A. Pendahuluan
Puji dan syukur Penulis panjatkan ke-hadirat Allah SWT, karena berkat taufik dan hidayah-Nya, makalah dengan judul Perhatian, ini dapat diselesaikan dan dipersembahkan kepada pembimbing yang budiman.Shalawat dan salam semoga tetap tercurah untuk junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya hingga akhir zaman.
Secara kodrati, individu manusia merupakan makhluk sosial. Namun, tidak semua manusia memiliki sifat sosial secara utuh, ada kalanya mereka tidak memiliki sifat sosial. Sifat sosial yang dimiliki manusia cenderung merupakan hasil belajar dan bukanlah bawaan sejak lahir. Proses ini akan berjalan seiring dengan berjalannya perkembangan tiap individu. Perkembangan pada masa ini tidak akan tercapai dalam waktu singkat. Seorang individu atau anak akan mengalami proses ini searah dengan daur (siklus), periode kemajuan yang pesat diikuti oleh garis mendatar (plateau). Anak dapat mencapai garis mendatar yaitu ketika mereka telah berada pada keadaan yang sudah mampu untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Seberapa cepat anak dapat mencapai hal tersebut, sangat tergantung pada kuat lemahnya motivasi mereka untuk bermasyarakat. Selanjutnya kita mengenal bahwa pada rentang kehidupan manusia pada masa ini adalah masa yang sangat penting mendapat perhatian disebabkan oleh perkembangan yang pesat dan cepat terjadi pada masa ini. Dengan penulisan makalah Perkembangan Masa Pencoba (1–3 Tahun) ini diharapkan membantu memberikan pemahaman bagi kita semua terutama bagi para orang tua tentang perkembangan kejiwaan anak dalam rangka mewujudkan yang terbaik bagi anak-anaknya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pribadi matakuliah Psikologi. Dan disusun berdasarkan judul yang telah ditentukan pada kontrak perkuliahan dengan ruang lingkup Pengertian Masa Pencoba, Perkembangan Fisik Motorik, Perkembangan Bahasa, Perkembangan Bermain, Perkembangan Menggambar, Perkembangan Kognisi, Perkembangan Psikososial
. Penulis menyusun makalah ini dengan metode kepustakaan dengan cara mengumpulkan beberapa buku referensi kemudian dianilisi dan dijadikan seabgai isi dari makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempuarnaan, dengan demikian penulis masih mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempuanaan makalah ini untuk selanjutnya.
B. Pengertian Masa Pencoba
Sebelum masuk kepada pengertian masa pencoba terlebih dahulu penulis melihat fase perkembangan ini dilihat berdasarkan sisi pendidikan dan tujuan luhur umat manusia yang dikemukakan oleh Khonstamm seperti yang dikutip oleh Desmita, yaitu:
1. Periode vital: umur 0 – 1,5 tahun, disebut juga fase menyusu.
2. Periode estetis: umur 1,5 – 7 tahun, disebut juga fase pencoba dan fase bermain.
3. Periode intelektuil: umur 7 – 14 tahun, disebut juga masa sekolah.
4. Periode sosial: umur 14 – 21 tahun, disebut juga masa remaja.
5. Periode matang: umur 21 tahun keatas, disebut juga masa dewasa. Berdasarkan pembagian yang dikemukakan tersebut terlihat bahwa periode estetis yaitu umur 1,5 – 7 tahun disebut dengan fase pencoba dan bermain. Selanjutnya jika dilihat secara bahasa bahwa estetis adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan sesuatu yang berkaitan dengan keindahan. Oleh karena itu penulis dapat menyimpulkan bahwa masa pencoba merupakan masa-masa paling indah dalam perkembangan manusia. Keindahan disini dimaksudkan kepada bahwa pada masa ini terjadi pertumbuhan yang sangat pesat pada anak. Selanjutnya seperti yang dijelaskan pada periode perkembangan berdasarkan pendidikan dan tujuan luhur umat manusia, dengan demikian pada masa ini adalah masa yang sangat penting untuk diperhatikan agar anak dapat tumbuh kembang ke depannya baik dari segi pendidikan maupun moral anak.
C. Perkembangan Fisik Motorik
Fisik manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan. Semua organ itu terbentuk pada periode pranatal. Perkembangan fisik individu menurut Kuhlen dan Thomson, memiliki empat aspek, yaitu:
1. Sistem syaraf, yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi.
2. Otot-otot, yang mempengaruhi kekuatan dan kemampuan motorik.
3. Kelenjar endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru.
4. Struktur fisik, yang meliputi tinggi, berat, dan proporsi.
Anak usia 1-3 tahun adalah dimana dia mengalami perubahan-perubahan fisik yang sangat cepat, perubahan tersebut anatara lain:
1. Berat badan anak rata-rata berkisar antara 9-13 kg.
2. Tinggi badan anak rata-rata berkisar antara 75-100 cm.
3. Lingkar kepala anak rata-rata berkisar antara 46,5-50 cm.
4. Lingkar lengan atas anak rata-rata berkisar antara 16 cm saja.
5. Pertumbuhan gigi anak, rata-rata gigi susunya sudah tumbuh secara menyeluruh, yaitu sebanyak 20 gigi.
6. Organ-organ keindraan sudah berfungsi sebagaimana mestinya, seperti mereka sudah lancar berbicara, lancar berjalan bahkan sudah bisa berlari, sudah dapat merasakan enak dan tidaknya suatu makanan, dll.
7. Kelenjar-kelenjar endokrin bekerja sangat giat, sehingga anak pada usia tersebut senang sekali menirukan kegiatan atau tingkah laku orang-orang disekitarnya.
Pada masa ini perkembangan motorik anak terbagi menjadi 2 yaitu:
1. Motorik kasar (gross motor) merupakan keterampilan yang meliputi aktivitas otot yang besar seperti gerakan lengan dan berjalan (Santrock, 2011, hlm 210). Perkembangan motorik kasar pada masa prasekolah, diawali dengan kemampuan untuk berdiri dengan satu kaki selama 1-5 detik, melompat dengan satu kaki, membuat posisi merangkak dan lain-lain (Hidayat, 2009, hlm.25). 2. Motorik halus (fine motor Skills) merupakan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi meta dan tangan yang memerlukan koordinasi yang cermat (Papilia, Old & Feldman, 2010, hlm. 316). Perkembangan motorik halus mulai memiliki kemampuan menggoyangkan jari -jari kaki, menggambar dua atau tiga bagian, menggambar orang, mampu menjepit benda, melambaikan tangan dan sebagainya. Masa ini disebut sebagai masa sangat aktif dari seluruh masa kehidupannya, karena tingkat aktivitasnya dan perkembangan otot besar mereka sedang tumbuh. Demikian halnya dengan kemampuan motorik halus anak, sudah mulai meningkat. Dengan demikian masa ini disebut juga sebagai masa belajar berbagai kemampuan dan keterampilan, dengan berbekal rasa ingin tahu yang cukup kuat dengan seringnya anak mencoba hal-hal baru dan seringnya pengurangan menyebabkan masa ini menjadi masa yang tepat untuk mempelajari keterampilan baru. Kemampuan motorik yang dimiliki anak sebagai berikut: | Usia | Motorik Kasar | Motorik Halus |
| 12-36 bulan (1-3 tahun) | Mulai dapat memanjat dan melompat | Melakukan kegiatan dengan satu lengan, seperti mencorat-coret dengan alat tulis |
| Mulai kenal irama dan mulai membuat gerakan-gerakan yang berkaitan dengan menari | Menggunakan sendok dan garpu tanpa menumpahkan makanan |
| Melompat dengan 2 kaki | Melepas kancing jepret |
| Berdiri dengan satu kaki selama beberapa saat | Membuka halaman buku berukuran besar satu persatu |
| Naik turun 4-6 anak tangga tanpa bantuan dan biasanya tidak jatuh | Memegang gunting dan mulai memotong kertas |
| Menaiki dan mendorong benda keras seperti meja, kursi, dan lain-lain
| Memakai dan melepas sepatu berperekat/tanpa tali
|
| Bermain dengan bola (melempar, menangkap dan menggulirkan) | Melepas celana dan baju sederhana |
| Dapat berjalan jinjit, berjingkat-jingkat mengambil objek dari lantai tanpa terjatuh | Memegang pensil/krayon besar |
| Melempar bola dengan kedua tangan di atas kepala | Menyikat gigi dan menyisir rambut sendiri |
Sedangakan dilihat dari pertumbuhan fisik dan motorik anak dalam sumber lain dijelaskan sebagai berikut: 1. Umur 1 Tahun
Menurut Kementerian Kesehatan RI, tinggi badan ideal anak berusia satu tahun adalah 68,9-79,2 sentimeter (perempuan) dan 71-80,5 sentimeter (laki-laki). Sedangkan berat badan idealnya adalah 7-11,5 kilogram (perempuan) dan 7,7-12 kilogram (laki-laki).
Memasuki usia tahun, berat badannya sudah mencapai 3 kali dari berat saat ia lahir. Tinggi badannya pun sudah bertambah setengah dari panjang ketika ia lahir. Untuk ukuran otak, anak umur satu tahun memiliki besar 60 persen dari ukuran otak orang dewasa. Anak mengalami pertumbuhan yang cepat selama satu tahun namun di usia selanjutnya pertumbuhan akan lebih lambat tetapi perkembangannya akan semakin banyak.
Kekuatan otot dan keseimbangan anak sudah berkembang sehingga memudahkannya untuk berdiri tanpa bantuan siapapun selama beberapa saat. Ia juga sudah bisa mengambil benda kecil di antara ibu jari dan jari telunjuk. Kemampuan tersebut memungkinkan dirinya untuk memberi makan sendiri, menulis dengan krayon, dan membangun menara balok.
Sedangkan kemampuan motorik anak pada usia ini umumnya sudah bisa berdiri tegak tanpa bantuan orang lain dan bisa berjalan perlahan. Ia juga sudah bisa bangun sendiri tanpa bantuan ibu.
2. Umur 2 Tahun
Menurut Kementerian Kesehatan RI, tinggi badan ideal anak berusia dua tahun adalah 80-92,9 sentimeter (perempuan) dan 81,7-93,9 sentimeter (laki-laki). Sedangkan berat badan idealnya adalah 9-14,8 kilogram (perempuan) dan 9,7-15,3 kilogram (laki-laki). Rata-rata anak usia 2 tahun akan bertambah tinggi 38 sentimeter dari panjangnya ketika lahir. Di usia ini pertumbuhannya pun lebih lambat tidak seperti ketika ia berumur 1 tahun. Sedangkan untuk berat badannya kira-kira 1,5 kilogram hingga 2,5 kilogram, dan rentang tingginya bertambah antara 13 sampai 2,5 sentimeter
Kekuatan otot dan keseimbangan Si Kecil akan lebih terasah. Perkembangan ini memungkinkan Si Kecil untuk berjalan lebih lancar, berlari secara perlahan, dan melakukan lompatan kecil. Kemampuan berkoordinasinya juga akan berkembang, sehingga di usia ini beberapa anak sudah bisa membuka pintu, mendorong meja, hingga berganti pakaian sendiri.
Sedangkan Kemampuan Motorik, anak sudah bisa menaiki tangga dengan perlahan, menendang bola, dan bisa berlari kecil. Pada sebagian anak bahkan bisa berdiri di atas jari-jari kaki atau berjinjit.
3. Umur 3 Tahun
Anak usia 3 tahun berat badannya naik sekitar 2 kilogram dan bertambah tinggi kurang lebih 8 sentimeter dibandingkan saat usianya 2 tahun. Anak pada usia ini pun banyak yang terlihat lebih kurus dan rata bentuk perutnya karena mereka sudah mengalami pertambahan tinggi. Pada usia ini pun gigi susu sudah lengkap.
Menurut Kementerian Kesehatan RI, tinggi badan ideal anak berusia tiga tahun adalah 87,4-102,7 sentimeter (perempuan) dan 88,7-103,5 sentimeter (laki-laki). Sedangkan berat badan idealnya adalah 10,8-18,1 kilogram (perempuan) dan 11,3-18,3 kilogram (laki-laki).
Pada usia ini kebanyakan anak sudah dapat menggunakan kedua tangan, namun ibu perlu menunjukkan preferensi yang jelas agar anak tidak bingung harus menggunakan tangan kanan atau kiri untuk beraktivitas. Di usia ini, kemampuan koordinasi antar otot juga sudah berkembang baik sehingga ia sudah bisa melakukan kegiatan beragam seperti mengayuh sepeda, menggunakan pensil, menggambar, dan aktivitas lainnya.
Sedangkan Kemampuan Motorik, anak sudah bisa berlari, memanjat, naik turun tangga sendiri, menendang bola, bersepeda, dan bermain lompat-lompatan. Mereka juga biasanya sudah bisa berpakaian sendiri, makan dengan garpu sendok, dan memegang pensil serte membolak balik halaman buku.
D. Perkembangan Bahasa
Bahasa (language) adalah kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara, mengkuti perintah dan dan berbicara spontan. Pada perkembangan bahasa diawali mampu menyebut hingga empat gambar, menyebut satu hingga dua warna, menyebutkan kegunaan benda, menghitung, mengartikan dua kata, meniru berbagai bunyi, mengerti larangan dan sebagainya. Bertambahnya kematangan otak dikombinasikan dengan peluang-peluang untuk menjelajahi dunia sekelilingnya dan sebagai penyumbang terbesar untuk lahirnya kemampuan kognitif anak. Sejumlah kemampuan anak, seperti belajar membaca adalah berkaitan dengan masukan dari mata anak yang ditransmisikan ke otak anak, kemudian melalui sistem yang ada di otak, menterjemahkannya kedalam kode huruf-huruf, kata-kata dan asosiasinya. Akhirnya akan dikeluarkan dalam bentuk bicara. Bakat bicara anak karena system otak diorganisasikan sedemikian rupa sehingga memungkinkan anak memproses sebagai bahasa. Anak mulai pandai berbicara, sejalan dengan perkembangannya memahami sesuatu. Biasanya anak mulai berbicara sendiri,kemudian berkembang menjadi kemampuan untuk bertindak tanpa harus mengucapkannya. Dalam hal ini anak telah menginternalisasikan pembicaraan yang egosentris dalam bentuk berbicara sendiri menjadi pemikiran anak. Hal ini merupakan suatu transisi awal untuk dapat lebih berkomunikasi secara sosial.Adapun Aspek perkembangan bicara dan bahasa anak usia 2-3 tahun dapat dilihat pada table berikut: | Usia | Kemampuan Bicara dan Bahasa |
| 12-36 bulan (1-3 tahun) | Bahasa yang dipergunakan dapat dimengerti orang lain, meskipun masih sering membuat kesalahan |
| Menyebutkan tiga buah angka yang berurutan |
| Umumnya kalimat terdiri dari 4 sampai 5 kata |
| Menggunakan kata aku atau saya untuk menunjuk dirinya |
| Dapat menyebutkan namanya sendiri |
| Kosa kata berjumlah lebih dari 1000 kata |
| Memberi jawaban yang relevan jika ditanya |
| Dapat melakukan 2 sampai 4 kegiatan dengan instruksi yang berhubungan |
| Mengerti arti hubungan jika menggunakan kata “kalau……”, ”kemudian……” dan “karena…..” |
| Mengerti konsep besar dan kecil, panjang dan pendek |
| Mulai mengerti kata yang menerangkan waktu seperti : “Besok kita akan ke rumah nenek” |
Anak pada usia ini sudah mengenal yang namanya bahasa, akan tetapi dia masi mengeja bahasa tersebut. Menurut Clara dan William Stern perkembangan bahasa dibagi menjadi empat masa, yaitu: 1. Satu kata (6 bulan-1 tahun). kata pertama yang diucapkan anak mulai dari suara-suara raban seperti yang sering kita dengar pada bayi. Meraban merupakan permainan dengan tenggorokan, mulut dan bibir supaya selaput suara lebih lembut. Dalam masa ini, anak cenderung mengucapkan pengulangan suara.
2. Memberi nama (1,5-2 tahun). Pada masa ini mulai timbul keinginan pada anak untuk mengetahui nama sebuah benda. Biasanya pertanyaan mereka mengenai nama suatu benda banyak sekali. Kalimat yang semula hanya satu kata itu makin lama bertambah sempurna. Disusul dengan kalimat dua kata, tiga kata sampai akhirnya dapat mengucapkan kalimat sempurna. Kadang-kadang ada gejala kesukaran berbicara. Hal ini disebabkan kemajuan pikiran dan perasaannya lebih cepat berkembang disbanding perkembangan bahasanya.
3. Kalimat tunggal ( 2-2,5 tahun). Bahasa dan bentuk kalimat makin baik dan sempurna. Anak telah menggunakan kalimat tunggal. Sekarang ia mulai menggunakan awalan dan akhiran yang membedakan bentuk dan warna bahasanya. Pada masa ini juga anak sering membuat kata-kata sendiri yang lucu kedengarannya.
4. Kalimat Majemuk (2,5 tahun dan seterusnya) Anak mengucapkan kalimat yang panjang dan makin bagus, bahkan mereka mulai menyatakan pendapat mereka dengan kalimat majemuk. Di masa ini pertanyaan yang mereka ajukan juga semakin banyak.
Dalam fase ini adalah yang paling optimal untuk member anak berbagai macam kosa kata setiap harinya, karena otak anak pada masa ini sangat mudah untuk mengambil dan menyimpan informasi. Peran orang tua sangat dibutuhkan karena dengan mengajak berkomunikasi anak maka kemampuan motoriknya akan semakin cepat berkembangnya, terlebih pada motorik halusnya.
Selanjutnya perkembangan dan pertumbuhan bahasa anak berdasarkan umur anak sebagai berikut: 1. Umur 1 tahun
Biasanya pada usia ini ia sudah bisa merespon pertanyaan yang diberikan ibu meskipun kosakata yang dimilikinya masih terbatas. Misalnya ia bisa menganggukan kepala atau menggoyangkan tangan untuk merespon pertanyaan. Ia juga sudah mencoba mengikuti kata-kata seperti mengucap “Mama” atau “Ibu”.
Sedangkan secara komunikasi anak sudah bisa mengucapkan kata pertamanya, bahkan menyatukan dua kata sekaligus. Misalnya "mama", "papa", "mama kemana", dan kata lainnya. Meskipun kosakatanya masih terbatas, di usia ini ia sudah bisa melakukan perintah sederhana yang diminta ibu. Misalnya memegang sendok sendiri, menumpuk balok mainan, dan perintah sederhana lainnya.
2. Umur 2 tahun
Pada usia ini, ia sudah memiliki 50 kosakata dan mengucapkan dengan cukup baik. Ia pun bisa mengatakan dua kata dalam 1 kalimat sekaligus, mengenal serta mengetahui nama benda dan bagian tubuh, ia juga sudah mulai bisa mengikuti perkataan orang dewasa.
Sedangkan secara komunikasi, beberapa anak sudah bisa menyatukan beberapa kata sekaligus meskipun masih terbata-bata. Anak masih menggunakan “bahasa bayi” atau kalimat yang tidak utuh saat berbicara. Misalnya “mbim” untuk mobil, “sawat” untuk pesawat, “mamam” untuk makan, dan kata-kata lainnya.
3. Umur 3 tahun
Anak semakin cepat belajar kata-kata baru dan sudah mengetahui segala benda di sekitarnya. Mereka juga mulai sering bertanya dan ingin tahu tentang banyak hal. Umumnya, anak usia ini sudah mengerti apa yang ia dengar meski belum bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Mereka juga sudah bisa menyatakan kalimat yang terdiri dari empat hingga lima kata.
Sedangkan secara komunikasi kemampuan bahasa anak sudah meningkat seiring pertambahan usia. Sehingga di usia ini, ia sudah bisa berbicara dalam kalimat singkat. Inilah waktu yang tepat untuk ibu memperkenalkan huruf dan suara padanya.
E. Perkembangan Bermain
Secara garis besar tahapan bermain anak pada usia ini adalah:
1. Umur 0 – 1 tahun, anak bermain dengan diri sendiri, digunakannya kaki, tangan, suara, kemudian alat mainan.\
2. Umur 1 – 2 tahun, anak bermain dengan menirukan sesuatu
3. Umur 2 – 2 tahun, anak bermain sendiri tetapi ada dorongan untuk bersama orang lain. F. Perkembangan Menggambar
Menggambar adalah kegiatan manusia untuk mengungkapkan apa yang dirasakan dan dialaminya baik mental maupun visual dalam bentuk garis dan warna. Menggambar adalah proses mengungkapkan ide-ide, angan-angan, perasaan, pengalaman dan yang dilihatnya dengan menggunakan jenis peralatan menggambar tertentu. Namun secara luas, menggambar adalah kegiatan berkarya yang berwujud dwi matra/ dua dimensi, sebagai perwujudan tiruan yang menyerupai sesuatu (orang, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan lainnya), termasuk juga lukisan, karya cetak, foto, dan sejenisnya. Dalam arti sempit, menggambar adalah kegiatan untuk mewujudkan angan-angan (pikiran, perasaan) berupa hasil goresan benda runcing (pensil, pena, crayon, kapur, dan lain-lain) pada permukaan bidang datar (kertas, papan, dinding, dan sebagainya. Masa Perkembangan Seni Rupa Anak (menggambar) Menurut Viktor Lowenfeld Dan Lambert Brittain adalah: 1. Masa Mencoreng (scribbling) : 2-4 tahun
Goresan-goresan yang dibuat anak usia 2-4 tahun belum menggambarkan suatu bentuk objek. Pada awalnya, coretan hanya mengikuti perkembangan gerak motorik. Biasanya, tahap pertama hanya mampu menghasilkan goresan terbatas, dengan arah vertikal atau horizontal. Hal ini tentunya berkaitan dengan kemampuan motorik anak yang masih mengunakan motorik kasar. Kemudian, pada perekembangan berikutnya penggambaran garis mulai beragam dengan arah yang bervariasi pula. Selain itu mereka juga sudah mampu mambuat garis melingkar. Periode ini terbagi ke dalam tiga tahap, yaitu: corengan tak beraturan, corengan terkendali, dan corengan bernama. Ciri gambar yang dihasilkan anak pada tahap corengan tak beraturan adalah bentuk gembar yang sembarang, mencoreng tanpa melihat ke kertas, belum dapat membuat corengan berupa lingkaran dan memiliki semangat yang tinggi.
Corengan terkendali ditandai dengan kemampuan anak menemukan kendali visualnya terhadap coretan yang dibuatnya. Hal ini tercipta dengan telah adanya kerjasama antara koordiani antara perkembangan visual dengan perkembamngan motorik. Hal ini terbukti dengan adanya pengulangan coretan garis baik yang horizontal , vertical, lengkung , bahkan lingkaran.
Corengan bernama merupakan tahap akhir masa coreng moreng. Biasanya terjadi menjelang usia 3-4 tahun, sejalan dengan perkembangan bahasanya anak mulai mengontrol goresannya bahkan telah memberinya nama, misalnya: “rumah”,“mobil”, “kuda”.
2. Masa Prabagan (preschematic) : 4-7 tahun
Kecenderungan umum pada tahap ini, objek yang digambarkan anak biasanya berupa gambar kepala-berkaki. Sebuah lingkaran yang menggambarkan kepala kemudian pada bagian bawahnya ada dua garis sebagai pengganti kedua kaki. Ciri-ciri yang menarik lainnya pada tahap ini yaitu telah menggunakan bentuk-bentuk dasar geometris untuk memberi kesan objek dari dunia sekitarnya. Koordinasi tangan lebih berkembang. Aspek warna belum ada hubungan tertentu dengan objek, orang bisa saja berwarna biru, merah, coklat atau warna lain yang disenanginya.
Penempatan dan ukuran objek bersifat subjektif, didasarkan kepada kepentingannya. Ini dinamakan dengan “perspektif batin”. Penempatan objek dan penguasan ruang belum dikuasai anak pada usia ini.
3. Masa Bagan (schematic period) : 7-9 tahun
Konsep bentuk mulai tampak lebih jelas. Anak cenderung mengulang bentuk. Gambar masih tetap berkesan datar dan berputar atau rebah (tampak pada penggambaran pohon di kiri kanan jalan yang dibuat tegak lurus dengan badan jalan, bagian kiri rebah ke kiri, bagian kanan rebah ke kanan). Pada perkembangan selanjutnya kesadaran ruang muncul dengan dibuatnya garis pijak (base line).
Penafsiran ruang bersifat subjektif, tampak pada gambar “tembus pandang” (contoh: digambarkan orang makan di ruangan, seakan-akan dinding terbuat dari kaca). Gejala ini disebut dengan idioplastis (gambar terawang, tembus pandang). Misalnya gambar sebuah rumahyang seolah-olah terbuat dari kaca bening, hingga seluruh isi di dalam rumah kelihatan dengan jelas.
4. Masa Realisme Awal (Dawning Realism) : 9-12 tahun
Pada periode Realisme Awal, karya anak lebih menyerupai kenyataan. Kesadaran perspektif mulai muncul, namun berdasarkan penglihatan sendiri. Mereka menyatukan objek dalam lingkungan. Perhatian kepada objek sudah mulai rinci. Namun demikian, dalam menggambarkan objek, proporsi (perbandingan ukuran) belum dikuasai sepenuhnya. Pemahaman warna sudah mulai disadari. Penguasan konsep ruang mulai dikenalnya sehingga letak objek tidak lagi bertumpu pada garis dasar, melainkan pada bidang dasar sehingga mulai ditemukan garis horizon. Selain dikenalnya warna dan ruang, penguasaan unsur desain seperti keseimbangan dan irama mulai dikenal pada periode ini. Ada perbedaan kesenangan umum, misalnya: anak laki-laki lebih senang kepada menggambarkan kendaraan, anak perempuan kepada boneka atau bunga.
5. Masa Naturalisme Semu (Pseudo Naturalistic) : 12-14 tahun
Pada masa naturalisme semu, kemampuan berfikir abstrak serta kesadaran sosialnya makin berkembang. Perhatian kepada seni mulai kritis, bahkan terhadap karyanya sendiri. Pengamatan kepada objek lebih rinci.
6. Masa Penentuan (Period of Decision) : 14-17 tahun.
Pada periode ini tumbuh kesadaran akan kemampuan diri. Perbedaan tipe individual makin tampak. Anak yang berbakat cenderung akan melanjutkan kegiatannya dengan rasa senang, tetapi yang merasa tidak berbakat akan meninggalkan kegiatan seni rupa, apalagi tanpa bimbingan. Dalam hal ini peranan guru banyak menentukan, terutama dalam meyakinkan bahwa keterlibatan manusia dengan seni akan berlangsung terus dalam kehidupan. Seni bukan urusan seniman saja, tetapi urusan semua orang dan siapa pun tak akan terhindar dari sentuhan seni dalam kehidupannya sehari-hari.
G. Perkembangan Kognisi
Definisi Perkembangan kongitif adalah suatu proses berpikir berupa kemampuan untuk menghubungkan, menilai dan mempertimbangkan sesuatu. Perkembangan kognitif anak usia 1-3 tahun yang akan disajikan disini dipisah menjadi perkembangan kognitif anak usia 1-2 tahun selanjutnya usia 2-3 tahun. Dijelaskan sebagai berikut: 1. Perkembangan Kognitif Anak Usia 1 – 2 Tahun (12 – 24 bulan)
Sewaktu lahir, berat otak anak sekitar 27% berat otak orang dewasa. Pada usia 2 tahun, berat otak anak sudah mencapai 90% dari berat otak orang dewasa (sekitar 1200 gram). Hal ini menunjukkan bahwa pada usia ini, masa perkembangan otak sangat pesat. Pertumbuhan ini memberikan implikasi terhadap kecerdasan anak.
Pada usia 1 – 2 tahun, anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Pada usia ini, anak mengembangkan rasa keingintahuannya melalui beberapa hal berikut ini: a. Belajar melalui pengamatan/ mengamati
Mulai usia 13 bulan, anak sudah mulai mengamati hal-hal di sekitarnya. Banyak “keajaiban” di sekitarnya mendorong rasa ingin tahu anak. Anak kemudian melakukan hal-hal yang sering dianggap bermain, padahal anak sedang mencari tahu apa yang akan terjadi kemudian setelah anak melakukan suatu hal sebagai pemuas rasa ingin tahunya. Pada usia 19 bulan, anak sudah dapat mengamati lingkungannya lebih detail dan menyadari hal-hal yang tidak semestinya terjadi berdasarkan pengalamannya.
b. Meniru orang tua
Anak belajar dari lingkungan sekitarnya. Sekitar usia 17 bulan, anak sudah mulai mengembangkan kemampuan mengamati menjadi meniru. Hal yang ditirunya adalah hal-hal yang umumnya dilakukan orangtua. Pada usia 19 bulan, anak sudah banyak dapat meniru perilaku orangtua.
c. Belajar konsentrasi
Pada usia 14 bulan, anak sudah mengarahkan daya pikirnya terhadap suatu benda. Hal ini dapat dilihat pada ketekunan anak dengan satu mainan atau satu situasi. Kemampuan anak untuk berkonsentrasi tergantung pada keadaan atau daya tarik berbagai hal yang ada di sekelilingnya. Kemampuan anak untuk berkonsentrasi pada usia ini adalah sekitar 10 menit.
d. Mengenal anggota badan
Pada usia sekitar 15 bulan, anak sudah dapat diajarkan untuk mengucapkan kata-kata. Anak-anak akan merasa sangat senang jika orangtua mengajarkan kata-kata yang bernamakan anggota tubuhnya sambil menunjukkan anggota tubuhnya.
e. Memahami bentuk, kedalaman, ruang dan waktu
Pada tahun kedua, anak sudah memiliki kemampuan untuk memahami berbagai hal. Melalui pengamatannya, anak menemukan adanya bentuk, tinggi atau rendah benda (kedalaman) dan membedakan kesempatan berdasarkan tempat (ruang ) dan waktu. Pemahaman ini mulai tampak pada usia 18 – 24 bulan.
f. Mulai mampu berimajinasi
Kemampuan berimajinasi atau membentuk citra abstrak berkembang mulai usia 18 bulan. Anak sudah mulai menampakkan kemampuan untuk memikirkan benda yang tidak dilihatnya.
g. Mampu berpikir antisipatif
Kemampuan ini mulai tampak pada anak usia 21 – 23 bulan. Anak tidak sekedar mengimajinasikan benda yang tidak ada di hadapannya, lebih jauh lagi dia mulai dapat mengantisipasi dampak yang akan terjadi pada hal yang dilakukannya.
h. Memahami kalimat yang terdiri dari beberapa kata
Pada usia 12 – 17 bulan, anak sudah dapat memahami kalimat yang terdiri atas rangkaian beberapa kata. Selain itu, anak juga sudah dapat mengembangkan komunikasi dengan menggunakan gerakan tubuh, tangisan dan mimik wajah.
Pada usia 13 bulan, anak sudah mulai dapat mengucapkan kata-kata sederhana seperti “mama” atau “papa”. Pada usia 17 bulan, umumnya anak sudah dapat mengucapkan kata ganti diri dan merangkainya dengan beberapa kata sederhana dan mengutarakan pesan-pesan seperti: “ Adik mau susu.”
i. Cepat menangkap kata-kata baru
Pada usia 18 – 23 bulan, anak mengalami perkembangan yang pesat dalam mengucapkan kata-kata. Perbendaharaan kata anak-anak pada usia ini mencapai 50 kata. Selain itu, anak sudah mulai sadar bahwa setiap benda memiliki nama sehingga hal ini mendorongnya untuk melancarkan kemampuan bahasanya dan belajar kata-kata baru lebih cepat.
2. Perkembangan Kognitif Anak Usia 2 – 3 Tahun (24 – 36 Bulan)
Kemampuan kognitif anak usia 2 – 3 tahun semakin kompleks. Perkembangan anak usia 2 – 3 tahun ditandai dengan beberapa tahap kemampuan yang dapat dicapai anak, yaitu sebagai berikut : a. Berpikir simbolik.
Anak usia 2 tahunan memiliki kemampuan untuk menggunakan simbol berupa kata-kata, gambaran mental atau aksi yang mewakili sesuatu. Salah satu bentuk lain dari berpikir simbolik adalah fantasi, sesuatu yang dapat digunakan anak ketika bermain.
Mendekati usia ketiga, kemampuan anak semakin kompleks, dimana anak sudah mulai menggunakan obyek subtitusi dari benda sesungguhnya. Misalnya anak menyusun bantal- bantal sehingga menyerupai mobil dan dianggapnya sebagai mobil balap.
b. Mengelompokkan, mengurut dan menghitung.
Pada tahun ketiganya, anak sudah dapat mengelompokkan mainannya berdasarkan bentuk, misalnya membedakan kelompok mainan mobil-mobilan dengan boneka binatang. Selain mengelompokkan, anak juga mampu menyusun balok sesuai urutan besarnya dan mengetahui perbedaan antara satu dengan beberapa (kemampuan menghitung).
c. Meningkatnya kemampuan mengingat
Kemampuan mengingat anak akan meningkat pada usia 8 bulan hingga 3 tahun. Sekitar usia 2 tahun, anak dapat mengingat kembali kejadian-kejadian menyenangkan yang terjadi beberapa bulan sebelumnya.
Mereka juga dapat memahami dan mengingat dua perintah sederhana yang disampaikan bersama-sama. Memasuki usia 2,5 hingga 3 tahun, anak mampu menyebutkan kembali kata-kata yang terdapat pada satu atau dua lagu pengantar tidur.
d. Berkembangnya pemahaman konsep
Ketika mencapai usia 18 bulan, anak memahami waktu untuk pertama kalinya yaitu pemahaman “sebelum” dan “sesudah”. Selanjutnya pemahaman “hari ini”. Pada usia 2,5 tahun, anak mulai memahami pengertian “besok”, disusul dengan “kemarin” dan pengertian hari-hari selama seminggu di usia 3 tahun.
e. Puncak perkembangan bicara dan bahasa
Pada usia sekitar 36 bulan, perbendaharaan kata anak dapat mencapai 1000 kata dengan 80% kata-kata tersebut dapat dipahaminya. Pada usia ini biasanya anak mulai banyak berbicara mengenai orang-orang di sekelilingnya, terutama ayah, ibu dan anggota keluarga lainnya.
H. Perkembangan Psikososial
Perkembangan psikososial adalah perkembangan yang berkaitan dengan aspek-aspek psikologis seperti emosi, motivasi, dan perkembangan pribadi, serta perubahan dalam bagaimana individu berhubungan dengan orang lain.
Aspek psikososial berkaitan dengan kemampuan anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya sebagai contoh adalah kemampuan anak untuk menyapa dan bermain bersama teman sebayanya. Tahap ini merupakan tahap perkembangan yang dipengaruhi oleh faktor sosial dan kultur atau budaya. Menurut Erikson perkembangan psikososial didasarkan atas prinsip Epigenetik yakni bahwa perkembangan manusia itu terbagi atas beberapa tahap dan setiap tahap mempuyai masa optimal atau masa kritis yang harus dikembangkan dan diselesaikan. Menurutnya dalam tiap tahap kehidupan individu tersebut, terdapat tugas-tugas perkembangan penting yang perlu diselesaikan dengan baik. Keberhasilan individu dalam menyelesaikan suatu tugas perkembangan awal akan menjadi dasar bagi tugas perkembangan selanjutnya, sehingga kemungkinan individu untuk dapat menyelesaikan tugas berikutnya akan lebih besar. Namun sebaliknya, kegagalan individu dalam menyelesaikan tugas dalam suatu tahap perkembangan akan cenderung menghambat individu dalam menyelesaikan tugas perkembangan pada tahap selanjutnya. Seorang anak harus melewati tahapan perkembangan psikososial ini secara urut dan masing-masing tahapan harus diselesaikan dengan baik demi tercapainya tugas perkembangan yang berikutnya. Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan psikososial merupakam suatu perkembangan yang terjadi pada tiap individu yang terbagi atas tahap-tahap tertentu. Perkembangan ini sangat erat hubungannya dengan kemampuan individu atau anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Menurut Sigmund Freud, perkembangan psikososial anak dibagi menjadi: 1. Fase Oral
Pada tahap ini aktivitas anak lebih banyak melibatkan mulutnya (sumber utama kenyamanan). Fase ini berlangsung dari masa bayi sampai umur satu tahun. Fase ini merupakan fase dasar dalam perkembangan psikososial anak. Pada fase ini semua tugas perkembangan hendaknya dapat terselesaikan dengan sempurna karena jika tidak akan berakibat pada tugas perkembangan berikutnya, yaitu anak akan cenderung bergantung pada orang lain dan menolak untuk mandiri.
2. Fase Anal
Fase ini berlangsung saat anak berusia 1-3 tahun. Pada masa ini anak mulai meperlihatkan rasa ke-AKU-annya, sikapnya cenderung egois. Ia mulai mengenal tubuhnya sendiri dan mendapatkan kepuasan dari pengalaman auto-erotiknya. Sesuai dengan namanya, fase anal, salah satu tugas anak adalah latihan kebersihan atau disebut “toilet training”. Apabila terjadi gangguan pada fase ini maka akan menimbulkan kepribadian yang obsesif-kompulsif seperti keras kepala, kikir, kejam dan tempertantrum.
3. Fase Oedipal/Falik
Biasanya terjadi pada anak usia 3-6 tahun. Anak mulai bisa merasakan dorongan seksualitas yang kemudian ditujukan kepada orang tua yang jenis kelaminnya berbeda dengannya. Namun hal ini tidak berlangsung lama. Selanjutnya anak akan sadar sendiri dan berusaha untuk belajar menahan diri serta menyesuaikan diri. Dalam penyesuaian diri ini anak akan cenderung dekat dengan orang tua ataupun teman bermainnya yang jenis kelaminnya sama dengannya. Pada saat inilah dimulai proses identifikasi seksual. Terjadinya hambatan pada fase ini dapat mengakibatkan kesulitan dalam indentitas seksual dan bermasalah dengan otoritas, ekspresi malu, dan takut.
4. Fase Laten (masa sekolah)
Biasanya terjadi pada anak usia 7-12 tahun. Periode ini merupakan periode integrasi yang bercirikan anak harus berhadapan dengan berbagai macam tuntutan sosial seperti hubungan kelompok, pelajaran sekolah, konsep moral dan etik, dan hubungan dengan dunia dewasa.
5. Fase Genital
Dengan selesainya fase laten, maka sampailah anak pada fase terakhir dalam perkembangan, yaitu fase genital. Dalam fase ini anak dihadapkan dengan masalah yang kompleks dan ia diharapkan mampu bereaksi sebagai orang dewasa. Kesulitan yang sering timbul pada fase ini seringkali disebabkan karena si anak belum dapat menyelesaikan tahap perkembangannya secara tuntas.
Erikson memaparkan teori psikososial melalui konsep polaritas yang bertingkat/bertahapan. Ada 8 (delapan) tingkatan perkembangan yang akan dilalui oleh manusia yaitu:
1. Kepercayaan Dasar versus Kecurigaan Dasar (Trust vs mistrust)
2. Otonomi versus Perasaan Malu dan Keragu–raguan (autonomy vs shame & doubt)
3. Inisiatif versus Kesalahan (initiative vs guilt)
4. Kerajinan versus Inferioritas (industry vs inferiority)
5. Identitas versus Kekacauan Identitas (identity vs role confusion)
6. Keintiman versus Isolasi (intimacy vs isolation)
7. Generativitas versus Stagnasi
8. Integritas versus Keputusasaan. Menariknya bahwa tingkatan ini bukanlah sebuah gradualitas. Manusia dapat naik ketingkat berikutnya walau ia tidak tuntas padatingkat sebelumnya. Setiap tingkatan dalam teori Erikson berhubungan dengankemampuan dalam bidang kehidupan. Dalam setiap tingkat, Erikson percaya setiaporang akan mengalami konflik/krisis yang merupakan titik balik dalamperkembangan. Erikson berpendapat, konflik-konflik ini berpusat padaperkembangan kualitas psikologi atau kegagalan untuk mengembangkan kualitasitu. Selama masa ini, potensi pertumbuhan pribadi meningkat. Begitu juga dengan potensi kegagalan. Suatu keniscayaan bahwa pembelajaran sang anak bergantung pada lingkungan sekitarnya. Usai masa kelahiran akan terjadi suatu pembelajaran, hal ini terjadi disebabkan kegiatan elektrik neutron dikala sinapsis (koneksi). Ditinjau dari ilmu psikologi usia 3 tahun adalah usia emas dimana kemampuan segi kognitif anak begitu luar biasa bahkan mengalahkan usia dewasa. Pada usia tiga tahun awal apat dipahami bahwa bayi akan melalui 2 tahap:
1. Kepercayaan Dasar versus Kecurigaan Dasar (Trust vs mistrust)
Terjadi pada usia 0 - 18 bulan. Tingkat pertama teori perkembangan psikososial Erikson terjadi antara kelahiran sampai usia satu tahun dan merupakan tingkatan paling dasar dalam hidup. Oleh karena bayi sangat bergantung, perkembangan kepercayaan didasarkan pada ketergantungan dan kualitas dari pengasuh kepada anak. Jika anak berhasil membangun kepercayaan, dia akan merasa selamat dan aman dalam dunia. Pengasuh yang tidak konsisten, tidak tersedia secara emosional, atau menolak, dapat mendorong perasaan tidak percaya diri pada anak yang di asuh. Kegagalan dalam mengembangkan kepercayaan akan menghasilkan ketakutan dan kepercayaan bahwa dunia tidak konsisten dan tidak dapat di tebak.
Pada tahap ini anak mulai belajar percaya pada orang yang ada di sekitarnya. Namun sebaliknya, pada tahap ini pula anak dapat merasa tidak percaya pada orang lain, menarik diri dari lingkungan masyarakat, dan melakukan pengasingan diri. Pemenuhan kebuituhan pada tahap ini cenderung bersifat fisik, seperti pemenuhan kepuasan untuk makan dan mengisap, rasa hangat dan nyaman, cinta dan rasa aman. Semua pemenuhan ini akan menimbulkan sebuah kepercayaan pada diri anak terhadap orang lain. Sebaliknya jika kepuasan ini tidak terpenuhi maka akan mengakibatkan perasaan curiga, rasa takut, dan tidak percaya pada orang lain. Hal ini ditandai dengan perilaku makan, tidur dan eliminasi yang buruk. 2. Otonomi versus Perasaan Malu dan Keragu–raguan (autonomy vs shame & doubt)
Terjadi pada usia 18 bulan sampai 3 tahun. Tingkat ke dua dari teori perkembangan psikososial Erikson ini terjadi selama masa awal kanak-kanak dan berfokus pada perkembangan besar dari pengendalian diri. Seperti Freud, Erikson percaya bahwa latihan penggunaan toilet adalah bagian yang penting sekali dalam proses ini. Tetapi, alasan Erikson cukup berbeda dari Freud. Erikson percaya bahwa belajar untuk mengontrol fungsi tubuh seseorang akan membawa kepada perasaan mengendalikan dan kemandirian. Kejadian-kejadian penting lain meliputi pemerolehan pengendalian lebih yakni atas pemilihan makanan, mainan yang disukai, dan juga pemilihan pakaian. Anak yang berhasil melewati tingkat ini akan merasa aman dan percaya diri, sementara yang tidak berhasil akan merasa tidak cukup dan ragu-ragu terhadap diri sendiri.
Pada tahap ini menentukan tumbuhnya kemauan baik dan kemauan keras, anak mempelajari apakah yang diharapkan dari dirinya, apakah kewajiban dan hak–haknya yang disertai pembatasan–pembatasan yang dikenakan pada dirinya. Inilah tahap saat berkembangnya kebebasan pengungkapan diri dan sifat penuh kasih sayang, rasa mampu mengendalikan diri yang pada akhirnya akan menimbulkan rasa percaya diri pada anak. Konsekuensi apabila kepuasan pada tahap ini tidak terpenuhi adalah anak akan menjadi individu yang pemalu. Perkembangan psikososial pada usia tiga tahun awal sangat ditunjang oleh pola asuh dari sang pengasuh/ orang tua. Pola asuh yang diterapkan perlu adanya kecermatan dengan menggunakan pola asuh yang positif. Sebagaimana harapan semua orang tua pasti menginginkan anaknya kelak menjadi pribadi yang sukses pada masa depan.
I. Penutup
Demikianlah isi makalah ini, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan bisa dijadikan bahan diskusi. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk penyempurnaan makalah ini terutama kepada dosen pembimbing. Penulis berharap dengan adanya makalah ini, pembaca mampu memahami perkembangan-perkembangan yang terjadi pada masa pencoba ini.
J. Daftar Kepustakaan
Hidayat, Aziz Alimul. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta: Salemba Medika, 2005.
Nirwana, Ade Benih. Psikologi Bayi, Balita dan Anak. Jakarta : Nuha Medika, 2011.
Papalia, Diane E. & Olds, Sally Wendkos. Human Development. McGraw-Hill Book Company, 1989.
Hidayat, Aziz Alimul. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. (Jakarta: Salemba Medika, 2005), hlm. 25
Nirwana, Ade Benih. 2011. Psikologi Bayi, Balita dan Anak. Jakarta : Nuha Medika, 2011), hlm. 34-36.
Papalia, Diane E. & Olds, Sally Wendkos. Human Development. (McGraw-Hill Book Company, 1989). Terjemahan, hlm. 370.
Sangat membantu, izin copy ya bg
ReplyDeleteLengkap banget ini bg
ReplyDelete