MAKALAH ISLAM DAN KEMANUSIAAN

Baca Juga



A.    Pendahuluan
Islam menjadi tugas untuk menciptakan perdamaian di dunia ini dengan menegakkan persaudaraansemua agama di dunia, menghimpun kebenaran-kebenaran yang terdapat dalam agama-agama yang dulu, betulkan ajaran yang salah, mengganti yang palsu dengan yang benar, mengajarkan kebajikan abadi yang dulu belum pernah diajarkan karena keadaan-keadaan khusus dari tiap ras dan masyarakat dari tingkatan perkembangannya, dan akhirnya mengajarkan tuntunan-tuntunan moral, kemanusiaan dan spritual bagi kemajuan ummat manusia.
B.     Manusia dalam Pandangan Islam
Sejak lama al-Qur’an menginformasikan bahwa manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang memiliki dua unsur yaitu fisik dan non fisik.[1]Manusia menurut terminologi al-Qur’an dapat dilihat dari berbagai sudut pandang yaitu
1.      Manusia disebut Basyar yaitu memiliki dorongan primer yaitu makan, minum, dan lain-lain. Seperti firman Allah
tA$s)sù (#àsn=yJø9$#tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. `ÏB ¾ÏmÏBöqs% $tB !#x»yd žwÎ)׎|³o0 ö/ä3è=÷WÏiB ߃̍ムbr& Ÿ@žÒxÿtGtƒ öNà6øn=tæ öqs9ur uä!$x© ª!$#tAtRV{ Zps3ͳ¯»n=tB$¨B $uZ÷èÏJy #x»pkÍ5þÎû$uZͬ!$t/#uätû,Î!¨rF{$# ÇËÍÈ
Artinya “ Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang Ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih Tinggi dari kamu. dan kalau Allah menghendaki, tentu dia mengutus beberapa orang malaikat. belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) Ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.” [2]

2.      Manusia disebut Insan yaitu manusia memiliki potensi untuk mengembangkan ilmu dan menggambarkan sifaf-sifat serta tanggungjawab seperti khilaf, lupa, tergesa-gesa dan lain sebagainya. Firman Allah
#sŒÎ)ur ¡§tBz`»|¡RM}$# ŽØ9$# $tR%tæyŠÿ¾ÏmÎ7/YyfÏ9÷rr&#´Ïã$s%÷rr&$VJͬ!$s% $£Jn=sù $uZøÿt±x. çm÷Ztã ¼çn§ŽàÑ §tBbr(Ÿ2 óO©9!$oYããôtƒ 4n<Î) 9hŽàÑ ¼çm¡¡¨B 4 y7Ï9ºxx. z`Îiƒã tûüÏùÎŽô£ßJù=Ï9 $tB (#qçR%x.šcqè=yJ÷ètƒ ÇÊËÈ
“ Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk (menghilangkan) bahaya yang Telah menimpanya. begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” [3]
3.      Manusia disebut An-Nas yaitu manusia bersifat sosial adalah bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri dan harus mempunyai hubungan dengan orang lain dan memiliki beban tanggungjawab sosial baik dalam bentuk lingkungan kecil atau disebut juga keluarga serta bentuk lingkungan yang besar seperti masyarakat bangsa dan negara.
4.      Manusia disebut Bani Adam yaitu karena manusia terdiri dari berbagai etnis dan bangsa yang berbeda-beda. [4]
C.    Pengertian Kemanusiaan
Kehidupan dinyatakan dalam kerja atau amal perbuatanya. Nilai- nilai tidak dapat dikatakan hidup dan berarti sebelum menyatakan diri dalam kegiatan-kegiatan amaliah yang kongkrit. Nilai hidup manusia tergantung kepada nilai kerjanya. Di dalam dan melalui amal perbuatan yang berperikemanusiaan (fitrah sesuai dengan tuntutan hati nurani) manusia mengecap kebahagiaan, dan sebaliknya di dalam dan melalui amal perbuatan yang tidak berperikemanusiaan (jihad) ia menderita kepedihan. Hidup yang pernuh dan berarti ialah yang dijalani dengan sungguh-sungguh dan sempurna, yang didalamnya manusia dapat mewujudkan dirinya dengan mengembangkan kecakapan-kecakapan dan memenuhi keperluan-keperluannya. Manusia yang hidup berarti dan berharga ialah dia yang merasakan kebahagiaan dan kenikmatan dalam kegiatan-kegiatan yang membawa perubahan kearah kemajuan-kemajuan baik yang mengenai alam maupun masyarakat yaitu hidup berjuang dalam arti yang seluas-luasnya. Dia diliputi oleh semangatmencari kebaikan, keindahan dan kebenaran. Dia menyerap segala sesuatu yang baru dan berharga sesuai dengan perkembangan kemanusiaan dan menyatakan dalam hidup berperadaban dan berkebudayaan.[5]
D.    Kemanusiaan Dalam Islam
Jika kita perhatikan sebenarnya Islam tidak bertentangan dengan ajaran kemanusiaan. Tugas besar Islam, sejatinya adalah melakukan perubahan sosial dan budaya-budaya dengan nilai-nilai Islam. Kita mengenal adanya konsep ”Iman-Ilmu-Amal” ; artinya iman berujung pada amal/aksi, atau tauhid itu harus diterapkan dalam bentuk pembebasan manusia. Pusat keimanan Islam memang Tuhan, tetapi ujung pengamalannya adalah kepada manusia.
Dalam pandangan ahli, Islam adalah sebuah ajaran kemanusiaan atau disebut dengan humanisme, yaitu agama yang sangat mementingkan manusia sebagai tujuan utama. Sabda Nabi Saw
“Manusia yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Dan perbuatan yang paling disukai di sisi Allah ialah mendatangkan kebahagiaan kepada sesama muslim atau menghilangkan darinya suatu kesulitan atau melunasi hutangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Dan aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi suatu kebutuhannya lebih kusukai daripada aku i’tikaf selama sebulan di masjid ini, yakni masjid di Madinah, dan barangsiapa menahan amarahnya maka Allah akan tutup auratnya. Barangsiapa menahan amarahnya padahal jika ia mau ia sanggup menyalurkannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan ketenteraman pada hari Kiamat. Dan barangsiapa berjalan bersama saudaranya dalam rangka memenuhi kebutuhannya sehingga terpenuhi, maka Allah akan mantapkan kakinya di atas shiroth pada hari dimana kaki-kaki terpeleset.” (HR Thabrani)
Humanisme adalah nilai dasar Islam, dengan pengertian ”Islam merupakan sebuah agama yang memusatkan dirinya pada keimanan Tuhan, tetapi yang mengarahkan perjuangannya untuk kemuliaan peradaban manusia”. Untuk itu, Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nila kemanusiaan. Untuk menghubungkan Islam dengan persoalan kemanusiaan maka teks keagamaan harus didekati secara logika.[6] Ketika sebuah realitas, dalam pengertian bahwa kemanusiaan justru malah mengomfirmasi kemungkinan terjadinya sikap “anti-kemanusiaan” maka teks harus didialogkan, dan akhirnya ada “tawar-menawar” dalam memahami teks.
Terjadi dialektika atau dialog antara teks (wahyu) dengan kebudayaan masyarakat pada saat proses penurunan ayat-ayat Al-Qur’an. Dan untuk saat ini, artinya teks itu dikomunikasikan dengan konteks masyarakat masa kini. Bahasa dalam teks Al-Qur’an merupakan penulisan atas realitas-empirik yang terjadi pada lingkup budaya. Sehingga, jika terjadi benturan antara teks normatif dengan realitas kemanusiaan maka untuk menghubungkan keduanya perlu menggunakan pendekatan ta’wil agar makna yang tersembunyi di balik bungkusan teks itu bisa dipahami.
Islam tidak menghendaki kekerasan di muka bumi ini. Islam sangat berwajah humanis. Dan mayoritas kelompok Islam tidak mengehendaki adanya kekerasan, bahkan mengutuk kekerasan sebagai sebuah sikap anti-kemanusiaan. Dan saatnya kini kita merenungi kembali hakikat keberagamaan kita selama ini. Islam hadir sebagai penyeru bagi terciptanya kedamaian dan kesejahteraan umat manusia karena Islam memang hadir sebagai rahmat bagi seluruh sekalian alam.[7]
E.     Fungsi Agama Sebagai Sumber Nilai-Nilai Kemanusiaan.
Agama harus memperhatikan manusia sebagai subyek dan obyek perubahan, keadilan, dan perdamaian. Apa yang menjadi kebutuhan manusia (masyarakat) adalah tujuan dan pembelaan agama. “Beragama adalah untuk manusia” sebagai pijakan Islam humanis akan membuka ruang bagi kebebasan manusia untuk memahami fungsi agama sebagai “agen perubahan” (social change) menuju kemanusiaan dan perdamaian.
Akhirnya, untuk memahami teks agar berjiwa humanis maka “rasionalitas” (‘uquliyah). Bagi kebanyakan kelompok agama yang sering dicap “fundamentalis” dan “radikalis”, mereka memahami agama tidak perlu dengan pendekatan yang tidak rasional. Padahal, dengan pendekatan yang demikian kita bisa membaca teks dan realitas secara obyektif. Syariat, yang sering diposisikan sebagai domain wacana agama juga mesti ditafsirkan secara rasional; menurut ukuran kemanusiaan dan konteks historisnya. Pendekatan rasionalitas dalam filsafat bisa membantu dalam pembacaan agama yang humanistik.
Bagaimana sikap kita memperlakukan perbedaan pendapat agar sesuai dengan konteks keyakinan dan kemaslahatan (maslahah). dalam hal ini ada dua macam yang harus dilakukan yaitu :
1.                  Membangun Dialog
Sudah saatnya Islam dapat melakukan dialog dengan berbagai rujukan pengetahuan kontemporer --dari manapun-- agar diperoleh pemahaman Islam yang mampu membaca terhadap berbagai persoalan aktual-keyakinan, seperti masalah kemanusiaan, keadilan, dan lain sebagainya. Langkahnya antara lain: Pertama, dengan barangkat dari gagasan pluralisme pemikiran kita melakukan dialektika wacana mengenai hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam semesta.[8]secara kreatif, aktif, dan dinamis. Beragama di samping berorientasi secara vertikal (untuk Tuhan), tapi juga tidak kalah pentingnya memproyeksikan keberagamaan kita untuk manusia dan kemanusiaan (antroposentris). Maka dibutuhkan konfontrasi dengan sumber-sumber yang dijadikan landasan bagi reformasi, untuk menemukan basis-basisnya yang memadukan nalar, masyarakat, dan sejarah.
Persoalannya terletak pada bagaimana memandang secara kreatif tentang syariat dan hakikat kebenaran yang sesungguhnya. Hati manusia akan ”cita dunia” untuk Tuhan, sehingga perlunya elaborasi makna baru agama dengan perspektif menyertakan cita kemajuan, cita kemanusiaan, dan cita bumi. Kata Mamadiou, untuk mengelaborasikan pemaknaan seperti ini, maka perlu perangkat-perangkat konseptual yang menyertainya, sebagai bentuk dialog Islam dengan humanisme.
2.                  Rekonstruksi terhadap ilmu-ilmu keagamaan
Kedua, perlu ada upaya secara massif melakukan rekonstruksi terhadap ilmu-ilmu keagamaan (‘ulum ad-dien), seperti ushul fiqh, ilmu hadits, dan sebagainya. Harus ada keterbukaan dalam menerima berbagai masukan (rujukan) dari perangkat-perangkat keilmuan kontemporer, seperti filsafat. Oleh sebab itu, perangkat ijtihad perlu direkonstruksi menjadi lebih dinamis. Dan ketiga, perlu ada gerakan ”revitalisasi turats (tradisi)” --meminjam bahasanya Hassan Hanafi-- yaitu mendialogkan antara teks dan realitas menurut kerangka berpikir keyakinan.
3.                  Pemahaman kontekstual.
Agama hadir di muka bumi untuk memenuhi panggilan kemanusiaan bagi kehidupan ini sehingga penampilannya pada sisi keadilan, perdamian, dan anti-kekerasan menjadi harapan besar. Demikian pula, pemahaman agama bagi kebanyakan umat Islam selalu mengandaikan pada “teosentrisme” --sebagai titik awal dan akhir pijakan dalam memaknai agama. “Agama” dan “Tuhan” menjadi dua term yang menyatu. Ketika kita memahami agama, ada kecenderungan bahwa pemahaman itu adalah mutlak menurut apa yang maksudkan Tuhan kepada kita. Teks-teks agama dianggap sebagai kata-kata Tuhan yang dirasa sudah jelas dan pasti sehingga tidak perlu lagi ada pemahaman kontekstual.
 Agama Islam hadir di muka bumi untuk memenuhi panggilan kemanusiaan bagi kehidupan ini sehingga penampilannya pada sisi keadilan, perdamian, dan anti-kekerasan menjadi harapan besar. Pemahaman agama sudah semestinya diperbaharui dengan pemahaman yang lebih humanistik, pluralistik, dan emansipatif. Pemahaman teks agama yang kaku, hitam-putih, dan tektualistik, akan cenderung mengarahkan pada kemungkinan terjadinya tindak kekerasan, klaim-klaim kebenaran, dan sikap anti-pluralisme.
Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh beberapa oknum “teroris berbaju agama” --jika memang itu benar-benar dilakukan oleh mereka-- menunjukkan sebuah sikap keagamaan yang cenderung kaku. Memaknai dan mengamalkan agama sebatas untuk pencapaian “kebahagiaan” di hari kelak, tanpa mau melihat kenyataan hidup hari ini secara lebih terbuka. Ketika kita memahami agama, ada kecenderungan bahwa pemahaman itu adalah mutlak menurut apa yang maksudkan Tuhan kepada kita. Teks-teks agama dianggap sebagai kata-kata Tuhan yang dirasa sudah jelas dan pasti sehingga tidak perlu lagi ada pemahaman kontekstual.
F.     Kesimpulan
Islam merupakan ajaran yang universal dan tidak canggung dalam menjawab pentanyaan yang dapat berkembang setiap saat. Hal ini dapat dinyatakan dalam bukti adanya pembahasan  yang menyangkut masalah moral sebagai fondamental islam dan salah satu misi islam diturunkan. Dan dari itu maka nilai nilai kemanusiaan dapat diterapkan dalam jati diri manusia sebagai makhluk yang berakal. Dalam hal ini terus berkembang juga dalam keluarga masyarakat dan negara dalam konsep islam dan kemudian menjadi kumpulan kumunitas yang besar yang mempunyai peradaban.
 
DAFTAR PUSTAKA

Baharuddin. Paradigma Psikologi Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Gazalba, Sidi. Ilmu, Filsafat dan Islam Tentang Manusia dan Agama, Jakarta: Bulan Bintang 1997.
http://hmi-mojokerto.blogspot.com/2007/09/pengertian-pengertian-dasar-tentang.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia
http://www.wordpree.com/Islam dan Kemanusiaan « Obrolan Angkring.htm
Kaelany, Islam dan Aspek-aspek Kemasyarakatan, Jakarta: Bumi Aksara, 1992.




[1]Baharuddin. Paradigma Psikologi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hal. 64.
[2]Q.S Al-mu’minuun: 24
[3] Q. S Yunus: 12
[4]Sidi Gazalba. Ilmu, Filsafat dan Islam Tentang Manusia dan Agama, (Jakart, a: Bulan Bintang 1997), hal. 45-52
[5]http://www.wordpree.com/Islam dan Kemanusiaan « Obrolan Angkring.htm
[6]  http://hmi-mojokerto.blogspot.com/2007/09/pengertian-pengertian-dasar-tentang.html
[7] http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia
[8] Kaelany, Islam dan Aspek-aspek Kemasyarakatan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm. 124

📢 Bagikan Postingan Ini

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman atau media sosial Anda.

Facebook WhatsApp Twitter Telegram Copy Link

🤝 Butuh Bantuan atau Dokumen Lain?

Terima kasih telah berkunjung ke blog KhairalBlog21. Jika Anda membutuhkan makalah, format surat resmi, administrasi sekolah, atau dokumen lain yang belum tersedia di blog ini, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak. Kami juga menerima request untuk pembuatan dokumen sesuai kebutuhan Anda.

Jangan ragu untuk memberikan saran dan masukan agar blog ini bisa lebih bermanfaat untuk semua. Klik tombol di bawah ini untuk langsung menghubungi kami via WhatsApp:

Kami siap membantu menyediakan dokumen pendidikan dan administrasi sesuai kebutuhan Anda 📚✍️


No comments:

💬 Tinggalkan Komentar Anda

Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️

Featured Post

CONTOH DAN DONWLOAD SURAT LAMARAN SEBAGAI SPG

Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) , tentunya diperlukan sebuah surat lamaran kerja yang baik dan b...