MAKALAH MERUMUSKAN HIPOTESIS DALAM PENELITIAN

Baca Juga



A.    Pendahuluan
Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenaranya masih harus di uji secara empiris. Dalam langkah-langkah peneliltian, hipotesis merupakan rangkuman dari kesimpulan-kesimpulan teoretis yang di peroleh dari penelaahan kepustakaan. Hipotesis merupakan jawaban terhadap masalah penelitian yang secara teoritis di anggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenaranya.
Secara teknis, hipotesis dapat di definisikan sebagai pernyataan mengenai populasi yang di uji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sample penelitian secara statistik. Hipotesis merupakan pernyataan mengenai keadaan parameter yang akan di uji melalui statistic sample.
Secara implicit, hipotesis juga menyatakan prediksi, misalnya, hipotesis yang menyatakan bahwa metode diskusi lebih baik daripada metode ceramah secara implicit mengandung predikasi bahwa kelas-kelas yang di ajar terutama dengan metode diskusi akan lebih baik hasil belajarnya dari pada kelas-kelas yang diajar terutama dengan metode ceramah.
Taraf ketepatan prediksi itu akan sangat tergantung kepada taraf kebenaran dan taraf ketepatan landasan teoritis yang mendasarinya. Dasar teori yang kurang sehat (sound) akan melahirkan hipotesis yang di prediksinya kurang tepat, dan sebaliknya.
Penelitian merupakan suatu kegiatan untuk mencari suatu jawaban dari sebuah persoalan melaluipengumpulan data. Berdasarkan hasil analisa dalam persoalan penelitian. Penelitian dipandang sebagai upaya menjawab permasalahan secara sistematik dengan metode-metode tertentu melalui pengumpulan data empiris. Mengolah dan menarik kesimpulan atas jawaban suatu masalah.
Dalam penelitian seseorang dihadapkan pada permasalahan dan harus mencari jalan keluarnya, dengan cara mengumpulkan data dan informasi yang relevan. Dugaan atau pemikiran semacam ini biasanya disebut dengan hipotesis.

B.     Pengertian hipotesis
Hipotesis berasal dari kata hypo (lemah) dan tesis (pernyataan). Jadi hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah, maka perlu dibuktikan untuk menegaskan apakah suatu hipotesis diterima kebenarannya atau harus ditolak, berdasarkan fakta atau data impirik yang telah dikumpulkan dalam penelitian[1].
Hipotesis sangat berguna dalam penelitian, tanpa antisifasi terhadap alamat ataupun tanpa hipotesis, tidak ada progres dalam wawasan atau pengertian ilmiah dalam mengumpulkan fakta emperis. Tanpa ide yang membimbing makna, sulit dicari fakta-fakta yang akan dikumpulkan dan sukar menentukan mana yang relevan dan mana yang tidak.
Menurut Donal Ary, et. al(1985:76) ada dua alasan yang mendasarinya, yaitu:
1.      Hipotesis yang baik menunjukan bahwa peneliti memiliki ilmu pengetahuan yang cukup dalam kaitannya dengan permasalahan.
2.       Dengan hipotesis dapat memberikan arah dan petunjuk tentang pengambilan data dan proses interprestasinya.
Good dan scates (1954) menyatakan bahwa hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah-langkah selanjutnya.
Jadi Hipotesis, secara sederhana merupakan dugaan sementara yang diharapkan terjadi dalam penelitian.
C.    Kegunaan hipotesis
Kegunaan hipotesis secara garis besar adalah:
1.      Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
2.      Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
3.      Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
4.      Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta[2].
Oleh karena itu, kualitas manfaat dari hipotesis tersebut akan sangat tergantung pada:
1)      Pengamatan yang tajam dari si peneliti terhadap fakta-fakta yang ada.
2)      Imajinasi dan pemikiran kreatif dari si peneliti.
3)      Kerangka analisa yang digunakan oleh si peneliti.
4)      Metode dan desain penelitian yang dipilih oleh peneliti.
D.    Perumusan hipotesis
Merumuskan suatu hipotesis memerlukan kemampuan sipeneliti dalam mengkaitkan masalah-masalah dalam variabel yang dapat diukur dengan menggunakan suatu hubungan tersendiri. Sipeneliti harus sanggup memfokuskan permasalahan sehingga hubungan-hubungan yang terjadi dapat diterka.
Dalam memformulisasikan atau merumuskan hipotesis, hubungan-hubungan berikut dapat dijadikan model untuk memudahkan rumusan. Hipotesis dapat menegaskan sesuatu dalam suatu keadaan dimana satu obyek tertentu, seseorang, situasi atau kejadian mempunyai suatu ciri tertentu. Misalnya dirumuskan hipotesis dengan menyatakan bahwa raja Andi adalah orang Aceh, maka dalam suatu penelitian menggunakan metode sejarah. Merumuskan hipotesis bukanlah hal yang nudah. Sekurang-kurangnya ada tiga penyebab kesukaran dalam memformulisasikan hipotesis yaitu:
a.       Tidak adanya kerangka teori atau pengetahuan tentang kerangka teori yang terang.
b.      Kurangnya kemampuan untuk menggunakan kerangka teori yang sudah ada.
c.       Gagal berkenalan dengan teknik-teknik penelitian yang ada untuk dapat merangkai kata-kata dalam membuat hipotesis secara besar.
Hipotesis dibentuk dengan sesuatu pernyataan tentang frekuensi kejadian atau hubungan antar variabel. Dapat dinyatakan bahwa sesuatu terjadi dalam suatu bagian dalam seluruh waktu, atau gejala diikuti dengan gejala lain, atau sesuatu lebih besar dan lebih kecil dari sesuatu yang lain. Bisa juga dinyatakan satu korelasi dengan yang lain.
Hipotesis dapat juga menegaskan rekaan bahwa suatu ciri atau keadaan adalah satu faktor yang menentukan ciri lain atau keadaan lain, hipotesis yang begini dinamakan juga hipotesis sebab-akibat. Misalnya, seorang mahasiswa ingin meneliti masalah “kenakalan anak”. Sudah banyak penelitian yang dilakukan mengenai masalah tersebut dan mahasiswa dapat menggunakan hasilnya. Pendapat umum mengatakan, bahwa penyebab utama kenakalan anak adalah kemiskinan dan kebodohan. Namun berkat penelitian (mengenai kenakalan anak) yang dilakukan terus menerus, maka diketahui (melalui penelitian terdahulu)  bahwa faktor penghidupan kekeluargaan pada umumnya adalah penyebab kenakalan anak.
Berdasarkan pernyataan tersebut, maka hipotesis dirumuskan sebagai berikut : “jika penghidupan kekeluargaan tidak selaras, maka anak-anak dalam keluarga itu akan memperlihatkan kenakalan anak.”
Konsep penghidupan kekeluargaan yang tidak selaras harus didefenisikan sehingga dapat diukur dan juga dengan konsep kenakalan anak.[3]
Sebagai kesimpulan maka beberapa petunjuk dalam merumuskan hipotesis yaitu:
1.      Hipotesis harus dirumuskan secara jelas dan padat serta spesifik.
2.      Hipotesis sebaiknya dinyatakan dalam kalimat deklaratif atau pernyataan.
3.      Hipotesis sebaiknya menyatakan hubungan antara dua atau lebih variabel yang dapat diukur.
4.      Hipotesis hendaknya dapat diuji
5.      Hipotesis sebaiknya mempunyai kerangka teori.
E.     Jenis-Jenis hipotesis
Hipotesis dapat dibedakan menjadi beberapa jenis sebagai berikut:
a.       Hipotesis tentang perbedaan dan hubungan
Hipotesis dapat dibagi dengan melihat apakah pernyataan sementara yang diberikan adalah hubungan atau perbedaan. Hipotesis tentang hubungan adalah pernyataan relaan yang menyatakan tentang saling berhubungan antara dua variabel atau lebih, yang mendasari teknik korelasi atau regresi.Sebaliknya hipotesis yang menjelaskan perbedaan menyatakan adanya ketidak samaan antar variabel tertentu disebabkan adanya pengaruh variabel yang berbeda-beda.
Hipotesis ini mendasari teknik penelitian yang komperatif. Jadi, hipotesis antara hubungan dan perbedaan merupakan hipotesis hubungan alisyis, hipotesis ini secara analisyis menyatakan hubungan atau perbedaab satu sifat dengan sifat yang lain[4].
b.      Hipotesis kerja dan hipotesis nul
Dengan melihat pada cara seseorang peneliti menyusun pernyataan dalam hipotesisnya, hipotesis dapat dibedakan antara hipotesis kerja dan nul. Hipotesis nul yang mula-mula diperkenalkan oleh bapak statistik fisher, dipormulasikan untuk ditolak setelah sesudah pengujian.
c.       Hipotesis tentang ideal dan cemmon sence
Hipotesis ini menyatakan terkaan tentang dalil dan pemikiran bersahaja dan cemmon sence (akal sehat). Hipotesis ini biasanya menyatakan hubungan keseragaman kegiatan sarapan. Contohnya hipotesis sederhana tentang pruduksi dan status pemikiran tanah, hipotesis mengenai hubungan tentang tenaga kerja dengan luas garapan, hubungan antara dosis pemupukan dengan daya tanah terhadap insekta, hubungan antara kegiatan-kegiatan dalam industri, dan sebagainya.
Sebaliknya hipotesis yang menyatakan kompleks dinamakan hipotesis jenis ideal. Hipotesis ini digunakan untuk menguji adanya hubungan logis antara keseragaman-keseragaman pengakaman empiris.
F.     Pengujian hipotesis
Langkah atau prosedur untuk menentukan apakah menerima hipotesis atau menolak hipotesis dinamakan pengujian hipotesis.
Bagi seorang peneliti, hipotesis bukan merupakan suatu hal yang menjadi “vested interest”, dalam artian hipotesis harus selalu diterima kebenarannya. Penolakan hipotesis dapat merupakan penemuan yang positif, karena telah memecahkan ketidaktahuan universal dan memberi jalan kepada hipotesis yang lebih baik.

Cara pengujian hipotesis tergantung dari metode dan design penelitian yang digunakan. Secara umum hipotesa dapat diuji dengan dua cara, yaitu dengan cara mencocokkan dengan fakta, atau dengan mempelajari konsistensi logis.
Jika hipotesis diuji dengan konsistensi logis, maka si peneliti memilih suatu design di mana logika dapat digunakan, untuk menerima atau menolak hipotesa. Cara ini sering digunakan dalam menguji hipotesa pada penelitian yang menggunakan metode non experimental seperti metode deskriptif, metode sejarah dan sebagainya.
Hipotesis merupakan pernytaan atau dugaan yang masih lemah, oleh karena itu perlu diuji kebenaran pernyataan tersebut, pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu:
1.      Menguji hipotesis dengan konsistensi logis
Penggunaan logika memang berperan penting dalam menguji hipotesis dengan konsekuensi logis. Logika adalah ilmu yang mempelajari cara memberi alasan. Karena cara memberi alasan adalah cara berkenaan dengan berfikir secara lebih luas logika adalah study tentang operasional memberi alasan, dengan fakta-fakta yang diamati, bukti-bukti yag dikumpulkan, dan kesimpulan wajar yang akan diambil. Ada dua cara dalam memberi alasan, yaitu cara:[5]
a)      Deduktif (dari umum menjadi spesifik)
b)      Induktif(dari spesifk menjadi umum)
2.      Menguji dengan mencocokkan fakta
Menguji dengan mencocokkan fakta sering dilakukan pada penelitian dengan metode pencobaan. Sipeneliti, dalam hal ini mengadakan percobaabn untuk mengumpulkan data yang akan digunakan menguji hipotesisnya. Pada percobaan tersebut sipeneliti menggunakan kontrol. Kontrol dalam suatu percobaan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
a)      Manifulasi fisik
Manifulasi fisik dapat dilaksanakan dengan berbagai cara yang menggunakan berbagai alat. Manifulasi fisik dapat berupa manifulasi mekanis dengan menggunakan listrik, dengan cara pembedaan, dengan cara farmakologi, dan sebaginya.

b)      Pemilihan atau seleksi
Kontrol dalam percobaan juga dapat dilakukan dengan seleksi baik seleksi bahan maupun seleksi desain percobaan yang akan digunakan. Dalam metode percobaan, sipeneliti dapat memilih sesuka hati bahan-bahan yang akan digunakan asal saja bahan tersebut sesuai dengan tujuan ataupun masalah penelitian yang akan dipilah.
 Contoh hipotesis dengan cara menggunakan fakta dapat dilihat sebgai berikut. Seorang peneliti dihadapkan kepada sebuah masalah berikut. Apakah diperlukan cahaya supaya biji jagung dapat tumbuh? Dari masalah ini sipeneliti merumuskan hipotesis nul yaitu” biji jagung tidak memerlukan cahaya untuk tumbuh”.
Hipotesis tersebut diuji dengan cara mencocokkan dengan fakta percobaan.
1)      Masalah
Apakah biji jagung memerlukan cahaya ?
2)      Hipotesis
Biji jagung tidak memerlukan cahaya untuk hidup
3)      Ho, Alternatif
Biji jagung memerlukan cahaya untuk hidup
4)      Menguji hipotesis
Hipotesis diuji dengan mengadakan percobaan
a.       Si peneliti menyediakan biji jagung yang daya kecambahannya baik.
b.      Disediakan suatu tempat dimana kondisi tanah, suhu, cuaca dan sebagainya cukup ideal untuk pertumbuhan jagung.
5)      Hasil pengamatan
Biji jagung yang kena cahaya tumbuh dengan baik dalam tujuh hari. Sebaliknya biji jagung yang tertutup (tanpa cahaya) tidak tumbuh dalam tujuh hari.
6)      Kesimpulan
Biji jagung memerlukan cahaya untuk tumbuh. Dengan perkataan lain, sipeneliti menolak hipotesis nulnya, dan menerima hipotesis Alternatif.

G.    Kesimpulan
hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah, maka perlu dibuktikan untuk menegaskan apakah suatu hipotesis diterima kebenarannya atau harus ditolak, berdasarkan fakta atau data impirik yang telah dikumpulkan dalam penelitian
Hipotesis sangat berguna dalam penelitian, tanpa antisifasi terhadap alamat ataupun tanpa hipotesis, tidak ada progres dalam wawasan atau pengertian ilmiah dalam mengumpulkan fakta emperis. Tanpa ide yang membimbing makna, sulit dicari fakta-fakta yang akan dikumpulkan dan sukar menentukan mana yang relevan dan mana yang tidak.
Kegunaan hipotesis secara garis besar adalah:
5.      Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
6.      Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
7.      Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
8.      Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta
Oleh karena itu, kualitas manfaat dari hipotesis tersebut akan sangat tergantung pada:
5)      Pengamatan yang tajam dari si peneliti terhadap fakta-fakta yang ada.
6)      Imajinasi dan pemikiran kreatif dari si peneliti.
7)      Kerangka analisa yang digunakan oleh si peneliti.
8)      Metode dan desain penelitian yang dipilih oleh peneliti.


DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin, pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta: PT Grafindo Fersada, 2008
Husaini Usman, dkk, Metodologi Penelitian Sosial, Jakrta : Bumi Aksara, 2004
Jujun S Suriasumantri, Ilmu dalam Prespektif, Jakrata : Yayasan Obor Indonesia, 2001
Kuentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta: : Gramedia, 1980
Sumardi Suryabrata, Metodologi Penelitian, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2009.
Soekanto, Soejarno, Pengantar penelitian hukum, Jakarta:UI-Press,1986




[1]Amiruddin, pengantar metode penelitian hukum, (jakarta: PT Grafindo Persada, 2008), Hlm, 58
[2]Toto Syatori Nasehuddien. Metodologi Penelitian (Sebuah Pengantar). Cirebon : STAIN Cirebon, 2008, hal 31
[3]Soejarno Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta:UI-Press, 1986), Hlm, 150
[4]Kuentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta:Gramedia, 1980),hlm 37
[5]Muhammad Zainuddin, Metodologi Penelitian, (Surabaya: Pascasarjana UNAIR, 1993), Hlm, 21

📢 Bagikan Postingan Ini

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman atau media sosial Anda.

Facebook WhatsApp Twitter Telegram Copy Link

🤝 Butuh Bantuan atau Dokumen Lain?

Terima kasih telah berkunjung ke blog KhairalBlog21. Jika Anda membutuhkan makalah, format surat resmi, administrasi sekolah, atau dokumen lain yang belum tersedia di blog ini, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak. Kami juga menerima request untuk pembuatan dokumen sesuai kebutuhan Anda.

Jangan ragu untuk memberikan saran dan masukan agar blog ini bisa lebih bermanfaat untuk semua. Klik tombol di bawah ini untuk langsung menghubungi kami via WhatsApp:

Kami siap membantu menyediakan dokumen pendidikan dan administrasi sesuai kebutuhan Anda 📚✍️


No comments:

💬 Tinggalkan Komentar Anda

Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️

Featured Post

CONTOH DAN DONWLOAD SURAT LAMARAN SEBAGAI SPG

Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) , tentunya diperlukan sebuah surat lamaran kerja yang baik dan b...