MAKALAH MASA BERSEKOLAH

Baca Juga

aceh.tribunnews.com

   A.    Pendahuluan
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita kesehatan dan kesempatan sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Solawat dan salam ke ruh junjungan alam Nabi Muhammad saw dimana syafa’at beliaulah yang kira harapkan di yaumil mahsyar nanti.

Seperti halnya pada masa bersekolah, dimana pada masa ini anak dengan giat-giatnya untuk belajar. Namun tidak jarang kita jumpai di lapangan (sekolah) banyak anak-anak pada masa usia sekolah ini mengalami berbagai gejala-gejala psikologis yang sering luput dari perhatian pendidik. Maka dari itu seorang pendidik harus mengetahui berbagai perkembangan yang di lalui oleh peserta didiknya.
Dimana pada masa anak sudah mulai bisa diberikan pendidikan dan pengajaran. Untuk lebih jelasnya  maka makalah ini akan membahas hal-hal yang berhubungan dengan  perkembangan, diantaranya:
1.      perkembangan pikiran
2.      perkembangan fisik
3.      perkembangan kepribadian
4.      perkembangan agama dan keyakinan
5.      perkembangan fantasi
6.      bahaya anak pada masa bersekolah.
Penulisan makalah ini menggunakan metode library research dan analysis content, yaitu metode penelusuran pustaka dan merujuk kepada buku-buku yang relevan dengan permasalah dalam masalah ini, kemudian menganalisis dari buku buku tersebut akhirnya hasil dari analisis tersebut dituangkan dalam bentuk makalah yang sederhana.
   B.     Perasaan anak
Anak sudah mampu mengatur sebagian besar perasaannya, kepancainderaannya dan juga kejasmaniannya atau setidak-tidaknya dapat dikurangi sehingga tidak terlalu kelihatan mengganggu dirinya,  pelajarannya serta teman-temannya. Disamping itu sudah ada harga diri, perasaan sosial, perasaan malu dan juga perasaan seksual
Pada umumnya rasa harga diri ini telah dikembangkan (berkembang), ia tidak takut berhadapan/tatap muka dengan anak lain, tidak takut menghadapai pelajaran-pelajaran ataupun tidak bingung di sekolah, ia tidak mengalami penyakit rasa rendah diri (kompleks inferioritet).
Dan ia juga sudah mampu memasuki masyarakatnya dan masyarakat baru yang berdisiplin (sekolah), ia tidak takut bergaul  dengan kawan-kawanya dan bahkan ia mencari kawannya, ia telah mengakui aku-aku orang lain sehingga kadang-kadang aku-nya harus pula tunduk kepada aku-nya orang lain, apa lagi tentang otoritet guru-gurunya , ia telah mampu menyesuaikan diri kepada tata tertib dan peraturan – peraturan yang berlaku disekolah  secara berangsur-angsur.
Sekalipun anak selalu ingin berada dalam permainan yang selalu gembira, namun ia sudah memiliki rasa tanggung jawab, keinginannya untuk melaksanakan sesuatu dengan kemauan sendiri ataupun atas anjuran orang lain sudah kelihatan. Adapun mengenai perasaan ketuhanan sudah mulai lebih  sempurna jika dibanding dari waktu-waktu sebelumnya, karena anak sejak masa totz  sudah ada rasa ketuhanan melihat/ mengalami keadaan –keadaan kehidupan ketuhanandi  lingkungan rumah tangganya.
Anak yang normal memiliki kematangan jasmani yang sudah mampu menerima peraturan dan tata tertib. Anak umur 5,0-6,0 tahun tidak mengalami kekurangan ataupun halangan untuk pergi kesekolah, ia mampu menahan hawa nafsunya, menahan lapar dan dahaga, mampu menahan buang air dan sebagainya. Dia mampu mengendalikannya semua mulai dari pagi sampai sore. Dia mampu duduk sekian lama dan diam dengan tenang di bangku sekolah, kesehatannya tidak terganggu karenanya.
Pada masa ini anak sudah memulai memasuki sekolah dasar, telah banyak minat anak terhadap dunia luar, dia suka mengumpulkan barang-barang, ia selalu berusaha untuk mendapatkan benda-benda sehingga kantong mereka penuh dengan benda-benda, anak umur 8,0 tahun ini sering sobek kantongnya karena selalu diisi dengan benda-benda yang berat.[2]
Pada umumnya anak sudah memperhatikan   benda-benda yang kongkrit, hampir semua benda menarik bagi si anak selalu dikumpulkan (benda-benda yang dikumpulkan dianggap aneh) sehingga ditempat-tempat tertentu anak menjelajahnya, melihat bengkel mobil, bengkel sepeda ia pun teruspergi ke sana untuk mengambil benda-benda yang dianggapnya aneh.
Pada masa ini juga timbul hasrat yang besar untuk mengumpulkan barang-barang, ia melihat keadaan sekitarnya kadang-kadang ia mengambil batu, bungkus rokok, korek api dan sebagainya. Kemudian a juga mengetahui perhubungan antara benda-benda didapatinya, ia menumpulkan biji-bijian tersebut.
Pada masa ini anak kurang cocok dengan pengajaran abstrak dan tidak sistematis (tidak ada hubungan dengan dunia mereka) alasan tetapi ia senang dengan yang konkrit karena ia sedang mengenal/menjelajah dunia luar, ia ingin tahu dan menghubungkannya dengan sumbernya, ia sangat senang mendengarkan sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan dunianya.
Mereka ingin mengenal daerah-daerah lain dan keadaan-keadaannya, ingin mengetahui suku bangsa yang mendiaminya, bahasa yang dipakai, senang dengan keadaan yang aneh dan ganjil di daerah tersebut karena memang ada hubungannya dengan sifat dan dunia merekan (anak) yang selalu mencari sesuatu yang ganjil dan aneh. (hal ini sangat menonjol setelah anak berumur 9,0 tahun).
Pada masa usia sekolah ini anak selalu ingin memelihara binatang-binatang seperti ayam, ikan dan sebagainya. Binatang tersebut dia yang memeliharanya sekalipun untuk memberikan kebutuhan binatang tersebut. Ternyata juga orang tuanya, anak ingin mengandangkan/ mengurung ayamnya sendiri, kucingnya sendiri dan sebagainya dalam suatu kandang tersendiri yang terpisah dengan ayam lain.
Kemudian orang selalu mengumpulkan sesuatu sesuai dengan keinginannya/ hobbinya seperti gambar mobil, gambar boneka, gambar rumah dan sebagainya sehingga anak menggunting-gunting koran, majalh dan buku-buku. Mereka juga senang mencatat merek-merek mobil/ motor/ sepeda motor yang lewat, mereka hitung berapa honda, berapa pespa dan sebagainya yang lewat di jalan itu selama mereka berada, bahkan mereka bertaruh-taruhan menebak merek apa yang akan datang dan jenis apa yang akan lewat dan sebagainya.
Namun demikian sudah nampak bahwa mereka mengadakan pilihan tertentu, bagian mana yang disenanginya dan keadaan ini nampak menonjol disekolah dasar. Ada diantara mereka selalu menggambar/ melukis saja, ada yang menulis puisi-puisi/ cerita dan sebagainya dengan jalan mencontoh, maka pada masa ini jelas sudah ada kecenderungan tentang bakat mereka.
Bagi para pendidik / guru/ orang tua sebaiknya harus tanggap dengan keadaan ini, jangan hanya mengajar nilai saja sedang kegemaran atau bakat anak tidak di indahkan.

    C.    Karakteristik anak pada masa bersekolah
Pada masa bersekolah sebahagian besar anak mengalami perobahan dalam pola kehidupan anak, juga bagi anak-anak yang pernah mengalami situasi pra- sekolah selama setahun.[3]
Tingkatan kelas di sekolah dasar dapat dibagi dua menjadi kelas rendah dan kelas atas. Kelas rendah terdiri dari kelas satu, dua, dan tiga, sedangkan kelas-kelas tinggi sekolah dasar yang terdiri dari kelas empat, lima, dan enam (Supandi, 1992:44).
Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu :
a.       Masa kelas-kelas rendah dan,
b.      Masa kelas tinggi.
Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) :
a)      Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi.
b)      Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional.
c)      Adanya kecenderungan memuji diri sendiri.
d)     Membandingkan dirinya dengan anak yang lain.
e)       Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting.
f)        Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.
Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.
Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) :
1.      Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang kongkrit
2.      Amat realistik, rasa ingin tahu dan ingin belajar.
3.      Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus.
4.      Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya.
5.      Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya.
6.       Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya.
7.       Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada), mereka membuat peraturan sendiri.
Sekolah sebagai tempat terjadinya proses menumbuhkembangkan seluruh aspek siswa memiliki tugas dalam memabntu perkembangan anak sekolah. Adapun tugas-tugas perkembangan anak sekolah (Makmun, 1995:68), diantaranya adalah:
1)      Mengembangkan konsep-konsep yang perlu bagi kehidupan sehari-hari
2)   Mengembangkan kata hati, moralitas, dan suatu skala, nilai-nilai.
3)    Mencapai kebebasan pribadi.
4)    Mengembangkan sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok dan institusi-institusi sosial.

    D.    Perkembangan pikiran
Dalam keadaan normal, pikian anak usia sekolah dasar ini berkembang secara berangsur-angsur dan secara tenang. Anak betul-betul berada dalam stadium belajar. Disamping keluarga sekolah memberikan pengaruh yang sistematis terhadap pembentukan akal budi anak[4].
Berpikir itu pada prinsipnya ialah menemukan hubungan antara segala sesuatu yang dilihat dan diketahui orang. Bagaimana menghubungkan suatu peristiwa dengan peristiwa/keadaan lain dan menemukan titik persamaan atau perbedaan dan sebagainya. Hal ini sudah merupakan proses berpikir. Dengan kata lain berpikir itu ialah mencari dan menetapkan sangkut paut antara hal-hal tertentu.
Orang yang berpikir tentu sanggup melakukan pengamatan yang tepat yang  hasilnya dirumuskan dalam suatu kata-kata yang melambangkan pengertian-pengertian, ia harus dapat merumuskan pendapatnya dalam kalimat. Selanjutnya orang harus dapat melihat hubungan antara kejadian-kejadian yang satu dengan yang lain dan menarik kesimpulan. Inilah berpikir, tidak cukup mengamati apa yang terjadi.
Dengan adanya kemampuan untuk melihat hubungan antara bermacam-macam kejadian maka iapun harus sanggup mengambil kesimpulan tentang apa yang mungkin ditarik yaitu suatu titik akhir dari hasil pengamatannya itu (mengambil kesimpulan).
Adapun perkembangan berpikir pada anak dapat kita lihat seperti uraian di bawah ini :
Ada gambar seekor kucing sedang melarikan sepotong ikan. Kucing tersebut dikejar oleh seorang bibi karena ia mencuri ikan di atas meja. Gambar itu dilatar belakangi meja yang berisi makanan termasuk gulai ikan. Gambar ini diperlihatkan kepada anak sambil dilontarkan kepada mereka pertanyaan-pertanyaan maka dari gambar itu akan didapati beberapa uraian dari anak sesuai dengan tingkat perkembangan mereka.

   E.     Perkembangan fisik
Masa pertengahan dan akhir masa anak-anak merupakan periode pertumbuhan fisik yang lambat dan relatif seragam sampai terjadi perubahan-perubahan pubertas, kira-kira 2 tahun  menjelang anak menjadi matang secara seksual, pada masa ini pertumbuhan berkembang pesat[5]. Karena itu, masa ini sering juga disebut sebagai “periode tenang”  sebelum pertumbuhan yang cepat menjelang masa remaja. Meskipun “masa tenang” tetapi hal ini tidak berarti bahwa  pada masa ini tidak terjadi proses pertumbuhan fisik yang berarti. Berikut ini akan  menjelaskan beberapa aspek pertumbuhan fisik pada masa bersekolah yaitu:
1.      Tinggi dan berat badan
Sampai dengan usia sekitar 6 tahun terlihat badan anak bagian atas berkembang lebih lambat dari pada bagian bawah. Angggota-anggota lebih relatif masih pendek kepala dan perut masih relatif besar. Selama masa akhir anak-anak, tinggi bertumbuh 5 hingga 6% dan berat bertambah sekitar 10% setiap tahun. Pada usia 6 tahun tinggi rata-rata anak adalah 46 inci dengan berat 22,5 kg. Kemudian pada usia 12 tahun tinggi anak mencapai 60 inci dan berat 80 hingga 42,5 kg.
            Jadi pada masa ini peningkatan berat badan anak lebih banyak dari pada panjang badannya kaki dan tangan menjadi lebih panjang, dada dan pinggul lebih besar, peningkatan berat badan anak selama masa ini terjadi terutama karena bertambahnya ukuran sistem rangka otot, serta ukuran beberapa organ tubuh. Pada saat yang sama, kekuatan otot-otot  secara berangsur-angsur bertambah dan gemuk bayi (baby pat) berkurang. Pertambahan kekuatan otot ini adalah karena paktor keturunan dan latihan (olah raga). Karena perbedaan jumlah sel-sel otot , maka pada umumnya laki-laki lebih kuat dari pada anak perempuan.
            Anak yang normal memiliki kematangan jasmani yang sudah mampu menerima peraturan dan tata tertib. Anak umur 5,0-6,0 tahun tidak mengalami kekurangan ataupun halangan untuk pergi sekolah, ia mampu melawan hawa nafsunya, menahan lapar dan dahaga, mampu menahan buang air dan sebagainya. Dia mampu mengendalikannya semua mulai dari pagi sampai sore. Dia mampu duduk sekian lama dan diam dengan tenang di bangku sekolah, kesehatannya tidak terganggu kebenarannya.
               Apabila proporsi badan dan jaringan urat daging dapat dikatakan tetap sampai kurang lebih tahun kelima, maka menurut Zeller pada sekitar usia tahun kelima mulailah gestalwandell pertama, yang berarti proporsi kepala dan anggota badan mulai seimbang. Anggota-anggota badannya menjadi lebih panjang, perutnya mengecil dan proporsi kepala dibandingkan bagian badan lain sudah nornal[6].
               Bila usia sekitar dua tahun perbandingan kepala dan bagian badan adalah 1:5 dan usia 6 tahun perbandingan 1:6, maka perbandingan yang lebih baik di capai saat usia 12 tahun, 1:7 dan pada usia 25 tahun perbandingannya 1:8, jadi pada masa ini terutama kearah/mendekati usia 12 tahun, bnetuk tubuh sudah menyerupai orang dewasa dan keadaan fisiknya secara umum lebih stabil dan lebih kuat dibandingkan pada masa anak awal.

2.      Keterampilan motorik
Sejak usia 6 tahun, koordinasi antara mata dan tangan (visio-motorik) yang dibutuhkan untuk membidik, menyepak, melempar dan juga menangkap juga berkembang. Pada usia 7 tahun, tangan anak semakin kuat dan ia lebih menyukai pensil daripada krayon untuk melukis. Dari usia 8 sampai 10 tahun, tangan dapat digunakan secara bebas, mudah dan tepat. Koordinasi motorik halus berkembang, dimana anak sudah dapat menulis dengan baik. Ukuran huruf menjadi lebih kecil dan lebih rapi. Pada usia 10 sampai 12 tahun, anak-anak mulai memperlihatkan keterampilan-keterampilan manipulatif  menyerupai kemampuan orang dewasa.
Mereka mulai memperlihatkan gerakan-gerakan yang kompleks, rumut dan cepat, yang diperlukan untuk menghasilkan karya kerajinan yang bermutu bagus memainnkan instrumen musik tertentu. Anak-anak perempuan biasanya  menunjukkan keterampilan motorik halus yang lebih baik dari pada anak laki-laki. Untuk memperhalus keterampilan-keterampilan motorik mereka,  anak-anak terus melakukan berbagai aktivitas fisik. Aktivitas fisik ini dilakukan dalam bentuk permainan yang kadang-kadang bersifat informal, permainan yang diatur sendiri oleh anak, seperti permainan umpet-umpetan, dimana anak menggunakan keterampilan motoriknya.
Anak-anak masa sekolah ini mengembangkan kemampuan melakukan permainan (game) dengan peraturan, sebab mereka sudah dapat memahami dan mentaati  aturan-aturan suatu permainan. Pada waktu yang sama, anak-anak mengalami peningkatan dalam kordinasi dan pemilihan waktu yang tepat dalam melakukan berbagai cabang olah raga, baik secara individual maupun kelompok.[7]
3.      Efek gizi pada  pertumbuhan fisik
Sebagian besar anak sekolah memiliki cita rasa yang baik dan makan lebih banyak dibandingkan anak yang lebih muda. Untuk mendukung kemantapan pertumbuhan dan pengarahan tenaga yang konstan, seorang anak membutuhkan rata-rata, 2.400 kalori tiap hari lebih banyak bagi anak yang lebih tua dan lebih sedikit bagi anak yang masih muda.
Para pakar nutrisi merekomendasi berbagai makanan termasuk banyak sayur, buah dan biji-bijian, yang mengandung gizi alami yang tinggi, dan level tinggi karbohidrat kompleks yang terdapat dalam kentang, pasta roti, dan sereal. Karbohidrat sederhana yang terdapat dalam permen  harus terus dijaga dalam level minimum. Anak-anak AS dalam semua tingkatan usia terlalu banyak mengkonsumsi lemak dan gula dan makanan bernutrisi rendah yang diperkuat oleh vitamin buataan. Untuk menghindari kegemukan dan masalah jantung, seorang anak seharusnya hanya  mendapatkan 30 persen total kalorinya dari lemak, dan kurang dari 10 persen dari  lemak jenuh.  Daging tidak berlemak dan makanan yang mengandung susu harus terus dipertahankan dalam daftar makanan untuk menyediakan protein, besi dan kalsium.[8]
Anak-anak yang gemuk seringkali memang menyenangkan dan menggemaskan. Namun kini banyak orang tua memiliki kesadaran yang makin baik bahwa anak tidak harus gemuk, tetapi yang lebih penting adalah anak harus sehat. Agar fisik an k dapat secara tumbuh optimal, sehat dan bugar. Anak perlu memperoleh asupan makanan yang bergizi seimbang. Kekurangan zat-zat penting yang diperlukan tubuh akan berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang anak dampak kekurangan gizi pada anak, antara lain:
a.       Adanya penyimpangan bentuk tubuh, misalnya kurus atau mempunyai perwatakan pendek
b.      Kurang energi sehingga tubuh menjadi lemah dan kurang berminat terhadap kegiatan di sekililingnya.
c.       Gangguan kesehatan, yaitu mudah terserang  penyakit seperti infeksi, kurang kalori protein, dan vitaminosis (kekurangan vitamin).
d.      Penampilan yang tidak sehat, misalnya tidak bugar, kulit tidak bercahaya dan kendur, mata tidak jernih, dan gigi berlubang.
e.       Perkembangan kesadaran kurang optimal karena kekurangan gizi akan mempengaruhi perkembangan sel-sel otak.
f.       Gizi berlebihan.
Sesuatu yang berlebihan  dapat berefek tidak baik, demikian juga dalam hal makanan bergizi. Dampak yang nyata pada pemberian makanan bergizi yang berlebihan adalah kegemukan (obesitas). Banyak orang beranggapan bahwa anak yang gemuk adalah anak yang sehat, tetapi mulai dipahami bahwa kegemukan tidak baik karena dapat memicu timbulnya berbagai penyakit dikemudian hari, antara lain penyakit jantung, kencing manis (diabetes melitus) dan yang kalah pentingnya adalah efek psikologisnya.
Efek psikologis kegemukan dapat berwujud, antara lain anak menjadi tidak lincah sehingga ektivitas sehari-harinya menjadi lambat, anak menjadi malu apabila diolok-olokkan oleh temannya sehingga menjadi minder atau rendah diri, mempunyai konsep diri yangg rendah, dan tidak percaya.
     F.     Perkembangan kepribadian
freud dipandang sebagai Ahli yang mengutamakan aspek perkembangan (genetis) kepribadian dan menekankan bahwa yang menentukan dasar-dasar struktur kepribadian adalah tahun-tahun permulaan masa kanak-kanak[9]. Freud berpendapat bahwa kepribadian pada dasarnya telah berbentuk pada akhir tahun kelima, dan perkembangan selanjutnya sebagian besar hanya penghalusan data struktur tersebut.
a.       Pengertian kpribadian
Kpribadian berasal dari kata latin persona yang berarti topeng. Bagi bangsa roma persona berarti bagaimana seseorang tampak pada orang lain, bukan diri sebenarnya. Aktor menciptakan dalam pemikiran penonton, suatu impresi dari tokoh yang diperankan diatas pentas bukan impresi dari diri aktor itu  sendiri. Dari konotasi persona ialah gagasaan umum mengenai kepribadian sebagai kesan yang diberikan seseorang pada orang lain diperoleh. Apa yang dipikir, dirasakan dan siapa dia sesungguhnya termasuk dalam keseluruhan “make up” psikologis seseorang dan sebagian besar terungkapkan melalui perilaku. Karena itu, kepribadian bukanlah suatu atribut yang pasti dan spesifik, melainkan prilaku total seseorang.
Terdapat banyak defenisi istilah kpribadian kebanyakan diantaranya mengikuti defenisi Allport, karena defenisi ini merupakan salah satu defenisi yang paling luas cakupannya. Menurut defenisi tersebut kepribadian adalah susunan sistem-sistem psilofisik yang dinamai dalam diri suatu individu yang menentukan penyesuaian individu yang unik terhadap lingkungan.
Sistem psikofisik adalah kebiasaan sikap, nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan motif yang bersifat psikologis tetapi mempunyai dasar fisik dalam kelenjar, saraf, dan keadaan fisik anak secara umum. Sistem ini tidak merupakan produk hereditas, walaupun bersumberkan hereditas. Sistem-sistem ini telah berkembang melalui proses belajar sebagai hasil dari berbagai pengalaman anak.

b.      Perubahan dalam kepribadian
Mengubah (change) berarti “mengubang” (alter) atau “membuat variasi” kata ini tidak perlu berarti bahwa perubahan atau pengubahan akan tuntas. Terdapat bukti bahwa konsep diri dan sifat-sifat memang berubah akan tetapi dalam hal sifat-sifat, perubahan mungkin kualitatif mungkin kuantitatif. Dalam perubahan kualitatif, suatu sifat yang tidak diinginkan mungkin digantikan dengan suatu sifat yang dikagumi masyarakat. Dalam perubahan kuantitatif, terdapat penguatanatau pelemahan sifat yang telah ada. Perubahan  kuatitatif sebagian besarlebih umum dari perubahan kualitatif. Thomas dan kawan telah menerangkan bahwa: temperamen anak kecil bukan tidak dapat diubah.
Dalam perkembangannya, kondisi lingkungan mungkin mempertinggi, mengurangi atau memodifikasi reaksi dan prilakunya”. Inti pola kepribadian konsep diri, relatif stabil dan berubah hanya bila anak melihat ada perubahan dalam sikap dan prilaku orang yang berarti baginya. Sebagian contoh, peningkatan dalam keterampilan yang penting bagi anggota kelompok teman sebaya dapat membawa sikap dan penerimaan sosial yang lebih menguntungkan.
Perubahan dalam kepribadian baik dalam sifat-sifat maupun dalam konsep diri lebih sering dan lebih menonjol pada anak yang lebih muda dari pada anak yang lebih tua dan remaja, dan jauh lebih kurang terjadi pada orang dewasa. Alasannya ialah bahwa dengan berlakunya waktu, inti pola kepribadian semakin kurang fleksibel. Perubahan dalam konsep diri anak yang lebih tua jauh lebih sulit dari pada bila mereka lebih muda. Kecuali bila hal ini dilakukan, tidak mungkin terdapat perubahan benar-benar dalam pola kepribadian.
    G.    Perkembangan emosi
Perkembangan emosi adalah proses berkembangnya kemampuan anak untuk menyesuaikan diri terhadap dunia yang lebih luas  dalam proses perkembangan ini anak akan diharapkan mengerti/memahami orang lain yang berarti mampu menggambarkan ciri-cirinya, mengenali apa yang dipikirkan, dirasa, dan diinginkan serta dapat menempatkan diri pada sudut pandang orang lain tersebut tanpa “kehilangan” dirinya sendiri.

Pada masa ini, anak menjadi lebih peka terhadap perasaannya sendiri dan perasaan orang lain. Mereka dapat lebih mengatur ekperesi emosionalnya dalam situasi sosial dan mereka dapat merespon tekanan emosional orang lain. Pada usia 7-8 tahun, rasa malu dan bangga mempengaruhi pandangan anak terhadap diri mereka sendiri. Secara bertahap anak juga dapat memverbalisasi emosi yang saling bertentangan.
Selain itu anak juga mulai dapat melakukan contoh terhadap emosi negatif. Anak-anak belajar tentang apa yang membuat mereka marah, sedih atau takut, serta bagaimana orang lain bereaksi dalam melanjutkan emosi ini dan mereka belajar mengadaptasikan perilaku mereka dengan emosi-emosi tersebut. Anak-anak yang lebih besar juga makin mengetahui bahwa emosi dapat ditekan walaupun emosi tersebut masih tersisa.


    H.    Perkembangan agama dan keyakinan
Perkembangan pemikiran dan keyakinan tentang agama pada masa bersekolah, pemikiran agamanya bersifat dogmatis, masih dipengaruhi oleh pemikiran yang bersifat konkret dan berkenaan dengan sekitar kehidupannya[10].
Pada masa kanak-kanak akhir, minat terhadap agama ditampakkan melalui:
1.      Banyak bercakap dengan temannya tentang agama, tetapi lebih dipusatkan tentang tata ibadat daripada tentang doktrin juga tentang hal-hal seperti surga, neraka, malaikat atau iblis.
2.      Minat mengikuti upacara keagamaan makin kuat
3.      Karena kemampuan menalar makin meningkat, mulai muncul kebingungan dan keraguan yang cenderung melemahkan kepercayaan (terutama pada masa akhir ini)
4.      Minat pada doa biasanya berkurang karena merasa sebagian besar do’anya tidak terjawab.
Tingkat religius individu sangat dipengaruhi oleh perkembangan minat agama pada saat anak-anak, sehingga orang tua perlu memperhatikan kegiatan keagamaan bagi anaknya. Kegiatan keagamaan yang sesuai dengan kelompok usianya juga perlu diperkenalkan dan anak di latih untuk ikut aktif menghadiri[11].
Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa ajaran agama yang dihayati merupakan suatu buffer atau penyangga untuk perkembangan yang fositif fungsi psikologis individu.
     I.       Bahaya pada masa bersekolah
Beberapa bahaya yang umum merupakan kelanjutan dari bahaya tahun-tahun sebelumnya, meskipun lain bentuknya. Ada bahaya baru yang timbul dari perubahan pola hidup anak setelah masuk sekolah.
Seperti bahaya tahun-tahun sebelumnya, bahaya akhir masa kanak-kanak dapat berbentuk bahaya fisik dan psikologis. Namun, selama akhir masa kanak-kanak, reaksi psikologis dari bahaya fisik sangat penting dan hal ini akan ditekankan.
1)      Bahaya fisik
Sebagai akibat dari adanya tekhnologi medis baru untuk mendiagnosis, mencegah dan merawat berbagai penyakit, maka tingkat  kematian selama  akhir masa kanak-kanak tidak sesering seperti dimasa lampau. Namun, kecalakaan masih tetap menyebabkan kematian pada anak periode ini.
Meskipun banyak bahaya fisik, dari tahun-tahun sebelumnya terus berlangsung sampai akhir masa kanak-kanak, namun akibatnya pada keadaan fisik anak tidak sehebat sebelumnya. Sebaliknya, akibat psikologis lebih besar dan lebih menetap dibawah ini dibahas bahaya fisik yang utama.
a.       Penyakit
Karena vaksin terhadap sebagian besar penyakit anak-anak sekarang mudah didapat, maka penyaikit yang diderita anak-anak terutama adalah selesma dan gangguan-gangguan pencernaan, yang jarang menimbulkan akibat fisik yang lama. Tetapi, akibat dari psikologis dari penyakit adalah serius. Penyakit mengganggu keseimbangan tubuh yang menjadikan anak mudah marah, menuntut dan sulit. Kalau penyakitnya berlangsung lama maka anak akan tertinggal dalam pelajaran sekolah dan dalam keterampilan bermain. Orang tua juga menjadi kurang sabar, mengeluh tentang bertambahnya tugas dan biaya akibat penyakit anak.
Beberapa penyakit merupakan penyakit khayalan atau “palsu” . cepat atau lambat anak belajar bahwa kalau ia sakit, anak tidak perlu melaksanakan tugas-tugas, tidak dikenakan disiplin yang ketat dan memperoleh lebih banyak perhatian daripada biasany. Dengan demikian anak berpura-pura  sakit untuk menghindari tugas atau situasi yang kurang menyenangkan. Bilamana cara ini berhasil, anak akan mengulanginya lagi dan menjadikan dasar bagi kecenderungan penyakit khayal.
b.      Bentuk tubuh yang tidak sesuai
Anak perempuan yang bentuk tubuhnya kelaki-lakian dan anak laki-laki yang penampilan fisiknya seperti perempuan sering dicomooh oleh teman-teman dan dikasihi oleh orang dewasa. Akibatnya penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial cenderung memburuk, terlebih lagi anak laki-laki. Sebaliknya, bentuk tubuh yang sesuai dengan selera membantu penyesuaian diri yang baik. Biller rostelman tentang anak laki-laki sebagai berikut.
Anak laki-laki yang tinggi dan tetap atau mesomorfik, sekalipun tanpa dorongan orang tua akan mudah mencapai sukses dalam berbagai aktivitas maskulin sehingga dilihat oleh orang-orang lain dan dengan sendirinya belajar diri sendiri sebagai seorang yang sangat maskulin , anak ekunmorfik yang lemah dan anak endomorfik yang gemuk pendek sulit mencapai sukses sehingga tidak terlihat oleh orang-orang lain dan belajar memandang  diri sendiri  sebagai tidak maskulin.[12]
c.       Kecelakaan
Sekalipun kecelakaan tidak meninggalkan bekas-bekas fisik, namun kecelakaan itu dapat meninggalkan bekas psikologis. Anak yang lebih besar sebagaimana halnya dengan anak yang lebih muda, yang lebih sering mengalami kecalakaan biasanya lebih hati-hati. Keadaan ini dapat menyebabkab rasa takut terhadap semua kegiatan dan dapat meluas kepada bidang-bidang perilakunya. Kalau ini terjadi maka dapat berkembang menjadi rasa malu yang mempengaruhi hubungan sosial pekerjaan sekolah dan kepribadian.
d.      Ketidakmampuan fisik
Banyak ketidakmampuan fisik merupakan akibat dari kecelakaan, jadi kebanyakan terdapat pada anak laki-laki daripada perempuan. Besarnya pengaruh dari akibat ini bergantung pada drajat ketidakmampuan dan dari perlakuan teman-teman, terutama dengan teman-teman sebaya. Ada teman-teman yang menunjukkan belas kasihan dan memperhatikan anak cacat, tetap ada pula yang mengabaikan menolak bahkan mencemooh.
Kebanyakan anak menjadi terhambat dan merasa canggung di dalam situasi-situasi sosial, sehingga penyesuaian sosial menjadi buruk dan ini selnjutnya mempengaruhi penyesuaian pribadi. Telah dilaporkan bahwa banyak timbul kasus-kasus prilaku bermasalah diantara anak yang mengalami kelainan fisik ringan dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami kelainan.
Banyak anak-anak yang mengerti bahwa keadaan cacat fisik merupakan suatu cara untuk menghindari situasi-situasi yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu, mereka mengembangkan suatu cacat khayalan atau membesar-besarkan cacat yang ada. Ini merupakan salah satu bentuk invaismekhayal yang dibahas diatas.
2)      Bahaya psikologis
Bahaya psikologis akhir masa kanak-kanak terutama mempengaruhi penyesuaian sosial, yaitu tugas perkembangan utama dalam periode ini. Bahaya itu sangat besar pengaruhnya  pada penyesuaian pribadi dan pada perkembangan kepribadian anak.[13]
a)      Bahaya dalam berbicara
Ada empat bahaya berbicara yang umum terdapat pada akhir masa kanak-kanak
1.      Kosakata yang kurang dari rata-rata menghambat tugas-tugas disekolah dan menghambat komunikasi dengan orang lain.
2.      Kesalahan dalam berbicara, seperti salah ucap dan kesalahan tata bahasa, cacat dalam berbicara seperti gagap atau pelat, akan membuat anak menjadi sangat sadar diri sehingga anak hanya berbicara bilamana perlu.
3.      Anak yang mempunyai kesulitan berbicara dalam bahasa yang digunakan dalam lingkungan sekolah akan terhalang dalam usaha untu berkomunikasi dan mudah merasa bahwa ia “berbeda”.
4.      Pembicaraan yang bersifat egosentris, yang mengkritik dan merendahkan orang lain, dan bersifat membual akan ditentang oleh teman-teman.
b)      Bahaya emosi
Anak aakan dianggap tidak matang baik oleh teman-teman sebaya maupun orang-orang dewasa, kalau ia masih menunjukkan pola-pola ekspresi emosi kurang menyenangkan, seperti amarah yang meledak-ledak, dan juga bila emosi yang buruk seperti marah dan cemburu masih sangat kuat sehingga kurang disenangi oleh orang lain.
c)      Bahaya sosial
Terdapat lima jenis anak yang penyesuaiannya oleh bahaya sosial. pertama, anak yang ditolak atau diabaikan oleh kelompok teman-teman akan kurang mempunyai kesempatan untuk belajar bersifat sosial. Kedua, anak yang terkucil, yang tidak memiliki persamaan dengan kelompok teman-teman akan menganggap dirinya “berbeda” dan merasa tidak mempunyai kesempatan untuk di terima oleh teman-teman. Ketiga, anak yang mobalitas dan sosial dan grafisnya tinggi mengalami kesulitan untuk diterima dalam kelompok yang sudah terbentuk. Keempat, anak berasal dari kelompok rasa tau kelompok agamayang terkena prasangka. Dan kelima, para pengikut yang ingin menjadi pemimpin kemudian menjadi anak yang penuh dengki dan tidak puas.
d)     Bahaya bermain
Anak yang kurang memiliki dukungan sosial akan terasa kekurangan kesempatan untuk mempelajari permainan dan olahraga yang penting untuk menjadi anggota kelompok. Anak yang dilarang berkhayal karena “membuang waktu” , atau dilarang melakukan kegiatan kreatif dan bermain akan mengembangkan kebiasaan penurut yang kaku.[14]
    J.      Penutup
Masa bersekolah adalah masa dimana anak-anak sudah mulai memasuki usia sekolah, sekitar 6/7 tahun, masa ini juga merupakan masa yang sangat menyulitkan bagi orang tua karena anak tidak mau lagi menuruti perintah dan lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebayanya. Pada masa ini juga anak-anak sudah mulai mendekati masa puber, oleh karena itu tidak mau lagi di urus oleh orang tuanya dan sudah mulai mau melanggar perintah yang diberikan kepadanya.
Demikianlah isi makalah ini, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan bisa dijadikan bahan diskusi pada mata kulliah perkembangan peserta didik. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk penyempurnaan makalah ini terutama kepada dosen pembimbing.
Penulis berharap dengan adanya makalah ini, pembaca mampu memahami perkembangan-perkembangan yang terjadi bersekolah. Apabila ada kesalahan maupun kekurangan dalam makalah ini, penulis mohon maaf.
 
   K.    Daftar Pustaka
Daulay, Agus Salim, Diktat Psikologi Perkembangan, STAIN Padangsidimpuan,               
            Untuk Kalangan Sendiri 2012.
            Hurlock, Elizabeth B. Development Psycology A life ApproachDiterjemahkan:
                        Dra. Istiwidayanti, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang
                        Rentang Kehidupan, Jakarta: Penerbit Erlangga, Edisi kelima, 1991.
            Desmita, Psikologi Perkembangan, Bndung: PT Remaja Rosdakarya, 2005.
            Sumantri, Mulyani, Perkembangan Peserta Didik, Jakarta: Universitas Terbuka, 2009.
            Soetjiningsih, Christiana Hari, Seri Psikologi Perkembangan Anak Sejak
                        Pertumbuhan Sampai Dengan Kanak-Kanak Akhir, Jakarta: Prenada Media
                        Group,2012.


              
[2]Agus Salim Daulay, Diktat Psikologi Perkembangan, (STAIN Padangsidimpuan, Untuk Kalangan Sendiri, 2007), hlm 75
[3]Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, (Jakarta: Erlangga, 1992), hlm 146
[4]Abu Ahmad, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005) hlm 117
[5]Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), hlm 153
[6]Christiana Hari Soetjiningsih, Perkembangan Anak Sejak Pembuahan Sampai Dengan Kanak-Kanak Akhir, (Jakarta: Prenada Media Group,2012), hlm 250
[7]Desmita, Op. Cit, hlm, 154-155
[8]E. Papalia, Sally Wendkos Old dan Ruth Duskin Feldman, Human Development, Perkembangan Manusia , Edisi 9, Bagian 1 s/d IV , Alih Bahasa Oleh A. K. Anwar, (Jakarta: Kencana, 2010) hlm. 425-426
[9]Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hlm 228
[10]Mulyani Sumantri, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Universitas Terbuka,2009),hlm123
[11]Chritiana Hari Soetjiningsih, Op. Cit. Hlm 298
[12]Ibid
[13]Ibid hlm 175
[14]Ibid, hlm 176

📢 Bagikan Postingan Ini

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman atau media sosial Anda.

Facebook WhatsApp Twitter Telegram Copy Link

🤝 Butuh Bantuan atau Dokumen Lain?

Terima kasih telah berkunjung ke blog KhairalBlog21. Jika Anda membutuhkan makalah, format surat resmi, administrasi sekolah, atau dokumen lain yang belum tersedia di blog ini, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak. Kami juga menerima request untuk pembuatan dokumen sesuai kebutuhan Anda.

Jangan ragu untuk memberikan saran dan masukan agar blog ini bisa lebih bermanfaat untuk semua. Klik tombol di bawah ini untuk langsung menghubungi kami via WhatsApp:

Kami siap membantu menyediakan dokumen pendidikan dan administrasi sesuai kebutuhan Anda 📚✍️


No comments:

💬 Tinggalkan Komentar Anda

Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️

Featured Post

CONTOH DAN DONWLOAD SURAT LAMARAN SEBAGAI SPG

Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) , tentunya diperlukan sebuah surat lamaran kerja yang baik dan b...