A. Pendahuluan
Puji dan syukur Penulis panjatkan ke-hadirat Allah SWT, karena berkat taufik dan hidayah-Nya, makalah dengan judul Perhatian, ini dapat diselesaikan dan dipersembahkan kepada pembimbing yang budiman.Shalawat dan salam semoga tetap tercurah untuk junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya hingga akhir zaman. Seorang individu sedang menggali potensi dirinya yang digunakan dalam rangka mencapai kematangan ketika individu tersebut beranjak dewasa. Namun, emosi anak-anak kadang kala labil sehingga harus diarahkan dan diolah sedemikian rupa agar tidak terjerumus pada sesuatu yang dapat merugikan dirinya maupun orang lain di sekitarnya. Pada masa inilah, setiap individu akan mengalami masa-masa sekolah dimana mereka akan berinteraksi ke dalam lingkup yang lebih luas dengan berbagai karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu, harus dipelajari dan dipahami setiap karakter anak usia sekolah agar dapat memberikan tugas dengan tepat yang dapat mengoptimalkan potensi mereka yang sesuai dengan umur mereka. Dengan penulisan makalah Masa Bersekolah ini diharapkan membantu memberikan pemahaman bagi kita semua terutama bagi para orang tua tentang perkembangan kejiwaan anak dalam rangka mewujudkan yang terbaik bagi anak-anaknya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pribadi matakuliah Perkembangan Peserta Didik. Dan disusun berdasarkan judul yang telah penulis ajukan dengan ruang lingkup pengertian masa bersekolah, perkembangan fisik motorik, perkembangan minat dan kreativitas, perkembangan inteligensi, perkembangan berpikir menurut piaget, perkembangan sosial kelompok, perkembangan kepribadian, perkembangan kesadaran beragama. Penulis menyusun makalah ini dengan metode kepustakaan dengan cara mengumpulkan beberapa buku referensi kemudian dianilisi dan dijadikan seabgai isi dari makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempuarnaan, dengan demikian penulis masih mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempuanaan makalah ini untuk selanjutnya.
B. Pengertian Masa Bersekolah
Masa bersekolah adalah masa diamana seorang anak mulai memasuki sekolah, dengan umur 07-09 tahun. Dimana anak tersebut sudah sekolah biasanya sekolah dasar dan taman-kanak.
Pada masa ini anak sudah mulai berpisah dengan keluarganya, dimana anak tersbeut harus pergi ke sekolah setiap hari, dengan demikian anak akan sering jauh dari orangtuanya. Dari itu aspek-aspek perkembangan anak tersebut selanjutkan banyak dipengaruhi oleh pendidikan formalnya disekolah. C. Perkembangan Fisik Motorik
Seiring perkembangan fisiknya yang beranjak matang, maka perkembangan motorik anak sudah dapat terkodinasi dengan baik. Setiap gerakannya sudah selaras dengan kebutuhan atau minatnya. Pada masa ini ditandai dengan kelebihan gerak atau aktivitas motorik yang lincah. Oleh karena itu, usia ini merupakan masa yang ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik ini, seperti menulis, menggambar, melukis, mengetik (komputer), berenamg, main bola, dan atletik.
Perkembangan fisik yang normal merupakan salah satu faktor penentu kelancaran proses belajar, baik dalam bidang pengetahuan maupun keterampilan. Oleh karaena itu, perkembangan motorik sanagat menunjang keberhasilan belajar peserta didik.
Perkembangan fisik cenderung lbih stabil atau tenang sebelum memasuki masa remaja yang pertumbuhannya sangat cepat. Masa yang tenang ini diperlukan oleh anak untuk belajar berbagai kemampuan akademik. Anak lebih tinggi, lebih berat, lebih kuat serta belajar berbagai keterampilan. Kenikan tinggi dan berat badan bervariasi antara anak satu dengan yang lain. Peran kesehatan dan gizi sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.
Pada masa usia sekolah dasar kematangan perkembangan motorik ini pada umumnya dicapainya, karaena itu mereka sudah siap menerima pelajaran keterampilan. Sesuai perkembangan fisik (motorik ) maka di kelas-kelas permulaan sangat tepat diajarkan : 1. Dasar-dasar keterampilan untuk menulis dan menggambar.s
2. Keteramilan dalam mempergunakan alat-alat olahraga (menerima, menendang, dan memukul).
3. Gerakan-gerakan untuk meloncat, berlari, berenang, dan sebagainya.
4. Baris-berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan, ketertiban, dan kedisiplinan
Awal dari perkembangan pribadi seorang pada asasnya bersifat biologis Dalam taraf-taraf perkembangan selanjutnya, kondisi jasmaniah seseorang akan mempengaruhi normalitas kepribadiannya.
Secara fisik, masa remaja ditandai dengan adanya pubertas yaitu masa ketika sesorang mencapai kematangan seksual dan kemampuan reproduksi. Kematangan ini berupa perkembangan karakteristik seks primer dan sekunder.
Perkembangan seks primer terjadi ketika organ-organ seksual remaja sudah dapat memproduksi hormon-hormon seksual seperti testosteron pada laki-laki serta mulai mengalami ejakulasi yang ditandai dengan mimpi basah.
Dan Estradiolpada wanita serta mulai mengalami menstruasi. Perkembangan seks sekunder ditandai dengan perkembangan alat kelamin, pertambahan tinggi, dan perubahan suara. Sedangkan pada wanita ditandai dengan perkembangan buah dada, rahim, dan kerangka tubuh.
Perkembangan psikomotorik atau disingkat sebagai perkembangan motor adalah perkembangan mengontrol gerakan-gerakan tubuh melalui kegiatan-kegiatan yang terkoordinasikan antara susunan syaraf pusat, syaraf, dan otot. Proses tersebut dimulai dengan gerakan-gerakan kasar (gross movement) yang melibatkan bagian-bagian besar dari tubuh dalam fungsi duduk, berjalan, lari, meloncat, dan lain-lain.
Menurut Hurlock pencapaian kemampuan-kemampuan tersebut kemudian mengarah pada pembentukan keterampilan (skill). Keterampilan yang dipelajari dengan baik akhirnya akan menimbulkan kebiasaan. Perkembangan psikomotorik berhubungan erat dengan perilaku individu. Pada aspek sosial, masa remaja adalah masa mencari jati diri. Keterampilan sosial berkembang pada konteks remaja ketika ia berinteraksi dengan orang lain terutama dengan teman sebayanya.
Percakapan mengenai topik-topik tertentu dalam pergaulan membantu siswa melihat berbagai hal dari berbagai sudut pandang yang selanjutnya mengembangkan cara berpikirnya. Sedangkan pada aspek moral dan emosi, masa remaja adalah masa-masa yang sensitif dan reaktif bahkan ada yang cenderung temperamental. Kondisi ini diakibatkan oleh lingkungan yang tidak yang tidak baik.
D. Perkembangan Minat dan Kreativitas
Meichati mengartikan minat adalah perhatian yang kuat, intensif, dan menguasai individu secara mendalam untuk tekun melakukan suatu aktivitas.
Minat anak usia sekolah telah mengungkapkan dua kenyataan yang sangat penting. Tahun demi tahun, minat pada hal yang has bagian sekolah dan pelajaran menurut dan minat berkaitan dengan kehidupan diluar sekolah, misalnya olahraga dan bermain, pada waktu anak mengakhiri masa sekolah dasar, dengan dimulainya masa puber, mereka sering mengatakan mereka benci sekolah, tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah, dan mereka bercakap-cakap untuk meninggalkan sekolah.
Kreativitas dapat diartikan sebagai potensi yang terpendam yang berupa ide-ide baru atau hasil penyempurnaan yang muncul dari hasil imajinasi yang kemudian diberi sentuhan teknologi menjadi inovasi atau terobosan baru dalam memecahkan masalah. Imajinasi yaitu kemampuan dalam menciptakan gagasan atau gambaran mental dalam pikiran kita (visualisasi kreatif) untuk menciptakan citra yang jelas tentang sesuatu yang diinginkan tercapai.
Seseorang yang kreatif akan berhasil mencapai gagasan mengenai pemecahan masalah, produk baru, metode baru dan sebagainya sesudah melalui empat tahap, yaitu : 1. Tahap Persiapan, dalam tahap ini ada dua faktor penting yaitu minat (interest) dan konsentrasi (concentration).
2. Tahap Inkubasi, selama masa inkubasi, tanpa disadari otak terus bekerja mencari solusi masalah yang sedang terjadi. Tubuh manusia memerlukan waktu istirahat untuk menyegarkan dirinya kembali. Ketika beristirahat inilah terjadi sintesis berbagai informasi yang sudah terkumpul.
3. Tahap Iluminasi, tahap ini merupakan tahap datangnya gagasan.
4. Tahap Verifikasi, tahap verifikasi yaitu tahap dimana pola berpikir analitis berperan untuk menguji manfaat hasil temuan yang diperoleh melalui proses kreativitas.
Perkembangan kreativitas remaja dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.
1. Faktor Internal
Faktor yang mempengaruhi yaitu dari dalam diri sendiri. Kreativitas bergantung pada keterampilan dalam bidang dan berpikir kreatif, serta motivasi intrinsik untuk bertindak kreatif.
2. Faktor Eksternal
Faktor lingkungan sosial dan psikologis berpengaruh terhadap perkembangan kreativitas remaja. Lingkungan sosial atau budaya yang mendukung secara kondusif akan terjadinya sebuah kreativitas. Mengenai kreativitas pada masa ini menurut Jean piaget juga semakin berkembang, adapun faktor-faktor yang memungkinkan semakin berkembangnya kreativitas pada masa sekolah ini adalah sebagai berikut:
1. Anak sudah mulai menampilkan operasi-operasi mental.
2. Anak mulai mampu berfikir logis, akan tetapi masih dalam bentuk yang sederhana.
3. Kemampuan anak untuk memelihara identitasnya sudah berkembang.
4. Konsep tentang ruan sudah semakin meluas.
5. Anak sudah sangat menyadari akan adanya masa lalu, masa kini, dan masa yang datang.
6. Anak sudah mampu mengimajinasi sesuatu, meskipun biasanya masih memerlukan bantuan-bantuan konkrit. E. Perkembangan inteligensi
Secara bahasa, intelegensi berasal dari bahasa Inggris “Intelligence” yang juga berasal dari bahasa Latin yaitu “Intellectus dan Intelligentia” yang berarti kecerdasan, intelijen, atau keterangan-keterangan. Yang dalam bahasa Indonesia berarti penggunaan intelektual yang nyata. Masyarakat umum mengenal inteligensi sebagai istilah yang menggambarkan kecerdasan, kepintaran ataupun kemampuan untuk memecahkan problem yang dihadapi, gambaran anak yang berinteligensi adalah gambara mengenai siswa yang pintar, yang selalu naik kelas dengan nilai bagus. Pandangan awam seabgaimana digambarkan diatas jelas tidak memberikan arti yang jelas tentang inteligensi namun tidak jauh berbeda dengan makna yang telah dikemukakan para ahli pada umumnya yang berpatokan pada kepintaran dan kebodohan. Inteligensi memiliki pengertian yang sangat luas, beberapa batasan yang dikemukakan para ahli adalah sebagai berikut : 1. William Stren, mengemukakan bahwa inteligensi adalah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan kebutuhannya.
2. E. L Thorndike, mengemukakan bahwa inteligensi adalah kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta.
3. Walters dan gardner mendefinisikan inteligensi sebagai suatu kemampuan atau serangkaiaan kemampuan-kemampuan yang memungkin individu memecahkan masalah.
4. Amsal Amri, mengemukakan bahwa inteligensi adalah kemampuan untuk melakukan abstraksi serta berpikir logis dan cepat sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru.
Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi inteligensi, sehingga terdapat perbedaan inteligensi seseorang dengan yang lainnya, yakni sebagai berikut: 1. Faktor Pembawaan
Pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan kita yakni dapat tidakknya memecahkan suatu soal, pertama-tama ditentukan oleh pembawaan kita. Orang itu ada yang pintar dan ada juga yang bodoh. Meskipun menerima latihan dan pelajaran yang sama, perbedaan-perbedaan itu masih tetap ada.
2. Faktor Kematangan
Setiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Anak-anak tak dapat memecahkan soal-soal tertentu, karena soal-soal itu masih terlampau sukar baginya. Organ-organ tubuhnya dan fungsi-fungsi jiwanya masih belum matang untuk melakukan mengana soal-soal tersebut. Kematangan berhubungan erat dengan umur.
3. Faktor Pembentukan
Pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan inteligensi. Dapat kita bedakan pembentukan sengaja (seperti pembentukan yang di sekolah-sekolah) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar).
4. Faktor Minta dan Pembawaan Yang Khas
Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar. Dari manipulasi dan eksplorasi yang dilakukan terhadap dunia luar itu, lama-kelamaan timbullah minat terhadap sesuatu. Apa yang mereka minat seseorang mendorongnya untuk berbuat lebih giat dan lebih baik.
5. Faktor Kebabasan
Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah. Manusia mempunyai kebebasan memilih metode, juga bebas memilih masalah sesuai dengan kebutuhannya. Dengan adanya kebebasan ini berarti bahwa minat itu tidak selamanya menjadi syarat dalam pembuatan inteligensi.
F. Perkembangan Berpikir Menurut Piaget
Jean Piaget lahir pada tanggal 9 Agusts 1896 di Neutchatel Swiss. Ayahnya adalah seseorang ahli sejarah dengan spesialisasi sejarah abad pertengahan. Ibunya adalah seorang yang dinamis, intellegen, dan taqwa. 1. Fase sensorimotor (usia 0 – 2 tahun)
Berlangsung dari kelahiran hingga usia 2 tahun. Dalam tahap ini pola kognitif anak masih bersifat biologis yang berpusat pada fungsi-fungsi alat indra dan gerak, kemudian secara bertahap berkembang menjadi kemampuan berinteraksi dengan lingkungan secara lebih tepat.
Pada masa 2 tahun kehidupannya, anak berinteraksi dengan dunia di sekitarnya, terutama melalui aktivitas sensoris (melihat, meraba, merasa, mencium dan mendengar) dan persepsinya terhadap gerakan fisik, dan aktivitas yang berkaitan dengan sensoris tersebut. Koordinasi aktivitas ini disebut dengan istilah sensorimotor. Fase sensorimotor dimulai dengan gerakan-gerakan refleks yang dimiliki anak sejak dilahirkan. Pada masa ini, anak mulai membangun pemahamannya tentang lingkungan melalui kegiatan sensorimotor, seperti menggenggam, mengisap, melihat, melempar dan secara perlahan ia menyadari bahwa suatu benda tidak menyatu dengan lingkungannya, atau dapat dipisahkan dari lingkungan di mana ia berada. Selanjutnya, ia mulai belajar bahwa benda-benda memiliki sifat-sifat khusus. Anak telah mulai membangun pemahamannya terhadap aspek-aspek kausalitas, bentuk, dan ukuran, sebagai pemahamannya terhadap aktivitas sensorimotor yang dilakukannya.
2. Fase praoperasional (usia 2 – 7 tahun)
Dalam tahapan ini pola berpikir anak sudah mulai berkembang kepada pola-pola berpikir tertentu. Anak sudah mampu membuat logikanya sendiri meskipun masih bersifat primitif dan kurang rasional. Pada tahap ini, anak-anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar.
Fase ini merupakan masa permulaan bagi anak untuk membangun kemampuannya dalam menyusun pikirannya. Oleh sebab itu, cara berpikir anak pada masa ini belum stabil dan tidak terorganisasi secara baik. Fase ini dibagi ke dalam tiga subfase, yaitu subfase fungsi simbolis, subfase berpikir secara egosentris, dan subfase berpikir secara intuitif.
a. Subfase fungsi simbolis (usia 2 – 4 tahun). Kemampuan unutk berpikir tentang objek dan peristiwa walaupun objek tersbeut tidak hadir secara nyata di hadapan anak.
b. Subfase berpikir secara egosentris (usia 2 – 4 tahun). Ditandai oleh oleh ketidakmampuan anak untuk memahami perspektif atau cara berpikir orang lain.
c. Subfase berpikr secara intuitif (usia 4 – 7 tahun). Kemampuan unutk menciptakan sesuatu, seperti menggambar atau menyusun balok, akan tetapi tidak mengetahui alasan melakukannya. Artinya, anak belum memiki kemampuan berpikir kritis tentang apa yang ada di balik suatu kejadian.
3. Fase operasional konkret (usia 7 – 12 tahun)
Ditandai dengan anak mulai berpikir secara logis, dengan syarat, objek yang menjadi sumber berpikir logis tersebut hadir secara konkret. Kemampuan berpikir logis ini terwujud dalam kemampuan mengklasifikasikan objek sesuai dengan klasifikasinya, mengurutkan benda sesuai dengan tata urutannya, kemampuan untk memahami cara pandang orang lain, dan kemampuan berpikir secara deduktif.
4. Fase operasional formal (usia 12 tahun sampai usia dewasa)
Fase ini ditandai oleh perpindahan dari cara berpikir konkret ke abstrak. Kemampuan berpikir abstrak dapat dilihat dari kemampuan mengemukakan ide-ide, memprediksi kejadian yang akan terjadi, dan melakukan proses berpikir ilmiah, yaitu mengemukakan hipotesis dan menentukan cara untuk membuktikan kebenaran hipotesis tersebut. Pemikiran opersional formal lebih abstrak, idealistis dan logis daripada pemikiran operasional kongkret. Piaget yakin bahwa remaja semakin mampu menggunakan pemikiran deduktif hipotesis. Secara umum karakteristik pemikiran operasional formal yang penting adalah : 1) Kesadaran bahwa realitas adalah hanya kasus tertentu yang mungkin terjadi.
2) Kemampuan untuk menghasilkan secara sistematis dan menguji hipotesis, termasuk dalalm mengkombinasikan beberapa variable yang mungkin dapat dikombinasikan.
3) Menggunakan metode ilmiah untuk memisahkan dan mengendalikan variable.
4) Pemahaman secara logis terhadap sesuatu yang tidak dapat diraba (tidak nyata) dan konsep yang multi dimensi.
5) Koordinasi operasional logika matematika tentang negasi dan hubungan timbal balik.
6) Pemahaman tentang proporsionalitas, sekaligus menghubungkan pikiran dengan pecahan, persamaan, probabilitas (kemungkinan) dan korelasi.
G. Perkembangan Sosial Kelompok
Maksud perkembangan sosial ini adalah pencapaian kematangan dalam hubungan atau interaksi sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok,tradisi,dan moral agama.
Perkembangan sosial pada anak usia SD/MI ditandai denngan adanya perluasan hubungan, disamping dengan para anggota keluarga, juga dengan teman sebaya,sehingga ruang gerak hubungan sosialnya bertambah luas.
Pada usia ini, anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri dari sikap berpusat kepada diri sendiri (egosentris) kepada sikap bekerja sama (kooperatif) atau sosiosentris (mau memerhatikan kepentingan orang lain). Anak mulai berminat terhadap kegiatan-kegiatan teman sebaya, dan bertambah kuat keinginanya untuk diterima menjadi anggota kelompok (gang) dan merasa tidak senang apabila tidak diterima oleh kelompoknya.
Berkat perkembangan sosial,anak dapat menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman sebaya maupun lingkungan masyarakat sekitarnya. Dalam proses belajar disekolah, kematangan perkembangan sosial ini dapat dimanfaatkan atau dimaknai dengan memberikan tugas-tugas kelompok, baik yang membutuhkan tenaga (seperti membersihkan kelas dan halaman sekolah),maupun tugas yang membutuhkan pikiran,seperti merencanakan kegiatan camping, dan membuat laporan study tour. Perkembangan social anak dipengaruhi oleh keluarga, teman sebaya dan guru.
1. Kegiatan bermain
Bermain sangat penting bagi perkembangan fisik, psikis dan social anak. Dengan bermain anak berinteraksi dengan teman main yang banyak memberikan berbagai pengalaman berharga. Bermain secara kelompok memberikan peluang dan pelajaran kepada anak untuk berinteraksi, bertenggang rasa dengan sesame teman.
2. Teman sebaya
Teman sebaya memberikan pengaruh pada perkembangan social baik yang bersifat positif maupun yang negatif. Pengaruh positif terlihat pada pengembangan konsep diri dan pembentukan harga diri. Pengaruh negatif membawa dampak seperti merokok, mencuri, membolos, menipu serta perbuatan antisosial lainnya. Sebagian psikolog beranggap bahwa perkembangan social anak mulai sejak anak lahir di dunia, terbukti seorang anak yang menangis, adalah dalam rangka mengadakan kontak dengan orang lain. Anak mengadakan dalam aktivitas meraba tersenyum bila memperoleh rangsangan dan teguran dari luar.
Charlotte Buhler membagai tingkatan perkembangan social anak menjadi empat, yaitu : 1. Sejak usia 4-6 tahun, anak mulai mengadakan reaksi positif terhadap orang lain.
2. Adanya rasa banga dan senang yang terpancar dalam gerakan mimiknya, jika anak tersebut dapat mengulangi yang lain
3. Jika anak sudah melewatu usia 2 tahun keatas, anak mulai timbul rasa simpati, dan rasa antipasti kepada orang lain.
4. Pada masa anak bersekolah anak sudah menyadari bahwa bergaul adalah suatu kebutuhan dalam social.
Pada masa ini anak sering berkelompok-kelompok dengan teman sebayanya
H. Perkembangan Kepribadian
Pada dasarnya istilah kepribadian digunakan untuk pengertian yang ditujukan pada individu , artinya yang mempunyai kepribadian adalah individu. Kemudian istilah kepribadian ditujuan pula untuk kelompok individu atau masyarakat, sehingga selain dikenal kepribadian individu yang satu maka dikenal juga adanya keperibadian individu yang lain, artinya kepribadian si A berbeda dengan kepribadian si B, sehingga terdapat juga kepribadian Jawa, kepribadian pegawai negeri, kepribadian Indonesia dan sebagainya. Sudah tentu bahwa pemakaian istilah kepribadian menyebabkan makin meluasnya pengertian dan lebarnya perbedaan pendapat. Dari kepustakaan Bahasa Indonesia, istilah kepribadian digunakan untuk bermacam-macam perngertian antara lain untuk pengertian manusia. Kepribadian Indonesia disamakan dengan pengertiannya dengan manusia Indonesia, ukuran satuan atau unitnya dalam pengertian sifat, cirri, karakter, watak, jiwa moral, semangat, kebiasaan, tingkah laku, dan lain-lain. Perbu diingat bahwa kpribadian Indonesian bukanlah hasil penjumlahan dari kpribadian tiap anggotanya, tetapi merupakan kebulatan dan keutuhan tersendiri.Gordon W. Allport memberikan defenisi kepribadian sebagai berikut :
“Personality is the dynamic organization within the invidual of those psychophhysiacal system that determine his unique adjustment to his environment.” Kalau diperhatikan defenisi Allport tersebut, tampak bahwa ia berusaha mensinnesiskan atau melibatkan pandangan continentaldan pandangan Anglo-Amerika. Segi dalam, maupun segi luar telah dimasukkan kedalam defenisi itu.System jiwa raga merupakan segi dalam kepribadian dan penyesuaian diri merupakan segi luar dari kepribadian. Kalau defenisi tersebut dianalisis, maka kepribadian adalah : 1. Merupakan suatu organisasi yang organis, yaitu suatu kebulatan, organisasi system yang mengikat dan mengaitkan berbagai macam aspek atau komponen kepribadian, organisasi tersebut dalam keadaan berproses, selalu mengalami perubahan dan perkembangan.
2. Organisasi itu terdiri atas system-sistem psychophysical atau jiwa raga. Ini menunjukkan bahwa kepribadian itu tidak hanya terdiri atas mental, rohani, jiwa, atau hanya jasmani saja, tetapi menyangkut semua kegiatan mental dan badan yang menyatu kedalam kesatuan pribadi yang berbeda dalam individu.
3. Organisasi itu menentukan penyesuaian dirinya, artinya menunjukkan bahwa kepribadian dibentuk oleh kecendrungan yang berperan aktif dalam menentukan tingkah laku individu yang berhubungan dengan dirinya sendiri dan lingkungan masyarakat.
4. Penyesuaian diri dalam hubungan dengan lingkungan bersifat unik, khas, atau khusus, yakni mempunyai cirri-ciri tersendiri dan tidak ada yang menyamainya.
Kepribadian mencakup semua aktualisasi diri (penampilan) yang selalu tampak pada diri seseorang, merupakan bagian yang khas atau cirri dari seseorang.Misalnya ada orang yang memiliki sifat pemarah tetapi jujur, tekun bekerja, suka menolong, rajin kerja, senang berolah raga, dan sebagainya. Dilain pihak ada orang yang memiliki sifat penyabar, tenang, tekun bekerja, tetapi tidak suka bergaul, pendiam , tidak suka berolah raga, dan sebagainya. Pola sifat, kebiasaan kegemaran dan sebagainya diatas adalah contoh kepribadian seseorang. Dari beberapa penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa defenisi Kepribadian adalah keseluruhan pola (bentuk) tingkah laku, sifat-sifat, kebiasaan, kecakapan bentuk tubuh serta unsure psiko-fisik lainnya yang selalu menampakkan diri dalam kehidupan seseorang.
Menurut Jung perilaku individu ditentukan bukan hanya oleh pengalaman masa lalu, melainkan juga oleh tujuan masa depan. Pada hakekatnya, kepribadian dapat dikatakan mencakup semua aspek perkembangan, seperti perkembangan fisik, motorik, mental, social, moral, tetapi melebihi penjumlahan semua aspek perkembangan tersebut.
Murray beranggapan bahwa factor-faktor genetika dan pematangan mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan kepribadian. Menurutnya, proses-proses genetic pematangan bertugas memprogramkan sejenis suksesi atau urutan pergantian berbagai masa sepanjang kehidupan seorang individu.Sebenarnya banyak factor yang berperan dalam pembentukan kepribadian seseorang.Dalam hubungannya pengaruh-mempengaruhi, terlihat bahwa anak dalam perkembangan dirinya memperlihatkan sifat-sifat yang tertuju pada lingkungan.Lingkungan menerima sifat tersebut dan memperlihatkan reaksi yang dibentuk atas dasar sifat-sifat, penampakan anak, dan pengolahan lingkungan.Dengan demikian lingkungan juga berubah dan memperlihatkan perubahan.Lingkungan yang berubah ini memberikan perangsang bagi seseorang yang berpengaruh terhadap perkembangan anak, khususnya perkembangan pembentukan kepribadian. Menurut Hail dan Lindzey, perkembangan berlangsung menurut tiga dimensi kepribadian yaitu : 1. Dimensi Vertikal, orang berkembang dari posisi tengah pada sekala ke arah luar dan juga kedalam, ia mengembangkan kebutuhan yang lebih dalam dan lebih menyeluruh serta pola tingkah laku yang lebih rinci untuk memuaskan kebutuhannya.
2. Dimensi Progresif, perkembangan berarti meningkatkan efesiensi dan produktivitas ,ia mencapai tujuannya dengan cara yang lebih langsung dan dengan lebih sedikit gerakan yang sia-sia.
3. Dimensi Transvers, pertumbuhan mengakibatkan koordinasi yang lebih baik dan keluwesan bertingkah laku yang lebih besar.
Perkembangan yang harmonis pada ketiga dimensitersebut akan memperkaya dan memperluas kepribadian seseorang. Teori psikoanalisis mengenai perkembangan kepribadian berlandaskan dua premis yaitu :
1. Kepribadian individu dibentuk oleh berbagai jenis pengalaman masa kanak-kanak awal,
2. Energy seksual ada sejah lahir, dan kemudian berkembang melalui serangkaian tahapan psikoseksual yang bersumber pada proses-proses naluri organisme.
Freud menegaskan bahwa pada manusia terdapat empat fase atau tahan perkembangan psikoseksual yang kesemuanya menentukan pembentukan kepribadian, dan masing-masing fase berkaitan dengan daerah erogen tertentu. Dalam hal ini daerah erogen adalah bagian tubuh tertentu yang peka dan bias mendatangkan kenikmatan seksual apabila dikenai rangsangan, seperti mulut, alat pembungan, dan alat kelamin. Adapun fase perkembangan psikoseksual adalah fase oral, fase anal, fasek falik, dan fase genital.
Meskipun kepribadian seseorang itu relative konstan, namu kenyataannya dalam sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian itu dapat dan mungkin terjadi perubahan itu terjadi pada umumnya lebih dipengaruhi oleh factor lingkungan daripada factor fisik. Disamping itu perubahan ini lebih sering dialami oleh anak daripada orang dewasa.
Fenton mengklasiikakasikan factor-faktor yang menyebabkan terjadi perubahan kepribadian kedalam tiga kategori yaitu :
a. Factor organic, seperti makanan, obat, infeksi dan gangguan organic.
b. Factor lingkungan social budaya, seperti pendidikan, rekreasi, dan partisipasi social
c. Factor dari dalam individu itu sendiri, seperti tekanan emosional, identifikasi, terhadap orang lain dan initasi.
Salah satu dari kata kunci dari defenisi kepribadian adalah penyesuaian menurut Alexsaner , penyesuaian itu dapat diartikans sebagai proses respon individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan dalam diri, tengangan emosional, frustasi dan konflik dan memlihara keharmonisan antara pemenuhan kebutuhan. I. Perkembangan Moral
Perkembangan moral ditandai dengan kemampuan anak untuk memahami aturan, norma dan etika yang berlaku di masyarakat. Perilaku moral banyak dipengaruhi oleh pola asuh orang tua serta perilaku moral dari orang-orang di sekitarnya. Perkembangan moral ini juga tidak terlepas dari perkembangan kognitif dan emosi anak. Perkembangan moral tidak terlepas dari perkembangan kognitif dan emosi anak.
Menurut Piaget, anatar usia 5-12 tahun konsep anak mengenaia keadilan sudah berubah. Piaget menyatakan bahwa relativisme moral menggantikan moral yang kaku. Misalnya: bagi anak usia 5 tahun, berbohong adalah hal yang buruk, tetapi bagi anak yang lebih besar sadar bahwa dalam beberapa situasi, berbohong adalah dibenarkan dan oleh karenanya berbohong tidak terlalu buruk. Piaget berpendapat bahwa anak yang lebih muda ditandai dengan moral yang heteronomous sedangkan anak pada usia 10 tahun mereka sudah bergerak ke tingkat yang lebih tinggi yang disebut moralitas autonomous. Kohlberg menyatakan adanya 6 tahap perkembangan moral. Ke-enam tahap tersebut terjadi pada tiga tingkatan, yakni tingkatan: 1. Pra-konvensional, anak peka terhadap peraturan-peraturan yang belatar belakang budaya dan terhadap penilaian baik-buruk, benar-salah tetapi anak mengartikannya dari sudut akibat fisik suatu tindakan.
2. Konvensional, memenuhi harapan-harapan keluarga, kelompok atau agama dianggap sebagai sesuatu yang berharga pada dirinya sendiri, anak tidak perduli apapun akan akibat-akibat langsung yang terjadi. Sikap yang nampak pada tahap ini terlihat dari sikap ingin loyal, ingin menjaga, menjunjung dan member justifikasi pada ketertiban.
3. Pasca-konvensional, ditandai dengan adanya usaha yang jelas untuk mengartikan nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip yang sohih serta dapat dilaksanakan, terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang memegang prinsip-prinsip tersebut terlepas apakah individu yang bersangkutan termasuk kelompok itu atau tidak.
J. Perkembangan Kesadaran Beragama
Pada masa ini kesadaran beragama anak ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Sikap keagamaan anak masih bersifat reseptif namun sudah disertai dengan pengertian.
2. Panangan dan paham ketuhanan diperolehnya secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang berpedoman kepada indikator-indikator alam semesta sebagai manifestasi dari keagungan-Nya.
3. Penghayatan secara rohaniyah semakin mendalam, pelaksanaan kegiatan ritual diterimanya sebagai keharusan moral.
Dalam mengenalkan Tuhan kepada anak, sebaiknya ditonjolkan sifat-sifat pengasih dan penyayangnya, bukan menonjolkan sifat-sifat Tuhan yanng menghukum, mengazab, atau memberikan siksaan dengan neraka.
Sampai kira-kira berusia 10 tahun, ingatan anak masih bersifat mekanis, sehingga kesadaran beragamanya hanyaa merupakan hasil sosialisasi orang-orang di sekitanya. Oleh karena itu, pengamalan ibadahnya masih bersifat peniruan, belum dilandasi kesadarannya.
Pada usia 10 tahun ke atas, semakin bertambah kesadarannya akan fungsi agama baginya, yaitu sebagai penggerak moral dan sosial. Dia mulai mengerti bahwa agama bukan kepercayaan pribadi atau keluarga, melainkan kepercayaan masyarakat luas. Berdasarkan ini , maka shalat berjama’ah atau shalat Idul Fitri/Adha dan ibadah sosial lainnya sangat menarik baginya.
Periode sekolah dasar merupakan masa pembentukan nilai-nilai agama yang paling mendasar. Kualitas keagamaan anak di usia dewasa sangat dipengaruhi pula oleh proses pembentukan atau pendidikan yang diterimanya waktu kecil. Maka dari itu, pendidikan agama pada usia SD/MI sangatlah penting dan layak menjadi perhatian yang lebih oleh semua pihak. K. Kesimpulan
Setelah selesai di uraikan mengenai masa berskolah tersebut, maka disini pemakalah bahwa di dalam masa bersekolah terjadi perkembangan pada diri anak, baik itu dasi fisik maupun psikis nya, yang mana semua perkembanganyang terjadi pada diri anak tersebut sangatlah perlu untuk kita ketahui dan kita pahami. Karena pola pengasuhan anak yang tepat untuk mengembangkan kepribadiannya dimulai dari pola asuhannya sejak ia masih kanak- kanak.
Untuk itu, agar tidak terjadi salah asuh dalam mengasuh anak atau salah mendidik dalam mendidik peserta didik dan supaya bisa mengembangkan kemampuan anak dengan mengetahui masa yang harus dilaluinya, maka pengetahuan ataupun pemahaman yang terdapat dalam makalah ini sangatlah perlu untuk dimiliki dan dipahami. Karena tanpa kita sadari kontribusinya sangatlah banyak atau penting bagi kita sebagai calon orangtua dan pendidik ketika telah berhadapan langsung dengan permasalahan-permasalahan dalam masyarakat.
L. Daftar Keputusan
Suardiman dan Siti Partini, Op.cit., hlm. 85.
No comments:
💬 Tinggalkan Komentar Anda
Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️