MAKALAH TAFSIR AYAT TENTANG ILMU PENGETAHUAN

Baca Juga



A.      Pendahuluan
Ilmu Pengetahuan merupakan anugerah yang sangat agung dan rahasia Illahi yang paling besar dari sekian banyak rahasia Allah di alam ini. Allah menciptakan dan membentuk manusia dengan perangkat akal dan pikiran yang responsif terhadap berbagai fenomena kehidupan di muka bumi, beserta berbagai macam tanda kebesaran-Nya di jagad raya. Dengan ilmu pengetahuan, manusia dikukuhkan menjadi pembawa risalah kekhalifahan di muka bumi, yang
memiliki kewajiban untuk memakmurkan dan mengembangkannya. Dengan dinamika kehidupan dan berbagai pernak-perniknya, berdasarkan petunjuk Rabb-Nya, selaras dengan manhaj dan arahan-Nya, sehingga proses pencarian maupun pengamalan Ilmu Pengetahuan dapat dikategorikan sebagai ibadah.
Berbicara tentang Ilmu Pengetahuan dalam hubungannya dengan Al-Qur’an, ada persepsi bahwa Al-Qur’an itu adalah kitab Ilmu Pengetahuan. Persepsi ini muncul atas dasar isyarat-isyarat Al-Qur’an yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan. Dari isyarat tersebut sebagian para ahli berupaya membuktikannya dan ternyata mendapatkan hasil yang sesuai dengan isyaratnya, sehingga semakin memperkuat persepsi tersebut.
B.       Surat Al-Alaq [96] : 1-5
1.      Bunyi dan Terjemahan Ayat
ù&tø%$#ÉOó$$Î/y7În/uÏ%©!$#t,n=y{ÇÊÈ   t,n=y{z`»|¡SM}$#ô`ÏB@,n=tãÇËÈ   ù&tø%$#y7š/uurãPtø.F{$#ÇÌÈ   Ï%©!$#zO¯=tæÉOn=s)ø9$$Î/ÇÍÈ   zO¯=tæz`»|¡SM}$#$tBóOs9÷Ls>÷ètƒÇÎÈ  


Artinya :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Alaq [96]: 1-5
2.      Tafsir Ayat
Menurut Quraish Shihab, kata iqra’ terambil dari kata kerja qara’a (قرأ) yang pada mulanya berarti “menghimpun”. Apabila kita merangkai huruf atau kata kemudian kita mengucapkan rangkaian kata tersebut, maka kita telah menghimpunnya. Arti asal kata ini menunjukkan bahwa iqra’, yang diterjemahkan dengan “bacalah”, tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis yang dibaca, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh prang lain. Karenanya, kita dapat menemukan beraneka ragam arti dari kata tersebut dalam kamus-kamus bahasa, antara lain, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu, dan sebagainya, yang semuanya bisa dikembalikan kepada hakikat “menghimpun”.[1]
Ayat diatas tidak menyebutkan objek bacaan, maka dari itu, kata iqra’[ digunakan dalam arti membaca, menelaah, menyampaikan, dan sebagainya. Dan karena objeknya yang bersifat umum, maka objek tersebut mencakup segala yang dapat terjangkau, baik yang merupakan bacaan suci yang bersumber dari tuhan maupun bukan, baik ia menyangkut ayat-ayat yang tertulis maupun tidak tertulis.[2]
Sedangkan menurut Al-Maraghi sebagaimana yang dikutip oleh Abuddin Nata dalam bukunya yang berjudul “tafsir ayat-ayat pendidikan”, bahwa kata iqra’ dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1 dapat diartikan “jadilah engkau (Muhammad) seorang yang pandai membaca berkat kekuasaan dan kehendak Allah yang telah menciptakanmu, walaupun sebelumnya engkau tidak dapat melakukannya”.[3]
Menurutnya pula, pengulangan kata iqra’ pada QS. ‘Alaq ayat 3 didasarkan pada alasan bahwa membaca itu tidak akan membekas dalam jiwa kecuali dengan diulang-ulang dan membiasakannya sebagaimana dalam tradisi. Perintah Tuhan untuk mengulang membaca berarti pula mengulangi apa yang dibaca. Dengan cara demikian bacaan tersebut menjadi milik orang membacanya. Kata iqra’ mengandung arti yang amat luas, seperti mengenali, mengidentifikasi, mengklasifikasi, membandingkan, menganalisa, menyimpulkan, dan membuktikan.[4]
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa makna iqra’ adalah membaca segala sesuatu yang ada dihadapan kita, baik itu berupa tulisan atau bacaan, ayat-ayat suci al-Qur’an, peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, fenomena alam, maupun dunia seisinya (alam semesta). Dan bahwa membaca tidak cukup jika dilakukan hanya sekali saja, membaca harus dilakukan secara berulang-ulang agar bisa sampai pada tingkat pemahaman yang mendalam serta membekas dalam jiwa.
Kemudian perintah membaca, meneliti, menghimpun, dan sebagainya dikaitkan dengan “bi ismi Rabbika” (dengan nama Tuhanmu). Pengaitan ini merupakan syarat sehingga menuntut si pembaca bukan saja agar membaca dengan ikhlas, tetapi juga antara lain memilih bahan-bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan “nama Allah” itu. Karena yang memerintah membaca adalah Tuhan yang mendidik, memelihara, mengembangkan, meningkatkan, dan memperbaiki keadaan makhluk-Nya.[5]
Kata Khalaqa  dari segi pengertian kebahasaan memiliki sekian banyak arti, antara lain “menciptakan (dari tiada), “menciptakan (tanpa satu contoh terlebih dahulu)”, mengukur, memperluas, membuat dan sebagainya. Ayat pertama menggunakan kata khalaqa memberikan kesan tentang kehebatan dan kebesaran Allah dalam menciptakan pasangan-pasangan tersebut, sedang ayat kedua memperjelas yang telah diuraikan, yakni bahwa kata rabbika sebagaimana kata khalaqa, merupakan penjelasn tentang latar belakang perintah iqra’ bismi rabbika, atau dengan kata lain, ia merupakan semacam argumentasi tentang betapa pantas dan berkahnya Allah menerima keikhlasan dan pengabdian makhluk-Nya, karena dialah segala sumber pendidikan.[6]
Kemudian dengan ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia menyediakan alam sebagai alat untuk menulis, sehingga tulisan itu menjadi penghubung antara manusia walaupun mereka berjauhan tempat, sebagaimana mereka berhubungan dengan perantaraan lisan. Alam sebagai benda padat yang tidak dapat bergerak dijadikan alat informasi dan komunikasi, maka apakah sulitnya bagi Allah menjadikan Nabi-Nya sebagai manusia pilihan-Nya bisa membaca, berorientasi dan dapat pula mengajar.
Dalam ayat ini Allah menambahkan keterangan tentang kelimpahan karunia-Nya yang tidak terhingga kepada manusia, bahwa Allah yang menjadikan nabi-Nya pandai membaca. Dialah tuhan ynag mengajar manusia bermacam-macam ilu pengetahuan yang bermanfaat baginya yang menyebabkan dia lebih utama daripada binatang-binatang, sedangkan manusia pada permulaan hiduonya tidak mengetahui apa-apa. Oleh sebab itu apakah menjadi suatu keanehan bahwa Dia yang mengajar nabi-Nya pandai membaca dan mengetahui bermacam-macam ilmu pengetahuan serta nabi SAW sanggup menerimanya.
Setelah pada ayat pertama beliau menyuruh membaca dengan nama allah yang menciptakan manusia dari segumpal darah, diteruskan lagi menyuruh membaca diatas nama tuhan. Sedang nama tuhan yang selalu akan diambil jadi sandaran hidup itu ialah Allah yang maha mulia, maha dermawan, maha kasih dan saying kepada mahluknya. “Dia yang mengajarkan dengan kalam”(ayat 4). Itulah istimewanya tuhan itu lagi. Itulah kemulianya yang tertinggi. Yaitu diajarkanya kepada manusia berbagai ilmu, dibukanya berbagai rahasia, diserahkanya berbagai kunci untuk pembuka perbendaharaan Allah yaitu dengan qalam. Dengan pena disamping lidah untuk membaca, tuhanpun mentaksirkan pula bahwa dengan pena ilmu dapat dicatat. Pena itu  kaku dan beku serta tidak hidup namun yang dituliskan oleh pena itu adalah berbagai hal yang dapat difahami oleh manusia “Mengajari manusia apa-apa yang dia tidak tahu” (Ayat 5). Terlebih dahulu Allah ta’ala mengajar manusia mempergunakan qalam. Sesudah dia pandai mempergunakan qalam itu banyaklah ilmu pengetahuan diberikan oleh allah kepadanya, sehingga dapat pula dicatat ilmu yang baru didapatnya itu dengan qalam yang sudah ada dalam tanganya.[7]
C.      Surat Al-Ankabut [29] : 20
1.      Bunyi Ayat
ö@è% (#r玍ŠÎû ÇÚöF{$# (#rãÝàR$$sù y#øŸ2 r&yt/ t,ù=yÜø9$# 4 ¢OèO ª!$# à×Å´Yムnor'ô±¨Y9$# notÅzFy$# 4 ¨bÎ) ©!$# 4n?tã Èe@à2 &äóÓx« ֍ƒÏs% ÇËÉÈ  
Artinya :
Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi[1147]. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
2.      Tafsir ayat
Berjalanlah di muka Bumi ke mana jsaja kaki membawa kamu, laludengan segera walau baru beberapa langkah kamu melangkah, Perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan makhluk yang beraneka ragam, manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya.
Kata an-nasy’ah yang berarti kejadian, menunjukan terjadinya sekai kejadian, atas dasar itu sementara ulama memahaminya sebagai menunjuk kepada suatu kejadian yang terjadi sekaligus tidak berulang-ulang.
Dengan melakukan perjalanan dimuka bumi sebagaimana diperintahkan ayat ini, seseorang akan menemukan banyak pelajaran berharga baik melalui ciptaan Allah yang terhampar darn beraneka ragam, maupun dari peninggalan-peninggalan lama yang masih tersisa puing-puingnya.
Perintah berjalan dalam al-Qur’an di ulang sebanyak 7 kali mengisyaratkan perlunya melakukan wisata ziarah. Yang mempunyai dampak besar terhadap penyempurnaan jiwa manusia. Dengan perjalanan tersebut dapat mengantarkan kepada menemukan hal-hal baru yang dapat mengantarkannya kepada hakikat wujud ini dan bahwa dibalik segala yang dilihat dan didengarnya ada Tuhan Yang Maha Esa.
Penggunaan bentuk kata kerja pada ayat ini melahirkan beberapa kesan dalam bentuk pertanyaan, bahwa dibumi ada sesuatu yang dapat menunjukkan garis perjalanan kehidupan seperti yang diupayakan untuk diungkap oleh para arkeolog yaitu :[8]
a.       Begaimana ia bermula, bagaimana tersebar dan bagaimana ia berkembang?
b.      Apakah kehidupan, darimana asal-usul bumi ini, bagaimana lahirnya makhluk hidup pertama?
Memang hingga kini mereka belum dapat mengungkapkannya. Ayat diatas adalah pengarahan Allah SWT untuk melakukan riset  tentang asal-usul kehidupan lalu kemudian menjadikannya bukti ketika mengetahuinya tentang keniscayaan kehidupan akhirat.
Kemudian berbagai ilmuan mengatakan bahwa ayat suci ini memerintahkan para ilmuan untuk berjalan dimuka bumi guna menyikap proses cara awal memulai penciptaan segala sesuatu, seperti hewan, tumbuhan, dan benda-benda mati.



D.      Surat Al-An’am : 99
1.      Bunyi ayat dan terjemahan
uqèdur üÏ%©!$# tAtRr& z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB $oYô_t÷zr'sù ¾ÏmÎ/ |N$t7tR Èe@ä. &äóÓx« $oYô_t÷zr'sù çm÷YÏB #ZŽÅØyz ßl̍øƒU çm÷YÏB ${6ym $Y6Å2#uŽtIB z`ÏBur È@÷¨Z9$# `ÏB $ygÏèù=sÛ ×b#uq÷ZÏ% ×puŠÏR#yŠ ;M»¨Yy_ur ô`ÏiB 5>$oYôãr& tbqçG÷ƒ¨9$#ur tb$¨B9$#ur $YgÎ6oKô±ãB uŽöxîur >mÎ7»t±tFãB 3 (#ÿrãÝàR$# 4n<Î) ÿ¾Ín̍yJrO !#sŒÎ) tyJøOr& ÿ¾ÏmÏè÷Ztƒur 4 ¨bÎ) Îû öNä3Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbqãZÏB÷sムÇÒÒÈ  
Artinya :
dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan Maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.”
2.      Tafsir Ayat
Dialah yang menurunkan air hujan dari awan, kemudian dengan air ini kami mengeluarkan setiap jenis  tumbuhan-tumbuhan yang bermacam-macam bentuk, cirri  khas dan bekasnnya, serta berbeda-beda tingkatannya dan kelebihan serta kekurangannya. Sebagaimana firman Allah SWT :
4s+ó¡ç…. &ä!$yJÎ/ 7Ïnºur ã@ÅeÒxÿçRur $pk|Õ÷èt/ 4n?tã <Ù÷èt/ Îû È@à2W{$# 4 ¨bÎ) Îû šÏ9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcqè=É)÷ètƒ ÇÍÈ  
“disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.”
Lalu tanaman yang tidak berbatang kami tumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang hijau subur, yaitu bercabang dari pokok tanaman yang keluar biji, seperti batang pohon yang menjalar dan batang pohon yang berkayu. Kemudian dari tumbuh-tumbuhan yang hijau dan bercabang itu waktu-demi waktu kami tumbuhkan biji-bijian yang banyak.
Adapun selain mereka perhatiannya hanya sampai kepada hal-hal lahir saja, tidak sampai kepada wujud dan keesaan Allah yang Maha Pencipta, sebagai puncak segala susunan. Mereka memperhatikan secara mendalam, sehingga sampai kepada rahasia-rahasia tumbuhan . tidak pula mereka meneliti bahwa perubahannya dari satu keadaan kepada keadaan lain berdasarkan pola yang indah itu, menunjukkan kesempurnaan, kebijaksanaan, dan bahwa kesatuan organisasi dala, berbagai perkara tidak mungkin lahir dari kehendak yang bermacam-macam.[9]
E.       Surat Al-Mujadalah : 11
1.      Bunyi dan Terjamahan Ayat
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uyŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ  
Artinya :
“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
2.      Tafsir Ayat
Kata (تفسّحوا) tafassahu dan (افسحوا ) ifsahu terambil dari kata (فسح) fasaha, yakni lapang. Sedang kata (انشزوا) unsyzuterambil dari kata (نشوز) nusyuz, yakni tempat yang tinggi. Perintah tersebut pada mulanya berarti beralih ke tempat yang tinggi. Yang dimaksud di sini pindah ke tempat lain untuk memberi kesempatan kepada yang lebih wajar duduk atau berada di tempat yang wajar pindah itu atau bangkit melakukan satu aktifitas positif. Ada juga yang memahaminya berdirilah dari rumah Nabi, jangan lama-lama di sana, karena boleh jadi ada kepentingan Nabi SAW yang lain dan yang perlu segera beliau hadapi.[10]
Kata ( مجالس) majalis adalah bentuk jamak dari kata ( مجلس) majlis. Pada mulanya berarti tempat duduk. Dalam konteks ayat ini adalah tempat Nabi Muhammad SAW. memberi tuntunan agama ketika itu. Tetapi, yang dimaksud di sini adalah tempat keberadaan secara mutlak, baik tempat duduk, tempat berdiri, atau bahkan tempat berbaring. Karena, tujuan perintah atau tuntunan ayat ini adalah memberi tempat yang wajar serta mengalah kepada orang-orang yang dihormati atau  yang lemah. Seorang tua non-muslim sekalipun jika Anda-wahai yang muda-duduk di bus atau di kereta, sedang dia tidak mendapat tempat duduk, adalah wajar dan beradab jika Anda berdiri untuk memberinya tempat duduk.[11]
Dalam konteks ayat ini adalah tempat Nabi saw memberikan tuntunan agama ketika itu. Tetapi yang dimaksud di sini adalah tempat keberadaan secara mutlak, baik itu tempat duduk, tempat berdiri, atau bahkan tempat berbaring. Karena, tujuan perintah atau tuntunan ayat ini adalah memberi tempat yang wajar secara mengalah kepada orang-orang yang dihormati atau pun orang-orang yang lemah. Seorang tua non-muslim sekalipun.
وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Allah mengetahui segala perbuatanmu. Tidak ada samar bagi-Nya, siapa yang taat dan siapa yang durhaka di antara kamu. Orang yang berbuat baik akan dibalas dengan kebaikan, dan orang yang berbuat buruk akan dibalas-Nya dengan apa yang pantas baginya, atau diampuni-Nya.[12]
Dari ayat tersebut dapat diketahui tiga hal sebagai berikut:
Pertama, bahwa para sahabat berupaya ingin saling mendekat pada saat berada di majelis Rasulullah SAW, dengan tujuan agar ia dapat mudah mendengar wejangan dari Rasulullah SAW yang diyakini bahwa dalam wejangannya itu terdapat kebaikan yang amat dalam serta keistimewaan yang agung.
Kedua, bahwa perintah untuk saling meluangkan dan meluaskan tempat ketika berada di majelis, tidak saling berdesakan dan berhimpitan dapat dilakukan sepanjang dimungkinkan, karena cara damikian dapat menimbulkan keakraban di antara sesama orang yang berada di dalam majelis dan bersama-sama dapat mendengar wejangan Rasulullah SAW.
Ketiga, bahwa pada setiap orang yang memberikan kemudahan kepada hamba Allah yang ingin menuju pintu kebaikan dan kedamaian, Allah akan memberikan keluasan kebaikan di dunia dan akhirat.Singkatnya ayat ini berisi perintah untuk memberikan kelapangan dalam mendatangkan setiap kebaikan dan memberikan rasa kebahagiaan kepada setiap orang islam.Atas dasar inilah Rasulullah SAW menegaskan bahwa Allah akan selalu menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut selalu meolong sesama saudaranya. [13]






F.       Surat Zumar : 122
1.      Bunyi dan Terjemahan Ayat
ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø©9$# #YÉ`$y $VJͬ!$s%ur âxøts notÅzFy$# (#qã_ötƒur spuH÷qu ¾ÏmÎn/u 3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ 3 $yJ¯RÎ) ㍩.xtGtƒ (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ  
Artinya :
“(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
2.      Tafsir ayat
Pada ayat tersebut terlihat adanya hubungan orang yang mengetahui (berilmu) dengan melakukan ibadah di waktu malam, takut terhadap siksaan Allah di akhirat serta mengaharapkan ridha dari Allah; dan juga menerangkan bahwa sikap yang demikian itu merupakan salah satu ciri dari ulul al-bab, yaitu orang yang menggunakan hati untuk menggunakan dan mengarahkan ilmu pengetahuan tersebut pada tujuan peningkatan akidah, ketekunan beribadah dan ketinggian akhlak yang mulia.[14]
Sehubungan dengan ayat هل يستوى الّذين يعلمون والّذين لا يعلمون, al-Maraghi mengatakan: “Katakanlah hai rasul kepada kaummu, adakah sama, orang-orang yang menengetahui bahwa ia akan mendapatkan pahala karena ketaatan kepada tuhannya dan akan mendapatkan siksaan disebabkan karena kedurhakaannya dengan orang yang mengetahui al-hal yang demikian itu?” Ungkapan pertanyaan dalam ayat ini menunjukan bahwa yang pertama (orang-orang yang mengetahui) akan dapat mencapai derajat kebaikan; sedangkan yang kedua (-orang-orang yang tidak mengetahui) akan mendapatkan kehinaan dan keburukan.[15]
G.      Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan :
1.      Al-Qur’an mendorong dikembangkannya imu pengetahuan. Terlihat dari banyak ayat al-Qur’an yang  menyuruh manusia  agar menggunakan akal pikiran dan segenap potensinya untuk memperhatikan segala ciptaan Allah.
2.      Dorongan al-Qur’an terhadap pengembangan ilmu pengetahuan
3.      Al-qur’an bukan merukan buku tentang ilmu pengetahuan.
 DAFTAR PUSTAKA


Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Terjemahan Tafsir Al-Maraghi, Semarang; Toha Putra, 1985.
Abuddin Nata, MA., Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, Jakarta, Pt. Raja Grafindo Persada, 2002.
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: pesan,kesan,dan keserasian Al-Qur’an,Jakarta: Lentera Hati.
Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an jilid. Jakarta: Gema Insani, 2010.



[1] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, Tafsir Atas Surat-surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya, (Bandung, Pustaka Hidayah, 1997), hlm. 77-78.
[2] Ibid., hlm. 79-80.
[3] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Terjemahan Tafsir Al-Maraghi, (Semarang; Toha Putra, 1985), hlm. 326-329.
[4] Abuddin Nata., Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, (Jakarta, Pt. Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 43.
[5] Quraish Shihab, Op.cit., hlm. 80
[6] Ibid., hlm. 86-87.
[7] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an jilid.(Jakarta: Gema Insani, 2010), hlm 298-299
[8] Ibid.hlm. 290.
[9] Ahmad Musthafa Al-Maraghiy, Op, Cit., hlm. 246-247
[10] Abudin Nata,  Op. Cit., hlm. 175
[11] M. Quraish Shihab, Op. Cit , hal. 77
[12] Ibid., hlm. 78.
[13] Abuddin Nata., Op, Cit., hlm. 153.
[14] Ibid., hlm. 166.
[15] Ibid., hlm. 166-167.

📢 Bagikan Postingan Ini

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silakan bagikan ke teman atau media sosial Anda.

Facebook WhatsApp Twitter Telegram Copy Link

🤝 Butuh Bantuan atau Dokumen Lain?

Terima kasih telah berkunjung ke blog KhairalBlog21. Jika Anda membutuhkan makalah, format surat resmi, administrasi sekolah, atau dokumen lain yang belum tersedia di blog ini, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak. Kami juga menerima request untuk pembuatan dokumen sesuai kebutuhan Anda.

Jangan ragu untuk memberikan saran dan masukan agar blog ini bisa lebih bermanfaat untuk semua. Klik tombol di bawah ini untuk langsung menghubungi kami via WhatsApp:

Kami siap membantu menyediakan dokumen pendidikan dan administrasi sesuai kebutuhan Anda 📚✍️


No comments:

💬 Tinggalkan Komentar Anda

Kami sangat senang dengan pendapat, pertanyaan, atau pengalaman Anda. Mari kita berdiskusi bersama di kolom komentar ini ⬇️

Featured Post

CONTOH DAN DONWLOAD SURAT LAMARAN SEBAGAI SPG

Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) , tentunya diperlukan sebuah surat lamaran kerja yang baik dan b...