A. Pendahuluan
Agama merupakan kebutuhan dasar manusia, karena agama merupakan sarana untuk membela diri terhadap segala kekacauan hidup manusia, hamper semua masyarakat menusia mempunyai agama.Akan tetapi di sisi lain banyak ditemui dalam catatan sejarah, konflik yang terjadi akibat keangkuhan manusia yang membawa agama sebagai kepentingan nagsunya, masjid-masjid indah, gereja-gereja megah, kuil-kuil dan pura mempesona, mengapa bumi bau amis darah akibat pertempuran antar agama. Kemana ajaran ihsan, ke mana ajaran tatwan asih, kemana ajaran kasih, kemana ajaran dharma. Mengapa tidak dihayati sebagai kekuatan pribadi untuk berbuat dan membangun kesejahteraan masyarakat dunia.
B. Hakikat konflik
Konflik berasal dari kata kerja Latin configereyang berarti
saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik berarti ketidaksepakatan dalam satu pendapat emosi dan tindakan dengan orang lain. Keadaan mental merupakan hasil impuls-impuls, hasrat-hasrat, keinginan-keinginan dan sebagainya yang saling bertentangan, namun bekerja dalam saat yang bersamaan. Konflik biasanya diberi pengertian sebagai satu bentuk perbedaan atau pertentangan ide, pendapat, faham dan kepentingan di antara dua pihak atau lebih. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawa sertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Kesimpulannya sumber konflik itu sangat beragam dan kadang sifatnya tidak rasional. Oleh karena kita tidak bisa menetapkan secara tegas bahwa yang menjadi sumber konflik adalah sesuatu hal tertentu, apalagi hanya didasarkan pada hal-hal yang sifatnya rasional.
Pada umumnya penyebab munculnya konflik kepentingan sebagai berikut: 1. perbedaan kebutuhan, nilai, dan tujuan,
2. langkanya sumber daya seperti kekuatan, pengaruh, ruang, waktu, uang, popularitas dan posisi, dan
3. persaingan
Ketika kebutuhan, nilai dan tujuan saling bertentangan, ketika sejumlah sumber daya menjadi terbatas, dan ketika persaingan untuk suatu penghargaan serta hak-hak istimewa muncul, konflik kepentingan akan muncul.
1. Perbedaan pendapat
Suatu konflik yang terjadi karena pebedaan pendapat dimana masing-masing pihak merasa dirinya benar, tidak ada yang maumengakui kesalahan, dan apabila perbedaan pendapat tersebut amat tajam maka dapat menimbulkan rasa kurang enak, ketegangan dan sebagainya.
2. Salah paham
Salah paham merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan konflik. Misalnya tindakan dari seseorang yang tujuan sebenarnya baik tetapi diterima sebaliknya oleh individu yang lain.
3. Ada pihak yang dirugikan
Tindakan salah satu pihak mungkin dianggap merugikan yang lain atau masing-masing pihak merasa dirugikan pihak lain sehingga seseorang yang dirugikan merasa kurang enak, kurang senang atau bahkan membenci.
4. Perasaan sensitif
Seseorang yang terlalu perasa sehingga sering menyalah artikan tindakan orang lain. Contoh, mungkin tindakan seseorang wajar, tetapi oleh pihak lain dianggap merugikan. C. Agama, konfik dan Integrasi Masyarakat
Agama, dalam kaitannya dengan masyarakat, mempunyai dampak positif berupa daya penyatu, dan dampak negative berupa daya pemecah. Perpecahan timbul manakala timbul penolakan terhadap pandangan hidup yang berbeda dalam agama. Perpecahan itu timbul disebabkan oleh klaim agama akan kemutlakan agamanya dan sering diekspresikan dalam bentuk-bentuk yang keras tanpa kompromi. Daya penyatudan pemecah itu berlangsung sejak awal pertumbuhan sampai mekarnya suatu agama guna mencapai sasaran yang lebih tinggi dengan cara peningkatan dan intensifikasi dalam tubuh masyarakat agama. Agama dan integrasi masyarakat terwujud dalam ajaran tidak dibenarkan memaksakan keyakinan dan kepercayaan kepada orang lain, selain dari sumber ajaran agama itu sendiri, ialah integrasi social yang didukung oleh adanya perasaan berkebudayaan satu seperti peringatan hari besar. D. Agama Sebagai Faktor Konflik Di Masyarakat
Di satu sisi agama dipandang oleh pemeluknya sebagai sumber moral dan nilai, sementara di sisi lain dianggap sebagai sumber konflik. Merujuk kepada istilah Afif Muhammad, “ agama acapkali menampakkan wajah diri sebagai sesuatu yang berwajah ganda”. Hal ini seperti yang disinyalir oleh Johan Effendi yang menyatakan bahwa agama pada suatu waktu memproklamirkan perdamaian, jalan menuju keselamatan, persatuan, dan persaudaraan, namun pada waktu yang lain menampakkan dirinya sebagai sesuatu yang garang dan menyebar konflik, bahkan tak jarang, seperti di catat dalam sejarah menimbulkan peperangan. Sebagaiman pandangan Afif Muhammad, Betty R. Scharf juga mengatakan bahwa agama juga mempunyai dua wajah yaitu.
1. Merupakan keenggaran untuk menyerah kepada kematian, menyerah dan menghadapi frustasi.
2. Menumbuhkan rasa permusuhan terhadap penghancuran ikatan-ikatan kemanusiaan, Fakta yang terjadi dalam masyarakat bahwa “Masyarakat” menjadi lahan tumbuh suburnya konflik. Bibitnya pun bias bermacam-macam. Bahkan, agama bias saja menjadi salah satu factor pemicu konflik yang ada di Masyarakat itu sendiri. E. Agama dan Induksi Konflik
Pada dasarnya, apabila merujuk kepada Alqur’an banyak indikasi yang menjelaskan adanya faktor konflik yang ada di masyarakat. Secara tegas Alqur’an menyebutkan bahwa faktor konflik itu sesungguhnya berawal dari manusia. Misalnya, dalam surah Yusuf Ayat 5 dijelaskan tentang adanya kekuatan pada diri manusia yang selalu beruusaja menarik dirinya untuk menyimpang dari nilai-nilai dan norms ilahi. Secara lebih tegas di sebutkan bahwa kerusakan bisa berbentuk kerusuhan, demonstrasi, dan lain-lain yang diakibatkan oleh tangan manusia; seperti dalam surah Ar Rum Ayat 41. Di mana ayat ini sebagai argumentasi bahwa penyebar konflik sesungguhnya adalah manusia. Oleh karena itu dalam pembicaraan ini akan melihat dari segi penganut agamanya, bukan agamanya, untuk mengidentifikasikan timbulnya konflik. Penganut suatu agama tentu saja manusia, dan manusia adalah bagian dari masyarakat / umat. Oleh karena itu, betul bahwa “Masyarakat / umat” akan menjadi lahan adanay konflik sebagaimana diisyaratkan dalam pertanyaan tentang teori konflik di atas.
Pembicaraan ini di mulai dari tataran penganut agamanya. Penganut agama adalah orang yang meyakini dan mempercayai suatu ajaran agama. Keyakinannya itu akan melahirkan bentuk perbuatan baik dan buruk, yang dalam term Islam di sebut “amal perbuatan”. Dari mana mereka meyakini bahwa suatu suatu perbuatan itu baik atau buruk. Keyakinan ini dimiliki dari rangkaian proses memahami dan mempelajari ajaran agama itu. Oleh karena itu, setiap penganut akan berbeda dan memiliki kadar interpretasi yang beragam dalam memahami ajaran agamanya, sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Akibat perbedaan pemahaman itu saja, cikal bakal konflik tidak bisa dihindarkan. Dengan demikian, pada sisi agama memiliki potensi yang dapat melahirkan berbagai bentuk konflik (intoleransi). Paling tidak, ada dua pendekatan untuk sampai pada pemahaman terhadap agama yaitu :
1. Agama dipahami sebagai suatu doktrin dan ajaran;
2. Agama dipahami sebagai aktualisasi dari doktrin tersebut yang terdapat dalam sejarah.
Nurcholish madjid menyebutkan kedua istilah itu dengan istilah Doktrin dan peradaban. Sedangkan Sayyed Hoessein Nasr, menyebutnya dengan istilah islam ideal dan Islam Realita. Oleh karena itu, wajah ganda seperti yang di istilahkan oleh Afif Muhammad, bisa dilihat dal mkedua pemahaman terhadap agama itu. Dalam ajaran atau doktrin agama, terdapat seruan utuk menuju keselamatan yang di barengi dengan kewajiban mengajak orang lain menuju keselamatan tersebut. Dan dalam pengalaman suatu ajaran agama (aktualisasi doktrin) oleh para pemeluknya, tampak kesenjangan jika dibandingkan dengan doktrin agamanya. Oleh Karena itu, dalam setiap agama, ada istilah “dakwah” meskipun dalam bentuk yang berbeda. Dakwah merupakan upaya mensosialisasikan (mengajak, menyeru) ajaran agama. Bahkan tidak jarang masing-masing agama menjustiifikasikan bahwa agamanyalah yang paling benar apabila kepentingan inni lebih dikedepankan, masing-masing agama akan berhadapan satu sama lain dalam menegakkan hak kebenarannya. Yang ini yang memunculkan adanya sentiment agama. Maka tidak mustahil benturanpun sulit agama. Misalnya, peristiwa perang salib antara umat Islam dan umat Kristen. Tragedy ini sangat kuat muatan agamanya dari pada politisnya. Kecenderungan sentiment agama diantara kedua umat tersebut menimbulkan konflik Yaang berkepanjangan dan menimbulkan banyak korban. Pada tataran ini tampaknya agama tidak hanya menjadi faktor pemersatu, tetapi juga faktor disintegratif. Faktor disintegratif timbul karena agam itu sendiri memiliki potensi yang melahirkan intoleransi (konflik), baik karena faktor internal ajaran agama itu sendiri maupun Karen faktor eksternalnya yang sengaja dilakukan oleh pihak-pihak tertentu dengan mengatasnamakan agama. Banyak contoh kasus yang bisa didekat berdasarkan teori dia atas. Di Indonesia misalnya kasus-kasus intoleransi agama lebih sering disebabkan oleh faktor eksternal yang bersifat dan bermuatan politis. Banyak kasus yang memicu adanya sejumlah kerusuhan diberbagai daerah, sering kita dengar dengan dalih mengatasnamakan agama. Seperti yang masih tersimpan dingatan kita yaitu kasus Situbondo, tasikmalaya, Kalimantan, lampung yang baru – baru ini yang sangat politis dan sangat terkait erat dengan bias kehidupan baragama.
Apalagi, tampaknya dalam perbendaharaan perpolitikan kita, ada kecenderungan agam disejajarkan dengan persoalan kesukuan dan rasisme. Dua hal iini sebetulnya mengandung kerawanan dan kepekaan yang sangat tinggi, yang kemudian mengundang benih-benih timbulnya kesektarianisme. Untuk contoh Yng paling baik dalam hal ini adalah kasus Dr. A.M Saefuddin. menteri Negara Pangan dan Holtikultura pada masa pemerintahan mantan presiden BJ. Habibie, A.M Saefuddin dianggap telah melecehkan salah satu agama, atas pernyataannya tentang “megawati pindah agama” menjadi agama hindu. Pernyataan itu dilontarkan oleh Saefuddin setelah ia menyaksikan seseorang yang menyaksikan seorang yang beragama islam ikut melakukan kegiatan ritual pada agama hindu di bali beberapa waktu yang sebelumnya. Akibatnya, dalam beberapa hari terjadi sejumlah demonstrasi, bahkan menjadi kerusushan mempersoalkan ucapan Saefuddin itu dianggap telah mengusik apa yang di sebut dengan istilah SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan). F. Cara Mengatasi Konflik Agama di Masyarakat
Dampak negatif agama berupa daya pemecah belah, konflik juga dapat dieliminir, dan sebaliknya, dampak positif agama berupa daya pemersatu dapat dibangun dan kembangkan. Mengingatkan hal-hal tersebut, sekaranglah saatnya mencari terobosan baru dalam rangka menciptakan iklim kehidupan beragama yang lebih harmonis dan penuh toleransi.
Pada sisi in di rasakan perlunya memandang istilah toleransi beragama. Sebab, setiap agam mengajarkan kasih saying dan toleransi. Sebenarnya, pemahaman dan pengamalann para para penganutnya yang seringkali membuat ajaran tersebut menjadi kabur. Ada beberapa langkah penting dan strategis untuk memupuk jiwa toleransi beragama dan membudayakan hidup rrukun antar umat beragma. Langkah- langkah berikut paling tidak akan meminimalisir konflik.
1. Menonjolkan segi-segi persamaan dalam agama; tidak memperdebatkan segi-segi perbedaan dalam agama.
2. Melakukan kegiatan sosial yang melibatkan par pemeluk agama yang berbeda.
3. Mengubah orientasi pendidikan agama yang menekankan aspek sektoral fiqhiyah menjadi pendidikan agama yang berorientasi pada pengembangan aspek universal – rabbaniyah.
4. Meningkatkan pembinaan individu yang mengarah pada terbentuknya pribadi yang memiliki budi pekerti yang luhur dan akhlakul kharima.
5. Menghindari jauh- jauh sikap egoism dalam beragama sehinngga mengklaim diri yang palinng benar. G. Perbedaan Doktrin Dan Sikap Mental
Konflik sebagai kategori sosiologis bertolak belakang dengan perdamaian dan kerukunan. Yang terakhir ini merupakan hasil dari proses asosiatif yaitu proses yang bersifat menyatukan, sedangkan yang pertama merupakan dari proses disasosiatif yaitu proses yang bersifat mencaraikan.Konflk melibatkan dua pihak yang berbeda agama, bukannya sebagai konstruksi kayal (konsepsional) melainkan sebagai fekta sejarah yang masih sering terjadi.
Perbedaan iman menimbulkan bentrokan. Tetapi harus diterima sebagai fakta yang diambil hikmah.Setiap pihak mempunyai gambaran tentang ajaran agamanya. Dalam skala penilaian yang dibuat (subjektif) nilai tertinggi selalu diberikan kepada agamanya sendiri dan agamanya sendiri selalu diajadikan patokan (refernce group).
Apologetika adalah bagian dari teologi yang membela dan mempertahankan kebenaran agama yang diimaninya terhadap serangan dari dalam maupun dari luar.Ciri konfrontatif dariapologetika adalah jika memulai metode antitesis maka ditonjolkan kekurangan dan kelemahan agama lain.Apabila menggunakan metode positivo- tesis maka kebenaran dan sepertanyaan Allah dalam kitab suci yang dipercayainya, tanpa menjelekkan agama dengan menyerang kitab suci mereka dan tidak melukai hati orang lain.Apologi yang konfrontatif bertujuan untuk mencari menang sendiri dengan mengalahkan pihak lain belum pernah menghasilakn buah positif.
Ajaran agama pada umumnya membentuk sikap yang baik / persaudaraan, cinta kasih, dan yang sangat membantu ketentraman dan keamanan masayarakat.tiap umat beragama mempunyai keyakinan bahwa agamanya yang paling benar maka mereka mejadi sombong, merasa lebih tinggi dari pada semua pemeluk agama yang lain.Denag kaca mata superior, si penyombong itu memandang sesuatu yang ada pada golongan agama lain serba bodoh dan serba salah.Keseluruhan komplek jiwa itu disebut dengan istilah prasangaka / prejudice.Hal ini memang sering terjadi dalam masyarakat dengan agama heterogen, dimana kelompok agama luar atau out group menjadi korban. H. Perbedaan suku dan ras pemeluk agama.
Perbedaan suku dan ras berkat adanya agama bukan menjadi penghalang untuk menciptakan hidup persaudaraan yang rukun.Asumsi yang terkenal dan mengundang banyak sanggahan yang gigih adalah dari Arthur de Gobineau yang menyatakan bahwa ras kulit putih merupakan ras tertinggi bangsa manusia. Namun kenyataan sejarah tidak dapat dibantah bahwa ras kulit putih sejak awal masehi memeluk agam kristen yang nantinya oleh marx weber dinyatakan sebagai kekuatan yang mendatangkan kemajuan dalam berbagai sektor peradaban khususnya kapitalisme dan teknologi.
Ada ketegangan yang terjadi selama berabad-abad antara kulit putih yang beragama kristen khususnya di Amerika Utara dan Afrika Selatan masih menjalankan politik dikriminasi ras terhadap ras kulit hitam (negro).Tindakan tercela itu dilakukan bukan karena kurangnya pengetahuan tentang jahatnya diskriminasi itu. I. Perbedaan tingkat kebudayaan.
Kemajuan kebudayaan bangsa didunia dibedakan menjadi dua yaitu kebudayaan yang tinggi dan kebudayaan yang rendah, meskipun pembagian dikotonis dan simplitis ini menenggelamkan nuansa kekayaan kultural.Adanya ketegangan antara bangsa berbudaya tinggi dan yang rendah tidak dapat dilepaskan dari pertanggung jawaban agama yang dianut oleh bangsa yang bersangkutan.Sacara moral agama tidak bisa cuci tangan atas terjadinya jurang diskriminatif antara bangsa yang maju dan terbelakang.
Agama merukapakan motor dan promotor penting bagi pembudayaan manusia khususnya dan alam semesta umumnya. Masyarakat dan kebudayaan merupakan usaha manusia untuk membangun dunianya.Bukan agama sendiri yang mebangun dunia tetapi manusia yang berinspirasi pada agama yang dipeluknya.Ekstenalisasi berarti penyerahan diri manusia terus menerus kedalam dunia baik dalam kegiatan fisik maupun mental yang kemudian nampak dihadapan pembuatnya sebagai fasilitas lahiriah yang lain dari aslinya.Internalisasi adalah kepemilikan kembali realitas yang sama,mengubahnya sekali lagi dalam struktur dunia objektif ke struktur dunia kesadaran.Menurut Faohry Ali, untuk menelaah agama metode yang paling tepat untuk digunakan adalah metode fenomenologis.Peter L. Burger menyatakan bahwa agama masih memainkan perannya yang strategis dalam usaha manusia membangun dunianya.
J. Masalah Mayoritas dan Minoritas Golongan Agama.
Hubungan antar kedua golongan tersebut sering diungkapkan dengan istilah diktatus mayoritas dan terror minoritas.Agama-agama besar didunia tidak selalu memiliki penagnut yang besar juga.Hubungan mayoritas-minoritas membawa dampak ditingkat nasional, misalnya diAceh,Jawa Barat, Sulawesi, minoritas Kristen yang mengalami kerugian fisik yaitu adanya pengusakan atau pembakaran gedung peribadatan.Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan masalah konflik anatr golonagn yaitu : agama diubah menjadi ideologi, prasangka mayoritas terhadap minoritas dan sebaliknya, mitos dari mayoritas.Selanjutnya ada beberapa golongan minoritas yang perlu kita perhatikan,hal ini disebabkan karena kalau melalui saluran hukum golongan ini tidak dapat berbuat apa-apa,namun diluar hukum atau dalam tindak lawan hukum maka golongan ini sangatlah agresif.
1. Golongan minoritas menyadari dirinya sebagai kelompok religius yang lemah, mereka menjauhkan diri kedaerah yang terpencil misalnya susku tengger di jawa timur dan suku badui di jawa barat.
2. Golongan minoritas tidak menyadari dirinya sebagai kelompok yang kompak.
3. Golongan minoritas agama yang memilki kesadran tinggi atas kedudukannya dalam masyarakat.
4. Golongan minoritas yang berideologi marxis menurut catatan sejarah mencetuskan reaksinya terhadap mayoritas dengan cara tersendiri. K. Kesimpulan
Konflik yang ada di masyarakat adalah akibat dari ulah manusia sendiri sebagaimana di jelaskan dalam al-qur’an surat yusuf ayat 5 dan surat al-rum ayat 41 untuk mencapai pemahaman dalam agama diperlukan dua pendekatan :
Pertama : agama di fahami sebagai suatu doktrin dan ajaran.
Kedua : agama di fahami sebagai aktualisasi dari doktrin.
Agama acap kali menampakkan diri sebagai sesuatu yang berwajah ganda”. Sebagaimana yang disinyalir oleh John Effendi yang menyatakan bahwa Agama pada sesuatu waktu memproklamirkan perdamaian namun pada waktu yang lain menempatkan dirinya sebagai sesuatu yang di anggap garang dan menyebar konflik.
DAFTAR PUSTAKA
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️