahasa (language) adalah kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara, mengkuti perintah dan dan berbicara spontan. Pada perkembangan bahasa diawali mampu menyebut hingga empat gambar, menyebut satu hingga dua warna, menyebutkan kegunaan benda, menghitung, mengartikan dua kata, meniru berbagai bunyi, mengerti larangan dan sebagainya (Hidayat, 2009, hlm.26).
4) Prilaku sosial (personal social) adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Perkembangan adaptasi sosial pada anak prasekolah yaitu dapat berrmain dengan permainan sederhana, mengenali anggota keluarganya, menangis jika dimarahi, membuat permintaan yang sederhana dengan gaya tubuh, menunjukan peningkatan kecemasan terhadapa perpisahan dan sebagainya (Hidayat, 2009, hlm.26). Untuk menilai perkembangan anak yang dapat dilakukan adalah dengan wawancara tentang faktor kemungkinan yang menyebabkan gangguan dalam perkembangan, kemudian melakukan tes skrining perkembangan anak (Hidayat, 2009, hlm. 38).
d. Tahap Perkembangan Anak 2-3 Tahun
1) Perkembangan Motorik
Masa ini disebut sebagai masa sangat aktif dari seluruh masa kehidupannya, karena tingkat aktivitasnya dan perkembangan otot besar mereka sedang tumbuh. Demikian halnya dengan kemampuan motorik halus anak, sudah mulai meningkat. Dengan demikian masa ini disebut juga sebagai masa belajar berbagai kemampuan dan keterampilan, dengan berbekal rasa ingin tahu yang cukup kuat dengan seringnya anak mencoba hal-hal baru dan seringnya pengurangan menyebabkan masa ini menjadi masa yang tepat untuk mempelajari keterampilan baru. Kemampuan motorik yang dimiliki anak sbb;
Tabel 2.2 Aspek perkembangan motorik anak usia 2-3 tahun
| Usia | Motorik Kasar | Motorik Halus |
| 24-36 bulan (2-3 tahun) | Mulai dapat memanjat dan melompat | Melakukan kegiatan dengan satu lengan, seperti mencorat-coret dengan alat tulis |
| Mulai kenal irama dan mulai membuat gerakan-gerakan yang berkaitan dengan menari | Menggunakan sendok dan garpu tanpa menumpahkan makanan |
| Melompat dengan 2 kaki | Melepas kancing jepret |
| Berdiri dengan satu kaki selama beberapa saat | Membuka halaman buku berukuran besar satu persatu |
| Naik turun 4-6 anak tangga tanpa bantuan dan biasanya tidak jatuh | Memegang gunting dan mulai memotong kertas |
| Menaiki dan mendorong benda keras seperti meja, kursi, dan lain-lain
| Memakai dan melepas sepatu berperekat/tanpa tali
|
| Bermain dengan bola (melempar, menangkap dan menggulirkan) | Melepas celana dan baju sederhana |
| Dapat berjalan jinjit, berjingkat-jingkat mengambil objek dari lantai tanpa terjatuh | Memegang pensil/krayon besar |
| Melempar bola dengan kedua tangan di atas kepala | Menyikat gigi dan menyisir rambut sendiri |
2) Perkembangan Bicara dan Bahasa
Bertambahnya kematangan otak dikombinasikan dengan peluang-peluang untuk menjelajahi dunia sekelilingnya dan sebagai penyumbang terbesar untuk lahirnya kemampuan kognitif anak. Sejumlah kemampuan anak, seperti belajar membaca adalah berkaitan dengan masukan dari mata anak yang ditransmisikan ke otak anak, kemudian melalui sistem yang ada di otak, menterjemahkannya kedalam kode huruf-huruf, kata-kata dan asosiasinya. Akhirnya akan dikeluarkan dalam bentuk bicara. Bakat bicara anak karena system otak diorganisasikan sedemikian rupa sehingga memungkinkan anak memproses sebagai bahasa.
Anak mulai pandai berbicara, sejalan dengan perkembangannya memahami sesuatu. Biasanya anak mulai berbicara sendiri,kemudian berkembang menjadi kemampuan untuk bertindak tanpa harus mengucapkannya. Dalam hal ini anak telah menginternalisasikan pembicaraan yang egosentris dalam bentuk berbicara sendiri menjadi pemikiran anak. Hal ini merupakan suatu transisi awal untuk dapat lebih berkomunikasi secara sosial.
Tabel 2.3 Aspek perkembangan bicara dan bahasa anak usia 2-3 tahun
| Usia | Kemampuan Bicara dan Bahasa |
| 24-36 bulan (2-3 tahun) | Bahasa yang dipergunakan dapat dimengerti orang lain, meskipun masih sering membuat kesalahan |
| Menyebutkan tiga buah angka yang berurutan |
| Umumnya kalimat terdiri dari 4 sampai 5 kata |
| Menggunakan kata aku atau saya untuk menunjuk dirinya |
| Dapat menyebutkan namanya sendiri |
| Kosa kata berjumlah lebih dari 1000 kata |
| Memberi jawaban yang relevan jika ditanya |
| Dapat melakukan 2 sampai 4 kegiatan dengan instruksi yang berhubungan |
| Mengerti arti hubungan jika menggunakan kata “kalau……”, ”kemudian……” dan “karena…..” |
| Mengerti konsep besar dan kecil, panjang dan pendek |
| Mulai mengerti kata yang menerangkan waktu seperti : “Besok kita akan ke rumah nenek” |
3) Perilaku Sosial dan Kemandirian
Dasar-dasar sosialisasi yang sudah diletakkan pada masa bayi, maka pada masa ini mulai berkembang. Dalam hal ini hubungan keluarga, orangtua-anak, antar saudara dan hubungan dengan sanak keluarga cukup berperan. Pengasuhan pada tahun pertama berpusat pada perawatan, berubah ke arah kegiatan-kegiatan seperti permainan, pembicaraan dan pemberian disiplin, akhirnya mengajak anak untuk menalar terhadap sesuatu. Pada masa ini sebagai masa bermain, anak mulai melibatkan teman sebayanya, melalui bermain, meski interaksi yang dibangun dalam permainan bukan bersifat sosial, namun sebagai kegiatan untuk menyenangkan dan dilaksanakan untuk kegiatan itu sendiri. Jenis permainan yang dilakukan bisa berbentuk konstruktif, permainan pura-pura, permainan sensori motorik, permainan sosial atau melibatkan orang lain, games atau berkompetisi.
Tabel 2.4 Aspek perkembangan perilaku sosial dan kemandirian anak usia 2-3 tahun
| Usia | Kemampuan Bersosialisasi | Kemampuan Kemandirian |
| 24-36 bulan (2-3 tahun) | Dapat mematuhi perintah sederhana | Makan sendiri tanpa banyak bantuan |
| Sudah mulai memperlihatkan rasa cemburu/iri terhadap saudaranya | Menuangkan air/pasir dari teko (botol) ke dalam gekas/cangkir/wadah lainnya |
| Merasa sulit untuk berbagi dengan orang lain dan menunjukkan perasaan bersaing | Mencuci tangan tanpa bantuan
|
| Mencoba memaksakan kehendaknya pada orang lain
| Menggunakan toilet sendiri (namun masih memerlukan bantuan untuk membersihkan dan memakai baju kembali) |
| Ingin mandiri (mengerjakan segala sesuatunya sendiri) tapi masih mencari peneguhan orang dewasa | Bermain dengan anak lain, melakukan interaksi
|
| Dapat mematuhi perintah yang rumit
| Menunggu giliran dan berbagi dengan dorongan dari orang lain |
| Minat bermain ditunjukkan dengan cara memperhatikan temannya ketika bermain dan segera bergabung bila tertarik | Berusaha untuk membantu mengerjakan pekerjaan di rumah seperti menyapu
|
| Sikap kemandirian semakin jelas dengan lebih banyak berbuat untuk diri sendiri tanpa memperdulikan apakah temannya memperhatikan atau justru membelakanginya
| Memulai permainan sandiwara (drama) & melakukan tingkah laku menurut peranannya seperti mengurus bayi
|
| Dapat bekerja sama dengan orang dewasa dalam sejumlah aktivitas sederhana | Menyisir rambut sendiri
|
e. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak
Menurut Hidayat (2009) Proses Percepatan dan Perlambatan Tumbuh kembang anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.
1) Faktor Herediter
Faktor herediter merupakan faktor yang dapat diturunkan sebagai dasar dalam mencapai tumbuh kembang. Yang termasuk faktor herediter adalah bawaan, jenis kelamin, ras, suku bangsa. Faktor ini dapat ditentukan dengan intensitas dan kecepatan alam pembelahan sel telur, tingkat sensitifitas jaringan terhaap rangsangan, umur puberitas, dan berhentinya pertumbuhan tulang.
2) Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan ini dapat meliputi lingkungan pranatal, lingkungan postnatal, dan faktor hormonal. Faktor pranatal merupakan lingkungan dalam kandungan, mulai dari konsepsi sampai lahir yang meliputi gizi pada waktu ibu hamil, posisi janin, pengunaan obat -obatan , alkohol atau kebiasaan merokok. Faktor lingkungan pasca lahir yang mempengaruhi tumbuh kembang anak meliputi budaya lingkungan, sosial ekonomi, keluarga. nutrisi, posisi anak dalam keluarga dan status kesehatan. Faktor hormonal yang berperan dalam tumbuh kembang anak antara lain. somatotrofin (growth Hormon) yang berperan alam mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan, dengan menstimulasi terjadinya poliferasi sel kartigo dan sistem skeletal. Hormon tiroid menstimulasi metabolisme tubuh, glukokartikoid menstimulasi pertumbuhan sel interstisial dari testis untuk memproduksi testosteron dan ovarium untuk memproduksi esterogen selanjutnya hormon tersebut menstimulasi perkembangan seks baik pada anak laki-laki maupun perempuan yang sesuai dengan peran hormonnya.
B. Stimulasi, Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak
1. Stimulasi Tumbuh Kembang Anak
Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak 0-6 tahun agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Setiap anak perlu mendapatkan stimulasi rutin sedini mungkin dan terus menerus pada setiap kesempatan. Stimulasi tumbuh kembang anak dilakukan oleh ibu dan ayah atau yang merupakan orang terdekat anak (Depkes, 2012, hlm.15).
Perkembangan kemampuan dasar anak mempunyai pola yang tetap dan berlangsung secara berurutan, dengan demikian stimulasi yang diberikan kepada anak dalam rangka merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak dapat diberikan orang tua atau keluarga sesuai dengan pembagian kelompok umur stimulasi (Depkes, 2012, hlm.15).
Tabel 2.5 Kelompok umur stimulasi anak (Depkes, 2012)
| No. | Priode Tumbuh Kembang | Kelompok Umur |
| Stimulasi |
| 1. | Masa pranatal, janin dalam kandungan | Masa prenatal |
| 2. | Masa bayi 0-12bulan | Umur 0-3 bulan |
|
|
| Umur 3-6 bulan |
|
|
| Umur 6-9 bulan |
|
|
| Umur 9-12 bulan |
| 3. | Masa anak balita 12-60 hari | Umur 12-15 bulan |
|
|
| Umur 15-18 bulan |
|
|
| Umur 18-24 bulan |
|
|
| Umur 24-36 bulan |
|
|
| Umur 361-48 bulan |
|
|
| Umur 48-60 bulan |
| 4. | Masa anak prasekolah 60-72 bulan | Umur 60-72 bulan |
Kemampuan anak dirangsang dengan stimulasi terarah pada kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus, kemampuan bicara dan bahasa serta kemampuan sosialisasi dan kemandirian. Stimulasi yang dilakukan pada kemampuan gerak kasar pada anak misalnya dengan mendorong anak untuk bermain bola bersama temannya, permainan menjaga keseimbangan tubuh, belari, melompat dengan satu kaki, diajari bermain sepeda, dan sebagainya (Depkes, 2012, hlm.37).
Stimulasi yang dilakukan pada kemampuan gerak halus pada anak misalnya menulis namanya, menulis angka-angka, menggambar, berhitung, berlatih mengingat, membuat sesuatu dari tanah liat atau lilin, bermain berjualan, belajar mengukur dan lain-lain (Depkes, 2012, hlm.37).
Stimulasi yang dilakukan pada kemampuan bicara dan bahasa pada anak misalnya bermain tebak-tebakan, berlatih mengingat -ingat, menjawab pertanyaan “mengapa?”, mengenal uang logam, mengamati atau meneliti keadaan sekitanya dan lain-lain (Depkes, 2012, hlm.38).
Stimulasi yang dilakukan pada kemampuan bersosialisasi dan kemandirian pada anak misalnya mendorong anak untuk berpakaian sendiri, menyimpan mainan tanpa bantuan, ajak berbicara tentang apa yang dirasakan, berkomunikasi dengan anak, berteman dan bergaul, mematuhi peraturan keluarga dan lain-lain (Depkes, 2012, hlm.39).
2. Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak
Deteksi dini tumbuh kembang anak adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak prasekolah. Dengan ditemukan secara dini penyimpangan atau masalah tumbuh kembang anak, maka intervensi akan mudah juga mempunyai waktu dalam membuat rencana tindakan yang tepat terutama untuk melibatkan ibu dan keluarga (Depkes, 2012, hlm. 40).
Kegiatan stimulasi deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang balita yang menyeluruh dan terkoordinasi diselenggarakan dalam bentuk kemitraan antara keluarga (orang tua, pengasuh anak dan anggota keluarga lainnya), masyarakat (kader, tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat) dan tenaga professional (kesehatan, pendidikan dan sosial) (Depkes, 2012, hlm.1).
Melalui kegiatan SDIDTK kondisi terparah dari penyimpangan pertumbuhan anak seperti gizi buruk dapat dicegah, karena sebelum anak jatuh dalam kondisi gizi buruk, penyimpangan pertumbuhan yang terjadi pada anak dapat terdeteksi melalui kegiatan SDIDTK. Selain mencegah terjadinya penyimpangan pertumbuhan, kegiatan SDIDTK juga mencegah terjadinya penyimpangan perkembangan dan penyimpangan mental emosional (Hermawan, 2011).
Menurut Depkes RI (2012) ada 3 jenis kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan di tingkat puskesmas dan jaringannya berupa deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, deteksi penyimpangan perkembangan dan deteksi penyimpangan mental emosional.
1) Skrining atau pemeriksaan perkembangan anak menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)
Tujuan skrining atau pemeriksaan perkembangan anak menggunakan KPSP adalah untuk mengetahui perkembangan anak normal atau ada penyimpangan. Jadwal skrining atau pemeriksaan KPSP rutin adalah pada umur 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 30, 36, 42, 48, 54, 60, 66 dan 72 bulan. Skrining atau pemeriksaan dilakukan oleh tenaga kesehatan, guru TK dan petugas PAUD terlatih. Alat atau instrumen yang digunakan adalah formulir KPSP menurut umur, alat bantu pemeriksaan berupa pensil, kertas, bola tenis, bola besar dan kubus (Depkes, 2012, hlm 52).
Cara penggunaan KPSP yaitu :
a. Pada waktu pemeriksaan atau skrining anak harus dibawa.
b. Tentukan umur anak dengan menanyakan tanggal, bulan dan tahun anak lahir. Bila umur anak lebih 16 hari dibulatkan jadi 1 bulan.
c. setelah menentukan umur anak, pilih KPSP yang sesuai dengan umur anak.
d. KPSP terdiri ada 2 macam pertanyaan, yaitu : pertanyaan yang dijawab oleh ibu atau pengasuh anak, dan perintah kepada ibu atau pengasuh anak untuk melaksanakan tugas yang tertulis pada KPSP (Depkes, 2012, hlm 52).
2) Tes Daya Dengar (TDD)
Tujuan tes daya dengar adalah untuk menemukan gangguan pendengaran sejak dini, agar dapat segera ditindaklanjuti untuk meningkatkan kemampuan daya dengar dan bicara anak. Jadwal TDD adalah setiap 3 bulan pada bayi umur kurang dari 12 bulan dan setiap 6 bulan pada anak umur 12 bulan keatas. Tes ini dilaksanakan oleh tenaga kesehatan, guru TK, tenaga PAUD dan petugas terlatih. Alat yang diperlukan adalah instrumen TDD menurut umur anak, gambar binatang (ayam, anjing, kucing) dan manusia, mainan (boneka, kubus, sendok, cangkir, bola) (Depkes, 2012. hlm. 70).
Cara melakukan TDD :
a. Tanyakan tanggal bulan dan tahun anak lahir, hitung umur anak dalam bulan.
b. Pilih daftar pertanaan TDD yang sesuai denga umur anak.
c. Pada anak umur kurang dari 24 bulan semua pertanyaan dijawab oleh orang tua atau pengasuh anak.
d. Pada anak umur 24 bulan atau lebih, pertanyaan-pertanyaan berupa perintah melalui orang tua atau pengasuh untuk dikerjakan oleh anak. Amati kemampuan anak dalam melakukan perintah orang tua atau pengasuh. (Depkes, 2012. hlm. 70).
3) Tes Daya Lihat (TDL)
Tujuan tes daya lihat adalah untuk mendeteksi secara dini kelainan daya lihat agar segera dapat dilakukan tindakan lanjutan sehingga kesempatan untuk memperoleh ketajaman daya lihat menjadi lebih besar. Jadwal tes daya lihat dilakukan setiap 6 bulan pada anak usia prasekolah umur 36 sampai 72 bulan. Tes ini dilakukan oleh tenaga kesehatan, guru TK, dan petugas terlatih. Alat atau sarana yang diperlukan yaitu dua buah kursi, poster E atau snelle n chart (Depkes, 2012, hlm 71).
C. Deteksi Dini Penyimpangan Mental Emosional Pada Anak Prasekolah
Deteksi Dini Penyimpangan mental Emosional adalah kegiatan atau Pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya masalah mental emosional, autisme gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas pada anak, agar dapat segera dilakukan tindakan intervensi. Bila penyimpangan mental emosional terlambat diketahui , maka intervensinya akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Jenis kegiatan yang dilaksanakan meliputi : Deteksi dini masalah mental emosional pada anak prasekolah menggunakan Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME), deteksi dini autis pada anak prasekolah menggunakan ceklist for Autism in Todlers (CHAT) dan deteksi dini gangguan pemusatan parhatian dan Hiperaktivitas pada anak pra sekolah menggunakan kuesioner Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Hiperaktivitas (GPPH) (Depkes, 2012, hlm.74).
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Karakteristik Objek Pengamat
a. Nama : ZMA
b. Tanggal Lahir : 23 Agustus 2013
c. Jenis Kelamin : Perempuan
d. Umur : 2 tahun 3 bulan
2. Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan dan Perkembangan objek yang telah kami amati yaitu dilakukan wawancara dengan ibu kandungnya yang menyatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan adiknya tidak mengalami gangguan.
a. Aspek pertumbuhan objek pengamat
1) Tinggi Badan : 90 cm
2) Berat Badan : 11 kg
b. Aspek perkembangan objek pengamat
Tabel 3.1 Hasil wawancara aspek perkembangan responden
| Motorik Kasar | Motorik Halus | Bersosialisasi | Kemandirian | Berbicara dan Berbahasa |
| Berjalan meloncat | Membentuk lingkaran diatas kertas | Mengerti perintah dan larangan sederhana | Bermain dengan anak lain, melakukan interaksi
| Menyusun kalimat sederhana |
| Memanjat dan melompat menggunakan 1 kaki | Menunjuk beberapa anggota tubuh | Bermain bersama orang lain | Mampu menyebutkan namanya |
| Berdiri satu kaki tanpa berpegangan | Meniru beberapa pekerjaan rumah tangga | Mengenal dan mencium anggota keluarga | Mampu mengucapkan kata-kata yang dapat dimengerti |
| Melempar bola |
B. Pembahasan
Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan kepada anak usia2 tahun 3 bulan diperoleh hasil bahwa pertumbuhan secara fisik normal tidak adanya gangguan terhadap anak. Anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya dan tidak mengalami keterlambatan pertumbuhan.
Pertumbuhan anak dilihat dari berat badan dan tinggi badannya jika dibandingkan dengan tabel berat badan dan tinggi ideal menurut Direktorat Kesehatan Gizi Depkes RI Anak usia 2 tahun 3 bulan memiliki tinggi badan ideal 89,5 cm. Tetapi anak yang kami teliti memiliki tinggi badan 90 cm. Ini masih variasi normal dan dengan tinggi badan 90 cm, berat badan normalnya menjadi 10,8 kg. Perbedaan tinggi badan ini masih dalam batas normal.
Perkembangan anak yang kami teliti sudah bisa menyebutkan namanya sendiri tanpa bantuan orang lain, dapat menyanyikan beberapa lagu, sudah bisa menyebutkan tiga buah angka yang berurutan, bahasa yang dipergunakan dapat dimengerti orang lain meskipun masih sering membuat kesalahan. Sedangkan, apabila dilihat dari segi perkembangan anak mengalami gangguan berupa hiperaktivitas karena anak tidak bisa duduk diam, tidak dapat mengikuti aktifitas dengan tenang, selalu bergerak terus dan banyak bicara, dapat memulai pembicaraan dengan orang yang baru dia kenal, bahkan mau diajak pergi dengan orang yang baru saja dikenal, sering marah ketika sesuatu hal yang dia inginkan tidak bisa didapatkan, jika ada teman yang mengganggunya, dia berani membalas dengan mengganggu temannya juga.
Anak pra sekolah umumnya berusia 2-3 tahun, secara fisik anak pra sekolah memiliki karakteristik sendiri dalam perkembangan fisik, yakni tinggi dan berat badan dan proporsi bentuk tubuh. Perkembangan motorik adalah proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Pada dasarnya, perkembangan ini berkembang sejalan dengan kematangan saraf dan otot anak, sehingga setiap gerakan sederhana apapun merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak. Perkembang motorik terbagi menjadi dua, yaitu perkembangan motorik kasar dan perkembangan motorik halus. Perkembangan motorik kasar adalah keterampilan yang meliputi aktivitas otot yang besar seperti gerakan lengan dan berjalan (Santrock, 2011). Perkembangan motorik halus adalah keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata dan tangan yang memerlukan koordinasi yang cermat (Papilia, Old & Feldman, 2010). Berikut beberapa perkembangan motorik kasar dan halus pada anak usia pra sekolah :
1. Perkembangan motorik kasar pada masa prasekolah, diawali dengan kemampuan untuk berdiri dengan satu kaki selama 1-5 detik, melompat dengan satu kaki, membuat posisi merangkak dan lain-lain (Hidayat, 2009).
2. Perkembangan motorik halus mulai memiliki kemampuan menggoyangkan jari-jari kaki, menggambar dua atau tiga bagian, menggambar orang, mampu menjepit benda, melambaikan tangan dan sebagainya (Hidayat, 2009).
Sosio-emosional adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Perkembangan adaptasi sosial pada anak prasekolah yaitu dapat berrmain dengan permainan sederhana, mengenali anggota keluarganya, menangis jika dimarahi, membuat permintaan yang sederhana dengan gaya tubuh, menunjukan peningkatan kecemasan terhadapa perpisahan dan sebagainya (Hidayat, 2009).
Anak usia 3 tahun yang kami amati memiliki kemampuan komunikasi yang cukup baik terhadap teman-teman sebayanya, suka berbicara dan bercerita dengan keluarganya kadang juga dengan dirinya sendiri, suka bernyanyi dan menari-nari saat bernyanyi. Hal tersebut terlihat bahwa peran orangtua dan keluarga sangat berpengaruh terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan anak.
IV. PENUTUP
A. Simpulan
Simpulan yang kami dapatkan dari hasil studi kasus yaitu :
1. Pertumbuhan masa prasekolah pada anak yaitu pada pertumbuhan fisik, khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-rata pertahunnya adalah 2 kg, kelihatan kurus, akan tetapi aktivitas motoriknya tinggi, dimana sistem tubuh sudah mencapai kematangan Sedangkan perkembangan pada masa ini merupakan masa perkembangan yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting.
2. Gangguan tumbuh kembang anak terdiri dari Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH), pada kasus objek yang kami mengalami gangguan hiperaktivitas.
3. Mendeteksi gangguan tumbuh kembang pada anak dapat dilakukan berupa deteksi dini pentimpangan pertumbuhan, deteksi perkembangan dan deteksi penyimpangan mental emosional.
B. Saran
Ibu dan Keluarga harus memberikan contoh yang baik kepada anak, memperhatikan proses pertumbuhan dan perkembangan anak dengan baik serta memenuhi kebutuhan anak sesuai dengan usianya. Agar tumbuh kembang anak berjalan dengan optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Lukman. 2013. “Peran Orangtua Sebagai Guru dengan Perkembangan
Perilaku Sosial Pada Anak Usia Prasekolah di TK AL-IKHLAS Desa Sukoanyar Dusun Toyorono Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto”. Hospital Majapahit. Vol 5 nomor 1.
Departemen Kesehatan . 2012 . Profil Data Kesehatan Indonesia Tahun 2011.
Hidayat, Aziz Alimul. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta: Salemba
Medika.
______2009. Metode Penelitian Kesehatan Paradigma Kuantitatif. Jakarta : Heath Books
Kay-Lambkin, F., Kemp, E.,Stafford, K., & Hazell, T. (207). Mental Health
Promotion and Early Intervention in Early Childhood and Primary School
Settings: A Review1. Journal of Student Wellbeing. (vol 1 No 1). Australia: Hunter Institute of Mental
Health.http://www.responseability.org/data/assets/pdf_file/0004/4882/MentaHealth PromotI on-and-Early-Intervention-in-Earl y-Childhood-and
Primary-School -Settings-A-Review.pdf.
Musarofah, S. 2011. Analisa pelaksanaan pendekatan sentra untuk mengembangkan
kreatifitas anak usia dini. skripsi. pontianak: Program studi bimbingan
dan konseling fakultas keguruan dan ilmu pendidikan UNTAN.
Nirwana, Ade Benih. 2011. Psikologi Bayi, Balita dan Anak. Jakarta: Nuha Medika
Papalia . 2010. Kecerdasan dan Kesehatan Emosi Anak. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Santrock . 2011. Perkembangan Masa Hidup Jilid. 1 edisi kelima. Jakarta: Penerbit Erlangga
Utami, Sri. 2009. Bermain Lego Meningkatkan Kognitif Anak Usia Prasekolah (4-5
tahun). Ners Jornal Jurnal Ners Vol 3. Surabaya: Program Studi Ilmu Keperawatan FKp Unair.
Wong, D., L., Hockenberry, M., Wilson, D., Winkelstein, M.L., & Schwartz, P. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Edisi 6 vol 1. Jakarta: EGC.
______2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Edisi 6 vol 1. Jakarta: EGC.
Alifiani Hervira dan Yuni M. “Pusat Tumbuh Kembang Anak” Jurnal Tingkat Sarjana Bidang Seni Rupa dan Desain. Prodi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD). ITB.
Apriadi, Sandi. 2009. Bagian Ilmu Penyakit Anak Jurnal Fakultas Kedokteran. Bandung.
Dewi Ratna dan Indarwati. 2011. “Hubungan Antara Pengetahuan Dan Sikap Orang Tua Tentang Bahaya Cedera Dan Cara Pencegahannya Dengan Praktik Pencegahan Cedera Pada Anak Usia Toddler Di Kelurahan Blumbang Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar”. Jurnal GASTER. Vol. 8, No. 2 : (750 - 764) 750.
Fristi Widya, dkk. “Perbandingan Tumbuh Kembang Anak Toddler Yang Diasuh Orang Tua Dengan Diasuh Selain Orang Tua”. Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau.
Nirwana, Ade Benih. 2011. Psikologi Bayi, Balita dan Anak. Jakarta : Nuha Medika.
Nur Chamidah Atien. 2009. “Deteksi Dini Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan Anak”. Jurnal Pendidikan Khusus.Vo. 5.No. 2.
Potter, P. A., & Perry, A.G. 2010. Fundamental of nursing. (buku 1 edisi 7). Jakarta: EGC.
Suwariyah, P. 2013. Tes perkembangan bayi/anak menggunakan Denver Developmental Screening Test (DDST). Jakarta: TIM.
Wong, D. L. 2008. Buku ajar keperawatan pediatrik Vol. 1. Jakarta: EGC.
__________. 2009. Buku ajar keperawatan pediatrik Wong edisi 6 volume 1. Jakarta: EGC.
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️